State of Grace (Chapter 25)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Suara sepatu Krystal sangat memperhatikan. Begitu pula dengan kakinya yang sudah membiru.

Brak!

Krystal akhirnya terjatuh ketika hak dari sepatu yang ia gunakan patah.

“Astaga, Krys!” Sehun yang mengejar Krystal langsung berjongkok. “Luruskan kaki mu…” Tanga Sehun terulur menyentuh kaki Krystal.

“Jangan!” Teriak Krystal parau. Menghentikan uluran tangan Sehun. “Jangan….” Katanya lagi.

Sehun terdetak melihatnya. “Krys…” Ia segera mendekat ke Krystal dimana Krystal mencoba untuk menjauh. “Ku mohon…” Katanya dan segera menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Tangisan Krystal meledak. Ia menangis di dalam pelukan Sehun. Tersedu-sedu disana.

Tes!

Air mata Sehun juga ikut turun. Sial! Dia baru saja, baru saja berjanji kepada gadis itu agar gadis itu tak tersakit. Sekarang gadis itu menangis akibat tersakiti.

“Kalian!” Seojoon menyusul mereka. Nafasnya terengah-engah. Melihat keadaan Sehun dan Krystal ia menghela nafas. Tanganya terulur ke kaki Krystal. Ia meluruskan kaki Krystal dan melepaskan sepatu Krystal.

Krysal memandang Sehun, tangisannya tidak sekeras tadi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sehun.

“Biar aku yang mengantarnya…” Kata Seojoon tiba-tiba. “Oemma dan Appa panik mencari mu. Ku sarankan kau tetap tinggal demi kenyamanan pesta. Serahkan Krystal kepada ku.”

“Aku tidak perduli hyung… Krystal pulang bersama ku!”

“Aku akan pulang bersama Seojoon oppa…” Krystal meringis tak kala ia bangkit. Ketika berdiri ia tidak terlalu seimbang. Seojoon dan Sehun segera memeganginya.
“Tapi Krys…” Sehun menatap Krystal dengan tatapan memohon.

Krystal menggeleng lemah, “Ku mohon… Kembalilah ke pesta…”

Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia menatap Seojoon, “Aku percaya kepada mu hyung…”

Seojoon mengangguk sebagai jawaban.

Sehun kembali menghela nafas dan segera menjauh dari Krystal dan Seojoon.

.

.

.

.

.

Seojoon melirik Krystal yang masih diam memandang jendela. Tatapan gadis itu kosong. Tetapi Seojoon yakin, pikiran gadis itu pasti tidak kosong.

Seojoon berdehem, “Sudah sampai.” Katanya ketika Krystal menoleh.

Krystal mengerjap beberapa kali, “Oh?” Tatapannya segera menyapu sekeliling. Sedikit terkesiap ketika Seojoon benar.

Seojoon menghela nafasnya, “Kau tahu jika aku peduli padamu, Krys…”

“Aku tahu oppa…” Ujar Krystal parau. “Terimakasih telah mengantarkan ku pulang.” Krystal ingin keluar, tetapi Seojoon sama sekali belum membuka pintu mobil.

“Dengarkan aku terlebih dahulu…” Ucapan Seojoon membuat Krystal kembali menoleh ke Seojoon, “Aku tahu kau tidak suka membicarakan masalah mu ke sembarangan orang. Hanya orang-orang terdekat dan pastinya aku bukan merupakan orang itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita sana-sini. Hanya katakan apa yang kau pikirkan. Kau terlihat tertekan Krys. Dan aku tahu, ada satu hal yang terus berputar di otak mu dari tadi.”

Krystal memejamkan matanya, “Entahlah…”

“Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini!” Ancam Seojoon.

Krystal akhirnya mendengus, “Kurasa…. Bisakah oppa menyampaikan ke Sehun agar menjauhi aku untuk beberapa hari ini? Maksudku—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon. “Aku mengerti maksud mu. Kau ingin waktu untuk berpikir dengan jernih bukan? Tentang masalah ini. Tentang ibu ku. Kau tahu jika Sehun mengejarmu malam ini, memohon minta maaf, kau akan luluh dan memaafkannya. Dan kau tidak ingin itu terjadi sehingga kau ingin waktu untuk meyakinkan perasaan mu bukan?”

“Aku yakin dengan perasaan ku!” Ucap Krystal masih parau. Air matanya mulai menggenang di matanya. Satu kerjapan akan membuat butiran-butiran jernih turun, “Hanya saja—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon lagi. “Sekarang masuklah ke dalam apartment-mu dan berpikir dengan waktu sebanyak yang kau inginkan. Akan ku sampaikan ke Sehun agar menjaga jarak dengan mu.”

“Terimakasih oppa…”

.

.

.

.

.

Hyung!” Teriak Sehun frustasi ketika Seojoon dengan santai keluar dari lift apartment membawa kopi di tangan kananya.

“Wow adik kecilku! Jangan bilang sedari tadi kau menunggu ku dengan mondar-mandir di depan lift?” Tanyanya santai.

Sehun menggaruk kepalanya frustasi, “Mana Krystal?”

“Oh…” Respon Seojoon santai. “Mana apartment mu?”

Sehun semakin bingung. Mau tidak mau dia mengikuti langkah Seojoon yang sok tahu tentang kamarnya.

“Sebelah kanan hyung!” Ucapnya dan menarik tangan Seojoon tepat di depan pintu apartment nya. “Sekarang mana Krystal?”

“Di dalam.”

“Hah?” Sehun tidak percaya tetapi cepat-cepat membuka pintu apartment nya dan masuk. Bodoh! Mana mungkin Krystal bisa disini?

Cklek~
Sehun berbalik ketika mendengar Seojoon mengunci pintu apartment nya, “Bercanda……” Ucapnya datar.

Sehun melongo sesaat. Rasa frustasi dan kesalnya hilang melihat tingkah laku kakaknya. “Maksud hyung…”

“Tentu saja Krystal di apartment nya. Kau cepat ganti baju sana dan siap-siap tidur.”

“Hyung…” Sehun mengerang frustasi, “Aku harus menemuinya segera. Apa maksud hyung menjauhkan ku dengan dia? Itu tidak masuk akal hyung. Sekarang cepat minggir dari pintu—“

“Jangan berlagak seperti anak kecil berumur lima tahun yang kehilangan mainannya.” Lagi-lagi Sehun terdiam melihat Seojoon. Seojoon melipat tangannya tepat di depan dadanya, “Dengar adik kecil ku, Krystal sangat tertekan akibat kejadian tadi dan kurasa ia mempertanyakan perasaannya.”

Sehun menatap Seojoon datar, “Jangan bercanda hyung.”

“Apa kau melihatku bercanda?” Seojoon kembali berkata, “Maka dari itu kusarankan kau mengikuti perkataan ku. Menjauhlah dari dia untuk beberapa saat. Tunjukan kepadanya kau menghargainya juga karena dia memintaku untuk mengatakan kepada mu agar kau menjauhinya.”

“Hyung… Jangan bercanda bisa?” Suara Sehun sangat melas sekarang.

Seojoon menggeleng mantap, “Tidak. Aku tidak bercanda. Kasihlah ia waktu. Aku percaya dia masih mencintai mu. Tapi perasaan ragu menyerangnya. Kalau kau mengikuti permintaan dia itu malah membuatnya lebih memikirkan mu kau tahu?”

Sehun sekarang menatap Seojoon tidak mengerti.

Seojoon menghela nafas, “Krystal masih mencintai mu. Dan aku tahu, kalau kau memohon kepadanya malam ini dia pasti akan memaafkan mu. Tapi itu memunculkan perasaan ragu di hatinya karena ia masih terbayang-bayang oleh Mommy.

Jika kau mengikuti permintaanya, aku memprediksi jika ia pasti menghitung hal itu dan itu mengalihkan perasaan ragu dari Mommy ke dirimu. Ia ragu karena dirimu begitu memperhatikannya. Makanya aku menyetujui permintaannya. Aku tidak seceroboh itu kau tahu? Hanya karena ia tertekan dan memohon kepadaku maka aku akan menurutinya? Aku juga mempertimbangkan dirimu…”

Sehun menghela nafasnya. Jujur, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Menurutnya tetap saja hubungan dia dan Krystal tetap di ambang batas.

“Sekarang kau berganti baju dan tidur! Aku yakin sekali tubuh mu membutuhkan hal tersebut!”

.

.

.

.

.

Sehun tahu Seojoon menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari Krystal. Tapi ia tidak bisa menahannya. Kalau ia menjauhkan diri butuh berapa lama Krystal kembali padanya? Ia tidak bisa berlama-lama. Apalagi pernikahan Seojoon empat hari lagi. Dipikirannya, ia dan Krystal akan hadir di pernikahan Seojoon dan dia tidak bisa menerima jika Krystal tidak hadir.

“Ingat pernikahan ku! Awas kalau tidak hadir! Sohee pasti akan marah besar kepada mu. Kami sudah bersusah-susah membuat pesta kecil. Mencari baju, makanan yang lezat, tempat indah, bunga-bunga cantik karena dirimu. Jadi kau harus hadir!”

Begitulah yang dikatakan Seojoon kemarin malam. Sebelum hyung nya pulang karena ditunggu oleh Sohee di kamar hotel. Menggelikan!

Sehun menyeruput kopinya dan menghela nafas. Kenapa ia lebih menyukai rasa greentea Krystal? Ia segera menghabiskan kopinya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi dan dia masuk kerja jam sembilan. Kenapa ia buru-buru? Karena ia ingin ke suatu tempat sebelum ke kantornya.

Tigapuluh menit kemudian Sehun sudah sampai di depan apartment Krystal. Ia berdiam diri di dalam mobil. Haruskah? Kemudian ia menghela nafas dan mengambil handphone-nya. Langsung tersambung ke kotak suara.

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Kata Sehun mencoba untuk biasa saja.

.

.

.

.

.

Krystal bangun dengan mata bengkak. Ia melihat ke kaca, Astaga! Apa yang harus ia lakukan agar bengkaknya hilang? Tidak mungkin ia muncul di f(x) dengan mata sebengkak ini! Krystal segera mencuci muka. Memanaskan air untuk membuat teh. Kemudian membakar roti. Sambil menunggu, ia memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini.

Ting~

Suara nyaring dari pemanggang roti membuat ia segera mengangkat rotinya. Tak berapa lama kemudian suara nyaring dari kompornya. Ia segera mamatikan kompornya dan menuangkan air ke greentea nya. Sambil menunggu makanannya dingin ia memutskan untuk bersiap-siap. Mengganti bajunya dan memubuhkan make up di wajahnya. Terutama dibagian matanya.

Drrrt~
Krystal tersentak hebat ketika mendengar handphone nya berbunyi. Ia segera mencari handphone nya ditumpukan bantal tempat tidurnya.

Sehun.

Tangan Krystal terasa lemas seketika. Ia hanya melihati ponselnya hingga berhenti bergetar. Dan merasakan kelegaan luar biasa ketika handphone nya berhenti bergetar. Krystal segera meninggalkan handphone nya. Dia harus segera makan dan mengejar kereta bukan? Dia tidak ingin berdesak-desakan di rush hour.

Limabelas menit kemudian ia benar-benar siap. Krystal kembali melihat handphone nya. Merasa ragu ketika melihat ada pesan suara, dari Sehun tentunya. Ia menghela nafas kemudian membukanya,

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Suara Sehun terdengar ringan seperti biasa. Krystal menahan nafasnya. “Aku tahu kau memintaku untuk menjauh Krys…. Aku minta maaf. Aku berjanji pada mu tetapi aku melanggarnya. Aku…” Terdengar hening sejenak, “Kau tidak harus membalas telepon ku atau sms ku atau apapun yang berhubungan dengan ku. Lakukanlah apa yang membuat mu nyaman. Kau tahu dimana aku akan selalu berada bukan?” Sambungan teleponnya terputus.

Krystal memejamkan matanya ketika bulir-bulir air matanya mendesak keluar.

.

.

.

.

.

“Aku… Tidak… Ingin… Pergi…”

Kai memijit pelipisnya melihat kelakuan temannya yang asyik meringkuk di tempat tidur. “Hey bodoh! Apa kau ingin merengek di depan seorang wanita?”

Yup! Ada Seulgi disini yang juga sibuk menghela nafasnya. Astaga, sejak kapan sepupu ‘tersayangnya’ ini jadi sangat baperan? Okay, Seulgi tahu jika Sehun menangis ketika putus dengan Wendy. Menurut Seulgi itu adalah hal yang wajar karena….   Sehun ketika itu diselingkuhi oleh Wendy. Tetapi uring-uringan di tempat tidur merengek karena Krystal adalah hal yang sedikit…. Bukan! Sangat memalukan!

“Ayolah Sehun…” Seulgi akhirnya membuka suaranya. “Kau tidak memikirkan perasaan Seojoon oppa dan Sohee oennie? Mereka mengadakan pesta ini karena dirimu ingat? Jangan mengecewakan mereka…”

Sehun akhirnya bangun dengan wajah sebal. “Tidaklah kalian mengerti? Aku galau karena Krystal!”

“Huahahaaahahaaa!!!” Kai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. “Haaahaahaaaa!!!” Lanjutnya tidak mengindahkan tatapan horror Sehun dan Seulgi.

“Dengar Sehun…” Seulgi berbicara kembali. “Bisakah kau memikirkan perasaan Oppa dan Oennie sedikit saja? Jika begini caranya kau pasti yang akan disalahkan bukan Krystal. Karena kau yang tidak ingin datang.”

“Aku akan datang besok pagi!”

Seulgi menggeleng, “Tidak! Harus hari ini! Pernikahan mereka memang dua hari lagi tapi Sohee oennie meminta kita datang pada hari ini. Kau seharusnya bersyukur boleh pergi dari Seoul malam hari bukannya siang seperti yang direncanakan. Dan juga, apa maksudmu besok? Kau ingin berangkat pagi jam berapa? Dari Seoul ke Busan butuh waktu 4-5 jam! Mau jam berapa berangkatnya? Jam enam?! Asalkan acara fitting baju jam 9 pagi!”

Sehun berdecak sebal, “Kenapa mereka mengadakannya di Busan sih? Tidak bisa di Seoul–Arghhhh, yak! Kang Seulgi!” Sehun tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Seulgi tiba-tiba menarik kuping Sehun.

“Jangan seperti bocah berumur lima tahun yang merengek karena tidak mendapatkan yang ia inginkan!” Seru Seulgi dengan nada dingin. Itu membuat Kai terkejut dan diam-diam meneguk ludahnya sendiri. Wow! Tipikal calon ibu yang tegas! Pikir Kai.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus pergi malam ini juga! Paling lama jam sepuluh malam! Aku akan membawa Seojoon oppa atau Sohee oennie pokoknya! Aku akan buat mereka marah-marah kepada mu!” Lanjut Seulgi mengeluarkan death glare nya.

Sehun meringis, “Yak Kang Seulgi…”

Seulgi melepaskan tangannya, “Aku pergi dulu ya!!!” Katanya kemudian tersenyum. “Ayo Kai! Kita tinggalkan dia!”

Kai menatap Seulgi bingung tetapi akhirnya menurut karena Seulgi menatapnya tajam. “Euhm…. Aku pergi dulu!” Ucap Kai ke Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon Krystal? Gadis itu pasti tidak mengangkatnya. Apalagi Krystal benar-benar mendiami Sehun dua hari ini. Sehun akhirnya menghempaskan dirinya lagi ke kasur. Menyebalkan!

.

.

.

.

.

Krystal menatap handphone-nya. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Hari ini benar-benar tidak ada apapun dari Oh Sehun. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus bagaimana? Dia berjauhan dari Sehun karena ia pikir ia dapat berpikir rasional. Memutuskan hal yang tepat. Tetapi itu sama sekali tidak berdampak apapun terhadap hidupnya. Krystal masih ragu antara bayang-bayang Tifanny dan Sehun sendiri.

Krystal mengigit bibirnya, Kenapa ia mengharapkan Sehun menghubunginya? Krystal mendengus. Ini sangat irrasional.

“Hey Krys!” Amber tiba-tiba telah berada di sampingnya.

“Oh, Hai!” Balas Krystal kemudian tersenyum.

“Kau tidak ingin pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Atau hari ini kau akan tampil di Café Onew Oppa?”

Krystal menggeleng, “Tidak aku akan langsung pulang.”

“Ada apa dengan mu?”

“Heh?” Krystal menatap Amber bingung.

“Kau selalu melihat handphone mu dua hari ini. Sesuatu terjadi?” Ucap Amber menjawab kebingungan Krystal.

“Oh…” Krystal kemudian terkekeh kecil, “Tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya…” Putus Krystal. Amber terlihat diam saja. Tahu jika sahabatnya tidak ingin diganggu.

Krystal sampai dirumah satu jam kemudian. Setelah memutuskan mandi ia pun langsung menuju ke jendela kamarnya. Gila, tapi Sehun selalu menunggu di bawah hingga pukul sepuluh malam. Katanya, ia ingin melihat wajah Krystal dan berharap Krystal ingin menyisikan sedikit waktunya untuk melihat ke bawah melalui jendela kamarnya. Awalnya Krystal tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk tidur. Iseng-iseng mengintip, Sehun berada disitu dengan posisi kepala mendongak. Tersenyum ke Krystal dan melambaikan tangan. Yang membuat Krystal terkejut setengah mati dan langsung menutup kembali gordennya.

Jujur, pada saat itu ia ingin turun ke bawah dan menanyakan kenapa Sehun melakukan hal bodoh? Di luar selama berjam-jam. Bagaiana jika ia sakit? Tapi Krystal tidak bisa karena keraguannya.

Itu terjadi selama dua hari ini. Bukan itu saja. Sehun meneleponnya pagi hari. Mengingatkan dia untuk makan siang. Benar-benar… Krystal merasa Sehun tidak akan melepaskannya dengan mudah. Itu membuatnya bertambah pusing.

Ting tong~

Krystal mengerjapkan matanya ketika mendengar bel pintu. Siapa yang datang malam-malam begini? Sehun? Krystal kembali melihat ke arah jendela kamarnya. Tidak ada mobil Sehun. Kemudian ia melihat dari jendela ruang tamunya, tetap ia tidak melihat mobil Sehun.

“Krystal-ssi…”

“Oh Seulgi-yah?” Ujar Krystal ketika mendengar suara dari pintu. Seulgi? Kenapa dia ke sini? Sudahlah ia harus berpikiran positif. Seulgi pasti datang kesini sendiri bukan? Ia segera berjalan menuju pintu.

Cklek~

“Krystal!” Pekik Seulgi dan segera memeluknya.

Krystal terlonjak kaget. Tetapi dia membalas pelukan Seulgi. Setelah beberapa detik memeluk Seugli Krystal baru tersadar. Bahwa Seulgi kesini tidak sendiri.

.TBC.

Yang manis-manis ada di chapter depan.  See you there….

State of Grace (Chapter 20)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun benar-benar menempati janjinya. Hampir semuanya. Sehun pergi memberi tahu orangtuanya dan mengabarkan ke pemilik apartment. Tetapi anak satu itu tidak mengajak Krystal untuk menghias apartment-nya. Ternyata, apartment-nya bukanlah apartment seperti biasa yang Krystal beli yang biasanya hanya tersedia ruangan kosong, hanya dapur dan kamar mandi yang diberi furniture. Apartment yang Sehun beli sudah dilengkapi oleh furniture, dari ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dan tentunya kamar mandi. Tidak ada lagi yang perlu di hias.

Krystal masih meamndang sekeliling ruang tamu Sehun.

“Bagaimana apartment-ku?” Sehun yang baru saja membawa beberapa kantong belanjaan berisi makanan menyadarkan Krystal dari lamunannya.

“Ini sama sekali tidak sederhana!” Krystal mengacak pinggangnya. “Kau berbohong kepadaku!”

Sehun terkekeh, “Aku tidak bilang ini sederhana. Aku bilang ini simple.”

“Dan ini tidak simple Sehun. Arsitektur apartment ini sangat mengagumkan!”

“Baiklah Nyonya Oh. Hentikan kemarahanmu okay?”

Krystal mendengus.

Sehun kembali tersenyum, “Kita tidak punya waktu yang banyak. Teman-temanku akan datang pukul lima sore. Sekarang, waktu telah menunjukan pukul setengah lima.”

Satu lagi, saat pertama kali menunjukan apartment ke Krystal, pada saat jam satu siang, Saat itu Krystal tidak bisa berkata apa-apa melihat apartment Sehun. Katakanlah ia bodoh karena berpikir jika apartment Sehun hanya terdiri dari ruangan kosong bercat putih. Sehun mengatakan jika ia ingin mengundang teman-temannya seperti Kang Seulgi dan Kai Kim untuk merayakan keberhasilan ia mendapatkan pekerjaan. Krystal mangut-mangut saja. Untuk apa juga ia melarangnya? Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli piring kertas dan gelas plastik tetapi berakhir membeli beberapa bahan makanan seperti telur dan roti.

Krystal ingin mengangkat salah satu kantong belanjaan tetapi dengan cepat Sehun membawanya duluan. Mereka akhirnya menyusun bahan makanan dalam kulkas.

“Tadi dirimu berencana untuk membeli pizza bukan?” Krystal bertanya disela-sela ia menyusun buah-buahan.

“Oh, ya benar.” Sehun kemudian menghentikan pekerjaannya, “Tunggu, aku akan memesannya.” Sehun mengambil handphone-nya dan memesan.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, Sehun kembali membantu Krystal.

“Aku tidak percaya menyetujui usulanmu.” Keluh Sehun ketika ia mengeluarkan beberapa balon dan perelengkapan pesta.

“Bukannya dirimu sendiri yang mengatakan ingin mempunyai latar yang bagus untuk berfoto? stand photo booth merupakan ide yang bagus!”

“Aku benci balon!” Sehun membuka balon-balon huruf yang tadi mereka beli. Tak lupa mengambil pompa untuk balon yang baru saja ia beli. “Balon adalah benda yang mengerikan! Apalagi ketika meledak!”

Krystal tertawa, “Astaga! Baru kali ini aku melihat laki-laki takut pada balon yang meledak!”

“Krystal….” Sehun menatap Krystal dengan memelas. Ia baru saja memompa balonnya dan balonnya terlihat sedikit terisi.

Krystal menghentikan tawanya dan berjalan menuju Sehun, “Biar aku saja yang memompa balonnya!”

Sehun sendiri kemudian hanya melihati Krystal memompa balonnnya. Kemudian melihat dengan horror balon yang membelendung. Ia pun terpaksa memegang balon ketika Krystal menyuruhnya untuk menempel di dinding. Bagaimanapun juga, rasanya aneh bagi Sehun jika Krystal harus memanjat untuk menempelkan balon huruf.

Ting tong~

Bel apartment Sehun berbunyi.

“Mungkin pizza.” Gumam Sehun. Tangannya masih sibuk menempel balon huruf.

“Serahkan pada ku!” Kata Krystal. Ia segera berjalan menjauhi Sehun yang saat itu berada di ruangan yang bisa disebut ruang keluarga, dengan adanya tv beserta home-theatre.

Cklek~

Tangan Krystal dengan santai membuka pintu.

“Sangjangnim?!”

.

.

.

.

.

Tifanny terperangah untuk beberapa saat ketika Krystal membuka pintunya. Ia mengeluarkan senyuman sinis, “Jadi benar jika kau berpacaran dengan Sehun?”

“Sangjangnim….” Krystal tidak bisa menemukan kata-katanya yang tepat.

“Kau kenapa berada di apartment anak ku?”

Krystal masih terdiam.

“Kau sadar apa yang menjadi penghalang dirimu dan Sehun?”

…..

“Dan kau masih berani untuk menentangnya?”

…..

“Krystal Jung, aku bertanya kepadamu! Kenapa kau bisa berada di apartment Sehun?!”
“Sangjangnim aku…”

“Aku tidak punya waktu banyak. Katakan alasanmu sebelum semua orang melihat kita!”

“Sangjangnim tunggu sebentar aku-“

Tifanny kembali memotong, “Kau tidak pantas berdiri di dekat Sehun. Anak ku… Anak ku bisa mendapat yang lebih baik daripada mu! Bukan hanya masalah ekonomi, masalah pendidikan pun kau jauh dibawah dia. Jadi untuk menyelamatkan harga dirimu, itupun jika masih ada, kuharap kau bisa pergi secepatnya dari apartment Sehun. Sebelum beberapa orang yang ku undang datang untuk merayakan kesuksesan Sehun.”

Nafas Krystal tercekat. Oksigen terasa menipis di sekitarnya. Udara tergantikan oleh kata-kata tajam Tifanny. Kakinya terasa tidak berpijak sangking ia merasa sangat malu, mengambang di tengah ketakutannya.

“Krys, siapa yang datang?” Sehun dengan santai jalan menuju Krystal. Melihat ibunya, ia langsung terkesiap keras, “Mom…”

“Sehun, apa yang ia lakukan disini?” Tanya Tifanny tidak mengindahkan air muka Sehun yang terkejut.

“Apa yang Mom lakukan disini?” Tanya Sehun balik.

“Mom ingin datang ke apartment mu. Tidak boleh? Yang harus dipertanyakan seharusnya dia!” Tifanny menunjuk ke arah Krystal, “Kenapa dia bisa berada disini? Dia seharusnya tidak pernah sedikitpun berada di dekatmu Sehun-ah!”

Sehun merasakan amarahnya naik. Ia ingin membalas ibunya dengan nada tinggi saat itu. Hampir. Jika saja ia tidak melihat Krystal tiba-tiba mundur, mengambil tasnya dan jaketnya kemudian keluar dari apartment Sehun.

“Sehun!” Panggil Tifanny ketika Sehun ikut mengejar Krystal.

Krystal berlari kecil, berharap bisa menghilang dari gedung ini secepatnya.

Grab!


Sehun berhasil memegang tangan Krystal. Dalam satu hentakan, dia berhasil membuat Krystal menghadapnya.

“Tunggu kumohon….” Kata Sehun lirih.

Krystal menundukan kepalanya. Ia tidak sanggup. Ia ingin menangis.

“Krys, mengenai tadi…” Lanjut Sehun dengan suara gugup bercampur panik.

Krystal mendongakan kepalanya. Menatap Lembut Sehun. Dengan sigap, ia mengenggam kedua tangan Sehun, “Aku mengerti.”

“Mengerti apa? Apa yang ibuku katakan kepada mu? Katakanlah kepada ku!”

“Sehun…” Ucap Krystal tenang. “Aku mengerti mengapa ibu mu datang ke apartment mu. Ia ingin merayakan keberhasilanmu. Dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah…”

“Krystal…” Seru Sehun frustasi. “Astaga, jangan seperti ini… Ayo kita hadapi ibu ku bersama-sama. Jangan lari dari kenyataan.”

“Aku tidak ingin kau menghardik ibu mu. Ataupun kau memaki ibu mu. Ibu mu benar walau kenyataannya memang menyakitkan. Kehadiranku memang masih harus dipertanyakan….”

Sehun terdiam. Jangan! Jangan! Serunya dalam hati. Jangan! Dia tidak ingin ini menjadi akhir hubungannya dengan Krystal.

“Berjanjilah kepada ku satu hal…” Cengkraman tangan Sehun semakin kencang ketika Krystal berkata seperti itu, “Kita akan bertemu lagi setelah kau merayakan keberhasilan mu okay? Sekarang, kau harus merayakannya bersama ibumu dan teman-teman mu. Setelah itu… Setelah itu kita akan bertemu lagi…”

Ting~

Pintu lift terbuka. Krystal dan Sehun menoleh dan mereka terkejut satu sama lain. Wendy, Seulgi, Kai dan beberapa orang yang tidak Krystal kenali berada di lift itu. Sama seperti Sehun dan Krystal, mereka juga terkejut dengan pemandangan di depan mereka.

Krystal cepat-cepat melepaskan genggamannya. Sehun sendiri berusaha untuk tidak meraih kembali tangan Krystal. Krystal tersenyum lembut ke Sehun sebelum berbalik, berjalan menuju Lift.

“Anyeonghseyo….” Sapa Krystal kepada orang-orang yang keluar dari lift. Mereka terihat membalas sapaan Krystal dengan canggung.

Krystal kembali tersenyum ke Sehun sebelum pintu lift tertutup rapat.

.

.

.

.

.

Acara perayaan Sehun sukses. Semuanya berbahagia, kecuali Sehun tentunya. Dari makanan yang ia sediakan sampai stand photobooth yang Sehun dan Krystal buat sendiri berhasil menghidupkan suasana. Beberapa teman-temannya sudah mengundurukan diri. Pastinya yang lain akan menyusul mengingat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Hanya Kai yang tidak akan pulang karena Sehun menyuruhnya untuk tinggal menjaga rumah. Sehabis ini, Sehun berencana akan bertemu Krystal langsung tanpa menunggu hari esok. Kejadian tadi sungguh menyiksanya. Apa yang ibunya katakan hingga Krystal mundur teratur seperti itu? Ia ingin tahu. Ia ingin merasakan apa yang Krystal rasakan.

“Oh Sehun!”

Suara akrab dari belakangnya membuat ia menoleh, “Do Kyungsoo!” Balasnya.

“Kau kelihatan sedikit depresi teman! Di pinggiran balkon menghadap ke jalan raya. Well, apapun itu ku ucapkan selamat atas prestasi membanggakan mu. Tapi aku harus pulang.”

Sehun dan Kyungsoo berbincang-bincang sebentar.

“Aku tidak melihat Chanyeol.” Kata Sehun menyadari hanya ada Kyungsoo dan Yixing.

Kyungsoo tertawa canggung, “Chanyeol ada acara. Dia menyampaikan maaf tidak bisa datang.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Oh, tentu tidak apa-apa. Baiklah teman, sampai berjumpa lagi…”

Setelah kepergian Kyungsoo, beberapa orang juga ikut mengundurkan diri.

“Hey, sepupu!” Sapa Seulgi ceria.

Sehun hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Baiklah….” Kata Seulgi mengerti jika Sehun tidak ingin diganggu. “Tapi aku penasaran! Apa yang terjadi dengan Krystal? Kupikir kau ingin merayakan dengan dia bukan dengan dia….” Arah pandang Seulgi menunjuk ke Wendy yang sedang berbincang-bincang dengan Jimin.

“Rencananya begitu hingga ibuku datang dan menghardik Krystal…”

“Astaga… Jadi kau tadi putus dengan Krystal?”

Sehun mendesah, “Tidak. Tapi dia ingin aku tidak mengejarnya dan mengikuti pesta ini…”

“Itu artinya kau harus mengejarnya!”

“Aku tahu!” Desis Sehun tajam. “Tapi dia membuatku berjanji untuk menikmati pesta ini. Walaupun begitu aku akan datang kepadanya ketika acara sialan ini berakhir. Makanya kau cepat pulang sana!”

Secercah senyum tiba-tiba terukir di bibir tipis Seulgi, “Kurasa aku dapat ide bagus agar dirimu bisa pergi dari sini!”

.

.

.

.

.

Sehun mengendari mobilnya dengan cepat. Melintasi kota Seoul yang tidak terlalu ramai. Tujuan utamanya ke Café f(x). Berharap Krystal ada di situ untuk menghibur dirinya, berada di tengah-tengah orang yang ia sayangi.

Cklek!
Sehun segera membuka pintu mobilnya dan berlari memasuki Café f(x). Jantungnya kembang-kempis dan ia merasa membutuhkan lebih banyak oksigen. Setelah ia rasa nafasnya kembali normal, segera saja ia mengantri. Tidak enak tiba-tiba memotong dan berbicar langsung ke Luna.

“Selamat malam Sehun…..” Sapa Luna ceria.

“Selamat malam!” Balas Sehun. Berusaha agar terdengar ceria.

“Sebuah kejutan yang menyenangkan! Apa yang ingin Anda pesan?”

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sebenarnya…. Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan Krystal.”

“Bora-ssi, tolong gantikan aku!” Setelah berkata seperti itu Luna kembai menghadap ke Sehun, “Kau, tolong ikuti aku!”

Sehun pun bingung. Tetapi Luna mengatakan hal yang sama sekali lagi membuat ia akhirnya mengikuti Luna. Luna mengajak Sehun kebelakang dapur. Melintasi dapur dimana para Chef sibuk memasak.

Trek~

Dia membuka sebuah pintu, “Tunggu disini sebentar.” Katanya kemudian masuk kedalam ruangan. Sekitar lima menit berada di sana, Luna akhirnya keluar, “Silahkan masuk…”

Sehun benar-benar seperti orang bodoh. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah diruangan itu ada Krystal? Ia memasukinya dengan perlahan.

Dan…………..Bahunya melesak ketika melihat orang yang di dalam. Victoria bukan Krystal.

“Sehun-ssi, selamat datang di ruanganku…” Sapa Victoria.

Sehun membungkukan badannya.

“Silahkan duduk…”

Sehun kemudian duduk di kursi Victoria. “Aku…” Sehun membuka pembicaraan. “Aku kesini untuk mencari Krystal…”

Mata Victoria melebar, “Aku tahu ada yang salah pada hari ini!”

“Maksudmu?”

Victoria menghela nafasnya, “Teman dekat Krystal adalah Amber. Amber adalah orang yang menemaninya dari panti asuhan hingga mereka sama-sama di adopsi. Tetapi Amber terkadang overprotective terhadap Krystal, itu membuatnya tidak bisa terlalu gerak bebas. Sulli juga teman dekatnya. Bersama Sulli mereka suka melakukan hal-hal aneh yang tentunya tidak bisa ia lakukan ketika bersama Amber, termasuk dalam urusan patah hati.

Krystal tadi menelepon Sulli. Sebenarnya hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi Luna tidak sengaja mendengar percakapan mereka, mereka merencanankan sesuatu, ke tempat yang tidak akan dirimu jangkau. Luna tahu jika Krystal sedang patah hati, dia menyimpulkan dari arah pembicaraan mereka.”

“Aku tidak…” Sehun terdiam sebentar. Ia menghela nafas, “Dengar… Aku rasa aku membuat ia patah hati. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ini semua di luar rencana. Seharusnya hari ini kami bersenang-senang.”

“Kau rasa?”

“Ibu ku datang ke apartment-ku. Krystal yang membukakan pintunya. Ibuku dan Krystal tidak mempunyai hubungan yang baik dan kurasa ibuku mengatakan hal-hal yang tidak pantas pada Krystal jadi….”

Victoria menganggukan kepalanya. Sehun tidak yakin dia mengerti, Victoria seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Victoria sunbaenim-“

Noona… Panggil saja aku Noona.” Potong Victoria

“Victoria Noona, anda tahu dimana Krystal dan Sulli?”

Victoria menggeleng.

Apa-apaaan itu? Sehun berusaha untuk tetap tenang. Walau kekesalan sudah berada di puncak. Jadi buat apa ia kesini dan menceritakan kepada Victoria jika Victoria sendiri tidak tahu?

Merasakan handphone-nya bergetar, Sehun segera mengambil handphone-nya. Ia permisi sebentar kepada Victoria untuk mengangkat handphone-nya.

Anyeonghaseyo…” Sapa Sehun asal-asalan.

Hai, teman ini aku!” Suara bass khas Chanyeol terdengar jelas.

“Aku tahu…” Jawab Sehun pendek.

Ada yang ingin ku sampaikan kepada mu…”

“Kalau soal dirimu yang tidak datang tenang saja…”

“Bukan! Ini tentang Krystal!”

Sehun langsung mencengkram handphone-nya, “Kau tahu dimana dia? Kau melihatnya?”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Aku tahu kau pasti akan tertarik…”

“Cepat katakan dimana dia!” Seru Sehun geram.

“Tenang teman…. Dia ada di Café teman ku. Temanku baru membuka Café dan ia mengundangku untuk bernyanyi. Krystal disitu dengan seorang gadis cantik. Hey, kau tahu nama gadis cantik tersebut?”

Sehun memutar bola matanya, “Choi Sulli dan dia mantan pacarnya Kai. Sekarang dimana Krystal?”

“Oh benarkah? Sayang sekali. Sepertinya aneh jika aku mendekati Sulli…”

“Chanyeol….”

“Baiklah….. Di Café Italiana by Lee Jinki. Aku akan mengirimkan alamatnya kepada mu!”

Setelah itu Chanyeol memutuskan teleponnya. Sehun menatap Victoria, “Noona tahu Café bernama Italiana by Lee Jinki?”

Mata Victoria membesar, “Mereka disitu?” Ia mengangguk, “Tentu aku tahu. Itu Café temanku. Hari ini adalah Soft Openingnya. Mereka mengundangku, tetapi aku tidak bisa datang karena hari ini aku baru pulang dari Osaka.”

“Baiklah… Kalau begitu aku permisi dulu Noona….”

“Tunggu…”

Langkah Sehun terhenti, ia kembali menghadap Victoria.

Victoria sendiri terlihat membuka laci mejanya dan mencar-cari sesuatu, “Ini…” Katanya mengasih kupon. “Aku baru ingat jika pada Soft Opening hanya orang-orang yang mempunyai kupon ini yang bisa masuk….”

Sehun menerima kupon dari Victoria, “Terimakasih Noona…”

.TBC.

Flipped (Chapter 13)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Pertanyaan Membingungkan pt.1

Jadi apakah Krystal menyukainya? Ayolah…. Itu adalah pertanyaan yang mudah. Iya atau tidak. Seharusnya iya, karena sifatnya sangat perhatian dan romantis. Tetapi dia ragu. Ada bagian di hatinya yang terasa hampa bahkan dia-si romantis- tidak dapat menjangkaunya.

***

Suara tawa dari ujung sana membuat Luhan kembali tertawa kencang. “Aku tidak bermaksud seperti itu! Astaga, bisakah kau tidak tertawa terus menerus? Perutku sudah sangat sakit.” Luhan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah dinding-dinding tua flat yang telah dia tempati satu bulan ini. Dia tersenyum singkat kepada dua teman satu flat nya yang menatapnya dengan kilatan penasaran.

“Aku mengerti…” Luhan kembali berbicara via telepon. “Baiklah… Baiklah… Aku tidak akan menjemputmu lagi di depan kelas mu. Dan tidak makan lagi di kafetaria fakultas mu… Oh? Baiklah. Anyeong Krystal Jung!”

“Ehm…” Chanyeol berdehem dan menatap ke arah Luhan, “Krystal Jung?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Luhan terkekeh kecil, “Kenapa?”

“Kenapa?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepada Krystal?”

“Wow! Wow! Wow!” Chanyeol langsung menatap Sehun,

Luhan menampilkan ekspresi terkejutnya, “Maksudmu?” Tanya Luhan seperti orang bodoh.

“Hey, kau sangat blakblakan Oh Sehun!” Protes Chanyeol kesal.

Luhan yang masih menampilkan ekspresi terkejut menghela nafas, “Tidak sekarang. Aku baru saja bertemu dengannya. Masih butuh pendekatan.”
“Kau mengenalnya sejak SD. Butuh pendekatan apa lagi?” Sehun menatap Luhan dengan tatapan datarnya.

Luhan terlihat berpikir, “Entahlah. Aku hanya takut di tolaknya.”

“Kurasa tidak ada laki-laki yang mendekatinya kecuali dirimu.”
Plak!

Chanyeol dengan cepat memukul kepala Sehun. Membuat laki-laki itu meringis dan menatap Chanyeol sebal.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Hey, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”
“Sudahlah…” Luhan menengahi Chanyeol dan Sehun. “Aku akan memikirkan usul Sehun, okay? Tapi aku harus kembali lagi ke kamar. Tugasku menumpuk!” Lanjut Luhan dan mengambil teh hangat yang tadi ia buat selagi menelepon Krystal.

Blam~

Setelah Luhan menghilang dari ruangan, Chanyeol menatap Sehun, “Kenapa kau berkata seperti itu ke Luhan? Ku kira kau menyukai Krystal?”

Sehun yang memusatkan perhatiannya untuk membaca buku menatap Chanyeol, “Di mimpi mu!”

“Apanya di mimpi ku?!” Seru Chanyeol sedikit tersinggung. “Kau memang dingin tetapi tatapanmu setiap kali Krystal ke sini menyiratkan perhatian yang sangat besar. Kau pasti menyukainya! Aku saja yang telah menjadi temanmu sejak awal kuliah tidak pernah di tatap seperti itu.”

Sehun mendesah keras. Ia menutup bukunya dan kembali menatap Chanyeol. Tangan kananya memeluk Chanyeol. Menarik Chanyeol agar semakin dekat ke Sehun, Tiba-tiba, wajah mereka menjadi sangat dekat. “Kau cemburu? Aku bisa menatap mu dengan tatapan yang penuh perhatian mulai dari sekarang.”

“Apa-apaan?!”

.

.

.

.

.

“Jadi…” Seulgi sudah bergelayut manja di siku Krystal, “Bisakah kau menjelaskan apa maksud Luhan tadi?”
“Maksud Luhan apa?” Tanya Krystal pura-pura tidak peduli walau ia tidak dapat menyembunyika senyumannya.
“Astaga Krystal Jung! Jangan pura-pura bodoh!” Seulgi menatap Krystal tidak sabaran.

Krystal menatap sahabatnya. Kemudian ia mendesah, “Dia hanya ingin menjemputku tidak kurang dan tidak lebih.”

“Aku tidak yakin akan hal itu…” Seulgi kemudian mendekat ke arah Krystal, “Kurasa ia menyukai mu.”
Krystal kembali mendengus. Baiklah… Baiklah… Dia tahu Luhan menyukainya. Maksudnya, itu semua terlihat dari perlakuan Luhan kepadanya. Seseorang pastilah buta jika tidak mengetahui hal itu. Dia diam saja bukan karena ia bodoh tidak mengetahuinya atau tidak memperdulikan perasaan Luhan. Ia hanya memberi Luhan waktu untuk menyatakan perasaannya sendiri. Krystal adalah teman Luhan sejak SD. Dia tahu, laki-laki itu pasti tidak menyukainya kalau ia memberi tahu perasaannya kepada Luhan duluan.

“Kau menyukainya?” Tanya Seulgi tiba-tiba ketika mereka sudah duduk di kelas dan menunggu Professor Choi datang.
“Tentu.” Jawab Krystal lugas.

Seulgi terlihat memutar bola matanya, “Aku tahu kau menyukainya sebagai teman. Yang kumaksud kau menyukainya sehingga ingin menjadikan dia kekasihnya? Kau tahu… Jatuh cinta kepadanya?”
“Tentu.” Jawab Krystal tetapi kali ini nadanya terdengar agak ragu. “Maksudku siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya melihat semua perilakunya? Dia sangat romantis.”
“Jadi kau ingin menjadi kekasihnya karena perilakunya yang sangat romantis?”
“Apa maksudmu?!” Tanya Krystal sedikit frustasi. Ia tidak marah kepada Seulgi, sungguh. Tetapi perkataan Seulgi membuat perasaan Krystal mulai terombang-ambing.

“Maksudku apakah kau jatuh cinta kepadanya? Ayolah, Jung itu adalah pertanyaan yang sangat mudah. Iya atau tidak?”

“Aku sudah menjawabnya tadi.”

“Tapi kau terlihat ragu.”

“Aku tidak mengerti maksud mu!” Seru Krystal dengan nada yang sedikit tinggi. Okay, dia mulai merasa sedikit kesal terhadap Seulgi.

“Baiklah, aku bukannya merendahkan dirimu. Tapi selama tiga tahun aku menjadi sahabatmu kau tidak pernah dekat dengan cowok. Tunggu, itu bukan karena dirimu tidak populer. Dirimu sendirilah yang menolak cowok-cowok yang datang kepadamu. Luhan hanyalah satu-satunya yang berhasil mendekatimu.

“Tapi Jung, setiap dirimu menceritakan Luhan dirimu pasti selalu berkata ‘Dia memang selalu baik kepadaku seperti dulu..’ atau ‘Dia persis yang ku ingat seperti dulu…’ atau kalimat semacam itu. Apa itu menyiratkan kau menyukainya-maksudku jatuh cinta- kepadanya? Astaga Krystal Jung, tidak! Jadi sekarang aku akan menegaskannya kepadamu, apakah kau jatuh cinta kepadanya?”

Krystal terlihat berpikir, “Apakah aku benar-benar berkata seperti itu ketika aku menceritakan Luhan?”

Seulgi menatap Krystal lekat-lekat, kemudian menganggukan kepalanya.

Krystal memejamkan matanya. Astaga…. Dia tidak bermaksud seperti itu. Luhan adalah seseorang yang sangat special untuknya. Dia tidak bermaksud membandingkan Luhan yang sekarang dengan yang dulu.

“Aku tidak bermaksud yang buruk ketika mengatakan hal tersebut. Kau tahu aku hanya…”

“Iya aku tahu.” Sela Seulgi. “Kau hanya memuji Luhan. Tapi kurasa kau terjebak dengan masa lalu mu. Kau bisa mengatakan kepadaku, ‘Dia laki-laki terhebat yang pernah ku temui.’ dan semacamnya.”
Krystal memijit pelipisnya. Ia memang terjebak dengan masa lalunya sendiri. Bagaimana seorang bisa melanjutkan hidup jika ia melupakan sebagian dari masa lalunya? Bisa saja dia melakukan dua kali kesalahan karena kesalahan pertama dia lupakan. “Pertanyaanmu lebih susah daripada soal ujian.”

Seulgi tersenyum, “Maaf memusingkanmu. Aku hanya khawatir kau akan tersandung masalah karena hal-hal kecil seperti ini.”

Krystal membalas senyuman Seulgi, “Aku tahu.”

Kemudian, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Krystal kembali mencermati pertanyaan Seulgi. Apakah dia menyukai Luhan? Dia seharusnya menyukai Luhan. Tetapi ada bagian di dalam hatinya yang hampa bahkan Luhan tidak dapat menggapainya. Tanpa Krystal sadari, dia menyipitkan matanya. Dia sudah menyelesaikan masalahanya dengan Oh Sehun. Itu sudah sangat jelas dari kata-katanya ketika ia menangis di taman dan membentak Oh Sehun, mengatakan agar laki-laki itu menjauh darinya. Itu sudah sangat jelas. Tapi kenapa dia masih ragu dengan perasaannya terhadap Luhan?

Hufh….

Krystal hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

Hujan sangat deras di luar sana. Udara yang tadi menghangat karena musim semi datang kembali menjadi dingin. Seseorang akan sangat malas untuk keluar pada jam tujuh pagi di hari minggu yang mendung ini. Menikamati kehangatan selimut dan keempukan bantal pasti lebih menyenangkan. Krystal sudah pasti melakukan hal tersebut. Jika saja ia tidak sengaja menerima telepon Luhan. Dan lelaki itu sedang sakit.!

Luhan berkata jika ia hanya kelelahan. Tapi hati kecil Krystal tersadar, Luhan kelelahan karena dirinya! Dengan jadwal kuliahnya yang padat dan masih gigih untuk menjemput Krystal membuat Luhan lelah. Krystal teringat jika kemarin malam, ketika Luhan menjemputnya laki-laki itu sudah menunjukan tanda-tanda flu. Tetapi ia masih ingin mengantarkan Krystal pulang ditambah menemani perempuan itu makan malam. Jadi, apakah perasaannya tidak memberontak begitu mengetahui Luhan sakit?

Tok… Tok… Tok…

Krystal dengan santai mengetuk pintu apartment Luhan. Dia sudah sangat sering mengunjungi apartment ini. Setiap minggu bisa dua kali. Ini karena dia dan Luhan sering pergi keluar jika tidak ada jadwal kuliah. Berakhir di apartment ini untuk makan malam atau ia kesini untuk menjemput Luhan. Krystal seperti penghuni tidak tetap apartment ini.

Cklek~

Pintu apartment terbuka. Krystal sedikit terkesiap melihat wajah orang yang membuka pintu.

“Oh, masuklah.” Jawab Sehun datar.

.TBC.

+Holla semuanya, I’m back 👋👋👋 dengan membawakan Flipped!  Khusus untuk ultah Sehun , eh D+2 ultah Sehun (wkwkwkwk) Flipped di update 2 chapter 😬…..  Stay tune untuk ff terbaru dan ngomong-ngomong ttg State of Grace, mungkin nanti🙈  Lagi stuck di chapter 20…  Bye bye See you soon

State of Grace (Chapter 15)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Maaf ini semua salahku.” Wendy menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang di depannya.

Sehun mendengus, “Tentu ini salahmu!”

“Sehun-ah, aku ingin memberi tahu lebih awal-“
“Memberi tahu lebih awal?” Sehun menatap jengah Wendy. Kekesalan mulai terpancar dari wajahnya, “Wendy… Astaga!!! Itu bukan penyelesaian masalah! Kau jelas-jelas selingkuh di belakang ku dan bilang jika kau akan memberi tahu perselingkuhanmu lebih awal?”

“Bukan.” Wendy mulai menatap Sehun. Nafasnya tercekat, tetapi dengan pelan-pelan, sebuah kalimat terluncur dari bibir tipisnya, “Aku ingin memberi tahu mu jika hubungan kita sebaiknya tidak dilanjutkan.”

Sehun terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang tidak pernah disangkanya. Setelah diam beberapa detik, Sehun tersenyum sinis. “Tidak kusangka….” Ia kemudian menatap Wendy, “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Menahanmu? Lakukanlah terserah dirimu… Aku juga tidak ingin bersama dirimu lagi!”

Deg!

Wendy langsung membuka matanya. Ia meletakan tangannya di atas dada, merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Kenapa dia harus bermimpi hal itu?

Tring~

Wendy kembali tersentak ketika hp-nya berbunyi. Merasa bodoh karena hal itu, ia mengambil handphone-nya dengan merengut.

Hari ini narasumber kita datang. Tolong wawancara dia. Aku telah mengirimkan email mengenai dirinya.

“Astaga… Di hari minggu yang cerah ini?” Wendy menatap malas hp-nya. Dengan tenang, ia kembali menarik selimut meliputi tubuhnya dan kembali terlelap.

.

.

.

.

“Ini? Atau ini?”
“Kau cantik dengan apapun yang kau pakai…” Amber kembali menatap malas Krystal. “Dan berhenti mengeluarkan semua baju dari lemari mu!”

Krystal teriak frustasi. “Aku harus menemukan baju yang cantik. Ini adalah makan siang ku bersama teman-teman Sehun.”

“Mereka hanya teman-teman Sehun Soojung-ah.”
“Tetap saja…”

Tangan Krystal masih sibuk memilih-milih baju dari lemarinya. Sedangkan Amber kembali menatap handphone-nya.

“Apa yang harus kupilih?” Tanya Krystal lebih ke dirinya.

“Amber! Menurutmu apakah aku cantik menggunakan warna pink?”

“Apa?!” Amber langsung menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Sejak kapan kau suka menggunakan warna pink?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Hanya mencoba hal baru. Ayolah…. Bantu aku memilih bajunya…”

Amber mendecak sebal tetapi ia bangkit dari tempat tidur Krystal. Berjalan ke arah lemari, “Kurasa jangan memakai hiasan di rambutmu karena itu akan membuat dirimu sangat manis. Kau harus kelihatan cantik. Jadi…. Bagaimana ini?” Amber memperlihatkan sebuah blouse bewarna putih, “Tidak. Ini terlalu simple…” Lanjut Amber dengan sendirinya, “Ini? Ini?” Amber ikut-ikutan mengeluarkan baju seperti Krystal, “Bagaimana dengan yang ini?” Sebuah kemeja bewarna biru tersodorkan ke depan Krystal.

“Jangan!” Kata Amber lagi, mendahului Krystal yang baru saja ingin berbicara. “Atau kau memakai kaus oblong saja?” Amber terlihat berpikir keras, kemudian menghela nafas. “Kau saja yang pilih. Aku lelah.”
“Yak!” Tangan kanan Krystal dengan cepat memukul bahu Amber.

.

.

.

Slurp~

Sehun mendesah lega ketika hot chocolate melewati tenggorokannya. Mengusir rasa dingin yang dari tadi ia rasakan. Sehun menoleh ke sebelah kiri, dan ia tersenyum lebar melihat Krystal yang sibuk tertawa bersama Seulgi. Agak kesal memang karena Krystal lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya, tetapi ia tidak dapat memungkiri, senyuman dan tawa gadis itu menghilangkan segalanya.

“Oh Sehun…”

“Hm…” Respon Sehun pendek. Karena ia tahu siapa yang memanggilnya-Kai.

“Yak! Bocah busuk!” Kai memukul kepala Sehun. Membuat Sehun meringis, “Cepat bantu kami mengambil bahan makanan untuk makan malam!”

“Tidak usah memukul kepalaku!” Desis Sehun geram. Ia segera bangkit, mengikuti arah Kai pergi.

Dilain pihak, Krystal dan Seulgi masih berbicara tentang melukis. Terlihat, mereka nyaman dengan lawan bicara mereka.

“Benarkah?” Tanya Seulgi antusias. “Wow! Kau seharusnya mengikuti lomba melukis internasional. Aku yakin kau akan menang.”
Krystal tertawa kecil, “Kau terlalu berlebihan Seulgi-yah. Lukisanmu itu sangat bagus. Apalagi yang ….. itu sangat menakjubkan!”
“Dan lukisan abstrak-mu juga sangat-sangat menakjubkan! Ah, pokoknya aku yakin dirimu pasti akan menang!”

Krystal dan Seulgi kemudian saling diam. Bingung ingin berbicara apa lagi.

“Bagaimana jika besok aku datang ke rumahmu? Kau tau… Kita bisa saling berbagi pengalaman tentang melukis.”

“Seulgi-yah..” Krystal menatap Seulgi dengan tatapan yang hampir tidak percaya.

“Jika kau mau.” Lanjut Seulgi dengan tersenyum lebar. “Atau jika dirimu tidak sabar kita bisa memulai malam ini. Dengan dirimu yang menginap di rumahku terlebih dahulu. Untuk baju, tenang saja, kau bisa meminjam baju ku dulu. Paginya kita akan berangkat kerumah mu. Bagaimana?” Kedua alis Seulgi terangkat. Senyum jahil tertampil di wajahnya.

“Seulgi-yah…” Kali ini, tawa Krystal kembali meledak. Ia kalah menghadapi Seulgi yang orangnya menggampangkan segala hal. Berbeda dengan dirinya. Juga berbeda dengan Sehun, dimana dia baru menyadari hal ini ketika berbincang dengan Seulgi.

Seulgi juga ikut tertawa. Menurutnya, Krystal memiliki tampang dingin seperti sepupunya-Sehun yang membuatnya sedikit…. Tidak ingin berbicara padanya karena takut akan seperti sepupunya yang sangat irit berbicara. Tetapi, ketika berbicara dengan Krystal, gadis ini membalasnya. Bahkan Krystal orang yang mudah hanyut dalam pembicaraan.

“Krystal!”
Seulgi dan Krystal tersentak ketika suara Sehun menginterupsi. Entah dari kapan Sehun berada di depan mereka.

“Aku butuh berbicara dengan Krystal.” Tanga Sehun melingkar di pergelangan tangan Krystal. Sebelum Seulgi merespon, ia sudah menarik Krystal menjauh dari Seulgi

.

.

.

Mereka masih saling diam- Krystal dan Sehun. Krystal sendiri bingung ingin berbicara apa ke Sehun. Laki-laki disampingnya ini terkesan menutupi sesuatu. Tegang bercampur cemas terlihat di wajahnya. Sayangnya, setiap Krystal ingin bertanya Sehun hanya menjawab ‘Jangan khawatirkan aku,’; atau ‘Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus pulang cepat.’.

Dalam keheningan mereka, mobil sudah memasuki jalan besar Seoul. Memotong ke segala arah untuk mencapai tujuan. Alis Krystal sedikit bertaut ketika mobil Sehun melewati f(x).

Krystal menoleh, ingin bertanya. Tetapi kembali diam ketika melihat Sehun yang sedikit panik.

….. (Mobil berhenti).

“Aku akan keluar sebentar.” Sehun segera membuka seatbelt.

Grab!

Tangan Krystal menahan tangan Sehun. Krystal tersenyum lembut, “Aku akan berada di sini.”

Sehun bernafas lega untuk pertama kalinya sejak ia menerima telepon tersebut. Nada suara Krystal begitu lembut. Juga makna dari katanya yang memiliki arti lebih-baginya. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Sehun mengangguk dan keluar dari mobil.

.

.

.

.

.

Mata Krystal sedari tadi terus melihat gerak-gerik Sehun. Sehun rupanya bertemu dengan laki-laki yang ia temui di café ketika terakhir kali dia ke sana. Kalau tidak salah nama laki-laki ini adalah Seojoon. Mereka sedang berbicara di trotoar jalan depan sebuah hotel. Sedikit tegang karena sepertinya mereka membicarakan suatu yang sangat serius. Seojoon lebih tenang dari Sehun. Sehun seperti terburu-buru, bukan! Lebih benar dikatakan ia menuntut sesuatu dari Seojoon.

Sehun dan Seojoon terus berbicara hingga ada orang yang menghampiri mereka. Seketika, Krystal langsung membulatkan matanya. Tifanny Sangjanim. Ibu dari Sehun. Wanita itu terlihat sangat tidak baik. Ia benar-benar marah. Langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Keadaanpun menjadi sangat tidak baik. Sehun berubah menjadi emosi. Krystal? Dia hanya bisa menyaksikan semua ini dari balik jendela mobil. Tidak mungkin ia turun. Pasti hal ini akan menambah sebuah masalah. Krystal hanya bisa melihat tanpa membantu sedikitpun.

Tes!

Air mata Krystal menetas dikarenakan hal tersebut.

.

.

.

.

.

Seojoon merasa kepala berkedut. Apakah ia salah memberi tahu Sehun jika ia ingin kembali ke Amerika? Apakah salah jika ia memberi tahu berita ini kepada adik kandungnya sendiri?

Yang jelas, salah atau tidak sepertinya ibunya menganggap hal ini salah.   Jelas terlihat bagaimaan perdebatan panas antara Sehun dan ibunya.

Mommy tidak pernah sudi sampai kapanpun!” Teriak Tifanny. “Jangan pernah dekat lagi dengan dia!”

Seojoon tersentak. Bahkan ibunya tidak memanggil namanya

“Dia?” Sehun sekarang berteriak, “Dia itu punya nama! Bagaimana Mommy tidak pernah memanggil namanya?!”
Sudah! Teriak Seojoon dalam hati. Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas.

Tifanny mendengus, “Suatu saat dirimu bersyukur karena telah berjauhan dari dia!” Ia menatap Seojoon tajam sebelum kembali menatap Sehun, “Ayo kita pulang! Mom akan pastikan dirimu pulang! Jadi kita akan pulang bersama!” Tifanny berbalik, bukan ke mobilnya melainkan ke mobil Sehun.

Melihat hal tersebut Sehun langsung menahan ibunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti tidak ingin ibunya berjalan menuju mobilnya.

Mom…” Panggil Sehun kepada ibunya yang terus berusaha jalan menuju mobilnya.

Seojoon membuang nafas. Tangannya terulur menyentuh tangan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya.

“Lepaskan Sehun, dia tidak bersalah!” Kata Seojoon dalam.

Tifanny menatap Seojoon dengan sangat marah, “Lepaskan Sehun?!” Ulang Tifanny dengan nada suara mengejek. Ia kemudian tertawa kencang, “Jadi sekarang dirimu melindunginya?!” Sekarang, posisi Tifanny benar-benar berbalik,badannya benar-benar menghadap Seojoon.

Seojoon kembali menghela nafas, “Dia adalah adik ku.”

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Seojoon, “Kau tak pantas bilang itu kepada siapapun!” Desis Tifanny tajam. “Tidak setelah perbuatanmu terhadap Jinri.”
“Apa yang terjadi kepada Jinri?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Tifanny tersenyum sinis, “Kau tidak tahu yang terjadi? Oh, mungkin ini saatnya dirimu tahu yang terjadi.”
“Hentikan semua ini!” Teriak Seojoon tiba-tiba.
“Lihatlah dia, dia tidak ingin kebenaran terungkap.”

“Aku tidak bersalah!”
“Dengarkan Mommy, dia berada di situ dan hanya melihat Jinri tenggelam. Dia tidak melakukan apapun kecuali menangis!”

Sehun terhuyung ke belakang. Kenyataan pahit ini…

Seojoon berjalan mendakiti Sehun. Berusaha menggapainya.

Tak!

Sehun menepis tangan Seojoon.

“Dengarkan aku terlebih dahulu….” Pinta Seojoon.

“Aku memang melihatnya tenggelam, tapi aku mencoba mencari pertolongan. Aku berteriak meminta tolong. Tidak ada yang datang.” Seojoon menceritakan kejadian terburuknya untuk pertama kalinya kepada adik kandungnya.

“Pembohong!” Teriak Tifanny yang tidak terima, “Itu semua bohong!”
Dengan sigap, Seojoon berbalik ke arah Tifanny, “Aku tidak bohong! Bukankah semua ini adalah salahmu? Membiarkan Jinri bermain tanpa pengawasan sehingga ia jatuh ke kolam?”

Plak!

Lagi-lagi Tifanny menampar Seojoon. “Jangan pernah mengajariku bagaimana cara merawat anak. Aku tahu cara itu.”

Brak~

Tifanny dan Seojoon berbalik karena suara tersebut. Sehun menabrak pintu mobilnya sendiri. Ia terlihat sangat kosong. Dengan sisa tenaga terakhir, Sehun membuka pintu mobilnya. Satu detik lagi Sehun akan jatuh.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”
.

.

.

.

.

Krystal tidak dapat menahan dirinya lagi untuk diam. Melihat keadaan Sehun yang sangat shock. Dia bergegas keluar. Segera menahan tubuh Sehun.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”

Suara Tifanny membekukan Krystal. Dia hanya dapat melihat Tifanny dengan segenap rasa takut, “Sangjanim…

Tifanny masih terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum sinis. “Ini adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. Mengapa dirimu disini? Apakah….” Tifanny terdiam sejenak. Terlihat takut dengan apa yang ia utarakan, takut akan apa yang ia rasakan benar. “Apakah kau berpacaran dengan Sehun?”

Jari-jemari Krystal mencengkram lengan Sehun. Dia begitu takut dan merasa sangat dipermalukan. Krystal kembali menunduk.
“Ayolah, hanya jawab tidak apakah itu susah?” Tanya Tifanny lagi. Tidak ada jawaban dari Krystal Tifanny menatap Sehun, “Apakah benar dia pacarmu?”

“Iya.”

Pengakuan Sehun membuat Krystal mendongak. Ketika ia mendongak, ia menemukan Tifanny terhuyung ke belakang. Yang pasti badan sangjanim-nya akan membentur aspal jika saja Seojoon tidak menangkapnya.

.TBC.