Flipped (Chapter 19)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

Advertisements

State of Grace (Chapter 26)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Helaan nafas kembali terdengar. Krystal lagi-lagi menghela nafasnya. Milktea-nya sudah mendingin sejak tiga puluh menit yang lalu. Begitu pula dengan Milktea Seulgi. Seulgi sendiri sudah mengundurkan diri sejak setengah jam yang lalu. Bersama Kai.

Seulgi dan Kai datang ke apartment Krystal tadi. Seulgi untuk mengajaknya berbaikan dengan Sehun. Kai sepertinya hanya mengantar Seulgi ke apartment Krystal. Dan meminjam kamar mandinya. Laki-laki tersebut bahkan langsung pergi menunggu di mobil setelah selesai dari toilet. Mungkin karena Seulgi menginginkan hanya dia dan Krystal di ruangan itu.

“Aku adalah orang yang jahat.”

Krystal menyeringit samar mendengar perkataan Seulgi. Seulgi meletakan tehnya dan menatap Krystal.

“Aku minta maaf karena itu.”

Krystal sendiri terdiam sangking bingungnya.

“Teman tidak seharusnya datang ke rumah temannya dengan membawa masalah. Tapi aku datang ke tempat mu dengan membawa masalah.”

Krystal masih terdiam. Menunggu kata-kata Seulgi.

“Masalah mu dan Sehun lebih tepatnya…”

Krystal sudah menebak sedari awal kedatangan Seulgi. Tapi ia diam saja. Toh rasanya memarahi Seulgi atau jutek ke Seulgi tidak baik. Seulgi sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Krystal pun berusaha meyakinkan Seulgi dengan cara yang ia tempuh. Ia mendiamkan Sehun agar ia dapat berpikir sejenak.

“Kau ingin sebuah rahasia dari ku?”

Krystal bingung setengah mati mendengar pertanyaan Seulgi. Ia terdiam sehingga Seulgi menceritakan keseluruhannya.

“Aku menyukai Kai sejak SMA.”

Rasanya Krystal bingung setengah mati. Sejak SMA? Itu berarti jauh sebelum Kai berpacaran dengan Sulli! Perasaan Seulgi sama sekali tidak berubah hingga sekarang. Tatapan Seulgi meredup seiring ia menceritakan seluruhnya. Gadis itu juga tidak dapat membendung air matanya di sela-sela cerita.

“Dengar Krys, Sehun pasti juga akan memaksamu keluar dari apartment ini. Tapi dia hanya diam dan menunggu mu karena dirimu. Tapi aku tahu jika mengambil sebuah keputusan di tengah kegalauan jarang yang berhasil. Kegalauan muncul akibat adanya resiko. Tapi mengambil resiko bagiku terlihat lebih baik daripada diam seperti menjauhi masalah. Dan kau seharusnya mengambil resiko itu.”

Genggaman Seulgi mengerat seiring nafas Krystal yang juga mulai memberat saat itu. Seulgi tersenyum kepadanya dan kembali berkata,

“Yang harus kau lakukan adalah tetap memegang tangannya a.k.a berada disampingnya…”

Perkataan Seulgi adalah sebuah déjà vu bagi Krystal. Perkataan yang sama seperti Sohee ucapkan.

“Yang perlu kau lakukan adalah mengenggam tangannya apapun yang terjadi.”

Lagi-lagi Krystal menghela nafas. Air matanya kembali turun. Dia selalu mengatakan kepada dirinya sendiri, berhenti menjadi orang cengeng! Tapi dia tidak bisa. Dia melanggarnya. Tatapan Krystal terarah kepada jam yang menggantung di dinding. Sebelum Seulgi pulang, ia menyampaikan agar Krystal dapat pergi bersama Sehun ke pesta pernikahan Seojoon Oppa dan Sohee Oennie. Sehun akan berangkat pukul 10 malam ini.

Jam sendiri menunjukan pukul 9. Apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

.

.

Suara hujan deras tak terdengar sama sekali. Suara Sohee noona yang sedang membujuk Sehun agar pergi ke Busan benar-benar mengalahkan segalanya.

“Sehun harus datang loh….”

Sehun memijit pelipisnya, “Iya, noona aku akan datang…. Ini aku sudah bersiap-siap.”

“Seulgi bilang kau tidak ingin pergi karena Krystal. Apa aku harus menelepon Krystal?”

“Tidak apa-apa Sohee noona. Lagipula, Krystal tidak ingin di ganggu. Bagaimanapun juga kalian mempersiapkan pesta ini karena aku bukan? Tentu aku datang.”

“Baiklah…. Tapi beneran loh…”

“Aku tidak akan menarik omongan ku noona…”

“Baiklah. Noona tunggu ya……”

Telepon pun langsung terputus. Sehun memasukan handphone-nya. Dengan malas-malasan ia mematikan seluruh lampu di apartment-nya. Sepertinya ia harus berangkat sendiri. Sepertinya juga ia akan memberi tahu Krystal pergi besok pagi. Gadis terbsebut pasti sudah tidur sekarang. Memperhatikan Krystal dari jauh membuat Sehun tahu beberapa kebiasaan Krystal, termasuk kebiasaan tidurnya.

Dengan ogah-ogahan ia juga menyeret kopernya keluar. Rasanya begitu lambat ketika ia membuka pintu apartement-nya. Seluruh tenaga Sehun terarah untuk membuka pintu apartment-nya.

Nafas Sehun tercekat ketika melihat seseorang yang ia kenal tiba-tiba berhambur ke pelukannya. Memeluk tubuh Sehun dengan tangannya yang mungil.

“Krystal…” Ucap Sehun lirih.

.

.

.

.

.

Tekad Krystal sudah bulat. Ia memutuskan untuk melanggar semua batas. Menembus semua keraguannya. Secepat kilat ia membuka lemarinya. Mengeluarkan baju secara asal, yang terpenting cukup selama empat hari di busan. Dua hari sebelum menikah, hari H menikah, dan H+1 menikah. Segera memasukan kedalam kopernya. Jam menunjukan pukul 21.15.

Sial!
Rutuk Krystal dalam hati. Lingkungan apartment-nya jarang dilewati oleh taksi. Secara semua orang disini adalah kalangan menengah yang lebih suka menggunakan kereta. Krystal berusaha secepat mungkin berjalan menuju ke stasiun. Ketika ia masuk ke kereta, jam menunjukan pukul 21.25. Kereta sampai di stasiun tujuannya tigapuluh menit kemudian. Itupun Krystal harus berjalan cukup jauh untuk sampai di apartment Sehun. Berbeda dengan apartment Krystal yang untuk kalangan menengah, apartment Sehun untuk kalangan ke atas yang menggunakan mobil sebagai transportasi utama.

Krystal ingat, di tengah-tengah perjalanan hujan tiba-tiba turun. Dan dia menangis di tengah-tengah ia berlari ke apartment Sehun. Ia tiba-tiba merasa takut. Bagaimana jika Sehun sudah pergi? Apakah keadaan akan sama setelah Sehun pulang dari Busan? Dua hal itu terus menghantuinya.

Keadaan Krystal cukup mengenaskan ketika ia sampai di apartment Sehun. Jika saja Krystal hanya sekali ke situ, dia pasti dicekal oleh petugas keamanan apartment. Untungnya mereka tahu dan membiarkan Krystal masuk walaupun diiringi tatapan aneh. Beberapa orang yang satu lift dengan dia juga memberikan tatapan aneh. Dia sama sekali tidak peduli.

Entah apa yang sedang terjadi, semuanya sangat pas. Ketika Krystal baru saja sampai di depan pintu dan bersamaan dengan itu Sehun juga membuka pintu apartment-nya. Krystal langsung menghamburkan diri ke pelukan Sehun. Memeluk tubuh tegap Sehun dengan tangannya yang ia rasa kecil dibandingkan tubuh Sehun. Dia kembali menangis.

“Krystal…”   Suara Sehun yang lembut seakan oksigen yang membuat Krystal bisa bernafas dengan lega. Krystal tetap memeluk Sehun. Ia membenamkan wajahnya di dada Sehun.

Perlahan, tangan Sehun juga ikut melingkar ke tubuhnya. Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya. Tangan kananya mengelus pelan kepala Krystal.

Sehun kemudian melonggarkan pelukannya. Tangannya terlepas dari pinggang Krystal. Dia menyentuh lembut wajah Krystal dengan kedua tangannya. “Jangan menangis… Ayo masuk. Kau kehujanan.”
Krystal diam menurut. Dia belum bisa berbicara apa-apa ke Sehun. Dia hanya diam ketika Sehun menyuruhnya untuk mandi dengan air hangat dan memberikan baju ganti yang layak untuk Krystal, sebuah sweater kebesaran bewarna navy blue dan celana dengan panjangnya menutupi paha Krystal. Krystal sebenarnya membawa baju dan dia bisa saja memakai bajunya. Tapi entah mengapa tatapannya hanya tertuju ke Sehun. Dan pikirannya yang menerawang bagaimana cara meminta maaf kepada Sehun.

Sepuluh menit kemudian Krystal keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju Sehun. Dirinya menggusap rambutnya yang basah dengan handuk yang lagi-lagi Sehun berikan. Kemudian berjalan melintasi kamar Sehun untuk mencari Sehun.

Astaga… Apa yang Seulgi lakukan hingga kalian semua seperti ini?”

Suara Sehun terdengar ketika ia membuka pintunya. Krystal langsung menuju ke sumber suara, yaitu dapur. Disana dia juga dapat melihat secangkir teh hangat dan roti yang baru saja dipanggang. Sehun membelakangi dirinya sambil memengang hp.

“Aku. Akan. Datang.” Seru Sehun tidak sabaran. “Aku berjanji akan hal itu….” Setelah itu Sehun kembali berbicara, “Ya. Tenang saja. Jam duabelas pun aku akan menyetir kesana. Pokoknya ketika waktunya fiting aku akan berada di tempat!” Sehun pun kemudian memutuskan telepon dengan kasar. Ketika dia berbalik, Sehun tersenyum mendapati Krystal sudah ada di dapur. Dia berjalan mendekat ke arah Krystal, mengenggam lembut tangan Krystal. “Aku lupa membawa koper mu tadi. Tapi tenang saja, aku sudah memasukannya…”

Perkataan tak terduga dari Sehun membuat pipi Krystal memerah. Bodohnya dirinya yang juga tidak mengingat kopernya. Sehun seperti menghinoptis dirinya dan yang ia inginkan saat itu adalah menatap Sehun. “Ah… Aku…” Hening sejenak, “Aku minta maaf…”

Senyuman Sehun semakin merekah, “Minta maaf karena apa?” Tanyanya dengan suara ringan. Dia terlalu bahagia karena mendengar suara Krystal. “Kau tidak bersalah Krys… Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku kembali melanggar janjiku. Aku membuat dirimu tersakiti.”

“Tetap saja….” Suara Krystal bergetar lagi. “Aku membuat kesusahan dalam beberapa hari ini. Aku menjauh. Tidak ingin mendengarkan apapun dari mu.”

“Ssssttt… Tidak apa-apa. Aku akan melakukan apapun untuk mu. Walau harus membelikan bulan. Walau harus terbang ke Mars. Walau harus menjauh darimu. Asalkan kau menginkannya…”

Air mata Krystal kembali menetes.

“Jangan menangis ku mohon… Aku tidak ingin kau bersedih….”

Bodoh! Krystal bahagia…. Sangat bahagia hingga ia seperti ini. Krystal melepaskan tangannya dari Sehun dan segera menghapus air matanya. Sayang air matanya tetap tidak ingin berhenti. Sehun yang melihat hal itu menarik tubuh Krystal dan tiba-tiba menciumnya.

Sebuah perlakuan yang lagi-lagi tak terduga. Krystal pikir Sehun akan memeluknya. Tapi Krystal sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia menerima perlakuan Sehun.

Drrt~

Handphone Sehun kembali berbunyi. Tetapi sepertinya Sehun sama sekali tidak mempunyai niat untuk mengangkatnya.

Drrrt~

“Sehun….” Kata Krystal setelah mendorong Sehun, “Ada telepon.”

Sehun tidak mengatakan apa-apa. Tapi dari wajahnya terpampang kekesalan, “Halo.” Katanya asal-asalan.

“Kau dimana? Sudah berangkat belum?”

Sehun mengerang mendengar suara Seojoon yang sudah dua kali meneleponnya, “Tenang saja… Aku pasti akan berangkat. Krystal juga sudah datang…”

“Cih, aku tidak percaya hanya karena kau mengatakan Krystal sudah datang. Aku akan terus menelepon mu hingga kau sampai, mengerti? Aku sebenarnya ragu kau datang makanya seperti ini—“

Sehun hanya bisa menghela nafas mendengar rentetan kalimat Seojoon. Ia kemudian melirik ke arah Krystal, “Hyung ingin aku membuktikannya? Baiklah…” Sehun memberi hp nya ke Krystal. “Seojoon hyung… Bicaralah dengan ia sebentar.”

Krystal menerimanya, “Seojoon oppa?”

“Astaga Krystal!” Suara Seojoon terdengar sangat kaget, “Aku tidak menyangka kau akan datang malam ini. Tapi baguslah jadinya Sehun bisa semangat datang ke pesta pernikahanku. Ingat ya, kalian harus berangkat malam ini juga!”

“Baik oppa…”

“Eh, ngomong-ngomong apa yang Seulgi lakukan sehingga kau mau merubah pemikiran mu?” Belum sempat Krystal menjawab Seojoon kembali berbicara, “Tapi biarkan aku saja yang memikirkannya. Kalian cepat-cepatlah ke sini…” Sambungan telepon terputus.

“Kurasa kita harus berangkat sekarang…” Putus Sehun dan Krystal hanya mengangguk.

.

.

.

.

.

Krystal mengerjapkan matanya. Dimana dia sekarang? Ia melihat keadaan sekitar dan menemukan Sehun sedang tertidur pulas di samping kirinya. Sepertinya Sehun memutuskan untuk tidur di tempat peristirahatan karena mengantuk. Pelan-pelan, tidak ingin membuat Sehun bangun ia membangkitkan sandaran kursinya. Ia rasa ia akan berjaga sebentar sampai Sehun bangun.

Mata Krystal menelisik lingkungan sekitar. Sehun memilih pom bensin dan banyak mobil lain yang juga memarkir disana. Beberapa di antara mereka keluar membeli snack dan sehabis itu pergi. Adapula yang hanya keluar entah ngapain, kemungkinan besar ke toilet kemudian pergi.

Hampir lama Krystal memandangi mobil yang datang dan pergi. Tersisa tiga mobil di sana. Mobil Sehun, satu mobil sedan yang kira-kira tiga meter dari Krystal, dan tepat di samping mobil sedan ada mobil SUV.

Pelan-pelan, ia melihat seorang laki-laki berjalan sambil memegang kopi di tangan kirinya. Tangan kanannya sedikit ke belakang karena ada yang menarik. Kemudian seorang perempuan yang memegang tangan lelaki berlari kecil kedepan. Mensejajarkan posisinya dengan laki-laki itu. Tersenyum lembut.

Deg!

Krystal menahan nafasnya. Tangannya bergetar secara tiba-tiba. Keringat dingin bermunculan di pelipisnya.

“Sehun…” Panggil Krystal dengan suara serak. Air matanya sudah turun. “Sehun…” Panggilnya lagi karena Sehun belum terbangun. “Oh Sehun!” Serunya agak keras diiringi oleh isak tangis.

Sehun pun akhirnya bangun. Ia langsung panik setengah mati menemukan Krystal yang tiba-tiba menangis. “Ada apa Krys? Ada apa?”

.TBC.

 Hullaaa  i’m back as soon as i can….  maaf ya saya lama updated nya lagi kelas dua belas nihhh  (alasan!).  Tapi ciusan rasanya belajar itu udah gumoh bawaannya…  Special double updated sama Flipped.

And saya punya akun wattpad…  Boleh atuh di follow…  xospringsflowerxo

 

State of Grace (Chapter 25)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Suara sepatu Krystal sangat memperhatikan. Begitu pula dengan kakinya yang sudah membiru.

Brak!

Krystal akhirnya terjatuh ketika hak dari sepatu yang ia gunakan patah.

“Astaga, Krys!” Sehun yang mengejar Krystal langsung berjongkok. “Luruskan kaki mu…” Tanga Sehun terulur menyentuh kaki Krystal.

“Jangan!” Teriak Krystal parau. Menghentikan uluran tangan Sehun. “Jangan….” Katanya lagi.

Sehun terdetak melihatnya. “Krys…” Ia segera mendekat ke Krystal dimana Krystal mencoba untuk menjauh. “Ku mohon…” Katanya dan segera menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Tangisan Krystal meledak. Ia menangis di dalam pelukan Sehun. Tersedu-sedu disana.

Tes!

Air mata Sehun juga ikut turun. Sial! Dia baru saja, baru saja berjanji kepada gadis itu agar gadis itu tak tersakit. Sekarang gadis itu menangis akibat tersakiti.

“Kalian!” Seojoon menyusul mereka. Nafasnya terengah-engah. Melihat keadaan Sehun dan Krystal ia menghela nafas. Tanganya terulur ke kaki Krystal. Ia meluruskan kaki Krystal dan melepaskan sepatu Krystal.

Krysal memandang Sehun, tangisannya tidak sekeras tadi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sehun.

“Biar aku yang mengantarnya…” Kata Seojoon tiba-tiba. “Oemma dan Appa panik mencari mu. Ku sarankan kau tetap tinggal demi kenyamanan pesta. Serahkan Krystal kepada ku.”

“Aku tidak perduli hyung… Krystal pulang bersama ku!”

“Aku akan pulang bersama Seojoon oppa…” Krystal meringis tak kala ia bangkit. Ketika berdiri ia tidak terlalu seimbang. Seojoon dan Sehun segera memeganginya.
“Tapi Krys…” Sehun menatap Krystal dengan tatapan memohon.

Krystal menggeleng lemah, “Ku mohon… Kembalilah ke pesta…”

Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia menatap Seojoon, “Aku percaya kepada mu hyung…”

Seojoon mengangguk sebagai jawaban.

Sehun kembali menghela nafas dan segera menjauh dari Krystal dan Seojoon.

.

.

.

.

.

Seojoon melirik Krystal yang masih diam memandang jendela. Tatapan gadis itu kosong. Tetapi Seojoon yakin, pikiran gadis itu pasti tidak kosong.

Seojoon berdehem, “Sudah sampai.” Katanya ketika Krystal menoleh.

Krystal mengerjap beberapa kali, “Oh?” Tatapannya segera menyapu sekeliling. Sedikit terkesiap ketika Seojoon benar.

Seojoon menghela nafasnya, “Kau tahu jika aku peduli padamu, Krys…”

“Aku tahu oppa…” Ujar Krystal parau. “Terimakasih telah mengantarkan ku pulang.” Krystal ingin keluar, tetapi Seojoon sama sekali belum membuka pintu mobil.

“Dengarkan aku terlebih dahulu…” Ucapan Seojoon membuat Krystal kembali menoleh ke Seojoon, “Aku tahu kau tidak suka membicarakan masalah mu ke sembarangan orang. Hanya orang-orang terdekat dan pastinya aku bukan merupakan orang itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita sana-sini. Hanya katakan apa yang kau pikirkan. Kau terlihat tertekan Krys. Dan aku tahu, ada satu hal yang terus berputar di otak mu dari tadi.”

Krystal memejamkan matanya, “Entahlah…”

“Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini!” Ancam Seojoon.

Krystal akhirnya mendengus, “Kurasa…. Bisakah oppa menyampaikan ke Sehun agar menjauhi aku untuk beberapa hari ini? Maksudku—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon. “Aku mengerti maksud mu. Kau ingin waktu untuk berpikir dengan jernih bukan? Tentang masalah ini. Tentang ibu ku. Kau tahu jika Sehun mengejarmu malam ini, memohon minta maaf, kau akan luluh dan memaafkannya. Dan kau tidak ingin itu terjadi sehingga kau ingin waktu untuk meyakinkan perasaan mu bukan?”

“Aku yakin dengan perasaan ku!” Ucap Krystal masih parau. Air matanya mulai menggenang di matanya. Satu kerjapan akan membuat butiran-butiran jernih turun, “Hanya saja—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon lagi. “Sekarang masuklah ke dalam apartment-mu dan berpikir dengan waktu sebanyak yang kau inginkan. Akan ku sampaikan ke Sehun agar menjaga jarak dengan mu.”

“Terimakasih oppa…”

.

.

.

.

.

Hyung!” Teriak Sehun frustasi ketika Seojoon dengan santai keluar dari lift apartment membawa kopi di tangan kananya.

“Wow adik kecilku! Jangan bilang sedari tadi kau menunggu ku dengan mondar-mandir di depan lift?” Tanyanya santai.

Sehun menggaruk kepalanya frustasi, “Mana Krystal?”

“Oh…” Respon Seojoon santai. “Mana apartment mu?”

Sehun semakin bingung. Mau tidak mau dia mengikuti langkah Seojoon yang sok tahu tentang kamarnya.

“Sebelah kanan hyung!” Ucapnya dan menarik tangan Seojoon tepat di depan pintu apartment nya. “Sekarang mana Krystal?”

“Di dalam.”

“Hah?” Sehun tidak percaya tetapi cepat-cepat membuka pintu apartment nya dan masuk. Bodoh! Mana mungkin Krystal bisa disini?

Cklek~
Sehun berbalik ketika mendengar Seojoon mengunci pintu apartment nya, “Bercanda……” Ucapnya datar.

Sehun melongo sesaat. Rasa frustasi dan kesalnya hilang melihat tingkah laku kakaknya. “Maksud hyung…”

“Tentu saja Krystal di apartment nya. Kau cepat ganti baju sana dan siap-siap tidur.”

“Hyung…” Sehun mengerang frustasi, “Aku harus menemuinya segera. Apa maksud hyung menjauhkan ku dengan dia? Itu tidak masuk akal hyung. Sekarang cepat minggir dari pintu—“

“Jangan berlagak seperti anak kecil berumur lima tahun yang kehilangan mainannya.” Lagi-lagi Sehun terdiam melihat Seojoon. Seojoon melipat tangannya tepat di depan dadanya, “Dengar adik kecil ku, Krystal sangat tertekan akibat kejadian tadi dan kurasa ia mempertanyakan perasaannya.”

Sehun menatap Seojoon datar, “Jangan bercanda hyung.”

“Apa kau melihatku bercanda?” Seojoon kembali berkata, “Maka dari itu kusarankan kau mengikuti perkataan ku. Menjauhlah dari dia untuk beberapa saat. Tunjukan kepadanya kau menghargainya juga karena dia memintaku untuk mengatakan kepada mu agar kau menjauhinya.”

“Hyung… Jangan bercanda bisa?” Suara Sehun sangat melas sekarang.

Seojoon menggeleng mantap, “Tidak. Aku tidak bercanda. Kasihlah ia waktu. Aku percaya dia masih mencintai mu. Tapi perasaan ragu menyerangnya. Kalau kau mengikuti permintaan dia itu malah membuatnya lebih memikirkan mu kau tahu?”

Sehun sekarang menatap Seojoon tidak mengerti.

Seojoon menghela nafas, “Krystal masih mencintai mu. Dan aku tahu, kalau kau memohon kepadanya malam ini dia pasti akan memaafkan mu. Tapi itu memunculkan perasaan ragu di hatinya karena ia masih terbayang-bayang oleh Mommy.

Jika kau mengikuti permintaanya, aku memprediksi jika ia pasti menghitung hal itu dan itu mengalihkan perasaan ragu dari Mommy ke dirimu. Ia ragu karena dirimu begitu memperhatikannya. Makanya aku menyetujui permintaannya. Aku tidak seceroboh itu kau tahu? Hanya karena ia tertekan dan memohon kepadaku maka aku akan menurutinya? Aku juga mempertimbangkan dirimu…”

Sehun menghela nafasnya. Jujur, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Menurutnya tetap saja hubungan dia dan Krystal tetap di ambang batas.

“Sekarang kau berganti baju dan tidur! Aku yakin sekali tubuh mu membutuhkan hal tersebut!”

.

.

.

.

.

Sehun tahu Seojoon menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari Krystal. Tapi ia tidak bisa menahannya. Kalau ia menjauhkan diri butuh berapa lama Krystal kembali padanya? Ia tidak bisa berlama-lama. Apalagi pernikahan Seojoon empat hari lagi. Dipikirannya, ia dan Krystal akan hadir di pernikahan Seojoon dan dia tidak bisa menerima jika Krystal tidak hadir.

“Ingat pernikahan ku! Awas kalau tidak hadir! Sohee pasti akan marah besar kepada mu. Kami sudah bersusah-susah membuat pesta kecil. Mencari baju, makanan yang lezat, tempat indah, bunga-bunga cantik karena dirimu. Jadi kau harus hadir!”

Begitulah yang dikatakan Seojoon kemarin malam. Sebelum hyung nya pulang karena ditunggu oleh Sohee di kamar hotel. Menggelikan!

Sehun menyeruput kopinya dan menghela nafas. Kenapa ia lebih menyukai rasa greentea Krystal? Ia segera menghabiskan kopinya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi dan dia masuk kerja jam sembilan. Kenapa ia buru-buru? Karena ia ingin ke suatu tempat sebelum ke kantornya.

Tigapuluh menit kemudian Sehun sudah sampai di depan apartment Krystal. Ia berdiam diri di dalam mobil. Haruskah? Kemudian ia menghela nafas dan mengambil handphone-nya. Langsung tersambung ke kotak suara.

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Kata Sehun mencoba untuk biasa saja.

.

.

.

.

.

Krystal bangun dengan mata bengkak. Ia melihat ke kaca, Astaga! Apa yang harus ia lakukan agar bengkaknya hilang? Tidak mungkin ia muncul di f(x) dengan mata sebengkak ini! Krystal segera mencuci muka. Memanaskan air untuk membuat teh. Kemudian membakar roti. Sambil menunggu, ia memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini.

Ting~

Suara nyaring dari pemanggang roti membuat ia segera mengangkat rotinya. Tak berapa lama kemudian suara nyaring dari kompornya. Ia segera mamatikan kompornya dan menuangkan air ke greentea nya. Sambil menunggu makanannya dingin ia memutskan untuk bersiap-siap. Mengganti bajunya dan memubuhkan make up di wajahnya. Terutama dibagian matanya.

Drrrt~
Krystal tersentak hebat ketika mendengar handphone nya berbunyi. Ia segera mencari handphone nya ditumpukan bantal tempat tidurnya.

Sehun.

Tangan Krystal terasa lemas seketika. Ia hanya melihati ponselnya hingga berhenti bergetar. Dan merasakan kelegaan luar biasa ketika handphone nya berhenti bergetar. Krystal segera meninggalkan handphone nya. Dia harus segera makan dan mengejar kereta bukan? Dia tidak ingin berdesak-desakan di rush hour.

Limabelas menit kemudian ia benar-benar siap. Krystal kembali melihat handphone nya. Merasa ragu ketika melihat ada pesan suara, dari Sehun tentunya. Ia menghela nafas kemudian membukanya,

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Suara Sehun terdengar ringan seperti biasa. Krystal menahan nafasnya. “Aku tahu kau memintaku untuk menjauh Krys…. Aku minta maaf. Aku berjanji pada mu tetapi aku melanggarnya. Aku…” Terdengar hening sejenak, “Kau tidak harus membalas telepon ku atau sms ku atau apapun yang berhubungan dengan ku. Lakukanlah apa yang membuat mu nyaman. Kau tahu dimana aku akan selalu berada bukan?” Sambungan teleponnya terputus.

Krystal memejamkan matanya ketika bulir-bulir air matanya mendesak keluar.

.

.

.

.

.

“Aku… Tidak… Ingin… Pergi…”

Kai memijit pelipisnya melihat kelakuan temannya yang asyik meringkuk di tempat tidur. “Hey bodoh! Apa kau ingin merengek di depan seorang wanita?”

Yup! Ada Seulgi disini yang juga sibuk menghela nafasnya. Astaga, sejak kapan sepupu ‘tersayangnya’ ini jadi sangat baperan? Okay, Seulgi tahu jika Sehun menangis ketika putus dengan Wendy. Menurut Seulgi itu adalah hal yang wajar karena….   Sehun ketika itu diselingkuhi oleh Wendy. Tetapi uring-uringan di tempat tidur merengek karena Krystal adalah hal yang sedikit…. Bukan! Sangat memalukan!

“Ayolah Sehun…” Seulgi akhirnya membuka suaranya. “Kau tidak memikirkan perasaan Seojoon oppa dan Sohee oennie? Mereka mengadakan pesta ini karena dirimu ingat? Jangan mengecewakan mereka…”

Sehun akhirnya bangun dengan wajah sebal. “Tidaklah kalian mengerti? Aku galau karena Krystal!”

“Huahahaaahahaaa!!!” Kai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. “Haaahaahaaaa!!!” Lanjutnya tidak mengindahkan tatapan horror Sehun dan Seulgi.

“Dengar Sehun…” Seulgi berbicara kembali. “Bisakah kau memikirkan perasaan Oppa dan Oennie sedikit saja? Jika begini caranya kau pasti yang akan disalahkan bukan Krystal. Karena kau yang tidak ingin datang.”

“Aku akan datang besok pagi!”

Seulgi menggeleng, “Tidak! Harus hari ini! Pernikahan mereka memang dua hari lagi tapi Sohee oennie meminta kita datang pada hari ini. Kau seharusnya bersyukur boleh pergi dari Seoul malam hari bukannya siang seperti yang direncanakan. Dan juga, apa maksudmu besok? Kau ingin berangkat pagi jam berapa? Dari Seoul ke Busan butuh waktu 4-5 jam! Mau jam berapa berangkatnya? Jam enam?! Asalkan acara fitting baju jam 9 pagi!”

Sehun berdecak sebal, “Kenapa mereka mengadakannya di Busan sih? Tidak bisa di Seoul–Arghhhh, yak! Kang Seulgi!” Sehun tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Seulgi tiba-tiba menarik kuping Sehun.

“Jangan seperti bocah berumur lima tahun yang merengek karena tidak mendapatkan yang ia inginkan!” Seru Seulgi dengan nada dingin. Itu membuat Kai terkejut dan diam-diam meneguk ludahnya sendiri. Wow! Tipikal calon ibu yang tegas! Pikir Kai.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus pergi malam ini juga! Paling lama jam sepuluh malam! Aku akan membawa Seojoon oppa atau Sohee oennie pokoknya! Aku akan buat mereka marah-marah kepada mu!” Lanjut Seulgi mengeluarkan death glare nya.

Sehun meringis, “Yak Kang Seulgi…”

Seulgi melepaskan tangannya, “Aku pergi dulu ya!!!” Katanya kemudian tersenyum. “Ayo Kai! Kita tinggalkan dia!”

Kai menatap Seulgi bingung tetapi akhirnya menurut karena Seulgi menatapnya tajam. “Euhm…. Aku pergi dulu!” Ucap Kai ke Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon Krystal? Gadis itu pasti tidak mengangkatnya. Apalagi Krystal benar-benar mendiami Sehun dua hari ini. Sehun akhirnya menghempaskan dirinya lagi ke kasur. Menyebalkan!

.

.

.

.

.

Krystal menatap handphone-nya. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Hari ini benar-benar tidak ada apapun dari Oh Sehun. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus bagaimana? Dia berjauhan dari Sehun karena ia pikir ia dapat berpikir rasional. Memutuskan hal yang tepat. Tetapi itu sama sekali tidak berdampak apapun terhadap hidupnya. Krystal masih ragu antara bayang-bayang Tifanny dan Sehun sendiri.

Krystal mengigit bibirnya, Kenapa ia mengharapkan Sehun menghubunginya? Krystal mendengus. Ini sangat irrasional.

“Hey Krys!” Amber tiba-tiba telah berada di sampingnya.

“Oh, Hai!” Balas Krystal kemudian tersenyum.

“Kau tidak ingin pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Atau hari ini kau akan tampil di Café Onew Oppa?”

Krystal menggeleng, “Tidak aku akan langsung pulang.”

“Ada apa dengan mu?”

“Heh?” Krystal menatap Amber bingung.

“Kau selalu melihat handphone mu dua hari ini. Sesuatu terjadi?” Ucap Amber menjawab kebingungan Krystal.

“Oh…” Krystal kemudian terkekeh kecil, “Tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya…” Putus Krystal. Amber terlihat diam saja. Tahu jika sahabatnya tidak ingin diganggu.

Krystal sampai dirumah satu jam kemudian. Setelah memutuskan mandi ia pun langsung menuju ke jendela kamarnya. Gila, tapi Sehun selalu menunggu di bawah hingga pukul sepuluh malam. Katanya, ia ingin melihat wajah Krystal dan berharap Krystal ingin menyisikan sedikit waktunya untuk melihat ke bawah melalui jendela kamarnya. Awalnya Krystal tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk tidur. Iseng-iseng mengintip, Sehun berada disitu dengan posisi kepala mendongak. Tersenyum ke Krystal dan melambaikan tangan. Yang membuat Krystal terkejut setengah mati dan langsung menutup kembali gordennya.

Jujur, pada saat itu ia ingin turun ke bawah dan menanyakan kenapa Sehun melakukan hal bodoh? Di luar selama berjam-jam. Bagaiana jika ia sakit? Tapi Krystal tidak bisa karena keraguannya.

Itu terjadi selama dua hari ini. Bukan itu saja. Sehun meneleponnya pagi hari. Mengingatkan dia untuk makan siang. Benar-benar… Krystal merasa Sehun tidak akan melepaskannya dengan mudah. Itu membuatnya bertambah pusing.

Ting tong~

Krystal mengerjapkan matanya ketika mendengar bel pintu. Siapa yang datang malam-malam begini? Sehun? Krystal kembali melihat ke arah jendela kamarnya. Tidak ada mobil Sehun. Kemudian ia melihat dari jendela ruang tamunya, tetap ia tidak melihat mobil Sehun.

“Krystal-ssi…”

“Oh Seulgi-yah?” Ujar Krystal ketika mendengar suara dari pintu. Seulgi? Kenapa dia ke sini? Sudahlah ia harus berpikiran positif. Seulgi pasti datang kesini sendiri bukan? Ia segera berjalan menuju pintu.

Cklek~

“Krystal!” Pekik Seulgi dan segera memeluknya.

Krystal terlonjak kaget. Tetapi dia membalas pelukan Seulgi. Setelah beberapa detik memeluk Seugli Krystal baru tersadar. Bahwa Seulgi kesini tidak sendiri.

.TBC.

Yang manis-manis ada di chapter depan.  See you there….

State of Grace (Chapter 20)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun benar-benar menempati janjinya. Hampir semuanya. Sehun pergi memberi tahu orangtuanya dan mengabarkan ke pemilik apartment. Tetapi anak satu itu tidak mengajak Krystal untuk menghias apartment-nya. Ternyata, apartment-nya bukanlah apartment seperti biasa yang Krystal beli yang biasanya hanya tersedia ruangan kosong, hanya dapur dan kamar mandi yang diberi furniture. Apartment yang Sehun beli sudah dilengkapi oleh furniture, dari ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dan tentunya kamar mandi. Tidak ada lagi yang perlu di hias.

Krystal masih meamndang sekeliling ruang tamu Sehun.

“Bagaimana apartment-ku?” Sehun yang baru saja membawa beberapa kantong belanjaan berisi makanan menyadarkan Krystal dari lamunannya.

“Ini sama sekali tidak sederhana!” Krystal mengacak pinggangnya. “Kau berbohong kepadaku!”

Sehun terkekeh, “Aku tidak bilang ini sederhana. Aku bilang ini simple.”

“Dan ini tidak simple Sehun. Arsitektur apartment ini sangat mengagumkan!”

“Baiklah Nyonya Oh. Hentikan kemarahanmu okay?”

Krystal mendengus.

Sehun kembali tersenyum, “Kita tidak punya waktu yang banyak. Teman-temanku akan datang pukul lima sore. Sekarang, waktu telah menunjukan pukul setengah lima.”

Satu lagi, saat pertama kali menunjukan apartment ke Krystal, pada saat jam satu siang, Saat itu Krystal tidak bisa berkata apa-apa melihat apartment Sehun. Katakanlah ia bodoh karena berpikir jika apartment Sehun hanya terdiri dari ruangan kosong bercat putih. Sehun mengatakan jika ia ingin mengundang teman-temannya seperti Kang Seulgi dan Kai Kim untuk merayakan keberhasilan ia mendapatkan pekerjaan. Krystal mangut-mangut saja. Untuk apa juga ia melarangnya? Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli piring kertas dan gelas plastik tetapi berakhir membeli beberapa bahan makanan seperti telur dan roti.

Krystal ingin mengangkat salah satu kantong belanjaan tetapi dengan cepat Sehun membawanya duluan. Mereka akhirnya menyusun bahan makanan dalam kulkas.

“Tadi dirimu berencana untuk membeli pizza bukan?” Krystal bertanya disela-sela ia menyusun buah-buahan.

“Oh, ya benar.” Sehun kemudian menghentikan pekerjaannya, “Tunggu, aku akan memesannya.” Sehun mengambil handphone-nya dan memesan.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, Sehun kembali membantu Krystal.

“Aku tidak percaya menyetujui usulanmu.” Keluh Sehun ketika ia mengeluarkan beberapa balon dan perelengkapan pesta.

“Bukannya dirimu sendiri yang mengatakan ingin mempunyai latar yang bagus untuk berfoto? stand photo booth merupakan ide yang bagus!”

“Aku benci balon!” Sehun membuka balon-balon huruf yang tadi mereka beli. Tak lupa mengambil pompa untuk balon yang baru saja ia beli. “Balon adalah benda yang mengerikan! Apalagi ketika meledak!”

Krystal tertawa, “Astaga! Baru kali ini aku melihat laki-laki takut pada balon yang meledak!”

“Krystal….” Sehun menatap Krystal dengan memelas. Ia baru saja memompa balonnya dan balonnya terlihat sedikit terisi.

Krystal menghentikan tawanya dan berjalan menuju Sehun, “Biar aku saja yang memompa balonnya!”

Sehun sendiri kemudian hanya melihati Krystal memompa balonnnya. Kemudian melihat dengan horror balon yang membelendung. Ia pun terpaksa memegang balon ketika Krystal menyuruhnya untuk menempel di dinding. Bagaimanapun juga, rasanya aneh bagi Sehun jika Krystal harus memanjat untuk menempelkan balon huruf.

Ting tong~

Bel apartment Sehun berbunyi.

“Mungkin pizza.” Gumam Sehun. Tangannya masih sibuk menempel balon huruf.

“Serahkan pada ku!” Kata Krystal. Ia segera berjalan menjauhi Sehun yang saat itu berada di ruangan yang bisa disebut ruang keluarga, dengan adanya tv beserta home-theatre.

Cklek~

Tangan Krystal dengan santai membuka pintu.

“Sangjangnim?!”

.

.

.

.

.

Tifanny terperangah untuk beberapa saat ketika Krystal membuka pintunya. Ia mengeluarkan senyuman sinis, “Jadi benar jika kau berpacaran dengan Sehun?”

“Sangjangnim….” Krystal tidak bisa menemukan kata-katanya yang tepat.

“Kau kenapa berada di apartment anak ku?”

Krystal masih terdiam.

“Kau sadar apa yang menjadi penghalang dirimu dan Sehun?”

…..

“Dan kau masih berani untuk menentangnya?”

…..

“Krystal Jung, aku bertanya kepadamu! Kenapa kau bisa berada di apartment Sehun?!”
“Sangjangnim aku…”

“Aku tidak punya waktu banyak. Katakan alasanmu sebelum semua orang melihat kita!”

“Sangjangnim tunggu sebentar aku-“

Tifanny kembali memotong, “Kau tidak pantas berdiri di dekat Sehun. Anak ku… Anak ku bisa mendapat yang lebih baik daripada mu! Bukan hanya masalah ekonomi, masalah pendidikan pun kau jauh dibawah dia. Jadi untuk menyelamatkan harga dirimu, itupun jika masih ada, kuharap kau bisa pergi secepatnya dari apartment Sehun. Sebelum beberapa orang yang ku undang datang untuk merayakan kesuksesan Sehun.”

Nafas Krystal tercekat. Oksigen terasa menipis di sekitarnya. Udara tergantikan oleh kata-kata tajam Tifanny. Kakinya terasa tidak berpijak sangking ia merasa sangat malu, mengambang di tengah ketakutannya.

“Krys, siapa yang datang?” Sehun dengan santai jalan menuju Krystal. Melihat ibunya, ia langsung terkesiap keras, “Mom…”

“Sehun, apa yang ia lakukan disini?” Tanya Tifanny tidak mengindahkan air muka Sehun yang terkejut.

“Apa yang Mom lakukan disini?” Tanya Sehun balik.

“Mom ingin datang ke apartment mu. Tidak boleh? Yang harus dipertanyakan seharusnya dia!” Tifanny menunjuk ke arah Krystal, “Kenapa dia bisa berada disini? Dia seharusnya tidak pernah sedikitpun berada di dekatmu Sehun-ah!”

Sehun merasakan amarahnya naik. Ia ingin membalas ibunya dengan nada tinggi saat itu. Hampir. Jika saja ia tidak melihat Krystal tiba-tiba mundur, mengambil tasnya dan jaketnya kemudian keluar dari apartment Sehun.

“Sehun!” Panggil Tifanny ketika Sehun ikut mengejar Krystal.

Krystal berlari kecil, berharap bisa menghilang dari gedung ini secepatnya.

Grab!


Sehun berhasil memegang tangan Krystal. Dalam satu hentakan, dia berhasil membuat Krystal menghadapnya.

“Tunggu kumohon….” Kata Sehun lirih.

Krystal menundukan kepalanya. Ia tidak sanggup. Ia ingin menangis.

“Krys, mengenai tadi…” Lanjut Sehun dengan suara gugup bercampur panik.

Krystal mendongakan kepalanya. Menatap Lembut Sehun. Dengan sigap, ia mengenggam kedua tangan Sehun, “Aku mengerti.”

“Mengerti apa? Apa yang ibuku katakan kepada mu? Katakanlah kepada ku!”

“Sehun…” Ucap Krystal tenang. “Aku mengerti mengapa ibu mu datang ke apartment mu. Ia ingin merayakan keberhasilanmu. Dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah…”

“Krystal…” Seru Sehun frustasi. “Astaga, jangan seperti ini… Ayo kita hadapi ibu ku bersama-sama. Jangan lari dari kenyataan.”

“Aku tidak ingin kau menghardik ibu mu. Ataupun kau memaki ibu mu. Ibu mu benar walau kenyataannya memang menyakitkan. Kehadiranku memang masih harus dipertanyakan….”

Sehun terdiam. Jangan! Jangan! Serunya dalam hati. Jangan! Dia tidak ingin ini menjadi akhir hubungannya dengan Krystal.

“Berjanjilah kepada ku satu hal…” Cengkraman tangan Sehun semakin kencang ketika Krystal berkata seperti itu, “Kita akan bertemu lagi setelah kau merayakan keberhasilan mu okay? Sekarang, kau harus merayakannya bersama ibumu dan teman-teman mu. Setelah itu… Setelah itu kita akan bertemu lagi…”

Ting~

Pintu lift terbuka. Krystal dan Sehun menoleh dan mereka terkejut satu sama lain. Wendy, Seulgi, Kai dan beberapa orang yang tidak Krystal kenali berada di lift itu. Sama seperti Sehun dan Krystal, mereka juga terkejut dengan pemandangan di depan mereka.

Krystal cepat-cepat melepaskan genggamannya. Sehun sendiri berusaha untuk tidak meraih kembali tangan Krystal. Krystal tersenyum lembut ke Sehun sebelum berbalik, berjalan menuju Lift.

“Anyeonghseyo….” Sapa Krystal kepada orang-orang yang keluar dari lift. Mereka terihat membalas sapaan Krystal dengan canggung.

Krystal kembali tersenyum ke Sehun sebelum pintu lift tertutup rapat.

.

.

.

.

.

Acara perayaan Sehun sukses. Semuanya berbahagia, kecuali Sehun tentunya. Dari makanan yang ia sediakan sampai stand photobooth yang Sehun dan Krystal buat sendiri berhasil menghidupkan suasana. Beberapa teman-temannya sudah mengundurukan diri. Pastinya yang lain akan menyusul mengingat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Hanya Kai yang tidak akan pulang karena Sehun menyuruhnya untuk tinggal menjaga rumah. Sehabis ini, Sehun berencana akan bertemu Krystal langsung tanpa menunggu hari esok. Kejadian tadi sungguh menyiksanya. Apa yang ibunya katakan hingga Krystal mundur teratur seperti itu? Ia ingin tahu. Ia ingin merasakan apa yang Krystal rasakan.

“Oh Sehun!”

Suara akrab dari belakangnya membuat ia menoleh, “Do Kyungsoo!” Balasnya.

“Kau kelihatan sedikit depresi teman! Di pinggiran balkon menghadap ke jalan raya. Well, apapun itu ku ucapkan selamat atas prestasi membanggakan mu. Tapi aku harus pulang.”

Sehun dan Kyungsoo berbincang-bincang sebentar.

“Aku tidak melihat Chanyeol.” Kata Sehun menyadari hanya ada Kyungsoo dan Yixing.

Kyungsoo tertawa canggung, “Chanyeol ada acara. Dia menyampaikan maaf tidak bisa datang.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Oh, tentu tidak apa-apa. Baiklah teman, sampai berjumpa lagi…”

Setelah kepergian Kyungsoo, beberapa orang juga ikut mengundurkan diri.

“Hey, sepupu!” Sapa Seulgi ceria.

Sehun hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Baiklah….” Kata Seulgi mengerti jika Sehun tidak ingin diganggu. “Tapi aku penasaran! Apa yang terjadi dengan Krystal? Kupikir kau ingin merayakan dengan dia bukan dengan dia….” Arah pandang Seulgi menunjuk ke Wendy yang sedang berbincang-bincang dengan Jimin.

“Rencananya begitu hingga ibuku datang dan menghardik Krystal…”

“Astaga… Jadi kau tadi putus dengan Krystal?”

Sehun mendesah, “Tidak. Tapi dia ingin aku tidak mengejarnya dan mengikuti pesta ini…”

“Itu artinya kau harus mengejarnya!”

“Aku tahu!” Desis Sehun tajam. “Tapi dia membuatku berjanji untuk menikmati pesta ini. Walaupun begitu aku akan datang kepadanya ketika acara sialan ini berakhir. Makanya kau cepat pulang sana!”

Secercah senyum tiba-tiba terukir di bibir tipis Seulgi, “Kurasa aku dapat ide bagus agar dirimu bisa pergi dari sini!”

.

.

.

.

.

Sehun mengendari mobilnya dengan cepat. Melintasi kota Seoul yang tidak terlalu ramai. Tujuan utamanya ke Café f(x). Berharap Krystal ada di situ untuk menghibur dirinya, berada di tengah-tengah orang yang ia sayangi.

Cklek!
Sehun segera membuka pintu mobilnya dan berlari memasuki Café f(x). Jantungnya kembang-kempis dan ia merasa membutuhkan lebih banyak oksigen. Setelah ia rasa nafasnya kembali normal, segera saja ia mengantri. Tidak enak tiba-tiba memotong dan berbicar langsung ke Luna.

“Selamat malam Sehun…..” Sapa Luna ceria.

“Selamat malam!” Balas Sehun. Berusaha agar terdengar ceria.

“Sebuah kejutan yang menyenangkan! Apa yang ingin Anda pesan?”

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sebenarnya…. Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan Krystal.”

“Bora-ssi, tolong gantikan aku!” Setelah berkata seperti itu Luna kembai menghadap ke Sehun, “Kau, tolong ikuti aku!”

Sehun pun bingung. Tetapi Luna mengatakan hal yang sama sekali lagi membuat ia akhirnya mengikuti Luna. Luna mengajak Sehun kebelakang dapur. Melintasi dapur dimana para Chef sibuk memasak.

Trek~

Dia membuka sebuah pintu, “Tunggu disini sebentar.” Katanya kemudian masuk kedalam ruangan. Sekitar lima menit berada di sana, Luna akhirnya keluar, “Silahkan masuk…”

Sehun benar-benar seperti orang bodoh. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah diruangan itu ada Krystal? Ia memasukinya dengan perlahan.

Dan…………..Bahunya melesak ketika melihat orang yang di dalam. Victoria bukan Krystal.

“Sehun-ssi, selamat datang di ruanganku…” Sapa Victoria.

Sehun membungkukan badannya.

“Silahkan duduk…”

Sehun kemudian duduk di kursi Victoria. “Aku…” Sehun membuka pembicaraan. “Aku kesini untuk mencari Krystal…”

Mata Victoria melebar, “Aku tahu ada yang salah pada hari ini!”

“Maksudmu?”

Victoria menghela nafasnya, “Teman dekat Krystal adalah Amber. Amber adalah orang yang menemaninya dari panti asuhan hingga mereka sama-sama di adopsi. Tetapi Amber terkadang overprotective terhadap Krystal, itu membuatnya tidak bisa terlalu gerak bebas. Sulli juga teman dekatnya. Bersama Sulli mereka suka melakukan hal-hal aneh yang tentunya tidak bisa ia lakukan ketika bersama Amber, termasuk dalam urusan patah hati.

Krystal tadi menelepon Sulli. Sebenarnya hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi Luna tidak sengaja mendengar percakapan mereka, mereka merencanankan sesuatu, ke tempat yang tidak akan dirimu jangkau. Luna tahu jika Krystal sedang patah hati, dia menyimpulkan dari arah pembicaraan mereka.”

“Aku tidak…” Sehun terdiam sebentar. Ia menghela nafas, “Dengar… Aku rasa aku membuat ia patah hati. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ini semua di luar rencana. Seharusnya hari ini kami bersenang-senang.”

“Kau rasa?”

“Ibu ku datang ke apartment-ku. Krystal yang membukakan pintunya. Ibuku dan Krystal tidak mempunyai hubungan yang baik dan kurasa ibuku mengatakan hal-hal yang tidak pantas pada Krystal jadi….”

Victoria menganggukan kepalanya. Sehun tidak yakin dia mengerti, Victoria seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Victoria sunbaenim-“

Noona… Panggil saja aku Noona.” Potong Victoria

“Victoria Noona, anda tahu dimana Krystal dan Sulli?”

Victoria menggeleng.

Apa-apaaan itu? Sehun berusaha untuk tetap tenang. Walau kekesalan sudah berada di puncak. Jadi buat apa ia kesini dan menceritakan kepada Victoria jika Victoria sendiri tidak tahu?

Merasakan handphone-nya bergetar, Sehun segera mengambil handphone-nya. Ia permisi sebentar kepada Victoria untuk mengangkat handphone-nya.

Anyeonghaseyo…” Sapa Sehun asal-asalan.

Hai, teman ini aku!” Suara bass khas Chanyeol terdengar jelas.

“Aku tahu…” Jawab Sehun pendek.

Ada yang ingin ku sampaikan kepada mu…”

“Kalau soal dirimu yang tidak datang tenang saja…”

“Bukan! Ini tentang Krystal!”

Sehun langsung mencengkram handphone-nya, “Kau tahu dimana dia? Kau melihatnya?”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Aku tahu kau pasti akan tertarik…”

“Cepat katakan dimana dia!” Seru Sehun geram.

“Tenang teman…. Dia ada di Café teman ku. Temanku baru membuka Café dan ia mengundangku untuk bernyanyi. Krystal disitu dengan seorang gadis cantik. Hey, kau tahu nama gadis cantik tersebut?”

Sehun memutar bola matanya, “Choi Sulli dan dia mantan pacarnya Kai. Sekarang dimana Krystal?”

“Oh benarkah? Sayang sekali. Sepertinya aneh jika aku mendekati Sulli…”

“Chanyeol….”

“Baiklah….. Di Café Italiana by Lee Jinki. Aku akan mengirimkan alamatnya kepada mu!”

Setelah itu Chanyeol memutuskan teleponnya. Sehun menatap Victoria, “Noona tahu Café bernama Italiana by Lee Jinki?”

Mata Victoria membesar, “Mereka disitu?” Ia mengangguk, “Tentu aku tahu. Itu Café temanku. Hari ini adalah Soft Openingnya. Mereka mengundangku, tetapi aku tidak bisa datang karena hari ini aku baru pulang dari Osaka.”

“Baiklah… Kalau begitu aku permisi dulu Noona….”

“Tunggu…”

Langkah Sehun terhenti, ia kembali menghadap Victoria.

Victoria sendiri terlihat membuka laci mejanya dan mencar-cari sesuatu, “Ini…” Katanya mengasih kupon. “Aku baru ingat jika pada Soft Opening hanya orang-orang yang mempunyai kupon ini yang bisa masuk….”

Sehun menerima kupon dari Victoria, “Terimakasih Noona…”

.TBC.

Flipped (Chapter 13)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Pertanyaan Membingungkan pt.1

Jadi apakah Krystal menyukainya? Ayolah…. Itu adalah pertanyaan yang mudah. Iya atau tidak. Seharusnya iya, karena sifatnya sangat perhatian dan romantis. Tetapi dia ragu. Ada bagian di hatinya yang terasa hampa bahkan dia-si romantis- tidak dapat menjangkaunya.

***

Suara tawa dari ujung sana membuat Luhan kembali tertawa kencang. “Aku tidak bermaksud seperti itu! Astaga, bisakah kau tidak tertawa terus menerus? Perutku sudah sangat sakit.” Luhan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah dinding-dinding tua flat yang telah dia tempati satu bulan ini. Dia tersenyum singkat kepada dua teman satu flat nya yang menatapnya dengan kilatan penasaran.

“Aku mengerti…” Luhan kembali berbicara via telepon. “Baiklah… Baiklah… Aku tidak akan menjemputmu lagi di depan kelas mu. Dan tidak makan lagi di kafetaria fakultas mu… Oh? Baiklah. Anyeong Krystal Jung!”

“Ehm…” Chanyeol berdehem dan menatap ke arah Luhan, “Krystal Jung?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Luhan terkekeh kecil, “Kenapa?”

“Kenapa?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepada Krystal?”

“Wow! Wow! Wow!” Chanyeol langsung menatap Sehun,

Luhan menampilkan ekspresi terkejutnya, “Maksudmu?” Tanya Luhan seperti orang bodoh.

“Hey, kau sangat blakblakan Oh Sehun!” Protes Chanyeol kesal.

Luhan yang masih menampilkan ekspresi terkejut menghela nafas, “Tidak sekarang. Aku baru saja bertemu dengannya. Masih butuh pendekatan.”
“Kau mengenalnya sejak SD. Butuh pendekatan apa lagi?” Sehun menatap Luhan dengan tatapan datarnya.

Luhan terlihat berpikir, “Entahlah. Aku hanya takut di tolaknya.”

“Kurasa tidak ada laki-laki yang mendekatinya kecuali dirimu.”
Plak!

Chanyeol dengan cepat memukul kepala Sehun. Membuat laki-laki itu meringis dan menatap Chanyeol sebal.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Hey, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”
“Sudahlah…” Luhan menengahi Chanyeol dan Sehun. “Aku akan memikirkan usul Sehun, okay? Tapi aku harus kembali lagi ke kamar. Tugasku menumpuk!” Lanjut Luhan dan mengambil teh hangat yang tadi ia buat selagi menelepon Krystal.

Blam~

Setelah Luhan menghilang dari ruangan, Chanyeol menatap Sehun, “Kenapa kau berkata seperti itu ke Luhan? Ku kira kau menyukai Krystal?”

Sehun yang memusatkan perhatiannya untuk membaca buku menatap Chanyeol, “Di mimpi mu!”

“Apanya di mimpi ku?!” Seru Chanyeol sedikit tersinggung. “Kau memang dingin tetapi tatapanmu setiap kali Krystal ke sini menyiratkan perhatian yang sangat besar. Kau pasti menyukainya! Aku saja yang telah menjadi temanmu sejak awal kuliah tidak pernah di tatap seperti itu.”

Sehun mendesah keras. Ia menutup bukunya dan kembali menatap Chanyeol. Tangan kananya memeluk Chanyeol. Menarik Chanyeol agar semakin dekat ke Sehun, Tiba-tiba, wajah mereka menjadi sangat dekat. “Kau cemburu? Aku bisa menatap mu dengan tatapan yang penuh perhatian mulai dari sekarang.”

“Apa-apaan?!”

.

.

.

.

.

“Jadi…” Seulgi sudah bergelayut manja di siku Krystal, “Bisakah kau menjelaskan apa maksud Luhan tadi?”
“Maksud Luhan apa?” Tanya Krystal pura-pura tidak peduli walau ia tidak dapat menyembunyika senyumannya.
“Astaga Krystal Jung! Jangan pura-pura bodoh!” Seulgi menatap Krystal tidak sabaran.

Krystal menatap sahabatnya. Kemudian ia mendesah, “Dia hanya ingin menjemputku tidak kurang dan tidak lebih.”

“Aku tidak yakin akan hal itu…” Seulgi kemudian mendekat ke arah Krystal, “Kurasa ia menyukai mu.”
Krystal kembali mendengus. Baiklah… Baiklah… Dia tahu Luhan menyukainya. Maksudnya, itu semua terlihat dari perlakuan Luhan kepadanya. Seseorang pastilah buta jika tidak mengetahui hal itu. Dia diam saja bukan karena ia bodoh tidak mengetahuinya atau tidak memperdulikan perasaan Luhan. Ia hanya memberi Luhan waktu untuk menyatakan perasaannya sendiri. Krystal adalah teman Luhan sejak SD. Dia tahu, laki-laki itu pasti tidak menyukainya kalau ia memberi tahu perasaannya kepada Luhan duluan.

“Kau menyukainya?” Tanya Seulgi tiba-tiba ketika mereka sudah duduk di kelas dan menunggu Professor Choi datang.
“Tentu.” Jawab Krystal lugas.

Seulgi terlihat memutar bola matanya, “Aku tahu kau menyukainya sebagai teman. Yang kumaksud kau menyukainya sehingga ingin menjadikan dia kekasihnya? Kau tahu… Jatuh cinta kepadanya?”
“Tentu.” Jawab Krystal tetapi kali ini nadanya terdengar agak ragu. “Maksudku siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya melihat semua perilakunya? Dia sangat romantis.”
“Jadi kau ingin menjadi kekasihnya karena perilakunya yang sangat romantis?”
“Apa maksudmu?!” Tanya Krystal sedikit frustasi. Ia tidak marah kepada Seulgi, sungguh. Tetapi perkataan Seulgi membuat perasaan Krystal mulai terombang-ambing.

“Maksudku apakah kau jatuh cinta kepadanya? Ayolah, Jung itu adalah pertanyaan yang sangat mudah. Iya atau tidak?”

“Aku sudah menjawabnya tadi.”

“Tapi kau terlihat ragu.”

“Aku tidak mengerti maksud mu!” Seru Krystal dengan nada yang sedikit tinggi. Okay, dia mulai merasa sedikit kesal terhadap Seulgi.

“Baiklah, aku bukannya merendahkan dirimu. Tapi selama tiga tahun aku menjadi sahabatmu kau tidak pernah dekat dengan cowok. Tunggu, itu bukan karena dirimu tidak populer. Dirimu sendirilah yang menolak cowok-cowok yang datang kepadamu. Luhan hanyalah satu-satunya yang berhasil mendekatimu.

“Tapi Jung, setiap dirimu menceritakan Luhan dirimu pasti selalu berkata ‘Dia memang selalu baik kepadaku seperti dulu..’ atau ‘Dia persis yang ku ingat seperti dulu…’ atau kalimat semacam itu. Apa itu menyiratkan kau menyukainya-maksudku jatuh cinta- kepadanya? Astaga Krystal Jung, tidak! Jadi sekarang aku akan menegaskannya kepadamu, apakah kau jatuh cinta kepadanya?”

Krystal terlihat berpikir, “Apakah aku benar-benar berkata seperti itu ketika aku menceritakan Luhan?”

Seulgi menatap Krystal lekat-lekat, kemudian menganggukan kepalanya.

Krystal memejamkan matanya. Astaga…. Dia tidak bermaksud seperti itu. Luhan adalah seseorang yang sangat special untuknya. Dia tidak bermaksud membandingkan Luhan yang sekarang dengan yang dulu.

“Aku tidak bermaksud yang buruk ketika mengatakan hal tersebut. Kau tahu aku hanya…”

“Iya aku tahu.” Sela Seulgi. “Kau hanya memuji Luhan. Tapi kurasa kau terjebak dengan masa lalu mu. Kau bisa mengatakan kepadaku, ‘Dia laki-laki terhebat yang pernah ku temui.’ dan semacamnya.”
Krystal memijit pelipisnya. Ia memang terjebak dengan masa lalunya sendiri. Bagaimana seorang bisa melanjutkan hidup jika ia melupakan sebagian dari masa lalunya? Bisa saja dia melakukan dua kali kesalahan karena kesalahan pertama dia lupakan. “Pertanyaanmu lebih susah daripada soal ujian.”

Seulgi tersenyum, “Maaf memusingkanmu. Aku hanya khawatir kau akan tersandung masalah karena hal-hal kecil seperti ini.”

Krystal membalas senyuman Seulgi, “Aku tahu.”

Kemudian, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Krystal kembali mencermati pertanyaan Seulgi. Apakah dia menyukai Luhan? Dia seharusnya menyukai Luhan. Tetapi ada bagian di dalam hatinya yang hampa bahkan Luhan tidak dapat menggapainya. Tanpa Krystal sadari, dia menyipitkan matanya. Dia sudah menyelesaikan masalahanya dengan Oh Sehun. Itu sudah sangat jelas dari kata-katanya ketika ia menangis di taman dan membentak Oh Sehun, mengatakan agar laki-laki itu menjauh darinya. Itu sudah sangat jelas. Tapi kenapa dia masih ragu dengan perasaannya terhadap Luhan?

Hufh….

Krystal hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

Hujan sangat deras di luar sana. Udara yang tadi menghangat karena musim semi datang kembali menjadi dingin. Seseorang akan sangat malas untuk keluar pada jam tujuh pagi di hari minggu yang mendung ini. Menikamati kehangatan selimut dan keempukan bantal pasti lebih menyenangkan. Krystal sudah pasti melakukan hal tersebut. Jika saja ia tidak sengaja menerima telepon Luhan. Dan lelaki itu sedang sakit.!

Luhan berkata jika ia hanya kelelahan. Tapi hati kecil Krystal tersadar, Luhan kelelahan karena dirinya! Dengan jadwal kuliahnya yang padat dan masih gigih untuk menjemput Krystal membuat Luhan lelah. Krystal teringat jika kemarin malam, ketika Luhan menjemputnya laki-laki itu sudah menunjukan tanda-tanda flu. Tetapi ia masih ingin mengantarkan Krystal pulang ditambah menemani perempuan itu makan malam. Jadi, apakah perasaannya tidak memberontak begitu mengetahui Luhan sakit?

Tok… Tok… Tok…

Krystal dengan santai mengetuk pintu apartment Luhan. Dia sudah sangat sering mengunjungi apartment ini. Setiap minggu bisa dua kali. Ini karena dia dan Luhan sering pergi keluar jika tidak ada jadwal kuliah. Berakhir di apartment ini untuk makan malam atau ia kesini untuk menjemput Luhan. Krystal seperti penghuni tidak tetap apartment ini.

Cklek~

Pintu apartment terbuka. Krystal sedikit terkesiap melihat wajah orang yang membuka pintu.

“Oh, masuklah.” Jawab Sehun datar.

.TBC.

+Holla semuanya, I’m back 👋👋👋 dengan membawakan Flipped!  Khusus untuk ultah Sehun , eh D+2 ultah Sehun (wkwkwkwk) Flipped di update 2 chapter 😬…..  Stay tune untuk ff terbaru dan ngomong-ngomong ttg State of Grace, mungkin nanti🙈  Lagi stuck di chapter 20…  Bye bye See you soon

State of Grace (Chapter 15)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Maaf ini semua salahku.” Wendy menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang di depannya.

Sehun mendengus, “Tentu ini salahmu!”

“Sehun-ah, aku ingin memberi tahu lebih awal-“
“Memberi tahu lebih awal?” Sehun menatap jengah Wendy. Kekesalan mulai terpancar dari wajahnya, “Wendy… Astaga!!! Itu bukan penyelesaian masalah! Kau jelas-jelas selingkuh di belakang ku dan bilang jika kau akan memberi tahu perselingkuhanmu lebih awal?”

“Bukan.” Wendy mulai menatap Sehun. Nafasnya tercekat, tetapi dengan pelan-pelan, sebuah kalimat terluncur dari bibir tipisnya, “Aku ingin memberi tahu mu jika hubungan kita sebaiknya tidak dilanjutkan.”

Sehun terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang tidak pernah disangkanya. Setelah diam beberapa detik, Sehun tersenyum sinis. “Tidak kusangka….” Ia kemudian menatap Wendy, “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Menahanmu? Lakukanlah terserah dirimu… Aku juga tidak ingin bersama dirimu lagi!”

Deg!

Wendy langsung membuka matanya. Ia meletakan tangannya di atas dada, merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Kenapa dia harus bermimpi hal itu?

Tring~

Wendy kembali tersentak ketika hp-nya berbunyi. Merasa bodoh karena hal itu, ia mengambil handphone-nya dengan merengut.

Hari ini narasumber kita datang. Tolong wawancara dia. Aku telah mengirimkan email mengenai dirinya.

“Astaga… Di hari minggu yang cerah ini?” Wendy menatap malas hp-nya. Dengan tenang, ia kembali menarik selimut meliputi tubuhnya dan kembali terlelap.

.

.

.

.

“Ini? Atau ini?”
“Kau cantik dengan apapun yang kau pakai…” Amber kembali menatap malas Krystal. “Dan berhenti mengeluarkan semua baju dari lemari mu!”

Krystal teriak frustasi. “Aku harus menemukan baju yang cantik. Ini adalah makan siang ku bersama teman-teman Sehun.”

“Mereka hanya teman-teman Sehun Soojung-ah.”
“Tetap saja…”

Tangan Krystal masih sibuk memilih-milih baju dari lemarinya. Sedangkan Amber kembali menatap handphone-nya.

“Apa yang harus kupilih?” Tanya Krystal lebih ke dirinya.

“Amber! Menurutmu apakah aku cantik menggunakan warna pink?”

“Apa?!” Amber langsung menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Sejak kapan kau suka menggunakan warna pink?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Hanya mencoba hal baru. Ayolah…. Bantu aku memilih bajunya…”

Amber mendecak sebal tetapi ia bangkit dari tempat tidur Krystal. Berjalan ke arah lemari, “Kurasa jangan memakai hiasan di rambutmu karena itu akan membuat dirimu sangat manis. Kau harus kelihatan cantik. Jadi…. Bagaimana ini?” Amber memperlihatkan sebuah blouse bewarna putih, “Tidak. Ini terlalu simple…” Lanjut Amber dengan sendirinya, “Ini? Ini?” Amber ikut-ikutan mengeluarkan baju seperti Krystal, “Bagaimana dengan yang ini?” Sebuah kemeja bewarna biru tersodorkan ke depan Krystal.

“Jangan!” Kata Amber lagi, mendahului Krystal yang baru saja ingin berbicara. “Atau kau memakai kaus oblong saja?” Amber terlihat berpikir keras, kemudian menghela nafas. “Kau saja yang pilih. Aku lelah.”
“Yak!” Tangan kanan Krystal dengan cepat memukul bahu Amber.

.

.

.

Slurp~

Sehun mendesah lega ketika hot chocolate melewati tenggorokannya. Mengusir rasa dingin yang dari tadi ia rasakan. Sehun menoleh ke sebelah kiri, dan ia tersenyum lebar melihat Krystal yang sibuk tertawa bersama Seulgi. Agak kesal memang karena Krystal lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya, tetapi ia tidak dapat memungkiri, senyuman dan tawa gadis itu menghilangkan segalanya.

“Oh Sehun…”

“Hm…” Respon Sehun pendek. Karena ia tahu siapa yang memanggilnya-Kai.

“Yak! Bocah busuk!” Kai memukul kepala Sehun. Membuat Sehun meringis, “Cepat bantu kami mengambil bahan makanan untuk makan malam!”

“Tidak usah memukul kepalaku!” Desis Sehun geram. Ia segera bangkit, mengikuti arah Kai pergi.

Dilain pihak, Krystal dan Seulgi masih berbicara tentang melukis. Terlihat, mereka nyaman dengan lawan bicara mereka.

“Benarkah?” Tanya Seulgi antusias. “Wow! Kau seharusnya mengikuti lomba melukis internasional. Aku yakin kau akan menang.”
Krystal tertawa kecil, “Kau terlalu berlebihan Seulgi-yah. Lukisanmu itu sangat bagus. Apalagi yang ….. itu sangat menakjubkan!”
“Dan lukisan abstrak-mu juga sangat-sangat menakjubkan! Ah, pokoknya aku yakin dirimu pasti akan menang!”

Krystal dan Seulgi kemudian saling diam. Bingung ingin berbicara apa lagi.

“Bagaimana jika besok aku datang ke rumahmu? Kau tau… Kita bisa saling berbagi pengalaman tentang melukis.”

“Seulgi-yah..” Krystal menatap Seulgi dengan tatapan yang hampir tidak percaya.

“Jika kau mau.” Lanjut Seulgi dengan tersenyum lebar. “Atau jika dirimu tidak sabar kita bisa memulai malam ini. Dengan dirimu yang menginap di rumahku terlebih dahulu. Untuk baju, tenang saja, kau bisa meminjam baju ku dulu. Paginya kita akan berangkat kerumah mu. Bagaimana?” Kedua alis Seulgi terangkat. Senyum jahil tertampil di wajahnya.

“Seulgi-yah…” Kali ini, tawa Krystal kembali meledak. Ia kalah menghadapi Seulgi yang orangnya menggampangkan segala hal. Berbeda dengan dirinya. Juga berbeda dengan Sehun, dimana dia baru menyadari hal ini ketika berbincang dengan Seulgi.

Seulgi juga ikut tertawa. Menurutnya, Krystal memiliki tampang dingin seperti sepupunya-Sehun yang membuatnya sedikit…. Tidak ingin berbicara padanya karena takut akan seperti sepupunya yang sangat irit berbicara. Tetapi, ketika berbicara dengan Krystal, gadis ini membalasnya. Bahkan Krystal orang yang mudah hanyut dalam pembicaraan.

“Krystal!”
Seulgi dan Krystal tersentak ketika suara Sehun menginterupsi. Entah dari kapan Sehun berada di depan mereka.

“Aku butuh berbicara dengan Krystal.” Tanga Sehun melingkar di pergelangan tangan Krystal. Sebelum Seulgi merespon, ia sudah menarik Krystal menjauh dari Seulgi

.

.

.

Mereka masih saling diam- Krystal dan Sehun. Krystal sendiri bingung ingin berbicara apa ke Sehun. Laki-laki disampingnya ini terkesan menutupi sesuatu. Tegang bercampur cemas terlihat di wajahnya. Sayangnya, setiap Krystal ingin bertanya Sehun hanya menjawab ‘Jangan khawatirkan aku,’; atau ‘Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus pulang cepat.’.

Dalam keheningan mereka, mobil sudah memasuki jalan besar Seoul. Memotong ke segala arah untuk mencapai tujuan. Alis Krystal sedikit bertaut ketika mobil Sehun melewati f(x).

Krystal menoleh, ingin bertanya. Tetapi kembali diam ketika melihat Sehun yang sedikit panik.

….. (Mobil berhenti).

“Aku akan keluar sebentar.” Sehun segera membuka seatbelt.

Grab!

Tangan Krystal menahan tangan Sehun. Krystal tersenyum lembut, “Aku akan berada di sini.”

Sehun bernafas lega untuk pertama kalinya sejak ia menerima telepon tersebut. Nada suara Krystal begitu lembut. Juga makna dari katanya yang memiliki arti lebih-baginya. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Sehun mengangguk dan keluar dari mobil.

.

.

.

.

.

Mata Krystal sedari tadi terus melihat gerak-gerik Sehun. Sehun rupanya bertemu dengan laki-laki yang ia temui di café ketika terakhir kali dia ke sana. Kalau tidak salah nama laki-laki ini adalah Seojoon. Mereka sedang berbicara di trotoar jalan depan sebuah hotel. Sedikit tegang karena sepertinya mereka membicarakan suatu yang sangat serius. Seojoon lebih tenang dari Sehun. Sehun seperti terburu-buru, bukan! Lebih benar dikatakan ia menuntut sesuatu dari Seojoon.

Sehun dan Seojoon terus berbicara hingga ada orang yang menghampiri mereka. Seketika, Krystal langsung membulatkan matanya. Tifanny Sangjanim. Ibu dari Sehun. Wanita itu terlihat sangat tidak baik. Ia benar-benar marah. Langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Keadaanpun menjadi sangat tidak baik. Sehun berubah menjadi emosi. Krystal? Dia hanya bisa menyaksikan semua ini dari balik jendela mobil. Tidak mungkin ia turun. Pasti hal ini akan menambah sebuah masalah. Krystal hanya bisa melihat tanpa membantu sedikitpun.

Tes!

Air mata Krystal menetas dikarenakan hal tersebut.

.

.

.

.

.

Seojoon merasa kepala berkedut. Apakah ia salah memberi tahu Sehun jika ia ingin kembali ke Amerika? Apakah salah jika ia memberi tahu berita ini kepada adik kandungnya sendiri?

Yang jelas, salah atau tidak sepertinya ibunya menganggap hal ini salah.   Jelas terlihat bagaimaan perdebatan panas antara Sehun dan ibunya.

Mommy tidak pernah sudi sampai kapanpun!” Teriak Tifanny. “Jangan pernah dekat lagi dengan dia!”

Seojoon tersentak. Bahkan ibunya tidak memanggil namanya

“Dia?” Sehun sekarang berteriak, “Dia itu punya nama! Bagaimana Mommy tidak pernah memanggil namanya?!”
Sudah! Teriak Seojoon dalam hati. Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas.

Tifanny mendengus, “Suatu saat dirimu bersyukur karena telah berjauhan dari dia!” Ia menatap Seojoon tajam sebelum kembali menatap Sehun, “Ayo kita pulang! Mom akan pastikan dirimu pulang! Jadi kita akan pulang bersama!” Tifanny berbalik, bukan ke mobilnya melainkan ke mobil Sehun.

Melihat hal tersebut Sehun langsung menahan ibunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti tidak ingin ibunya berjalan menuju mobilnya.

Mom…” Panggil Sehun kepada ibunya yang terus berusaha jalan menuju mobilnya.

Seojoon membuang nafas. Tangannya terulur menyentuh tangan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya.

“Lepaskan Sehun, dia tidak bersalah!” Kata Seojoon dalam.

Tifanny menatap Seojoon dengan sangat marah, “Lepaskan Sehun?!” Ulang Tifanny dengan nada suara mengejek. Ia kemudian tertawa kencang, “Jadi sekarang dirimu melindunginya?!” Sekarang, posisi Tifanny benar-benar berbalik,badannya benar-benar menghadap Seojoon.

Seojoon kembali menghela nafas, “Dia adalah adik ku.”

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Seojoon, “Kau tak pantas bilang itu kepada siapapun!” Desis Tifanny tajam. “Tidak setelah perbuatanmu terhadap Jinri.”
“Apa yang terjadi kepada Jinri?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Tifanny tersenyum sinis, “Kau tidak tahu yang terjadi? Oh, mungkin ini saatnya dirimu tahu yang terjadi.”
“Hentikan semua ini!” Teriak Seojoon tiba-tiba.
“Lihatlah dia, dia tidak ingin kebenaran terungkap.”

“Aku tidak bersalah!”
“Dengarkan Mommy, dia berada di situ dan hanya melihat Jinri tenggelam. Dia tidak melakukan apapun kecuali menangis!”

Sehun terhuyung ke belakang. Kenyataan pahit ini…

Seojoon berjalan mendakiti Sehun. Berusaha menggapainya.

Tak!

Sehun menepis tangan Seojoon.

“Dengarkan aku terlebih dahulu….” Pinta Seojoon.

“Aku memang melihatnya tenggelam, tapi aku mencoba mencari pertolongan. Aku berteriak meminta tolong. Tidak ada yang datang.” Seojoon menceritakan kejadian terburuknya untuk pertama kalinya kepada adik kandungnya.

“Pembohong!” Teriak Tifanny yang tidak terima, “Itu semua bohong!”
Dengan sigap, Seojoon berbalik ke arah Tifanny, “Aku tidak bohong! Bukankah semua ini adalah salahmu? Membiarkan Jinri bermain tanpa pengawasan sehingga ia jatuh ke kolam?”

Plak!

Lagi-lagi Tifanny menampar Seojoon. “Jangan pernah mengajariku bagaimana cara merawat anak. Aku tahu cara itu.”

Brak~

Tifanny dan Seojoon berbalik karena suara tersebut. Sehun menabrak pintu mobilnya sendiri. Ia terlihat sangat kosong. Dengan sisa tenaga terakhir, Sehun membuka pintu mobilnya. Satu detik lagi Sehun akan jatuh.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”
.

.

.

.

.

Krystal tidak dapat menahan dirinya lagi untuk diam. Melihat keadaan Sehun yang sangat shock. Dia bergegas keluar. Segera menahan tubuh Sehun.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”

Suara Tifanny membekukan Krystal. Dia hanya dapat melihat Tifanny dengan segenap rasa takut, “Sangjanim…

Tifanny masih terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum sinis. “Ini adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. Mengapa dirimu disini? Apakah….” Tifanny terdiam sejenak. Terlihat takut dengan apa yang ia utarakan, takut akan apa yang ia rasakan benar. “Apakah kau berpacaran dengan Sehun?”

Jari-jemari Krystal mencengkram lengan Sehun. Dia begitu takut dan merasa sangat dipermalukan. Krystal kembali menunduk.
“Ayolah, hanya jawab tidak apakah itu susah?” Tanya Tifanny lagi. Tidak ada jawaban dari Krystal Tifanny menatap Sehun, “Apakah benar dia pacarmu?”

“Iya.”

Pengakuan Sehun membuat Krystal mendongak. Ketika ia mendongak, ia menemukan Tifanny terhuyung ke belakang. Yang pasti badan sangjanim-nya akan membentur aspal jika saja Seojoon tidak menangkapnya.

.TBC.