Runaway (Chapter 5)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli berdehem berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia memaksakan sebuah senyum, “Sudah lama juga tidak berjumpa denganmu, Choi Minho-ssi….” Balas Sulli berusaha menelan kepahitan ketika menyebut nama Minho.

Minho tersenyum sebagai tanggapan. “Ku rasa kita tidak bisa berbicara di sini. Ayo ikut aku.”

Sulli menyetujui perkataan Minho dan segera mengikutinya.

Minho membawa Sulli ke ruang melukis. Membukakan pintu untuk Sulli. Menghidupkan penerangan. Terakhri, tak lupa mengunci pintu ruangan.

“Ruang kerja mu?” Tanya Sulli memperhatikan ruangan kerja Minho yang penuh dengan lukisan anak-anak.

“Iya. Jadi…” Minho terdiam sejenak, menimang-nimang sesuatu, “apa pekerjaan mu?”

Sulli kemudian menoleh, “Aku..” Katanya bingung. Ia menarik nafasnya, “Fashion designer….”
Minho tersenyum lebar, “Kau mendapatkan impian mu bukan?”
Sulli terkekeh kecil, “Aku sedang mengejarnya sekarang. Small steps… Membuka sebuah butik dan berharap akhirnya bisa dikenal ke manca negara.” Ia menghela nafasnya, “Bagaimana denganmu? Kurasa ini sangat tidak sesuai dengan impian mu. Dikelilingi lukisan yang tidak sesuai dengan standar Choi Minho…”

Minho menahan nafasnya ketika Sulli mengatakan ‘Standar Choi Minho’. Ia lupa jika itu adalah kata yang sering ia ucapkan ketika mereka masih berpacaran. “Keadaan bisa berubah.” Tanggap Minho pada akhirnya. “Jadi, bagaimana kabarmu?”

Sulli mengerjapkan matanya, “Aku?” Katanya dengan nada bertanya. Ia mengalihkan tatapannya dari Minho sebelum akhirnya melihatnya lagi, “Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”

“Aku senang kau baik-baik saja…”

Jantung Sulli langsung berdebar keras ketika mendengar suara berat Minho. Ia menggelengkan kepalanya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu…” Kata Sulli dengan nada sedikit ketus. Berusaha menghilangkan kegugupannya.

“Aku juga.” Balas Minho dengan tangan yang ia masukan ke kedua kantong celananya. Sama seperti Sulli, Minho berusaha menahan rasa gugupnya.

“Ini tentang…” Sulli menahan nafasnya. Ia bingung harus mulai darimana. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kabar mu. Rasanya aneh kita bertemu kemarin seperti tidak saling mengenal.” Kata Sulli pada akhirnya. Ia tidak bisa! Sungguh, ia tidak bisa memberi tahu Minho bahwa ia adalah ayahnya Taemin.

Minho menghela nafasnya, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu secepat itu. Dikondisi seperti itu pula….”

“Maksudmu?” Sulli menatap Minho bingung. Secepat itu? Memangnya Minho sudah menunggu-nunggu kedatangan Sulli? Dan apa yang dimaksud dengan ‘Kondisi seperti itu’?

Minho menggigit bibir tebalnya, “Sebenarnya….” Ia terlihat ragu, “Aku tahu tentang Taemin…” Kata Minho pada akhirnya. “Ku rasa kau ingin berbicara padaku karena hal ini bukan?”

Tenguk Sulli langsung dingin akibat keringatnya. Ya Tuhan…. Kenapa? Kenapa Minho bisa tahu?

Feeling seorang Appa…” Jawab Minho. Sepertinya Sulli secara tidak sadar mengutarakan apa yang ia pikirkan.

“Minho…” Sulli menemukan suaranya.

“Aku minta maaf kepada mu karena tidak ada di saat kau paling membutuhkan ku. Aku akui, aku egois. Aku terlalu malu kepada mu ketika melakukan hal itu. Bukan menyesal. Aku malu karena telah menyakiti mu. Kata-kata itu di luar kehendak hati terdalam ku. Itu muncul di tengah keputus asaan ku ketika aku bangun—“
“Berhenti….” Sulli menundukan pandangannya. Air matanya mulai menetes. Hatinya masih sakit mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Dia tidak akan bisa menghadapi hal itu.

“Sull…” Tangan Minho berusaha menggapai Sulli.

Tak!

Sulli menepisnya. “Kau egois…” Kata Sulli susah payah. Menahan isak tangisnya. “Kau tidak tahu betapa susahnya aku ketika itu!”

“Aku tahu…” Minho mendekat ke arah Sulli. “Aku tahu… Maka dari itu sekarang, aku akan memperbaikinya….”

“Memperbaikinya?” Sulli tertawa sinis. “Sudah terlambat Choi Minho ssi!” Terdengar helaan nafas, “Kami sudah sempurna sekarang. Aku, Taemin, dan Kai.”

“Maksudmu aku tidak boleh ada di kehidupan Taemin begitu?” Suara Minho seketika tinggi. Apa maksud Sulli? Dia berhak akan Taemin. Dia tetaplah Appa Taemin apapun yang terjadi.

“Jangan menganggu kehidupan Taemin…”

“Maksud mu adalah kehidupan mu?” Balas Minho cepat. Masih dengan amarah.

“Aku jamin, Taemin sudah bahagia dengan Jongin di sampingnya. Tanpa diri mu!”

Sekarang Minho lah yang tertawa sinis, “Terserah kau ingin berkata apa! Ingatlah, aku tidak akan melepaskan Taemin semudah aku melepaskan mu!”

Minho segera berbalik. Keluar dari kelas. Meninggalkan Sulli yang diam tertegun.

.

.

.

.

.

Minho masih diam tak bergeming di depan kanvasnya.

“Apa yang terjadi dengan mu nak?” Suara Oemma nya menginterupsi lamunan Minho.

Minho menoleh ke arah pintu kamarnya. Oemma nya yang kurang lebih berusia 60 tahunan itu tetap terlihat muda. Dengan santainya, Oemma melintasi kamar Minho yang besar. Dimana di kamar itu banyak lukisan indah Minho. Jangan lupa, jendela besar tempat favorit Minho. Disitulah Minho kebanyakan melukis. Menghadap jendala besar. Menatap awan-awan yang indah.

“Sesuatu..” Jawab Minho pada akhirnya. “Ada apa Oemma?”

Oemma terkekeh kecil, “Hanya ingin memastikan mu. Kau terlihat sangat lesu ketika pulang.”

Minho akhirnya tersenyum, “Tidak ada apa-apa Oemma. Hanya sedikit lelah dengan pekerjaan ku. Oemma tahu akhir-akhir ini gallery begitu sibuk. Ku rasa itu ada hubungannya dengan keinginan ku yang ingin keluar jadi Tuan Kwon juga ingin mengadakan exhabisi lagi….” Jelas Minho diakhiri dengan tawa canggung.

Tidak ada di keluarganya yang tahu ia telah keluar dari pekerjaannya bersama Tuan Kwon. Keluarganya yang merupakan keluarga kedokteran adalah keluarga yang kaku. Sangat menjaga kehormatannya. Minho sendirilah yang bertindak sesuka hatinya. Minho yakin, Appa nya sangat marah ketika mengetahui Minho telah keluar dari sana ditambah menjadi seorang guru yang gajinya sangat kecil. Daripada bertengkar lebih baik berbohong.

Oemma Minho menghela nafasnya, “Oemma tahu kau telah keluar dari pekerjaan mu.”

“Ah, Oemma tahu dari mana?” Tanya Minho berusaha untuk mengelak.

“Firast seorang Oemma. Dulu ketika kau bekerja bersama Tuan Kwon kau berangkat sesuka hati mu. Jarang sekali mengikuti sarapan. Pakaian juga sesuka hati mu. Kerjaan mu itu hanya melukis. Sekarang? Kau berangkat sangat pagi pulang sangat sore. Pakaian rapih dan jarang melukis. Kau lebih sibuk dengan buku. Nah, sejak kapan Choi Minho suka buku?” Kata Oemma panjang lebar. “Katakanlah apa yang mengkhawatirkan mu? Apakah pendapat Appa mu?”
Minho mencibir, “Aku tidak peduli dengan pendapat Appa… Hanya masalah lain…” Minho tersenyum. Sedetik kemudian dia menggerang melihat ekspresi Oemma nya yang menatap Minho datar. Masih berusaha mengorek informasi. “Tidak ada apa-apa sungguh!”

Oemma Minho menghela nafasnya, “Baiklah… Baiklah… Oemma menyerah sekarang.”

.

.

.

.

.

“Jongin!” Gumam Krystal tidak percaya melihat siapa yang datang.

Kai mengeluarkan senyuman manisnya, “Kau masih bertahan rupanya…”

Krystal memutar bola matanya, “Aku tidak mengerti maksud mu. Ada apa?”

“Eh, kau galak sekali dengan suami atasan mu? Kau tidak takut kena marah?” Kai berkata dengan suara mengejek. Ah, dia suka membuat Krystal jengkel.

Krystal memutar bola matanya, lagi, “Ah benarkah kau suami atasan ku? Ku pikir kau office boy yang baru!”

Kai mendecih, “Terserah! Aku ingin bertemu dengan istriku!”

“Jangan ganggu Sulli! Dia sedang sibuk!” Teriak Krystal berusaha menghentikan Jongin yang berjalan ke ruangan Sulli.

Tentu, Jongin tidak mengubrisnya. Ia segera memasuki ruang kerja Sulli.

.

.

.

.

.

Jongin membuka ruang kerja Sulli disertai dengan senyuman hangat. Berharap Sulli menyambutnya dengan hangat juga. Keheningan yang menyambutnya. Sulli sedang memunggunginya. Menghadap ke arah komputer kerjanya.

“Sull~” Panggil Jongin pada akhirnya.

Sulli tersentak hebat. Ia segera berbalik, “Jongin~” Ujarnya tidak percaya. “Apa yang kau lakukan disini?”

Jongin tersenyum melihat Sulli yang tidak percaya dengan kehadirannya, “Kenapa? Kau terlihat sangat gembira…”
“Aku tidak menyangka kau datang kesini…” Sulli membereskan tumpukan-tumpukan kertasnya.

Jongin meletakan kantung plastik di atas meja Sulli, “Aku membawakan mu makan siang.   Sekalian ingin berbicara dengan mu.”

Sulli tersenyum, “Kau tidak usah repot-repot…”

“Aku melihat kemarin kau terlihat sangat lelah. Tadi pagi juga. Kurasa beban mu terlalu banyak. Makanya—“

“Aku tahu maksud mu…” Sela Sulli, “Tapi pekerjaan mu pasti masih banyak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku…”

“Aku akan melakukan apapun untuk mu Sull~ Kau tahu itu…”

Sulli menunduk. Menghindari tatapan Jongin. “Baiklah, karena kau sudah disini. Juga, apakah kau tidak lapar?” Tangannya mengeluarkan sandwich yang dibeli Jongin di supermarket.

Jongin terkekeh, “Tentu.” Ia menerima sandwich dari Sulli.

“Aku akan pergi selama beberapa hari….” Kata Jongin memecah keheningan di antarnya dan Sulli. “Sebenarnya itu alasan ku kemari. Aku ingin, sebelum aku pergi dirimu tidak apa-apa.”
“Berapa lama?”
“Sebulan? Tiga bulan?” Jongin memasukan sandwich terakhirnya. “Entahlah. Tapi tidak sampai bertahun-tahun.” Jongin mengedipkan matanya.

Sulli terkekeh, “Aku tahu kau ingin bercanda Kim Jongin…”

Jongin iku terkekeh, “Setidaknya kau sudah tertawa.” Kemudian nada suara Jongin kembali serius, “Ada masalah di perusahaan Appa. Aku harus mengurusnya.”

Sulli tidak ingin mengomentari rencana kepergian Jongin. Jika sudah seperti ini, Jongin tidak bisa ditahan. “Aku akan menunggu mu…”

Jongin tertawa kencang, “Apa maksud mu? Kau tentu akan menunggu ku Kim Sulli…”

Sulli membereskan makan siang mereka, “Apa? Tidak ada yang salah dengan omongan ku bukan?” Ia membawa kantung plastik ke tong sampah. Sedikit jauh dari meja kerjanya.

Hug~
Jongin tiba-tiba memeluknya, “Kau tahu aku akan merindukan mu…”

Sulli menoleh ke arah Jongin, “Aku tahu….” Ia mengedipkan matanya.

Jongin mendekatkan wajahnya. Ingin mencium Sulli.

Krek~

Krystal dengan polosnya masuk, “Kurasa aku harus mengetuk pintu dulu bukan?” Katanya melihat posisi Sulli dan Jongin.
Gosh!

Sulli cepat-cepat mendorong Jongin agar melepaskan pelukannya. Jongin mencebik, Pengganggu!

.

.

.

.

.

.

Suasana hati Sulli membaik setelah Jongin membawakannya makan siang. Entah itu karena sandwich nya yang lezat. Atau gurauan Jongin yang biasanya receh tapi kali ini tidak. Sulli bersenandung ria menunggu Taemin datang kepadanya.

Kemana Taemin?

Pikirnya dan melihat jam tangannya. Sudah tigapuluh menit yang berlalu. TK juga sudah mulai sepi. Apakah Taemin menghabiskan waktu bersama Minho?

Sulli berusaha menepis pikiran buruk itu. Ia tidak ingin suasana hatinya hancur. Kemarin suasana hatinya hancur bukan hanya karena Minho menolak mentah-mentah omongan Sulli. Tetapi karena perkataan terakhirnya. Ia tidak akan melepaskan Taemin semudah ia melepaskan Sulli. Itu membuat harga dirinya jatuh. Seakan ia tidak berharga dibandingkan Taemin.

Tapi, kalau dipikir-pikir, maksud Minho bisa juga ia menyesal melepaskan Sulli dulu. Makanya ia akan bertahan di Taemin. Sulli menghela nafasnya. Ia harus cepat-cepat menyingkirkan Minho sebelum suasana hatinya hancur.

Oemma!”

Sulli tersenyum melihat Taemin berjalan ke arahnya. Ketika melihat Taemin membawa sesuatu, senyumannya memudar. “Apa itu Taemin?”

Taemin mengerjap. Entah mengapa, mendengar suara Oemma nya, ia merasa takut.

“Taemin….” Panggil Sulli lagi karena Taemin hanya diam.

“Bukan apa-apa.” Kata Taemin pada akhirnya.

“Taemin….” Nada suara Sulli mulai naik. Astaga, apa yang dipegang Taemin? Itu terlihat seperti bungkusan kanvas. Apakah itu hadiah dari Minho? Tidak tahu dari mana Sulli mempunyai firasat seperti itu.

“Taemin mau pulang Oemma! Pokoknya Taemin mau pulang!”

Tanpa menunggu jawaban dari Sulli, Taemin membuka pintu belakang untuk meletakan benda yang ia pegang. Kemudian duduk di bangku depan.

Sulli menghela nafasnya. Ia mengikuti Taemin.

.

.

.

.

.

Oemma…” Panggil Taemin takut-takut karena dari tadi Sulli hanya diam.

Oemma….” Panggil Taemin lagi.
Sulli mengangkat rem tangannya. Mematikan mobilnya.

“Taemin minta maaf….” Kata Taemin pada akhirnya.

Hati Sulli luluh mendengar Taemin minta maaf. Ia akhirnya melihat Taemin, “Oemma hanya ingin tahu apa benda itu.”

“Tapi Oemma jangan marah ya…”

“Apa itu Taemin…”

Taemin menatap Sulli, “Itu… Lukisan dari Min Seongsangnim sebagai hadiah ulang tahun Taemin….”

Mata Sulli langsung melotot. Hadiah ulang tahun? Min Seonsangnim?

Oemma…” Ujar Taemin takut karena melihat ekspresi Sulli.

.TBC.

Runaway (Chapter 4)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Minho masih diam tidak bergeming sedikitpun ketika Sulli menghilang dari pandangannya.

Perkataan Sulli…. Yah, Minho tahu Sulli tidak bermaksud lebih terutama menyakiti perasaan Minho. Tapi, Minho tetap merasakan sakit hati karena kalimat itu mengatakan kepadanya jika Taemin bukan sepenuhnya tanggung jawab Minho. Tapi ia bisa apa? Bukankah dia yang mengatakan jika ia ingin mengejarkan mimpinya apapun yang terjadi?
Minho hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Sulli.

.

.

.

.

.

“Jadi gitu Appa!” Taemin memakan suapan terakhirnya.

Jongin menganggukan kepalanya, Ia juga memasukan suapan terakhirnya. “Jadi Jung Seongsangnim keluar dan yang menggantinkannya adalah Min Seongsangnim?”

Taemin kembali mengangguk, “Benar! Taemin sangat suka kepada Min Seongsangnim… Sangat-sangat suka! Min Seongsangnim baik. Tadi—“

“Taemin…” Sulli menyela omongan Taemin. “Bukankah dirimu harus mengerjakan PR? Tadi guru-guru mengirimkan pesan kepad Oemma agar Taemin mengerjakan semua PR.”

Taemin langsung cemberut, “Mengesalkan!”

“Jangan berbicara kasar Kim Taemin!” Jongin mengingatkan Taemin dengan nada tajam. “Kerjakan PR mu dulu ya? Nanti, sebelum mau tidur kita lanjutkan lagi ceritanya ya?” Kemudian nada bicara Jongin menjadi sangat lembut.

Taemin tetap cemberut. Tetapi, ia menganggukan kepalanya. Taemin segera turun dari kursi meja makan dan berlari menuju kamarnya.

“Kerjakan yang mudah dulu ya! Oemma akan menyusul sebentar lagi!” Teriak Sulli ketika kepada Taemin. Taemin harus diancam atau tidak dia akan main-main.

Sulli bangkit dari kursinya, membereskan piring-piring keluarga kecilnya. Saat mencuci piring, Jongin tiba-tiba memeluknya.

“Bagaimana harimu?” Katanya mengantarkan kehangatan kepada Sulli.

Sulli tersenyum kecil, “Lumayan~”

“Lumayan? Jawaban macam itu?”

Sulli tertawa lepas, ia segera membalikan badannya, “Tidak ada yang special.”

Jongin mengerutkan alisnya, “Tereserah!” Jawabnya cuek. Tangannya mengelus pipi Sulli perlahan. Kemudian ia mendekatkan dirinya ke Sulli.

Cup!

Jongin mencium ujung bibir Sulli. Ujungnya, bukan tepat di bibir Sulli. Pada detik-detik terakhir, Sulli menghindarinya.
“Aku harus cepat mencuci piring agar bisa melihat Taemin…” Katanya sudah berbalik dan kembali mencuci piring.

Jongin tersenyum datar, “Baiklah…”

.

.

.

.

.

Tak! Tak! Tak!

Sulli mengetuk-ngetukan pulpennya. Tatapannya menerawang ke depan. Mejanya, yang dimana berserakan desain-desain model terbaru tidak ia sentuh sama sekali. Sejak datang ke sini, Sulli benar-benar hanya duduk.
“Krystal…” Panggilnya tanpa melihat Krystal.
Krystal yang sibuk melihat desain menoleh, “Apa?”

“Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?”

Krystal mengerutkan keningnya, “Pertanyaan mu sangat aneh. ‘Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?’”

Sulli menghela nafasnya. Ia meletakan pulpennya dan duduk dengan tegak. “Aku tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan orang tersebut. Tetapi aku harus berbicara dengannya.”

Krystal tambah mengerutkan keningnya, “Kau sangat aneh Choi Sulli. Jelas-jelas jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu. Kau saja enggan… Ya, bagaimana mau berbicara dengan orang tesebut?”

Mendengar penjelasan Krystal, Sulli kembali menghela nafas, “Kau benar. Aku memang tidak ingin berbicara dengannya.” Ia tersenyum tipis kemudian, “Baiklah. Masalah itu akan kupikirkan nanti. Sekarang, kita focus kepada desain musim gugur kita. Bagaimana?”

“Baiklah.” Krystal kemudian mulai menjelaskan berbagai macam desain kepada Sulli.

.

.

.

.

Sulli menyelesaikan pekerjaan desainnya pada pukul 1 siang. Sudah menjadi aturannya sendiri jika jam 1 ia akan pulang untuk menjemput Taemin dan sehabis itu menghabiskan waktu bersama Taemin. Sulli membereskan meja kerjanya juga menempelkan beberapa notes di mejanya. Pengingat pekerjaan yang belum selesai. Matanya tidak sengaja melihat salah satu note-nya, “Tembus fashion week tahun depan!!!” Penyemangat dirinya agar lebih sukses sejak ia membuka butiknya, tiga tahun yang lalu dan terus menjadi mimpinya sampai sekarang.

“Aku pulang duluan ya….” Pamit Sulli kepada Krystal. Krystal yang masih sibuk menyusun jadwalnya besok menganggukan kepalanya.
“Jangan lupa jika besok kau akan bertemu dengan Vogue Magazine!” Kata Krystal tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentu!” Jawab Sulli pendek dan segera pergi menjemput Taemin.

.

.

.

.

.

Minho meregangkan tubuhnya. Ternyata menjadi seorang guru lebih susah daripada menjadi curator gallery. Tangannya kaku akibat harus mengisi laporan. Belum lagi otaknya harus mendidih karena harus membuat silabus ngajar. Ditambah bahunya yang pegal karena harus menunduk, melihat semua lukisan untuk dinilai. Satu lagi yang paling penting, Minho harus memeras otak dalam memberi nilai karena ia merasa lukisan anak-anak disini tidak sesuai dengan standar Choi Minho. Ia menghela nafasnya.

“Kau terlihat sangat lelah Choi Seongsangnim!”

Minho menoleh dan terkekeh kecil, “Masih banyak yang harus ku nilai….” Respon Minho pendek.

Kekehan kecil terdengar, “Aku pernah merasakan hal itu seperti mu. Pada saat awal-awal mengajar matematika. Kau harus mengerti betapa frustasinya diriku melihat anak-anak yang tidak mengerti di ajar berkali-kali. Padahal ketika TK aku sudah bisa menyelesaikan perkalian!”

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang di depannya adalah Cho Kyuhyun. Senior dalam mengajar. Walaupun begitu, Kyuhyun adalah orang yang baik. Ia tidak membedakan Minho sejak pertama mengajar. Ramah tetapi juga professional. Sedikit aneh karena ia mempunyai latar belakang lulusan Havard di bidang matematika tetapi memilih menjadi guru TK. Tentu saja ia jenius.

“Cho!”

Panggilan dari Shi Seongsangnim membuat Minho dan Kyuhyun menoleh.

“Hari ini jadi kumpul? Di rumah mu?”

Shi Seongsangnim atau bernama lengkap Shim Changmin juga senior bahkan lebih senior dari Kyuhyun. Mengajar sejak umur 18 tahun dan sekarang umurnya 29 tahun. Guru menyanyi di TK ini dan mempunyai vocal yang luar biasa. Sangat-sangat luar biasa. Dia dan Kyuhyun adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Ini dikarenakan mereka mempunyai umur yang sama dan bekerja disini ketika sama-sama masih muda.

“Tentu! Oemma ku yang akan memasak makan malam.” Kyuhyun kemudian menoleh ke Minho, “Kau ingin ikut Choi Seongsangnim?”

Minho tidak menyangka di ajak terdiam beberapa saat. “Tidak apa-apa?”

Changmin mengangguk mantap, “Tentu saja tidak apa-apa. Eiih…. Jangan pikir kami hanya berkumpul berdua saja. Lee Seongsangnim juga sering berkumpul dengan kita kok… Ini adalah perkumpulan guru-guru cowok disini.”

Minho akhirnya menganggukan kepalanya, “Boleh juga.”

“Eh, Junmyeon akan pulang bukan?” Tiba-tiba Yoo Seongsangnim menghampiri mereka.

Kyuhyun mengangguk, “Iya. Dia bilang jika bulan madunya dengan Joohyun sudah selesai.”
“Junmyeon?” Tanya Minho bingung.
“Oh, kau belum pernah bertemu dengan Junmyeon ya? Dia guru etika disini dan baru saja menikah.” Yoo Seongsangnim menjelaskan.

Kyuhyun tiba-tiba mendekat, “Junmyeon juga ikut dalam perkumpulan ku. Junmyeon, aku, Changmin, Jonghyun, dan sekarang dirimu.” Bisiknya kepada Minho.

Minho sendiri hanya mangut-mangut karena ini pertama kalinya ia tahu.

Kriiingggg~
Bel pulang berbunyi. Bel yang bukan hanya ditunggu oleh siswa tetapi juga ditunggu oleh guru. Pada bel ini pembelajaran berakhir dan siswa boleh bermain hingga pukul 2 siang. Sedangkan guru untuk jam makan siang, sebelum rapat wajib pada pukul 2 siang.

Minho meletakan kertas terakhir yang harus ia nilai. Ia kemudian berdiri, “Ada yang ingin ikut makan?”

Beberapa guru disana, bukan hanya Cho, Shim, dan Yoo Seongsangnim mengangguk. Mereka berbondong-bondong keluar. Mereka semua akan makan di tempat biasa, tempat makan yang tak jauh dari TK karena sekolah hanya menyediakan makanan khas anak-anak.

“Min Seongsangnim?”

Suara lembut itu seketika menghentikan Minho dari kegiatannya yang sibuk berbicara. Juga menghentikan gerombola guru-guru.

Mata Yoo Seongsangnim membesar, “Oh, Taemin Oemma?”

Minho langsung merasa tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli sampai tepat waktu. Ia sudah bertemu Taemin dan Taemin meminta waktu agar bisa bermain pada teman-temannya. Sulli mengiyakan selama 30 menit dari waktu satu jam yang Taemin minta. Saat baru saja selesai berbicara dengan Taemin, matanya tidak sengaja menangkap segerombolan guru yang ingin makan siang. Suara mereka terdengar jelas olehnya. Termasuk suara Minho yang asik bercengkraman.

“Jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu.”

Entah mengapa perkataan Krystal kembali muncul di benak Sulli. Apakah Sulli punya niat berbicara dengan Minho? Tentu saja! Dia ingin berbicara untuk meluruskan beberapa hal kepada Minho. Sulli hanya ragu karena ia bingung bagaimana caranya ia berbicara kepada Minho. Sulli hanya ragu apakah perasaannya akan menyeruak keluar, tidak terbendung, ketika ia melihat mata Minho. Dia harus berpikir jangka panjang karena sekarang dia adalah soerang istri dan ibu. Sulli tidak boleh gegabah.

Mendengar suara Minho saja membuat jantung Sulli berdetak tidak karuan. Astagaaa… Apa yang harus ia lakukan?

Sulli memejamkan matanya. Sekarang atau tidak pernah. Karena ia yakin, jika ia tidak akan bisa mengumpulkan nyali untuk berbicara dengan Minho.

Min Seongsangnim….” Panggil Sulli berusaha agar terdengar biasa saja.

Minho berhenti berbicara. Tetapi ia tidak menoleh. Malah Yoo Seongsangnim, salah satu guru killer-menurut Taemin- yang menoleh. Yoo Seongsangnim tersenyum lebar dan menanyakan kabar Sulli.
Sulli tersenyum tipis, sedikit berbasa-basi sejenak, “Saya ingin berbicara kepada Min Seongsangnim…” Kata Sulli di akhir kalimat.

Yoo Seongsangnim tertawa, “Min Seongsangnim ya?”

Tersadar jika ia salah memanggil nama Minho Sulli hanya tersenyum malu. Menahan mulutnya agar tidak mengoreksi menjadi Choi Seongsangnim. Semua guru-guru pasti bingung karena Sulli, setahu mereka, tidak pernah berkenalan secara formal dengan Minho.

“Kami akan makan siang.” Ucap Cho Seongsangnim dari belakang. “Jadi mungkin sebaiknya Anda harus berbicara lain waktu. Sehabis ini kami ada rapat. Sebaiknya juga Anda memberi tahu sebelumnya agar Choi Seongsangnim bisa mengatur jadwalnya.”
Gawat! Cho Seongsangnim adalah guru yang ditakuti oleh Sulli. Menurut Sulli ia adalah seorang professional yang tidak ragu mengatakan hal yang benar. Termasuk di situasi ini. Seharusnya Sulli memberi tahu sebelumnya. Tapi dia tidak berpikir panjang karena nyatanya ia memang tidak mau berbicara dengan Minho. Ini benar-benar ide yang muncul secara tiba-tiba.
“Tidak apa-apa….”

Deg!

Detak jantung Sulli langsung menggila ketika mendengar suara itu. Sulli mengepalkan tangannya. Tahan dirimu… Tahan dirimu bodoh! Rutuknya dalam hati.

Guru-guru menoleh ke Minho.

Minho membalas tatapan guru-guru, tersenyum meyakinkan, “Pasti ada masalah penting yang tidak dapat di undur hingga Oemma Taemin tidak sempat memberi tahu saya sebelumnya.”

Sulli terdiam mendengar perkataan Minho.

“Saya titip makan siang saya.” Lanjut Minho.

Guru-guru terlihat tidak bisa membantah dan akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Minho dan Sulli.
Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.TBC.

Holla… i’m back…  Maaf ya untuk Runaway agak lama update-nya.  Saya mengalami writer block khusus untuk Runaway…

Gimana pendapat mengenai Chapter ini?  Chapter selanjutnya Julli mungkin? 🌝✌️  Karena saya mau ngambil hiatus dulu ya dari tanggal 20 Mei sampai awal Julli atau akhir Juni, jadi kayaknya pertengahan   🙏🏻🙏🏻🙏🏻

State of Grace (Chapter 20)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun benar-benar menempati janjinya. Hampir semuanya. Sehun pergi memberi tahu orangtuanya dan mengabarkan ke pemilik apartment. Tetapi anak satu itu tidak mengajak Krystal untuk menghias apartment-nya. Ternyata, apartment-nya bukanlah apartment seperti biasa yang Krystal beli yang biasanya hanya tersedia ruangan kosong, hanya dapur dan kamar mandi yang diberi furniture. Apartment yang Sehun beli sudah dilengkapi oleh furniture, dari ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dan tentunya kamar mandi. Tidak ada lagi yang perlu di hias.

Krystal masih meamndang sekeliling ruang tamu Sehun.

“Bagaimana apartment-ku?” Sehun yang baru saja membawa beberapa kantong belanjaan berisi makanan menyadarkan Krystal dari lamunannya.

“Ini sama sekali tidak sederhana!” Krystal mengacak pinggangnya. “Kau berbohong kepadaku!”

Sehun terkekeh, “Aku tidak bilang ini sederhana. Aku bilang ini simple.”

“Dan ini tidak simple Sehun. Arsitektur apartment ini sangat mengagumkan!”

“Baiklah Nyonya Oh. Hentikan kemarahanmu okay?”

Krystal mendengus.

Sehun kembali tersenyum, “Kita tidak punya waktu yang banyak. Teman-temanku akan datang pukul lima sore. Sekarang, waktu telah menunjukan pukul setengah lima.”

Satu lagi, saat pertama kali menunjukan apartment ke Krystal, pada saat jam satu siang, Saat itu Krystal tidak bisa berkata apa-apa melihat apartment Sehun. Katakanlah ia bodoh karena berpikir jika apartment Sehun hanya terdiri dari ruangan kosong bercat putih. Sehun mengatakan jika ia ingin mengundang teman-temannya seperti Kang Seulgi dan Kai Kim untuk merayakan keberhasilan ia mendapatkan pekerjaan. Krystal mangut-mangut saja. Untuk apa juga ia melarangnya? Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli piring kertas dan gelas plastik tetapi berakhir membeli beberapa bahan makanan seperti telur dan roti.

Krystal ingin mengangkat salah satu kantong belanjaan tetapi dengan cepat Sehun membawanya duluan. Mereka akhirnya menyusun bahan makanan dalam kulkas.

“Tadi dirimu berencana untuk membeli pizza bukan?” Krystal bertanya disela-sela ia menyusun buah-buahan.

“Oh, ya benar.” Sehun kemudian menghentikan pekerjaannya, “Tunggu, aku akan memesannya.” Sehun mengambil handphone-nya dan memesan.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, Sehun kembali membantu Krystal.

“Aku tidak percaya menyetujui usulanmu.” Keluh Sehun ketika ia mengeluarkan beberapa balon dan perelengkapan pesta.

“Bukannya dirimu sendiri yang mengatakan ingin mempunyai latar yang bagus untuk berfoto? stand photo booth merupakan ide yang bagus!”

“Aku benci balon!” Sehun membuka balon-balon huruf yang tadi mereka beli. Tak lupa mengambil pompa untuk balon yang baru saja ia beli. “Balon adalah benda yang mengerikan! Apalagi ketika meledak!”

Krystal tertawa, “Astaga! Baru kali ini aku melihat laki-laki takut pada balon yang meledak!”

“Krystal….” Sehun menatap Krystal dengan memelas. Ia baru saja memompa balonnya dan balonnya terlihat sedikit terisi.

Krystal menghentikan tawanya dan berjalan menuju Sehun, “Biar aku saja yang memompa balonnya!”

Sehun sendiri kemudian hanya melihati Krystal memompa balonnnya. Kemudian melihat dengan horror balon yang membelendung. Ia pun terpaksa memegang balon ketika Krystal menyuruhnya untuk menempel di dinding. Bagaimanapun juga, rasanya aneh bagi Sehun jika Krystal harus memanjat untuk menempelkan balon huruf.

Ting tong~

Bel apartment Sehun berbunyi.

“Mungkin pizza.” Gumam Sehun. Tangannya masih sibuk menempel balon huruf.

“Serahkan pada ku!” Kata Krystal. Ia segera berjalan menjauhi Sehun yang saat itu berada di ruangan yang bisa disebut ruang keluarga, dengan adanya tv beserta home-theatre.

Cklek~

Tangan Krystal dengan santai membuka pintu.

“Sangjangnim?!”

.

.

.

.

.

Tifanny terperangah untuk beberapa saat ketika Krystal membuka pintunya. Ia mengeluarkan senyuman sinis, “Jadi benar jika kau berpacaran dengan Sehun?”

“Sangjangnim….” Krystal tidak bisa menemukan kata-katanya yang tepat.

“Kau kenapa berada di apartment anak ku?”

Krystal masih terdiam.

“Kau sadar apa yang menjadi penghalang dirimu dan Sehun?”

…..

“Dan kau masih berani untuk menentangnya?”

…..

“Krystal Jung, aku bertanya kepadamu! Kenapa kau bisa berada di apartment Sehun?!”
“Sangjangnim aku…”

“Aku tidak punya waktu banyak. Katakan alasanmu sebelum semua orang melihat kita!”

“Sangjangnim tunggu sebentar aku-“

Tifanny kembali memotong, “Kau tidak pantas berdiri di dekat Sehun. Anak ku… Anak ku bisa mendapat yang lebih baik daripada mu! Bukan hanya masalah ekonomi, masalah pendidikan pun kau jauh dibawah dia. Jadi untuk menyelamatkan harga dirimu, itupun jika masih ada, kuharap kau bisa pergi secepatnya dari apartment Sehun. Sebelum beberapa orang yang ku undang datang untuk merayakan kesuksesan Sehun.”

Nafas Krystal tercekat. Oksigen terasa menipis di sekitarnya. Udara tergantikan oleh kata-kata tajam Tifanny. Kakinya terasa tidak berpijak sangking ia merasa sangat malu, mengambang di tengah ketakutannya.

“Krys, siapa yang datang?” Sehun dengan santai jalan menuju Krystal. Melihat ibunya, ia langsung terkesiap keras, “Mom…”

“Sehun, apa yang ia lakukan disini?” Tanya Tifanny tidak mengindahkan air muka Sehun yang terkejut.

“Apa yang Mom lakukan disini?” Tanya Sehun balik.

“Mom ingin datang ke apartment mu. Tidak boleh? Yang harus dipertanyakan seharusnya dia!” Tifanny menunjuk ke arah Krystal, “Kenapa dia bisa berada disini? Dia seharusnya tidak pernah sedikitpun berada di dekatmu Sehun-ah!”

Sehun merasakan amarahnya naik. Ia ingin membalas ibunya dengan nada tinggi saat itu. Hampir. Jika saja ia tidak melihat Krystal tiba-tiba mundur, mengambil tasnya dan jaketnya kemudian keluar dari apartment Sehun.

“Sehun!” Panggil Tifanny ketika Sehun ikut mengejar Krystal.

Krystal berlari kecil, berharap bisa menghilang dari gedung ini secepatnya.

Grab!


Sehun berhasil memegang tangan Krystal. Dalam satu hentakan, dia berhasil membuat Krystal menghadapnya.

“Tunggu kumohon….” Kata Sehun lirih.

Krystal menundukan kepalanya. Ia tidak sanggup. Ia ingin menangis.

“Krys, mengenai tadi…” Lanjut Sehun dengan suara gugup bercampur panik.

Krystal mendongakan kepalanya. Menatap Lembut Sehun. Dengan sigap, ia mengenggam kedua tangan Sehun, “Aku mengerti.”

“Mengerti apa? Apa yang ibuku katakan kepada mu? Katakanlah kepada ku!”

“Sehun…” Ucap Krystal tenang. “Aku mengerti mengapa ibu mu datang ke apartment mu. Ia ingin merayakan keberhasilanmu. Dia sama sekali tidak melakukan hal yang salah…”

“Krystal…” Seru Sehun frustasi. “Astaga, jangan seperti ini… Ayo kita hadapi ibu ku bersama-sama. Jangan lari dari kenyataan.”

“Aku tidak ingin kau menghardik ibu mu. Ataupun kau memaki ibu mu. Ibu mu benar walau kenyataannya memang menyakitkan. Kehadiranku memang masih harus dipertanyakan….”

Sehun terdiam. Jangan! Jangan! Serunya dalam hati. Jangan! Dia tidak ingin ini menjadi akhir hubungannya dengan Krystal.

“Berjanjilah kepada ku satu hal…” Cengkraman tangan Sehun semakin kencang ketika Krystal berkata seperti itu, “Kita akan bertemu lagi setelah kau merayakan keberhasilan mu okay? Sekarang, kau harus merayakannya bersama ibumu dan teman-teman mu. Setelah itu… Setelah itu kita akan bertemu lagi…”

Ting~

Pintu lift terbuka. Krystal dan Sehun menoleh dan mereka terkejut satu sama lain. Wendy, Seulgi, Kai dan beberapa orang yang tidak Krystal kenali berada di lift itu. Sama seperti Sehun dan Krystal, mereka juga terkejut dengan pemandangan di depan mereka.

Krystal cepat-cepat melepaskan genggamannya. Sehun sendiri berusaha untuk tidak meraih kembali tangan Krystal. Krystal tersenyum lembut ke Sehun sebelum berbalik, berjalan menuju Lift.

“Anyeonghseyo….” Sapa Krystal kepada orang-orang yang keluar dari lift. Mereka terihat membalas sapaan Krystal dengan canggung.

Krystal kembali tersenyum ke Sehun sebelum pintu lift tertutup rapat.

.

.

.

.

.

Acara perayaan Sehun sukses. Semuanya berbahagia, kecuali Sehun tentunya. Dari makanan yang ia sediakan sampai stand photobooth yang Sehun dan Krystal buat sendiri berhasil menghidupkan suasana. Beberapa teman-temannya sudah mengundurukan diri. Pastinya yang lain akan menyusul mengingat waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Hanya Kai yang tidak akan pulang karena Sehun menyuruhnya untuk tinggal menjaga rumah. Sehabis ini, Sehun berencana akan bertemu Krystal langsung tanpa menunggu hari esok. Kejadian tadi sungguh menyiksanya. Apa yang ibunya katakan hingga Krystal mundur teratur seperti itu? Ia ingin tahu. Ia ingin merasakan apa yang Krystal rasakan.

“Oh Sehun!”

Suara akrab dari belakangnya membuat ia menoleh, “Do Kyungsoo!” Balasnya.

“Kau kelihatan sedikit depresi teman! Di pinggiran balkon menghadap ke jalan raya. Well, apapun itu ku ucapkan selamat atas prestasi membanggakan mu. Tapi aku harus pulang.”

Sehun dan Kyungsoo berbincang-bincang sebentar.

“Aku tidak melihat Chanyeol.” Kata Sehun menyadari hanya ada Kyungsoo dan Yixing.

Kyungsoo tertawa canggung, “Chanyeol ada acara. Dia menyampaikan maaf tidak bisa datang.”

Sehun menganggukan kepalanya, “Oh, tentu tidak apa-apa. Baiklah teman, sampai berjumpa lagi…”

Setelah kepergian Kyungsoo, beberapa orang juga ikut mengundurkan diri.

“Hey, sepupu!” Sapa Seulgi ceria.

Sehun hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Baiklah….” Kata Seulgi mengerti jika Sehun tidak ingin diganggu. “Tapi aku penasaran! Apa yang terjadi dengan Krystal? Kupikir kau ingin merayakan dengan dia bukan dengan dia….” Arah pandang Seulgi menunjuk ke Wendy yang sedang berbincang-bincang dengan Jimin.

“Rencananya begitu hingga ibuku datang dan menghardik Krystal…”

“Astaga… Jadi kau tadi putus dengan Krystal?”

Sehun mendesah, “Tidak. Tapi dia ingin aku tidak mengejarnya dan mengikuti pesta ini…”

“Itu artinya kau harus mengejarnya!”

“Aku tahu!” Desis Sehun tajam. “Tapi dia membuatku berjanji untuk menikmati pesta ini. Walaupun begitu aku akan datang kepadanya ketika acara sialan ini berakhir. Makanya kau cepat pulang sana!”

Secercah senyum tiba-tiba terukir di bibir tipis Seulgi, “Kurasa aku dapat ide bagus agar dirimu bisa pergi dari sini!”

.

.

.

.

.

Sehun mengendari mobilnya dengan cepat. Melintasi kota Seoul yang tidak terlalu ramai. Tujuan utamanya ke Café f(x). Berharap Krystal ada di situ untuk menghibur dirinya, berada di tengah-tengah orang yang ia sayangi.

Cklek!
Sehun segera membuka pintu mobilnya dan berlari memasuki Café f(x). Jantungnya kembang-kempis dan ia merasa membutuhkan lebih banyak oksigen. Setelah ia rasa nafasnya kembali normal, segera saja ia mengantri. Tidak enak tiba-tiba memotong dan berbicar langsung ke Luna.

“Selamat malam Sehun…..” Sapa Luna ceria.

“Selamat malam!” Balas Sehun. Berusaha agar terdengar ceria.

“Sebuah kejutan yang menyenangkan! Apa yang ingin Anda pesan?”

Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sebenarnya…. Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan Krystal.”

“Bora-ssi, tolong gantikan aku!” Setelah berkata seperti itu Luna kembai menghadap ke Sehun, “Kau, tolong ikuti aku!”

Sehun pun bingung. Tetapi Luna mengatakan hal yang sama sekali lagi membuat ia akhirnya mengikuti Luna. Luna mengajak Sehun kebelakang dapur. Melintasi dapur dimana para Chef sibuk memasak.

Trek~

Dia membuka sebuah pintu, “Tunggu disini sebentar.” Katanya kemudian masuk kedalam ruangan. Sekitar lima menit berada di sana, Luna akhirnya keluar, “Silahkan masuk…”

Sehun benar-benar seperti orang bodoh. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Mungkinkah diruangan itu ada Krystal? Ia memasukinya dengan perlahan.

Dan…………..Bahunya melesak ketika melihat orang yang di dalam. Victoria bukan Krystal.

“Sehun-ssi, selamat datang di ruanganku…” Sapa Victoria.

Sehun membungkukan badannya.

“Silahkan duduk…”

Sehun kemudian duduk di kursi Victoria. “Aku…” Sehun membuka pembicaraan. “Aku kesini untuk mencari Krystal…”

Mata Victoria melebar, “Aku tahu ada yang salah pada hari ini!”

“Maksudmu?”

Victoria menghela nafasnya, “Teman dekat Krystal adalah Amber. Amber adalah orang yang menemaninya dari panti asuhan hingga mereka sama-sama di adopsi. Tetapi Amber terkadang overprotective terhadap Krystal, itu membuatnya tidak bisa terlalu gerak bebas. Sulli juga teman dekatnya. Bersama Sulli mereka suka melakukan hal-hal aneh yang tentunya tidak bisa ia lakukan ketika bersama Amber, termasuk dalam urusan patah hati.

Krystal tadi menelepon Sulli. Sebenarnya hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi Luna tidak sengaja mendengar percakapan mereka, mereka merencanankan sesuatu, ke tempat yang tidak akan dirimu jangkau. Luna tahu jika Krystal sedang patah hati, dia menyimpulkan dari arah pembicaraan mereka.”

“Aku tidak…” Sehun terdiam sebentar. Ia menghela nafas, “Dengar… Aku rasa aku membuat ia patah hati. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ini semua di luar rencana. Seharusnya hari ini kami bersenang-senang.”

“Kau rasa?”

“Ibu ku datang ke apartment-ku. Krystal yang membukakan pintunya. Ibuku dan Krystal tidak mempunyai hubungan yang baik dan kurasa ibuku mengatakan hal-hal yang tidak pantas pada Krystal jadi….”

Victoria menganggukan kepalanya. Sehun tidak yakin dia mengerti, Victoria seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Victoria sunbaenim-“

Noona… Panggil saja aku Noona.” Potong Victoria

“Victoria Noona, anda tahu dimana Krystal dan Sulli?”

Victoria menggeleng.

Apa-apaaan itu? Sehun berusaha untuk tetap tenang. Walau kekesalan sudah berada di puncak. Jadi buat apa ia kesini dan menceritakan kepada Victoria jika Victoria sendiri tidak tahu?

Merasakan handphone-nya bergetar, Sehun segera mengambil handphone-nya. Ia permisi sebentar kepada Victoria untuk mengangkat handphone-nya.

Anyeonghaseyo…” Sapa Sehun asal-asalan.

Hai, teman ini aku!” Suara bass khas Chanyeol terdengar jelas.

“Aku tahu…” Jawab Sehun pendek.

Ada yang ingin ku sampaikan kepada mu…”

“Kalau soal dirimu yang tidak datang tenang saja…”

“Bukan! Ini tentang Krystal!”

Sehun langsung mencengkram handphone-nya, “Kau tahu dimana dia? Kau melihatnya?”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Aku tahu kau pasti akan tertarik…”

“Cepat katakan dimana dia!” Seru Sehun geram.

“Tenang teman…. Dia ada di Café teman ku. Temanku baru membuka Café dan ia mengundangku untuk bernyanyi. Krystal disitu dengan seorang gadis cantik. Hey, kau tahu nama gadis cantik tersebut?”

Sehun memutar bola matanya, “Choi Sulli dan dia mantan pacarnya Kai. Sekarang dimana Krystal?”

“Oh benarkah? Sayang sekali. Sepertinya aneh jika aku mendekati Sulli…”

“Chanyeol….”

“Baiklah….. Di Café Italiana by Lee Jinki. Aku akan mengirimkan alamatnya kepada mu!”

Setelah itu Chanyeol memutuskan teleponnya. Sehun menatap Victoria, “Noona tahu Café bernama Italiana by Lee Jinki?”

Mata Victoria membesar, “Mereka disitu?” Ia mengangguk, “Tentu aku tahu. Itu Café temanku. Hari ini adalah Soft Openingnya. Mereka mengundangku, tetapi aku tidak bisa datang karena hari ini aku baru pulang dari Osaka.”

“Baiklah… Kalau begitu aku permisi dulu Noona….”

“Tunggu…”

Langkah Sehun terhenti, ia kembali menghadap Victoria.

Victoria sendiri terlihat membuka laci mejanya dan mencar-cari sesuatu, “Ini…” Katanya mengasih kupon. “Aku baru ingat jika pada Soft Opening hanya orang-orang yang mempunyai kupon ini yang bisa masuk….”

Sehun menerima kupon dari Victoria, “Terimakasih Noona…”

.TBC.

Runaway (Chapter 2)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

3rd January 2013

Tangan yang dilumuri oleh cat-cat hitam itu mematikan puntung rokoknya yang ingin habis. Mengambil puntung rokok yang baru dan menghidupkannya.

Fuuhh~

Asap nikotin kembali melayang di udara. Menusuk penciuman laki-laki yang sedang menerima telepon.

“Kau gila?! Jika ayahmu tahu kau merokok, kau akan di bakar hidup-hidup!”
“Nyatanya dia tidak tahu.” Jawab laki-laki tersebut cuek.

“Ini tinggal menunggu waktu sampai ayahmu tahu… Astaga Minho-yah… Sejak kapan kau menjadi seorang perokok?!”
“Ck! Kau terdengar mirip seperti ibuku Kim Jonghyun. Sudahlah… Jangan khawatirkan masalah ini. Aku yang akan menanggungnya.”

“Kapan kau pulang?”

Minho menghentikan kegiatan merokoknya, berpikir sejenak, “Untuk apa?”

“Pulang saja…..”

“Kau pikir pulang dari Korea itu murah?”

Terdengar hening sejenak, “Tidak sih… Tapi ini ada masalah penting. Sebaiknya kau pulang.”

“Jika ada masalah penting aku pasti sudah mengetahuinya. Nyatanya semuanya tenang-tenang saja. Ada apa denganmu? Kau terlihat mencurigakan.”

Hening kembali. “Entahlah.” Jawab Jonghyun terdengar putus asa, “Aku bingung ingin berkata seperti apa kepadamu. Lebih tepatnya aku takut mendengar jawabanmu.”

“Kau sedang aneh. Aku akan menelepon mu kembali ketika kau sedang normal, okay?”

“Minggu nanti!”
Minho menghentikan tanggannya yang hampir saja memutuskan telepon, “Apa? Ada apa dengan hari itu?”
Tut~ Tut~ Tut~

Telepon terputus. Minhun menyeringit bingung. Tetapi mengangkat kedua bahunya-tanda tidak peduli.

.

.

.

.

.

6th January 2014

Minho kembali menyesap minuman bertitik rendah itu. Rasa pahit mengiringinya. Ia tidak perduli. Rasa pusing mulai menyerang dirinya. Ditambah pandangannya yang sudah mengabur.

“Aku mencintaimu~”

“Minggu nanti!”

Minho tertawa hambar meningat dua percakapan tadi. Gila! Pikirnya dalam hati. Percakapan pertama dari seorang wanita yang benar-benar ia cintai. Yang kedua adalah dari sahabat terdekatnya yang mengabarkan, jika wanita yang ia cintai akan menikah-bukan sudah menikah lebih tepatnya.

Tidak perduli sudah berapa kali Minho meminumnya, pikiran dia masih melayang ke percakapan itu.   Minho menggeram. Dia datang kesini untuk mengalihkan pikirannya. Tapi malah semakin terjerumus ke dalam pikiran tersebut.

“Hallo liefde, u lijkt te zijn erg verdrietig (Hai sayang, kau kelihatannya sangat muram).” Seorang perempuan berambut pirang, entah dari mana tiba-tiba menghampiri Minho. Tanpa malu, memeluk tubuhnya dan menyandarkan dagunya ke bahu lebar Minho. Berbicara tepat di telinga Minho.

Minho tersenyum miring. Ia menolehkan kepalanya, menatap perempuan tersebut, “ Wat ik heb gekend? (Apa aku mengenalmu?)”

Perempuan tersebut tertawa. “Tidak.” Katanya dengan bahasa Belanda. “Tapi kita bisa berkenalan sekarang bukan?”

Hembusan nafas keluar dari Minho. Mungkin seharusnya ia tidak datang ke sebuah club sendirian. Mungkin minum dirumah sampai tak sadarkan diri lebih baik daripada harus di ganggu oleh orang-orang tak jelas. “Aku harus pergi!” Kata Minho dingin.

“Ohh, ayolah….” Perempuan tersebut masih bertahan di posisinya. Tangannya sekarang memeluk pinggang Minho.

Brak!

Minho yang kesal dengan perlakukan perempuan tersebut kepadanya langsung bangkit dan menyebabkan perempuan tersebut terhuyung ke belakang, dan kemudian jatuh ke lantai.

Bugh~

Satu pukulan mendarat di pipi kanan Minho.

Wat doe je aan Nima? (Apa yang kau lakukan kepada Nima?)” Seorang laki-laki botak menatap Minho tajam.

Beberapa orang mengerubungi Minho, perempuan yang bernama Nima tersebut, dan laki-laki yang sama sekali tak dikenalnya.

“Katakan kepadanya jangan menganggu ku!”

Bugh~

Satu pukulan kembali Minho dapatkan. Ia meringis. Kali ini, dia bisa merasakaan sebuah bau anyir. Minho menyentuh hidungnya, darah segar tengah mengalir.

Bugh~

Kali ini, sebuah pukulan Minho layangkan kepada laki-laki yang sama sekali ia tidak ketahui namanya tersebut.

.

.

.

.

.

23rd December 2013

Kehidupan Minho memburuk. Setelah perkalian di club yang memperlibatkan seorang perempuan bernama Nima, Minho harus menemukan dirinya kalah telak dalam perkalian tersebut. Minho dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Itupun karena ia memaksakan untuk pulang agar masalah ini tidak tercium oleh keluarganya. Tapi, bukannya meredup, masalah barupun muncul.

Minho yang diberi obat peringan rasa sakit menjadi candu akan obat-obatnya itu. Sangkin candunya, ia tidak dapat melewati tes bulanan universitasnya, dimana di tes itu juga terdapat tes narkoba. Akibatnya, ia di keluarkan dari universitasnya, di deportasi dari Belgia, dan sekarang mendekam di balik rumah sakit khusus orang-orang sakau.

Minho sendiri, selama tiga bulan dirawat di rumah sakit menunjukan perubahan yang sangat baik. Bahkan sudah bisa dikatakan bersih. Tetapi Dokter belum mau melepaskan Minho karena psikis-nya yang belum membaik. Menurut Dokter, dia seperti itu karena stress yang berlebihan. Jadi, sebelum mereka bisa menemukan masalah stress Minho, Dokter tidak mengizinkan Minho keluar dari rumah sakit.

Cklek~

Pintu kamarnya terbuka. Minho pura-pura memejamkan matanya-tidur agar tidak diberi pertanyaan tidak penting oleh perawat disini. Bagi Minho mereka bukan seperti seorang perawat, tetapi seseorang yang memiliki tujuan lain.

“Obatnya!”

Suara nyaring itu membuat Minho membuka mata dan ia tersenyum lebar mendapati Jonghyun mengunjungi dirinya.

“Kau terlihat senang.” Kata Jonghyun yang menaruh tasnya di sebuah sofa tak jauh dari tempat tidur Minho.

“Tidak ada yang pernah menjenguk ku selama ini.” Aku Minho jujur. Ayahnya terlalu muak melihat dia yang selalu membuat masalah. Sedangkan anggota keluarga yang lain takut untuk mengunjungi dirinya karena ayahnya. Tidak ada yang berani melawan keputusan Ayahnya.

Jonghyun menganggukan kepalanya. Ia kemudian duduk di bangku bersebelahan dengan tempat tidur Minho, “Ibu mu memberi salam untukmu. Ia berkata akan kesini secepatnya.”
Minho menghembuskan nafasnya, “Katakan padanya agar jangan membuat ayah marah. Aku tidak ingin bertemu dengannya jika ia melanggar perintah ayah.”

Jonghyun menganguk patuh. “Ehm…” Ia berdehem, “Sebenarnya, aku mempunyai tujuan lain untuk datang kesini….” Jonghyun kemudian mengambil sebuah dompet dari saku jeans-nya. Membukanya dan mengambil sebuah foto.

Minho yang melihat foto tersebut tertawa, “Astaga Jonghyun-ah… Apakah kau ingin mempraktekan apa yang dokter sini telah praktekan kepadaku? Bercerita dengan sebuah foto?”

Jonghyun mendengus, “Kau sudah melewati fase itu kau tahu! Sekarang dokter hanya menyuruhmu menuliskan cerita bukan?”

“Bagaimana kau tahu?”

Sebuah seringai pun muncul, “Aku berbicara dengan perawat cantik di depan.”
Minho tersenyum kecil. Percayalah, Jonghyun adalah seorang playboy sejati. Ia pasti hanya menyapa si perawat tadi dengan senyumannya. Berbasa-basi sebentar, mungkin mengenalkan dirinya yang juga lulusan kedokteran, dan akhirnya perawat tadi melakukan apapun yang Jonghyun inginkan. Termasuk menceritakan keadaan Minho yang sangat rahasia.

Karena tidak ada tanggapan dari Minho, Jonghyun kembali berbicara, “Aku memang akan bercerita. Tapi kujamin tidak sepanjang cerita doktermu.” Ia kembali berdehem, “Namanya Taemin dan umurnya tiga bulan. Dia… Dia adalah anakmu.”
Mata Minho langsung terbelak. Tetapi belum Minho memberikan komentar, Jonghyun kembali berbicara, “Dia anak mu dengan Sulli. Itu adalah alasan Sulli menikah dengan Jongin. Untuk menyelamatkan Taemin. Dia yakin, jika dia hamil di luar nikah, keluarganya pasti menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Dan juga dirimu yang lebih memilih kuliah karena tekanan keluargamu. Kecil kemungkinan kau akan bertanggung jawab. Jongin tiba-tiba melamar Sulli ditengah kekalutannya. Dia… Dia tidak bisa melakukan apapun kecuali menerimanya…” Helaan nafas terdengar dari Jonghyun, “Sulli pasti akan membunuhku jika ia tahu aku memberi tahu hal ini kepada mu. Tapi aku tidak bisa. Serapi apapun rahasia di tutupi, dia akan keluar pada akhirnya. Pada akhirnya, Taemin akan mengetahui siapa ayah kandungnya. Dan aku… Aku hanya tidak bisa membayangkan jika ia menemukan ayah kandungnya berada disini.”

Tangan Minho tiba-tiba mengambil foto Taemin dan menatapnya, “Matanya… Matanya sangat lucu.” Ia terkekeh kecil.

Jonghyun tersenyum kecil, “Matanya mirip Sulli. Tetapi bibirnya seperti dirimu. Aku hanya berharap dia tidak irit bicara seperti mu!”
Minho mendelik ke arah Jonghyun, tetapi dengan cepat kembali menatap foto Taemin, “Aku ingin melihatnya secara langsung…”

Jonghyun menatap Minho penuh harap. Berharap agar apa yang ia sudah korbankan, kepercayaan Sulli setimpal dengan bangkitnya Minho dari keterpurukannya. “Kau harus keluar dari sini terlebih dahulu teman!”
Minho mengiyakan omongan Jonghyun.

.

.

.

.

Present Day~

Butuh 4 tahun bagi Minho untuk mengatur ulang kehidupannya. Ia menghabiskan waktu satu tahun berada di rumah sakit sebelum sekolah kembali ke Jerman, dimana dia berhasil mendapat beasiswa selama 2 tahun. Setahun belakangan ini, Minho sibuk menjadi kurator gallery.

“Minho!” Suara lantang Tuan Kwon-pemilik galeri, membuat Minho tergesa-gesa datang kepadanya. Tuan Kwon tidak sendiri, ia bersama laki-laki yang berumur kira-kira 40 tahun. Minho yakin jika laki-laki itu akan menggantikannya menjadi curator di museum ini.

Seminggu yang lalu dia memutuskan mengundurkan diri menjadi kurator gallery. Rasanya membosankan. Ia ingin mencoba hal yang lebih menantang. Seperti, ikut bersama para arkeolog meneliti lukisan zaman dahulu? Entahlah.

Anyeonghaseyo sangjangnim.” Sapa Minho ramah. Tidak lupa ia juga membungkukan badannya.

Tuan Kwon hanya tersenyum, “Kenalkan, aku sudah membawa pengganti mu. Namanya Jung Jaewoon.”

Orang yang bernama Jung Jaewoon tersenyum lebar menatap Minho, “Sungguh kehormatan bisa bertemu denganmu.” Mengulurkan tangannya untuk menjabat Minho.

Minho menjabat tangan Jung Jaewoon, “Sunggu kehormatan bagiku juga.”

Tuan Kwon mengangguk-anggukan kepalanya, “Sepertinya aku akan menyerahkan semuanya kepada dirimu Minho-yah!

Minho mengangguk patuh, “Tentu.” Ia kemudian membungkukan badannya kembali ketika Tuan Kwon pergi. Kemudian menatap Jung Jaewoon, “Baiklah Jung Jaewon-ssi, sebaiknya kita mulai dari koleksi-koleksi yang ada di museum ini.”

.

.

.

.

.

Jung Jaewoon tidak pernah merasa segugup ini dihidupnya. Ia baru saja mengenal orang di sampingnya, tetapi mendengar dari cerita Tuan Kwon-bos barunya membuat ia sangat segan terhadap orang ini. Umur mereka berbeda sangat jauh. Hampir 2 windu berbeda, orang disebelah Jung Jaewoon sangat muda, tetapi sangat-sangat berpengalaman dibanding dirinya. Bagaimana tidak? Langsung tamat kuliah dia dipercaya memegang gallery paling bagus di Seoul. Tanpa perlu riwayat pekerjaan. Asalkan Jung Jaewoon? Dia terseok-seok sampai akhirnya memberanikan diri melamar di gallery tersebut.

“Belok kiri Jung Jaewoon-ssi?”

Jung Jaewoon menoleh ke arah Minho, “Iya. Belok kiri.” Katanya dengan gugup.

Minho tersenyum kemudian membelokan mobilnya. Setelah pelatihan singkat di gallery Minho menawarkan mengantar Jung Jaewoon. Laki-laki ini tiba-tiba terlihat sangat gugup setelah mengangkat sebuah telepon. Jung Jaewoon juga tidak membawa kendaraan. Sedangkan Minho yang tidak ada kerjaan lagi akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Jaewoon.

“Disini tempatnya.”

Minho segera memberhentikan mobilnya tepat di depan sekolah untuk anak berusia 3-7 tahun. “Jadi disini tempat kerja anda, Jung Jaewoon-ssi?

Jung Jaewoon mengangguk, “Benar.”

Minho melihat sekilas ke arah anak-anak yang baru pulang.

Deg!

Detak jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat. Mata itu…. Oh, ia sedang tertawa dan menyebabkan matanya membentuk bulan sabit.

“Minho-ssi…” Jung Jaewoon menatap Minho aneh. Minho tersadar dan segera berdehem.

“Maaf. Uhm.. Jung Jaewoon-ssi,”

Jung Jaewoon mengurungkan niatnya untuk keluar. Ia menatap Minho sekali lagi,

“Jika kau keluar maka sekolah ini membutuhkan guru baru bukan?”

Jung Jaewoon hanya bisa mengangguk, “Iya. Pendaftarannya sudah di buka. Tapi belum ada yang mendaftar.”

Minho sekarang menatap Jung Jaewoon, “Bagaimana jika aku mendaftar menjadi guru disekolah ini?”

Jung Jaewoon membulatkan matanya. Tidak dapat menyembunyikan terkejutannya, “Anda yakin?”
Minho menganggukan kepalanya, “Iya. Lagipula penelitian baru akan dimulai 4 bulan lagi. Jadi… Tidak ada salahnya mencoba hal yang baru bukan?”

Lagi-lagi, Jung Jaewoon hanya bisa mengangguk. “Baiklah. Silahkan datang ke sekolah ini besok pagi, pukul 7.15. Membawa CV Anda. Berpakaianlah yang rapi seeprti orang-orang yang ingin datang ke kantor.” Jung Jaewoon berhenti sejenak, “Maksud saya berpakaian formal.”

Minho menganguk-anggukan kepalanya.
“Baiklah, Choi Minho-ssi. Saya permisi terlebih dahulu. Terimakasih.”

Minho mengangguk sekali lagi. Ketika Jung Jaewoon benar-benar sudah keluar dari mobilnya, mata Minho kembali menerawang ke sekolah tadi. Tidak salah, itu adalah Taemin. Sebuah kerinduan menyusup di benaknya.

Taemin, sebentar lagi Appa berada di dekatmu.

.TBC.

Notes: Long Time No See guys….  Jadi, karena Minho sekolah di Belgia dan di Belgia 59% menggunakan bahasa belanda jadi ada beberapa percakapan yang aku buat menggunakan bahasa belanda.  Tapi maaf nih, kalo bahasanya salah.  Soalnya aku 100% translate doang 😅  See You Soon ya…. 😊

Runaway (Chapter 1)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Kring…. Kring… Kring…

Perlahan tapi pasti, Sulli membuka matanya. Mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum ia mengambil handphone-nya dan mematikan alarm.

Jongin juga ikut bangun. Ia menyibakan selimutnya, “Sudah jam enam pagi?”

Sulli mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jongin. Kemudian, mereka berdua turun dari tempat tidur. Jongin bersegera mandi. Sulli pergi ke kamar Taemin, anaknya untuk membangunkannya. Setelah itu Sulli akan bergegas membuat sarapan untuk Jongin dan Taemin. Saat Taemin dan Jongin sarapan, Sulli baru akan mandi. Dia baru akan memakan sarapannya di kantornya, butik pakaiannya Seoul-Ri sesudah ia mengantar Taemin terlebih dahulu.

Inilah rutinitas Sulli setelah menjadi istri Jongin. Berusaha menjadi ibu yang baik bagi Taemin. Juga membangun karirnya sebagai fashion designer.

.

.

.

.

“Tentu saja kau harus ikut pertemuan ini. Astaga Sul…” Krystal menarik nafasnya yang sudah habis. Kemudian kembali berbicara dengan nada mendesak, “ Dengan pertemuan ini, butik kita dikenal oleh orang-orang penting dari majalah di Seoul. Jika mereka tertarik dengan rancangan kita, mereka bisa mengontrak kita. Itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat sangat sangat sangat-“

Sulli meringis mendengar rentetan kalimat Krystal, sekertarisnya juga teman masa kecilnya yang baru menyelesaikan kuliah fashion designer-nya di Paris. Yang entah mengapa ingin bekerja dengan Sulli, dibawah kendali Sulli. Padahal gadis ini lebih cocok disebut co-worker sangking berkuasanya. Secara, tidak ada sekertaris yang berani menentang dan menyuruh-nyuruh atasannya.

Helaan nafas keluar dari mulut Sulli. Ia memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sebelum pukul sepuluh pagi, “Aku mengerti… Tapi siapa yang akan menjaga Taemin? Pertemuan ini akan diadakan selama 5 hari….”

“Ayolah Sul…” Pinta Krystal dengan nada memohon, “Kau itu diundang oleh mereka. Jika kau menolaknya entah apa yang terjadi dengan butik kita. Juga, jika pakaianmu sudah digunakan di majalah, berarti dirimu sudah melangkah lebih dekat ke impian besarmu, runaway fashion!!

Kembali, Sulli menghela nafas. Sulli juga menatap Krystal dengan tatapan memohon, “Kau harus mengerti…”

“Kau bisa mengajaknya bukan? Ayolah dia masih TK. Bukan sebuah masalah jika ia bolos selama lima hari…. Benarkan?”

“Jongin tidak mengizinkannya…”
“Apa?!” Nada suara Krystal meninggi bersamaan dengan emosi yang meningkat, “Maksudmu…” Krystal mendelik, “Bagaimana bisa dia…”

Sulli menunggu Krystal dengan was-was. Takut jika emosi Krystal meledak.
Krystal mulai berbicara kembali, “Bagaimana….”

“Aku akan membicarakan ini dengan Jongin, okay? Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Sulli kemudian memasang senyum manisnya.

Krystal hanya bisa mendengus, “Awas saja jika Jongin tidak ingin menjaga Taemin.”

Sulli mengangkat kedua bahunya, “Kau kan bisa.”

“Apa?!” Krystal kembali mendelik ke arah Sulli. Dia sangat tidak menyukai anak-anak. No… No… No…

“Cepat kembali ke ruanganmu. Pekerjaan sudah menunggu!” Titah Sulli putus asa. Tidak berani menaikan emosi Krystal. Dasar, sekertaris terburuk! Untung saja teman dekat.

.

.

.

.

.

Flash kamera menyambut Sulli dan Krystal ketika mereka keluar dari mobil. Panasnya busan langsung terasa, seakan menyambut mereka. Perkumpulan para fashion designer seluruh Korea, baik yang sudah terkenal hingga ke mancanegara sampai yang seperti Sulli, beberapa kalangan saja diadakan. Acara selama lima hari ini dimaksudkan sebagai ajang berbagi pengalaman juga mengenalkan koleksi mereka ke khalayak yang lebih luas.

Mereka berdua, Krystal dan Sulli menggunakan koleksi S/S Collection terbaru butik Seoul-Ri. Sulli menggunakan Summer Dress bermotif yang di dominasi oleh putih gading. Rambutnya ia ikat sederhana. Juga dilengkapi oleh makeup minimalis. Sedangkan Krystal menggunakan Jumpsuit bermotif bunga-bunga. Rambutnya ia biarkan tergerai, dengan make up yang juga tidak terlalu tebal. Gelang di tangan kanannya melengkapi gaya chick nya.

Nafas Sulli mulai memendek ketika ia mulai berjalan mendekati wartawan. Ia menghembuskan nafasnya secara perlahan. Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Ucapnya dalam hati menyemangati dirinya.

“Bisa di wawancarai sebentar….” Sulli bersumpah jika detik itu juga, tanggannya langsung menjadi dingin.

.

.

.

.

.

Oemma! Oemma!” Suara riang Taemin berhasil menyadarkan Sulli kembali. Perlahan, ia memukul kecil pipinya agar tersadar.

Nde….” Jawab Sulli mengantuk berbalik dengan Taemin yang masih sangat riang. Sulli menggerutu. Pasti Taemin sekarang sedang di jaga oleh Eunso, adik tirinya Jongin. Sedangkan Jongin pasti belum pulang. Hal ini melanggar perjanjian mereka dimana Jongin akan selalu menemani Taemin dari jam lima sore. Karena Taemin orangnya sangat rewel dan tidak bisa diatur kecuali oleh Sulli dan Jongin.

“Tadi di sekolah Taemin kedatangan guru baru. Guru yang menggantikan Jung Seongsangnim!”

“Taemin semangat sekali menceritakannya. Padahalkan Taemin sedih ketika Jung Seongsangnim keluar.”

“Iya itu karena gurunya lebih asik dan seru! Terus perhatian, ramah, gak pernah marah…. Pokoknya seru banget! Habis itu dia ngerti lagi apa yang Taemin tanyakan. Lukisannya juga bagus… Pokoknya Taemin seneng banget!”

“Taemin tahu dari mana jika gurunya gak pernah marah? Nanti kalau dia marah gimana?”
“Ih… Gak. Pokoknya Min Seongsangnim gak pernah marah!”

Sulli terkekeh kecil. Namanya juga anak kecil.

.

.

.

.

.

Sekarang Sulli bertanya-tanya. Ia bingung dengan Taemin. Selama lima hari di Busan selama itu pula Taemin menceritakan guru barunya.

“Taemin entah mengapa sangat menyukai Min Seongsangnim.”

“Melebihi suka Taemin kepada Appa?”

“Iya. Melebihi Appa!”
Itulah yang membuat Sulli bingung. Apa sih yang dilakukan oleh guru baru itu hingga Taemin sangat menyukainya? Pikiran Sulli kembali melayang ke hari selanjutnya, dengan tema yang masih sama, Min Seongsangnim.

Kenapa Taemin sangat menyukai Min Seongsangnim? Memangnya Min Seongsangnim pernah melakukan hal-hal berbeda yang tidak dilakukan oleh guru-guru yang lainnya?”
“Gak ada sih… Sama seperti yang lain. Tapi begini
Oemma, Taemin itu suka aja ngeliat Min Seongsangnim. Inginnya dekat-dekat dengan dia.

Tambah bingung kan? Krystal bercanda mengatakan jika Taemin mungkin tertarik dengan guru barunya. Yang membuat Sulli langsung tak bisa tidur nyenyak selama di Busan. Amit-amit deh…. Sulli belum bisa membayangkan jika anaknya memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Tidak dapat dipungkiri, Sulli mulai mempercayai perkataan Krystal. Ia sampai-sampai membayangkan jika guru baru itu juga tertarik dengan Taemin. Amit-amit…. Maka dari itu, hari ini, Sulli yang baru saja menginjakan kakinya ke Seoul langsung memutuskan untuk menjemput Taemin.

Krystal hanya tersenyum jahil kepada Sulli. Sangat bahagia karena Sulli masuk ke dalam perangkapnya. Sulli sih masa bodoh. Mau Krystal anggap dia apapun hingga disebut terlalu parno Sulli tidak peduli. Soalnya ini masalah anaknya. #Eaaa

.

.

.

.

Terlalu bersemangat hingga Sulli terlalu cepat sampai. Ia mendesah. Bingung ingin melakukan apa. Akhirnya Sulli memutuskan untuk memainkan hp-nya. Mengabari info ini kepada Krystal yang menyebabkan gadis itu kembali mengetawai Sulli. Sulli hanya bisa mendengus dan membalas, ‘Kau akan seperti diriku jika sudah punya anak!” dan Krystal langsung menjawab dengan satu kata, “Diamlah!”

Berganti, Sulli-lah yang tertawa. Temannya itu sangat tidak menyukai anak kecil, bahkan sampai tidak mau punya anak. Menurutnya mereka itu rewel, berisik, cengeng, intinya menganggu. Benar sih… Tapikan beda rasa antara anak sendiri dengan orang lain.

“Yeaaayy…”

Suara ramai menandakan anak-anak sudah pulang. Sulli segera menutup chat-nya, meletakan handphone-nya, dan keluar dari mobilnya. Menunggu Taemin dengan hati yang berdebar-debar. Menahan rindunya kepada Taemin. Ia menunggu cukup lama karena Taemin selalu keluar yang paling terakhir. Taemin sangat suka bermain di TK-nya hingga harus diseret pulang oleh guru-gurunya.

Akhirnya Taemin datang. Taemin melambaikan tanggannya kepada Sulli. Sulli langsung tersenyum sangat lebar dan membalas lambaian tangan Sulli. Tetapi Taemin tiba-tiba berbalik. Kemudian mendengus.

Oemma tunggu sebentar ya!”

Dahi Sulli bekerut. Kenapa Taemin tiba-tiba berbalik? Ia menghela nafasnya dan berjalan searah dengan Taemin.

“Tapi Min Seongsangnim harus bertemu dengan Oemma! Taemin tidak mau tahu!” Suara Taemin langsung terdengar dari lorong-lorong TK yang sepi. Remang-remang, tetapi Sulli bisa melihat Taemin berbicara dengan seseorang. Orang tersebut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taemin sehingga Sulli tidak dapat melihat wajahnya yang tertutup dengan badan Taemin.
“Taemin…” Panggil Sulli lembut.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.TBC.

 

Runaway (Prolog)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

 

“Hiks…. Hiks… Hiks…” Isak tangis seorang gadis mengisi kekosongan kamarnya. Sang gadis mengusap kasar air matanya. Ia memejamkan matanya.

Tes!

Air matanya kembali turun.

“Apakah kau mau menikah denganku?”

Lagi-lagi, air matanya kembali turun. Ia mencoba mengatur pernafasannya. Menghirup udara dan mengeluarkannya dengan perlahan, mencoba membuat dirinya tenang.

Hufh~

Sulli-gadis tersebut sudah mulai merasa tenang. Ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju cermin. Menatap bayangan dirinya.

Kemudian, kembali memejamkan matanya kembali. Rasa frustasi kembali menjalari dirinya. Sulli masih mencoba mengatur pernafasannya.

Tenang Sulli… Kau pasti bisa melewati hal ini….

Dengan perlahan, tangannya membuka laci dan mengambil kotak kecil bewarna merah. Sulli membuka kotak tersebut, sebuah cincin bertaburkan berlian terdapat di kotak tersebut.

“Aku tahu ini bukan cincin pernikahan seperti biasanya. Tetapi aku tahu ini akan cocok untukmu.”

Sulli mengambil cincin tersebut. Melihatnya dengan seksama.

Mungkin pernikahan ini adalah jalan keluarku?

Ia kembali menghembuskan nafasnya, sebelum akhirnya menyematkan cicin tersebut ke jari manisnya.

tumblr_static_original

.

.

.

.

.

Sulli menahan nafasnya. Ia begitu terkejut dengan semua ini. Kedatangan Jonghyun yang tiba-tiba. Tatapan Jonghyun yang marah. Suaranya yang dingin. Ia juga memegang kedua bahu Sulli. Membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.

“Apa benar kau akan menikah dengan Jongin?! Sulli jawab aku!”

Suara Jonghyun kembali mengembalikan fokus Sulli yang tadi hilang entah kemana. Sulli mengerjap, “Euhm… Kenapa?”

Jonghyun melepaskan kedua tangannya. Ia menjambak rambutnya frustasi, “Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa.”

“Bukan maksudku…” Jonghyun menghela nafasnya, mencoa menghilangkan rasa frustasi, “Bagaimana dengan…. Kau tahu…. Kau baru saja bertemu dengan Minho dan sekarang memutuskan menikah dengan Jongin.”

Sulli menghembuskan nafasnya, “Aku memikirkan keputusan ini dengan matang-matang Jonghyun-ah….” Ia mengenggam tangan Jonghyun, “Ini adalah keputusan yang terbaik.”

“Bukan begitu…. Aku merasa ragu… Kau baru saja berhubungan dengan Minho kembali.”

Sulli mengangkat tangannya, “Lupakan Minho. Ku mohon. Sekarang hanya ada Jongin tidak ada lagi Minho.”

“Bagaimana jika dia masih menyukai mu Sulli-yah? Kau juga masih menyukainya bukan?”
Air mata Sulli turun perlahan. Ia menggelengkan kepalanya, “Ia tidak akan pergi lagi jika masih mencintai ku.”

“Aku akan mencari dirinya. Membawa dirinya kembali ke sini. Ja-“

“Itu tidak cukup!” Teriak Sulli tiba-tiba. “Itu tidak cukup! Kau butuh waktu berapa lama untuk membawanya kesini? Berhari-hari? Berminggu-minggu? Atau bahkan berbulan-bulan? Atau ia tidak ingin kembali kepadaku?”

“Sulli…”

“Aku hamil anaknya.”

“Apa?!”
Sulli mulai terisak. Ia menggigit bibirnya, berusaha mengontrol isakannya, “Aku hamil anak Minho, Jonghyun-ah. Aku kalang kabut ketika pertama kali mengetahuinya. Maksudku… Maksudku apa yang akan kulakukan? Minho sudah pergi melanjutkan sekolahnya keluar negeri. Ia jelas-jelas mengatakan kepadaku jika itu merupakan pertemuan terakhir mereka. Aku tidak bisa mengatakannya kepada siapapun. Aku bisa kehilangan segalanya karena hal ini-hal yang mereka anggap memalukan. Di tengah kekalutanku Jongin tiba-tiba melamarku. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Menolaknya?” Sulli menghapus air matanya, “Sudah kubilang, aku sudah memikirkan hal ini dengan baik-baik.”

Jonghyun menghela nafasnya, “Maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Aku pikir kau gegabah.”
“Tidak apa-apa. Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku.”

.

.

.

.

.

.

Choi Sulli namanya. Ia masih muda. Masih sangat muda. Umurnya baru 23 tahun. Tetapi dia memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Kim Jongin. Sayangnya, kekasihnya bukan pemilik hatinya. Pemilik hatinya adalah Choi Minho. Kakak kelasnya di fakultas sama dengannya. Kalau Sulli mengambil jurusan mendesign baju atau fashion designer makan Minho memilih jurusan seni murni.

Jujur, Sulli hanya berpura-pura saja ingin berpacaran dengan Minho. Karena tantangan dari teman-temannya jika Minho menyukai Sulli. Benar saja, laki-laki tersebut sangat menyukainya. Selama enam bulan Sulli menjadi pacarnya, laki-laki itu selalu melakukan yang terbaik kepada Sulli. Kadang-kadang memang sedikit mengecewakan, tetapi sorot laki-laki itu sangat jujur, menyanyanginya sehingga Sulli melupakan rasa tersebut. Rasa cinta muncul kepadanya secara tiba-tiba. Ia terjerat dalam cinta itu.

Lain seperti Minho yang memang mencintai Sulli dari awal dengan tulus, Sulli hanya ingin bermain-main dengan Minho pada awalnya. Itulah malapetaka dari jalan cerita mereka. Minho mengetahuinya dan memutuskannya. Ia terbelengu dengan cinta Minho, kesalahannya, juga kekesalannya kepada teman-temannya yang memberi tahu tentang ini.

Teman-temannya berkilah jika mereka memberi tahu Minho karena menurut mereka ada yang lebih baik dari Minho, seperti Oh Sehun atau Kim Jongin yang jelas-jelas menyukainya. Sulli mencebik, darimana mereka tahu?

Hatinya tambah meringis ketika mengetahui jika Minho memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Belgia. Rasanya…. Entahlah… Dia merasa sangat sesak tidak terekspresikan. Kecewa terhadap dirinya. Sangat kecewa. Kim Jongin datang di kehidupannya. Sorot matanya sama seperti Minho sehingga Sulli berharap jika Jongin dapat menggantikan posisi Minho.

Tapi Jongin tidak dapat menggantikan Minho. Sorot matanya memberikan ketenangan kepada Sulli. Kata-kata dari mulutnya memberi kehangatan di hatinya. Tetapi jantungnya tidak berdebar-debar. Begitu tenang hingga rasanya tak berdetak seperti orang yang mati. Sulli belum bisa melupakan Minho. Ia masih terbelengu dalam cinta Minho.

Ketika mendengar Minho kembali, Sulli mencoba keberuntungannya. Ia ingin menjelaskan semuanya kepada Minho. Semuanya. Ketika bertemu dengan Minho, susah awalnya karena Minho menyambutnya dengan sangat-sangat dingin. Tetapi tak dapat dipungkiri, dengan sedikit saja memohon kepada Minho, laki-laki itu luluh kepadanya. Mereka berbicara berdua, di tempat yang lebih sepi dari sebuah café yang biasa Minho kunjungi.

Entah apa yang terjadi, Sulli tidak tahu. Mungkin dari efek Minho yang memeluknya ketika ia menangis. Atau otaknya yang tidak dapat berpikir jernih karena jantungnya berdetak sangat keras. Karena emosinya yang tidak stabil. Karena hatinya yang kacau. Malam itu benar-benar kelabu hingga Sulli tidak merasakan apapun. Hanya panik di pagi hari ketika ia mengetahui apa yang benar-benar terjadi.

Pagi itu, ketika ia bangun, Minho sudah berada di sampingnya. Menatapnya dengan lembut hingga ketakutan Sulli langsung senyap. Hanya menyisakan kegilaan akibat detak jantungnya yang berdegup sangat cepat karena tatapan Minho. Mereka berbicara dari hati ke hati sehabis itu.

“Aku… Aku minta maaf jika aku menyakitimu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin terasa seperti, klise. Begitu cepat hingga kita terjatuh sangat dalam. Aku mencintaimu sungguh… Tidak peduli apa yang kau lakukan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melepaskan mimpiku. Aku tidak boleh mundur untuk mengejar mimpiku.

Sulli langsung mengerti. Ia tidak dapat membuat Minho untuk tinggal. Maka dari itu, harapan dia pupus Minho ingin kembali kepadanya jika mendengar kabar tentang dirinya. Ia tidak bisa membayangkan Minho menolaknya. Sullipun hampir saja bunuh diri jika Jongin, yang entah mengapa melamarnya. Mengajak ia menikah.

Dan dari hal-hal bodoh yang ia lakukan, disinilah Sulli. Di ruang penuh tamu. Memaksakan sebuah senyum bahagia selagi ia menyapa tamu-tamu pernikahannya. Membalas ucapan para tamu dengan nada suara yang harus bahagia.

Disinilah Sulli, disamping Jongin.

.FIN.

State of Grace (Chapter 15)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Maaf ini semua salahku.” Wendy menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang di depannya.

Sehun mendengus, “Tentu ini salahmu!”

“Sehun-ah, aku ingin memberi tahu lebih awal-“
“Memberi tahu lebih awal?” Sehun menatap jengah Wendy. Kekesalan mulai terpancar dari wajahnya, “Wendy… Astaga!!! Itu bukan penyelesaian masalah! Kau jelas-jelas selingkuh di belakang ku dan bilang jika kau akan memberi tahu perselingkuhanmu lebih awal?”

“Bukan.” Wendy mulai menatap Sehun. Nafasnya tercekat, tetapi dengan pelan-pelan, sebuah kalimat terluncur dari bibir tipisnya, “Aku ingin memberi tahu mu jika hubungan kita sebaiknya tidak dilanjutkan.”

Sehun terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang tidak pernah disangkanya. Setelah diam beberapa detik, Sehun tersenyum sinis. “Tidak kusangka….” Ia kemudian menatap Wendy, “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Menahanmu? Lakukanlah terserah dirimu… Aku juga tidak ingin bersama dirimu lagi!”

Deg!

Wendy langsung membuka matanya. Ia meletakan tangannya di atas dada, merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Kenapa dia harus bermimpi hal itu?

Tring~

Wendy kembali tersentak ketika hp-nya berbunyi. Merasa bodoh karena hal itu, ia mengambil handphone-nya dengan merengut.

Hari ini narasumber kita datang. Tolong wawancara dia. Aku telah mengirimkan email mengenai dirinya.

“Astaga… Di hari minggu yang cerah ini?” Wendy menatap malas hp-nya. Dengan tenang, ia kembali menarik selimut meliputi tubuhnya dan kembali terlelap.

.

.

.

.

“Ini? Atau ini?”
“Kau cantik dengan apapun yang kau pakai…” Amber kembali menatap malas Krystal. “Dan berhenti mengeluarkan semua baju dari lemari mu!”

Krystal teriak frustasi. “Aku harus menemukan baju yang cantik. Ini adalah makan siang ku bersama teman-teman Sehun.”

“Mereka hanya teman-teman Sehun Soojung-ah.”
“Tetap saja…”

Tangan Krystal masih sibuk memilih-milih baju dari lemarinya. Sedangkan Amber kembali menatap handphone-nya.

“Apa yang harus kupilih?” Tanya Krystal lebih ke dirinya.

“Amber! Menurutmu apakah aku cantik menggunakan warna pink?”

“Apa?!” Amber langsung menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Sejak kapan kau suka menggunakan warna pink?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Hanya mencoba hal baru. Ayolah…. Bantu aku memilih bajunya…”

Amber mendecak sebal tetapi ia bangkit dari tempat tidur Krystal. Berjalan ke arah lemari, “Kurasa jangan memakai hiasan di rambutmu karena itu akan membuat dirimu sangat manis. Kau harus kelihatan cantik. Jadi…. Bagaimana ini?” Amber memperlihatkan sebuah blouse bewarna putih, “Tidak. Ini terlalu simple…” Lanjut Amber dengan sendirinya, “Ini? Ini?” Amber ikut-ikutan mengeluarkan baju seperti Krystal, “Bagaimana dengan yang ini?” Sebuah kemeja bewarna biru tersodorkan ke depan Krystal.

“Jangan!” Kata Amber lagi, mendahului Krystal yang baru saja ingin berbicara. “Atau kau memakai kaus oblong saja?” Amber terlihat berpikir keras, kemudian menghela nafas. “Kau saja yang pilih. Aku lelah.”
“Yak!” Tangan kanan Krystal dengan cepat memukul bahu Amber.

.

.

.

Slurp~

Sehun mendesah lega ketika hot chocolate melewati tenggorokannya. Mengusir rasa dingin yang dari tadi ia rasakan. Sehun menoleh ke sebelah kiri, dan ia tersenyum lebar melihat Krystal yang sibuk tertawa bersama Seulgi. Agak kesal memang karena Krystal lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya, tetapi ia tidak dapat memungkiri, senyuman dan tawa gadis itu menghilangkan segalanya.

“Oh Sehun…”

“Hm…” Respon Sehun pendek. Karena ia tahu siapa yang memanggilnya-Kai.

“Yak! Bocah busuk!” Kai memukul kepala Sehun. Membuat Sehun meringis, “Cepat bantu kami mengambil bahan makanan untuk makan malam!”

“Tidak usah memukul kepalaku!” Desis Sehun geram. Ia segera bangkit, mengikuti arah Kai pergi.

Dilain pihak, Krystal dan Seulgi masih berbicara tentang melukis. Terlihat, mereka nyaman dengan lawan bicara mereka.

“Benarkah?” Tanya Seulgi antusias. “Wow! Kau seharusnya mengikuti lomba melukis internasional. Aku yakin kau akan menang.”
Krystal tertawa kecil, “Kau terlalu berlebihan Seulgi-yah. Lukisanmu itu sangat bagus. Apalagi yang ….. itu sangat menakjubkan!”
“Dan lukisan abstrak-mu juga sangat-sangat menakjubkan! Ah, pokoknya aku yakin dirimu pasti akan menang!”

Krystal dan Seulgi kemudian saling diam. Bingung ingin berbicara apa lagi.

“Bagaimana jika besok aku datang ke rumahmu? Kau tau… Kita bisa saling berbagi pengalaman tentang melukis.”

“Seulgi-yah..” Krystal menatap Seulgi dengan tatapan yang hampir tidak percaya.

“Jika kau mau.” Lanjut Seulgi dengan tersenyum lebar. “Atau jika dirimu tidak sabar kita bisa memulai malam ini. Dengan dirimu yang menginap di rumahku terlebih dahulu. Untuk baju, tenang saja, kau bisa meminjam baju ku dulu. Paginya kita akan berangkat kerumah mu. Bagaimana?” Kedua alis Seulgi terangkat. Senyum jahil tertampil di wajahnya.

“Seulgi-yah…” Kali ini, tawa Krystal kembali meledak. Ia kalah menghadapi Seulgi yang orangnya menggampangkan segala hal. Berbeda dengan dirinya. Juga berbeda dengan Sehun, dimana dia baru menyadari hal ini ketika berbincang dengan Seulgi.

Seulgi juga ikut tertawa. Menurutnya, Krystal memiliki tampang dingin seperti sepupunya-Sehun yang membuatnya sedikit…. Tidak ingin berbicara padanya karena takut akan seperti sepupunya yang sangat irit berbicara. Tetapi, ketika berbicara dengan Krystal, gadis ini membalasnya. Bahkan Krystal orang yang mudah hanyut dalam pembicaraan.

“Krystal!”
Seulgi dan Krystal tersentak ketika suara Sehun menginterupsi. Entah dari kapan Sehun berada di depan mereka.

“Aku butuh berbicara dengan Krystal.” Tanga Sehun melingkar di pergelangan tangan Krystal. Sebelum Seulgi merespon, ia sudah menarik Krystal menjauh dari Seulgi

.

.

.

Mereka masih saling diam- Krystal dan Sehun. Krystal sendiri bingung ingin berbicara apa ke Sehun. Laki-laki disampingnya ini terkesan menutupi sesuatu. Tegang bercampur cemas terlihat di wajahnya. Sayangnya, setiap Krystal ingin bertanya Sehun hanya menjawab ‘Jangan khawatirkan aku,’; atau ‘Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus pulang cepat.’.

Dalam keheningan mereka, mobil sudah memasuki jalan besar Seoul. Memotong ke segala arah untuk mencapai tujuan. Alis Krystal sedikit bertaut ketika mobil Sehun melewati f(x).

Krystal menoleh, ingin bertanya. Tetapi kembali diam ketika melihat Sehun yang sedikit panik.

….. (Mobil berhenti).

“Aku akan keluar sebentar.” Sehun segera membuka seatbelt.

Grab!

Tangan Krystal menahan tangan Sehun. Krystal tersenyum lembut, “Aku akan berada di sini.”

Sehun bernafas lega untuk pertama kalinya sejak ia menerima telepon tersebut. Nada suara Krystal begitu lembut. Juga makna dari katanya yang memiliki arti lebih-baginya. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Sehun mengangguk dan keluar dari mobil.

.

.

.

.

.

Mata Krystal sedari tadi terus melihat gerak-gerik Sehun. Sehun rupanya bertemu dengan laki-laki yang ia temui di café ketika terakhir kali dia ke sana. Kalau tidak salah nama laki-laki ini adalah Seojoon. Mereka sedang berbicara di trotoar jalan depan sebuah hotel. Sedikit tegang karena sepertinya mereka membicarakan suatu yang sangat serius. Seojoon lebih tenang dari Sehun. Sehun seperti terburu-buru, bukan! Lebih benar dikatakan ia menuntut sesuatu dari Seojoon.

Sehun dan Seojoon terus berbicara hingga ada orang yang menghampiri mereka. Seketika, Krystal langsung membulatkan matanya. Tifanny Sangjanim. Ibu dari Sehun. Wanita itu terlihat sangat tidak baik. Ia benar-benar marah. Langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Keadaanpun menjadi sangat tidak baik. Sehun berubah menjadi emosi. Krystal? Dia hanya bisa menyaksikan semua ini dari balik jendela mobil. Tidak mungkin ia turun. Pasti hal ini akan menambah sebuah masalah. Krystal hanya bisa melihat tanpa membantu sedikitpun.

Tes!

Air mata Krystal menetas dikarenakan hal tersebut.

.

.

.

.

.

Seojoon merasa kepala berkedut. Apakah ia salah memberi tahu Sehun jika ia ingin kembali ke Amerika? Apakah salah jika ia memberi tahu berita ini kepada adik kandungnya sendiri?

Yang jelas, salah atau tidak sepertinya ibunya menganggap hal ini salah.   Jelas terlihat bagaimaan perdebatan panas antara Sehun dan ibunya.

Mommy tidak pernah sudi sampai kapanpun!” Teriak Tifanny. “Jangan pernah dekat lagi dengan dia!”

Seojoon tersentak. Bahkan ibunya tidak memanggil namanya

“Dia?” Sehun sekarang berteriak, “Dia itu punya nama! Bagaimana Mommy tidak pernah memanggil namanya?!”
Sudah! Teriak Seojoon dalam hati. Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas.

Tifanny mendengus, “Suatu saat dirimu bersyukur karena telah berjauhan dari dia!” Ia menatap Seojoon tajam sebelum kembali menatap Sehun, “Ayo kita pulang! Mom akan pastikan dirimu pulang! Jadi kita akan pulang bersama!” Tifanny berbalik, bukan ke mobilnya melainkan ke mobil Sehun.

Melihat hal tersebut Sehun langsung menahan ibunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti tidak ingin ibunya berjalan menuju mobilnya.

Mom…” Panggil Sehun kepada ibunya yang terus berusaha jalan menuju mobilnya.

Seojoon membuang nafas. Tangannya terulur menyentuh tangan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya.

“Lepaskan Sehun, dia tidak bersalah!” Kata Seojoon dalam.

Tifanny menatap Seojoon dengan sangat marah, “Lepaskan Sehun?!” Ulang Tifanny dengan nada suara mengejek. Ia kemudian tertawa kencang, “Jadi sekarang dirimu melindunginya?!” Sekarang, posisi Tifanny benar-benar berbalik,badannya benar-benar menghadap Seojoon.

Seojoon kembali menghela nafas, “Dia adalah adik ku.”

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Seojoon, “Kau tak pantas bilang itu kepada siapapun!” Desis Tifanny tajam. “Tidak setelah perbuatanmu terhadap Jinri.”
“Apa yang terjadi kepada Jinri?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Tifanny tersenyum sinis, “Kau tidak tahu yang terjadi? Oh, mungkin ini saatnya dirimu tahu yang terjadi.”
“Hentikan semua ini!” Teriak Seojoon tiba-tiba.
“Lihatlah dia, dia tidak ingin kebenaran terungkap.”

“Aku tidak bersalah!”
“Dengarkan Mommy, dia berada di situ dan hanya melihat Jinri tenggelam. Dia tidak melakukan apapun kecuali menangis!”

Sehun terhuyung ke belakang. Kenyataan pahit ini…

Seojoon berjalan mendakiti Sehun. Berusaha menggapainya.

Tak!

Sehun menepis tangan Seojoon.

“Dengarkan aku terlebih dahulu….” Pinta Seojoon.

“Aku memang melihatnya tenggelam, tapi aku mencoba mencari pertolongan. Aku berteriak meminta tolong. Tidak ada yang datang.” Seojoon menceritakan kejadian terburuknya untuk pertama kalinya kepada adik kandungnya.

“Pembohong!” Teriak Tifanny yang tidak terima, “Itu semua bohong!”
Dengan sigap, Seojoon berbalik ke arah Tifanny, “Aku tidak bohong! Bukankah semua ini adalah salahmu? Membiarkan Jinri bermain tanpa pengawasan sehingga ia jatuh ke kolam?”

Plak!

Lagi-lagi Tifanny menampar Seojoon. “Jangan pernah mengajariku bagaimana cara merawat anak. Aku tahu cara itu.”

Brak~

Tifanny dan Seojoon berbalik karena suara tersebut. Sehun menabrak pintu mobilnya sendiri. Ia terlihat sangat kosong. Dengan sisa tenaga terakhir, Sehun membuka pintu mobilnya. Satu detik lagi Sehun akan jatuh.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”
.

.

.

.

.

Krystal tidak dapat menahan dirinya lagi untuk diam. Melihat keadaan Sehun yang sangat shock. Dia bergegas keluar. Segera menahan tubuh Sehun.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”

Suara Tifanny membekukan Krystal. Dia hanya dapat melihat Tifanny dengan segenap rasa takut, “Sangjanim…

Tifanny masih terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum sinis. “Ini adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. Mengapa dirimu disini? Apakah….” Tifanny terdiam sejenak. Terlihat takut dengan apa yang ia utarakan, takut akan apa yang ia rasakan benar. “Apakah kau berpacaran dengan Sehun?”

Jari-jemari Krystal mencengkram lengan Sehun. Dia begitu takut dan merasa sangat dipermalukan. Krystal kembali menunduk.
“Ayolah, hanya jawab tidak apakah itu susah?” Tanya Tifanny lagi. Tidak ada jawaban dari Krystal Tifanny menatap Sehun, “Apakah benar dia pacarmu?”

“Iya.”

Pengakuan Sehun membuat Krystal mendongak. Ketika ia mendongak, ia menemukan Tifanny terhuyung ke belakang. Yang pasti badan sangjanim-nya akan membentur aspal jika saja Seojoon tidak menangkapnya.

.TBC.