State of Grace (Chapter 19)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Donghae sudah berada di luar lebih lama dari perkiraan Tifanny dan Wendy. Ia mendengar perkataan Tifanny dan Wendy. Terutama dibagian Tifanny yang mengatakan jika ia akan selalu berada di samping Wendy. Tanpa sadar, Donghae mendesis. Merasa kesal dengan apa yang Tifanny lakukan.

“Kau kenapa?” Tanya Tifanny yang bingung dengan perilaku Donghae. Donghae tidak terlihat seperti biasanya. Ia hanya diam dan melakukan pekerjaannya. Maksud Tifanny Donghae tidak mengajak Tifanny berbicara seperti biasanya. Dia merasakan sebuah kehilangan yang besar akibat hal tersebut. “Apa kau bertengkar dengan Yoonah?” Tanya Tifanny lagi.

Donghae langsung menghentikan kegiatannya. Ia menatap Tifanny tajam, “Istirahatlah. Kau bisa pulang sore nanti. Siwon sudah mengatakan kepadaku jika ia akan menjemputmu.”

“Kenapa aku marah kepada ku?” Kekesalan muncul di benak Tifanny. “Apakah itu karena Siwon yang ingin menjemputku?”

“Bukan!” Teriak Donghae frustasi. Ia langsung mendekatkan dirinya ke Tifanny. Berbicara dengan nada yang sangat dalam dan pelan. Tidak ingin membuat orang di luar curiga dengan apa yang terjadi di dalam. Karena ia tahu, karirnya dipertaruhkan dalam hal ini. “Ini bukan masalah Yoonah dan Siwon, Tifanny. Tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.”

“Tapi kau marah-marah kepadaku!” Kata Tifanny dengan nada yang masih kesal. Detak jantungnya sudah mulai naik.
Donghae menghembuskan nafasnya, “Dengar, aku tidak seharusnya mencampuri urusanmu. Aku menghormati setiap keputusanmu dan setiap pandanganmu. Tapi, kali ini aku tidak tahan.”

Tifanny hanya diam. Menunggu perkataan Donghae yang selanjutnya, “Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung bukan Wendy Son?” Mereka sama-sama diam. Hingga akhirnya Donghae kembali berbicara, “Aku mengetahuinya dari Sehun jika kau bertanya-tanya dari siapa aku mengetahuinya. Dengar Tifanny, aku-“
“Keluarlah!” Suara Tifanny terdengar sangat lirih. Air matanya mengenang di pelupuk matanya. “Kumohon……”

Donghae menghela nafasnya sekali lagi. Dia harus mengalah untuk kali ini. “Kita berdua yang paling tahu apa maksud mu dengan Wendy bukan?” Setelah itu Donghae berbalik dan keluar dari kamar Tifanny.

.

.

.

.

Sehun tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Semuanya begitu kacau. Ia memutuskan untuk berdiam diri di apartment Krystal sampai ia bisa memutuskan sesuatu.

Biasanya tempat pelariannya adalah rumah Kai. Tetapi, berhubung masalah ini sudah sangat besar dan kemungkinan besar ayahnya akan sangat marah kepadanya, dia berpikir jika lari ke rumah Kai adalah masalah besar. Bisa-bisa menimbulkan keributan besar di sana. Jadi, mau tidak mau Sehun lari ke apartment Krystal sampai ia menemukan penyelesaian masalah. Ia kembali melihat hp-nya. Menunggu balasan dari Kai.

Tring!

Sebuah pesan masuk dan itu dari Kai. Segera saja Sehun membukanya.

Apa kau yakin dengan yang kau lakukan? Bukankah itu namanya lari dari masalah?

Sehun segera menjawab pesan Kai,

Iya, kau benar. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Tinggal disana sama saja memasukan diriku ke dalam penjara.

Terserah dirimu saja. Baiklah, aku akan melakukannya.

“Sedang menghubungi siapa?”

Sehun tersentak hebat ketika menyadari Krystal sudah ada dibelakangnya. “Ah?” Tanyanya masih syok.

Krystal menatap Sehun curiga, “Kau sedang apa?”

“Sedang mengurus sesuatu.” Jawab Sehun pendek. “Kukira kau sudah tidur.” Karena Sehun memaksa untuk tinggal di apartment Krystal, maka Krystal memaksa Sehun untuk tidur di sofa. Secara kamar yang dimiliki Krystal hanya satu.

“Aku memang sudah tidur. Kemudian aku terbangun karena ingin buang air kecil.” Krystal tersenyum pendek dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Setelah Krystal menghilang dari balik pintu kamar mandi, Sehun diam-diam kembali melihat hp-nya. Sebuah pesan masuk lagi, dan masih dari Kai.

            Jangan lupa membayarnya ya!

Sehun mendengus, ia segera membalasnya,

Iya, pelit!

.

.

.

.

Tifanny menuangkan secangkir kopi kepada Siwon. Ia menghela nafas untuk yang kebeberapa kalinya di pagi yang cerah ini. Keadaan di rumah sangat mencekam. Sehun juga tidak pulang kemarin malam.

“Apa kau sudah menyelidiki kemana Sehun pergi?” Tifanny lagi-lagi bertanya kepada Siwon.

Siwon yang masih sibuk dengan tablet-nya menganggukan kepalanya, “Dia tidak ada di rumah Kai ataupun di hotel Seojoon. Dia juga tidak memakai kartu kreditnya kecuali membeli bensin di pom bensin dekat rumah sakit.”

“Adakah yang lebih detail daripada itu? Setidaknya mengatakan jika ia baik-baik saja.”
Siwon menghela nafasnya. Ia meletakan tabletnya dan menatap Tifanny, “Umurnya sudah 23 tahun Tifanny. Dia sudah menyelasaikan kuliah dan sebentar lagi akan di wisuda. Sudah mendapat perkejaan. Dia pasti akan baik-baik saja.”

“Aku tidak mengerti mengapa dirimu sama sekali tidak panik karena dia menghilang.” Kata Tifanny dengan nada sinis.

Siwon kembali menghela nafasnya, “Berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Dia sudah besar dan dia akan kembali kepada kita. Aku yakin jika dia menghilang selama satu hari saja. Hari ini dia pasti akan kembali.”

“Aku masih tidak tenang!”

Siwon menyesap kopinya, “Dengar, aku tetap menyuruh orang untuk mencarinya. Aku juga akan terus memantaunya. Tetapi aku harus berangkat kerja. Ada rapat bersama kolegaku, Tuan Kwon mengenai pembangunan hotel terbaru di Bali dan aku harus menghadirinya.”

Tifanny mendelik, “Tidak bisakah kau lupakan pekerjaan mu sebentar dan mengurusi keluargamu? Ini masalah yang lebih penting Siwon-ah!”

“Masalah penting apa? Sehun hanya kabur seperti biasanya. Dan kamu yang baru keluar dari rumah sakit karena stress. Seojoon yang tiba-tiba muncul tapi aku yakin dia tidak berani macam-macam ke kita. Tidak ada masalah yang penting. Aku yakin kau bisa mengurusnya.” Siwon segera mengurusi barang-barangnya. Memasukan tablet-nya ke dalam tasnya.

Tifanny menunduk. Dia merasa ingin menangis. “Uhm… Pergilah!” Katanya dengan suara yang diusahakan ceria. “Pergilah!”

Siwon menghampiri Tifanny, “Aku akan pulang lusa.” Mengecup singkat pipi Tifanny dan melangkah keluar dari dapur.

Hiks!

Hiks!

Bersamaan dengan itu, air mata Tifanny mengalir.

.

.

.

.

Sehun masih sibuk mengunyah sarapannya, tetapi matanya tidak lepas dari handphone-nya.

“Kau terlihat sangat sibuk.” Gumam Krystal sambil menyesap tehnya.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Mungkin.” Ia kemudian menghentikan kegiatan makannya dan melihat ke arah Krystal, “Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan.”

Melihat sikap Sehun yang sangat gugup membuat Krystal juga ikutan gugup. Ia pun menganggukan kepalanya perlahan.

“Aku…” Sehun diam sejenak. Menghela nafas. “Aku akan pindah ke sebuah apartment. Baru saja aku rencanakan, bukan, maksudku aku merencanakannya tadi malam dan sudah mendapatkan apartment yang bagus dengan harga yang terjangkau, juga dekat dengan kantorku. Oh, apakah aku lupa bilang kepada mu jika aku diterima disuatu biro hukum? Jadi, kurasa mulai dari sekarang aku akan tinggal di apartment.”

Apartment?” Krystal hanya bisa menatap Sehun, “Maksudku tidak tinggal lagi dengan orangtua mu?”
Sehun menganggukan kepalanya.
Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Bukannya itu artinya kau melarikan diri dari sebuah masalah? Masalah dengan orangtuamu belum selesai tetapi dirimu sudah memutuskan berpisah dari mereka?”
Sehun terlihat berpikir, “Kau benar.” Akunya. “Aku memang selalu kabur jika bertengkar dengan mereka. Tetapi mengubah seseorang dengan satu malam bukanlah suatu yang mudah. Orangtuaku tetaplah orangtuaku. Aku adalah aku. Kami terbiasa dengan situasi seperti ini, tidak peduli jika Mom akan sangat panik ketika aku menghilang. Ia tetap tidak mengubah kebiasaannya untuk terus menahan pendapatnya hingga aku lelah dan memutuskan untuk kabur.”

“Tetapi ini bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan, kabur dari sebuah masalah.”

“Okay, bagaimana jika seperti ini, aku akan menyelesaikan masalah denganku dengan orangtuaku tetapi tetap tinggal di apartment?”

Krystal akhirnya mengangukan kepalanya, “Baiklah. Itu adalah ide yang bagus.”

Krystal teringat sesuatu, “Tapi kau harus mengatakannya kepada orangtuamu.”

“Apa?!”

“Iya, maksudku memberi tahu orangtuamu mengenai dirimu yang akan pindah ke apartment.” Krystal tiba-tiba mengkerutkan keningnya, “Kau tidak berpikir jika kau pindah tanpa memberi tahu mereka bukan?”

Sehun mendengus, “Memberi tahu mereka adalah ide yang sangat buruk.”

“Sehun…” Baiklah, kali ini Krystal benar-benar menghentikan kegiatan sarapannya  dan menatap ke Sehun, “Bagaimana bisa kau tidak memberi tahu mereka?”

“Tentu saja bisa!”

Krystal berkacak pinggang, “Sesuatu yang buruk dimulai dari sebuah prasangka yang juga buruk. Kau sudah berpikir yang buruk-buruk mengenai kedua orangtua mu. Bagaimana bisa mereka bisa mempercayai mu jika kau juga tidak mempercayai mereka? Bicaralah baik-baik dengan mereka. Katakan jika kau harus pindah ke sana untuk memudahkan pekerjaan mu. Mereka pasti akan mengerti, walaupun tidak pada hari itu juga.”

Sehun terdiam mendengar penjelasan Krystal. Dalam hati Sehun mengakui jika Krystal benar. Ia kembali mendengus, “Baiklah. Aku akan mengatakan pada orangtua ku.” Sehun kemudian berdehem, “Aku akan pulang sekarang.”

“Maksudmu? Tunggu, kau tidak marah kepadaku bukan?” Krystal menghampiri Sehun. Raut wajahnya terlihat khawatir.
Sehun menggeleng, “Tentu saja tidak.” Ia kemudian tersenyum, “Aku benar-benar akan pulang. Kemudian memberi tahu ibuku mengenai hal ini.”

Krystal tetap diam. Bingung ingin berbicara apa, “Aku tidak mengerti dirimu sama sekali.”
Sehun mengangkat kedua bahunya, “Lebih cepat lebih baik. Pemilik apartment menunggu kepastian ku siang ini.   Aku memberi orangtuaku, ke pemilik apartment, dan kita bisa menghias apartment.”

“Apa?” Nada suara Krystal tambah bingung. “Apa-Astaga! Aku sama sekali tidak mengerti dirimu!”

Sehun tersenyum licik, “Bersiaplah jatuh ke dalam pesonaku yang itu Nyonya Oh!”
Tap!

Krystal segera memukul bahu Sehun. Pipinya bersemu merah. Ini memalukan. Tetapi, ini juga membuat dirinya bahagia.

.TBC.

 

 

 

 

 

 

 

 

State of Grace (Chapter 18)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun kembali tersenyum. Tidak pernah lelah melihat Krystal yang sedari tadi sibuk memasak makanan untuknya. Perempuan di depannya sibuk ke kanan dan ke kiri. Memotong beberapa sayuran. Mencicipi setiap masakannya. Sebelum akhirnya meletakan makanannya ke meja makan, dimana Sehun dengan setia menunggunya.

Sehun mengambil sebuah sumpit. Ia menunggu Krystal yang sedang mengambilkan nasi untuknya, “Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskannya…”

Jantung Krystal berdetak lebih cepat mendengar kalimat yang dilontarkan Sehun. Ia berdehem kemudiam memberi sebuah mangkuk nasi ke Sehun.

“Tentu saja ini pasti sempurna. Yang membuatnya saja sudah sempurna…”

“Cepat habiskan sebelum dingin!” Kata Krystal dengan nada sedikit tinggi. Ia tidak marah. Hanya saja… Hanya saja dia berharap Sehun bisa menghentikan semua gombalannya dan membiarkan jantungnya kembali tenang.

“Yak, kenapa tiba-tiba marah kepadaku? Lagipula aku tidak memakannya karena masih sangat panas!”

Krystal menatap tajam Sehun. Tidak terima jika perkataan Sehun tadi hanya sebuah selingan untuk menunggu makanan menjadi dingin. Dengan cepat Krystal mengambil sumpit dan memakan telur dadarnya, sekedar ingin mebuktikan ucapan Sehun.

“Hey, kau menghabiskan seluruh telur dadarnya!” Pekik Sehun menunjuk piring kosong yang tadinya berisi telur dadar.

Krystal yang sibuk mengunyah makanan tersadar, “Aku… Aku akan membuatkannya lagi. Tenang saja!” Krystal segera bangkit dan berjalan kembali menuju dapur. Menyalakan kompor, menuangkan sedikit minyak ke wajan penggorengan, dan mengambil telur sisa tadi ia memasak.

Hug!

Krystal tersentak ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. “Sehun…” Kata Krystal tercekat.

“Hmmm…” Sehun memejamkan matanya. Dagunya ia taruh di bahu Krystal.

“Aku tidak bisa memasak jika kau seperti ini….” Krystal bergerak ke samping kanan dan kiri. Berusaha melepaskan dirinya dari Sehun.

Tangan Sehun dengan pelan mengambil telur yang ada di tangan Krystal, kemudian membukanya dan menaruh telur tersebut ke wajan penggorengan. Masih dengan posisi yang sama, tangan kananannya menyentuh tangan kanan Krystal yang memegang sumpit, mengangkat tangan kanan Krystal menuju wajan penggorengan, “Bagaimana? Kau masih belum bisa memasak jika aku memelukmu dari belakang?”

Krystal hanya diam tidak bisa beraksi. Menggelengkan kepala seperti orang bodoh karena perlakuan Sehun. Dengan diam, Krystal memasak telur dadar. Dengan posisi yang masih sama. Tidak beberapa lama, tangan Krystal terulur, ingin mengambil piring yang masih berada di rak pencucian piring.

“Ini…” Tangan kekar Sehun dengan sigap mengambil piring bewarna putih duluan. Memberinya kepada Krystal.

Untuk kedua kalinya, Krystal tidak berkomentar apa-apa dan hanya mengangguk. Ia mematikan kompor dan menaruh telur dadar di piring yang telah diambilkan oleh Sehun. Pelukan Sehun terasa melonggar, Krystal berbalik menghadap Sehun.

Chu!

Dengan lembut dan penuh penekanan, Sehun mencium bibir Krystal. Lagi-lagi Krystal tidak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti alur yang Sehun buat. “Aku mencintai mu…” Ucap Sehun ketika ia melepaskan tautan bibirnya dengan Krystal.

Krystal hanya tersenyum lembut, Aku juga… Katanya dalam hati.

.

.

.

.

Donghae menatap perempuan di depannya dengan raut bingung, “Apakah saya mengenal Anda?”

Perempuan tadi juga menatap Donghae di raut bingung, “Tidak sepertinya. Saya Wendy Son.” Wendy membungkukan badannya.

Wendy Son?! Mantan pacaranya Sehun?! “Ah, sepertinya saya pernah mendengar tentang Anda. Saya Lee Donghae, dokter yang menangani Tifanny.” Donghae membalas bungkukan badan Wendy. “Mari saya antarkan ke kamar Tifanny…” Lanjut Donghae dan Wendy dari belakang mengikutinya.

Sebenarnya Donghae bukanlah seorang yang terlalu perduli dengan setiap orang yang datang menjenguk pasiennya. Tetapi perempuan yang mengikutinya dari belakang berbeda. Dia membawa sebuket bunga yang sangat besar. Bajunya juga sangat rapi, seperti ingin makan malam dengan orang penting daripada menjenguk orang sakit. Yang terakhir adalah permpuan tersebut mencari Tifanny, dimana ia menanyakan ke perawat baru yang tidak mengerti cara mengoperasikan komputer rumah sakit, dan perawat tersebut menuntun Wendy ke Donghae dimana dia langsung menyemburkan pertanyaan yang sama dengan percaya diri dan tanpa rasa malu. Akhirnya adalah reaksi Donghae, “Apakah saya mengenal Anda?”. Bukan bermaksud apa-apa, hanya aneh saja ada orang yang ingin menjenguk Tifanny tetapi Donghae tidak mengenalnya.

Cklek!

Donghae membukakan pintu kamar Tifanny. Wendy mengucapkan terimakasih kepada Donghae.

“Wendy-ah?! Kau menjenguk bibi?” Suara Tiffany terdengar riang dan antusias membuat Donghae yang tadi langsung ingin meninggalkan mereka mengurungkan niatnya.

“Oh, bibi… Apakah bibi baik-baik saja?” Wendy meletakan buket bunga di atas meja yang tidak terlalu jauh dari sofa. Kemudian ia berjalan ke arah Tifanny dan memeluknya.

Tiffany dengan senang membalas pelukan Wendy, “Iya, bibi baik-baik saja…. Sebenarnya sudah lebih baik…”

“Bibi membuatku sangat khawatir…”
Tiffany hanya bisa tertawa kecil dan melepaskan pelukan Wendy. Matanya kemudian menatap Donghae, “Wendy sayang, apakah kau sudah berkenalan dengan Dokter Lee Donghae?”

Donghae tersenyum ke arah Wendy, “Sudah. Tadi kami sudah berkenalan.”

Tiffany menganggukan kepalanya sambil tersenyum, “Tapi tidak ada salahnya jika aku mengenalkan kalian untuk kedua kalinya, kan?”

Donghae dan Wendy hanya bisa tertawa mendengar perkataan Tiffany.

“Perkenalkan ini Lee Donghae. Dokter terbaik pada bidang syaraf di Korea Selatan dan juga Paman Sehun.”

Wendy kembali membungkukan badannya dengan perasaan terkejut. Paman Sehun? Wendy selalu pikir jika Kang Seulong-ayahnya Seulgi adalah satu-satunya Paman Sehun.

“Dan Donghae, perkenalkan ini Wendy Son. Anak dari Ran Miran dan juga kekasihnya Sehun.”

Mata Donghae langsung terbelak. Tetapi cepat-cepat ia membungkukan badannya. Bukankah kekasih Sehun adalah Krystal Jung dan Wendy Son adalah mantan Sehun? Donghae pun kemudian berdehem, “Kurasa aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua…” Kemudian Donghae langsung meninggalkan kamar Tiffany.

.

.

.

.

Donghae tidak bisa berpikir tenang selama sisa waktu pekerjaannya. Ia ingin sekali tetap di kamar Tiffany dan mendengarkan baik-baik apa yang Tiffany dan Wendy bicarakan. Semoga pikirannya tidak menjadi kenyataan. Apa ia harus mengundang Yoonah kemari agar Yoonah bisa ikut berbicara dengan Tiffany dan Wendy? Donghae yang hanya diam di ruang kerjanya langsung menggelengkan kepalanya. Ide buruk. Siwon akan kemari. Siwon sendiri yang berkata seperti itu jika hari ini, walaupun belum tahu jam berapa, ia akan kemari. Bagaimana jika Siwon datang ketika Yoonah sedang asyik-asyikanya mengobrol dengan Tiffany? Ia tidak ingin membuka luka Yoonah kembali. Wanita itu sudah bahagia.

Tok! Tok! Tok!

Donghae langsung terkesiap keras ketika seorang mengetuk pintunya. Ia berdehem, “Masuk!” Titahnya.

Seorang perawat ber-tag name Park Inha masuk, “Maaf menganggu Anda, Dokter Donghae. Ini sudah waktunya pengecheckan pasien Tiffany sekaligus pemberian obatnya.”

Donghae melihat jam yang terletak di ruangan kerjanya dan tersadar. Sudah satu setengah jam dia melamun di ruangan kerjanya. Ia kembali menatap perawat, “Terimakasih.”

Perawat tersebut membungkukan badannya sebelum menutup pintu ruangan kerja Donghae. Donghae bangun dari tempat duduknya dan menghela nafas. Saatnya meinggalkan masalah pribadinya.

.

.

.

.

Bukan sekali Wendy dibuat terkejut oleh fakta baru. Selama hampir dua jam disini, ia banyak dikejutkan oleh beberapa fakta baru.   Seperti Tiffany yang sudah mengetahui hubungan Sehun-Krystal. Juga, ucapan dari Tiffany yang benar-benar melambungkan harapannya.

“Apapun yang terjadi bibi akan mendukung dirimu dan Sehun.”

“Bibi….” Wendy menatap Tiffany tidak percaya, “Apa bibi yakin dengan apa yang bibi ucapkan?”

Mata Tiffany menerawang ke langit biru, tetapi suaranya terdengar yakin, “Aku yakin jika hanya dirimulah yang cocok buat Sehun.”

“Bibi….” Lagi-lagi, hanya itu yang bisa Wendy katakan.

“Kau tenang saja, Wendy-ah. Bibi akan selalu berada di samping mu. Mendukung hubungan kalian.” Kali ini, Tiffany menatap Wendy dan mengulum sebuah senyuman.

Senyuman Wendy mulai merekah, “Terimakasih bibi. Ini sangat berharga buatku…”

“Akulah yang seharusnya berterimakasih kepada mu.”

Wendy kembali terdiam. Bingung dengan perkataan Tiffany. Jika boleh jujur, semua yang Tiffany katakan membuat ia kebingungan. Terlalu abstrak. Acak. Penuh kejutan. Twisted. Tapi biarkanlah. Ini sebanding dengan apa yang Wendy harapkan.

Cklek!

Pintu kamar Tiffany terbuka. Dokter Donghae masuk dengan tenang. “Apa aku menganggu acara kalian?”

Wendy dan Tiffany sama-sama menggeleng.

“Baiklah. Aku hanya ingin melakukan pengecekan rutin dan memberi Tiffany,” Donghae terdiam sebentar, “Maksudku pasien Tiffany obat.”

Wendy hanya mengangguk. Handphone-nya yang tiba-tiba berdering menyentekan Wendy. Ia segera membuka hp-nya dan membaca sebuah pesan dari ibunya. Sebuah dengusan langsung terdengar.

“Bibi maafkan aku…” Kata Wendy lembut. “Tapi aku harus pergi sekarang. Oemma mengajak ku makan.”

Tiffany mengangguk lemah, “Titipkan salamku kepada Oemma-mu ya?”

Wendy mengangguk. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengecup pipi kanan Tiffany, menyapa Donghae sejenak, dan menutup pintu ruangan ketika ia keluar.

Donghae menghela nafasnya, sedikit tersenyum kepada Tiffany. Ia berjalan ke arah Tiffany. Dia harus bersikap professional. Harus!

.TBC.

State of Grace (Chapter 17)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Tifanny mengaduk-ngaduk buburnya. Ia tidak nafsu makan. Terlalu banyak yang membuat pikirannya pusing. Termasuk bubur hambar satu ini. Ia berdecak kesal.

Trek~

Ia menoleh ke arah pintu dan langsung mendecak sebal, “Oh, datang menjenguk Mommy?” Desis Tifanny melihat ke arah Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ini baru permulaan tetapi rasanya ia ingin membuang muka dari ibunya. Rasa bencinya terhadap ibunya sudah sangat mendominasi saat ini.

“Itu bukannya pertanda bagus?” Sehun kemudian duduk di kursi dekat ranjang ibunya.

Tak!

Tifanny meletakan sendoknya dengan keras, “Hahahahaa lucu…”

Tiiit… Tiiit….

Sehun menoleh ketika detak jantung ibunya naik. Ia menghela nafasnya, “Dengar Mom, Sehun hanya ingin melihat keadaan Mom.”

“Kau menginginkan aku cepat mati bukan?”

Mom!” Sehun menatap Tifanny tajam. Ia memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya, “Aku hanya khawatir dengan keadaan Mom. Okay? Dan aku mengakui jika aku salah…”

Tifanny menghela nafasnya bersamaan dengan detak jantungnya yang menurun, “Kau sepertinya sudah sadar akan hal itu. Jadi, kau sudah putus dengan Krystal?”

“Apa?!” Sehun kembali menatap Tifanny tajam. “Putus? Tunggu… Jangan pikir…” Sehun menghentikan omongannya sebelum menghela nafas panjang, “Astaga! Aku memang mengakui jika aku salah tetapi itu bukan berarti Mom juga tidak salah!”

“Apa? Bagaimana bisa aku salah? Aku ini hanya korban dari kekhawatiran akan anak satu-satunya yang sedang dipengaruhi oleh orang aneh. Aku juga jadi seperti ini karena shock mendengar anakku dikelilingi oleh orang yang tidak pantas.”

“Apa maksud Mom?” Tanya Sehun dengan setengah berteriak, “Tidak pantas? Siapa yang tidak pantas? Krystal? Atau Seojoon hyung?”

Prang!

“Cukup keluar!” Tifanny dan Sehun sama-sama tersentak ketika suara dingin Donghae terdengar. Rupanya Donghae telah berada di dalam kamar dan menatap mereka dengan tatapan marah.

“Aku tahu ini akan terjadi jika kalian dipertemukan. Sehun, apa yang telah ku sampaikan?”
Sehun menundukan kepalanya, “Aku tahu….”

“Keluar!” Perintah Donghae kepada Sehun.

“Tung-“ Tifanny terhenti ketika Donghae menatapnya tajam.

“Yang dirimu butuhkan saat ini adalah beristirahat sampai pulih!” Titah Donghae kepada Tifanny.

.

.

.

Krystal mencoba untuk memulai harinya seperti biasa. Mencoba bangun pagi dengan pikiran positif. Mencoba untuk berangkat kerja dengan pakaian terbaik. Mencoba untuk tidak terlambat ke gallery. Yang terakhir dan yang paling menegangkan, mencoba menginjakan kakinya ke gallery setelah apa yang terjadi kemarin malam. Setelah ia melihat reaksi Tifanny.

Persiapan untuk grand opening sudah mendekati 85%. Lukisan yang Krystal buat sudah selesai. Sudah dua minggu ini pekerjaan Krystal membantu teman-temannya yang lain. Mendekor gallery. Teman-temannya bercanda kepadanya jika ini hanya sementara karena menurut rumor yang beredar Krystal akan diangkat menjadi sekertaris kedua Tifanny. Krystal hanya menanggapi mereka dengan tersenyum. Ia tidak berani berharap.

Jam menunjukan pukul 12 siang, waktunya makan siang. Waktu istirahat makan siang cukup lama, yaitu sampai jam 2 siang. Krystal mengambil hp-nya dari loker. Ia sudah memutuskan akan mengirim sebuah pesan ke Sehun ketika istirahat. Menanyakan kabar lelaki itu. Bagaimanapun juga, Sehunlah yang menghadapi masalah terberat.

Kau baik-baik saja?

Tidak sampai satu menit, sebuah balasan masuk.

Semuanya berjalan baik-baik saja. Aku baru saja menyelesaikan pertemuanku dengan dosen ku.

Aku tidak menanyakan semua keadaan baik-baik saja. Aku menanyakan apakah kau baik-baik saja?

Aku akan makan siang.

Krystal merasakan nafasnya tercekat melihat balasan Sehun. Apakah Sehun mulai menjauhi dirinya? Ia menyandarkan punggungnya ke dinding loker.

Tolong jawab pertanyaan ku… Kau membuatku khawatir.

            Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir….

Sebuah helaan nafas keluar dari bibir mungil Krystal. Jari-jemarinya dengan lincah mengantarkan Krystal keluar dari chat room dan menekan nomor Sehun. Diam sejenak. Mencekam menunggu Sehun membalas teleponnya.

“Hallo…”

“Sehun!” Teriak Krystal ketika Sehun menganggkat teleponnya.

.

.

.

.

.

Tes~

Sebuah air mata jatuh. Dengan cepat jemari putih susu itu menghapus jejak-jejak air mata dari wajahnya. Ia berdehem.

Tes~

Air matanya kembali turun. Malah semakin deras. Ia menggeram. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia adalah pelindung gadis itu. Suara tangisan tak dapat ia tahan. Bersamaan dengan suara lembut yang terdengar di telinganya.

“Yang membuat diriku khawatir adalah kau menutup dirimu dari orang lain, termasuk diriku. Kau harus berbagi kesakitan mu Sehun. Percayalah, itu adalah satu-satunya cara melewati masa tersebut. Karena aku bisa melewati masa tersebut ketika aku melakukan hal itu. Melakukan hal tersebut bukan berarti dirimu lemah, itu menunjukan jika dirimu ingin melakukan sebuah perubahan. Ingin orang lain membantu mu dari masalah itu.”

Rasa nyaman mengalir dalam diri Sehun. Akhirnya, dia mempunyai seseorang sebagai tempat bersendernya. Seharusnya ia senang—- Nyatanya ia senang. Ia hanya tidak menyangka jika ia bisa merasakan hal itu.

“Aku mencintaimu…” Hanya itu yang kata yang terucap dari mulut Sehun. Ia mengatakannya di sela tangisan dia, dengan suara serak. Nafasnya sudah tercekat akibat tangisannya. Dengan lunglai, ia menjatuhkan dirinya untuk duduk di lantai dingin rumah sakit.

.

.

.

.

Donghae menghela nafasnya. Rasa sesak memenuhi dadanya melihat Sehun seperti itu. Dengan cepat, ia kembali melangkah menuju kantornya. Berusaha menghilangkan bayangan Sehun. Ini adalah hal yang sangat berat, bagi Sehun dan juga dirinya. Apalagi ketika mendengar semua cerita dari Seojoon. Dia tidak seharusnya masuk ke masalah ini.

“Paman!” Suara Seojoon membuat langkah Donghae terhenti.

Donghae menoleh ke sumber suara. Sebuah senyuman muncul, “Seojoon-ah!” Balas Donghae dengan suara bersahaja, “Ada apa datang ke kesini?”

Seojoon tersenyum kecil, “Aku ingin meminta sebuah bantuan ke paman.”

“Tentu saja bisa.”

Tertawa kecil terdengar, “Tapi aku ingin membicarakannya di tempat yang tidak umum.”

“Tentu. Mari kita bicarakan di ruanganku.”

.

.

.

.

Sehun mengkerutkan keningnya ketika mendapati Seojoon keluar dari ruangan Donghae. Apa yang dilakukan oleh kakaknya? Dengan cepat Sehun menghampiri Seojoon dan Donghae.

“Hyung!” Panggil Sehun tak jauh dari mereka.

Seojoon dan Donghae sama-sama terkejut. “Sehun-ah?!” Kata Seojoon tidak percaya melihat Sehun disini.

“Apa yang hyung lakukan disini?” Sehun langsung bertanya tanpa menghiraukan sapaan Seojoon.

“Seojoon memintaku untuk menjadi saksinya dalam pernikahannya.”
“Apa?!”

Seojoon menghela nafasnya. Masalah baru lagi. “Aku ingin memberi tahu mu ketika aku pulang. Tapi kau tahu apa yang terjadi… Awalnya aku ingin mengadakannya di Amerika.”

“Bagus!” Desis Sehun menatap Seojoon tajam.

“Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun kepadamu…”
“Ya, aku mengerti!” Lanjut Sehun masih menatap Seojoon tajam.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Dengar Sehun, aku ingin memperbaiki hubungan ku dengan mu tapi aku tidak tahu ingin mulai darimana. Jadi aku melakukan sebuah pendekatan, memulai lagi dari awal. Aku hanya memberi tahumu dengan pemikiran kau melihatku sudah mulai terbuka sehingga kau kembali lagi terbuka kepadaku. Jika aku menyuruhmu datang, pasti akan tegang dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Tapi kenapa kau melakukannya disini?”

Sebuah helaan nafas keluar, “Sohye hamil. Orangtuanya menuntut pernikahan secepatnya. Penundaan kepulanganku ke Amerika menunda pernikahan kami. Jadi keluarganya memutuskan untuk mengadakan pernikahan di Korea saja.”

“Bagaimana bisa hyung mengadakan pernikahan dengan keluarga hyung yang seperti ini?”
“Sehun!” Terdengar teguran dari Donghae. Dokter itu menatap tajam Sehun.

“Sohye mengetahui tentang keluargaku. Seperti ku bilang sebelumnya, keluarganya menuntut pernikahan kami secepatnya. Tidak peduli harus seperti apa, yang terpenting adalah sebuah pernikahan.”

“Jadi kau hanya ingin mengadkan sebuah ucapan janji dan mendaftarkan pernikahan mu begitu? Tanpa pesta?”

“Iya. Itu dilakukan di kantor sipil. Aku butuh sebuah saksi.”

Sehun terlihat berpikir, “Jadikan aku sebagai saksi mu!”

Seojoon membulatkan matanya, merasa tidak menyangka dengan ucapan Sehun.

“Kau bilang kau ingin memperbaiki hubungan kita. Jika kau ingin memperbaikinya, kau harus mengikuti ku kedalam hal-hal penting dalam hidupmu.”

Hug!

Seojoon langsung menarik Sehun kedalam pelukannya, “Terimakasih…”

Sehun membalas pelukan Seojoon. Ia tersenyum, “Oh, hyung!” Kata Sehun tiba-tiba, “Kau harus mengadakan pesta kecil. Setidaknya sebuah makan malam dengan ku!”

.

.

.

.

“Hati-hati ketika ingin berjalan!”
Krystal hanya bisa mengucapkan permintaan maaf berkali-kali. Dia yang salah dalam hal ini. Menabrak seorang ibu-ibu di depannya dan menyebabkan dia harus menahan malu. Ini bukan yang pertama kalinya Krystal membuat kesalahan. Sejak dari kejadian Sehun menangis ketika ia menelepon Sehun, yang sebenarnya ia sangat jelas mendengarnya tetapi pura-pura tidak tahu, pikiran Krystal melayang kepada laki-laki itu. Membuat kesabaran Sekertaris Ahn diambang batas melihat tingkah lakunya. Konsekuensinya, ia disuruh istirahat oleh Sekertaris Ahn dan diizinkan masuk jika jika sudah siap kerja. Di stasiun kereta tadi saja ia tidak fokus hingga harus diteriaki oleh orang-orang agar cepat membayar tiket.

Hufhh~

Krystal menghela nafasnya. Fokus! Fokus! Fokus! Ucap Krystal kepada dirinya sendiri. Dengan cepat ia berjalan menyebrangi sebuah jalan raya. Jalan raya penghubung ke apartment-nya. Tangan Krystal langsung memasukan password apartment-nya.

“Kau tidak apa-apa?”

Krystal langsung menoleh dengan cepat. Terdiam beberapa saat ketika melihat siapa yang di depannya. Tidak mungkin! Tanpa Krystal sadari ia menggelengkan kepalanya.

“Hey, kau tidak apa-apa?”

Krystal mengerjapkan matanya. “Sehun!” Pekiknya langsung memeluk Sehun.

Sehun harus menahan dirinya agar tidak terjungkal akibat Krystal yang tiba-tiba melemparkan dirinya ke Sehun. Ia terkekeh kecil, “Ada apa hmm?” Tanyanya lembut.

Krystal melepaskan pelukannya, “Apakah kau baik-baik saja?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Dan lapar.” Sehun kemudian mendekat ke arah Krystal, “Ingin membuatkanku sebuah makan sore menjelang malam?”

Krystal mendengus. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan senyumannya, “Kau terlihat aneh!”

“Kenapa aneh?!”

Krystal hanya diam dan kembali melanjutkan aktifitas sebelumnya, membuka pintu apartment-nya. “Ayo masuk. Akan ku buatkan makanan…”

.TBC.

A/N:

Apa kabar semuanya??? 😬  Saya sendiri tidak baik-baik saja (?) #gak ada yang nanya.  Gak disangka-sangka State of Grace udah mau tamat…  And i can smell the ending …..  Tinggal tunggu beberapa chapter yang kira-kira (?) akan saya update dengan cepat (Karena ide lagi mengucur deras dan tangan gatal mau nulis) hinga ff ini tamat…  Well, tapi resikonya adalah Flipped akan kehambat 😔…  Mianhae untuk memberi tahu hal ini.  Tapi saya akan berusaha untuk meng-update Flipped disela-sela menamatkan State of Grace…  See you really soon guys 🤓

State of Grace (Chapter 16)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Seojoon terpaksa membatalkan kepulangannya ke Amerika. Menunda sampai waktu yang tidak di tentukan. Sampai ia melihat ibunya tersadar dan Sehun baik-baik saja.

Krystal sendiri masih menemani Sehun di rumah sakit, tentunya bersama Seojoon. Sehun terlihat linglung, tetapi dokter yang memeriksanya mengatakan jika keadaannya baik-baik saja. Sehun hanya butuh beristirahat.

Tifanny beda cerita. Ia masih tidak sadarkan diri. Dokter berkata jika dia mengalami kelelahan akibat stress yang berlebihan. Tifanny memang kelihatan kuat dari luar, tetapi dia rapuh dari dalam. Saat ini harapan terbesarnya adalah menunggu Tifanny sadar dengan sendirinya. Tindakan lebih lanjut akan dilakukan jika besok pagi ia belum sadar.

“Pulanglah.” Kata Sehun kepada Krystal. “Kau pasti lelah. Aku seharusnya tidak membawa dirimu ke dalam hal ini.”

Krystal tersenyum lemah, “Tidak apa-apa.” Katanya pendek. Bingung ingin mengatakan apa. Ia sangat ingin menamani Sehun tetapi keadaan tidak memungkinkan. Bagaimana jika ayah Sehun yang tiba-tiba datang? Atau reaksi pertama Tifanny ketika sudah bangun?”

“Aku akan mengantarnya.” Seojoon berkata tiba-tiba. Ia menatap Sehun, meminta kepercayaan.

Dengan pelan Sehun mengangguk, “Baiklah. Kita akan berbicara lagi nanti.”
Seojoon mengangguk, “Hubungi saja diriku. Dan yang pasti aku akan berpindah hotel.”
Sehun kembali mengangguk. Ia menatap Krystal, “Pulang dan istirahatlah.”

Krystal hanya bisa mengangguk.

.

.

.

.

.

Aroma kopi yang pekat membuat Krystal sedikit pusing. Ia tidak menyukai kopi. Dengan pelan, ia meminum hot chocolate nya. Seojoon yang didepannya sedang asik memakan cheese cake.

Krystal menguap karena sudah mengantuk. Hari ini memang hari yang melelahkan. Seharusnya ia langsung pulang saja tidak menyetujui permintaan Seojoon yang mengajaknya meminum kopi. Tetapi, nada suara Seojoon terdengar begitu serius hingga ia tidak bisa menolak.

Seojoon berdehem membuat Krystal membenarkan posisi duduknya. “Maaf sebelumnya jika harus membuat dirimu terlibat dengan hal ini sangat dalam. Hal ini sangat sensitive.” Berhenti sejenak, Seojoon mulai berbicara kembali, “Kau sudah mendengar hal tadi jadi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Hanya beberapa. Diantaranya keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna. Bahkan jauh dikatakan dari sempurna. Yang kedua, aku adalah kakak kandung Sehun, mau kau percayai atau tidak.”

Krystal hanya menganggukan kepalanya.

“Aku tidak ada maksud apa-apa denganmu. Aku tidak akan men-judge mu. Aku hanya ingin mengenal dirimu lebih lanjut.”

“Kenapa?”
Seojoon menatap Krystal dalam, “Karena Sehun mempercayaimu. Itu sangat terlihat dari tatapan matanya. Dan yang terpenting kau juga percaya kepadanya. Aku bisa melihat itu dari segala tindakanmu.”

Krystal menghela nafasnya. Dari mana dia harus cerita? “Tidak banyak tentang diriku.”

Seojoon tersenyum kecil, “Baiklah. Bagaimana jika aku saja yang bercerita lebih dahulu. Ada yang ingin kau tanyakan?”

Krystal terdiam sejenak, kemudian mengangguk pelan, “Jinri. Aku ingin mengetahui tentang Jinri.”

“Jinri adalah adik kecil kami, aku dan Sehun. Dia yang paling muda diantara kami. Meningga karena tenggelam di danau tempat kami biasa rekreasi. Hal itu menimbulkan luka yang dalam. Ditambah dengan diriku yang disitu ketika ia ditemukan meninggal dengan hanya melihat ke arah kolam. Mommy bahkana tidak ingin melihatku lagi dan mengirimkan diriku ke Amerika. Tinggal bersama tante ku disana.”

“Dan kehidupanmu di Amerika?”

“Baik. Tanteku bahkan mengajak diriku ke psikolog. Itulah ketertarikan awalku kepada dunia psikolog dan karena itu mengambil jurusan psikolog ketika kuliah.”

Krystal mengangguk. “Kenapa kembali ke Korea?” Krystal kemudian tersentak, “Tunggu. Aku minta maaf. Itu terlalu lancang.”

Seojoon mengangkat kedua tangannya. Ia merasa sangat tenang dan tersenyum kecil, “Tidak apa-apa. Justru ini adalah hal yang paling ingin ku katakan kepada keluargaku. Tapi kau tahu… Bagaimana kondisinya. Well, aku akan menikah. Jadi aku perlu mengurus beberapa hal disini agar bisa menikah di Amerika. Kau tahu, ini mungkin aneh, ingin membangun sebuah keluarga baru.”
Krystal mengangkat kedua bahunya, “Well, tidak juga. Aku yakin kau pasti akan jadi ayah yang hebat. Walau tidak bersama keluarga intimu tetapi keluargamu di Amerika sangat baik kepadamu. Mereka pasti memberikan contoh yang sangat baik kepadamu juga.”
“Kau tidak tinggal bersama kedua orangtuamu?”

“Hah?!” Krystal menaikan kedua alisnya mendengar pertanyaan Seojoon.

Seojoon mengangkat kedua tangannya, “Maaf. Ini karena kerjaku sebagai psikolog yang mengorek hal yang tidak di inginkan orang. Tapi maaf lagi karena aku harus bertanya tentang hal ini.”

“Aku tinggal bersama orangtuaku.”

“Tapi bukan orangtua kandungmu bukan?”

Krystal menggigit bibirnya, “Aku tidak terlalu suka membahas kedua orangtua kandungku atau apapun yang menyangkut kedua orangtua.”

“Orangtua mu meninggalkanmu?”

Hufh… Dengan perlahan Krystal menganggukan kepalanya, “Yang pertama ayahku yang meninggalkan aku dan ibuku. Kemudian ibuku yang meninggalkanku di panti asuhan.”

“Dan orangtua angkatmu?”

“Mereka baik. Dari segi ekonomi kurang tetapi mereka berusaha mewujudkan impianku. Sekarang mereka tinggal di Tokyo karena beberapa hal. Meninggalkanku dengan saudara angkatku, Amber.”

“Kau juga takut dengan ibuku?”
Krystal menahan nafasnya, “Itu karena latar belakangku.”

“Kau takut ibuku tidak setuju?”

“Aku hanyalah karyawan darinya. Tentu tidak sebanding apa-apa dengan Sehun. Ya, jadi itu mengkhawatirkan ku. Tapi bukan itu yang paling mengkhawatirkanku…” Krystal mulai melihat jari-jarinya. Dengan pelan, dia menyusuri retakan meja dengan ujung telunjuknya, “Aku takut pendapat keluarga Sehun atau orang yang mengenal Sehun kepadaku. Aku takut akan pendapat mereka yang mengaggap diriku mendekati Sehun untuk pekerjaanku. Padahal…. Padahal aku bertemunya sebelum mendapat pekerjaanku bersama Tifanny Sangjanim.” Krystal menghela nafas panjang, ia menggigit bibirnya, “Dan aku takut aku tidak bisa bertahan di sampingnya menghadapi cemoohan dari mereka….”

Seojoon diam, menikmati cangkir kopinya.

Krystal perlahan-lahan tersenyum, “Ini adalah yang pertama kalinya aku membicarakan hal ini. Rasanya lebih tenang.”

“Itu gunanya psikolog.” Seojoon mengangkat kedua bahunya.

“Tapi kita disini bukan untuk sebuah sesi.”

“Anggap saja sebuah acara perkenalan dan sesi.” Seojoon kemudian meminum kembali kopinya, “Kau bilang kau bertemu dengannya sebelum bekerja dengan ibuku. Bisakah kau menceritakan hal tersebut?”

“Ceritanya panjang.”

Seojoon tersenyum kecil, “Percayalah padaku, seberapa panjang ceritamu, aku sudah mendengar cerita yang lebih panjang. Aku akan bersabar mendengar cerita mu dari awal sampai akhir.”

“Baiklah….”

.

.

.

.

.

Sehun terbangun ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menatap orang tersebut dengan wajah mengantuk sebelum mengeluarkan senyum kecilnya.

“Paman…” Sahut Sehun kecil.

Paman atau Lee Donghae, salah satu dokter yang menangani Tifanny juga tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di samping Sehun membawakan secangkir teh.

“Hari yang berat?” Tanya Donghae sambil mengulurkan secangkir teh hangat ke Sehun.

Sehun menerima teh terebut dan langsung meminumnya, “Lebih berat hari esok.”

Donghae tersenyum kecil mengerti apa yang Sehun katakan. Pasti akan lebih susah ketika Tifanny tersadar daripada sekarang.

Oemma-mu sangat tertekan hingga ia seperti ini. Aku khawatir, jika ia kembali tertekan ketika bangun, ini akan mempengaruhi sistem syarafnya.”

“Mau bagaimana lagi….” Sehun menatap Donghae, “Keluarga kami sangat unik sampai tidak ingin berbicara masalah dari hati ke hati. Ujung-ujungnya hanya sebuah ledakan dahsyat dan masing-masing dari kami tidak ingin saling mengalah.”

Donghae menganggukan kepalanya, “Aku mengerti bagaimana keluargamu. Tapi aku mempunyai satu permintaan kepadamu. Jika ibumu bangun, jangan buat ia marah. Ketika detak jantungnya naik, tolong mengalah saja padanya. Okay?

Sehun mengangguk patuh ke arah pamannya. Jujur, dia lebih nyaman ketika bersama Donghae, saudara tiri ayahnya daripada dengan ayahnya sendiri.

“Ayahmu bagaimana? Kapan ia akan sampai?” Tanya Donghae tiba-tiba.

Sehun tersenyum kecut, “Mungkin ia tidak akan kerumah sakit. Trafik kenaikan saham lebih berharga daripada keluarganya sendiri.”

.

.

.

.

.

“Eungh…” Lenguh Tifanny ketika ia merasa sebuah cahaya sangat terang. Ia memejamkan matanya. Kemudian kembali membukanya. Mengerjap beberapa kali sebelum tersadar jika ini bukan kamarnya.

Kepalanya sangat berat, tapi ia memaksakan diri untuk menoleh ke sekitar. Putih. Beberapa peralatan rumah sakit.   Tunggu…

“Sudah sadar?”

“Ouhhh…” Tifanny tersentak, “Yak! Lee Donghae!”

Donghae tidak bisa menahan senyum gelinya melihat kelakuan Tifanny.

“Kenapa kau ketawa?!” Tanya Tifanny dengan tajam.

Donghae mengangkat kedua bahunya dan berdehem, “Bagaimana keadaanmu? Pusing? Mual?”

“Apa aku perlu menjawabmu?” Tanya Tifanny yang masih sewot.

“Aku ini seorang dokter yang merawatmu. Jadi tentu kau harus menjawabku…”

Tifanny menghembuskan nafasnya, “Ketika bangun sedikit pusing….” Tifanny diam sebentar sebelum melanjutkannya dengan berapi-api, “Tapi sekarang semuanya hilang ketika kau mengangetkanku!”

Deg!

Tifanny kembali tersentak ketika tangan Donghae menyentuh dahinya, “Panas mu sudah turun. Kurasa dirimu benar-benar sudah baikan. Aku akan terus menge-check mu hingga siang. Jika semuanya baik-baik saja kau bisa pulang hari ini juga.”

“Apa aku baik-baik saja?”

Donghae menghentikan kegiatan mencatatnya, “Tenang saja Tif… Kau tidak terkena penyakit terkutuk itu. Tidak ada yang perlu di khawatirkan…”

Tifanny tersenyum kecil, “Baiklah….”

“Aku akan kembali ke ruanganku.” Donghae membungkukan badannya.

“Donghae-ya…” Tifanny memanggil Donghae pelan, “Apakah Siwon berada disini?”

Donghae terkejut dengan pertanyaan Tifanny, “Ah… Dia…”

Tifanny menghela nafasnya, “Ia pasti tidak datang bukan?”

“Tenang saja Tifanny-ah dia-“

“Tidak apa-apa…” Potong Tifanny. Tifannypun kemudian tertawa hambar, “Walaupun tidak bisa datang ia pasti mengkhawatirkanku.” Kata Tifanny lebih meyakinkan dirinya sendiri.

Donghae hanya diam dan mengangguk. Ia kembali berjalan keluar lagi.

“Donghae-ya…” Panggil Tifanny lagi. Donghae kembali menoleh.

“Titip salam buat Yoona ya…”

Donghae lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Tifanny. Dadanya berdesir hebat. Dengan cepat, ia tersenyum kecil, “Akan kusampaikan. Yoona pasti akan sangat senang mendengarnya.”

.TBC.