Flipped (Chapter 22) (END)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kebenaran

 

Luhan merasa ayahnya adalah orang yang paling egois di dunia. Keegoisan ayahnya membuat Luhan harus berpisah dari ibunya. Sampai sekarangpun ia tidak dapat bertemu dengan ibunya karena keputusan ayahnya. Sekali ayahnya memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Banyak keputusan ayahnya hanya berorientasi kepada dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Luhan tahu jika ayahnya sangat mencintai Luhan. Ayahnya ingin Luhan tetap bersamanya makanya ia menjauhkan Luhan dari ibunya yang jelas-jelas juga ingin bersama Luhan. Karena pengaruh ayahnya yang lumayan kuat, akhirnya Luhan bisa bersama ayahnya. Memori yang Luhan ingat terakhir kali bersama ibunya adalah ketika ibunya menyuruh ia menjadi anak baik sambil menangis. Luhan sampai sekarang menyesal ia hanya bisa terdiam melihat ibunya. Sekali saja ia ingin memeluk ibunya kalau bisa.

Apakah Luhan membenci ayahnya? Sayang, ia tidak bisa. Luhan tidak bisa membenci ayahnya walaupun ayahnya memisahkan ia dengan ibunya. Luhan benci terhadap dirinya yang tidak bisa membenci ayahnya. Cita-citanya ketika ayahnya membawanya pergi menjauhi Korea yang juga untuk menjauhi ibunya adalah lepas dari cengkraman ayahnya. Luhan menyusun mimpinya. Itulah yang membuat ia selama bertahun-tahun fokus belajar demi menggapai cita-citanya. Teman-temannya di Amerika menganggap dia sangat dingin dan anti sosial karena ketidak pedulian. Yang hanya ia pedulikan adalah belajar. Kurangnya interaksi sesama teman membuat nama Krystal selalu di hatinya meski mereka lama tidak bertemu. Dia menganggap suatu hari dia dapat kembali bertemu Krystal dan mungkin dapat menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Setidaknya musuh terberat –dalam mendekati Krystal- juga sahabat terdekatnya sudah berjanji tidak akan mendekati Krystal.

Ketika menemukan Krystal menangis di taman. Menanyakan janjinya dengan Sehun untuk tidak mendekati Krystal, Luhan tersadar akan satu hal. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Ia memiliki keegoisan yang sama dengan ayahnya. Semua yang ia lakukan juga penuh dengan keegoisan. Tentang bagaimana cita-citanya lepas dari cengkraman ayahnya. Tentang Krystal. Tentang Sehun. Apakah dia tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitarnya sekali saja? Apakah dia tidak pernah berpikir jika orang tersebut tersenyum bukan berarti orang tersebut baik-baik saja?

Akhirnya, disini Luhan. Terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke mobilnya. Disampingnya ada Sehun yang sama-sama terdiam.

“Dia masih di taman. Aku bahkan tidak berhasil memdekatinya.” Luhan berkata lirih. Menundukan pandangannya. “Ku rasa kau yang harus kesana dan membujuknya.”

“Luhan…”
“Kau adalah orang yang baik. Aku tahu itu dan aku sangat mempercayai mu. Tentang perjanjian konyol kita belasan tahun yang lalu, ku rasa itu sudah berakhir. Kau berhak mendekati seseorang siapapun itu. Kau tidak seharusnya dilarang. Aku salah melarang mu mendekati Krystal.”

“Luhan….”

“Aku hanya ingin Krystal untuk ku. Karena aku bahagia jika di dekatnya. Sifat riang dan recehnya… Tapi ia tidak pernah bahagia berada di dekat ku. Sedikit pun.” Luhan mengerjapkan matanya. Menahan air matanya yang ingin jatuh.

“Luhan ak—”

Luhan berdehem dan lagi-lagi memotong omongan Sehun, “Sekali saja aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku ingin Krystal bahagia. Karena seseorang dapat bahagia ketika melihat orang yang ia cintai bahagia.” Luhan menghela nafasnya. “Aku harus masuk. Jam istirahatku sudah habis dari tadi. Aku duluan.” Ia segera berjalan memasuki rumah sakit. Tanpa melihat Sehun sedikit pun. Ia tidak bisa.

“Luhan tunggu!”

Luhan berhenti. Tapi badanya tidak berbalik sedikitpun. Air matanya sudah menetes.

Sehun menghela nafasnya sebelum berkata, “Beritahu tahu aku ketika kau ingin di wisuda Aku akan senang melihat dirimu lulus dengan cita-cita mu sejak kecil. Atau setidaknya aku ingin ada karangan bunga dari ku.”

Mendengar hal itu Luhan menghela nafas gusar. Kalimat yang Sehun ucapkan membuat hatinya bergetar. Laki-laki itu terlalu baik. Sungguh. Dan Luhan pernah menyalahgunakan kebaikan laki-laki itu karena ke egoisannya. Karena keegoisannya pula Luhan tidak bisa berbalik ke Sehun dengan air mata berlinang. Ia hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya.

Kau adalah dan tetap sahabatku…

.

.

.

.

.

Langit sudah menunjukan warna jingga menyala ketika Sehun sampai di taman. Taman tersebut berjarak duapuluh menit dari rumah sakit Luhan. Dia hampir saja putus asa ketika selama hampir dua jam berkeliling Seoul tidak bisa menemukan Krystal. Tiba-tiba saja, sekitar pukul empat sore Luhan meneleponnya. Mengatakan jika ia tahu dimana Krystal tapi mengajaknya untuk bertemu terlebih dahulu. Luhan mengajak bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja. Sehun sedari tadi berusaha menghalau pikiran buruknya yang mengatakan Krystal di rumah sakit. Ia ingin mencengkram kerah Luhan dan menanyakan dimana Krystal jika saja Luhan tidak berkata lirih, ‘Aku memiliki sifat egois yang sama dengan ayah ku.’

Sehabis mendengar hal itu, Sehun memutuskan untuk mendengar Luhan berbicara terlebih dahulu. Ia tahu…. Sudah saatnya mereka membicarakan perjanjian konyol ketika mereka berumur sepuluh tahun itu. Dia ingin berbicara baik-baik. Tidak menyangka dengan keputusan Luhan. Satu-satu harapannya adalah Luhan dapat mengerti dari kalimat yang ia ucapkan tadi, ketika ia ingin hadir di wisuda Luhan, menunjukan jika ia tidak membenci Luhan. Tidak sedikitpun.

Sehun mengehla nafas. Sudah waktunya ia keluar dan bertemu Krystal. Langkah Sehun terasa berat. Dia berhenti ketika menemukan Krystal menundukan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lirih.

Krystal menatapnya dengan mata yang berair dan sudah sangat merah. “Sehun…” Setelah mengatakan hal tersebut Krystal menangis lagi.

Sehun segera mendekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mendekap Krystal. “Maaf.”

“Bodoh! Bodoh!” Krysta memukul-mukul dada Sehun. “Bodoh!”

“Maaf…”

Lagi-lagi Krystal menangis. Sehun semakin mempererat pelukannya. “Maaf….” Kata Sehun lagi.

Krystal mendorong Sehun perlahan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus air matanya, “Jangan pergi…”

“Aku….”

Sehun menatap Krystal ragu. Itu bukan suatu hal yang ia harapkan.  Jangan pergi?  Seberapa besar Krystal menyukai Sehun, bukan, mencintai Sehun?
“Kau tidak ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya?”

Krystal sangat mengerti pertanyaan Sehun. Ia dengan cepat menggeleng. “Aku takut.”

Sehun dengan pelan mengenggam kedua Krystal. Membuat Krystal terpaksa melihatnya kemudian mengunci tatapan Krystal.

“Luhan tiba-tiba datang kepada ku. Itu saat ulang tahun keluarga Song. Ketika kakimu patah kau ingat? Kau melihatku berbicara dengan Luhan saat itu. Saat itulah aku dan dirinya membuat perjanjian konyol itu. Kita masih terlalu muda saat itu. Saat itu juga semua hal berubah dengan cepat. Orangtua Luhan bercerai. Luhan yang tiba-tiba pergi dan meninggalkan kita. Aku bahkan masih ingat tangisan mu ketika Luhan pergi.”

“Itu karena dia sahabatku!” Pekik Krystal kesal.

Tidak ingin menjawab, Sehun kembali melanjutkan ceritanya, “…. Puncaknya adalah ketika kita dijodohkan. Aku sempat menolak perjodohan ini mentah-mentah dibelakang. Tapi kedua orantuaku tidak peduli. Yang aku ingat saat itu adalah aku mempunyai janji pada Luhan dan tangisan mu ketika Luhan pergi. Aku sangat optimis kau menyukai Luhan. Tapi tidak setelah kau mengatakan kau juga menyukai ku. Bahkan saat itu aku masih mengingat janji ku kepada Luhan. Aku dengan bodohnya lebih mementingkan janji itu.” Sehun menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafasnya dengan berat.

“Aku pikir dengan aku berpacaran kau akan menyerah.” Lanjutnya lagi. “Kurasa aku terlalu bodoh hingga hanya mengingat perjanjianku dengan Luhan dan semua yang ku katakan hingga menyebabkan dirimu melakukan… Kau tahu, loncat dari gedung sekolah…” Air mata Sehun mulai turun. “Saat kejadian itu dan kau koma, aku merasa bersalah tetapi masih mengingat perjanjian itu. Tidak sampai kau membaca buku diary mu dan entah mengapa aku merasa sangat-sangat bodoh…

“Kemudian rasa bersalah yang sangat besar muncul dan aku merasa tidak pantas bersama mu. Aku tidak bisa melihat mu lagi atas perbuatanku sehingga, lagi-lagi, aku menyakitimu dengan menghentikan perjodohan kita. Saat kita bertemu lagi dengan Luhan dan ambisi Luhan, aku tahu aku sudah cukup bodoh selama ini. Tapi menghentikan semua ini rasanya juga sudah sangat terlambat. Aku senang ketika kau berpacaran dengan Luhan karena… Itu rasanya memudahkan ku untuk melepaskan mu.

“Anehnya aku malah tidak nyaman melihat mu dan Luhan bersama. Aku mulai berpikir lagi, jika aku tidak melihat kalian pasti semuanya akan lebih mudah. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengambil sekolah di luar negeri.”

Krystal kali ini memeluk Sehun. Ia berbisik, “Jangan pergi kumohon…”

“Setelah apa yang kulakukan?”

“Semua itu bukan salah mu Sehun…. Kau masih bodoh saat itu. Luhan masih bodoh. Aku juga masih bodoh. Itu salah kita. Tidak semuanya salah mu. Kau pernah berkata jika aku juga tidak peka dalam kondisi mu yang masih syok akibat perjodohan bodoh kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu.” Lanjut Krystal masih berbisik. Air matanya kembali turun.

Mendengar Krystal yang sudah mulai menangis, Sehun melepaskan pelukan mereka dan memegang wajah Krystal, “Berapa banyak kau menangis karena diriku?”

“Berapa kali aku membuat mu stress Oh Sehun? Ini semua bukan salah mu. Jangan pergi…”

Sehun menggelengkan kepalanya. Itu membuat tangisan Krystal langsung membesar. “Kita butuh waktu…” Ujar Sehun lirih. Ia mencoba memberikan senyumannya.

“Aku mencintai mu Oh Sehun.”

“Aku juga mencintai mu Krysal Jung.”

Satu baris kalimat yang selalu Krystal tunggu bertahun-tahun lamanya. Satu kalimat yang terus ia harapkan. Krystal mengeluarkan senyumnya. Melupakan seketika rasa sakit yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya ketika Sehun dengan lembut menyatukan bibir mereka.

.

.

.

.

.

Sehun akhirnya pergi. Ia melanjutkan sekolahnya ke Jepang. Laki-laki itu pergi tepat dua hari setelah semuanya terungkap. Tidak ada Luhan yang mengantarnya. Krystal berharap Luhan juga tidak ada. Ia masih membenci Luhan. Walau ia sendiri berkata itu karena kebodohan masa kecil mereka. Sehun juga meyakinkannya seperti itu.

Hubungan ia dan Sehun sebelum pergi bisa dibilang baik-baik saja. Mereka tidak dalam hubungan berpacaran. Tidak. Krystal merasakan mereka seperti sahabat lagi. Meskipun tidak ada sahabat yang berciuman dan Sehun dengan bodohnya mencium Krystal di depan kedua orangtua mereka dan membuat Krystal menanggung malu setelah itu. Tunggu, apakah itu pertanda untuk kedua orangtua mereka?

“Woy!”

Krystal tersentak ketika melihat Kang Seulgi menaruh beberapa buku tebal yang pastinya buku sastra tingkat tinggi.

“Sedang apa?” Tanya Seulgi duduk dan memakai kacamatanya.

Krystal terkekeh, “Entahlah…”

Seulgi menggelengkan kepalanya dan membuka salah satu buku, “Galau? Aku tidak melihat Luhan beberapa hari ini. Bertengkar?”

“Kami sudah tidak ada hubungan lagi.”

Mendengar jawaban Krystal, Seulgi menghentikan kegiatan membacanya, “Okay.” Dan ia lanjut membaca bukunya.

Kali ini Krystal yang menggelengkan kepalanya, “Apa yang kau pikirkan Kang Seulgi?”

“Kau terlihat tidak seperti seseorang yang habis putus. Hahahahaha… Atau perasaan ku saja. Bagaimana dengan tuan brengsek Oh Sehun?”

“Jangan panggil dia brengsek. Hubungan kami sudah baik-baik saja.”

Seulgi kali ini menatap Krystal dengan tatapan terkejut. “Jadi…”

“Aku jamin itu tidak seperti yang kau pikirkan.” Seru Krystal yang sebenarnya tidak ingin mendengarkan teori menakjubkan Kang Seulgi. Ketika hp-nya berdering, Krysal tersenyum senang karena ia mempunyai cara untuk menghindari Kang Seulgi, “Aku harus mengangkat ini.”

“Dan kemudian bilang aku harus pergi karena ada urusan. Klasik.” Seulgi kemudian mendengus, “Sialan Professor Yang! Jika karena bukan salah sangka aku tidak akan bekerja rodi seperti ini selama dua minggu. Tidur saja tidak bisa apalagi berbicara dengan Soojung!” Sambil bersungut-sungut, ia kembali membaca buku.

“Seulgi, ingin ke mall? Aku ingin menonton…” Krystal sudah berbalik dan menatap Seulgi penuh harap.

“Kau tahu jika bukan karena salah sangka yang berhubungan dengan Im Jaebum aku tidak akan tetap disini dan membaca buku sialan ini? Aku memang pecinta sastra tapi tidak dengan harus membaca buku sastra selama dua minggu berturut-turut. Aku butuh hal-hal lain seperti tidur atau pergi ke mall atau apapun yang tidak berhubungan dengan buku dan laptop.” Setelah mengeluarkan unek-uneknya Seulgi mulai tersenyum, “Ayo.”

Ia mengambil tasnya dan merasa sangat malas harus mengembalikan buku-bukunya. “Biarkan saja…. Aku malas mengembalikannya.”

Krystal terkekeh melihat kelakuan temannya. “Terserah dirimu saja.” Jawabnya dengna lirih karena mereka di perpustakaan.

Seulgi mengandeng tangan Krystal dan menatap Krystal dengan penasaran, “Jadi katakan kepadaku Krystal Jung, apakah hubungan mu dengan Sehun hanya sebatas sahabat atau kau ingin lebih?”

Krystal mendengus. Lupakan teori menakjubkan Kang Seulgi jika temannya bisa menyimpulkan sendiri. Krystal dulu sempat bertanya-tanya kenapa temannya dapat menyimpulkan segala hal dengan luar biasa. Dan jawaban Seulgi sangat mudah, ‘Aku hanya menebak.’ Karena itulah Krystal menoleh dan tersenyum kepada Seulgi. Membiarkan temannya menebak.

.END.

Calm down guys…  There’s an epilogue, yang pasting di bayangan aku udah ada 3 epilog.  Dimana di 3 epilog terdapat sudut pandang tiga tokoh utama, Krystal, Sehun, dan Luhan.

First epilogue goes to Luhan….

And, i wanna say thank you to you guys…  All of you who already read this ff…  Thankyou so much!  See you soon…

Advertisements

Flipped (Chapter 21)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Meluruskan Kesalah Pahaman

 

Krystal terbangun pada pagi hari dengan rasa pusing menyerang kepalanya. Matanya juga bengkak. Ketika pulang, yaitu pada pukul sebelas malam, yang Krystal lakukan adalah menuju tempat tidurnya dan menangis sepuasnya hingga terlelap. Krystal menatap dirinya di cermin dan menggerutu pelan. Kemarin hari yang buruk! Tetapi jantungnya berdetak lebih kencang mengingat apa yang terjadi pada hari kemarin juga. Hal gila yang ia lakukan kepada Sehun. Krystal memejamkan matanya dan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Setelah lebih dari sepuluh menit melihat dirinya melalui kamera hp di atas tempat tidur.

Ia menuju kamar mandi. Berpikir air segar dapat menyegarkan pikirannya. Krystal terbiasa mandi dengan air hangat. Entah itu musim semi, musim panas, musim gugur, ataupun musim dingin. Ia selalu menggunakan air hangat. Untuk kali ini saja Krystal ingin mencoba menggunakan air dingin. Mungkin sebuah perubahan dapat merubah sesuatu dari dirinya, terutama masalah hatinya.

Cukup lama Krystal berada di kamar mandi dengan terdiam di shower menikmati air dingin lebih dari setengah jam, ia keluar dari dan segera mengenakan pakaian rumah. Perasaannya mungkin kacau. Tetapi pikirinnya masih jernih. Ia mengingat dengan baik jika hari ini tidak ada jadwal kuliah. Selesai berpakaian ia kembali ke kasur dan melihat handphone-nya.

Mencari kesibukan. Melihat materi kuliahnya hingga chat dari Luhan masuk. Krystal tersenyum tipis membaca chat dari Luhan. Dia segera membalas. Berharap setelah ini Luhan akan meneleponnya. Ketika hp-nya berdering, tangan Krystal berasa agar. Bukan Luhan yang meneleponnya, melainkan Sehun. Dengan tangan bergetar, Krystal mengangkatnya.

“Apa aku menganggu?”

Suara berat itu selalu berhasil membuat ia kesulitan bernafas. Krystal menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Tidak. Ada apa menelepon ku?” Itu bukanlah suara ramah. Ataupun suara antusias. Nada suara Krystal penuh dengan ke kakuan yang pasti membuat Sehun berpikir jika Krystal tidak ingin berbicara dengannya.

“Soal kemarin…”

Mata Krystal terpejam. Nafasnya semakin tidak beraturan. “Oh…”

“Aku minta maaf.”

Jantung Krystal langsung berhenti berdetak. Perkataan berikutnya semakin membuat jantungnya berdetak lebih lambat.

“Tentang ciuman kemarin, aku merasa bersalah telah membalasnya.”

Air mata Krystal turun. Ia tahu yang Sehun katakan benar. Ia juga berpikir jika Sehun terbayang-bayang oleh rasa bersalah tersebut. Tapi sayangnya Krystal sama sekali tidak. Itulah yang membuat dirinya sedih. Ia merasa ia sama sekali tidak mempunyai harapan apa-apa terhadap Sehun.

“Krysta, kau masih disana?”

.

.

.

.

Lagu Too Good at Goodbyes Sam Smith mengalun di sudut café. Café yang terletak tak jauh dari kampus orang yang Krystal tunggu. Mengingat orang tersebut mempunyai jadwal kuliah. Kalau tidak salah laki-laki tersebut sudah mau di wiusda. Tapi entah mengapa Sehun berkata jika ia masih harus ke kampus.

Krystal yang sibuk menatap hp-nya, mencoba menetralisir gejolak hatinya. Kue yang ia pesan tadi sama sekali tidak mengunggah seleranya. Dia mendapat pesan dari Seulgi. Seulgi berkata jika keputusan Krystal bertemu dengan Sehun adalah keputusan yang tidak masuk akal. Setidaknya Seulgi belum tahu kejadian Krystal mencium Sehun. Jika tahu dia sudah di cap gila oleh Seulgi.

Luhan juga mengirimkannya pesan. Berkata untuk makan siang bersama. Laki-laki itu tahu jika Krystal menemui Sehun. Krystal yang mengatakannya ketika Luhan meneleponnya tak lama setelah Sehun meneleponnya. Krystal hanya berkata jika ia ingin bertemu dengan Sehun karena ingin menyelasaikan kesalah pahaman. Alasan yang sama kenapa Sehun ingin mengajak Krystal bertemu.

“Hei.” Sapa orang yang ditunggunya membuat Krystal mendongak. Sehun tersenyum tipis, mencoba untuk ramah, pikir Krystal akibat kakunya senyuman Sehun.

Krystal menjawab dengan senyuman. Dengan canggung, Sehun menarik kursi di depan Krystal dan duduk disana.

Sehun berdehem. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Krystal masih menatap Sehun dengan tangannya yang mulai dingin mencengkram hp.

“Soal kemarin…” Akhirnya, setelah keheningan mencekam Sehun membuka suaranya.

“Ada yang ingin ku katakan.” Sela Krystal menatap lurus ke arah Sehun. Ia sudah memikirkan hal ini sejak Sehun meneleponnya untuk meluruskan kesalah pahaman mereka. Rencana-rencana telah ia susun. Semua ia yang memutuskan. Memberi tahu Seulgi hanyalah sebuah cara untuk menetralisir detak jantung Krystal. Kali ini dia yang memutuskan semuanya dengan hati-hati.

“Baiklah. Kau duluan saja yang berbicara.” Ujar Sehun pendek.

“Ku rasa kau benar. Perasaanku mungkin hanyalah sebuah fatamorgana. Tidak sedalam yang ku kira. Aku mempunyai Luhan sekarang, jadi semuanya telah berubah. Kemarin…” Krystal berhenti sejenak. Menarik nafas sebelum kembali berkata, “Aku hanya pensaran, kurasa. Tapi yang pasti itu adalah kesalahan. Dan aku minta maaf telah membuat dirimu merasa bersalah.”

Sehun terpekur untuk beberapa saaat. Krystal memandang Sehun dengan tatapan ragu. Sorot mata Sehun berubah. Sehun mengerjap beberapa kali sebelum ia kembali menatap mata Krystal. Tatapannya aneh membuat Krystal seakan sulit bernafas.

“Kurasa itu salahku.” Kata Sehun pada akhirnya. Melihat Krystal akan memprotes, Sehun berucap, “Dengarkan aku dulu.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk.

“Aku seharusnya menjelaskan masalah kita ketika dirimu terbangun dari koma. Aku hanya merasa sejak aku memilih diam dan bersikap kepadamu layaknya seorang sahabat, hubungan kita semakin rumit. Tidak ada yang membenarkan perbuatan aku kepadamu ketika masa-masa SMA.”

“Lupakan hal tersebut. Aku tidak ingin mengingatnya.” Potong Krystal dengan nada yang tegas dan dingin.

“Aku bahkan tidak pernah meminta maaf kepadamu tentang perbuatan ku kepadamu. Jadi, aku minta maaf untuk hal itu. Kemudian pada akhirnya, kita seperti kucing dan tikus. Ada sesuatu yang membuat kita tidak ingin saling bertemu. Aku hanya ingin meluruskan hubungan kita, tidak harus sampai bersahabat seperti dulu. Setidaknya tidak ada lagi yang kita pendam.”

Mereka sama-sama terdiam. Memikirkan dengan baik apa yang harus dikatakan.

“Kau berkata seperti akan pergi.” Kata Krystal pada akhirnya. “Ini terlalu tiba-tiba dan rasanya aneh.”

Sehun lagi-lagi terpekur. Tapi kali ini ekspresi wajahnya terlihat lesu.

“Kau benar-benar akan pergi?” Krystal bertanya dengan nada khawatir sekarang.

“Aku mendapat beasiswa S2 di Jepang.” Kata Sehun pada akhirnya. “Kau benar ini terlalu tiba-tiba dan aneh. Sebenarnya, aku hanya berpikir akan lebih aneh jika tiba-tiba aku pergi tanpa bilang apa-apa.”

Krystal menundukan wajahnya. “Ah…”

“Krys…”

“Selamat…” Menampilkan senyum lebarnya. Sayang, matanya juga tidak ikut tersenyum.

Sehun lagi-lagi terdiam. “Terimakasih…” Kata Sehun pada akhirnya.

Krystal mengigit bibirnya, terlihat memikirkan sesuatu. “Jadi…. Apakah setelah ini kita akan seperti orang yang tidak mengenal?”

“Aku tidak tahu..” Jawab Sehun seadanya. “Kurasa semuanya menjadi sangat rumit.”

Krystal mengangkat tangan kanannya. Menelengkupkan semau jari-jarinya kecuali jari kelingkingnya, “Sahabat lagi?”

Sehun menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Kau yakin? Setelah apa yang ku lakukan?”

“Bukankah kita sudah meluruskannya?”

Sehun lagi-lagi terdiam. Ia memejamkan matanya sebelum membalas tautan kelingking Krystal, “Sahabat….” Ucapnya ragu.

Pinky promise!”

Sehun hanya bisa menghela nafas melihat Krystal tersenyum lebar. Tapi ia ikut tersenyum. “Kau tidak pernah berubah Krystal Jung.”

“Kapan kau akan berangkat? Aku ingin mengantarmu. Boleh tidak?” Lanjut Krystal dengan nada yang berbeda. Nadanya ringan dan ia terlihat lebih ceria.

“Tiga hari lagi aku akan berangkat.” Sehun tersenyum kecil.

“Baiklah.” Krystal mengangguk.

Dia akan mengatar Sehun pergi ke Jepang. Dia akan melepaskan Sehun. Sahabat? Itu sudah cukup baginya. Krystal jadi bertanya-tanya. Apakah mereka memang ditakdirkan sebagai sahabat?

.

.

.

.

.

Akhirnya hari keberangkatan Sehun tiba. Krystal tengah duduk anggun menunggu Oemma Sehun yang sedang membuatkan minuman. Luhan tidak ikut mengantar karena bentrok dengan jadwal co-ass nya.

“Ini sirupnya Krystal..” Oemma Sehun datang membawakan sirup leci yang membuat Krystal tersenyum lebar.

“Terimakasih bibi!” Ia segera meminumnya. “Jadi, Sehun belum siap?”

“Oh, anak itu baru dari kampusnya dengan badan penuh dengan krim. Jok mobil sampai kotor karena ia terlalu malas membersihkan diri. Ia sedang mandi di kamarnya.”  Oemma Sehun menceritakan dengan semangat. “Pesawat akan berangkat dua jam lagi dan dia masih dirumah.  Awas saja ia memindahkan jam terbangnya karena akan terlambat.”

Krystal tertawa kecil. “Aku tidak tahu ia mandi dengan sangat lama.”

Oemma Krystal terdiam sejenak, “Iya ya… Aneh. Oemma akan mengecek Sehun terlebih dahulu.”  Oemma Sehun bangkit tetapi ia kemudian menghentikan langkahnya, “Kau ingin menonton tv atau apa? Pasti membosankan menunggu Sehun.”

“Tidak apa-apa bibi. Aku disini saja.”
Oemma Sehun mendengus mendengar jawaban Krystal, “Kenapa malu-malu? Ayo sini menonton tv saja! Tidak ada penolakan!”

Krystal yang tidak enak hati akhirnya tersenyum dan mengikuti ibu Sehun. Ia tersadar jika cat rumah Sehun telah berubah.  Ahhh..  Sudah lama sejak terakhir kali ia datang ke rumah Sehun.

“Sayang…” Suara berat yang merupakan suara Appa Sehun membuat Krystal tersenyum.

“Paman!!!” Sapa Krystal dan ia melambaikan tangannya.

“Krystal!”  Appa Sehun tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

“Krystal akan mengantar Sehun ke bandara.” Jelas Oemma Sehun. “Bersama Luhan sebenarnya. Tapi tadi Krystal mengatakan jika Luhan ada jadwal co-ass.”

“Wah… Sudah lama sekali tidak melihat Luhan.” Komentar Appa Sehun. “Apakah wajahnya berubah?”

“Dia sangat awet muda paman.” Jawab Krystal sambil tersenyum.

“Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya.”

Mendengar jawaban dari Appa Sehun, Krystal tertawa kecil.

“Ada apa tadi memanggil?” Tanya Oemma Sehun.

“Melihat kaca mata coklat ku?”

Oemma Sehun kembali mendengus. “Di atas tv kamar.”

“Tidak ada!”

“Di atas tv kamar!” Oemma Sehun masih kekeh.

Appa Sehun yang kali ini menghela nafasnya, “Tidak ada, sayang…

“Baiklah… Akan dibantu mencarikannya.”  Oemma Krystal kemudian berteriak, “Bibi Ahn!” Tapi langsung saja ia menepuk jidadnya, “Bibi Ahn sudah pulang tadi.” Ia kemudian menoleh, “Krystal…”

Krystal tersenyum menunggu perkataan Oemma Sehun. Jangan bilang jika harus ia yang datang ke kamar Sehun.

“Bisakah kau datang ke kamar Sehun?” Astaga!

“Iya, bibi?” Krystal tidak salah dengar bukan.

“Tolong bibi ya… Atau Krystal ingin membantu paman mencari kaca mata?”

“Akan ku beri tahu bibi.” Putus Krystal pada akhirnya.

Oemma Sehun tersenyum dan segera menghilang ke lantai atas. Krystal menghela nafasnya dan mulai menaiku tangga.

Ia memegang jantungnya yang berdegup kencang. Tenang…. Tangan mengetuk pintu kamar Sehun. “Sehun…” Tidak ada jawaban. Atau jangan-jangan Sehun masih di kamar mandi? Haruskah ia masuk? Tidak ingin lancang sebenarnya. Ia kembali mengetuk.

“Krystal masuk saja. Sepertinya ia masih di kamar mandi.” Suara Appa Sehun menyentakan Krystal.  Appa baru saja keluar dari kamar dan turun ke bawah.

Dengan ragu-ragu, Krystal memasuki kamar Sehun. “Sehun…” Benar saja. Sehun masih mandi karena ia mendengar suara air. “Sehun…” Teriak Krystal lebih kencang. Ia sudah masuk ke kamar Sehun.

“Bentar Oemma! Aku sedang mencuci rambut ku!” Teriak Sehun dari kamar mandi.

Krystal tertawa kecil mendengar jawaban Sehun. Apakah teriakan Krystal seperti Oemma-nya? Ia menatap sekeliling kamar Sehun. Terlalu rapih untuk ukuran cowok. Mungkin saja ini karena Sehun ingin pergi ke Jepang. Mata Krystal tidak sengaja menangkap sebuah buku besar terletak di atas meja Sehun. Ia tidak tahu apakah lancang, Krystal mendekat ke arah meja Sehun. Memperhatikan jika di buku ini terdapat beberapa foto dan sebuah kertas. Tanpa bisa ia cegah, Krystal membaca isi kertas tersebut.

Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Ah… itu merupakan potongan diary Krystal. Tapi mengapa bisa ada di Sehun? Dia tidak melihat diary-nya sama sekali setelah Sehun mengembalikannya. Krystal meletakan kertas itu. Ingin menanyakan kepada Sehun nantinya. Saat meletakan kertasnya, mata Krystal menangkap jika di buku itu juga terdapat foto-foto yang berserakan. Ia tidak terlalu memperhatikan tadi. Tapi setelah ia memperhatikannya, semua itu adalah foto Krystal bersama Sehun dulu…

Tangan Krystal mengambil foto-foto tersebut sebelum ia memutuskan untuk membaca buku yang sengaja Sehun biarkan terbuka. Krystal membacanya sebaris dan ia langsung tercekat. Tangannya bergetar hingga foto yang ia pegang jatuh. Ia dengan cepat membuka halaman di belakangnya. Membacanya dengan cepat. Kemudian kembali membuka halaman belakang. Kembali membacanya dengan cepat. Ia membuka halaman buku tersebut dengan asal hingga sampai di halaman yang Sehun lipat, membacanya sejenak, hingga tak tersadar air matanya telah menetes.

.

.

.

.

.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan perasaan aneh. Entah mengapa. Ia melemparkan handuknya sembarangan dan segera memakai bajunya. Tak sampai lima menit, ia sudah siap dan memutuskan untuk keluar.
“Sehun!”  Oemma nya telah di depan pintu dengan wajah panik. “Apakah dirimu melihat Krystal?”

“Krystal?” Sehun mengeretukan alisnya.

“Krystal datang. Apakah ia ada di kamar mu?”

Jangan-jangan.. Sial! Ia lupa sesuatu!

“Sehun!”  Oemma-nya kembali memanggil.

“Krystal tidak ada di bawah?” Tanya Sehun pada akhirnya.

“Berarti dia tidak ada di kamarmu?”  Oemma Sehun benar-benar panik sekarang.

“Tenanglah Oemma. Aku akan mengecek hp ku terlebih dahulu. Mungkin tadi dia ada urusan mendadak yang membuatnya langsung pergi.”
“Baiklah. Kabari Oemma segera.  Oemma harus mengurusi kopermu terlebih dahulu.”

Sehun kembali masuk kamar. Ia mengambil handphone-nya. Tapi ia tidak langsung menelepon Krystal. Ia berjalan ke arah meja belajarnya. Menyadari jika foto-foto yang tadi terletak rapih di atas bukunya terjatuh, Sehun segera mengambilnya dan memejamkan matanya. Bodoh! Rutuknya dalam hati. Ia meletakan foto tersebut di samping bukunya dan melihat buku tersebut. Melihat halaman yang terakhir Krystal baca. Sehun segera mencengkram hp-nya. Tapi itu tak lama. Tangannya dengan cepat menelepon seseorang.

“Luhan! Kau melihat Krystal?! Atau kau dengar kabar darinya?! Kumohon cari dia sekarang! Aku takut ia melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri lagi…”

Sehun langsung keluar dari kamarnya.

“Sehun ada apa? Dimana Krystal?”  Oemma Sehun melihat anaknya aneh karena Sehun berlari ke arah pintu rumah.

Sehun menghentikan langkahnya, menatap Oemma nya, “Tolong tunda keberangkatan Sehun terlebih dahulu. Krystal dalam bahaya.”

“Apa?!”  Oemma Krystal berteriak panik. Tapi sebelum ia bisa mengatakan hal lain, Sehun telah menghilang dari pandangannya. Kemudian ia mendengar suara mobil.

.

.

.

.

.

Luhan terdiam sejenak setelah panggilan Sehun terputus. Ia masih mencoba untuk focus dalam menyetir mobilnya. Suara Sehun yang panik membuatnya bingung. Dia bingung apa yang terjadi dengan Krystal. Krystal sebenarnya telah meneleponnya. Jauh sebelum Sehun meneleponnnya. Suara gadis itu berbeda. Ia meminta Luhan untuk menemuinya di taman tak jauh dari rumah sakit Luhan. Ada yang ingin ia bicarakan. Penting katanya. Luhan berpikir Krystal hanya ingin berbicara biasa. Tapi tidak setelah gadis itu mengatakan jangan beritahu Sehun jika ia menanyakan dimana dirinya.

Memantapkan diri, Luhan membuka seatbelt-nya dan turun dari mobil. Dari lapangan parkir pun, Luhan dapat melihat Krystal yang sedang duduk menatap lalu lintas. Luhan mempercepat langkahnya hingga ia sampai tepat di depan Krystal. Agak jauh dari Krystal tapi Krystal pasti melihatnya. Ia ingin mengeluarkan senyumannya. Tapi entah mengapa, melihat ekspresi dingin Krystal, bibirnya tidak bisa terangkat membentuk sebuah lengkungan.

“Berhenti!” Seru Krystal tiba-tiba. “Jangan mendekat kumohon…” Suaranya tidak dingin. Tetapi sarat akan kesedihan.

“Krystal..” Luhan semakin bertambah bingung. “Apa yang terjadi?”

“Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu.” Krystal kembali berkata. Tidak punya niat sedikitpun menjawab pertanyaan Luhan. “Apakah… Apakah…” Suara Krystal agak bergetar. Ia memejamkan matanya dan berkata lirih, “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Aku…” Luhan tercekat. Tapi ia maju kedepan.

“Berhenti Luhan! Jangan mendekat!” Krystal berdiri dari kursinya dan mundur kebelakang. Menjauh dari Luhan. “Kenapa kau melarangnya? Apakah itu karena kau juga menyukai ku?”

“Krystal aku bisa jelaskan—”

“Aku tidak butuh penjelasan mu Luhan!” Potong Krystal. Sekarang ia benar-benar menangis. “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Jawab Luhan!” Krystal berteriak. “Jawab! Apakah kau tidak tahu aku menyukai nya?”

Tangisan Krystal membesar. Ia terjatuh. Menutupi mukanya dengan tangisan yang semakin membesar.

“Sehun menyukai mu dari dulu. Tidakkah kau sadar? Dia selalu berada di samping mu. Bahkan ketika kalian beda kelas. Dia selalu datang ke kelasmu mengajak mu ke kantin. Menunggu mu sampai dirimu di jemput. Selalu mendengar ocehan mu tanpa sekalipun memotong atau berkata ia bosan mendengar dirimu bercerita. Apakah kau tahu banyak gadis yang menyatakan perasaannya tapi ia menolaknya. Karena ia berkata jika ia menyukai mu. Itulah tatapan iri dari para gadis setiap mereka melihatmu.”

.TBC.

Next chapter will be the end…  See you soon guys

 

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

Flipped (Chapter 19)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

KHIANAT

Lima bulan. Ya, lima bulan. Hari ini tepat lima bulan sejak Luhan dan Krystal memutuskan untuk pacaran. Krystal melihat hp-nya yang sudah dipenuhi oleh chat dari Luhan. Salah satunya berisi tentang hari jadi mereka. Hp Krystal kembali berdering. Tapi kali ini bukan sebuah chat yang masuk, melainkan sebuah telepon dari Luhan.

“Hallo…” Jawab Krystal dengan suara khas bangun tidur, menjawab telepon Luhan.

“Happy five month anniversary…”

Krystal tidak dapat menahan senyumannya ketika mendengar suara Luhan, “Happy five month anniversary too….” Balasnya ceria. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya.

“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

“Ke kampus tentu saja. Aku pulang siang hari ini.”

“Baguslah…”

“Kenapa?”

“Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sehabis pulang.”

“Makan?” Tanya Krystal main-main. Ia hanya bercanda. Luhan bukan tipikal orang yang suka pergi ke restaurant jika ingin merayakan sesuatu. Lima bulan bersama dan Luhan suka mengajak Krystal ke tempat sedikt aneh untuk merayakan hari jadi mereka. Seperti taman, museum, atau pernah ke perpustakaan umum. Aneh, tapi Krystal menyukainya.

“Aku akan selalu mengajak mu makan. Ke tempat lain. Rahasia.”

Krystal tertawa mendengar jawaban Luhan yang selalu mengajaknya ke tempat makan. Lucu? Salahkan dia yang terlalu receh. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

“Kau tahu aku akan selalu dimana menunggu mu. Sampai nanti Krystal Jung.”

Lagi-lagi, Krystal tidak dapat menahan senyuman dan gejolak hatinya, “Baiklah. Sampai nanti.” Setelah sambungan telepon terputus Krystal memejamkan matanya. Rasanya damai. Keputusannya untuk bersama Luhan sepertinya tidak buruk, bukan?

.

.

.

.

.

Seulgi menatap Krystal yang sangat bahagia hari ini. “Happy five month anniversary…” Kata Seulgi pada akhirnya.

Krystal menoleh dengan tatapan terkejut, “Bagaimana kau tahu jika hari ini adalah—“

“Tentu aku tahu.” Potong Seulgi. “Sudah berkali-kali kau bahagia seperti ini. Tentu lama kelamaan aku juga hafal tanggal jadian mu. Kemana dia akan mengajak mu?”

Seulgi adalah orang yang tahu segalanya. Segalanya tentang hubungan Krystal dan Luhan.

“Oh, entahlah. Dia merahasiakannya.” Kemudian Krystal tersenyum. “Dia pasti sudah menunggu di luar.”

Seulgi mengangguk-angguk malas. “Yang lagi bahagia-bahagianya…”

“Kau iri bukan?” Krystal menatap Seulgi jahil.
Seulgi mendengus, “Apa kau bilang?” Katanya dengan nada yang diusahakan galak. Ayolah… Dia tahu jika Krystal hanya bercanda. Lagipula dia bukanlah seorang jomblo ngenes. “Aku sudah punya pacar…”

“Aku tahu. Aku tahu.”

Tepat setelah Krystal berkata seperti itu, bel pulang berbunyi. Langsung saja Krystal dan Seulgi memasukan novel yang daritadi mereka baca. Dosen Kwan sedang tidak masuk dan mahasiswa yang lain malas mencari guru pengganti. Dosen satu itu sudah sering membuat ulah karena sering tidak masuk sehingga dosen-dosen yang lain menjadi malas menggantikan kelasnya. Daripada mahasiswa-mahasiswa mendengar curhatan dosen yang lain mengenai Dosen Kwan, lebih baik tidak usah. Toh, pada akhirnya Dosen Kwan akan memberi nilai yang bagus karena tidak ingin ribet.

Sambil berbicara Seulgi dan Krystal berjalan keluar. Mata Krystal langsung mencari dimana Luhan ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.

“Kemana Luhan?” Seru Seulgi karena Luhan tidak ada di tempat biasanya, di depan kelas Krystal.

Tepat setelah itu, handphone Krystal kembali berdering.

.

.

.

.

.

Benar dugaan Krystal sedari awal. Perayaan mereka bukan di tempat romantis. Malah di tempat yang sangat-sangat Krystal benci, rumah sakit. Walaupun alasan dia berada disini bukan karena niat Luhan.

Luhan mengalami kecelakaan kecil saat sedang co-ass. Seorang pasien yang mabuk mendorongnya dan kepalanya terbentur dinding. Benar-benar suatu hal yang tidak di rencanakan. Untungnya keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Bahkan sudah di bolehkan pulang dengan beberapa jahitan di kepalanya.

“Maafkan aku…” Kata Luhan setelah kepalanya selesai di jahit kepada Krystal. Krystal sedari tadi menunggui Luhan. Dari kepala laki-laki itu masih dibersihkan hingga dijahit seperti ini.

Krystal menghela nafas mendengar permintaan maaf Luhan. “Tidak apa-apa Luhan. Sungguh. Apa aku terlihat marah? Tidak bukan?”

“Tapi aku sudah berjanji.”

“Aku tahu. Tapi siapa yang akan menduga ini? Lagipula, sehabis ini kita bisa berjalan-jalan sebentar dan baru pulang. Rencana mu belum sepenuhnya hancur.”

“Astaga…” Luhan menghela nafas lega. “Kukira kau akan menyuruhku pulang ke rumah dan berisitirahat sedangkan aku ingin mengajak mu jalan-jalan.”

Krystal tertawa mendengar hal itu. Satu hal yang ia suka mengenai Luhan adalah bagaimana laki-laki itu menjaga perasaannya dengan sangat baik.

“Tentu saja tidak.” Jawab Krystal. “Dokter tadi bilang jika keadaan mu baik-baik saja. Apa aku salah?”

“Tidak.” Luhan kemudian bangkit, “Aku akan mengurus izin untuk besok. Ingin tunggu di kantin? Biasanya ini memakan waktu setengah jam.”

Krystal dengan senang hati mengiyakan permintaan Luhan. Bagaimanapun juga perutnya sudah meminta jatah. Ia langsung berjalan menuju kantin yang terletak di sisi utara rumah sakit.

Dentingan bel terdengar ketika Krystal memasuki café. Penjaga kantin yang menggunakan seragam suster menyapanya dengan ramah.

“Aku pesan nasi goreng kimchi.” Kata Krystal yang langsung dicatat oleh penjaga kantin ber-name tag Park Hyein. “Minumnya ice lemon tea.”

Ketika Krystal ingin berbalik, terdapat seorang perempuan di belakangnya. Perempuan tersebut sangat cantik. Rambutnya tergerai dan dia menggunakan atasan yang sedikit terbuka, menurut Krystal. Memperlihatkan bahunya yang indah. Perempuan tersebut melihat ke arah Krystal dan tersenyum kecil. Krystal membalas senyuman perempuan itu. Baru setelah itu ia memutuskan untuk duduk di bangku yang terletak di sebelah jendela. Hanya tempat parkir sebagai pemandangannya, tetapi Krystal menyukainya.

“Aku pesan nasi gorengnya satu dan nasi tim. Untuk minumannya satu teh hangat dan satu lagi milkshake strawberry.” Suara perempuan tadi terdengar dengan jelas. Suasana kantin yang sepi dengan beberapa orang membuat apapun terdengar dengan jelas.

DB3Nl1pVoAAGfOG

Krystal yang sedang memandangi mobil lewat langsung menoleh ke pintu ketika terdengar bunyi dentingan. Dia pikir itu adalah Luhan. Tapi melihat siapa yang datang, ia langsung terkesiap keras.

Laki-laki itu menggunakan pakaian bewarna hitam dengan celana jeans. Wajahnya terlihat pucat dan kantung mata dengan jelas tercetak di wajahnya.

“Sehun!” Panggilan dari seseorang membuat Sehun datang mendekat. Krystal sama sekali belum bisa melepaskan pandangannya mengikuti arah gerak Sehun.

Ketika melihat bersama siapa Sehun duduk, ia langsung mengepalkan kedua tangannya hingga jari-jemarinya memutih. Sehun duduk bersama perempuan yang tadi tersenyum ke Krystal. Bersusah payah mengalihkan pandangannya kembali menuju mobil. Krystal menegukan ludah. Bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar keras.

“Aku sudah memesankanmu nasi tim. Kuharap kau suka.” Suara perempuan terdengar kembali.
“Oh, tentu Irene-ah. Tidak usah repot-repot. Kau sudah cukup bersusah payah menemaniku berobat.” Suara berat itu terdengar. Krystal semakin menahan nafasnya.

Rasanya, ia ingin tuli saat itu juga agar ia tidak dapat mendengar percakapan dua orang tersebut. Apalagi saat mendengar suara Sehun kepada perempuan itu.

He’s so care to her. Itu terlihat dari kata-kata yang Sehun ucapkan. And she’s also care to him. Perempuan tersebut-Irene- juga sama perdulinya dengan Sehun. Dia sangat santai membalas pernyataan Sehun yang sedikit keberatan dengan perlakuan Irene.

Unfortunately, he even doesn’t relize there’s you in here, Krystal Jung. Krystal berusaha tidak melihat Sehun lagi sehabis itu dan pura-pura sibuk menatap ke arah jendela.

.

.

.

.

.

Krystal merasa mengkhianati Luhan. Bagaimana dia masih bisa memiliki perasaan suka ke Sehun? Dia tidak menikmati sisa harinya setelah kejadian di café rumah sakit. Dia tersenyum dan tertawa kepada Luhan, tapi dia tidak bisa mengeyahkan kejadian café dalam pikirannya.

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk tidur. Tetapi malah berbagai pikiran menyergapinya. Ia mendsah keras akibat kepalanya yang pusing. Segera saja ia mengambil handphone-nya dan menelepon Seulgi.

Halo…” Jawab Seulgi di dering pertama. Nada suaranya belum terdengar mengantuk sama sekali. Mungkin teman dekatnya sedang menonton drama marathon.

“Seulgi…” Ucap Krystal lirih. “Apa aku menganggu mu?”

“Mendengar suara mu sepertinya kau sedang butuh bantuan ku. Ada apa?”

Krystal menarik nafasnya lalu mulai bercerita. Mengenai hari ini yang dicapnya gagal karena bertemu dengan Sehun. Ia menceritakan semua detail. Untuk apa ia datang ke rumah sakit, saat kejadian di café, dan bagaimana perasaannya.

Ku rasa kau sudah harus memutuskannya dari sekarang.” Gumam Seulgi ketika Krystal sudah selesai bercerita.
“Memutuskan?”

“Ya. Memutuskan untuk apa kau berpacaran dengan Luhan. Sebagai pelampiasan Sehun atau hal lainnya.”
“Tentu saja bukan sebagai pelampiasan!” Gerutu Krystal mendadak kesal mendengar Seulgi. “Aku benar-benar ingin serius dengan Luhan.”

“Aku tahu… Jika kau ingin serius maka jangan mudah goyah Krystal Jung. Sekarang kau mempunyai seseorang yang sangat mencintai mu. Apakah kau ingin mencampakkannya demi seseorang yang tidak pernah melihat mu?”

“Rasanya sangat sulit untuk melepaskannya.” Kata Krystal lirih. Matanya terpejam beriringan dengan detak jantungnya yang meningkat, “Aku terkadang membenci diriku yang lembek di hadapan Sehun.”

“Kau mencintai Sehun dalam waktu yang sangat lama. Wajar jika kau tidak bisa melupakannya dengan cepat. Kau ingin saran ku?”

“Tentu.”

“Bandingkan lah keadaan mu dulu ketika mengejar Sehun dibandingkan sekarang, ketika kau mengejar Luhan. Jika kau ingin merasakan sakitnya mengejar Sehun mungkin kau bisa mengingat detail-detail kecil dengan membaca buku diary mu.”

Dahi Krystal mengerut, buku diary nya? Kemana bukunya itu?

.

.

.

.

.

Berbicara mengenai buku diary-nya, Krystal sama sekali belum menemukan buku itu.   Entah dimana buku itu. Gadis tersebut bahkan tidak mengingat dimana ia menyimpan buku tersebut. Bibi Kwon tidak tahu. Padahal biasanya bibi Kwon tahu hal-hal seperti ini. Krystal menghela nafasnya. Setidaknya pikiran dia beralih dari Sehun ke buku diary-nya.

“Bagaimana kabar buku diary mu?”

Suara Seulgi membuat Krystal menoleh kepadanya saat ia mengunyah pada jam makan siang. “Belum.” Jawabnya setelah menelan makanannya. “Aku bahkan tidak dapat mengingat dimana aku menyimpannya.”

Sebelum Seulgi dapat berkomtentar, hp Krystal berbunyi dan dengan sigap ia mengangkatnya. “Hallo…”

Hai…” Suara di ujung seberang membuat Krystal membulatkan matanya. Ia langsung melihat layar handphone untuk memastikan yang meneleponnya adalah Sehun. Dan benar, laki-laki itu meneleponnya.

“Oh, Hai. Ada apa?” Ujar Krystal dengan suara yang diusahakan ceria.

“Aku ingin bertemu dengan mu.”

Hah? Ada apa lagi ini?

“Bertemu dengan ku?”

“Ada hal yang ingin ku sampaikan kepada mu.”

Krystal menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh…. Bagaimana ini?

“Aku berada di depan kelas mu.” Perkataa Sehun membuat Krystal melongo. “Tapi kata teman mu kau keluar.”

“Di taman. Ayo kita bertemu di taman.” Ujar Krystal cepat pada akhirnya. Entah apa alasan Sehun, tapi ia harus dengan cepat menuntaskan hal ini.

“Ada apa?” Tanya Seulgi ketika Krystal menutup handphone-nya.

“Nanti akan ku ceritakan.” Krystal langsung lari meninggalkan Seulgi.

.

.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian Krystal sampai di taman fakultasnya. Sehun sudah menunggu di situ sambil duduk. Ketika ia melihat Krystal, Sehun pun bangkit dan berjalan mendekat ke arah Krystal. Tangannya membuka tas punggungya dan dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Buku diary mu.” Kata Sehun dan memberikan buku diary milik Krystal.

“Bagaimana bisa?” Tanya Krystal bingung. Tangannya dengan pelan mengulur mengambil buku diary nya. Ia kemudian menatap Sehun, “Bagaimana bisa?”

Sehun menghela nafasnya. “Aku menyimpan buku mu. Tentu saja atas perintah Dokter Kim. Dokter Kim berkata jika ia menginginkan dirimu mengingat secara perlahan akibat masalah amnesia mu.”

Krystal masih menatap Sehun bingung, “Tapi… Itu bisa saja…” Kemudian ia memekik, “Bagaimana kau tahu tentang buku diary ku?”

“Itu tidak sengaja.” Kata Sehun pelan dan wajah datar. Astaga… Laki-laki di depannya hanya memasang wajah sangat santai dan dengan santainya menatap manik mata Krystal. “Banyak hal yang terjadi ketika kau koma. Termasuk saat aku harus tidur di kamar mu ketika orangtua kita masih sibuk berdiskusi. Saat aku ingin tertidur, aku tidak sengaja menemukan buku diary mu di bawah bantal.   Sebenarnya, bisa saja aku menyuruh Bibi Kwon untuk menyimpannya. Tetapi Bibi Kwon tidak enak sehingga aku yang menyimpannya.”

Krystal mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia rasa ia tidak dapat menemukan kebohongan dalam kalimat Sehun. Entah Sehun tidak berbohong atau ia terlalu pandai berbohong. Ia berdehem, “Oh, terimakasih.”

Sehun mengangguk, “Aku pamit dulu. Aku harus ke kampus.”

Krystal tidak menjawab. Sehun berbalik. Jadi Sehun sehabis ini akan ke kampus. Pikir Krystal. Tetapi matanya kembali menyipit.

“Tunggu!” Teriak Krystal karena ia mengingat sesuatu, “Bukankah dirimu sakit?”

Sehun yang sudah berbalik ketika Krystal memanggilnya terdiam sejenak. “Oh…” Ia kemudian tertawa kecil, “Itu sudah tidak apa-apa kok.”

“Aku sebenarnya melihatmu bersama teman mu. Tapi aku merasa tidak enak menyapa mu. Kau sedang terlihat mengobrol asyik.” Hening sejenak, kemudian Krystal menambahkan, “Siapa namanya?”

Entah mengapa Sehun tersenyum sangat lebar, “Irene…”

Krystal mencengkram buku diary-nya.

He’s now in front of you, still his thought only for her. Guess, he’s not really ‘looking’ at you.

.TBC.

Hohoho…  Sudah beberapa lama saya absent-kan ff ini?  State of Grace chapter  terbaru udah selesai.  Tapi nanti aja saya publish yaaa..  *evil laugh*  Flipped chapter 20  juga lagi di tulis…  Tape baru 3/4 dan saya lagi males…  See you soon guys….

Flipped (Chapter 18)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kesempatan

“Krystal…”

Krystal menoleh tak kala ibunya memanggil dirinya dengan lembut.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ibunya masih dengan nada lembut.

Krystal cepat-cepat mengangguk, “Tentu. Aku baik-baik saja.” Ia tersenyum. Hanya ada hal yang terganjal di benak ku.. Lanjutnya dalam hati. “Oemma tidak jadi ke tempat Imo?”

Oemma Krystal memandang anaknya ragu, “Bagaimana episode Criminal Minds nya?” Tanyanya karena Krystal sedari tadi asyik menonton tv di kamar rumah sakitnya.

“Oh, Reid tetap yang paling ganteng…” Jawab Krystal memuji salah satu tokoh di film tersebut, Dokter Spencer Reid.

“Kau tahu jika Spencer Reid tidak ada di situ. Ia pergi mengunjungi Oemma nya…”

“Oh?” Krystal mengerjap bingung sebelum ia menjawab, “Oemma tahu jika tidak ada yang paling ganteng kecuali Reid bukan?”

Oemma Krystal menghela nafasnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, “Oemma akan pergi ke rumah Imo besok saja.”

“Aku tidak apa-apa….” Kata Krystal dengan nada sungguh-sungguh. “Oemma tidak perlu ragu untuk meninggalkan ku…”

Cklek~

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Luhan!” Sapa Krystal dengan ceria. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Luhan membalas lambaian tangan Krystal dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang bunga. Kemudian matanya menatap Oemma Krystal, “Ah, Anyeonghaseyo bibi…”

Ibu Krystal ikut tersenyum, “Hai Luhan…. Kau sangat rapih hari ini… Habis dari kampus?”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpakaian rapih ini hanya untuk bertemu Krystal sebenarnya. Juga, ia masih dalam penyembuhan tipes.

“Kau sudah pergi ke kampus? Bukannya kau masih dalam masa penyembuhan? Bagaimana jika kau sakit lagi?” Krystal menatap Luhan dengan mata menyipit.

“Aku baru saja dari dokter ku. Sebelum kesini aku membelikan bunga angrek untuk Krystal.” Elak Luhan.

“Angrek?” Tangan Oemma Krystal terulur ke angrek Luhan. Angrek yang Luhan bawa bewarna ungu, “Sangat indah bukan?”

“Dalam filosofi China angrek artinya ‘Semoga cepat sembuh.’” Seru Luhan sambil tersenyum. Ia berdehem, menghilangkan kegugupannya.

“Sangat indah…” Komentar Oemma Krystal. Ia pun masih asyik memandangi anggrek pemberian Luhan yang sekarang ia taruh di meja dekat kaca.

Hening sejenak, jujur Luhan bukan orang yang bisa memulai percakapan dengan orang baru dan di ruangan ini adalah ibunya Krystal.

“Luhan,” Seru Oemma Krystal tiba-tiba, “Bisakah kamu menjaga Krystal sebentar? Bibi ingin pergi sebentar saja. Sekitar satu jam.”

“Tentu.” Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Sebuah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Dengan ini dia dapat leluasa berbicara dengan Krystal. Termasuk mengutarakan perasaanya.

Oemma Krystal kembali tersenyum lebar. Ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah Krystal, “Oemma pergi dulu ya… Tidak akan lama. Oemma janji.” Ibunya kemudian mengecup kedua pipi Krystal. Tak lupa mengucapkan terimakasih ke Luhan sebelum pergi dari kamar.

Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Akhirnya…. Aku bosan disini! Aku juga tidak mengerti kenapa aku disini. Ku rasa aku baik-baik saja!” Cerocosnya kemudian ia mengerjapkan matanya. Pipinya merona, “Hey, duduklah… Aku lupa menyuruh mu duduk. Kau masih berdiri tepat di tempat dirimu masuk.”

Luhan terkekeh melihat raut wajah Krystal. Ia menurut dan duduk di sofa yang letaknya tepat di ranjang Krystal.

“Bagaimana denganmu? Bukannya kau seharusnya lebih membutuhkan istirahat daripada ku?” Lanjut Krystal lagi.

Gadis itu tidak terlihat sakit sama sekali jika dilihat dari rupanya yang tidak pucat dan suaranya yang riang. “Tubuhku sudah lumayan sekarang. Tubuhmu lebih membutuhkan istirahat sepertinya. Kau mengalami shock kau tahu itu?”

Tatapan Krystal tiba-tiba meredup. “Ah, jadi kau tahu itu…” Itu menunjukan tentang kasus hilang ingatannya akibat kejadian ia meloncat dari sekolahnya.

“Aku…” Suara Luhan berubah panik.

“Tidak apa-apa.” Potong Krystal. Ia kemudian tersenyum walau menurut Luhan ia tetap terlihat sedih, “Itu terlalu memalukan bagiku sampai aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mu. Aku selalu terlihat ceria ketika dulu dan aku ingin kau melihatku dengan cara itu.”

“Mungkin tidak seperti itu. Ketika aku datang aku tidak memikirkan adanya perubahan. Aku masuk dan bertindak seperti biasanya. Seperti dulu. Dan kau sebagai sahabatku tidak ingin menyakitiku sehingga seperti itu—“

“Tidak Luhan.” Potong Krystal lagi. “Aku membenci bagian dari masa itu. Makanya aku tidak ingin memberi tahu hal itu kepada siapa-siapa. Kau adalah orang dari masa yang paling membahagiakan dari ku dan aku tidak ingin menghancurkan masa-masa itu. Sejujurnya, Sehun bukan bagian dari itu. Aku dan Sehun terlibat sesuatu sehingga kami memutuskan komunikasi. Kedatanganmu membuat kami kembali bersatu dan sejujurnya aku senang akan hal itu. Karena kalian sahabat ku…”

Luhan tergugu sejenak mendengar penjelasan Krystal. Nafasnya memberat. Kata-kata Krystal hampir sama seperti kata-kata Sehun. Dia jadi semakin tambah salah. Segitu dia tidak peka terhadap sahabatnya?

“Luhan….” Suara lembut Krystal kembali menyadarkan Luhan. Ia mengeluarkan senyumannya lagi. Tapi kali ini terlihat tulus, “Jangan terlalu dipikirkan kata-kata ku. Kau adalah sahabat yang baik.”

“Kalau aku melebihi sahabat boleh tidak?” Tanya Luhan tiba-tiba. “Maksudku menjadi pacar mu?”

Kali ini Krystal yang terdiam. Jadi benar selama ini Luhan menyukainya? Dia melihatnya dengan jelas dan semua orang melihatnya dengan jelas. Entah mengapa hatinya tidak ingin Luhan mengatakannya. Dan dia tidak tahu alasannya.

Luhan kembali berbicara, “Aku menyukai mu dari dulu. Jika ingin jujur, aku menyukai mu sejak SD. Ketika Sehun mengenalkan dirimu padaku aku biasa saja. Tiba-tiba perasaanku kepada muncul saja. Tanpa alasan yang jelas. Aku telah jatuh cinta kepada mu. Dilain sisi aku juga tidak ingin menghancurkan persahabatan kita sehingga aku berjanji akan memberitahu mu ketika perasaan ku tidak berubah ketika dewasa. Dan perasaan ku tidak berubah ketika dewasa.” Luhan berhenti sejenak, “Maukah kau menjadi pacar ku?”

Luhan menyukainya sedari dulu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu? Apakah dia terlalu buta karena Sehun sehingga dia tidak melihat Luhan? Kalau dipikir-pikir, alasan Luhan tidak mengungkapkan perasaannya dulu juga sama seperti dia tidak mengungkapkannya kepada Sehun. Dia hanya ingin dia yakin sebelum ia memberi tahu Sehun tentang hal itu.

Setidaknya ia yakin pada satu hal sekarang. Sehun tidak menyukainya dan kemungkinan ia bersama dengan Sehun juga kecil. Laki-laki itu akan terus menolaknya dengan alasan yang tidak akan Krystal ketahui sampai entah kapan. Sejujurnya, kenapa dia harus menunggu yang tidak pasti sedangkan yang pasti ada? Sudah seharusnya bukan ia menutup segala hal yang berhubungan dengan Sehun? Apalagi dengan ia mengingat semuanya, itu sudah sangat jelas.

Krystal menatap Luhan, “Ya, aku mau.”

.

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapati benda yang di lempar dari Sehun. “Bunga?!”   Tanyanya dengan alis berkerut.

“Kau sakit bukan?” Kata Sehun acuh tak acuh kemudian segera merebahkan dirinya ke kasur Chanyeol.

“Cih, Apa-apaan itu?!” Chanyeol dengan asal melemparkan bunga pemberian Sehun ke lantai. Ia juga merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tak lama kemudian matanya menatap Sehun tajam, “Apa maksudmu dengan aku sakit?”

“Sakit hati…” Balas Sehun sambil menerawang ke atas.

Chanyeol berdecak, “Bisakah kau tidak membahas hal itu?!” Ia kemudian menghela nafasnya.

“Jangan menjadi pengecut. Minta maaflah karena dirimu masih ada kesempatan.” Kata Sehun lagi dengan masih dengan tidak melihat Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Bagaimana bisa aku meminta maaf kalau ia tidak mengangkat teleponku? Atau kabur setiap kali aku ingin bertemu dengannya?” Chanyeol mengerang frustasi, “Itu sebenarnya hanya masalah kecil Oh Sehun. Aku tidak mengangkat teleponnya dua kali karena saat itu sedang di ruangan Professor Jung. Bagaimana bisa aku mengalihkan fokusku dari dosen galak itu?! Bisa-bisa skripsi ku tidak diterima olehnya dan harus mengulang lagi tahun depan. Seperti yang Junmyeon alami. Tapi dia berteriak marah-marah dan itu membuatku bingung. Tidak biasanya dia seperti itu. Ini pertama kalinya dia seperti itu.”

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Seperti dia sedang mengalami hal yang buruk. Habis dimarahi oleh dokternya. Atau tersinggung oleh kalimat mu.”

Chanyeol terkesiap. “Tersinggung…..” Ia terlihat berpikir. “Aku hanya mengatakan jika waktu itu aku sedang menghadap Professor Jung. Tiba-tiba ia marah-marah. Sudah kubilang, itu bukan sangat dirinya.”

“Dan ini bukan sangat dirimu Park Chanyeol. Kau sangat pesimis. Ini baru dua hari kau mencoba meminta maaf dengan Sulli dan kau sudah menyerah sekarang? Ayolah…. Kau bisa lebih baik daripada itu.”
“Aku memberikan ia waktu agar ia agak tenangan. Baru aku muncul lagi. Lagipula kesempatan esok atau lusa pasti ada.”

Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap gumpalan awan yang dihiasi keemasan matahari dari jendela kamar Chanyeol. “Tidak ada yang tahu mengenai kesempatan. Tidak ada jaminan kau yang mengenalnya sejak dulu bisa bersamanya. Karena kesempatan bukan di tentukan oleh itu. Bukan di tentukan oleh waktu dan tempat. Tapi kesempatan ada karena adanya sebuah usaha. Seseorang yang lebih cerdas bisa memiliki kesempatan lebih besar daripada yang mempunyai segalanya tapi tidak tahu menggunakannya. Itulah kesempatan.”

Chanyeol menatap Sehun dalam. Suara Sehun yang tidak ada main-mainnya, tegas membuat ia menyeringit. Apa yang terjadi dengan temannya?

“Hey, kau juga punya masalah? Kau bisa bercerita padaku kau tahu itu?”

Sehun kemudian berdiri. “Bukan masalah besar sebenarnya. Lupakanlah. Masalahnya sebentar lagi akan selesai.”

“Apa ini tentang Krystal? Kau kehilangan kesempatan dari Luhan?”

Sehun seperti tidak mendengarkan pertanyaan Chanyeol. Ia hanya diam dan memakai jaketnya. Bersiap-siap untuk pulang.

Sebelum membuka pintu Sehun pun berkata, “Pada akhirnya, bukan aku yang tidak ingin menjilat ludahku sendiri. Tapi memang sudah terlambat bahkan harus menjilat ludahku sendiri.”

Pintu berdebum dan Chanyeol kembali sendiri ke kamarnya. Tatapannya masih tetap berada di tempat Sehun sebelumnya. “Ck! Apaan sih… Aku tidak mengerti!”

Dengan malas ia bangun dan mengambil bunga pemberian Sehun. ‘Oh, ada kartu ucapan rupanya.’ Chanyeol segera membaca kartu itu dengan cepat dan secepat itu pula dia menggeram, “Sialan! Aku tahu dia tidak pernah niat datang kepadaku untuk mendengarkan curhatan ku!”

Ia kembali melempar bunga pemberian Sehun ke lantai.

“Untuk Krystal, ku harap kau cepat sembuh. -Oh Sehun-“

.TBC.

Haiiii….

Sebelumnya aku minta maaf karena lama banget updated-nya.  Ada beberapa hal yang buat aku lama updated yang salah satunya adalah karena aku baru naik ke kelas 12 dan rasanya 😫  Baru permulaan tapi udah ingin nangis.  Jadi karena aku udah mulai bimbel 5 hari dalam seminggu (😅)  pulang sekolah sekitar jam 4 dan lanjut bimbel, intinya sampe rumah jam 8, buat ngelanjutin cerita rasanya malas dan ngantuk.  Dua minggu ini aku berkutat di depan laptop yang unjung-unjungnya cuman nulis berapa baris.

Kemarin dapat feel lagi buat nulis…  doain aja ya dapat terus feel nya…

Have a nice day~ 😇☺️😊

Oh, ya,  State of Grace chapter 27 kalau gak besok lusa….😉

Flipped (Chapter 17)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Di luar Akal

Hanya satu dipikiran Luhan sekarang. Krystal. Krystal. Krystal. Gadis itu benar-benar membuatnya khawatir. Tadi pagi ia baik-baik saja. Entah mengapa, kemudian dia tidak sadarkan diri. Begitulah informasi yang Luhan dapat dari Sehun.

Luhan awalnya menelepon Sehun untuk menanyakan kabar Krystal. Tapi malah digemparkan karena hal itu.

“UKS! UKS! Aku ingin ke UKS!” Kata Luhan ke perempuan di depannya.

“Oh, UKS?” Tanya perempuan di depannya bingung.

Luhan mengerang. Apa perempuan tadi tidak dengar? Ia akhirnya mengangguk.
“Di gedung itu lantai tiga…” Tunjuk perempuan tersebut ke sebuah gedung di samping kanan Luhan.

“Terimakasih!” Luhanpun segera berlari menuju gedung itu.   Bergerak cepat ke lantai tiga.

Dan….

Kosong…

Hanya ada satu perempuan yang tidak Luhan kenal. Dia terlihat panik sekali.

“Maaf….” Ucap Luhan memecah keheningan.

Perempuan tersebut yang tadi menatap jendela terlonjak kaget. Segera menoleh.

“Aku mencari Krystal Jung…” Kata Luhan lagi.

“Aku juga!!!” Teriak perempuan itu panik. “Tadi dia di sini. Sekarang menghilang! Benar-benar menghilang!”

“Apa?”

“Astaga! Aku harus mencari dia sebelum melakukan hal-hal aneh!”

“Apa maksudmu?”
“Kau tidak tahu? Krystal punya riwayat bunuh diri!” Seru perempuan itu histeris. “Astaga bagaimana jika sekarang dia ada di atap?! Aku harus ke atap sekarang juga!” Lanjutnya lagi.

Tangan Luhan menahan perempuan tersebut keluar, “Biar aku saja! Kau umumkan pencarian Krystal!”

Perempuan tersebut akhirnya mengangguk. Mereka berpisah. Perempuan itu ke bawah. Luhan ke atas, menuju atap.

Pikirannya sekarang terbebani satu hal lagi. Krystal punya riwayat bunuh diri? Tapi gadis itu terlihat baik-baik saja. Bahagia tanpa ada masalah apa-apa.

“Hosh… Hosh… Hosh…” Nafas Luhan tercekat ketika ia sampai di lantai atas. Masih lelah tetapi ia memaksakan diri berjalan lagi. Tangannya terulur ke pintu. Dia akan membuka pintu itu.

Deg!

Gerakan tangan Luhan terhenti. Pintu itu memiliki kaca kecil. Luhan dapat melihat dengan jelas jika Krystal dan Sehun berpelukan. Cengkraman tangannya mengencang. Krystal sesenggukan di pelukan Sehun. Sehun memeluk Krystal dengan mata terpejam.

Tidak tahu salah atau benar, Luhan benar-benar merasa cemburu akan hal itu. Ia menahan nafasnya. Ia harus menahan diri agar tidak membuka pintu dan menunjukan kecemburannya. Luhan tetap di pintu menunggu kadar kecemburuannya turun. Dia melihat Krystal dan Sehun. Entah berapa lama. Sampai isakan Krystal mengecil.

Sehun menunduk, berbicara sesuatu ke Krystal. Krystal sejenak menatap Sehun sebelum mengangguk. Dan mereka akhirnya berbalik, berjalan menuju pintu.

Luhan memutuskan untuk keluar.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan menutup pintu. Memaksakan muka ceria, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nadanya yang paling ia buat santai.

“Kau berhasil masuk rupanya…” Komentar Sehun.

Luhan menyunggingkan senyumnya, “Kau meragukan ku bukan?”

“Aku ingin pulang!” Seru Krystal tiba-tiba.

“Kau harus ke dokter terlebih dahulu… Memeriksa keadaan mu.” Balas Sehun membuat Luhan semakin tertegun.

Jadi Sehun mengetahuinya? Kenapa ia tidak bilang apa-apa? Dia merasa seperti yang paling bodoh di sini.

Luhan akhirnya membuka suaranya, “Biar aku temani dirimu ke dokter.”

“Bukannya kau harus istirahat?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Luhan mendengus. Kenapa juga harus di ingatkan pada hal itu?

“Aku bisa menemaninya. Sakit ku tidak akan parah.” Kata Luhan masih bersikeras. “Kau akan ku temani ke dokter.” Lanjut Luhan ke Krystal.

“Ayo!”

Luhan diam sesaat mendengar jawaban Krystal.

“Kau bilang kau ingin menemani ku ke dokter bukan?” Krystal menoleh ke Luhan yang diam saja.
Luhan cepat-cepat mengangguk, “Baiklah tapi ada orang yang mencari mu tadi! Kurasa—“

“Biar aku saja yang mengurusnya. Kau pergi menemani Krystal.” Potong Sehun.

Luhan mengangguk. Ia dan Krystal akhirnya menjauh dari Sehun.

.

.

.

.

.

Cklek~

Pintu ruangan terbuka. Dokter Kim masuk dengan senyuman khasnya. Terlihat sangat gembira.

“Keadaan alat vital mu baik-baik saja.” Jelas Dokter Kim sambil melihat-lihat kertas yang dipegangnya. “Kau bilang kau pingsan tadi?”

Krystal mengangguk, “Ya. Ketika aku mengingat semuanya.”

“Itu hal lumrah. Tubuh anda mengalami shock sehingga Anda pingsan. Berapa lama Anda pingsan?”

“Entahlah. Satu jam mungkin?”

“Mengesankan!”

“Mengesankan?!”

Dokter Kim tersenyum ke Krystal, “Biasanya orang-orang akan pingsan selama berhari-hari. Itu mengesankan Krystal Jung. Apalagi alat vital mu baik-baik saja…”

Krystal menghela nafasnya, “Jadi aku boleh pulang?”

Dokter Kim menggeleng, “Tidak!”

“Tidak?!”

“Aku ingin melihat keadaan mu sampai tiga hari kedepan. Aku tidak ingin kau jatuh pingsan lagi secara tiba-tiba.”

“Aku tidak mau!”

“Krystal… Kau harus mengerti… Tubuhmu pasti masih bingung sekarang. Kau mengingat hal yang tidak ingin kau ingat. Apa kau lupa apa perkataan mu? Kau mengalami Repressed Memory. Amnesia karena tubuh mu tidak ingin mengingat hal itu dan sekarang kau mengingatnya! Kau tidak baik-baik saja! Hanya tiga hari dan sehabis itu kau boleh pulang!”

Krystal menghela nafasnya, lagi, “Baiklah…”

“Bagus!” Seru Dokter Kim. “Orangtua mu sudah menunggu di luar. Sebaiknya kau menjenguk mereka dulu!”

Krystal tersentak. Orangtuanya? Rasanya ia tidak ada menelepon orangtuanya tadi.

“Mereka?” Tanyanya memastikan.

Dokter Kim menoleh, “Iya. Mereka terlihat begitu khawatir tetapi juga senang.” Kemudian keluar dari ruangan.

Krystal menoleh ke arah pintu. Ia akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Kim.
“Krystal kau membuat kami khawatir!” Cecar ibunya dan langsung memeluk Krystal.

“Oemma…” Krystal membalas pelukan ibunya.

Ibu Krystal melepaskan pelukannya, “Kau kenapa tidak menghubungi kami tadi?! Untung saja Sehun menelepon kami!”

Sehun?!

.

.

.

.

.

Suasana hati Luhan sama sekali tidak membaik. Dia masih dipenuhi dengan perasaan cemburu. Apalagi ketika orangtua Krystal datang karena Sehun menelepon mereka. Bodoh juga karena ia tidak mengingat hal itu, menelepon orangtua Krystal. Tapi ia benar-benar sedang cemburu ke Sehun.

“Aku tidak ingin mengkhawatirkan kalian!” Kata Krystal menjawab pertanyaan ibunya. “Lagipula keadaanku tidak apa-apa.”

“Luhan terimakasih telah mengantarkan Krystal!”

Luhan terkejut setengah mati mendengar ayah Krystal berbicara.

“Tidak apa-apa Samchon. Aku dengan senang hati melakukannya.”

“Kau benar-benar teman yang baik!”

Luhan tersenyum menanggapi perkataan ayahnya Krystal.

“Ku dengar dari Krystal kau sedang sakit. Sebaiknya kau pulang Luhan!” Kata ayah Krystal lagi.

Luhan mengangguk tak ingin membantah. Pastinya dengan ada orangtua Krystal keadaan Krystal baik-baik saja. Jadi, Luhan dapat mengurus hal lain. Termasuk menanyakan tentang hal-hal yang ia tidak ketahui mengenai Krystal ke Sehun.

.

.

.

.

.

Suara dentingan pintu menyebabkan Luhan menoleh. Ia mengangkat tangannya sebagai tanda agar Sehun datang kepadanya.

“Aku terlambat?” Tanya Sehun ketika duduk.

“Aku yang terlalu cepat.” Jawab Luhan pendek. “Ngomong-ngomong, kau tidak ingin memesan terlebih dahulu?”

Sehun menggeleng, “Aku tahu kenapa kau memanggil diriku disini. Jujur, aku sangat lelah. Jadi aku tidak ingin berlama-lama disini.”

“Kenapa?” Tanya Luhan menatap Sehun.
Sehun menghela nafasnya, “Kenapa aku tidak memberi tahu mu tentang Krystal?”

Luhan mengangguk, “Kau harus tahu aku seperti orang bodoh tadi!”

“Kau harus tahu banyak yang terjadi ketika dirimu pergi.” Sehun mengangkat tangannya ketika Luhan ingin berbicara, “Tunggu. Jangan bantah aku dulu. Banyak hal terjadi. Termasuk kepada Krystal dan aku.”

“Tapi Krystal mencoba untuk bunuh diri sebanyak dua kali. Kau seharusnya memberi tahu kepada ku!”
“Kenapa aku harus memberi tahu kepada mu?” Sehun mendesah. “Kau ingin aku jujur?”

Luhan terdiam.

“Baiklah. Aku dan Krystal tidak pernah berhubungan selama dua tahun. Kami berhubungan kembali sejak kau datang. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah. Jadi, apakah aku harus mengatakan kepada mu? Di saat aku dan dia harus bertingkah baik-baik saja di hadapan mu?”

Sehun kembali berbicara, “Lagipula jika aku mengatakan sebenarnya kepadamu, tentang hal ini, kau akan percaya kepadaku?

“Kau seharusnya tetap memberi tahu ku!” Luhan tetap bersikeras.

“Apa yang terjadi pada mu?!” Sehun berteriak frustasi.

“Yang terjadi pada ku?!” Balas Luhan sambil berteriak. Beberapa pelanggan melihat ke arah mereka. “Aku frustasi Sehun. Aku sendiri yang tidak tahu apa-apa tadi! Kau tahu! Sedangkan aku hanya diam mengikuti alur!”

Terdengar dengusan, “Kau cemburu dengan ku?” Tanya Sehun tajam. Wajahnya memerah menahan amarah. Terdengar gertakan giginya. “Bagaimana bisa?”

Luhan seketika memandang Sehun bingung.

“Bagaimana bisa kau cemburu pada ku? Apa belum cukup?”

“Belum cukup?”

“Iya!! Belum cukup!!” Teriak Sehun kepada Luhan. “Apa belum cukup? Kau pernah tidak menghargai ku Luhan? Sebaiknya mulai sekarang kau harus. Kau bisa saja sekarang berjalan di belakang ku dan Krystal sedangkan aku disampingnya. Tapi lihat!! Kau berada di sampingnya dan aku berada di belakangnya!”

Setelah itu, Sehun segera meninggalkan Luhan yang terdiam cukup lama. Luhan memandang kepergian Sehun. Astaga! Apa yang baru ia lakukan kepada sahabatnya Oh Sehun?!

.

.

.

.

.

Sehun mengerang frustasi. Matanya yang ia coba ia pejamkan tidak bisa terpejam secara sempurna. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil hp, dan melihat jam. Astaga…. Masih jam satu! Ini semua karena ia tertidur sangat cepat. Jam lima sore. Mungkin karena rasa lelah akibat hari ini. Salah, hari kemarin! Intinya, ia tertidur begitu ia menghempaskan tubuhnya di kasur, tentunya setelah berganti pakaian.

Dahinya berkerut ketika ia juga menemukan missed call dari Luhan. Luhan ternyata mencoba menghubunginya dari pukul enam sore sampai… Lima menit yang lalu?!

Ting!

Sehun tersentak ketika handphone-nya berdenting.

From: Luhan

            Sudah tidur?!

Untuk kedua kalinya, handphone berdenting.

            From: Luhan

            Jika belum aku telepon lagi..

Dan benar, Luhan kembali meneleponnya.

“Belum tidur?” Kata Luhan ketika Sehun mengangkatnya.

Sudah. Sudah bangun malah. Kau bukan yang belum tidur?” Sehun kembali merentangkan tubuhnya di kasur.

Belum…” Jawab Luhan jujur. “Aku memikirkan kata-kata mu…”

Sehun menghela nafas. “Kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh.”

“Aku juga maksud ku…” Luhan terdiam sejenak, “Aku menganggap mu sahabat bukan bahkan melebihi itu. Aku sangat mempercayai mu. Aku hanya cemburu. Kelewat cemburu. Juga tidak berpikir jernih.”

“Aku tahu.”

“Maka dari itu aku ingin meminta maaf…”

“Kau tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi kau terlihat sangat tersinggung ketika aku bilang aku cemburu kepada mu. Ketika kau mengutarakan alasan mu kau benar Sehun.”

“Luhan…” Sehun berusaha menghentikan omongan Luhan. Ia memejamkan matanya, “Aku juga minta maaf.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Karena jujur, kau tidak pernah melakukan kesalahan.”

Sehun menarik sudut bibirnya. Tidak pernah melakukan kesalahan? Justru ia rasa ia tidak pernah melakukan hal yang benar.

Hening beberapa saat.

“Aku juga ingin memberi tahu mu sesuatu….” Kata Luhan tiba-tiba. “Karena kau sahabat ku,” Katanya lagi, “Aku ingin memberi tahu jika aku akan menyatakan perasaan ku pada Krystal secepatnya. Mungkin lusa? Atau besok?”

Sehun tiba-tiba mencengkram handphone-nya, “Kau yakin?”

“Aku yakin!”

Terdiam beberapa saat, Sehun berdehem, “Wow, aku senang mendengarnya…” Ujarnya dengan datar. “Aku mendoakan yang terbaik kau tahu?”

.TBC.

A/N:

Cerita apa ini….  🙈  Saya akhir-akhir ini sedikit bermasalah sama ide cerita di semua ff… Saya akan bersemedi sebentar untuk menemukan ide ☺️😇

Flipped (Chapter 16)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kenangan dan Ingatan Masa Lalu

Dia tidak pernah merasakan seputus asa ini. Semuanya.

Dia pikir dia bisa mengatasi semuanya. Tetapi seharusnya ia tahu. Ia bahkan tidak bisa mengatasi hal yang terjadi sekarang. Apalagi hal-hal yang berkaitan dengan masa lalunya yang terbungkus rapi.

Ingatan mu adalah pertahanan dirimu. Jika itu hancur maka kau juga akan hancur! Disinilah dia sekarang. Kembali lagi ke titik awal kehancurannya. Ia, benar-benar akan hancur.

“Krystal tunggu!”

Selamat tinggal dunia!

***

Krystal sampai di tempat reunian sedikit terlambat. Dia men-silent hp-nya karena Sooyoung, sahabatnya, tadi meneleponnya di jalan. Tepat pukul 12 siang, waktu acara reunian dimulai. Karena kesal, Krystal langsung menolak telepon Sooyoung dan segera men-silent handphone-nya.

“Krystal Jung!” Seru seseorang yang sangat Krystal kenal.

“Aku datang. Kau puas?!” Seru Krystal ketika Sooyoung tepat berada di depannya.

Sooyoung terbelak kaget, “Ya ampun…. Kau baru datang sudah sangat sewot! Ini banyak kakak kelas. Jaga sikap mu… Bagaimana jika—“

Krystal memutar bola matanya. Malas mendengar rentetan omongan Sooyoung, “Aku mengerti. Tapi dirimu tidak perlu seperti tadi pagi. Mengesalkan!” Potong Krystal seenak jidat.

Sooyoung memberengut, “Kau kan pemalas. Aku hanya memastikan!”

“Apa kau bilang?” Delik Krystal marah.

“Selamat menikmati acara Krystal Jung!” Sooyoung kembali ceria dan kabur dari Krystal. Sebelum sahabatnya mencakar wajahnya yang cantik.

“Dia sahabtku atau bukan sih?” Keluh Krystal melihat kepergian Sooyoung.

“Krys….” Seseorang lagi-lagi memanggil Krystal.

Krystal menoleh ke belakang dan tersenyum lembut, “Sehun?!” Katanya sepertinya tidak menyangka dapat melihat Sehun disini.

“Ku lihat kau terlambat datang.” Sehun berjalan mendekati Krystal. Ia kemudian tersenyum kecil.

Krystal terkekeh, “Aku sedikit malas datang sebenarnya.”

“Tapi kau datang.” Kata Sehun santai.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Aku berjanji datang untuk mu. Tapi Sooyoung, sahabatku, mencecar jika aku harus datang dan itu sedikit membuatku kesal.”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.

Kenapa masih canggung? Keluh Krystal dalam hati. Karena mereka baik-baik saja jika teleponan.

Tepat pada saat itu, segerombolan orang datang berjalan melewati mereka. Dari arahnya, mereka baru saja dari aula sekolah dan sepertinya akan menuju taman. Tapi mereka sedikit berhenti melihat Krystal dan Sehun berbicara.

Krystal tiba-tiba merasa hawa aneh. Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan mereka teman-teman seangkatannya dan Sehun. Sekarang mereka sedang melihat Sehun dan Krystal berbicara karena pasti merasa aneh. Apalagi dengan latar belakang Krystal di bully.

Sehun sepertinya menyadari tatapan mereka, karena ia berkata, “Kurasa aku akan ke teman-teman ku. Sebaiknya kau juga ke teman-teman mu.”

Krystal menganggukan kepalanya. “Sampai jumpa lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya juga, “Sampai jumpa lagi juga….”

.

.

.

.

.

Sehun tertawa lebar melihat Kai dan Kyungsoo berdebat. Sahabat tetapi selalu bertengkar.

“Baiklah, lanjutkan pertengkaran kalian. Aku ingin mengambil minuman lagi.” Seru Sehun dan bangkit dari tempat duduknya.

Ia berjalan melinatasi taman sekolah. Banyak yang menyapanya. Rata-rata adik kelas perempuan. Sehun membalasnya pendek, sekedar ramah-tamah saja.

“Sehun…”

Sehun menghentikan kegiatannya yang sedang ingin meminum soda. Sedetik lagi saja, soda ini pasti sudah mengalir ke tenggorokannya. Ia segera berbalik, “Suzy?” Tanyanya tidak percaya.

Suzy menganggukan kepalanya, “Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

Sehun sebenarnya merasakan suasana canggung, “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu? Ku dengar kau sekarang menjadi model.”

Suzy tertawa kecil, “Ya begitula. Aku memang menjadi model sekarang. Dan kau masuk ke teknik mesin?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Berusaha menggapai cita-cita ku. Bagaimana dengan dirimu? Bukannya impian mu sekarang tercapai? Kau menjadi model?”

“Seperti yang kau lihat.” Ujar Suzy membanggakan dirinya. Sedetik kemudian Suzy tertawa kecil.

Sehun ikut terkekeh melihatnya.

AAAAAHHH~

Sehun dan Suzy langsung menoleh ke asal suara teriakan.

“Seseorang tolong teman ku!” Teriak wanita berambut pendek. Temannya sedang terduduk dan menunduk dan terlihat tidak berdaya. Ia terus memegangi kepalanya yang sangat sakit.

“Krystal?!” Seru Sehun tanpa sadar. Astaga! Itu memang Krystal Jung! Langsung saja Sehun berlari ke arah Krystal. “Krystal!” Seru Sehun mensejajarkan dirinya dengan Krystal. “Krystal Jung!” Panggil Sehun panik karena Krystal terus menunduk dan merintih kesakitan.

Krystal merintih berusaha mengangkat kepalanya, “Argh!” Rintih Krystal ketika melihat cahaya yang sangat terang.

“Krystal!” Teriak Sehun panik karena tiba-tiba Krystal jatuh ke belakang.

.

.

.

.

.

“Kau sudah sadar? Astaga! Kau membuat panik seluruh sekolah kau tahu?” Sooyoung berjingkat-jingkat kegirangan dan memeluk Krystal.

Krystal hanya menatap Sooyoung datar.

“Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Sehun sunbaenim. Tadi aku berjanji kepadanya agar segera memberi tahunya jika kau sudah sadar. Tungg sebentar dan jangan kemana-kemana.” Kata Sooyoung panjang lebar dan tanpa jeda nafas. Ia segera berlari keluar dari UKS.

Krystal memandang sekeliling UKS dengan tatapan datar. Hanya ada dirinya disini, sendiri.

Tes!

Tes!

Air matanya tiba-tiba turun. Bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Krystal cepat-cepat turun dari ranjang.   Ia segera keluar dari UKS.

Ia lelah dengan semuanya. Kenapa dia harus hidup? Kenapa dia harus selamat dan tidak mati saja waktu itu? Kenapa dia tidak melupakan segala hal dalam hidupnya ketika tersadar? Kenapa dia hanya melupakan hal menyakitkan dan mengingat hal yang membahagiakan?   Kenapa yang dulu tidak sama seperti sekarang? Kenapa dia tidak mengerti semuanya? Kenapa?

Hushh…

Hembusan angin menerpa rambut panjang Krystal. Ia melihat ke bawah. Disinilah dia sekarang. Kembali lagi ke titik awal kehancurannya.

.

.

.

.

.

Sehun sebenarnya tidak ingin meninggalkan Krystal. Tapi karena Luhan tadi meneleponnya dan rasanya ia harus berteriak-teriak agar Luhan mengerti, Sehun akhirnya meninggalkan ruangan UKS.

“Sunbae! Sunbae!”

Siapa lagi yang berteriak-teriak? Umpat Sehun dalam hati.

“Oh Sehun sunbaenim!”

Sehun langsung menoleh dan mendapati teman Krystal mengatur nafasnya, “Krystal… Krystal…” Ia masih berusaha mengatur nafasnya, “Krystal sudah sadar!” Serunya dengan nada gembira yang membuat Sehun terlonjak kaget karena sangking melengking suaranya.

“Oh, baiklah. Terimakasih telah memberi tahuku…”

Sooyoung mengangguk mantap. “Aku permisi dulu sunbaenim…”

Sehun membalas sapa Sooyoung.

Drrt.. Drrt…

Sehun melihat sejenak dan menganggkat dengan malas, “Apa?”

“Aku akan kesana. Apapun yang terjadi!” Seru Luhan tidak sabaran. “Aku ingin melihat Krystal baik-baik saja atau tidak. Bagaimanapun aku ini calon dokter…”

Sehun menerawang ke atas, ke arah langit yang sejuk. Tertutupi awan tetapi tidak juga mendung. Sangat pas untuk kegiatan outdoor. “Kalau kau bisa masuk kesini silahkan saja. Sudah kubilang aku akan memastikan Krystal baik-baik saja atau tidak. Kenapa kau tidak percaya kepadaku?”

“Bukannya tidak percaya. Tapi aku—“

Sehun kembali menghela nafas.

Deg!

Itu… Kalau tidak salah…. Tangan Sehun mencengkram handphone dengan erat. Oh, jangan lagi…

“Terserah dirimu saja!” Seru Sehun panik dan segera mematikan telepon. Ia segera berlari.

“Krys!” Serunya ketika sampai di UKS. Krystal tidak ada di situ. Gadis itu menghilang. Berarti…. Berarti yang tadi ia lihat di atap gedung adalah….

Sehun segera berlari menuju atap gedung.

“Krystal Jung!” Seru Sehun ketika melihat Krystal Jung semakin dekat ke ujung. Hanya beberapa langkah lagi, Krystal pasti akan jatuh.

Krystal sendiri sama sekali tidak menoleh dan semakin mendekat.

.

.

.

.

.

Hugh~

Krystal membuka matanya.   Ia masih di atap. Ia tidak jatuh.

“Krystal Jung! Apa yang ingin kau lakukan?!” Geram Sehun dengan suara sangat marah.

Krystal menoleh,

Plak!

Tangannya dengan cepat menampar Sehun. “Kenapa? Kenapa kau tidak membiarkan aku tidak mati saja? Kenapa? Hanya satu langkah lagi dan semua penderitaan ku akan hilang. Kenapa?”

“Krys…” Gumam Sehun tidak percaya melihat tingkah laku Krystal. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?” Tanyanya dengan nada tertahan. Berusaha agar semuanya terkontrol.

Tes!

Tes!
Air mata Krystal mengalir dengan deras, “Aku tidak mengerti semua ini! Kenapa aku bisa selamat?! Kenapa kita bisa kembali lagi bersatu?! Kenapa?!”

“Krys…” Hanya itu respon yang bisa Sehun katakan akibat kebingungannya.

“Ku kira, dengan semua hal yang ku lakukan aku akan mati! Memotong urat nadiku sebelum loncat. Tapi kenapa? Kenapa aku harus selamat? Kenapa ketika aku selamat aku masih harus mengingat mu, walaupun tidak semuanya? Kenapa ketika selamat juga kau masih dingin kepadaku, walau tidak seperti dulu lagi?” Lanjut Krystla dengan cepat di tengah tangisannya.

“Kau…” Sehun terdiam beberapa saat. “Kau sudah ingat semuanya?”

Krystal tidak menjawab. Tetapi ia kembali berkata, “Aku tidak tahu harus sedih atau tidak. Apa aku harus senang karena kita jadi dekat lagi?   Atau aku harus sedih, karena dirimu tetap menghentikan perjodohan? Aku merasa begitu bingung dan tidak berdaya. Aku bahkan 2 kali mencoba bunuh diri karena dirimu. Karena rasa frustasi akibat dirimu. Kenapa?” Krystal berhenti sejenak. Mengatur nafasnya, “Kenapa aku masih mencintai mu? Ketika ingatanku hanya muncul sebagian. Ketika ingatanku kembali. Aku masih sangat mencintai mu….”

Sehun berusaha mengulurkan tangannya ke Krystal, “Krys, aku…”

Tak!

Krystal dengan cepat menangkis uluran tangan Sehun. “Sebenarnya aku bodoh atau apa? Lihatlah dirimu! Kau memutuskan perjodohan. Kau menjodohkan ku dengan Luhan. Kau sama sekali tidak mencintai ku! Sedikitpun!”

Sehun berusaha mengulurkan tangannya lagi. Krystal dengan cepat menghindar. Tetapi Sehun bergerak lebih cepat sehingga ia dapat menggapai tangan Krystal. Secepat kilat, Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya.

“Kenapa?” Tanya Krystal lagi putus asa. Tangisannya semakin membesar.

Sehun terdiam. Memejamkan matanya. Ia hanya diam memeluk Krystal sampai tangisan Krystal mengecil.

“Kita kembali ke bawah.” Putus Sehun ketika Krystal sudah agak tenang.

Krystal menatap Sehun sejenak. Melihat Sehun yang hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun ketika ia menangis membuat Krystal menghela nafasnya. Sudah pasti Sehun memang tidak ada perasaan sedikitpun padanya kan? Akhirnya ia mengangguk.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan terlihat baru menutup pintu. Kelihatannya ia baru sampai, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nada santai. Sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

 

 

.TBC.

Flipped (Chapter 15)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Janggal

Tok! Tok! Tok!

Bocah busuk! Hey! Buka pintunya!” Chanyeol terlihat kesal menatap pintu kamar Sehun. Merasa kesal karena tidak diberi tanggapan, ia kembali mengetuk pintunya.

Cklek~

“Chanyeol-ah, ada apa?” Suara serak Luhan mengangetkan Chanyeol.

Luhan masih sakit. Sudah tiga hari ini dia tergeletak di kamarnya. Kemarin ia sudah pergi ke dokter dengan Krystal. Dia terkena penyakit tipes dan wajib berisitirahat selama dua pekan full.

Chanyeol tersenyum malu karena telah membangunkan Luhan, “Tidak apa-apa. Seperti biasa, hari ini Sehun yang bertugas membeli makanan. Tapi dia tidak bangun-bangun.”

“Mungkin dia sakit. Kemarin ketika aku baru pulang dari rumah sakit Sehun terlihat sangat lemas.”

Chanyeol akhirnya menghela nafasnya, “Mungkin saja. Baiklah aku akan membelikan makanan. Kau seperti biasa bukan?”

Luhan mendengus, “Aku hanya memakan bubur selama dua pekan tidak selamanya.”

Chanyeol terkekeh kecil, “Sampai dua pekan kedepan seperti biasa bukan?”

Luhan menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

Sehun tidak tertidur. Ia memang di tempat tidur, tetapi dia hanya tidur-tiduran di atas tempat tidurnya. Sehun mendengar ketukan pintu, ia mendengar obrolan Chanyeol dan Luhan, intinya ia mendengar semuanya. Tetapi dia malas membuka pintu. Setelah kejadian empat hari lalu, dia selalu focus terhadap satu hal.

“Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!”

Sehun mendesis tajam. Sial! Dia tidak bisa menghilangkan nada suara Krystal dari pikirannya ketika mengatakan hal itu. Tajam dan begitu menusuk. Ekspresinya yang berapi-api juga selalu terpatri di benak Sehun.

Apakah ia tidak mengerti dirinya sendiri?

Sehun bertanya-tanya mulai dari saat itu. Apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Entahlah.

Dia tinggal di sini karena malu kepada orangtuanya. Tetapi ia merindukan orangtuanya. Jauh dilubuk hatinya, ia ingin berbaikan dengan orangtuanya. Dia menjadi seperti dirinya sekarang juga karena kebodohannya sendiri.

Jadi, apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Sehun memejamkan matanya.

Tidak!

Dia tidak mengerti dirinya sendiri. Krystal benar. Dia hanyalah orang bodoh dan egois. Sehun kembali menghela nafasnya. Sepertinya dia harus melakukan hal penting agar bisa mengerti dirinya sendiri. Atau ia akan terpuruk kedalam kegelapan semakin dalam.

.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Krystal meringis ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia meringis karena hari ini hari minggu. Jam juga masih menunjukan pukul 7 pagi dan seseorang sudah menganggu tidurnya.

Ck!

Krystal mendecakan lidahnya, “Tunggu!” Teriaknya dan segera bangkit.

Trek~
“Oemma?!”
Mata Krystal terbelak melihat orang di depannya.

Oemma tersenyum lembut ke Krystal, “Hai, Princess…”

Oemma?!” Kata Krystal lagi masih tidak percaya.

Nyonya Jung masih tersenyum lembut, “Bagaimana tidurmu? Bangunlah dan cepatlah siap-siap. Oemma sudah membuatkan mu sarapan. Oemma tunggu di ruang makan ya?” Tanpa menunggu jawaban Krystal, Nyonya Jung berbalik.

Krystal terdiam beberapa saat, Apa yang sedang terjadi?

.

.

.

.

.

“Krystal Jung!”

Krystal tersentak ketika Luhan memanggil namanya. Ia mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya. Menoleh dan tersenyum, “Maaf aku melamun.”

Luhan menghela nafasnya, “Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada yang ingin kau ceritakan?”

Krystal menarik nafasnya. Cerita? Tentu ada. Dia sedang pusing dengan kehidupannya belakangan ini. Semuanya sempurna tetapi membingungkan. Entah mengapa orangtuanya menjadi baik kepadanya lagi. Secara tiba-tiba tanpa menjelaskan alasan yang jelas. Itulah yang membuat diri Krystal gusar.

“Krys…”

Suara rendah Luhan membuat Krystal kembali tersentak. Ia kembali mengerjap kemudian menggeleng lemah, “Kurasa semuanya baik-baik saja.” Kemudian ia tersenyum kecil. “Kemana Sehun? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini?” Tanya Krystal kemudian berusaha untuk mengalihkan topic.

“Oh?!” Luhan menatap Krystal seakan baru ingat akan sesuatu. “Sehun?!”
Krystal menganggukan kepalanya.

“Sehun pindah! Astaga bagaimana aku lupa memberi tahu dirimu!” Luhan tiba-tiba heboh. “Dia kembali lagi ke rumahnya. Sudah lima hari ini.”

“Apa?!” Tanya Krystal terkejut. Sehun kembali lagi kerumahnya? Bagaimana bisa? Bukannya hubungan Sehun dan orangtuanya juga tidak baik? Jangan-jangan…
“Krys…”

Krystal menoleh ketika Luhan memanggil namanya, “Iya?”

“Apa kau yakin kau tidak apa-apa?” Luhan menatap Krystal lembut. Nada suaranya tidak ada paksaan sama sekali.

Krystal lagi-lagi menggeleng lemah, “Tenang saja. Bukan apa-apa.” Kemudian ia kembali berkata, “Ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tidak keberatan bukan?”

Luhan mengerjap bingung sebelum mengulas senyum, “Tentu tidak. Terimakasih telah menemani orang sakit di tengah dirimu yang sedang sibuk-sibuknya kuliah. Jangan lupa meneleponku ketika sampai rumah, Okay?”

.

.

.

.

.

Krystal meletakan tasnya sembarangan ketika ia sampai rumah. Segera saja, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Drrrt~

Hufh!

Krystal menghela nafas bersamaan hp-nya bergetar. Dengan malas, ia mencoba untuk bangkit dan mengambil handphone-nya.

“Kau sudah sampai di rumah?”

Krystal mengulas sebuah senyum ketika mendengar suara Luhan, “Baru saja.”

“Syukurlah kau baik-baik saja.”

“Aku hanya pulang ke rumah. Tidak akan terjadi hal yang mengerikan Xi Luhan…”

Terdengar kekehan dari Luhan. Ia geli ketika Krystal memanggil dirinya “Xi Luhan”. Panggilannya dulu berarti rusa kecil karena larinya yang sangat cepat, “Tidak ada yang tahu bukan? Lagipula, tidak apa-apa jika aku mengkhawatirkan mu bukan?”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. “Ak—“

“Ku tutup dulu! Selamat malam Krystal Jung!” Luhan segera memotong omongan Krystal dan memutuskan telepon secara sepihak.

Krystal kembali mengerjap bingung. Keheningan mendadak menyelimuti dirinya. Aneh. Akhir-akhir ini Luhan juga aneh. Dia seperti orang yang ragu. Terkadang mengeluarkan gombalan yang sangat manis untuk Krystal, tetapi langsung mundur ketika selesai mengatakan hal itu.

Krystal memandang hp-nya. Menyipit selanjutnya menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia juga aneh kali ini. Apa-apaan?! Ia terpikir untuk menelepon Sehun demi menanyakan hal ini. Hal apakah Sehun berhubungan dengan membaiknya hubungan orangtuanya dengan Krystal. Karena, kalau dipikir-pikir, kembalinya Sehun kerumah hampir sama dengan berbaiknya hubungan orangtuanya dengan dia, selama empat hari.

Ah, masa bodoh!

Pikir Krystal dan mulai memencet nomor Sehun. Masa bodoh dengan semua keanehan yang menyeliputinya. Sekali Krystal sudah memikirkannya, jarang dia bisa mundur dari pemikiran itu.

“Anyeonghaseyo?”
Krystal langsung berdehem ketika mendengar suara Sehun, “Eh… Ini aku…” Katanya ragu-ragu.

Terdengar suara kekehan dari seberang, “Aku tahu ini dirimu Krystal Jung.”

Krystal menghembuskan nafasnya, “Maaf menganggu.” Kata Krystal pendek. Dia terdiam sejenak, masih bingung ingin berbicara apa.

“Ada apa?” Tanya Sehun karena Krystal terdiam selama 15 detik penuh.

“Ah…. Kau baik-baik saja?”

Sedetik setelah berkata itu Krystal langsung merutuki dirinya. Ya ampun…. Kenapa dia tidak bisa mengatakan secara langsung? Malah sekarang ia berputar-putar.

“Aku?” Terdengar nada suara bingung. “Tentu. Aku baik-baik saja.”

Krystal memaksakan tawa hambar, “Aku tidak melihat mu 5 hari ini di apartment. Luhan berkata jika kau kembali ke rumah mu. Maka dari itu aku menanyakan hal ini.”

“Oh…” Sehun hanya mengunggam. “Aku memang kembali ke rumah ku. Maaf tidak memberi tahu mu tentang hal itu.”

“Ah, tidak apa-apa. Lagipula, kenapa aku harus tahu?”

Sehun tertawa, “Kau benar.”

Entah mengapa, jawaban Sehun yang sangat jujur membuat Krystal mendengus, “Oh ya, aku boleh bertanya sesuatu kepada mu?” Tanya Krystal dengan suara yang kembali serius.

“Euhm, tentu.” Jawab Sehun cepat dengan nada santai.

“Kenapa…” Krystal terlihat ragu. “Jika boleh tahu, kenapa kau kembali ke rumah mu?”

“Itu…” Terdengar helaan nafas, “Akan ku kasih tahu. Tapi ini rahasia.”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. Jantung langsung berdetak lebih keras.

Appa sakit.” Jawab Sehun pendek dengan nada yang sangat serius. Appa terkena gejala stroke. Lumayan parah. Oemma memberi tahu hal ini dan berharap jika aku dan Appa kembali berbaikan.”

“Ketika Oemma mu datang ke apartment itu ya?” Pikiran Krystal kembali ke hari itu. Sekitar dua minggu yang lalu. Ketika ia mendengar suara lembut Yura. Ketika ia membentak Sehun.

Ya.” Jawab Sehun pendek.

Krystal menghela nafasnya, “Aku minta maaf.”

“Huh?” Nada suara Sehun berubah menjadi bingung. “Maaf ? Kenapa?”

“Karena membentak mu pada waktu itu. Juga karena memancing kemarahan mu. Kau benar, seharusnya aku tidak ikut campur dalam masalah itu.”

Terdengar helaan nafas dari Sehun. Tapi entah mengapa, Krystal senang mendengarnya, “Aku juga minta maaf karena tidak dapat menahan emosi ku.” Berhenti sejenak, “Dan kau tidak perlu minta maaf. Aku senang kau ikut campur karena aku tersadar karena itu. Jadi terimakasih.”

Deg!

Deg!

Deg!

Krystal merasa detakan jantungnya tidak terbendung lagi, “Aku senang jika aku membantu.” Katanya menjadi gugup. Krystal berdehem, “Ngomong-ngomong, ada hal lain yang ingin aku bicarakan.”

“Tentu tentang apa?”

Nada suara Sehun yang begitu santai membuat Krystal rilex, “Jangan mentertawakan aku.”
“Aku tidak akan mengetawai mu…” Tapi Krystal sendiri mendengar Sehun terkekeh.

“Ini tentang orangtua kita. Jadi, kau berbaikan dengan orangtua mu? Kau menceritakan sesuatu kepada orangtua mu?”

“Kenapa?” Sehun bertanya dengan nada yang berubah. Menjadi sedikit gugup.

“Karena entah mengapa orangtua ku menjadi lebih baik pada ku. Bukan! Hubungan ku menjadi kembali seperti semula dan aku bertanya-tanya akan hal itu.”

“Ah yang itu…”

Respon Sehun yang pendek membuat Krystal bertambah penasaran, Jadi….”

Aku mengatakan yang sejujurnya kepada orangtuaku. Mengenai masalah itu. Bahwa aku yang memang tidak ingin dan kau hanya mengikuti ku. Entahlah. Kurasa Oemma ku telah berbicara kepada Oemma mu…” Jelas Sehun pada akhirnya.

“Kau mengatakan yang sejujurnya?”

Sehun hanya mengunggam.

Krystal tersenyum, “Kau mengatakan yang sejujurnya?”

“Ck! Iya. Iya.”

Krystal terkekeh kecil mendengar suara sebal Sehun, “Terimakasih…” Ucap Krystal tulus. Dia bersyukur karena dia tidak harus berbohong kepada orangtuanya lagi.

Bagai pembuka jalan dari semua kedinginan mereka, Krystal dan Sehun akhirnya berbicara panjang pada malam itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu. Semua jurang kecanggungan tertimbun dan sepertinya keadaan kembali seperti semula.

“Jadi bagaimana keadaan Luhan? Aku belum sempat menghubunginya sejak pindah.”

“Oh? Dia baik-baik saja. Sudah seperti biasa walaupun masih harus beristirahat. Malah akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya yang datang ke apartment.”

“Dia itu cerdas atau bodoh? Jelas-jelas disuruh beristirahat….”

Krystal tertawa kecil, “Itu yang ku katakan padanya. Tapi ia bersikeras jika sakit bukan penghalang dalam mendapatkan nilai sempurna.”

Sehun berdehem, “Sekarang boleh aku bertanya?”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu boleh.”

“Kau dan Luhan… Bagaimana?”

Mengerti arah bicara Sehun, Krystal menerawang langit-langit kamarnya, “Kenapa kau ingin tahu?”

“Kenapa kau tidak ingin aku tahu?”

“Karena…” Krystal terdiam. Menggigit bibirnya. Karena tidak terjadi apa-apa! “Itu rahasia. Aku tidak membicarakan masalah hati ke cowok. Aku membicarakannya ke cewek!”

“Aku mengerti. Tapi jika boleh aku berkata—“

Tidak! Aku tidak ingin mendengarnya! Krystal tahu apa yang akan Sehun katakan dan dia sangat berharap Sehun tidak mengatakannya. “Sehun—“

“Kau cocok dengan Luhan. Luhan sangat perhatian kepada mu. Aku yakin, dia akan melakukan apa saja untuk untuk mu dan segalanya agar bisa bersama mu.”

Suara Sehun membuat dada Krystal nyeri. Bukan suara menjengkelkan seperti yang lalu. Seperti perkataan yang berasal dari hatinya.

“Krys?” Sehun memanggil Krystal karena tidak ada tanggapan. “Kau tertidur?”

“Uhm!” Krystal menghela nafasnya, “Sudah larut malam.”
“Kau benar. Jangan lupa reuni SMA lusa!”

Krystal tersentak. Dia melupakan segalanya ketika Sehun membahas Luhan. Mereka baru saja membicarakan tentang reuni SMA 20 angkatan. “Oh tentu.   Kau akan datang bukan?”

“Ya. Aku akan datang.”

Setelah Sehun berkata seperti itu, Krystal memutuskan teleponnya. Dengan lusuh, ia meletakan handphone-nya. Krystal mendesah. Sebaiknya ia harus tidur.

.

.

.

.

.

.TBC.

Hullaaaa i’m back!!!  Waktu itu saya sendiri yang bilang mau hiatus sampai Julli awal tapi udah post di Juni awal…  Hehehe maafkan…  Saya baru updated Flipped Chapter 15 nih..  Gimana ceritanya?  Wkwkwk, ribet atau bolak-balik? Bagaimanapun sebentar lagi Flipped udah mau habis juga sama seperti State of Grace…  Mentok-mentok sampai 25 chapter..  Dan saya lagi ngembangin beberapa cerita baru salah satunya Wind of Change…  Castnya sama, masih Sestal.

Atau ada yang mau cast lain?  Komen aja dibawah ya….

Warm Regards

Allamanda Zahra

Flipped (Chapter 14)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Blam~


Sehun kembali menutup pintunya ketika Krystal sudah masuk.

“Luhan ada di kamarnya. Dia sakit.” Kata Sehun di dapur. Sepertinya ia sedang masak sesuatu. Aroma makanan yang lezat tercium memenuhi apartment.

Krystal menyusul Sehun ke dapur, “Aku sudah tahu.”

“Tentu.” Jawab Sehun pendek tapi masih sibuk berkutat dengan buburnya.

Krystal sedikit berjinjit, ingin melihat dengan jelas apa yang Sehun buat. “Membuat bubur?”

“Seperti yang kau lihat.” Lagi-lagi Sehun masih berkutat dengan buburnya.

“Aku membawakan Luhan bubur.” Krystal kemudian mengeluarkan bekal yang ia simpan di dalam tasnya.

Mata Sehun langsung menyipit, “Aku tidak mau bubur itu dihidangkan ke Luhan.”
“Kenapa?!” Krystal membalas dengan mata menyipit.
“Kau lihat? Aku sudah membuat bubur. Jadi aku tidak ingin Luhan memakan bubur mu!”

“Kau bisa memberinya nanti!”
“Tentu tidak bisa! Aku lelah membuat bubur ini. Memangnya kau membuat buburmu sendiri?! Tidak kan!”

Kata-kata terakhir Sehun membuat Krystal tiba-tiba sedih. Kata-kata yang secara tidak langsung menghinanya. Dia memang tidak membuat bubur ini sendiri. Dia meminta bantuan Bibi Kwon. Tapi apa salahnya?

Sehun yang merasa Krystal diam akhirnya kembali menoleh ke Krystal, “Hey…” Ia memanggil Krystal pendek. Merasa bersalah setelah melihat Krystal yang menunduk. Mungkin karena perkataannya menyakitkan perasaan Krystal. “Hey… Aku….” Terdengar ragu. “Aku minta maaf karena perkataanku tadi. Okay?”

Krystal hanya tersenyum pendek. Sehun tahu Krystal masih bersedih.

“Baiklah…” Gumam Sehun pasrah. “Kasih buburmu ke Luhan. Aku bisa menyimpan buburku untuk makan malam. Dan kujamin setelah merasakan buburku, Luhan lebih memilih buburku daripada buburmu.”

`
Senyum Krystal kembali merekah. “Dimana letak piring? Kurasa lebih baik jika menyajikannya di piring daripada di tempat bekalku.”
Sehun menunjuk salah satu rak yang berada tepat di atas kirinya.

Krystal langsung menuju ke rak bewarna putih yang terbuat dari kayu tersebut. Tangannya membuka raknya dan mengambil satu piring. “Tapi kenapa dirimu berpikir jika Luhan akan memilih buburmu daripada buburku?” Tanya Krystal ketika ia menuangkan buburnya di piring.

“Dia pasti akan memilih buburmu. Diakan menyukaimu.”

Perkataan Sehun menghentikan gerakan Krystal. Krystal menatap Sehun. Tidak dengan tatapan tajam, tetapi dengan tatapan menyipit.

Sehun membalas tatapan Krystal, “Kau pasti buta jika tidak melihat hal tersebut.” Ia kemudian kembali berceloteh, “Dia sering bercerita tentang mu. Tentang apa saja kepadaku. Bahkan tentang dirimu yang menabrak dinding.”

Krystal melotot ke arah Sehun yang terkekeh kecil. Tapi sepertinya Sehun masih tidak menyadari tatapan Krystal.

“Dia juga sangat senang ketika menerima telepon mu. Astaga, bukan hanya saat menerima teleponmu. Saat kau datang. Saat kau bicara.”
“Dan kau baik-baik saja?” Tanya Krystal tiba-tiba. Tetapi sedetik kemudian ia menyadari kebodohannya.

Pabo! Tentu saja dia baik-baik saja dan tidak merasa terganggu jika kedua sahabatnya menjadi sepasang kekasih! Orang di samping kananya bahkan dengan tidak punya hati memutuskan perjodohan! Apalagi merasakan hal sekecil itu.

“Aku tidak sakit.” Jawab Sehun dengan nada bingung.
Krystal berdehem, “Lupakan saja kataku yang tadi.” Ia kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

“Lagipula….” Sehun kembali bercerita. Entah apa maksudnya tapi itu membuat Kyrstal diam-diam mendengus, “Kalian terlihat cocok. Luhan bahagia. Kau bahagia.”

“Jadi, menurutmu aku harus menerimanya jika ia mengatakan perasaanya?” Mulut Krystal menjadi gatal jika tidak menanyakan hal itu. Tanpa ia sadari juga, kata-kata itu sudah terlanjur keluar.

“Tentu! Memangnya apa lagi yang harus kau lakukan jika ditembak oleh orang yang kau suka?”

Krystal sekarang menatap Sehun tajam, “Kau seperti menjodohkanku dengan Luhan.”

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Memangnya salah? Lagipula itu hal yang bagus jika kalian berpacaran.”

Tok…. Tok… Tok…

Suara ketukan pintu seperti penyelamat bagi Krystal dari suasana di dapur yang akan panas sepanas bubur yang Sehun buat.

“Mungkin Chanyeol. Dia tadi keluar.” Sehun bergerak menuju pintu.
“Biar aku saja!” Kata Krystal bergerak lebih cepat dari Sehun. Tolong urus buburnya.” Lanjut Krystal sebelum ia berbalik menuju pintu.

Dalam hati, Krystal merasa harus memeluk Chanyeol karena telah menyelamatkannya dari situasi aneh bersama Sehun. Lagipula, apa yang dipikirkan oleh Sehun? Krystal menghela nafasnya… Jangan dengarkan orang yang seenak jidat memutuskan perjodohan karena egonya… Katanya dalam hati.

Iya benar! Kenapa harus termakan omongan Oh Sehun? Kalau Luhan benar menyukainya, itu akan terbukti suatu saat tanpa harus diceritakan seperti itu. Dan, tunggu… Apa maksud Sehun menceritakan hal ini? Apakah ia menceritakan hal ini karena ia pikir Krystal tidak melihat gerak-gerik Luhan? Benar-benar… Orang itu pikir ia adalah orang bodoh ya? Tanpa ia sadari, Krystal membuka pintu apartment dengan tenaga yang lebih besar dari seharusnya.

“Bibi?!”

“Sojonggie?!”

Krystal dan Oemma Sehun saling bertatap selama beberapa detik. Ya ampun… Apa yang harus ia katakan kepada Oemma Sehun?

“Eh, siapa yang datang?” Sehun dengan santainya berjalan dari dapur. “Oemma?!” Katanya ketika melihat ibunya.
“Kalian….” Oemma Sehun terlihat ragu. “Bagaimana bisa kalian bertemu kembali?”

“Ceritanya panjang.” Jawab Sehun pendek. “Masuklah terlebih dahulu… Di luar dingin!” Katanya sambil menarik tangan ibunya kemudian menutup pintu.

Krystal segera membungkukan badanya, “Anyeong bibi!” Kataknya kikuk.

“Ah, Anyeong Krystal-ssi…” Oemma Sehun tersenyum ramah ke Krystal.
“Luhan tinggal di apartment yang sama denganku. Krystal disini karena Luhan sakit.” Jelas Sehun cepat. “Krystal, kurasa kau bisa memberikan bubur untuk Luhan. Aku akan menemani Oemma-ku.”

Krystal segera mengangguk dan mengambil buburnya. Sebelum ia memasuki kamar Luhan, Krystal kembali berbicara, “Bibi, Anyeong!”

Oemma ingin teh? Akan kubuatkan teh.” Sehun segera berjalan ke dapur tetapi terhenti, “Eh… Maaf ruang tamunya berantakan. Oemma bisa duduk di bangku dapur.”

.

.

.

.

.

Koo Yura menatap lekat-lekat anak semata wayangnya. Sehun sudah berubah. Katanya dalam hati. Ia lebih mandiri. Tentu saja! Tinggal dua tahun sendiri tanpa kedua orangtua. Matanya meperhatikan apartment-nya.   Rasa sakit menjalar ketika melihat apartment anaknya yang kurang layak. Atapnya terlihat bocor. Cat dinding memudar. Seharusnya ia dapat melihatnya ketika tadi jalan di tangga. Benar-benar bencana mengerikan.

“Tehnya…” Suara lembut Sehun menyadarkan Yura.

Yura tersenyum dan menyeruput tehnya.

“Jadi….” Sehun membuka percakapan. “Ada apa Oemma datang?”

Yura kembali menatap anaknya. Senyumannya memudar. “Ah… Kesini?” Tanyanya tergagap. “Oemma hanya ingin.”

Sehun menganggukan kepalanya ragu. Yura kemudian meletakan cangkir tehnya.

Appa-mu… Appa-mu sakit. Gejala strok awal.” Sahut Yura tiba-tiba. “Dia ingin memperbaiki semuanya” Lanjut Yura tanpa melihat Sehun. “Dia tidak mengataknnya tapi Oemma tahu ia ingin. Jadi… Disinilah Oemma… Mencoba mengajakmu kembali pulang.”
Sehun terdiam cukup lama.

“Kau tidak harus pulang sekarang. Tapi pikirkanlah….” Lanjut Yura.

“Bibi?!” Suara yang sangat familiar bagi Yura membuat Yura menatap orang yang memanggilnya.
“Luhan?!” Sahut Yura dengan senyuman lebar. “Sejak kapan dirimu pulang? Dan dirimu tidak terlihat menua!”’
Luhan yang pucat pasi terkekeh kecil. “Dua bulan ini bi! Dan bibi juga tidak terlihat tua!” Balas Luhan dengan suara menggebu-gebu senang. Tidak terpancarkan ia sakit jika mendengar suaranya.

Yura tertawa, “Dirimu bisa saja! Tapi….” Yura melihat wajah Luhan dengan seksama, “Kamu terlihat pucat nak!”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku sedang flu berat dan sedikit demam. Tapi ku rasa itu bukan penghalang buat menyapa bibi bukan?”

Yura membulatkan matanya, “Tentu saja tidak! Kau masih seperti dulu tidak berubah! Masih sopan dan ramah.” Puji Yura sambil tersenyum lebar. “Bibi merasa sangat terkesan. Tetapi sebaiknya dirimu kembali saja ke kamar untuk beristirahat.”

Luhan menganggukan kepalanya. Bagaimanapun juga kepalanya masih sangat pusing. Dia berjalan dengan gontai ketika keluar dari kamarnya. Terpaksa mengatakan baik-baik saja kepada Krystal karena takut harga dirinya jatuh akibat dianggap lemah. Setidaknya menurut Luhan itu menunjukan dia lemah. Luhan akhirnya membungkukan badannya sekali lagi sebelum menghilang dari pintu.

Yura kembali menghadap Sehun, “Oemma senang kau masih dikelilingi oleh teman-teman yang hebat.”
Sehun hanya diam tidak tahu harus membalas apa.
“Masalah dua tahun yang lalu…. Masalah dirimu dengan Krystal…”
Oemma…” Potong Sehun dengan suara rendah, “kumohon jangan disini….” Sehn merasakan nafasnya tercekat entah bagaimana. Dia membenci perkara itu. Dia hanya ingin kejadian itu diketahui oleh enam orang, dirinya, Krystal, dan kedua orangtua mereka. Tidak ada lagi yang boleh mengetahui hal ini. Apalagi Luhan!

Yura seperti tidak mendengar Sehun. Ia kembali berbicara, “Masalah itu membuat kami syok hingga tidak dapat mempercayai mu lagi. Tapi keadaan bisa menjadi buruk sekarang, dengan keadaan Appa-mu. Appa-mu adalah orang keras kepala jadi ia pasti tidak akan memintamu pulang. Maka dari itu Oemma meminta tolong agar dirimu mengalah sedikit.” Yura menatap Sehun lurus-lurus. “Bisakah kau datang ke rumah, meminta maaf kepada Appa-mu. Oemma yakin sehabis itu akan kembali menjadi sangat mudah….”

Sehun lagi-lagi tidak dapat berbicara. Perasaan yang lama ia tahan kembali terbuka. Ia mengalihkan pandangannya ke tembok. Menatap tembok apartment yang kusam.

Yura tersenyum sedih. “Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Oemma berharap jawabanmu ada ketika kau menginjakan kakimu kembali ke rumah.” Ia kemudian berdiri, “Oemma rasa Oemma harus pulang.”

Sehun menganggukan kepalanya. Ia ingin mengantar Oemma-nya,

“Tidak usah di antar.” Tolak Oemma dengan suara pelan.

Sehun menghentikan langkahnya dan hanya diam ketika Oemma keluar.

Anyeong bibi! Bibi ingin pulang?” Sapa Krystal dari pintu kamar Luhan. Sepertinya ia baru saja keluar.

Yura mengerjap kaget, “Oh, Anyeonghaseyo Krystal. Iya, bibi pulang duluan ya?”

Tanpa menunggu jawaban dari Krystal, Yura sudah menghilang dari balik pintu.

Sehun menghela nafas. Wajahnya tiba-tiba menjadi murung. Ia berjalan ke arah Krystal.

“Ingin mengambil sesuatu di dapur?” Tanyanya ketika sampai di depan Krystal, “Ambil saja sesukamu. Aku ingin ke kamar.” Sehun kembali melangkahkan kakinya ke kamarnya.
“Apakah dirimu akan pulang?” Tanya Krystal tepat sebelum Sehun memasuki kamarnya. Ia tidak berbalik menatap Sehun.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Kau mendengar pembicaraanku dengan ibuku?” Kentara dengan jelas nada tidak suka.

Krystal menghela nafasnya kemudian berbalik menghadap Sehun, “Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku ingin menuju dapur tadi.”

“Itu bukan urusanmu!” Kata Sehun masih dengan nada tidak suka. Dengan cepat, ia berbalik memunggungi Krystal.

“Tapi Appa-mu sakit. Kau harus memikirkan Appa-mu!”

Sehun kembali menatap Krystal dengan kesal, “Aku tidak butuh simpatimu!”
“Jangan pura-pura baik menanyakan bagaimana kabarku.”

Krystal mengerjap beberapa kali ketika bayangan itu terlintas di benaknya. Ia menelan ludahnya. Tidak, dia tidak boleh mendapat ingatannya disini. Di tengah yang sedang Luhan sakit. Di tengah emosi Sehun yang tidak stabil. Dia tidak ingin menambah keributan karena ia tahu, jika ingatannya kembali maka sakit kepala yang hebat akan menyertainya. Ia menggelengkan kepalanya. Sehun menatap Krystal aneh.

Krystal berdehem, “Terserah padamu. Aku sebenarnya ingin mengambil minum sebelum pulang.”

“Pulang saja sana!” Usir Sehun dengan nada tajam.

Krystal mendecakan lidahnya, “Baiklah. Aku tidak ingin berlama-lama di dekatmu sebenarnya. Tapi, jangan lupa mengambilkan Luhan minum, okay? Juga men-check nya sekali-kali.”

“Apa kau berusaha mengajarkan hal-hal bodoh kepadaku?” Lagi-lagi, dengan nada tajam.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Sepertinya karena kau tidak mempunyai simpati.”
“Tidak butuh simpati bukan berarti aku tidak punya simpati!”
Kali ini, Krystal menatap Sehun dengan mata yang menyalak marah, “Kau egois. Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!” Setelah mengetakan kalimat dengan nada yang cukup tinggi dalam percakapan biasa, tetapi tidak sampai teriak-teriak karena hal itu dapat menganggu Luhan. Krystal segera berbalik dan membuka pintu apartment dengan kasar.

.TBC.

 

 

 

Flipped (Chapter 13)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Pertanyaan Membingungkan pt.1

Jadi apakah Krystal menyukainya? Ayolah…. Itu adalah pertanyaan yang mudah. Iya atau tidak. Seharusnya iya, karena sifatnya sangat perhatian dan romantis. Tetapi dia ragu. Ada bagian di hatinya yang terasa hampa bahkan dia-si romantis- tidak dapat menjangkaunya.

***

Suara tawa dari ujung sana membuat Luhan kembali tertawa kencang. “Aku tidak bermaksud seperti itu! Astaga, bisakah kau tidak tertawa terus menerus? Perutku sudah sangat sakit.” Luhan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah dinding-dinding tua flat yang telah dia tempati satu bulan ini. Dia tersenyum singkat kepada dua teman satu flat nya yang menatapnya dengan kilatan penasaran.

“Aku mengerti…” Luhan kembali berbicara via telepon. “Baiklah… Baiklah… Aku tidak akan menjemputmu lagi di depan kelas mu. Dan tidak makan lagi di kafetaria fakultas mu… Oh? Baiklah. Anyeong Krystal Jung!”

“Ehm…” Chanyeol berdehem dan menatap ke arah Luhan, “Krystal Jung?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Luhan terkekeh kecil, “Kenapa?”

“Kenapa?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepada Krystal?”

“Wow! Wow! Wow!” Chanyeol langsung menatap Sehun,

Luhan menampilkan ekspresi terkejutnya, “Maksudmu?” Tanya Luhan seperti orang bodoh.

“Hey, kau sangat blakblakan Oh Sehun!” Protes Chanyeol kesal.

Luhan yang masih menampilkan ekspresi terkejut menghela nafas, “Tidak sekarang. Aku baru saja bertemu dengannya. Masih butuh pendekatan.”
“Kau mengenalnya sejak SD. Butuh pendekatan apa lagi?” Sehun menatap Luhan dengan tatapan datarnya.

Luhan terlihat berpikir, “Entahlah. Aku hanya takut di tolaknya.”

“Kurasa tidak ada laki-laki yang mendekatinya kecuali dirimu.”
Plak!

Chanyeol dengan cepat memukul kepala Sehun. Membuat laki-laki itu meringis dan menatap Chanyeol sebal.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Hey, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”
“Sudahlah…” Luhan menengahi Chanyeol dan Sehun. “Aku akan memikirkan usul Sehun, okay? Tapi aku harus kembali lagi ke kamar. Tugasku menumpuk!” Lanjut Luhan dan mengambil teh hangat yang tadi ia buat selagi menelepon Krystal.

Blam~

Setelah Luhan menghilang dari ruangan, Chanyeol menatap Sehun, “Kenapa kau berkata seperti itu ke Luhan? Ku kira kau menyukai Krystal?”

Sehun yang memusatkan perhatiannya untuk membaca buku menatap Chanyeol, “Di mimpi mu!”

“Apanya di mimpi ku?!” Seru Chanyeol sedikit tersinggung. “Kau memang dingin tetapi tatapanmu setiap kali Krystal ke sini menyiratkan perhatian yang sangat besar. Kau pasti menyukainya! Aku saja yang telah menjadi temanmu sejak awal kuliah tidak pernah di tatap seperti itu.”

Sehun mendesah keras. Ia menutup bukunya dan kembali menatap Chanyeol. Tangan kananya memeluk Chanyeol. Menarik Chanyeol agar semakin dekat ke Sehun, Tiba-tiba, wajah mereka menjadi sangat dekat. “Kau cemburu? Aku bisa menatap mu dengan tatapan yang penuh perhatian mulai dari sekarang.”

“Apa-apaan?!”

.

.

.

.

.

“Jadi…” Seulgi sudah bergelayut manja di siku Krystal, “Bisakah kau menjelaskan apa maksud Luhan tadi?”
“Maksud Luhan apa?” Tanya Krystal pura-pura tidak peduli walau ia tidak dapat menyembunyika senyumannya.
“Astaga Krystal Jung! Jangan pura-pura bodoh!” Seulgi menatap Krystal tidak sabaran.

Krystal menatap sahabatnya. Kemudian ia mendesah, “Dia hanya ingin menjemputku tidak kurang dan tidak lebih.”

“Aku tidak yakin akan hal itu…” Seulgi kemudian mendekat ke arah Krystal, “Kurasa ia menyukai mu.”
Krystal kembali mendengus. Baiklah… Baiklah… Dia tahu Luhan menyukainya. Maksudnya, itu semua terlihat dari perlakuan Luhan kepadanya. Seseorang pastilah buta jika tidak mengetahui hal itu. Dia diam saja bukan karena ia bodoh tidak mengetahuinya atau tidak memperdulikan perasaan Luhan. Ia hanya memberi Luhan waktu untuk menyatakan perasaannya sendiri. Krystal adalah teman Luhan sejak SD. Dia tahu, laki-laki itu pasti tidak menyukainya kalau ia memberi tahu perasaannya kepada Luhan duluan.

“Kau menyukainya?” Tanya Seulgi tiba-tiba ketika mereka sudah duduk di kelas dan menunggu Professor Choi datang.
“Tentu.” Jawab Krystal lugas.

Seulgi terlihat memutar bola matanya, “Aku tahu kau menyukainya sebagai teman. Yang kumaksud kau menyukainya sehingga ingin menjadikan dia kekasihnya? Kau tahu… Jatuh cinta kepadanya?”
“Tentu.” Jawab Krystal tetapi kali ini nadanya terdengar agak ragu. “Maksudku siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya melihat semua perilakunya? Dia sangat romantis.”
“Jadi kau ingin menjadi kekasihnya karena perilakunya yang sangat romantis?”
“Apa maksudmu?!” Tanya Krystal sedikit frustasi. Ia tidak marah kepada Seulgi, sungguh. Tetapi perkataan Seulgi membuat perasaan Krystal mulai terombang-ambing.

“Maksudku apakah kau jatuh cinta kepadanya? Ayolah, Jung itu adalah pertanyaan yang sangat mudah. Iya atau tidak?”

“Aku sudah menjawabnya tadi.”

“Tapi kau terlihat ragu.”

“Aku tidak mengerti maksud mu!” Seru Krystal dengan nada yang sedikit tinggi. Okay, dia mulai merasa sedikit kesal terhadap Seulgi.

“Baiklah, aku bukannya merendahkan dirimu. Tapi selama tiga tahun aku menjadi sahabatmu kau tidak pernah dekat dengan cowok. Tunggu, itu bukan karena dirimu tidak populer. Dirimu sendirilah yang menolak cowok-cowok yang datang kepadamu. Luhan hanyalah satu-satunya yang berhasil mendekatimu.

“Tapi Jung, setiap dirimu menceritakan Luhan dirimu pasti selalu berkata ‘Dia memang selalu baik kepadaku seperti dulu..’ atau ‘Dia persis yang ku ingat seperti dulu…’ atau kalimat semacam itu. Apa itu menyiratkan kau menyukainya-maksudku jatuh cinta- kepadanya? Astaga Krystal Jung, tidak! Jadi sekarang aku akan menegaskannya kepadamu, apakah kau jatuh cinta kepadanya?”

Krystal terlihat berpikir, “Apakah aku benar-benar berkata seperti itu ketika aku menceritakan Luhan?”

Seulgi menatap Krystal lekat-lekat, kemudian menganggukan kepalanya.

Krystal memejamkan matanya. Astaga…. Dia tidak bermaksud seperti itu. Luhan adalah seseorang yang sangat special untuknya. Dia tidak bermaksud membandingkan Luhan yang sekarang dengan yang dulu.

“Aku tidak bermaksud yang buruk ketika mengatakan hal tersebut. Kau tahu aku hanya…”

“Iya aku tahu.” Sela Seulgi. “Kau hanya memuji Luhan. Tapi kurasa kau terjebak dengan masa lalu mu. Kau bisa mengatakan kepadaku, ‘Dia laki-laki terhebat yang pernah ku temui.’ dan semacamnya.”
Krystal memijit pelipisnya. Ia memang terjebak dengan masa lalunya sendiri. Bagaimana seorang bisa melanjutkan hidup jika ia melupakan sebagian dari masa lalunya? Bisa saja dia melakukan dua kali kesalahan karena kesalahan pertama dia lupakan. “Pertanyaanmu lebih susah daripada soal ujian.”

Seulgi tersenyum, “Maaf memusingkanmu. Aku hanya khawatir kau akan tersandung masalah karena hal-hal kecil seperti ini.”

Krystal membalas senyuman Seulgi, “Aku tahu.”

Kemudian, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Krystal kembali mencermati pertanyaan Seulgi. Apakah dia menyukai Luhan? Dia seharusnya menyukai Luhan. Tetapi ada bagian di dalam hatinya yang hampa bahkan Luhan tidak dapat menggapainya. Tanpa Krystal sadari, dia menyipitkan matanya. Dia sudah menyelesaikan masalahanya dengan Oh Sehun. Itu sudah sangat jelas dari kata-katanya ketika ia menangis di taman dan membentak Oh Sehun, mengatakan agar laki-laki itu menjauh darinya. Itu sudah sangat jelas. Tapi kenapa dia masih ragu dengan perasaannya terhadap Luhan?

Hufh….

Krystal hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

Hujan sangat deras di luar sana. Udara yang tadi menghangat karena musim semi datang kembali menjadi dingin. Seseorang akan sangat malas untuk keluar pada jam tujuh pagi di hari minggu yang mendung ini. Menikamati kehangatan selimut dan keempukan bantal pasti lebih menyenangkan. Krystal sudah pasti melakukan hal tersebut. Jika saja ia tidak sengaja menerima telepon Luhan. Dan lelaki itu sedang sakit.!

Luhan berkata jika ia hanya kelelahan. Tapi hati kecil Krystal tersadar, Luhan kelelahan karena dirinya! Dengan jadwal kuliahnya yang padat dan masih gigih untuk menjemput Krystal membuat Luhan lelah. Krystal teringat jika kemarin malam, ketika Luhan menjemputnya laki-laki itu sudah menunjukan tanda-tanda flu. Tetapi ia masih ingin mengantarkan Krystal pulang ditambah menemani perempuan itu makan malam. Jadi, apakah perasaannya tidak memberontak begitu mengetahui Luhan sakit?

Tok… Tok… Tok…

Krystal dengan santai mengetuk pintu apartment Luhan. Dia sudah sangat sering mengunjungi apartment ini. Setiap minggu bisa dua kali. Ini karena dia dan Luhan sering pergi keluar jika tidak ada jadwal kuliah. Berakhir di apartment ini untuk makan malam atau ia kesini untuk menjemput Luhan. Krystal seperti penghuni tidak tetap apartment ini.

Cklek~

Pintu apartment terbuka. Krystal sedikit terkesiap melihat wajah orang yang membuka pintu.

“Oh, masuklah.” Jawab Sehun datar.

.TBC.

+Holla semuanya, I’m back 👋👋👋 dengan membawakan Flipped!  Khusus untuk ultah Sehun , eh D+2 ultah Sehun (wkwkwkwk) Flipped di update 2 chapter 😬…..  Stay tune untuk ff terbaru dan ngomong-ngomong ttg State of Grace, mungkin nanti🙈  Lagi stuck di chapter 20…  Bye bye See you soon