Sight Seeing and Silence (Chapter 1)

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Main Cast: Mark Tuan | Son Seunghwan | Oh Sehun | Park Chanyeol

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Jika teman-temannya membicarakan rahasia gelap, pasti mereka akan mengatakan jika mereka pernah mencuri. Atau berbohong kepada orangtua mereka. Atau melewati batas dalam berpacaran. Atau hal-hal lainnya yang dianggap memang dilakukan oleh anak-anak.

Mark sendiri tidak begitu. Dia tidak pernah berbohong kepada orangtuanya. Dia tidak melewati batas dalam berpacaran. Tidak pernah melanggar hal-hal lain yang dilanggar oleh teman-temannya. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi ia tidak bisa melakukan hal tersebut.

Mau tahu rahasia gelap dari Mark Tuan?

Rahasia yang membuat bulu kuduk merinding bahkan tidak ingin untuk mengetahuinya, jika orang tersebut bisa mengulang waktu.

Mark seperti remaja cowok pada umumnya. Rambut yang ia biarkan panjang bahkan ia cat menjadi warna menjadi warna platinum. Dengan satu anting di telinga kanan. Baju seragam barunya yang tidak terlihat karena ia mengenakan sweater hitam.

Tok…Tok..Tok…

Ketukan menyadarkan Mark dari lamunanya yang melihat laut yang tenang. Mark segera berjalan menuju pintu.

“Kau sudah sangat rapih. Ayo!” Seru Sehun. Lelaki yang baru ia kenali dua hari ini. Tapi sekarang Mark sudah berada di rumahnya bahkan tinggal disini untuk sementara waktu.

Mark tidak menjawab. Sehun sendiri tidak merasa tersinggung atas perilaku Mark. Mereka baru saja bertemu dan itu merupakan hal wajar. Pikir Sehun.

Selama perjalanan mereka menuju sekolah barunya mereka juga hanya diam. Mark menikmati pemandangan Jindo yang masih asri. Di Los Angeles tidak ada pemandangan seperti ini. Pemandangan rerumputan yang luas dan awan biru yang menenangkan. Damai….

“Hey!”

Panggilan Sehun membuat Mark menoleh. Sehun hanya bosan. Dia butuh teman mengobrol. Perjalan sekolah membutuhkan waktu dua jam dan sudah satu jam ini mereka saling diam

“Mungkin kita bisa mengobrol. Kau tahu… Mendekatkan diri.” Sehun mengutarakan apa yang ia pikirkan sedari tadi. Laki-laki disampingnya membuat benteng seakan Sehun musuh. Yah, mengingat keadaan mereka Sehun tidak bisa menyalahkannya.

“Aku tidak punya keinginan untuk mendekatkan diri kepada mu.”

Jawaban singkat Mark membuat Sehun tertawa. Benar bukan apa yang ia pikirkan? “Biar ku tebak alasan mu. Kau curiga kepada ku bukan?”

Mark menatap Sehun tajam. Menilai laki-laki ini sebelum menjawab, “Baguslah kalau kau sudah tahu.”

“Boleh tahu alasannya?”

“Ku kira kau sudah tahu alasannya. Tidak kah kau berpikir sikap mu tidak biasa?”

Sehun menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia menatap supirnya sekilas kemudian menatap Mark, “Aku tidak inign membunuh mu atau mengambil perusahan mu. Aku hanya ingin kita berteman okay? Kalau kau ingin tahu alasannya karena aku butuh koneksi.”

“Baguslah kau jujur. Dan pada akhirnya tidak ada yang tahu sampai dimana pertemanan kita.”

“Kau tidak mengerti!” Sehun terdengar sedikit putus asa.   Ia menarik nafas dan berkata, “Tapi aku tidak akan memaksamu untuk berteman dengan ku. Aku hanya ingin jujur kepadamu.”

“Menurut mu aku akan langsung menaruh percaya kepada mu hanya kau berkata jujur kepada ku?”

Astaga… Laki-laki di depannya benar-benar seorang analitikal. Sehun melirik Mark sekilas sebelum mulai memandangi jalan lagi, “Terserah dirimu saja. Pada akhirnya kau akan tahu siapa aku sebenarnya.”

Mark memilih diam dan menatap jalan kembali. Sisa perjalanan dihabiskan dalam diam. Dari padang rumput yang asli, mereka melewati sebuah hutan yang masih terjaga. Hanya mobil mereka yang melewati jalan tersebut.

“Kau yakin ini jalan menuju sekolah?” Desis Mark karena tidak yakin.

“Aku tidak akan membunuh mu.” Suara Sehun terdengar santai. Ia tersenyum ke Mark.

Entah mengapa, Mark merasa yakin jika Sehun katakan benar. Ia tersenyum dan berkata, “Kau yakin di tas mu tidak ada senjata?”

Sehun menggelengkan kepalanya mendengar candaan Mark.

Setelah dua jam perjalanan, insting dirinya benar. Sehun tidak berbohong. Mereka benar-benar sampai disekolah mereka.

“Selamat datang disekolah baru mu. Sebenarnya sekolah ini mudah ditemui. Tidak terlalu misterius hanya karena aku dan dirimu bersekolah disini. Tapi karena rumah ku yang jauh… Jadi kita harus menempuh dua jam perjalanan.”

“Ku rasa kita menempuh perjalanan dari ujung pantai ke ujung pantai lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya dan mereka keluar dari mobil.

“Kau ingin langsung ku antarkan ke ruangan kelas atau ingin jalan sendiri?”

“Kurasa aku akan disini sebentar saja.” Mata Mark menelisik sekolah barunya. Beberapa murid terlihat membawa buku di tangannya. Tas mereka yang kecil membuat buku tersebut tidak muat. Rata-rata rambut perempuan disini digerai. Sedangkan laki-lakinya tidak ada yang cepak.

Deg!

Mark sedikit terpana melihat seorang perempuan berambut coklat dengan poni menutupi dahinya. Perempuan itu terlihat tersenyum seakan sangat bahagia bisa sampai di sekolah. Ia tidak membawa buku ditangannya dan tasnya lebih besar daripada murid-murid yang lain. Perempuan yang sedang ia tatap berhenti dan menengok ke arah kiri dan kanan kemudian terlihat tersenyum lebih lebar.

Mata Mark menangkap seorang laki-laki berambut cepak tengah menyingir ke arah perempuan itu. Mark mengenal laki-laki itu. Park Chanyeol kalau tidak salah namanya. Chanyeol berkata sesuatu dan membuat perempuan itu terlihat kesal. Mereka terus mengobrol hingga tiba-tiba perempuan tersebut memukul-mukul lengan Chanyeol yang membuat Chanyeol tertawa lebar.

Mereka berjalan memasuki gedung sekolah dengan Chanyeol yang masih menghadap perempuan itu dan berbicara kepadanya. Tapi yang Chanyeol dapatkan hanyalah pukulan di tangannya.

“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Mark tersentak ketika Sehun memanggil mereka. Ia bahkan melupakan Sehun sejenak akibat melihat perempuan itu.

Chanyeol menyapa Sehun dan mendekat. Perempuan yang masih misterius itu terdiam sebentar sebelum berjalan ke arah Sehun dan menyapa Sehun dengan senyuman yang sangat lebar dan mata yang berkilat senang. Jangan-jangan….

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Mark tersenyum menatap Chanyeol, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan perempuan yang dari tadi ia tatap.

Mark menatap Seunghwan. Seunghwan hanya diam menatap Mark sehingga Mark berkata, “Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

 

.

.

.

.

.

Deburan ombak telah menjadi teman Seunghwan selama hidupnya. Rumahnya tepat berada di depan pantai. Sebuah rumah kecil bewarna putih kecuali di bagian kamar Seunghwan yang bewarna kuning. Satu kamar mandi, dapur kecil, satu ruang tv yang kadang juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Sebuah rumah sederhana yang dibelikan oleh seseorang yang berharga untuknya.

Dengan mengingatnya saja, Seunghwan dibuat tersenyum sendiri. Ia segera menggelengkan kepalanya agar tetap fokus pada sarapannya. Setelah sarapannya selesai, Seunghwan segera mencuci piringnya dan berangkat ke sekolah. Hanya dia sendiri tinggal sendiri. Hidupnya sebatang kara. Dengan ibunya yang meninggal sejak empat tahun yang lalu. Seunghwan sebenarnya punya satu kakak cowok, tetapi dia tidak ingin mengingatnya. Dia memang sudah tidak punya keluarga lagi, tapi dia masih punya orang-orang yang perduli padanya. Teman-temannya. Maka dari itu, Seunghwan sangat menyukai sekolah.

Ketika liburan ia menjadi sangat bosan. Seunghwan tinggal di kota kecil bernama Jindo. Kota yang terletak di paling selatan dari Korea Selatan. Sebenarnya Jindo lebih tepat disebut desa jika dibandingkan dengan Mokpo, kota terdekat dan terbesar dari Jindo. Jarang ada bangunan tinggi. Mobil hanya sedikit yang lewat. Hamparan laut yang luas dan masih banyak rumput hijau. Pantai yang selama ini dia lihat adalah satu-satunya hiburan baginya. Jangan harapkan dia bisa keluar Jindo. Makan di salah satu Café di Jindo bernama Aera’s Signature Ice Cream saja sudah harus membuat Seunghwan menabung selama dua bulan. Apalagi ke Mokpo dimana dia harus naik bis?

“Seunghwan!”

Seunghwan segera saja menoleh dan ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Rambut laki-laki tersebut cepak. Satu-satunya laki-laki yang rambutnya cepak disekolahnya. Mamakai kemeja putih tanpa rompi dan menampilkan cengiran khas yang membuat mukanya bodoh.

“Woy! Kemarin kenapa gak bisa dihubungi?”

Seunghwan berdecak, “Mau lihat jawaban fisika bukan?”
Lelaki di depannya hanya tertawa kecil, “Tahu tuh! Kemarin habis kencan sama Yejin dan baru ingat ada tugas. Belum ngerjain nih…”

“Park Chanyeol!” Langsung saja Seunghwan memukul lengan Chanyeol, “Kalau kamu belum mengerjakan pr fisika aku akan dimarahi sama guru Song!” Seru Seunghwan sebal.

“Aku mau mengerjakannya semalam. Tapi kamu gak jawab!” Chanyeol berusaha membela diri, “Maka dari itu lihat dong…”

“Enak saja! Aku akan ajarin kamu tapi kamu gak boleh menyontek.”

“Kenapa harus Son Seunghwan yang menjadi partner fisika? Kim Jongdae bisa dicontek.” Ucap Chanyeol dengan suara hopeless yang didramatiskan.

Seunghwan hanya mencibir, “Aku sudah mengerjakannya capek-capek. Enak saja melihat!”

“Nanti aku bilangi sama Sehun kamu gak mau bantu aku….”

Seunghwan segera menoleh ke Chanyeol dan kembali memukul-mukul lengannya, “Apaan sih! Gak usah bawa-bawa nama Sehun deh!”
Chanyeol tertawa riang. Sehun selalu menjadi senjata rahasia agar Seunghwan bertekuk lutut. Gadis itu sangat-sangat mencintai Sehun. Yah, itu karena Sehun selalu berada di samping Seunghwan selama masa-masa kritisnya. Tetapi gadis itu cukup cerdas karena ia mengetahui Sehun tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada dirinya. Seunghwan menempatkan posisinya sebagai sahabat dengan berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia suka. Tapi tetap saja kelihatan. Mata gadis itu membesar ketika melihat Sehun –menjadi antusias-. Seunghwan juga lebih jaim di depan Sehun.

Chanyeol masih berusaha membujuk Seunghwan untuk memberikan pr fisika. Sayang, sama seperti tampangnya yang tolol, Seunghwan malah semakin ganas memukul lengan Chanyeol dan membuat Chanyeol meringis kesakitan.
“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Kegiatan Chanyeol dan Seunghwan terhenti. Chanyeol langsung menoleh ke sumber suara dan balik menyapa. Sedangkan Seunghwan terdiam dengan pipi bersemu merah. Sialan Chanyeol! Sehun jadi ngeliatkan.. Desisnya dalam hati.

Seunghwan kemudian menoleh dan melambaikan tangannya, “Sehun!”

“Hai, Seunghwan!” Sapa Sehun seperti biasanya.

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Kali ini, Wendy melihat ke samping kiri, seseorang laki-laki berdiri di samping Sehun. Laki-laki itu tersenyum, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan Seunghwan ke Mark.

Seunghwan yang sedari tadi menatap Mark hanya terdiam ketika Mark menyapanya.
“Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

Seunghwan ternganga sebentar. Baru pertama kali dalam hidupnya, Seunghwan terdiam bingung ingin mengatakan apa karena jantungnya yang berdebar lebih kencang.

.TBC.

 

New story nih… I know.. I know… State of Grace belum tamat. Flipped bagian epilog belum keluar. Terus aku juga lagi ngerjain projek Sestal terbaru… Dan jangan lupa Runaway yang belum pernah ku sentuh sejak 6 bulan yang lalu…

Tapi ini mini-chapter kok… 10 chapter kalau lebih pun cuman 2… See you soon guys…

 

 

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Advertisements

State of Grace (Chapter 15)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Maaf ini semua salahku.” Wendy menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap orang di depannya.

Sehun mendengus, “Tentu ini salahmu!”

“Sehun-ah, aku ingin memberi tahu lebih awal-“
“Memberi tahu lebih awal?” Sehun menatap jengah Wendy. Kekesalan mulai terpancar dari wajahnya, “Wendy… Astaga!!! Itu bukan penyelesaian masalah! Kau jelas-jelas selingkuh di belakang ku dan bilang jika kau akan memberi tahu perselingkuhanmu lebih awal?”

“Bukan.” Wendy mulai menatap Sehun. Nafasnya tercekat, tetapi dengan pelan-pelan, sebuah kalimat terluncur dari bibir tipisnya, “Aku ingin memberi tahu mu jika hubungan kita sebaiknya tidak dilanjutkan.”

Sehun terdiam cukup lama. Sebuah kalimat yang tidak pernah disangkanya. Setelah diam beberapa detik, Sehun tersenyum sinis. “Tidak kusangka….” Ia kemudian menatap Wendy, “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Menahanmu? Lakukanlah terserah dirimu… Aku juga tidak ingin bersama dirimu lagi!”

Deg!

Wendy langsung membuka matanya. Ia meletakan tangannya di atas dada, merasakan jantungnya yang masih berdetak kencang. Kenapa dia harus bermimpi hal itu?

Tring~

Wendy kembali tersentak ketika hp-nya berbunyi. Merasa bodoh karena hal itu, ia mengambil handphone-nya dengan merengut.

Hari ini narasumber kita datang. Tolong wawancara dia. Aku telah mengirimkan email mengenai dirinya.

“Astaga… Di hari minggu yang cerah ini?” Wendy menatap malas hp-nya. Dengan tenang, ia kembali menarik selimut meliputi tubuhnya dan kembali terlelap.

.

.

.

.

“Ini? Atau ini?”
“Kau cantik dengan apapun yang kau pakai…” Amber kembali menatap malas Krystal. “Dan berhenti mengeluarkan semua baju dari lemari mu!”

Krystal teriak frustasi. “Aku harus menemukan baju yang cantik. Ini adalah makan siang ku bersama teman-teman Sehun.”

“Mereka hanya teman-teman Sehun Soojung-ah.”
“Tetap saja…”

Tangan Krystal masih sibuk memilih-milih baju dari lemarinya. Sedangkan Amber kembali menatap handphone-nya.

“Apa yang harus kupilih?” Tanya Krystal lebih ke dirinya.

“Amber! Menurutmu apakah aku cantik menggunakan warna pink?”

“Apa?!” Amber langsung menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Sejak kapan kau suka menggunakan warna pink?”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Hanya mencoba hal baru. Ayolah…. Bantu aku memilih bajunya…”

Amber mendecak sebal tetapi ia bangkit dari tempat tidur Krystal. Berjalan ke arah lemari, “Kurasa jangan memakai hiasan di rambutmu karena itu akan membuat dirimu sangat manis. Kau harus kelihatan cantik. Jadi…. Bagaimana ini?” Amber memperlihatkan sebuah blouse bewarna putih, “Tidak. Ini terlalu simple…” Lanjut Amber dengan sendirinya, “Ini? Ini?” Amber ikut-ikutan mengeluarkan baju seperti Krystal, “Bagaimana dengan yang ini?” Sebuah kemeja bewarna biru tersodorkan ke depan Krystal.

“Jangan!” Kata Amber lagi, mendahului Krystal yang baru saja ingin berbicara. “Atau kau memakai kaus oblong saja?” Amber terlihat berpikir keras, kemudian menghela nafas. “Kau saja yang pilih. Aku lelah.”
“Yak!” Tangan kanan Krystal dengan cepat memukul bahu Amber.

.

.

.

Slurp~

Sehun mendesah lega ketika hot chocolate melewati tenggorokannya. Mengusir rasa dingin yang dari tadi ia rasakan. Sehun menoleh ke sebelah kiri, dan ia tersenyum lebar melihat Krystal yang sibuk tertawa bersama Seulgi. Agak kesal memang karena Krystal lebih banyak mengobrol dengan teman-temannya, tetapi ia tidak dapat memungkiri, senyuman dan tawa gadis itu menghilangkan segalanya.

“Oh Sehun…”

“Hm…” Respon Sehun pendek. Karena ia tahu siapa yang memanggilnya-Kai.

“Yak! Bocah busuk!” Kai memukul kepala Sehun. Membuat Sehun meringis, “Cepat bantu kami mengambil bahan makanan untuk makan malam!”

“Tidak usah memukul kepalaku!” Desis Sehun geram. Ia segera bangkit, mengikuti arah Kai pergi.

Dilain pihak, Krystal dan Seulgi masih berbicara tentang melukis. Terlihat, mereka nyaman dengan lawan bicara mereka.

“Benarkah?” Tanya Seulgi antusias. “Wow! Kau seharusnya mengikuti lomba melukis internasional. Aku yakin kau akan menang.”
Krystal tertawa kecil, “Kau terlalu berlebihan Seulgi-yah. Lukisanmu itu sangat bagus. Apalagi yang ….. itu sangat menakjubkan!”
“Dan lukisan abstrak-mu juga sangat-sangat menakjubkan! Ah, pokoknya aku yakin dirimu pasti akan menang!”

Krystal dan Seulgi kemudian saling diam. Bingung ingin berbicara apa lagi.

“Bagaimana jika besok aku datang ke rumahmu? Kau tau… Kita bisa saling berbagi pengalaman tentang melukis.”

“Seulgi-yah..” Krystal menatap Seulgi dengan tatapan yang hampir tidak percaya.

“Jika kau mau.” Lanjut Seulgi dengan tersenyum lebar. “Atau jika dirimu tidak sabar kita bisa memulai malam ini. Dengan dirimu yang menginap di rumahku terlebih dahulu. Untuk baju, tenang saja, kau bisa meminjam baju ku dulu. Paginya kita akan berangkat kerumah mu. Bagaimana?” Kedua alis Seulgi terangkat. Senyum jahil tertampil di wajahnya.

“Seulgi-yah…” Kali ini, tawa Krystal kembali meledak. Ia kalah menghadapi Seulgi yang orangnya menggampangkan segala hal. Berbeda dengan dirinya. Juga berbeda dengan Sehun, dimana dia baru menyadari hal ini ketika berbincang dengan Seulgi.

Seulgi juga ikut tertawa. Menurutnya, Krystal memiliki tampang dingin seperti sepupunya-Sehun yang membuatnya sedikit…. Tidak ingin berbicara padanya karena takut akan seperti sepupunya yang sangat irit berbicara. Tetapi, ketika berbicara dengan Krystal, gadis ini membalasnya. Bahkan Krystal orang yang mudah hanyut dalam pembicaraan.

“Krystal!”
Seulgi dan Krystal tersentak ketika suara Sehun menginterupsi. Entah dari kapan Sehun berada di depan mereka.

“Aku butuh berbicara dengan Krystal.” Tanga Sehun melingkar di pergelangan tangan Krystal. Sebelum Seulgi merespon, ia sudah menarik Krystal menjauh dari Seulgi

.

.

.

Mereka masih saling diam- Krystal dan Sehun. Krystal sendiri bingung ingin berbicara apa ke Sehun. Laki-laki disampingnya ini terkesan menutupi sesuatu. Tegang bercampur cemas terlihat di wajahnya. Sayangnya, setiap Krystal ingin bertanya Sehun hanya menjawab ‘Jangan khawatirkan aku,’; atau ‘Tidak ada apa-apa. Aku hanya harus pulang cepat.’.

Dalam keheningan mereka, mobil sudah memasuki jalan besar Seoul. Memotong ke segala arah untuk mencapai tujuan. Alis Krystal sedikit bertaut ketika mobil Sehun melewati f(x).

Krystal menoleh, ingin bertanya. Tetapi kembali diam ketika melihat Sehun yang sedikit panik.

….. (Mobil berhenti).

“Aku akan keluar sebentar.” Sehun segera membuka seatbelt.

Grab!

Tangan Krystal menahan tangan Sehun. Krystal tersenyum lembut, “Aku akan berada di sini.”

Sehun bernafas lega untuk pertama kalinya sejak ia menerima telepon tersebut. Nada suara Krystal begitu lembut. Juga makna dari katanya yang memiliki arti lebih-baginya. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Sehun mengangguk dan keluar dari mobil.

.

.

.

.

.

Mata Krystal sedari tadi terus melihat gerak-gerik Sehun. Sehun rupanya bertemu dengan laki-laki yang ia temui di café ketika terakhir kali dia ke sana. Kalau tidak salah nama laki-laki ini adalah Seojoon. Mereka sedang berbicara di trotoar jalan depan sebuah hotel. Sedikit tegang karena sepertinya mereka membicarakan suatu yang sangat serius. Seojoon lebih tenang dari Sehun. Sehun seperti terburu-buru, bukan! Lebih benar dikatakan ia menuntut sesuatu dari Seojoon.

Sehun dan Seojoon terus berbicara hingga ada orang yang menghampiri mereka. Seketika, Krystal langsung membulatkan matanya. Tifanny Sangjanim. Ibu dari Sehun. Wanita itu terlihat sangat tidak baik. Ia benar-benar marah. Langsung berdiri di tengah-tengah mereka.

Keadaanpun menjadi sangat tidak baik. Sehun berubah menjadi emosi. Krystal? Dia hanya bisa menyaksikan semua ini dari balik jendela mobil. Tidak mungkin ia turun. Pasti hal ini akan menambah sebuah masalah. Krystal hanya bisa melihat tanpa membantu sedikitpun.

Tes!

Air mata Krystal menetas dikarenakan hal tersebut.

.

.

.

.

.

Seojoon merasa kepala berkedut. Apakah ia salah memberi tahu Sehun jika ia ingin kembali ke Amerika? Apakah salah jika ia memberi tahu berita ini kepada adik kandungnya sendiri?

Yang jelas, salah atau tidak sepertinya ibunya menganggap hal ini salah.   Jelas terlihat bagaimaan perdebatan panas antara Sehun dan ibunya.

Mommy tidak pernah sudi sampai kapanpun!” Teriak Tifanny. “Jangan pernah dekat lagi dengan dia!”

Seojoon tersentak. Bahkan ibunya tidak memanggil namanya

“Dia?” Sehun sekarang berteriak, “Dia itu punya nama! Bagaimana Mommy tidak pernah memanggil namanya?!”
Sudah! Teriak Seojoon dalam hati. Jangan mempertanyakan hal yang sudah jelas.

Tifanny mendengus, “Suatu saat dirimu bersyukur karena telah berjauhan dari dia!” Ia menatap Seojoon tajam sebelum kembali menatap Sehun, “Ayo kita pulang! Mom akan pastikan dirimu pulang! Jadi kita akan pulang bersama!” Tifanny berbalik, bukan ke mobilnya melainkan ke mobil Sehun.

Melihat hal tersebut Sehun langsung menahan ibunya. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti tidak ingin ibunya berjalan menuju mobilnya.

Mom…” Panggil Sehun kepada ibunya yang terus berusaha jalan menuju mobilnya.

Seojoon membuang nafas. Tangannya terulur menyentuh tangan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya.

“Lepaskan Sehun, dia tidak bersalah!” Kata Seojoon dalam.

Tifanny menatap Seojoon dengan sangat marah, “Lepaskan Sehun?!” Ulang Tifanny dengan nada suara mengejek. Ia kemudian tertawa kencang, “Jadi sekarang dirimu melindunginya?!” Sekarang, posisi Tifanny benar-benar berbalik,badannya benar-benar menghadap Seojoon.

Seojoon kembali menghela nafas, “Dia adalah adik ku.”

Plak!

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Seojoon, “Kau tak pantas bilang itu kepada siapapun!” Desis Tifanny tajam. “Tidak setelah perbuatanmu terhadap Jinri.”
“Apa yang terjadi kepada Jinri?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Tifanny tersenyum sinis, “Kau tidak tahu yang terjadi? Oh, mungkin ini saatnya dirimu tahu yang terjadi.”
“Hentikan semua ini!” Teriak Seojoon tiba-tiba.
“Lihatlah dia, dia tidak ingin kebenaran terungkap.”

“Aku tidak bersalah!”
“Dengarkan Mommy, dia berada di situ dan hanya melihat Jinri tenggelam. Dia tidak melakukan apapun kecuali menangis!”

Sehun terhuyung ke belakang. Kenyataan pahit ini…

Seojoon berjalan mendakiti Sehun. Berusaha menggapainya.

Tak!

Sehun menepis tangan Seojoon.

“Dengarkan aku terlebih dahulu….” Pinta Seojoon.

“Aku memang melihatnya tenggelam, tapi aku mencoba mencari pertolongan. Aku berteriak meminta tolong. Tidak ada yang datang.” Seojoon menceritakan kejadian terburuknya untuk pertama kalinya kepada adik kandungnya.

“Pembohong!” Teriak Tifanny yang tidak terima, “Itu semua bohong!”
Dengan sigap, Seojoon berbalik ke arah Tifanny, “Aku tidak bohong! Bukankah semua ini adalah salahmu? Membiarkan Jinri bermain tanpa pengawasan sehingga ia jatuh ke kolam?”

Plak!

Lagi-lagi Tifanny menampar Seojoon. “Jangan pernah mengajariku bagaimana cara merawat anak. Aku tahu cara itu.”

Brak~

Tifanny dan Seojoon berbalik karena suara tersebut. Sehun menabrak pintu mobilnya sendiri. Ia terlihat sangat kosong. Dengan sisa tenaga terakhir, Sehun membuka pintu mobilnya. Satu detik lagi Sehun akan jatuh.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”
.

.

.

.

.

Krystal tidak dapat menahan dirinya lagi untuk diam. Melihat keadaan Sehun yang sangat shock. Dia bergegas keluar. Segera menahan tubuh Sehun.

“Sehun-ah!”

“Krystal?”

Suara Tifanny membekukan Krystal. Dia hanya dapat melihat Tifanny dengan segenap rasa takut, “Sangjanim…

Tifanny masih terkejut. Tetapi kemudian ia tersenyum sinis. “Ini adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi. Mengapa dirimu disini? Apakah….” Tifanny terdiam sejenak. Terlihat takut dengan apa yang ia utarakan, takut akan apa yang ia rasakan benar. “Apakah kau berpacaran dengan Sehun?”

Jari-jemari Krystal mencengkram lengan Sehun. Dia begitu takut dan merasa sangat dipermalukan. Krystal kembali menunduk.
“Ayolah, hanya jawab tidak apakah itu susah?” Tanya Tifanny lagi. Tidak ada jawaban dari Krystal Tifanny menatap Sehun, “Apakah benar dia pacarmu?”

“Iya.”

Pengakuan Sehun membuat Krystal mendongak. Ketika ia mendongak, ia menemukan Tifanny terhuyung ke belakang. Yang pasti badan sangjanim-nya akan membentur aspal jika saja Seojoon tidak menangkapnya.

.TBC.

State of Grace (Chapter 14)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

`Seorang laki-laki menapakan kakinya ke dalam sebuah tempat makan.

“Aku tidak yakin dengan tempat ini. Terlalu sederhana.” Gumamnya pelan. Ia kemudian melangkahkan kakinya. Mencari sebuah tempat duduk ketika matanya menemukan seseorang yang mungkin ia kenali. Dan orang tersebut duduk di seorang wanita yang tidak ia kenali. Aneh. Pikirnya.

Ia mendekat ke arah tempat mereka duduk. Mencoba mencari tahu karena rasa penasaran.

“Yak! Bukan itu maksudku!” Suara yang menyerupai gerutu dari wanita misterius terdengar.

“Katakan saja. Kau pasti akan cemburu.”

Deg! Tidak salah lagi.

“Sehun?” Ucap Seojoon pada akhirnya.

Kedua orang tersebut tersentak dan menatap Seojoon.
Hyung?” Ucap Sehun yang sama-sama tidak percaya dengan orang yang ia tatap.

Wanita di depannya menatap ke arah Sehun bingung. Kemudian menatap kearahnya.
“Oh, aku Oh Seojoon. Senang bertemu dengan Anda.” Seojoon mengambil alih keadaan. Ia mengulurkan tangannya ke Krystal.
Krystal membalas ulurang tangan Seojoon, “Krystal Jung.”

Keadaan tidak membaik. Masing-masing dari mereka terdiam. Masing-masing dari mereka bingung dengan keadaan ini.

“Aku akan mengambil sauce terlebih dahulu.” Krystal akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Mencoba memberikan ruang agar keadaan mencair.

Seojoon tertawa kecil ketika Krystal pergi, “Dia sengaja membiarkan kita berdua.”

Sehun mengangguk, “Ya, dia mengambil alih keadaan.”

Seojoon kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Sehun, “Maaf. Kurasa aku muncul diwaktu yang kurang tepat.”

Sehun menggeleng, “Tidak sama sekali tidak.”

“Aku merusak rencamu sepertinya.”
Sehun kembali menggeleng, “Tidak. Aku hanya terkejut dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.”

“Kurasa kau belum meberitahukan hal ini kepada dia? Siapa dia? Aku tidak pernah mengenalnya. Ku pikir kau masih berpacaran dengan Wendy.”

“Aku juga mengambil menu.” Krystal datang membawa sauce dan sebuah menu.

“Terimakasih Krystal-ssi. Kurasa aku akan meninggalkan kalian berdua karena sebenarnya aku tidak ingin makan disini, aku ingin take away saja.”
“Oh, baiklah.” Ujar Krystal dengna nada yang masih canggung. Meskipun Seojoon sudah ramah keapadanya.

“Sampai berjumpa lagi.” Ucap Seojoon sekali lagi sebelum dia benar-benar meninggalkan Sehun dan Krystal.

Krystal tersenyum kepada Sehun. Sehun membalasnya. Kemdian mereka kembali melanjutkan makan malam mereka.

.

.

.

.

“Hanya salad?” Wendy menatap protes Oemma-nya. Yang ditatap hanya mengangkat kedua bahunya.

Vegan. Kau tahu ibu sudah menjadi seorang vegetarian.”
“Tapi seharusnya ibu memesan sesuatu yang hidup juga bukan hanya yang tumbuh.” Wendy masih protes. Ia mengangkat tangan kanannya.

“Oh, jangan pesan seafood. Itu menjijikan.”

Wendy menghela nafas mendengar ibunya, “Tenderloin satu.” Ucapnya kepada pelayan. Pelayan tersebut mencatat kemudian pergi.

“Mana ayah?” Tanya Wendy menatap ibunya yang mulai memakan Caesar Salad.

“Pergi ke Minesotta. Urusan kantor tiba-tiba. Akan kembali minggu ini.”
Wendy diam tidak menanggapi. Ia kemudian kembali menatap ibunya, “Ada apa Mom?” Tanyanya menggunakan bahasa inggris. “Kenapa tiba-tiba mengundangku makan malam?”

Dia dan orangtuanya dekat. Hanya saja mereka tidak terbiasa untuk makan malam bersama. Terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ayahnya yang selalu bolak-balik ke Amerika Serikat-Korea. Ibunya yang selalu pergi untuk menghadiri exhibition dimana-mana. Dan dia yang selalu tidak betah di rumah. Benar-benar bsa dihitung kapan dia dan orangtuanya bisa makan bersama.

“Jangan menggunakan bahasa inggris ketika berbicara dengan ibu!” Gumam Ibu Wendy tajam. Memperingatkan putri semata wayangnya.

Wendy menghela nafasnya, “Maaf. Tapi ada apa?” Tanyanya lagi kali ini menggunakan bahasa Korea.

Ibu Wendy tersenyum. “Kita akan membahas sesuatu Wendy.”

Oh, Wendy tidak menyukai hal ini.

“Apa?” Tanya Wendy masih dengan tersenyum. Sebentar lagi keadaan pasti akan panas. Semoga saja dia tidak membuat kegaduhan di restaurant ini.

“Ibu mendengar jika Mark kembali ke Korea.”
Seketika badan Wendy lemas. Ia menjatuhkan dirinya ke kursi. Menatap ibunya malas, “Hubunganku dengan Mark sudah berakhir.”

“Ibu tahu. Tapi Mark masih menyukai mu.”

Wendy bangkit bersamaan dengan kekesalan yang terbit, “Jangan membahas dia.” Kata Wendy sedikit menahan suaranya. “Ayolah….. Ibu tidak perlu mencampuri masalah ini. Aku bisa mengaturnya.”

Ibu Wendy semakin menatap intents anaknya, “Ibu tahu. Tapi ibu tidak suka dengan pengaturan mu.”

Wendy memutar bola matanya. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai kayu restaurant. Berharap bisa pergi meninggalkan ibunya.

“Kau mengejar Sehun dengan cara yang ibu tidak disukai.”
“Hentikan!” Potong Wendy dengan kesal.

“Kau tahu apa yang ibu rasakan ketika Taeyeon bercerita tentang makan siang bersamamu? Itu memalukan.”

“Jadi ibu merasa malu karena hal itu? Itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang kita bahas.” Seloroh Wendy yang semakin menahan kekesalannya.
“Oh, tentu saja ada. Kau sangat putus asa mengejar Sehun.”
“Aku tidak putus asa!” Kegeraman sangat terdengar di suara Wendy. “Menjaulah dari masalah ini.” Perintah Wendy kepada ibunya.

“Dengar, jika Sehun masih ingin bersamamu kau pasti tidak repot-repot menempel dengan ibunya.”
Brak!

Wendy memukul meja. Ia menatap ibunya dengan sangat marah, “Sekali lagi akan aku perjelas, menjauhlah dari masalah ini.”
“Tidak. Lakukanlah sesuka mu, anakku sayang. Ibu pasti akan terus mengawasi mu. Jangan sampai Ibu turun tangan terhadap masalah ini.” Ibu Wendy kembali mengeluarkan senyumannya. Tapi Wendy tahu itu merupakan ancaman yang sangat keras.

Wendy menghembuskan nafasnya kasar, “Untung saja ibu hanya memesan sayur-sayuran. Karena aku sama sekali tidak ingin makan.” Dan Wendy langsung pergi meninggalkan ibunya.

Ibunya juga menghembuskan nafasnya kasar. “Dasar keras kepala.” Kemudian kembali melanjutkan makan malamnya.

.

.

.

.

Tadi pagi, Wendy berjanji akan menjauhi tempat ini. Tidak akan mengulangi kejadian tadi malam. Tetapi ia tidak dapat berbohong, lebih baik lari dari kenyataan daripada menghadapinya.

“Berapa kali harus kubilang? Kau itu sudah sangat mabuk!” Seru sang bartender dengan nada suara lelah. Kewalahan menghadapi Wendy.

Wendy menatap sang bartender sinis, “Kenapa memangnya? Apa urusanmu?! Cepat ambil lagi!”

Sang bartender menggelengkan kepalanya. Ia menjauhi Wendy. Tetapi bukan menuruti permintaan Wendy, dia akan menelepon anak bosnya. Melaporkan tentang Wendy. Dia pasti akan dimarahi lagi jika tidak melaporkan. Contohnya saja seperti kejadian kemarin malam.

“Ya, saya Chanhyung.” Chanhyung menyapa anak bosnya dengan formal. Ia mendengar serentetan kata dari anak bosnya. Terdengar pasrah, mengetahui apa yang telah terjadi. “Iya. Saya akan awasi Nona Son. Baik.” Chanhyung menutup telpon dan kembali lagi ke Wendy. Ingin memberikannya segelas air putih.

“Astaga!” Chanhyung terkesiap melihat Wendy yang sekarang telah tertidur pulas. Ia menghela nafas. Bukan berarti masalahnya selesai dengan Wendy yang tidak sadarkan diri. Dia juga harus menjaga Wendy dari tangan-tangan orang berpikiran kotor. Chanhyung keluar dari tempat kerjanya. Hendak membawa Wendy ke ruangan VIP agar perempuan ini bisa tidur nyenyak.

Bugh!

Chanhyung meringis. Seseorang tiba-tiba memukulnya.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin membawa ia kemana?”
Chanhyung masih meringis. Pukulan tadi membuat ia oleng hingga terjerembab ke lantai. Dengan terhuyung, Chanhyung bangkit mencoba membalas. Tapi apa daya, dia kembali mendapat pukulan.

“Cankam kata-kataku. Jangan sekali-kali kau menyentuh dia lagi!”

Chanhyung tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas, ketika ia bangkit, laki-laki yang memukulnya sudah tidak ada. Astaga, apa yang harus ia bilang kepada anak bosnya?

.

.

.

.

Keeseokan paginya,

Wendy memasuki rumahnya dengan hati-hati. Pelan-pelan, ia melangkahkan kakinya ke kamarnya.

Cklek~

“AAAH!!!” Teriak Wendy histeris melihat wanita yang berada di kamarnya. “Oemma! Astaga!” Jantungnya berdetak sangat kencang.   Ia menatap Oemma-nya dengan tatapan horror.
Oemma tersenyum sinis, “Dua hari berturut-turut tidak pulang ke rumah! Taehyun baru saja melaporkan jika dua hari ini kau selalu datang ke club-nya!”

Kepala Wendy yang masih pusing akibat pengaruh alcohol semakin bertambah pusing, “Oooh, astaga…. Izinkan Wendy untuk mandi terlebih dahulu. Atau setidaknya berganti baju. Kepala Wendy masih pusing.”
“Itu karena dirimu terlalu banyak minum alcohol! Kemana saja dirimu?! Pergi bersama siapa?! Menginap di rumah siapa?! Apakah dirimu bersama orang baru dua hari ini?!”
Wendy menatap Oemma-nya dengan jengah, “Keluarlah terlebih dahulu…” Pintanya dengan nada merengek.

“Ini tidak bisa dibiarkan!” Lanjut Oemma. “Bagaiaman jika Appa-mu tahu?! Dia pasti akan memarahi Oemma! Apa karena perdebatan kita kemarin malam?!   Cih, kenapa kekanakan sekali!”
“Ouuh.. Oemma! Keluarlah terlebih dahulu!”
“Apa susahnya menjawab pertanyaan Oemma? Hanya satu pertanyaan saja tidak bisa dijawab! Hanya pertanyaan sama siapa dirimu tidak bisa di jawab! Bagaimana Oemma bisa membiarkan mu! Baga-“

“Mark!” Teriak Wendy frustasi.

Oemma menghentikan rentetan kalimat. Menatap Wendy tidak percaya, “Mark? Kau bersama Mark dua hari ini?” Nada heran sekaligus penasaran tertera di kalimat tersebut.

Wendy menghembuskan nafasnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi kecuali berkata jujur. “Iya. Mark.”

“Mark Tuan?” Tanya ibu Wendy dengan nafas tertahan.

Lagi-lagi Wendy hanya mengangguk perlahan.

.

.

.

.

Tangan Mark terulur mengambil sebuah remote tv. Hari yang melelahkan. Seharian ini Mark mengurus surat izin tinggal disini bersama ibunya. Membuat ia harus meninggalkan Wendy di pagi buta. Senyuman Mark terukir mengingat Wendy.

Setidaknya Wendy mengucapkan terimakasih kepadanya. Gadis itu juga tidak menunjukan permusuhan kepadanya. Tidak seperti hubungan mantan pacar pada umumnya. Hanya satu yang menjadi permasalahan, Wendy kembali mengharapkan Sehun.

Sehun…

Oh Sehun…

Mark tidak pernah bertemu dengan Sehun secara langsung. Ia hanya pernah melihat Sehun sekali. Saat-saat moment terbahagianya. Karena saat itu Wendy lebih memilih dirinya daripada Sehun. Saat itu juga, ia merasa yakin jika Wendy tidak akan memikirkan Sehun lagi.

Setidaknya itu yang Mark pikirkan….

.TBC.

UAAAHH~  Rough October guys!  Huffhhh #lapkeringatdulu Maaf ya untuk update sedikit di bulan Oktber, hanya satu…  Untuk lanjutan ini akan saya post di minggu-minggu pertama bulan November…  Dan untuk Filpped… Hehehe, di tunggu aja ya…  Di usahain secepatnya #jalanpikiranbuntu…

Terimakasih yang sudah membaca fanfiction saya ^^