Runaway (Chapter 5)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli berdehem berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia memaksakan sebuah senyum, “Sudah lama juga tidak berjumpa denganmu, Choi Minho-ssi….” Balas Sulli berusaha menelan kepahitan ketika menyebut nama Minho.

Minho tersenyum sebagai tanggapan. “Ku rasa kita tidak bisa berbicara di sini. Ayo ikut aku.”

Sulli menyetujui perkataan Minho dan segera mengikutinya.

Minho membawa Sulli ke ruang melukis. Membukakan pintu untuk Sulli. Menghidupkan penerangan. Terakhri, tak lupa mengunci pintu ruangan.

“Ruang kerja mu?” Tanya Sulli memperhatikan ruangan kerja Minho yang penuh dengan lukisan anak-anak.

“Iya. Jadi…” Minho terdiam sejenak, menimang-nimang sesuatu, “apa pekerjaan mu?”

Sulli kemudian menoleh, “Aku..” Katanya bingung. Ia menarik nafasnya, “Fashion designer….”
Minho tersenyum lebar, “Kau mendapatkan impian mu bukan?”
Sulli terkekeh kecil, “Aku sedang mengejarnya sekarang. Small steps… Membuka sebuah butik dan berharap akhirnya bisa dikenal ke manca negara.” Ia menghela nafasnya, “Bagaimana denganmu? Kurasa ini sangat tidak sesuai dengan impian mu. Dikelilingi lukisan yang tidak sesuai dengan standar Choi Minho…”

Minho menahan nafasnya ketika Sulli mengatakan ‘Standar Choi Minho’. Ia lupa jika itu adalah kata yang sering ia ucapkan ketika mereka masih berpacaran. “Keadaan bisa berubah.” Tanggap Minho pada akhirnya. “Jadi, bagaimana kabarmu?”

Sulli mengerjapkan matanya, “Aku?” Katanya dengan nada bertanya. Ia mengalihkan tatapannya dari Minho sebelum akhirnya melihatnya lagi, “Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”

“Aku senang kau baik-baik saja…”

Jantung Sulli langsung berdebar keras ketika mendengar suara berat Minho. Ia menggelengkan kepalanya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu…” Kata Sulli dengan nada sedikit ketus. Berusaha menghilangkan kegugupannya.

“Aku juga.” Balas Minho dengan tangan yang ia masukan ke kedua kantong celananya. Sama seperti Sulli, Minho berusaha menahan rasa gugupnya.

“Ini tentang…” Sulli menahan nafasnya. Ia bingung harus mulai darimana. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kabar mu. Rasanya aneh kita bertemu kemarin seperti tidak saling mengenal.” Kata Sulli pada akhirnya. Ia tidak bisa! Sungguh, ia tidak bisa memberi tahu Minho bahwa ia adalah ayahnya Taemin.

Minho menghela nafasnya, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu secepat itu. Dikondisi seperti itu pula….”

“Maksudmu?” Sulli menatap Minho bingung. Secepat itu? Memangnya Minho sudah menunggu-nunggu kedatangan Sulli? Dan apa yang dimaksud dengan ‘Kondisi seperti itu’?

Minho menggigit bibir tebalnya, “Sebenarnya….” Ia terlihat ragu, “Aku tahu tentang Taemin…” Kata Minho pada akhirnya. “Ku rasa kau ingin berbicara padaku karena hal ini bukan?”

Tenguk Sulli langsung dingin akibat keringatnya. Ya Tuhan…. Kenapa? Kenapa Minho bisa tahu?

Feeling seorang Appa…” Jawab Minho. Sepertinya Sulli secara tidak sadar mengutarakan apa yang ia pikirkan.

“Minho…” Sulli menemukan suaranya.

“Aku minta maaf kepada mu karena tidak ada di saat kau paling membutuhkan ku. Aku akui, aku egois. Aku terlalu malu kepada mu ketika melakukan hal itu. Bukan menyesal. Aku malu karena telah menyakiti mu. Kata-kata itu di luar kehendak hati terdalam ku. Itu muncul di tengah keputus asaan ku ketika aku bangun—“
“Berhenti….” Sulli menundukan pandangannya. Air matanya mulai menetes. Hatinya masih sakit mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Dia tidak akan bisa menghadapi hal itu.

“Sull…” Tangan Minho berusaha menggapai Sulli.

Tak!

Sulli menepisnya. “Kau egois…” Kata Sulli susah payah. Menahan isak tangisnya. “Kau tidak tahu betapa susahnya aku ketika itu!”

“Aku tahu…” Minho mendekat ke arah Sulli. “Aku tahu… Maka dari itu sekarang, aku akan memperbaikinya….”

“Memperbaikinya?” Sulli tertawa sinis. “Sudah terlambat Choi Minho ssi!” Terdengar helaan nafas, “Kami sudah sempurna sekarang. Aku, Taemin, dan Kai.”

“Maksudmu aku tidak boleh ada di kehidupan Taemin begitu?” Suara Minho seketika tinggi. Apa maksud Sulli? Dia berhak akan Taemin. Dia tetaplah Appa Taemin apapun yang terjadi.

“Jangan menganggu kehidupan Taemin…”

“Maksud mu adalah kehidupan mu?” Balas Minho cepat. Masih dengan amarah.

“Aku jamin, Taemin sudah bahagia dengan Jongin di sampingnya. Tanpa diri mu!”

Sekarang Minho lah yang tertawa sinis, “Terserah kau ingin berkata apa! Ingatlah, aku tidak akan melepaskan Taemin semudah aku melepaskan mu!”

Minho segera berbalik. Keluar dari kelas. Meninggalkan Sulli yang diam tertegun.

.

.

.

.

.

Minho masih diam tak bergeming di depan kanvasnya.

“Apa yang terjadi dengan mu nak?” Suara Oemma nya menginterupsi lamunan Minho.

Minho menoleh ke arah pintu kamarnya. Oemma nya yang kurang lebih berusia 60 tahunan itu tetap terlihat muda. Dengan santainya, Oemma melintasi kamar Minho yang besar. Dimana di kamar itu banyak lukisan indah Minho. Jangan lupa, jendela besar tempat favorit Minho. Disitulah Minho kebanyakan melukis. Menghadap jendala besar. Menatap awan-awan yang indah.

“Sesuatu..” Jawab Minho pada akhirnya. “Ada apa Oemma?”

Oemma terkekeh kecil, “Hanya ingin memastikan mu. Kau terlihat sangat lesu ketika pulang.”

Minho akhirnya tersenyum, “Tidak ada apa-apa Oemma. Hanya sedikit lelah dengan pekerjaan ku. Oemma tahu akhir-akhir ini gallery begitu sibuk. Ku rasa itu ada hubungannya dengan keinginan ku yang ingin keluar jadi Tuan Kwon juga ingin mengadakan exhabisi lagi….” Jelas Minho diakhiri dengan tawa canggung.

Tidak ada di keluarganya yang tahu ia telah keluar dari pekerjaannya bersama Tuan Kwon. Keluarganya yang merupakan keluarga kedokteran adalah keluarga yang kaku. Sangat menjaga kehormatannya. Minho sendirilah yang bertindak sesuka hatinya. Minho yakin, Appa nya sangat marah ketika mengetahui Minho telah keluar dari sana ditambah menjadi seorang guru yang gajinya sangat kecil. Daripada bertengkar lebih baik berbohong.

Oemma Minho menghela nafasnya, “Oemma tahu kau telah keluar dari pekerjaan mu.”

“Ah, Oemma tahu dari mana?” Tanya Minho berusaha untuk mengelak.

“Firast seorang Oemma. Dulu ketika kau bekerja bersama Tuan Kwon kau berangkat sesuka hati mu. Jarang sekali mengikuti sarapan. Pakaian juga sesuka hati mu. Kerjaan mu itu hanya melukis. Sekarang? Kau berangkat sangat pagi pulang sangat sore. Pakaian rapih dan jarang melukis. Kau lebih sibuk dengan buku. Nah, sejak kapan Choi Minho suka buku?” Kata Oemma panjang lebar. “Katakanlah apa yang mengkhawatirkan mu? Apakah pendapat Appa mu?”
Minho mencibir, “Aku tidak peduli dengan pendapat Appa… Hanya masalah lain…” Minho tersenyum. Sedetik kemudian dia menggerang melihat ekspresi Oemma nya yang menatap Minho datar. Masih berusaha mengorek informasi. “Tidak ada apa-apa sungguh!”

Oemma Minho menghela nafasnya, “Baiklah… Baiklah… Oemma menyerah sekarang.”

.

.

.

.

.

“Jongin!” Gumam Krystal tidak percaya melihat siapa yang datang.

Kai mengeluarkan senyuman manisnya, “Kau masih bertahan rupanya…”

Krystal memutar bola matanya, “Aku tidak mengerti maksud mu. Ada apa?”

“Eh, kau galak sekali dengan suami atasan mu? Kau tidak takut kena marah?” Kai berkata dengan suara mengejek. Ah, dia suka membuat Krystal jengkel.

Krystal memutar bola matanya, lagi, “Ah benarkah kau suami atasan ku? Ku pikir kau office boy yang baru!”

Kai mendecih, “Terserah! Aku ingin bertemu dengan istriku!”

“Jangan ganggu Sulli! Dia sedang sibuk!” Teriak Krystal berusaha menghentikan Jongin yang berjalan ke ruangan Sulli.

Tentu, Jongin tidak mengubrisnya. Ia segera memasuki ruang kerja Sulli.

.

.

.

.

.

Jongin membuka ruang kerja Sulli disertai dengan senyuman hangat. Berharap Sulli menyambutnya dengan hangat juga. Keheningan yang menyambutnya. Sulli sedang memunggunginya. Menghadap ke arah komputer kerjanya.

“Sull~” Panggil Jongin pada akhirnya.

Sulli tersentak hebat. Ia segera berbalik, “Jongin~” Ujarnya tidak percaya. “Apa yang kau lakukan disini?”

Jongin tersenyum melihat Sulli yang tidak percaya dengan kehadirannya, “Kenapa? Kau terlihat sangat gembira…”
“Aku tidak menyangka kau datang kesini…” Sulli membereskan tumpukan-tumpukan kertasnya.

Jongin meletakan kantung plastik di atas meja Sulli, “Aku membawakan mu makan siang.   Sekalian ingin berbicara dengan mu.”

Sulli tersenyum, “Kau tidak usah repot-repot…”

“Aku melihat kemarin kau terlihat sangat lelah. Tadi pagi juga. Kurasa beban mu terlalu banyak. Makanya—“

“Aku tahu maksud mu…” Sela Sulli, “Tapi pekerjaan mu pasti masih banyak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku…”

“Aku akan melakukan apapun untuk mu Sull~ Kau tahu itu…”

Sulli menunduk. Menghindari tatapan Jongin. “Baiklah, karena kau sudah disini. Juga, apakah kau tidak lapar?” Tangannya mengeluarkan sandwich yang dibeli Jongin di supermarket.

Jongin terkekeh, “Tentu.” Ia menerima sandwich dari Sulli.

“Aku akan pergi selama beberapa hari….” Kata Jongin memecah keheningan di antarnya dan Sulli. “Sebenarnya itu alasan ku kemari. Aku ingin, sebelum aku pergi dirimu tidak apa-apa.”
“Berapa lama?”
“Sebulan? Tiga bulan?” Jongin memasukan sandwich terakhirnya. “Entahlah. Tapi tidak sampai bertahun-tahun.” Jongin mengedipkan matanya.

Sulli terkekeh, “Aku tahu kau ingin bercanda Kim Jongin…”

Jongin iku terkekeh, “Setidaknya kau sudah tertawa.” Kemudian nada suara Jongin kembali serius, “Ada masalah di perusahaan Appa. Aku harus mengurusnya.”

Sulli tidak ingin mengomentari rencana kepergian Jongin. Jika sudah seperti ini, Jongin tidak bisa ditahan. “Aku akan menunggu mu…”

Jongin tertawa kencang, “Apa maksud mu? Kau tentu akan menunggu ku Kim Sulli…”

Sulli membereskan makan siang mereka, “Apa? Tidak ada yang salah dengan omongan ku bukan?” Ia membawa kantung plastik ke tong sampah. Sedikit jauh dari meja kerjanya.

Hug~
Jongin tiba-tiba memeluknya, “Kau tahu aku akan merindukan mu…”

Sulli menoleh ke arah Jongin, “Aku tahu….” Ia mengedipkan matanya.

Jongin mendekatkan wajahnya. Ingin mencium Sulli.

Krek~

Krystal dengan polosnya masuk, “Kurasa aku harus mengetuk pintu dulu bukan?” Katanya melihat posisi Sulli dan Jongin.
Gosh!

Sulli cepat-cepat mendorong Jongin agar melepaskan pelukannya. Jongin mencebik, Pengganggu!

.

.

.

.

.

.

Suasana hati Sulli membaik setelah Jongin membawakannya makan siang. Entah itu karena sandwich nya yang lezat. Atau gurauan Jongin yang biasanya receh tapi kali ini tidak. Sulli bersenandung ria menunggu Taemin datang kepadanya.

Kemana Taemin?

Pikirnya dan melihat jam tangannya. Sudah tigapuluh menit yang berlalu. TK juga sudah mulai sepi. Apakah Taemin menghabiskan waktu bersama Minho?

Sulli berusaha menepis pikiran buruk itu. Ia tidak ingin suasana hatinya hancur. Kemarin suasana hatinya hancur bukan hanya karena Minho menolak mentah-mentah omongan Sulli. Tetapi karena perkataan terakhirnya. Ia tidak akan melepaskan Taemin semudah ia melepaskan Sulli. Itu membuat harga dirinya jatuh. Seakan ia tidak berharga dibandingkan Taemin.

Tapi, kalau dipikir-pikir, maksud Minho bisa juga ia menyesal melepaskan Sulli dulu. Makanya ia akan bertahan di Taemin. Sulli menghela nafasnya. Ia harus cepat-cepat menyingkirkan Minho sebelum suasana hatinya hancur.

Oemma!”

Sulli tersenyum melihat Taemin berjalan ke arahnya. Ketika melihat Taemin membawa sesuatu, senyumannya memudar. “Apa itu Taemin?”

Taemin mengerjap. Entah mengapa, mendengar suara Oemma nya, ia merasa takut.

“Taemin….” Panggil Sulli lagi karena Taemin hanya diam.

“Bukan apa-apa.” Kata Taemin pada akhirnya.

“Taemin….” Nada suara Sulli mulai naik. Astaga, apa yang dipegang Taemin? Itu terlihat seperti bungkusan kanvas. Apakah itu hadiah dari Minho? Tidak tahu dari mana Sulli mempunyai firasat seperti itu.

“Taemin mau pulang Oemma! Pokoknya Taemin mau pulang!”

Tanpa menunggu jawaban dari Sulli, Taemin membuka pintu belakang untuk meletakan benda yang ia pegang. Kemudian duduk di bangku depan.

Sulli menghela nafasnya. Ia mengikuti Taemin.

.

.

.

.

.

Oemma…” Panggil Taemin takut-takut karena dari tadi Sulli hanya diam.

Oemma….” Panggil Taemin lagi.
Sulli mengangkat rem tangannya. Mematikan mobilnya.

“Taemin minta maaf….” Kata Taemin pada akhirnya.

Hati Sulli luluh mendengar Taemin minta maaf. Ia akhirnya melihat Taemin, “Oemma hanya ingin tahu apa benda itu.”

“Tapi Oemma jangan marah ya…”

“Apa itu Taemin…”

Taemin menatap Sulli, “Itu… Lukisan dari Min Seongsangnim sebagai hadiah ulang tahun Taemin….”

Mata Sulli langsung melotot. Hadiah ulang tahun? Min Seonsangnim?

Oemma…” Ujar Taemin takut karena melihat ekspresi Sulli.

.TBC.

Advertisements

Runaway (Chapter 1)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Kring…. Kring… Kring…

Perlahan tapi pasti, Sulli membuka matanya. Mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum ia mengambil handphone-nya dan mematikan alarm.

Jongin juga ikut bangun. Ia menyibakan selimutnya, “Sudah jam enam pagi?”

Sulli mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jongin. Kemudian, mereka berdua turun dari tempat tidur. Jongin bersegera mandi. Sulli pergi ke kamar Taemin, anaknya untuk membangunkannya. Setelah itu Sulli akan bergegas membuat sarapan untuk Jongin dan Taemin. Saat Taemin dan Jongin sarapan, Sulli baru akan mandi. Dia baru akan memakan sarapannya di kantornya, butik pakaiannya Seoul-Ri sesudah ia mengantar Taemin terlebih dahulu.

Inilah rutinitas Sulli setelah menjadi istri Jongin. Berusaha menjadi ibu yang baik bagi Taemin. Juga membangun karirnya sebagai fashion designer.

.

.

.

.

“Tentu saja kau harus ikut pertemuan ini. Astaga Sul…” Krystal menarik nafasnya yang sudah habis. Kemudian kembali berbicara dengan nada mendesak, “ Dengan pertemuan ini, butik kita dikenal oleh orang-orang penting dari majalah di Seoul. Jika mereka tertarik dengan rancangan kita, mereka bisa mengontrak kita. Itu adalah hal yang sangat-sangat-sangat-sangat-sangat sangat sangat sangat-“

Sulli meringis mendengar rentetan kalimat Krystal, sekertarisnya juga teman masa kecilnya yang baru menyelesaikan kuliah fashion designer-nya di Paris. Yang entah mengapa ingin bekerja dengan Sulli, dibawah kendali Sulli. Padahal gadis ini lebih cocok disebut co-worker sangking berkuasanya. Secara, tidak ada sekertaris yang berani menentang dan menyuruh-nyuruh atasannya.

Helaan nafas keluar dari mulut Sulli. Ia memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sebelum pukul sepuluh pagi, “Aku mengerti… Tapi siapa yang akan menjaga Taemin? Pertemuan ini akan diadakan selama 5 hari….”

“Ayolah Sul…” Pinta Krystal dengan nada memohon, “Kau itu diundang oleh mereka. Jika kau menolaknya entah apa yang terjadi dengan butik kita. Juga, jika pakaianmu sudah digunakan di majalah, berarti dirimu sudah melangkah lebih dekat ke impian besarmu, runaway fashion!!

Kembali, Sulli menghela nafas. Sulli juga menatap Krystal dengan tatapan memohon, “Kau harus mengerti…”

“Kau bisa mengajaknya bukan? Ayolah dia masih TK. Bukan sebuah masalah jika ia bolos selama lima hari…. Benarkan?”

“Jongin tidak mengizinkannya…”
“Apa?!” Nada suara Krystal meninggi bersamaan dengan emosi yang meningkat, “Maksudmu…” Krystal mendelik, “Bagaimana bisa dia…”

Sulli menunggu Krystal dengan was-was. Takut jika emosi Krystal meledak.
Krystal mulai berbicara kembali, “Bagaimana….”

“Aku akan membicarakan ini dengan Jongin, okay? Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Sulli kemudian memasang senyum manisnya.

Krystal hanya bisa mendengus, “Awas saja jika Jongin tidak ingin menjaga Taemin.”

Sulli mengangkat kedua bahunya, “Kau kan bisa.”

“Apa?!” Krystal kembali mendelik ke arah Sulli. Dia sangat tidak menyukai anak-anak. No… No… No…

“Cepat kembali ke ruanganmu. Pekerjaan sudah menunggu!” Titah Sulli putus asa. Tidak berani menaikan emosi Krystal. Dasar, sekertaris terburuk! Untung saja teman dekat.

.

.

.

.

.

Flash kamera menyambut Sulli dan Krystal ketika mereka keluar dari mobil. Panasnya busan langsung terasa, seakan menyambut mereka. Perkumpulan para fashion designer seluruh Korea, baik yang sudah terkenal hingga ke mancanegara sampai yang seperti Sulli, beberapa kalangan saja diadakan. Acara selama lima hari ini dimaksudkan sebagai ajang berbagi pengalaman juga mengenalkan koleksi mereka ke khalayak yang lebih luas.

Mereka berdua, Krystal dan Sulli menggunakan koleksi S/S Collection terbaru butik Seoul-Ri. Sulli menggunakan Summer Dress bermotif yang di dominasi oleh putih gading. Rambutnya ia ikat sederhana. Juga dilengkapi oleh makeup minimalis. Sedangkan Krystal menggunakan Jumpsuit bermotif bunga-bunga. Rambutnya ia biarkan tergerai, dengan make up yang juga tidak terlalu tebal. Gelang di tangan kanannya melengkapi gaya chick nya.

Nafas Sulli mulai memendek ketika ia mulai berjalan mendekati wartawan. Ia menghembuskan nafasnya secara perlahan. Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Tidak boleh gugup! Ucapnya dalam hati menyemangati dirinya.

“Bisa di wawancarai sebentar….” Sulli bersumpah jika detik itu juga, tanggannya langsung menjadi dingin.

.

.

.

.

.

Oemma! Oemma!” Suara riang Taemin berhasil menyadarkan Sulli kembali. Perlahan, ia memukul kecil pipinya agar tersadar.

Nde….” Jawab Sulli mengantuk berbalik dengan Taemin yang masih sangat riang. Sulli menggerutu. Pasti Taemin sekarang sedang di jaga oleh Eunso, adik tirinya Jongin. Sedangkan Jongin pasti belum pulang. Hal ini melanggar perjanjian mereka dimana Jongin akan selalu menemani Taemin dari jam lima sore. Karena Taemin orangnya sangat rewel dan tidak bisa diatur kecuali oleh Sulli dan Jongin.

“Tadi di sekolah Taemin kedatangan guru baru. Guru yang menggantikan Jung Seongsangnim!”

“Taemin semangat sekali menceritakannya. Padahalkan Taemin sedih ketika Jung Seongsangnim keluar.”

“Iya itu karena gurunya lebih asik dan seru! Terus perhatian, ramah, gak pernah marah…. Pokoknya seru banget! Habis itu dia ngerti lagi apa yang Taemin tanyakan. Lukisannya juga bagus… Pokoknya Taemin seneng banget!”

“Taemin tahu dari mana jika gurunya gak pernah marah? Nanti kalau dia marah gimana?”
“Ih… Gak. Pokoknya Min Seongsangnim gak pernah marah!”

Sulli terkekeh kecil. Namanya juga anak kecil.

.

.

.

.

.

Sekarang Sulli bertanya-tanya. Ia bingung dengan Taemin. Selama lima hari di Busan selama itu pula Taemin menceritakan guru barunya.

“Taemin entah mengapa sangat menyukai Min Seongsangnim.”

“Melebihi suka Taemin kepada Appa?”

“Iya. Melebihi Appa!”
Itulah yang membuat Sulli bingung. Apa sih yang dilakukan oleh guru baru itu hingga Taemin sangat menyukainya? Pikiran Sulli kembali melayang ke hari selanjutnya, dengan tema yang masih sama, Min Seongsangnim.

Kenapa Taemin sangat menyukai Min Seongsangnim? Memangnya Min Seongsangnim pernah melakukan hal-hal berbeda yang tidak dilakukan oleh guru-guru yang lainnya?”
“Gak ada sih… Sama seperti yang lain. Tapi begini
Oemma, Taemin itu suka aja ngeliat Min Seongsangnim. Inginnya dekat-dekat dengan dia.

Tambah bingung kan? Krystal bercanda mengatakan jika Taemin mungkin tertarik dengan guru barunya. Yang membuat Sulli langsung tak bisa tidur nyenyak selama di Busan. Amit-amit deh…. Sulli belum bisa membayangkan jika anaknya memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Tidak dapat dipungkiri, Sulli mulai mempercayai perkataan Krystal. Ia sampai-sampai membayangkan jika guru baru itu juga tertarik dengan Taemin. Amit-amit…. Maka dari itu, hari ini, Sulli yang baru saja menginjakan kakinya ke Seoul langsung memutuskan untuk menjemput Taemin.

Krystal hanya tersenyum jahil kepada Sulli. Sangat bahagia karena Sulli masuk ke dalam perangkapnya. Sulli sih masa bodoh. Mau Krystal anggap dia apapun hingga disebut terlalu parno Sulli tidak peduli. Soalnya ini masalah anaknya. #Eaaa

.

.

.

.

Terlalu bersemangat hingga Sulli terlalu cepat sampai. Ia mendesah. Bingung ingin melakukan apa. Akhirnya Sulli memutuskan untuk memainkan hp-nya. Mengabari info ini kepada Krystal yang menyebabkan gadis itu kembali mengetawai Sulli. Sulli hanya bisa mendengus dan membalas, ‘Kau akan seperti diriku jika sudah punya anak!” dan Krystal langsung menjawab dengan satu kata, “Diamlah!”

Berganti, Sulli-lah yang tertawa. Temannya itu sangat tidak menyukai anak kecil, bahkan sampai tidak mau punya anak. Menurutnya mereka itu rewel, berisik, cengeng, intinya menganggu. Benar sih… Tapikan beda rasa antara anak sendiri dengan orang lain.

“Yeaaayy…”

Suara ramai menandakan anak-anak sudah pulang. Sulli segera menutup chat-nya, meletakan handphone-nya, dan keluar dari mobilnya. Menunggu Taemin dengan hati yang berdebar-debar. Menahan rindunya kepada Taemin. Ia menunggu cukup lama karena Taemin selalu keluar yang paling terakhir. Taemin sangat suka bermain di TK-nya hingga harus diseret pulang oleh guru-gurunya.

Akhirnya Taemin datang. Taemin melambaikan tanggannya kepada Sulli. Sulli langsung tersenyum sangat lebar dan membalas lambaian tangan Sulli. Tetapi Taemin tiba-tiba berbalik. Kemudian mendengus.

Oemma tunggu sebentar ya!”

Dahi Sulli bekerut. Kenapa Taemin tiba-tiba berbalik? Ia menghela nafasnya dan berjalan searah dengan Taemin.

“Tapi Min Seongsangnim harus bertemu dengan Oemma! Taemin tidak mau tahu!” Suara Taemin langsung terdengar dari lorong-lorong TK yang sepi. Remang-remang, tetapi Sulli bisa melihat Taemin berbicara dengan seseorang. Orang tersebut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Taemin sehingga Sulli tidak dapat melihat wajahnya yang tertutup dengan badan Taemin.
“Taemin…” Panggil Sulli lembut.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.TBC.

 

Runaway (Prolog)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

 

“Hiks…. Hiks… Hiks…” Isak tangis seorang gadis mengisi kekosongan kamarnya. Sang gadis mengusap kasar air matanya. Ia memejamkan matanya.

Tes!

Air matanya kembali turun.

“Apakah kau mau menikah denganku?”

Lagi-lagi, air matanya kembali turun. Ia mencoba mengatur pernafasannya. Menghirup udara dan mengeluarkannya dengan perlahan, mencoba membuat dirinya tenang.

Hufh~

Sulli-gadis tersebut sudah mulai merasa tenang. Ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju cermin. Menatap bayangan dirinya.

Kemudian, kembali memejamkan matanya kembali. Rasa frustasi kembali menjalari dirinya. Sulli masih mencoba mengatur pernafasannya.

Tenang Sulli… Kau pasti bisa melewati hal ini….

Dengan perlahan, tangannya membuka laci dan mengambil kotak kecil bewarna merah. Sulli membuka kotak tersebut, sebuah cincin bertaburkan berlian terdapat di kotak tersebut.

“Aku tahu ini bukan cincin pernikahan seperti biasanya. Tetapi aku tahu ini akan cocok untukmu.”

Sulli mengambil cincin tersebut. Melihatnya dengan seksama.

Mungkin pernikahan ini adalah jalan keluarku?

Ia kembali menghembuskan nafasnya, sebelum akhirnya menyematkan cicin tersebut ke jari manisnya.

tumblr_static_original

.

.

.

.

.

Sulli menahan nafasnya. Ia begitu terkejut dengan semua ini. Kedatangan Jonghyun yang tiba-tiba. Tatapan Jonghyun yang marah. Suaranya yang dingin. Ia juga memegang kedua bahu Sulli. Membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.

“Apa benar kau akan menikah dengan Jongin?! Sulli jawab aku!”

Suara Jonghyun kembali mengembalikan fokus Sulli yang tadi hilang entah kemana. Sulli mengerjap, “Euhm… Kenapa?”

Jonghyun melepaskan kedua tangannya. Ia menjambak rambutnya frustasi, “Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa.”

“Bukan maksudku…” Jonghyun menghela nafasnya, mencoa menghilangkan rasa frustasi, “Bagaimana dengan…. Kau tahu…. Kau baru saja bertemu dengan Minho dan sekarang memutuskan menikah dengan Jongin.”

Sulli menghembuskan nafasnya, “Aku memikirkan keputusan ini dengan matang-matang Jonghyun-ah….” Ia mengenggam tangan Jonghyun, “Ini adalah keputusan yang terbaik.”

“Bukan begitu…. Aku merasa ragu… Kau baru saja berhubungan dengan Minho kembali.”

Sulli mengangkat tangannya, “Lupakan Minho. Ku mohon. Sekarang hanya ada Jongin tidak ada lagi Minho.”

“Bagaimana jika dia masih menyukai mu Sulli-yah? Kau juga masih menyukainya bukan?”
Air mata Sulli turun perlahan. Ia menggelengkan kepalanya, “Ia tidak akan pergi lagi jika masih mencintai ku.”

“Aku akan mencari dirinya. Membawa dirinya kembali ke sini. Ja-“

“Itu tidak cukup!” Teriak Sulli tiba-tiba. “Itu tidak cukup! Kau butuh waktu berapa lama untuk membawanya kesini? Berhari-hari? Berminggu-minggu? Atau bahkan berbulan-bulan? Atau ia tidak ingin kembali kepadaku?”

“Sulli…”

“Aku hamil anaknya.”

“Apa?!”
Sulli mulai terisak. Ia menggigit bibirnya, berusaha mengontrol isakannya, “Aku hamil anak Minho, Jonghyun-ah. Aku kalang kabut ketika pertama kali mengetahuinya. Maksudku… Maksudku apa yang akan kulakukan? Minho sudah pergi melanjutkan sekolahnya keluar negeri. Ia jelas-jelas mengatakan kepadaku jika itu merupakan pertemuan terakhir mereka. Aku tidak bisa mengatakannya kepada siapapun. Aku bisa kehilangan segalanya karena hal ini-hal yang mereka anggap memalukan. Di tengah kekalutanku Jongin tiba-tiba melamarku. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Menolaknya?” Sulli menghapus air matanya, “Sudah kubilang, aku sudah memikirkan hal ini dengan baik-baik.”

Jonghyun menghela nafasnya, “Maaf. Aku benar-benar tidak tahu. Aku pikir kau gegabah.”
“Tidak apa-apa. Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku.”

.

.

.

.

.

.

Choi Sulli namanya. Ia masih muda. Masih sangat muda. Umurnya baru 23 tahun. Tetapi dia memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Kim Jongin. Sayangnya, kekasihnya bukan pemilik hatinya. Pemilik hatinya adalah Choi Minho. Kakak kelasnya di fakultas sama dengannya. Kalau Sulli mengambil jurusan mendesign baju atau fashion designer makan Minho memilih jurusan seni murni.

Jujur, Sulli hanya berpura-pura saja ingin berpacaran dengan Minho. Karena tantangan dari teman-temannya jika Minho menyukai Sulli. Benar saja, laki-laki tersebut sangat menyukainya. Selama enam bulan Sulli menjadi pacarnya, laki-laki itu selalu melakukan yang terbaik kepada Sulli. Kadang-kadang memang sedikit mengecewakan, tetapi sorot laki-laki itu sangat jujur, menyanyanginya sehingga Sulli melupakan rasa tersebut. Rasa cinta muncul kepadanya secara tiba-tiba. Ia terjerat dalam cinta itu.

Lain seperti Minho yang memang mencintai Sulli dari awal dengan tulus, Sulli hanya ingin bermain-main dengan Minho pada awalnya. Itulah malapetaka dari jalan cerita mereka. Minho mengetahuinya dan memutuskannya. Ia terbelengu dengan cinta Minho, kesalahannya, juga kekesalannya kepada teman-temannya yang memberi tahu tentang ini.

Teman-temannya berkilah jika mereka memberi tahu Minho karena menurut mereka ada yang lebih baik dari Minho, seperti Oh Sehun atau Kim Jongin yang jelas-jelas menyukainya. Sulli mencebik, darimana mereka tahu?

Hatinya tambah meringis ketika mengetahui jika Minho memutuskan untuk mengambil beasiswa ke Belgia. Rasanya…. Entahlah… Dia merasa sangat sesak tidak terekspresikan. Kecewa terhadap dirinya. Sangat kecewa. Kim Jongin datang di kehidupannya. Sorot matanya sama seperti Minho sehingga Sulli berharap jika Jongin dapat menggantikan posisi Minho.

Tapi Jongin tidak dapat menggantikan Minho. Sorot matanya memberikan ketenangan kepada Sulli. Kata-kata dari mulutnya memberi kehangatan di hatinya. Tetapi jantungnya tidak berdebar-debar. Begitu tenang hingga rasanya tak berdetak seperti orang yang mati. Sulli belum bisa melupakan Minho. Ia masih terbelengu dalam cinta Minho.

Ketika mendengar Minho kembali, Sulli mencoba keberuntungannya. Ia ingin menjelaskan semuanya kepada Minho. Semuanya. Ketika bertemu dengan Minho, susah awalnya karena Minho menyambutnya dengan sangat-sangat dingin. Tetapi tak dapat dipungkiri, dengan sedikit saja memohon kepada Minho, laki-laki itu luluh kepadanya. Mereka berbicara berdua, di tempat yang lebih sepi dari sebuah café yang biasa Minho kunjungi.

Entah apa yang terjadi, Sulli tidak tahu. Mungkin dari efek Minho yang memeluknya ketika ia menangis. Atau otaknya yang tidak dapat berpikir jernih karena jantungnya berdetak sangat keras. Karena emosinya yang tidak stabil. Karena hatinya yang kacau. Malam itu benar-benar kelabu hingga Sulli tidak merasakan apapun. Hanya panik di pagi hari ketika ia mengetahui apa yang benar-benar terjadi.

Pagi itu, ketika ia bangun, Minho sudah berada di sampingnya. Menatapnya dengan lembut hingga ketakutan Sulli langsung senyap. Hanya menyisakan kegilaan akibat detak jantungnya yang berdegup sangat cepat karena tatapan Minho. Mereka berbicara dari hati ke hati sehabis itu.

“Aku… Aku minta maaf jika aku menyakitimu. Sungguh, aku tidak bermaksud seperti itu. Kemarin terasa seperti, klise. Begitu cepat hingga kita terjatuh sangat dalam. Aku mencintaimu sungguh… Tidak peduli apa yang kau lakukan kepadaku. Tapi aku tidak bisa melepaskan mimpiku. Aku tidak boleh mundur untuk mengejar mimpiku.

Sulli langsung mengerti. Ia tidak dapat membuat Minho untuk tinggal. Maka dari itu, harapan dia pupus Minho ingin kembali kepadanya jika mendengar kabar tentang dirinya. Ia tidak bisa membayangkan Minho menolaknya. Sullipun hampir saja bunuh diri jika Jongin, yang entah mengapa melamarnya. Mengajak ia menikah.

Dan dari hal-hal bodoh yang ia lakukan, disinilah Sulli. Di ruang penuh tamu. Memaksakan sebuah senyum bahagia selagi ia menyapa tamu-tamu pernikahannya. Membalas ucapan para tamu dengan nada suara yang harus bahagia.

Disinilah Sulli, disamping Jongin.

.FIN.

[Songfict] Photograph

Photgrap

 Cast: Choi Minho & Choi Sulli

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Ficlet

Author: Ally

***

A/N: Haii semuaaaanyaaaa (?)  Saya akhirnya kembali lagi membawakan fanfiction pertama di bulan September ini ^^  Gak nyangka loh sebentar lagi State of Grace udah satu tahun….  Kali ini saya membuat sebuah Songfict nih… Tentang Minsul.  Ada yang suka couple ini gak?  Okay ngomongnya kebanyakan (?)  Hope you guys like it.

***

 

“Apa? Aku tidak mendengar perkataanmu Key hyung! Sama sekali tidak!” Minho tertawa lepas di sela-sela ia kabur dari amukan Key. Hey, mereka memang sudah tidak muda lagi, tetapi sifat kekanak-kanakan mereka masih ada.

“Yak!! Kembali!!!!” Teriakan Key sukses mengisi droom Shinee yang sudah berbulan-bulan kosong. “Aku tidak mau tahu itu!!! Kembali!!!!!!” Lanjutnya dengan semakin tinggi.

Mereka selalu seperti ini. Onew-Jonghyun-Key-Minho-Taemin. Setiap kali bertemu. Tidak pernah akur. Tapi itulah yang selalu membuat mereka ingin bertemu kembali, ingin berbaikan kendati pada akhirnya menjadi seperti ini.

Minho menghela nafasnya. Lelah akibat terlalu banyak ketawa. Ia merebahkan dirinya ke kasur tidurnya.

Tap! Tap! Tap!

Minho menoleh dan ia segera melotot ke arah orang yang baru saja masuk ke kamarnya, “Jangan terlalu menanggapinya dengan serius hyung. Akukan hanya bercanda.”

Orang yang sekarang telah berada di depan tempat tidurnya mendesis, “Candaanmu membuat diriku semakin tua!”

Minho hanya tertawa kecil, “Seharusnya hyung bisa mengendalikan amarah hyung. Bukan berteriak-teriak tidak jelas seperti tadi.”

“Kau juga jangan suka membuatku marah-marah.” Key mengacak pinggangnya. Kemudian menatap orang yang lebih mudah dengan teduh, “Aku hanya ingin memberi hp-mu. Adik kecilmu menelepon.”

Hening beberapa saat. Minho tidak merespon sama sekali.

“Minho-yah…” Key menyenggol Minho.

 

“Loving can hurt

 

Loving can hurt sometimes

 

Minho menoleh, menerima hp-nya dari tangan Key. Ia bangkit dari tempat tidur dan melihat sebuah missed call. Choi Sulli. Sulli meneleponnya.

“Ada masalah lagi? Dia?”

Minho menghela nafasnya, “Mungkin.”

“Kau harus memperbaiki hal ini Minho. Kau tahu itu.”

Minho hanya bisa menghela nafas lagi, “Bagaimana bisa? Aku tahu aku salah tetapi aku masih mencintainya. Biarkanlah seperti ini.”

“Keadaan dimana dia hanya menganggap dirimu sebagai oppa-nya, kakak laki-lakinya yang akan selalu melindungi dia dan mendukung dia apapun yang terjadi. Tempat dimana dia selalu menceritakan masalah dia apapaun yang terjadi. Meskipun masalah tersebut menyangkut pacarnya yang sama sekali tidak kau sukai karena kau masih mencintainya. Masih mencintainya seperti dulu. Sebagai seorang wanita bukan sebagai saudara.” Key menggigit bibirnya, merasa salah membahasi masalah sensitive ini. Tetapi dia harus membahas hal ini, “Itu menyakitkan Minho. Kau tahu itu.”

“Bukan.” Minho menatap Key, “Keadaannya bukan seperti yang hyung pikirkan. Aku hanya ingin berada disampingnya, mendukungnya apapun yang terjadi. Terus berada disampingnya membantunya dalam semua kesusahan. Sehingga ia sadar, ia sadar jika aku masih mencintainya dengan sepenuh hati.”

Key menatap teman satu grupnya terkejut. Ia kemudian tersenyum pahit, “Terserah dirimu saja. Aku kembali ke ruang tv.”

Minho yang melihat Key pergi juga kembali merebahkan dirinya ke kasur.

 

“But it’s the only thing that I know

 

When it gets hard,

 

You know it can get hard sometimes

 

Dering hp kembali terdengar. Minho kembali melihat hp-nya. Sulli. Lagi-lagi Sulli meneleponnya. Untuk kali ini saja, ia akan membiarkannya. Tidak menjawab telepon Sulli. Hanya sekali ini.

Semua orang disekitar tahu apa yang terjadi antara Sulli-dirinya-dan tentu pacar Sulli. Hanya dirinya-Sulli-dan pacar Sullilah yang tidak tahu kejadian sesungguhnya. Akan berakhir dimanakah hal-hal yang ia lakukan sekarang? Yang lebih penting, kapan ini semua bermulai? Kapan dia yang selalu merasa sakit melihat gadis itu? Sakit melihat gadis itu bahagia. Sakit melihat gadis itu sedih. Kapan?

Sejak mereka bertengkar hebat disebuah malam? Sejak Minho tidak dapat menekan egonya yang kuat untuk meminta maaf duluan? Sejak ia tahu ia terlambat untuk meminta maaf atau memperbaiki hubungan mereka yang sudah berakhir, karena Sulli telah berpacaran dengan orang lain. Ya, sejak itu.

Tapi sebenarnya ia bisa saja memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan Sulli. Itu adalah hal yang biasa, dia sudah tidak lagi menjadi pacar Sulli. Kenapa dia harus peduli? Kenapa?

Jawabnnya hanya satu. Karena Minho belum bisa melepaskan Sulli. Minho belum bisa mempercayai orang lain untuk Sulli. Dia masih percaya akan dirinyalah yang bisa melindungi dan membahagiakan Sulli.

 

“It is the only thing that makes us feel alive”

.

.

.

.

Sulli menghela nafas panjang ketika dia tidak menjawab teleponnya. Ia mencampakan hp-nya ke tempat tidurnya. Kemudian, gadis jelita itu melihat sekeliling tempat tidurnya.

Tempat apakah ini? Sangat berantakan. Banyak dari foto-foto Sulli terjatuh dari lantai. Jatuh dari tempat penyimpanannya. Ini semua terjadi karena dia habis bertengkar dengan pacarnya. Bertengkar sangat hebat sampai dia menangis ketika pacarnya pergi. Satu-satunya tempat dia menceritakan keluh kesahnya, Minho oppa, tidak menjawab teleponnya.

Sulli menghela nafasnya. Baiklah. Biarkan masalah dirinya dan Choiza menggantung terlebih dahulu. Ia harus membereskan kamarnya yang sangat berantakan.

Dengan pelan, ia turun dari kasurnya. Memungut foto-foto yang berserakan di lantai. Tangannya terhenti ketika ia memungut salah satu foto favoritenya….

fx-sulli-amber-shinee-jonghyun-key-minho-eithtoo-161

 

“We keep this love in a photograph

 

We made these memories for ourselves

 

Sulli tertawa. Foto ini….. Dia selalu menyimpan foto-foto antara dirinya dengan Minho oppa. Baik foto yang mereka ambil secara sendiri maupun foto yang ia ambil dari internet. Seperti foto yang sekarang ia pegang.

Otaknya memutar kejadian waktu foto tersebut diambil. Minho oppa selalu menjadi orang yang terbaik bagi dirinya. Dia tidak pernah merasa tersanjung seperti itu kecuali dengan Minho oppa.

 

“Where our eyes are never closing

 

Hearts are never broken

 

Times forever frozen still

 

Tatapan Minho oppa yang selalu dalam kepadanya. Penuh makna. Sangat menghargainya. Dan hatinya yang selalu kelelahan karena berdetak terlalu keras setiap melihat matanya. Tetapi senyumannya dan sentuhannya membuat dirinya nyaman. Sangat hangat.

Pada akhirnya, tatapan mata yang selalu meresahkan hatinya berubah makna. Berubah menjadi tatapan yang sangat mencintai dirinya sepenuh hati. Dan Sulli selalu ingin melihat mata yang membuat dirinya sangat nyaman itu.

Deg!

Deg!

Deg!

Sulli memegang jantungnya yang kembali berdetak hebat. Kenangan dulu terlalu menghanyutkan dirinya.

Kriiiing~

Dering handphone membuatnya tersentak. Dengan tangan panjangnya, ia mengambil dan segera mengangkatnya.

“Minho oppa!” Pekiknya senang.

Suara mu terdengar parau Sulli-yah.”

 

“Loving can heal”

 

Hati Sulli menjadi tenang. Satu orang itu yang selalu mengerti dirinya. Dia bahkan tahu jika Sulli habis menangis. Kalimat yang baru saja Dia lontarkan, sedikit menghilangkan kesedihan di hatinya.

“Aku memang payah dalam memberikan saran. Tetapi kau bisa mengandalkanku untuk mendengar seluruh curhatanmu.”

Mendengar kalimat Minho selanjutnya, senyuman Sulli semakin mengembang.

.

.

.

“Loving can mend your soul

 

And it’s the only thing that I know

 

Minho melirik handphone-nya. Tidak ada telepon lagi. Aneh… Biasanya Sulli akan terus meneleponnya sampai ia mengangkatnya. Tapi kenapa gadis itu tidak mengangkatnya?

Minho kemudian mengalihkan pandangannya. Biarkan saja. Untuk sekali ini saja ia ingin… Ingin egois…

Benak itu…. Minho membencinya. Sifat didalam dirinya yang sampai sekarang belum bisa ia kendalikan. Dengan cepat ia mengambil handphone-nya dan segera menelepon Sulli.

“Minho Oppa!” Suara tersebut terdengar parau walau Sulli terdengar senang sekali.

Minho menghela nafas. Mereka bertengkar lagi dan Sulli habis menangis. Gadis ini tipikal pengalah dalam hubungan, termasuk ketika mereka berhubungan.

“Suaramu terdengar parau.” Gumam Minho.

Hening. Sulli tidak menjawab lagi. Mungkinkah? Mungkinkah gadis disebarang itu sedang terdetak karena Minho sangat mengerti dirinya? Ah…. Harapan tersebut kembali muncul. Bersarang di hatinya. Dan entah mengapa, walau hanya sebuah praduga, Minho senang dengan hal itu.

 

“I swear it will get easier

 

Remember that with every piece of ya

 

Lucu tapi nyata. Betapa mudah hati ini terbolak-balik. Bukankah Minho baru saja menanyakan apakah hubungan dirinya-Sulli benar? Sekarang? Dia kembali hanyut kembali kedalam hubungan yang dipertanyakan itu. Juga, dirinya menambahkan ilusi gila kedalam hubungan mereka.

Terkadang kenyataan sangat pahit sehingga orang-orang lebih memilih mengabaikannya. Kemudian menggantikan kenyataan yang lebih pahit itu dengan ilusi berdasarkan apa saja yang membuatnya sakit lakukan.

And if you hurt me

 

That’s OK, baby, only words bleed

 

Inside these pages you just hold me

 

And I won’t ever let you go

.Fin.