Unwanted Reverie (Chapter 2)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #2: Unwise Advised

“Jadi bagaimana Krystal, apakah kau ingin menggoda Oh Sehun?” Joohyun kembali berkata setelah Krystal menatapnya tanpa berkedip hampir tiga menit. Dia mengigit bibirnya.

“Oennie gila bukan? Aku adalah sahabat mu. Oh Sehun adalah tunagan mu. Apa yang ada dipikiran Oennie?” Krystal berangsur-angsur mundur. “Oennie… Astaga! Kau membuatku takut!”

Joohyun menghela nafasnya, “Kumohon Krystal…. Pikirkanlah!”

.

.

.

.

.

Krystal tidak tahu perasaannya sejak ia pulang dari butik Joohyun. Hal yang dijanjikan Joohyun hampir berhasil membuatnya ingin menyetujui. Tapi apakah hal itu benar?

Sebelum Krystal pulang, Joohyun masih menatapnya sambil berharap. Joohyun juga berkata alasan ia memilih Krystal karena ia mempercayai Krystal sebagai sahabatnya. Sahabat yang selalu berada disampingnya. Hal itu bukan membuat Krystal tenang. Malah semakin membuat ia resah, bagaimana jika ia kelewat batas?   Bagaimana jika ia mengkhianati Joohyun pada akhirnya? Semuanya pasti dapat terjadi.

Lagipula, apakah Krystal semurah itu? Menggoda tunangan-lebih tepatnya calon tunangan- terdengar murahan bagi Krystal. Tentu Joohyun tidak bermaksud seperti itu. Gadis itu hanya terluka dan itu satu-satunya hal yang ia pikirkan. Krystal satu-satunya orang yang ia pikir cocok untuk melakukannya.

Helaan nafas terdengar dari bibir Krystal. Ia memijit pelipisnya yang sedari tadi pusing karena berbagai masalah. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Dia lelah tapi pikirannya tetap berkelana. Krystal berjalan menuju jendela kamarnya. Membukanya. Membiarkan bunyi mobil yang masih ramai dari kota New York masuk ke apartment-nya.

Banyak orang tidak ingin tinggal di apartment yang berada tepat di tengah kota New York. Selain karena macet, apartment disitu sangat bising. Kota yang tak pernah tidur ini terlihat dari jalananannya yang tidak pernah sepi. Tapi itulah yang membuat Krystal tinggal di apartment-nya. Ia menyukai suara bising dari mobil yang terkadang di warnai oleh suara klakson. Itu mengisi kekosongan di apartment-nya. Mengisi kekosongan dirinya juga.

Ia tidak pernah mempunyai teman. Krystal menghabiskan masa hidupnya di apartment orangtuanya. Ia tidak bersekolah seperti anak pada umumnya. Ia homeschooling. Dia hanya bersekolah tiga bulan lamanya. Sebelum teman-temannya membulli dirinya dan orangtuanya memutuskan untuk mensekolahkannya dirumah.

Sepupunya adalah temannya. Minho dan Junmyeon. Tapi sekarang mereka tidak dekat lagi. Setelah Junmyeon putus dari Joohyun dan ia lebih memihak Joohyun. Setelah Junmeyon menikah dengan Park Chorong, perempuan yang ia pilih melebihi Joohyun. Minho masih bersikap baik terhadapnya. Apalagi Choi Sulli, istrinya. Tapi entahlah… Krystal menjauhi Minho. Karena dimana ada Minho disitu juga ada Junmyeon. Jika Junmyeon ada, maka ia dan Krystal pasti akan bertengkar.

Krystal menatap jalanan yang tak pernah sepi itu. Di tengah hingar bingar ini ia masih merasakan sepi.

.

.

.

.

.

Tidak mempunyai teman bukan berarti Krystal tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak berbicara. Ibunya selalu berada disampingnya. Ibunya lebih dari sekedar ibu baginya. Ia adalah saudaar perempuan Krystal dan juga sahabatnya. Ibunya menjadi tempat Krystal ketika ia bingung.

Kebetulan yang menakjubkan adalah hari ini, sehari setelah Joohyun dan Krystal berbicara, Krystal dari minggu lalu sudah mempunyai janji dengan ibunya. Ibunya baru saja pulang dari dinas kerjanya dan baru hari ini, setelah dua minggu, ia dapat bertemu dengan ibunya.

Krystal asyik menunggu di restaurant italia dekat kantor ibunya. Ketika hampir 15 menit menunggu, ibunya datang. Dengan pakaian formal kantor dan rambut yang digulung ke atas. Wanita yang menginjak akhir 40 ini terlihat tersenyum ke Krystal. “Apakah sudah menunggu lama?” Tanya ibunya dan mulai melihat menu.

Krystal juga ikut melihat menu, “Tidak juga. Aku pikir Oemma akan lebih lama lagi.”

“Rapatnya selesai lebih cepat.” Ujar Jessica pendek. “Ah… Oemma melihat macaroni disini jadi teringat Mac and Cheese di Chichago. Itu sangat lezat.”

Oemma tidak membawakannya untuk ku.” Kata Krystal dengan nada yang pura-pura kesal.

Jessica tertawa, “Oemma pernah membawakan mu makanan tapi kau dan Appa tidak pernah memakannya. Lagipula Oemma dibayarin makan disana.”

Krystal kemudian berdehem, “Kita pesan Lasagna saja bagaimana? Aku bosan dengan spaghetti.”

“Oemma ikut saja dengan mu.”

Krystal dan Jessica memesan Lasagna dengan minuman mereka. Krystal terdiam sejenak. Haruskah ia mengatakannya? Meminta saran Oemma-nya?

“Bagaimana kuliah mu? Apakah rancanganmu diterima oleh Professor Clark?”

Krystal menatap Oemma-nya sejenak, “Tidak. Dia menolaknya. Tapi aku sudah mendapatkan inspirasi baru.”

Jessica menganggukan kepalanya, “Dan bagaimana rencana mu ketika selesai kuliah? Kau sudah mempertimbangkan saran Appa dan Oemma kan?”

Saran Appa dan Oemma membuat Krystal tambah frustasi. Kedua orangtuanya sudah mengetahui jika Krystal langsung ingin membuat brand pakaian. Tapi mereka khawatir. Mereka khawatir karena Krystal harus meminjam uang dari bank. Menurut mereka itu terlalu beresiko. Mereka juga tidak dapat membantu Krystal. Hidup di New York hampir 20 tahun, gaji mereka masih dikatakan terlalu pas-pasan. Mereka ingin Krystal bekerja dulu di boutique seseorang baru membuat brand sendiri.

“Krystal!” Jessica memanggil Krystal yang terdiam. Ia tersenyum sedih, “Kau tidak setuju bukan?”

Krystal berdehem, “Aku mendapat kesempatan lain. Bukan meminjam uang dari bank. Joohyun menawariku bekerja sama untuk pakaian musim panasnya. Itu dapat membuat namaku terkenal dikalangan investor.”

“Itu hal yang bagus sayang!” Jessica bersorak senang. Ia mengenggam kedua tangan Krystal, “Apa kau menerimanya?”

“Belum. Aku masih memikirkan syaratnya.”

Jessica menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, “Syarat…. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi katakan kepada Oemma. Apa syaratnya? Apa syaratnya kau harus membagi pendapatan mu atau kau membangun brand dibawah perusahaan miliknya atau apa?”

Krystal menggelengkan kepalanya, “Bukan syarat seperti itu.”

“Bagus! Apa lagi yang kau tunggu Krystal Jung? Atau ia memberikan syarat yang melanggar hukum?”

“Astaga Oemma tentu tidak! Oemma berkata seakan Joohyun orang jahat.”

Jessica kembali mengenggam tangan Krystal, “Kalau begitu apalagi yang harus kau tunggu? Dengar, Oemma tidak tahu persis apa syaratnya tapi menurut Oemma kalau syaratnya tidak merugikan mu, tidak membuat mu melanggar hukum, Joohyun juga mempercayaimu, dan satu lagi Joohyun senang jika kau melakukannya kenapa tidak? Oemma tidak akan bohong kepada mu Krystal, ini adalah kesempatan terbaik mu.”

“Permisi!” Suara dari pelayan wanita mengejutkan mereka berdua. “Pesanan kalian…”

Hmm.. Lasagna datang pada waktu yang tepat.” Ujar Jessica dan mulai memotong Lasagna-nya.

.

.

.

.

.

Berbicara dengan ibunya tidak membuat Krystal sedikitpun tenang. Akhirnya, ketika jam menunjukan pukul 12 malam, ia memutuskan keluar dari apartment-nya menuju bar di sekitar apartment-nya. Dengan pakian tidur tipisnya dilapisi oleh jaket tebal dan panjang. Yang Krystal inginkan saat ini adalah minum-minum.

“Lady… Aku sudah lama tidak melihatmu datang disini.” Seru bartender bar ke Krystal.

Krystal tersenyum kecil, “Hai Micheal! Aku tidak melihat Nick!”

“Oh Nick keluar dari 2 minggu yang lalu. Kekasihnya tidak setuju dia bekerja disini.”

“Sayang sekali… Aku pesan seperti biasa.” Krystal duduk dan melihat layar tv menampilkan tv series berjudul entah apa. Dia sudah lama tidak melihat tv. “Bar sangat sepi malam ini.”

“Ini jam 12 malam Lady… Tentu sudah sepi. Aku mau tutup jika saja kau tidak datang.” Michael kemudian memberikan minumannya. Krystal tersenyum dan meneguk dengan sekali.

“Hai Micheal!” Seseorang datang dan terlihat menjabat tangannya dengan Micheal. “Ku kira bar mu sudah tutup.”

“Hai Kai! Sebenarnya aku sudah ingin tutup jika saja Krystal tidak datang.”

Krystal yang mendengar namanya disebut menoleh ke arah teman Micheal.

“Ini teman ku Kai, Krystal. Dia juga berasal dari Asia seperti mu. Tepatnya dari Korea Selatan.”

Krystal terpaksa mengeluarkan senyumannya. Kalau ingin berdebat, dia akan berkata jika dia benar-benar orang Amerika asli karena lahir dan dibesarkan disini. Keluarganya sudah tiga generasi berada di Amerika. “Aku pesan lagi.”

“Aku seperti biasa.” Ujar Kai dan duduk disamping Krystal.

Mereka terdiam. Krystal benar-benar ingin sendiri kali ini. Ketika minuman datang, ia kembali meneguknya dengan sekali teguk.

“Hari yang buruk?” Tanya Kai menatap Krystal. “Atau masalah yang berat?”

“Masalah yang berat.” Sahut Krystal enteng. Ia mengangkat tangannya untuk memesan lagi.

Kai meneguk minumannya.

“Hari yang buruk atau masalah yang berat?” Tanya Krystal melihat Kai yang juga meminum alkoholnya dengan cepat.

Kai tersenyum, “Dua-duanya.”

“Ku kira aku saja yang menderita.” Kata Krystal kemudian menyesap minumannya.

Kai tertawa, “Tidak bisakah kau memberi simpati kepadaku?”
Krystal menatap Kai. Menyadari jika laki-laki itu memiliki wajah rupawan dengan mata bulat sempurna, hidung yang mancung, dan bibir yang tebal. Ia berdehem, “Aku tidak dapat memberikan simpati karena aku sendiri kekurangan akan hal itu. Mungkin kau bisa memberikan simpati kepadaku?”

Kai menyesap minumannya, “Apakah kau pernah berpikir jika semua hal tidak ada yang sesuai dengan ekspektasi mu? Hari ini aku menyadarinya. Kau mengenalku?”

“Apa kau model yang tidak terlalu terkenal?”

Kai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban lugas Krystal, “Kau bukan yang pertama yang mengatakan pekerjaan ku model. Tapi kau yang pertama yang mengatakan jika aku model yang tidak terlalu terkenal.” Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Aku penari terkenal.”

“Itu bukan duniaku.” Seru Krystal dan lagi-lagi meneguk alkoholnya. Satu-satunya penari yang ia kenal Oh Sehun. Oh, Krystal jadi bertambah muram mengingat hal tersebut.

“Intinya, aku membuat koreagrafer dan berharap koreagrafer ku di pilih untuk acara pembukaan. Tapi tidak malah koreagrafer teman ku. Kemudian teman ku dipilih sebagai center, itu biasanya posisi ku. Dan teman ku, orang yang sama dengan koreagrafernya dipilih dan sebagai center, diberikan durasi solo performance terlama. Kau tahu kenapa begitu? Itu karena dia mempunyai wajah yang tampan.”

“Kau tampan.”

Kai tersenyum mendengar perkataan Krystal, “Dia lebih tampan. Kata murid-murid perempuan yang lain wajahnya membuat mu tidak bisa bernafas.” Ia kembali berkata, “Jadi bagaimana dengan mu?”

Krystal akhirnya bercerita, “Aku mempunyai masalah besar. Teman ku, tiba-tiba berkata kepadaku jika ia akan membantuku. Tapi dengan sebuah syarat. Dan aku pusing dengan syarat itu. Sebelum kau berkata jika syaratnya merugikan diriku atau melanggar hukum maka aku akan menjawab tidak. Syaratnya sedikit gila tapi tidak melanggar hukum.”

“Apa syaratnya?”

Krystal menyesap minumannya dengan muram, “Dia ingin aku menggoda calon tunagannya. Bisakah kau pikirkan itu?! Hidupku memang susah tapi aku tidak semurahan itu!”

“Jauhi saja teman mu. Ku rasa dia meremehkan mu.”

“Aku tidak bisa. Dia mempunyai masa lalu yang buruk tentang tunangan dan pernikahan. Itu yang bisa ia pikirkan dan hanya aku yang ia percaya. Masalah utamanya adalah aku butuh hal yang ia janjikan.”

“Hey, kau ma dengar saran ku?”

Krystal kembali menatap Kai, “Saran dari seseorang yang mabuk?”

Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Jika kau menerima saran dari seseorang yang tidak mabuk kau pasti tidak akan mabuk-mabukan.”

Krystal menghela nafas mendegar kalimat Kai yang mengindikasi dia sudah mabuk. Tapi ia tetap diam mendengarkannya.

“Menurutku, kau setuju saja dengan syaratnya. Tapi kau tidak menggoda calon tunangannya. Kau mungkin dekat dengan calon tunagannya tapi tidak sampai menggodanya. Ketika ia bertanya apakah calon tunagannya tergoda olehmu kau tinggal menjawab tidak. Dia pasti percaya padamu. Dan dia pasti tidak akan bertanya kepada calon tunagannya.”

Krystal melihat alkoholnya sejenak sebelum kembali meminumnya. “Kau tahu, kurasa kau teman yang enak diajak ngobrol.” Krystal mengeluarkan uangnya dan memanggil Micheal, “Ambil saja kembaliannya.”

Kai yang melihat Krystal akan pergi juga ikut membayar. “Kenapa kau berhenti minum? Kita bisa mengobrol lagi.”

“Aku ingin tidur.” Jawab Krystal pendek.

“Biar ku antar. Kau mabuk.”

Krystal tertawa dan ia mengibaskan tangannya, “Kau juga mabuk. Lagipula tempat tinggal ku dekat.” Ia berbalik keluar dari bar.

Kai mengikuti Krystal. “Hey, aku rasa aku bisa menemanimu berjalan.” Krystal masih berjalan tanpa menoleh dan Kai mengikuti Krystal. Ia dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Krystal, kemudian mencekal tangan Krystal, “Atau kita bisa bersenang-senang sedikit? Kau tahu… Aku sedang kesepian. Kau juga.”

Krystal mendekat ke arah Kai dan berbisik, “You’re not lonely. You can ask your fiancée or your wife to company you.” Ia kemudian menatap Kai dengan tatapan tajam, “Lain kali simpan terlebih dahulu cincin mu sebelum menggoda seseorang. Looser!” Ia segera berjalan menjauhi Kai.

Kai menatap punggung Krystal yang semakin menjauh kemudian tersenyum. Dia menyukai gadis itu.

.TBC.

Haiiii… Aku updated agak cepat kali ini. Tapi gak tahu kedepannya soalnya aku udah masuk sekolah lagi. Agak liar bukan? Ya, soalnya mereka hidup di Amerika alias New York jadi aku buat latar kehidupan Krystal agak liar.

Well, Kim Jongin atau Kai sudah muncul menjadi playboy kelas kakap. Sedangkan Oh Sehun belum. Kayaknya sih Sehun muncul di chapter depan.

Okay, See you soon~

Advertisements

Unwanted Reverie (Chapter 1)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #1 : Making A Brand

Kertas-ketas sudah bertebaran dimana-mana. Banyak dari kertas sudah tak berbentuk lagi akibat dari emosi sang gadis yang asyik mencoret-coret sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali meremas kertas, lagi, dan melemparnya sembarangan. Krystal merengut. Ini benar-benar sial! Ide-idenya yang tadi pagi sudah keluar hilang entah kemana. Belum lagi mood nya yang benar-benar buruk.

Sudah dua jam ini gadis yang berambut blonde ini berkutat menyelasaikan satu model pakaian. Satu model saja. Tadinya Krystal sudah memiliki banyak ide bahkan sudah menghubungi pembimbingnya. Mahasiswi semester terakhir yang sedang membuat karya sebagai pembuktian dia siap bekerja merasa yakin dengan karyanya. Yah gitu deh akhirnya… Pembimbing Krystal benar-benar marah dan menolak ide Krystal. Mengatakan jika diri Krystal tidak pernah berkembang. Hanya gambar gadis ini saja yang bagus.

Pembimbingnya mengancam jika dalam tiga minggu Krystal tidak menyelesaikan model pakaiannya ia harus menunggu tahun depan. Belum lagi ia bertemu dengan teman kampusnya yang mengejek dirinya. Mengatakan jika sedari awal Krystal keluar saja dari jurusan mode dan banting setir menjadi seorang pelukis. Jika ia tahu waktunya banyak, Krystal pasti akan membalas omongan gadis sialan itu.

Krystal memijit pelipisnya. Ia meletakan buku sketsanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Keluar dari kamarnya untuk memasak makan siangnya sendiri. Krystal mengeluarkan dua bungkus ramyun instan dan mulai memasaknya.

Ting!

Krystal yang sedang asyik melamun tersentak hebat mendengar bunyi yang tak lain dari handphone-nya. Gadis itu menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengingat dimana handphone-nya.

Ting!

Bunyi pesan masuk terdengar lagi. Krystal mengecilkan kompornya dan mulai mencari handphone-nya. Pasti ada yang penting. Kalau bukan pekerjaannya sebagai seorang kolomnis disebuah majalah fashion pasti mengenai kedua orangtuanya. Atau dari seseoarang yang dari tadi memang ia tunggu kabarnya.

Gadis itu tersenyum senang ketika menemukan handphone-nya yang tergeletak di ruang tv yang kadang merangkap menjadi ruang tamu. Krystal melihat isi pesan. Beberapa detik kemudian senyuman Krystal langsung merekah. Ia bahkan tersenyum lebar sampai matanya terlihat mengecil. Mood-nya mulai kembali. Dia yakin dia akan menemukan inspirasinya sebentar lagi.

.

.

.

.

.

Jalanan Manhattan yang benar-benar ramai kali ini benar-benar menguji kesabaran Krystal. Setelah terjebak macet hampir sepanjang jalan ia akhirnya memarkirkan mobilnya di depan butik terkenal dengan susah payah. Itupun seetelah berkeliling-keliling tiga kali. Ia keluar dari mobilnya dengan merapikan rambutnya yang sedari tadi ia acak-acak karena kesal. Memasuki butik bernama Red Velvet by Bae Joohyun dan sedikit menyeringit melihat banyaknya pengunjung. Itu pasti karena butik ini sedang memberikan diskon besar-besaran.

“Krystal!”

Krystal menoleh dan melambaikan tangannya kepada Suzy, sekertaris dari Joohyun. Suzy menghampiri Krystal dengan senyuman manisnya.

“Ini gila!” Seru Krystal melihat keadaan sekitar.

Suzy tertawa, “Kau tahu… Kami mengadakan diskon besar-besaran hingga 85%. Ayo kita ke lantai tiga. Disana lebih nyaman.”

Krystal mengikuti Suzy yang membawa dirinya memasuki sebuah lift yang dilapisi kaca, sehingga Krystal masih melihat banyaknya orang ketika ia naik.

“Joohyun Oennie masih ada rapat dengan klien. Ia menyuruh mu bersantai di lantai tiga terlebih dahulu.”

Lift pun mulai naik, Butik ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua adalah butiknya. Sedangkan lantai tiga adalah ruang kerja para designer. Lantai pertama bisa dijangkau oleh semua orang. Rata-rata orang yang menggesekan kartu kreditnya tanpa berpikir panjang berbelanja dilantai dua, lantai yang diperuntukan untuk pengunjung VIP. Dengan memasuki lift sudah benar-benar berkah bagi Krystal. Dari lift-nya Krystal dapat melihat jika lantai keduanya juga penuh.

Krystal mengeluarkan komentarnya, “Aku tidak tahu orang kaya butuh diskon untuk berbelanja.”

Suzy tersenyum kecil, “Bagi anak kaya yang uangnya masih terbatas mereka membutuhkan diskon. Kau lihat muka mereka semua? Aku lebih memilih melayani orang-orang di lantai bawah daripada melayani mereka. Sombong sekali!”

Bunyi Ting! terdengar dan mereka akhirnya keluar dari lift. Di lantai tiga ini juga sangat ramai.

“Wow! Sepertinya butik ini sangat sibuk sekali!”

“Ini sudah memasuki musim dingin. Kami mengadakan diskon besar-besaran agar baju musim gugur dan panas kami habis. Belum lagi minggu depan kami akan mengeluarkan line musim dingin.” Jelas Suzy. “Joohyun Oennie menyuruhku untuk mengajakmu melihat-lihat line musim dingin. Dia mengatakan kau membutuhkan inspirasi untuk tugas akhir.”

“Dia mengizinkannya?” Tanya Krystal tidak percaya. Melihat line musim dingin pertama kali? Apa?

Suzy tertawa melihat ekspresi terkejut Krystal. “Hei… Kau sangat jelek dengan ekspresi terkejutmu itu.”

Krystal menutup mulutnya yang tadi sempat terbuka. Ia berdehem tapi matanya tetap sangat berbinar.

“Kurasa kau sudah tidak sabar bukan? Ayo ikuti aku….” Suzy membawanya ke tempat yang belum pernah Krystal masuki ketika ia mengunjungi Joohyun. Ia sudah beberapa kali ini mengunjungi Joohyun. Kebanyakan berhubungan dengan tugas kuliahnya. Tapi ia tidak pernah berpikiran ia akan masuk ke ruangan dimana baju-baju indah belum pernah dilihat banyak orang akan ia lihat.

Ketika Suzy ingin membuka ruangan itu dengan kartu ID nya ia bertanya, “Kau baik-baik saja?” Suzy melihat Krystal dengan sorot mata geli. Krysal sangt gugup hingga terdapat bulir-bulir keringat di dahinya. “Yang akan kita temui baju Krystal Jung bukan bos baru mu.”
“Aku hanya terlalu excited Suzy…”

Suzy tersenyum dan menempekan kartu ID. Pintu terbuka. Ruangan itu penuh dengan baju baru yang membuat mata Krystal membesar. Ia mendekat ke salah satu rak baju dan mengambil sebuah gaun bewarna pelangi.

“Sehabis Red Summer dan Autum in Red, kami berpikir jika musim dingin harus memberikan kesan lembut. Nama katalog musim dingin kami adalah Perfect Velvet.   Gaun yang dirimu pegang saat ini adalah gaun untuk makan malam bersama keluarga. Bagaimana menurutmu Krystal?”

“Genius! Merah terlalu membosankan untuk pakaian natal! Begitu juga putih! Atau hitam! Pelangi?!” Krystal terkekeh. “Bae Joohyun memang yang terbaik. Tidak heran baru-baru ini dia berhasil membuka tokonya di Paris.”

Suzy menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang masih kagum. “Seperti yang kau lihat sekarang ini. Pakaian kami terdiri dari banyak gliter. Ini karena kami ingin pemakainya bersinar dengan memakainya. Desember merupakan musim libur yang sangat penting. Baju-baju terdiri dari warna lembut tapi juga ada warna yang mencerminkan Desember seperti hijau, gold dan silver. Pakaian bewarna merah tetap ada, tetapi tidak sebanyak pakaian bewarna lembut.

Krystal tidak menjawab karena matanya masih sibuk melihat pakaian-pakaian indah yang ada di ruangan ini. “Menakjubkan bukan?”

Suzy kembali menggelengkan kepalanya..

.

.

.

.

.

Krystal menghabiskan waktu satu setengah jam di ruangan itu dan sekarang inspirasi benar-benar memenuhi kepalanya. Mood-nya juga jauh lebih baik. Melihat rancangan Joohyun membuat ia juga sadar akan satu hal. Pembimbingnya benar., design-nya tadi sangat payah. Suzy sedari tadi terus menemaninya dan memberikan semua jawaban dari pertanyaan Krystal. Seperti untuk apa pakaian tersebut, apa bahannya, bagaimana cara menjahitnya.

Sekarang Krystal masih menunggu Joohyun yang rapatnya belum selesai juga. Suzy berkata jika rapat ini adalah penentuan kontrak dengan para investor. Para investor berdebat mengenai catatan penjualan Joohyun tahun lalu yang memang buruk dibandingkan tahun ini.

Sekarang, Krystal sedang di ruangan kerja Joohyun menikmati jus nanas yang dibawakan oleh pegawai, masih ditemani Suzy. Sejujurnya Krystal akan memilih wine jika ia punya supir yang akan mengantar ia pulang.

“Joohyun Oennie baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Ia sudah selesai rapat dan ia akan segera ke sini.”

“Suruh dia untuk tenang saja. Aku yakin otaknya masih panas sehabis berdebat denga para investor.” Krystal kembali meminum jusnya. “Tapi itu artinya kau akan semakin lama dengan ku. Kau sangat bersabar tadi di ruangan itu bersama dengan ku. Jadi terimakasih.”

Suzy mengeluarkan senyumannya, “Tidak usah berterimakasih. Sejujurnya akulah yang harus berterima kasih. Aku tidak tahan harus mendengar perdebatan para investor.”

Krystal dan Suzy sama-sama tertawa.

Brak!
Suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua. Tapi Krystal semakin terkejut menemukan siapa yang datang.

“Joohyun Oennie!” Serunya masih terkaget dengan penampilan Joohyun. “Aku tidak melihat mu selama sebulan dan sekarang rambutnya bewarna pirang?”

Joohyun berlari kecil dan memeluk Krystal. Sedikit susah karena barang yang ia bawa. “Dan kau juga berubah. Rambut mu juga pirang dengan sama dengan ku. Terakhir kali kita betemu rambut mu bewarna merah Jung Soojung.”

Krystal menggaruk kepalanya, “Aku selalu mengganti warna rambut ku jika butuh inspirasi.”

“Jadi apakah kau mendapatkan inspirasi?” Krystal baru saja ingin menjawab tetapi Joohyun kembali berbicara, “Oh, tunggu! Cerita ini pasti sangat panjang dan aku sangat kelaparan dari tadi. Sebaiknya kita mengobrol sambil makan. Aku sempat membelikan makanan untuk dirimu dan Suzy. Kita bisa makan sambil mengobrol.”

“Aku akan sangat senang mendapatkan makanannya. Tapi aku harus menyusun jadwal mu untuk lusa. Jika boleh aku akan memakan sendiri nanti.”

Joohyun menepuk jidadnya pelan, pertanda ia lupa. “Jadwal ku lusa ya… Baiklah ini makanan mu. Terimakasih sudah bersama Soojung sejak tadi.”

Suzy menerima makanan dari Joohyun dengan senang hati. Setelah berpamitan dengan Krystal ia keluar dari ruangan Joohyun.

Joohyun membuka makanannya dan Krystal kemudian kembali bertanya, “Sudah dapat inspirasi?”

“Tentu. Aku mendapat ide gila jika aku akan membuat gaun saja.” Krystal mulai memasukan potongan daging ke mulutnya. “Guru Clark tadi memarahi ku dan mengatakan jika aku tidak berkembang. Membandingkan dengan rancangan Oennie kurasa ia benar.”

“Jangan bersedih… Guru Clark adalah orang yang keras. Ketika aku di semester akhir juga ia mengatan jika rancanganku cocok dipakai di film alien.”

Krystal tersedak mendengar perkataan Joohyun. Ia berusaha untuk tidak tertawa.

Joohyun tertawa geli, “Tertawalah. Jika mengingat perkataannya aku juga menganggap itu lucu. Awalnya memang menjengkelkan. Aku membuat rancangan ku dengan tidak tidur dengan benar selama tiga hari. Ia menolak rancangan ku tak sampai sepuluh menit. Tapi sekarang aku menganggap ia ada benarnya.”
“Oh astaga… Dia jenius tapi entah mengapa lebih memilih jadi guru.”

“Itu adalah passion ia sebenarnya. Nah, sekarang apa yang rencana mu setelah kau lulus?”

“Aku belum tahu hal yang pasti, Oennie. Entahlah… Aku berharap rancangan ku dapat menarik beberapa perusahaan besar sehingga mereka akan memperkejakan ku diperusahaan mereka. Setelah bekerja bertahun-tahun bekerja mungkin aku akan membuat brand ku sendiri. Seperti impian ku. Atau aku akan mendaftar di majalah yang bergerak di bidang fashion dan bekerja disana bertahun-tahun untuk dekat dengan orang-orang penting di bidang fashion sebelum membuat brand ku sendiri.”

Krystal menghela nafas panjang. Rencana yang sebenarnya adalah membuat brand-nya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Joohyun ketika ia lulus. Tapi itu rencana yang paling tidak mungkin. Ia menatap makanannya dengan tidak berselera, “Atau langsung saja membuat brand ku sendiri seperti yang Oennie lakukan. Dengan kerja keras aku yakin suatu hari brand ku akan terkenal.”

Ya, Krystal harus bekerja sangat keras. Mungkin dengan meminjam uang dari bank? Dan percayalah, ia rasa ia butuh waktu lebih dari lima tahun untuk membuktikan apakah ia sukses atau tidak. Tidak seperti Joohyun dimana brand-nya langsung terkenal dan ia punya toko di pusat Manhattan yang harganya sangat mahal. Krystal perlu latar keluarga chaebol seperti Joohyun agar para investor tidak ragu memberi uang mereka. Sayangnya, satu-satunya yang dapat ia banggakan adalah ia mengenal Joohyun.

“Oennie…” Krystal memanggil Joohyun ketika menyadari Joohyun sedari tadi termenung.

“Oh, maaf.” Joohyun tersenyum malu kepada Krystal. “Ada yang suatu hal yang terus kupikirkan akhir-akhir ini.”

“Ku rasa aku menganggu mu bukan? Kau pasti lelah habis bertemu dengan para investor mu.”

Joohyun semakin tidak enak hati, “Bukan seperti itu Krystal. Kau tidak mungkin menganggu mu. Malah aku sengaja memanggilmu untuk meminta bantuan mu.”

Bantuan?

“Bantuan apa Oennie?

Joohyun meletakan makan siangnya. Ia menautkan kedua jarinya. “Aku ragu mengatakannya. Aku sangat gugup.”

“Oennie kau membuat ku takut…”

Joohyun menarik nafasnya. “Baiklah…” Ia menghembuskan nafasnya perlahan, “Sehun melamar ku….”

“Sehun?” Krystal sangat terkejut hingga ia meletakan makanannya dan bangkit dari kursinya, “Oh Sehun pacar mu selama satu setengah tahun itu? Dia melamar mu?”

“Dia melamar ku ketika anniversary kedua kami Krystal, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi aku belum menerimanya.” Joohyun menginggit bibirnya, “Aku takut…”

“Oh, Oennie…” Krystal mendekat ke Joohyun, “Aku tahu kau pernah gagal menikah dengan sepupu ku Kim Junmyeon. Tapi kau sendiri yang bilang jika Sehun berbeda dari Junmyeon. Dan juga, kau terlihat bahagia dengannya.”

“Krystal…. Aku tetap takut.” Joohyun terlihat seperti akan menangis. Krystal segara memeluknya. “Tapi yang paling membuatku takut adalah meminta bantuan kepada ku…”

“Oennie ingin meminta bantuan apa kepadaku? Oennie ingin aku datang kepadanya dan mengatakan Oennie belum siap?” Krystal melepas pelukannya dan memegang tangan Joohyun. “Katakan saja Oennie…”

“Aku… Aku ingin kau menguji kesetiaannya…”

“Kesetiaan?” Alis Krystal berkerut. Menguji kesetiaan? Bagaimana caranya? Oh, jangan-jangan, “Oennie ingin aku menggodanya agar tahu ia setia atau tidak?”

Joohyun menatap Krystal ragu tetapi ia menganggukan kepalanya, “Aku tahu ide ini terdengar sangat gila. Tapi aku hanya mempercayai mu.” Joohyun melanjutkan, “Aku akan pergi ke Eropa selama satu bulan ini untuk mengunjungi beberapa investor. Ketika aku pergi kau bisa tinggal di apartment ku dan Sehun. Kau juga dapat mengakses lemari ku.”

Mengakses lemari Joohyun? Itu hal yang bagus. Lemari Joohyun yang berisi brand-brand bermerek pasti akan membuat otaknya penuh akan ide.

“Dan juga aku akan membantu mewujudkan impian mu. Kau berkata kau ingin membuat sebuah brand bukan? Percayakan kepada ku. Aku akan mewujudkannya.”

Jadi Jooohyun tadi mendegar perkataannya? Kemudian ia akan membantu Krystal mewujudkan impiannya? Tunggu…

“Oennie…”

“Terakhir dan ini yang terpenting. Aku mempercayai mu karena kau tidak akan mengkhianati mu. Bagaimana?”

Mewujudkan impiannya. Kata-kata itu berhasil berputar di otak Krystal.

.TBC.

 

 

 

Unwanted Reverie (Prologue)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

 

 

6a010f023c45bf4fe77409aa89be7311

 

“Selama hal itu tidak menyakiti seseorang aku akan melakukannya. Joohyun tidak akan tersakiti. Dia lebih tersakiti jika ia tidak mengetahui yang sebenarnya. Sehun, laki-laki itu akhirnya akan sadar kesalahannya dan berusaha memperbaiki nya. Dia tidak akan tersakiti olehku. Diriku? Seharusnya aku menghitung kemungkinan ini. Kenyataannya, akulah yang paling tersakiti dari hal ini. Janji, kebohongan, dan cinta yang seharusnya tidak tumbuh.”

––Krystsal Jung––

da1d92323ef979db8d43fc006f744d67--red-velvet-irene-irene-red-velvet-airport

“Perasaan ragu itu terus menghantui ku. Aku membutuhkan pembuktian, bukan didasari oleh perkataan tapi didasari oleh aksi. Hal ini memang gila, tapi walaupun pada akhirnya buruk sangka ku terbukti, aku yang akan meninggalkannya. Bukan ia yang akan meninggalkan ku, seperti dulu.”

––Bae Joohyun­­––

600247-monsieur-oh-sehun

“Aku tidak pernah merasa salah di hidupku. Pertemuan dengan mu merupakan kesalahan bagiku. Tapi, setelah kupikir-pikir, pertemuan dengan mu merupakan suatu yang benar Kau menyadarkanku bahwa yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.”

––Oh Sehun––

.

 .

.

Di hidup Krystal, ia selalu mengimpikan banyak hal. Dia ingin menjadi designer terkenal. Mempunyai brand pakaian terkenal. Namanya menjadi sejarah di dunia fashion. Terdengar sangat mudah di ucapkan ketika ia menuliskan mimpi itu. Umurnya sepuluh tahun waktu itu. Sekarang, diumurnya yang menginjak 24 tahun, Krystal baru mengetahui betapa susah mimpinya tercapai.

Mimpi pertamanya, dia ingin menjadi designer. Itu sudah hampir tercapai. Mengingat dirinya sebentar lagi akan tamat kuliah dan mendapat gelar tersebut. Tapi dua mimpi lainnya seakan susah untuk di raih. Ada dua kemungkinan yang sudah ia susun jauh-jauh agar impian keduanya tercapai. Pertama, dia akan terus bekerja di majalah fashion agar dapat mengenal orang-orang penting di bidang fashion baru membuat brand-nya. Jika sudah membuat brand tinggal menunggu waktu hingga namanya tercatat di sejarah dunia fashion. Yang kedua dia akan meminjam uang dari bank untuk membuat brand-nya sendiri. Cara ini lebih cepat daripada harus bekerja di majalah fashion. Tapi cara dengan cara ini, Krystal harus bersusah payah terlebih dahulu sebelum brand-nya benar-benar dikenal.

Itu adalah dua kemungkinan mengingat ia hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Bukan anak seorang kaya tujuh turunan. Bahkan, selama tigapuluh tahun pernikahan orangtuanya, orangtuanya tetap tinggal di apartment.

Sebenarnya, ada satu kemungkinan yang tidak pernah Krystal pikirkan sebelumnya. Kemungkinan itu datang dari Bae Joohyun, teman dekatnya yang umurnya 3 tahun lebih tua daripada Krystal dan bekerja sebagai designer terkenal.

Line

Bae Joohyun adalah seorang designer terkenal yang berhasil mencapai semua impian pada umurnya 25 tahun. Sekarang di umurnya 27 tahun, Bae Joohyun menghadapi masalah yang pelik, baginya. Ia dilamar oleh kekasihnya Oh Sehun. Lamaran itu membuat ia ketakutan dan masa lalu berhasil menghatuinya. Untungnya, selama tiga bulan dia berhasil menghindari Sehun karena sibuk dengan pekerjaannya.

Pada akhirnya, ia mengambil keputusan yang diluar akal. Dengan mempercayai Krystal, teman dekatnya. Joohyun dan Krystal bertemu ketika Joohyun berpacaran dengan Junmyeon, yang tak lain adalah sepupu Krystal. Junmyeon pada akhirnya meninggalkan Joohyun ketika ia lebih memilih berpacaran dengan salah satu rekan kerjanya. Berkata ia tidak bisa menyayangi Joohyun yang saat itu sedang di puncak karirnya. Hubungan dia dan Junmyeon hancur tak berbekas. Hanya saja menghantui Joohyun tentang pengkhianatan Junmyeon.

Lain halnya dengan hubungannya dan Krystal yang semakin kuat. Krystal gadis yang menyenangkan. Krystal gadis yang perduli. Walaupun tampang gadis itu sedingin es, ia sangat peka terhadap lingkungannya sekitar. Krystal adalah gadis yang selalu menepati janjinya dan jarang berbohong. Ia juga membantu Joohyun melewati masa terpuruknya dicampakan Junmyeon. Joohyun masih mengingat dengan jelas, Krystal marah-marah ke Junmyeon setelah ia mencampakan Joohyun.

Joohyun membalas kebaikan Krystal dengan memberikan gadis itu akses ketika gadis itu membutuhkan inspirasi. Ketika Krystal bingung tentang apa yang harus ia lakukan ketika ia lulus kuliah, Joohyun memberikan solusi dengan sebuah syarat yang tentunya didasari karena ia mempercayai Krystal.

Dia akan menggaet Krystal untuk rancangannya pada musim panas. Dengan itu, Krystal akan dapat dikenal oleh orang-orang fashion dengan cepat. Para investor juga mengenalnya dan kemudian tidak ragu berinvestasi untuk membuka brand pakaian Krystal. Syaratnya adalah Krystal menggoda kekasihnya, Oh Sehun.

Line

Oh Sehun. Kekasih Joohyun yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia mencintai Joohyun, sangat. Dia adalah seorang dancer dan telah menari sejak kecil. Hidup untuk menari adalah motonya. Dulu dia adalah dancer yang berkeliling dunia menunjukan kebolehannya. Tapi setelah ia bertemu dengan Joohyun, disebuah pesta sponsornya, setelah ia jatuh cinta dengan Joohyun, Sehun memutuskan untuk menetap di New York agar lebih dekat dengan Joohyun. Memutuskan sebagai guru menari, tentunya di sekolah menari terkenal. Beberapa kali juga mencoba menjadi koreografer.

Bukan hanya kemampuan menarinya yang membuat orang tercengang. Atau wajah rupawannya yang membuat orang sulit bernafas. Sikap Sehun berhasil membuat Krystal ketar-ketir sedari awal. Sehun sendiri menganggap Krystal aneh dan tidak habis pikir bagaimana bisa Joohyun mempunyai teman seperti Krystal.

Keanehan itu berubah menjadi kejengkelan luar biasa. Apalagi Krystal tinggal di apartment-nya dan Joohyun. Joohyun berkata kepada Sehun jika Krystal membutuhkan inspirasi untuk pakaiannya, yang itu sangat benar. Tapi Joohyun tidak bilang ke Sehun bahwa itu juga caranya agar Krystal dapat menggoda Oh Sehun. Apa Krystal menggodanya? Yang jelas, pada akhirnya Sehun tidak tergoda oleh Krystal Jung. Tetapi ia telah jatuh cinta kepada gadis itu.

Line 2.png

 Aku deg-degan sekaleeeh mau publish cerita ini. Terakhir aku buat cerita baru cast utama Sestal tahun 2015, yaitu Flipped. Lama banget sumpah… Tapi gak kerasa aja udah dua tahun yang lalu… Tahun ini aku buat dua cerita tentang Sestal, satu ff judulnya The Wind of Change tapi cerita ini aku canceled sangking buntunya ide aku. Ternyata membuat cerita cinta segi empat tidaklah mudah….

So, aku buat cerita ini… Bagaimana menurut kalian?

 

State of Grace (Chapter 29)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun dan Krystal sampai di tempat makan siang pukul satu siang. Sehun tidak dapat melupakan bagaimana senyuman hangat Seohyun-ibu Krystal- ketika menyapanya dan menerima dari hadiahnya. Begitupula dengan tingkah laku ayah Krystal –Kyuhyun- yang seakan ingin membunuh Sehun karena berani dekat-dekat dengan anaknya. Kyuhyun bahkan tidak mengeluarkan kalimat dengan SPOK yang lengkap sedari tadi. Kyuhyun hanya mengunggam tidak jelas yang membuat Seohyun mendelik tajam. Krystal tersenyum, tetapi matanya menunjukan kekhawatiran yang akhirnya membuat Sehun harus berakting santai. Kalau dia ketakutan, Krystal pasti juga bertambah khawatir.

Kyuhyun menatap Sehun tajam. Entah mengapa, posisi duduk mereka membuat Sehun bertambah kikuk. Seohyun dan Kyuhyun duduk berhadapan dengan Sehun dan Krystal. Dimana Seohyun dan Krystal saling menghadap. Sehun harus menghadap Kyuhyun.

“Ku harap kau tidak pernah mencampakan anak perempuan ku.”

Omongan Kyuhyun yang sangat tiba-tiba membuat semua orang yang berada di meja makan terbatuk dengan keras. Seohyun sudah menatap Kyuhyun dengan tatapan buas. Krystal menundukan pandangannya dan merutuk dalam hati. Sehun buru-buru minum.

Kyuhyun kembali berkata, “Aku hanya mengatakannya sekali jadi gunakan kesempatan itu baik-baik. Aku akan mendatangimu jika kau macam-macam.”

Sehun mengangguk kaku. Krystal disampingnya tiba-tiba tertawa geli begitupula dengan Seohyun.

“Itu artinya ia menyetujui mu dengan Krystal.” Seru Seohyun dengan nada geli di dalamnya. Kyuhyun menatapnya tajam tapi Seohyun hanya menatap Kyuhyun geli.

“Jadi, ceritakan tentang pertemuan pertama kalian. Dimana kalian bertemu?” Seohyun kembali berkata. Tapi kali ini suasana tiba-tiba terasa berbeda. Tidak sekaku tadi.

Krystal mulai menceritakan dan kali ini Sehun juga lebih leluasa berbicara. Mereka juga tertawa bersama-sama. Saat makanan sudah mulai habis, Kyuhyun kembali berbicara.

“Karena dirimu sudah memilih mug yang indah untuk istri ku, maukah kau menemaniku untuk memilih mug di restaurant ini? Mug ini untuk bos ku.”

Sehun tentu tidak dapat menolaknya. Ia akhirnya mengangguk dan pergi bersama Kyuhyun ke sudut lain restaurant. Restaurant tempat mereka makan siang ini juga menjual pernak-pernik khas Busan. Sepertinya Kyuhyun belum selesai mengetesnya.

“Jadi…” Mata Kyuhyun menyapu barisan mug, “Aku sebenarnya masih ragu. Mug apa yang cocok?”

Sehun mulai memandangi mug-mug, “Bagaimana kebiasaan bos Anda?” Sehun berhenti dan menggaruk tenguknya. Ini terlalu kaku. “Maksud say—“

“Panggil saja Kyuhyun-ssi. Kau seperti menjelaskan sesuatu kepada klien.” Potong Kyuhyun.

“Bagaiana kebiasaan bos Anda, Kyuhyun-ssi? Atau warna kesukaannya? Atau bisa juga dengan minuman kesukaannya seperti kopi dan teh.”

Kyuhyun tertawa mendengar penjalasan Sehun, “Kau terlalu logis dan Krystal terlalu imajinatif.” Ia menunjuk sebuah mug bermotif tomat. Cukup aneh menurut Sehun. “Ini mug yang cocok untuk bos ku.” Setelah itu Kyuhyun menghela nafasnya keras-keras, “Dengar… Aku adalah orang yang tidak pandai berbasa-basi. Aku dan isteriku bagaikan langit dan bumi sebenarnya. Isteriku sangat ramah sedangkan aku berbicara saat diperlukan saja. Krystal adalah orang yang imajinatif. Sangat imajinatif. Jika orang imajinatif akan menuangkan ke dalam tulisan atau lagu, Krystal menuangkannya kedalam lukisannya. Ia sangat imajinatif sampai terkadang hal-hal yang ia lakukan sangat tidak masuk akal. Ketika pacarnya mencampakannya, ketika itu juga ia memutuskan ke Seoul, itu adalah pertama kalinya ia melakukan hal-hal gila dihadapan ku. Aku tahu ia terluka. Tolong jaga dia. Dia memang terlihat tegar dari luar tapi ia gadis yang sangat rapuh. Aku harap kau bisa menjangkau bagian rapuhnya.”

Sehun terdiam mendengarkan perkataan Kyuhyun. “Aku…”

“Dia percaya padamu. Aku bisa melihatnya.”

Tepat setelah Kyuhyun berkata seperti itu, hp Sehun berbunyi. Sehun mengeluarkannya dan menahan nafasnya sebentar.

“Sepertinya kau harus menjawab teleponnya. Aku akan membayar mug ini.”  Kyuhyun mengambil mug yang tadi ia tunjuk dan pergi ke kasir. Sehun kembali melihat hp-nya yang belum berhenti bergetar. Dengan gusar, ia mengangkatnya.

“Jadi katakan kepada ayah mu Sehun. Kau menolak makan siang dengan ayah mu sedangkan dirimu menghabiskan waktu memilih mug dengan Cho Kyuhyun.”

Mendengar perkataan ayahnya, sontak saja Sehun memperhatikan sekitar. “Apa?”

Dad sedang di kamar mandi. Aku tidak sengaja berpapasan dengan mu. Bahkan kau tidak sadar ketika Dad melewati mu. Jangan bilang Cho Kyuhyun adalah klien-mu Oh Sehun.”

Sehun mendesis kesal, “Dari mana Dad tahu Cho Kyuhyun? Ngomong-ngomong dia bukan klien ku.”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Ya, aku tahu. Jadi Cho Kyuhyun benar-benar ayah angkat Krystal ya? Ini pasti menarik.”

“Jangan macam-macam kepada Krystal!”

“Ada yang harus kita bicarakan Oh Sehun! Sekarang juga ke kamar mandi! Atau aku akan muncul di depan Cho Kyuhyun langsung. Percayalah, hubungan mu dan Kyuhyun pasti akan menjadi sangat buruk!”

Sehun langsung memutuskan sambungan telepon. Sehun menghela nafasnya dan sedikit memijit pelipisnya. Akhirnya, Sehun permisi sebentar ke toilet kepada Cho Kyuhyun. Semoga saja Kyuhyun tidak mencium hal-hal aneh.

“Ada apa?” Tanya Sehun langsung kepada Siwon yang sedang asyik bercermin.

“Kau baru saja melewati kesempatan emas mu kau tahu? Makan siang ini dengan kolega ku. Jika kau ikut kupastikan kau akan langsung ditunjuk ke perusahaan besar. Bukan firma biasa tempat mu bekerja.”

Sehun menatap Siwon datar. Untuknya? Sehun tidak yakin akan hal itu. Ini pasti berkaitan juga dengan image Ayahnya yang terkenal dengan sayang keluarga. “Aku tidak membutuhkan namamu untuk bekerja. Aku akan berusaha sendiri.” Ujar Sehun datar.

Siwon menatap Sehun tajam, “Namaku terlalu terkenal Sehun. Itu bukan hanya bisa memberi mu akses pekerjaan tapi juga dipecat.” Siwon sekarang menghadap ke Sehun, “Klien ku mengundang keluarga kita untuk makan malam. Tentu aku tidak bisa menolaknya bukan? Jadi kosongkan waktu mu sabtu depan dan jangan coba-coba untuk kabur.”

“Atau?”

“Ibu mu pasti senang mengetahui kedua orantua Krystal bukan?”
Siwon kali ini tersenyum dan Sehun menahan amarahnya.

Siwon menepuk pundak anaknya, “Kau tahu, aku sangat membenci Kyuhyun karena ia berhasil membuat kepalaku pusing dan juga membuat klien ku selalu marah-marah kepada ku. Tapi dia ada untungnya juga rupanya.” Setelah itu Siwon langsung pergi.

Sehun menghela nafasnya. Ia membuka keran wastafel dan mencuci mukanya.

.

.

.

.

.

Balik lagi ke Seohyun dan Krystal. Seohyun menatap Kyuhyun dan Sehun pergi sebelum melihat Krystal, “Kau tahu Appa mu sangat bisa diandalkan?”

Krystal menatap Seohyun bingung.

Appa dan Oemma langsung kesini karena ada hal penting yang harus kita bicarakan. “ Seohyun menarik nafasnya dan entah mengapa Krystal langsung khawatir. “Oemma mu, Oemma kandung mu menelepon Appa dan Oemma. Ia mengatakan ingin bertemu dengan mu.”

Krystal menatap Seohyun panik. “Apakah…”

Seohyun mengenggam tangan Krystal, “Tentu saja kami tidak mengizinkannya. Kami tahu ini sangat berat bagi mu. Kami menyerahkan keputusan kepada mu. Apapun keputusan mu kami akan mendukungnya.”
“Bagaimana bisa? Apakah ia menceritakan kenapa ia meninggalkan ku?”

Seohyun menatap ragu. Ia mengangguk. “Dia menceritakan semuanya. Appa mu marah-marah kepadanya dan benar-benar menyalahkannya. Tapi ia juga benar-benar berusaha untuk berhubungan dengannmu. Mendengar alasannya… Aku… Sedikit mengerti maksudnya.”

Krystal menundukan kepalanya dan tiba-tiba ia tersenyum, “Apapun itu dia tidak seharusnya membuang ku. Aku tidak ingin bertemu dengannya.”

Seohyun menganggukan kepalanya, “Jika ia menelepon lagi kami tidak akan menganggkatnya.”

“Jadi…” Kyuhyun balik dengan membawa satu kantung belanja. Ia kembali duduk di sebelah Seohyun dan mengeluarkan mug pilihannya, “Aku bagus dalam memilih bukan?”

Setelah tidak mengeluarkan tatapan mautnya, Soehyun menatap tajam Kyuhyun, “Tomat? Apakah kau yakin akan memberikannya kepada bos mu?”

“Dia tidak akan marah. Appa mu ini sangat jenius Krystal Jung. Dia pasti akan bersabar melihat segala tindakan ku. Apalagi setelah aku menyelamatkan perusahaannya.”

Krystal hanya menggelengkan kepalanya. Seohyun hanya menghela nafas. Sabar…..

“Jadi dimana Sehun?”

Kyuhyun mentap istrinya, “Oh, anak itu? Dia tadi permisi ke kamar mandi. Dia lama sekali… Kurasa ia terlalu gugup hingga sakit perut.”

Seohyun dan Krystal tertawa mendengarnya. “Sehun terlihat tenang tadi. Tidak mungkin…” Elak Seohyun sambil tertawa. “Oh itu Sehun!” Seru Seohyun dan tersenyum hangat ke Sehun.

Sehun membalas senyuman Seohyun. Ia kemudian menatap Krystal sebentar sebelum melihat kedua orang di depannya. Krystal terdiam sebentar. Entahlah… Tapi ada yang aneh dengan Sehun.

.

.

.

.

.

Sehun dan Krystal pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di Busan sehari lagi. Mereka menghabiskan waktu terlalu lama dengan Kyuhyun dan Seohyun. Acara makan siang baru selesai pada pukul lima sore. Sehun mengatakan jika mereka pulang ke Seoul sekarang akan sampai di sana larut sekali, sekitar pukul 10 malam. Dia tidak mau itu. Sehun beralasan jika sampai di Seoul ia tidak punya alasan untuk tidak bekerja. Tetapi jika masih di Busan, ia memilikinya.

Itu adalah alasan yang Sehun berikan kepada Krystal. Alasan Sehun sendiri adalah ia ingin menghabiskan waktu bersama Krystal lebih lama. Hehehe….

“Jadi kamarnya dua tempat tidur bukan?” Tanya Krystal sambil mengeluarkan koper mereka dari mobil.

“Tidak.”

Jawaban pendek Sehun membuat Krystal menatap Sehun, “Heh, mesum, kita baru melakukannya semalam!”

Sehun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Kau yang mesum! Aku tidak ada maksud apa-apa malam ini. Aku terlalu lelah. Sebenarnya, aku tidak memilih yang ada dua tempat tidurnya karena pemandangannya jelek.”

“Alasan! Kau sendiri yang berkata kau terlalu lelah. Untuk apa melihat pemandangan?”

Krystal meringis ketika Sehun menekan hidungnya. “Sudah jangan cerewet. Ayo kita masuk hotelnya.” Sehun membawa kopernya dan tidak lupa mengandeng tangan Krystal.

Krystal sedikit meneguk ludahnya ketika ia memasuki hotel dimana mereka akan menginap. “Kau yakin kita akan menginap disini?” Tanyanya karena hotel yang mereka masuki terlihat sangat mahal.

Sehun menatap Krystal, ia tersenyum lembut, “Aku tahu apa yang kau takutkan…”

“Bagus kalau begitu!”

“Aku membawa uang kok!”

Sekarang gantian Sehun yang meringis akibat dicubit pinggangnya oleh Krystal. “Aku rasa ini terlalu berlebihan untuk ku.” Krystal berkata dengan suara pelan.

“Nama mu Krystal. Krystal adalah benda yang mahal. Ini tidak berlebihan untuk mu…”

Krystal menghela nafasnya, “Selain banyak alasan kau juga banyak menggombal!”

“Permisi…” Krystal dan Sehun sontak saja menoleh ke sumber suara. “Ada yang bisa saya bantu?”

Krystal dan Sehun terdiam sejenak sebelum mereka mengerti jika sedari tadi mereka sibuk berdebat hingga salah satu pegawai hotel datang.

“Oh, kami ingin menginap di sini.” Seru Sehun kepada pegawai itu.

Pegawai hotel tersenyum, “Baiklah, apakah Anda sudah memesan kamar?”

Sehun menggelengkan kepalanya, “Belum. Bisakah Anda memberikan kamar dengan pemandangan terbaik?”

Pegawai hotel menganggukan kepalanya. “Tunggu sebentar.”

Sehun tersenyum kepada Krystal dan menarik tangan Krystal mengikuti pegawai hotel.

“Untuk beberapa hari?” Tanya pegawai hotel dengan mata fokus ke komputer.

“Untuk satu malam saja.” Jawab Sehun. Krystal terdiam memperhatikan design hotel.

Tak berapa lama kemudian pegawai memberikan kunci kamarnya, “Ini kuncinya. Di lantai 12 kamar 124.”

“Terimakasih.” Ujar Sehun. “Hey!” Panggil Sehun kepada Krystal yang masih asyik memperhatikan design.
“Oh, sudah selesai?”

Ketika perjalanan mereka menuju kamar diisi oleh perdebatan. Lagi-lagi, Krystal dan Sehun berdebat tentang kegiatan mereka nanti pagi. Sehun ingin mengajak Krystal makan di sebuah café dekat pantai. Krystal ingin makan saja di hotel karena mereka telah diberi voucher.

“Ayolah… Kapan lagi kita kesana?”

“Tapi voucher-nya Sehun!” Krystal menatap Sehun dengan tatapan sedikit kesal.

“Bagaimana jika kita makan pagi di hotel kemudian makan pagi lagi di café tersebut?”

Krystal baru saja memprotes ketika suara yang begitu familiar terdengar padanya. Suara yang bertahun-tahun berusaha ia lupakan. Krystal mencengkram tangan Sehun.

“Tidak… Tidak… Bukan itu maksud ku….” Suara lembut itu tetap sama.

Krystal sedikit terkesiap melihat orang di depannya.

Ia menelan ludahnya. Rambut wanita di depannya lebih panjang daripada yang terakhir kali ia lihat. Ia memakai coat bewarna cokelat muda. Hampir sama seperti yang Krystal gunakan. Wanita yang sibuk menelepon melirik Krystal sebentar dan ikut terdiam.
“Nanti akan kutelepon lagi.” Kata wanita itu dan segera mematikan teleponnya.

Sehun memandang Krystal bingung. Ia ragu untuk bertindak. Ia melihat wanita di depannya dengan tatapan bingung dan menyadari sesuatu. Perempuan di depannya mirip dengan Krystal.

“Soojung…” Lirih wanita di depannya. “Soojung, kau masih ingat Oemma?”

Oemma? Jangan-jangan….

.TBC.

Hey…. Aku balik lagi…. Aku tahu aku punya janji ke kalian yang lagi-lagi gak aku tepati. Aku minta maaf untuk itu. Awalnya aku mau double update tanggal 18 tapi gak jadi karena ada kabar duka….. Malam itu aku langsung blank terus deg-degan, gak nyangka sama apa yang terjadi. Aku tahu itu pas mau maghrib, beritanya baru aja keluar. Tahunya dari ig. Awalnya sih aku mau buka ig untuk ngeliat ig Sunan Kalijaga (setelah group teman-teman aku rame Taqy-Alma cerai), nyesel banget sih ngebuka ig saat itu… Tapi kalau dipikir-pikir pastinya aku juga akhirnya tahu. Dan aku akan lebih nyesel kalau tahunya belakangan. Langsung merinding karena aku lagi ngejer deadline ff Minsul yang ada member Shinee termasuk dia. Aku ngebayangi mereka sebagai tim yang solid di ff itu. Aku juga bahagia sih soalnyakan Shinee mau comeback berlima untuk tour Jepang.

Shinee itu punya dampak besar dihidup aku… Karena merekalah aku masuk ke dunia k-pop. Bias aku di Shinee itu Minho karena ia ganteng (sederhana banget alasannya) dan senyumannya menawan. Tapi aku jatuh cinta sama lagu Shinee karena suara serak Jonghyun yang menurut aku gak tergantikan dan buat aku dengerin lagu Shinee sepanjang hari. Kalau Shinee gak ngeyakinin aku saat itu, aku gak akan dengerin SNSD’s Gee, Super Junior’s Super Girl, f(x)’s Electric Shock (I’m so SM biased since the beginning TBH…).

Aku ngerasa bersalah gak tahu gimana penderitaan dia. Tahun 2017 aku gak terlalu ngikutin kpop. Fokus ke kelas 12 dan teman-teman aku juga gak ada yang kpopers bangetlah… Mereka pada lagu barat semua. Tahunya lagu kpop tahun 2011 aja…. Aku berpikir, kalau aku ngikutin dia, benar-benar ngikutin dia, aku tahu ada yang salah sama dia dan aku gak akan se-syok ini.

He IS a very talented musician, tapi dia ngerasa gak memenuhi ekspektasi dia. Dan itu membuat aku mengingat gimana aku mau mulai nerbitin tulisan aku secara online… Ada yang baca gak ya? Ada yang suka gak ya? Pada awal-awal aku masuk wattpad juga begitu… Dan aku memang belum merasa puas sama tulisan aku… Tapi karena dia, aku jadi mengubah persepsi aku. Mungkin yang aku ekspektasikan gak pernah terwujud karena itulah diriku, manusia yang penuh kekurangan. Yang bisa aku lakukan adalah menghargai apa yang aku punya, apa yang sudah menjadi diri ku. Aku berkata dalam hati, ketika ia sekarang udah gak ada, dia masih ngebuat aku ngerasa lebih baik. Hal itu yang membuat aku melepaskannya.,,

Dia orang yang benar-benar baik dan semua orang terpukul dengan kepergiannya. Uri Yerim yang pasti sangat terpukul karena kehilangan orang yang ada disampingnya dari H-1 ia debut. Uri Taeyeon yang kehilangan orang yang benar-benar mengerti dia Uri Soojung yang kehilangan sosok oppa, orang yang berhasil menyentuh bagian rapuhnya. Uri member Shinee yang kehilangan sahabat bahkan saudara seperjuangan dari masa nol hingga sekarang dan pastinya mereka gak ada yang nyangka. TBH, siapa yang nyangka sih?

You doing well Kim Jonghyun…

Oh, dan maaf kalau aku curhat panjang banget 🙂 Hehehe… Makasih loh yang udah baca ini…

Sight Seeing and Silence (Chapter 1)

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Main Cast: Mark Tuan | Son Seunghwan | Oh Sehun | Park Chanyeol

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Jika teman-temannya membicarakan rahasia gelap, pasti mereka akan mengatakan jika mereka pernah mencuri. Atau berbohong kepada orangtua mereka. Atau melewati batas dalam berpacaran. Atau hal-hal lainnya yang dianggap memang dilakukan oleh anak-anak.

Mark sendiri tidak begitu. Dia tidak pernah berbohong kepada orangtuanya. Dia tidak melewati batas dalam berpacaran. Tidak pernah melanggar hal-hal lain yang dilanggar oleh teman-temannya. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi ia tidak bisa melakukan hal tersebut.

Mau tahu rahasia gelap dari Mark Tuan?

Rahasia yang membuat bulu kuduk merinding bahkan tidak ingin untuk mengetahuinya, jika orang tersebut bisa mengulang waktu.

Mark seperti remaja cowok pada umumnya. Rambut yang ia biarkan panjang bahkan ia cat menjadi warna menjadi warna platinum. Dengan satu anting di telinga kanan. Baju seragam barunya yang tidak terlihat karena ia mengenakan sweater hitam.

Tok…Tok..Tok…

Ketukan menyadarkan Mark dari lamunanya yang melihat laut yang tenang. Mark segera berjalan menuju pintu.

“Kau sudah sangat rapih. Ayo!” Seru Sehun. Lelaki yang baru ia kenali dua hari ini. Tapi sekarang Mark sudah berada di rumahnya bahkan tinggal disini untuk sementara waktu.

Mark tidak menjawab. Sehun sendiri tidak merasa tersinggung atas perilaku Mark. Mereka baru saja bertemu dan itu merupakan hal wajar. Pikir Sehun.

Selama perjalanan mereka menuju sekolah barunya mereka juga hanya diam. Mark menikmati pemandangan Jindo yang masih asri. Di Los Angeles tidak ada pemandangan seperti ini. Pemandangan rerumputan yang luas dan awan biru yang menenangkan. Damai….

“Hey!”

Panggilan Sehun membuat Mark menoleh. Sehun hanya bosan. Dia butuh teman mengobrol. Perjalan sekolah membutuhkan waktu dua jam dan sudah satu jam ini mereka saling diam

“Mungkin kita bisa mengobrol. Kau tahu… Mendekatkan diri.” Sehun mengutarakan apa yang ia pikirkan sedari tadi. Laki-laki disampingnya membuat benteng seakan Sehun musuh. Yah, mengingat keadaan mereka Sehun tidak bisa menyalahkannya.

“Aku tidak punya keinginan untuk mendekatkan diri kepada mu.”

Jawaban singkat Mark membuat Sehun tertawa. Benar bukan apa yang ia pikirkan? “Biar ku tebak alasan mu. Kau curiga kepada ku bukan?”

Mark menatap Sehun tajam. Menilai laki-laki ini sebelum menjawab, “Baguslah kalau kau sudah tahu.”

“Boleh tahu alasannya?”

“Ku kira kau sudah tahu alasannya. Tidak kah kau berpikir sikap mu tidak biasa?”

Sehun menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia menatap supirnya sekilas kemudian menatap Mark, “Aku tidak inign membunuh mu atau mengambil perusahan mu. Aku hanya ingin kita berteman okay? Kalau kau ingin tahu alasannya karena aku butuh koneksi.”

“Baguslah kau jujur. Dan pada akhirnya tidak ada yang tahu sampai dimana pertemanan kita.”

“Kau tidak mengerti!” Sehun terdengar sedikit putus asa.   Ia menarik nafas dan berkata, “Tapi aku tidak akan memaksamu untuk berteman dengan ku. Aku hanya ingin jujur kepadamu.”

“Menurut mu aku akan langsung menaruh percaya kepada mu hanya kau berkata jujur kepada ku?”

Astaga… Laki-laki di depannya benar-benar seorang analitikal. Sehun melirik Mark sekilas sebelum mulai memandangi jalan lagi, “Terserah dirimu saja. Pada akhirnya kau akan tahu siapa aku sebenarnya.”

Mark memilih diam dan menatap jalan kembali. Sisa perjalanan dihabiskan dalam diam. Dari padang rumput yang asli, mereka melewati sebuah hutan yang masih terjaga. Hanya mobil mereka yang melewati jalan tersebut.

“Kau yakin ini jalan menuju sekolah?” Desis Mark karena tidak yakin.

“Aku tidak akan membunuh mu.” Suara Sehun terdengar santai. Ia tersenyum ke Mark.

Entah mengapa, Mark merasa yakin jika Sehun katakan benar. Ia tersenyum dan berkata, “Kau yakin di tas mu tidak ada senjata?”

Sehun menggelengkan kepalanya mendengar candaan Mark.

Setelah dua jam perjalanan, insting dirinya benar. Sehun tidak berbohong. Mereka benar-benar sampai disekolah mereka.

“Selamat datang disekolah baru mu. Sebenarnya sekolah ini mudah ditemui. Tidak terlalu misterius hanya karena aku dan dirimu bersekolah disini. Tapi karena rumah ku yang jauh… Jadi kita harus menempuh dua jam perjalanan.”

“Ku rasa kita menempuh perjalanan dari ujung pantai ke ujung pantai lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya dan mereka keluar dari mobil.

“Kau ingin langsung ku antarkan ke ruangan kelas atau ingin jalan sendiri?”

“Kurasa aku akan disini sebentar saja.” Mata Mark menelisik sekolah barunya. Beberapa murid terlihat membawa buku di tangannya. Tas mereka yang kecil membuat buku tersebut tidak muat. Rata-rata rambut perempuan disini digerai. Sedangkan laki-lakinya tidak ada yang cepak.

Deg!

Mark sedikit terpana melihat seorang perempuan berambut coklat dengan poni menutupi dahinya. Perempuan itu terlihat tersenyum seakan sangat bahagia bisa sampai di sekolah. Ia tidak membawa buku ditangannya dan tasnya lebih besar daripada murid-murid yang lain. Perempuan yang sedang ia tatap berhenti dan menengok ke arah kiri dan kanan kemudian terlihat tersenyum lebih lebar.

Mata Mark menangkap seorang laki-laki berambut cepak tengah menyingir ke arah perempuan itu. Mark mengenal laki-laki itu. Park Chanyeol kalau tidak salah namanya. Chanyeol berkata sesuatu dan membuat perempuan itu terlihat kesal. Mereka terus mengobrol hingga tiba-tiba perempuan tersebut memukul-mukul lengan Chanyeol yang membuat Chanyeol tertawa lebar.

Mereka berjalan memasuki gedung sekolah dengan Chanyeol yang masih menghadap perempuan itu dan berbicara kepadanya. Tapi yang Chanyeol dapatkan hanyalah pukulan di tangannya.

“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Mark tersentak ketika Sehun memanggil mereka. Ia bahkan melupakan Sehun sejenak akibat melihat perempuan itu.

Chanyeol menyapa Sehun dan mendekat. Perempuan yang masih misterius itu terdiam sebentar sebelum berjalan ke arah Sehun dan menyapa Sehun dengan senyuman yang sangat lebar dan mata yang berkilat senang. Jangan-jangan….

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Mark tersenyum menatap Chanyeol, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan perempuan yang dari tadi ia tatap.

Mark menatap Seunghwan. Seunghwan hanya diam menatap Mark sehingga Mark berkata, “Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

 

.

.

.

.

.

Deburan ombak telah menjadi teman Seunghwan selama hidupnya. Rumahnya tepat berada di depan pantai. Sebuah rumah kecil bewarna putih kecuali di bagian kamar Seunghwan yang bewarna kuning. Satu kamar mandi, dapur kecil, satu ruang tv yang kadang juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Sebuah rumah sederhana yang dibelikan oleh seseorang yang berharga untuknya.

Dengan mengingatnya saja, Seunghwan dibuat tersenyum sendiri. Ia segera menggelengkan kepalanya agar tetap fokus pada sarapannya. Setelah sarapannya selesai, Seunghwan segera mencuci piringnya dan berangkat ke sekolah. Hanya dia sendiri tinggal sendiri. Hidupnya sebatang kara. Dengan ibunya yang meninggal sejak empat tahun yang lalu. Seunghwan sebenarnya punya satu kakak cowok, tetapi dia tidak ingin mengingatnya. Dia memang sudah tidak punya keluarga lagi, tapi dia masih punya orang-orang yang perduli padanya. Teman-temannya. Maka dari itu, Seunghwan sangat menyukai sekolah.

Ketika liburan ia menjadi sangat bosan. Seunghwan tinggal di kota kecil bernama Jindo. Kota yang terletak di paling selatan dari Korea Selatan. Sebenarnya Jindo lebih tepat disebut desa jika dibandingkan dengan Mokpo, kota terdekat dan terbesar dari Jindo. Jarang ada bangunan tinggi. Mobil hanya sedikit yang lewat. Hamparan laut yang luas dan masih banyak rumput hijau. Pantai yang selama ini dia lihat adalah satu-satunya hiburan baginya. Jangan harapkan dia bisa keluar Jindo. Makan di salah satu Café di Jindo bernama Aera’s Signature Ice Cream saja sudah harus membuat Seunghwan menabung selama dua bulan. Apalagi ke Mokpo dimana dia harus naik bis?

“Seunghwan!”

Seunghwan segera saja menoleh dan ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Rambut laki-laki tersebut cepak. Satu-satunya laki-laki yang rambutnya cepak disekolahnya. Mamakai kemeja putih tanpa rompi dan menampilkan cengiran khas yang membuat mukanya bodoh.

“Woy! Kemarin kenapa gak bisa dihubungi?”

Seunghwan berdecak, “Mau lihat jawaban fisika bukan?”
Lelaki di depannya hanya tertawa kecil, “Tahu tuh! Kemarin habis kencan sama Yejin dan baru ingat ada tugas. Belum ngerjain nih…”

“Park Chanyeol!” Langsung saja Seunghwan memukul lengan Chanyeol, “Kalau kamu belum mengerjakan pr fisika aku akan dimarahi sama guru Song!” Seru Seunghwan sebal.

“Aku mau mengerjakannya semalam. Tapi kamu gak jawab!” Chanyeol berusaha membela diri, “Maka dari itu lihat dong…”

“Enak saja! Aku akan ajarin kamu tapi kamu gak boleh menyontek.”

“Kenapa harus Son Seunghwan yang menjadi partner fisika? Kim Jongdae bisa dicontek.” Ucap Chanyeol dengan suara hopeless yang didramatiskan.

Seunghwan hanya mencibir, “Aku sudah mengerjakannya capek-capek. Enak saja melihat!”

“Nanti aku bilangi sama Sehun kamu gak mau bantu aku….”

Seunghwan segera menoleh ke Chanyeol dan kembali memukul-mukul lengannya, “Apaan sih! Gak usah bawa-bawa nama Sehun deh!”
Chanyeol tertawa riang. Sehun selalu menjadi senjata rahasia agar Seunghwan bertekuk lutut. Gadis itu sangat-sangat mencintai Sehun. Yah, itu karena Sehun selalu berada di samping Seunghwan selama masa-masa kritisnya. Tetapi gadis itu cukup cerdas karena ia mengetahui Sehun tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada dirinya. Seunghwan menempatkan posisinya sebagai sahabat dengan berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia suka. Tapi tetap saja kelihatan. Mata gadis itu membesar ketika melihat Sehun –menjadi antusias-. Seunghwan juga lebih jaim di depan Sehun.

Chanyeol masih berusaha membujuk Seunghwan untuk memberikan pr fisika. Sayang, sama seperti tampangnya yang tolol, Seunghwan malah semakin ganas memukul lengan Chanyeol dan membuat Chanyeol meringis kesakitan.
“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Kegiatan Chanyeol dan Seunghwan terhenti. Chanyeol langsung menoleh ke sumber suara dan balik menyapa. Sedangkan Seunghwan terdiam dengan pipi bersemu merah. Sialan Chanyeol! Sehun jadi ngeliatkan.. Desisnya dalam hati.

Seunghwan kemudian menoleh dan melambaikan tangannya, “Sehun!”

“Hai, Seunghwan!” Sapa Sehun seperti biasanya.

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Kali ini, Wendy melihat ke samping kiri, seseorang laki-laki berdiri di samping Sehun. Laki-laki itu tersenyum, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan Seunghwan ke Mark.

Seunghwan yang sedari tadi menatap Mark hanya terdiam ketika Mark menyapanya.
“Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

Seunghwan ternganga sebentar. Baru pertama kali dalam hidupnya, Seunghwan terdiam bingung ingin mengatakan apa karena jantungnya yang berdebar lebih kencang.

.TBC.

 

New story nih… I know.. I know… State of Grace belum tamat. Flipped bagian epilog belum keluar. Terus aku juga lagi ngerjain projek Sestal terbaru… Dan jangan lupa Runaway yang belum pernah ku sentuh sejak 6 bulan yang lalu…

Tapi ini mini-chapter kok… 10 chapter kalau lebih pun cuman 2… See you soon guys…

 

 

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Flipped (Chapter 22) (END)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kebenaran

 

Luhan merasa ayahnya adalah orang yang paling egois di dunia. Keegoisan ayahnya membuat Luhan harus berpisah dari ibunya. Sampai sekarangpun ia tidak dapat bertemu dengan ibunya karena keputusan ayahnya. Sekali ayahnya memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Banyak keputusan ayahnya hanya berorientasi kepada dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Luhan tahu jika ayahnya sangat mencintai Luhan. Ayahnya ingin Luhan tetap bersamanya makanya ia menjauhkan Luhan dari ibunya yang jelas-jelas juga ingin bersama Luhan. Karena pengaruh ayahnya yang lumayan kuat, akhirnya Luhan bisa bersama ayahnya. Memori yang Luhan ingat terakhir kali bersama ibunya adalah ketika ibunya menyuruh ia menjadi anak baik sambil menangis. Luhan sampai sekarang menyesal ia hanya bisa terdiam melihat ibunya. Sekali saja ia ingin memeluk ibunya kalau bisa.

Apakah Luhan membenci ayahnya? Sayang, ia tidak bisa. Luhan tidak bisa membenci ayahnya walaupun ayahnya memisahkan ia dengan ibunya. Luhan benci terhadap dirinya yang tidak bisa membenci ayahnya. Cita-citanya ketika ayahnya membawanya pergi menjauhi Korea yang juga untuk menjauhi ibunya adalah lepas dari cengkraman ayahnya. Luhan menyusun mimpinya. Itulah yang membuat ia selama bertahun-tahun fokus belajar demi menggapai cita-citanya. Teman-temannya di Amerika menganggap dia sangat dingin dan anti sosial karena ketidak pedulian. Yang hanya ia pedulikan adalah belajar. Kurangnya interaksi sesama teman membuat nama Krystal selalu di hatinya meski mereka lama tidak bertemu. Dia menganggap suatu hari dia dapat kembali bertemu Krystal dan mungkin dapat menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Setidaknya musuh terberat –dalam mendekati Krystal- juga sahabat terdekatnya sudah berjanji tidak akan mendekati Krystal.

Ketika menemukan Krystal menangis di taman. Menanyakan janjinya dengan Sehun untuk tidak mendekati Krystal, Luhan tersadar akan satu hal. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Ia memiliki keegoisan yang sama dengan ayahnya. Semua yang ia lakukan juga penuh dengan keegoisan. Tentang bagaimana cita-citanya lepas dari cengkraman ayahnya. Tentang Krystal. Tentang Sehun. Apakah dia tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitarnya sekali saja? Apakah dia tidak pernah berpikir jika orang tersebut tersenyum bukan berarti orang tersebut baik-baik saja?

Akhirnya, disini Luhan. Terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke mobilnya. Disampingnya ada Sehun yang sama-sama terdiam.

“Dia masih di taman. Aku bahkan tidak berhasil memdekatinya.” Luhan berkata lirih. Menundukan pandangannya. “Ku rasa kau yang harus kesana dan membujuknya.”

“Luhan…”
“Kau adalah orang yang baik. Aku tahu itu dan aku sangat mempercayai mu. Tentang perjanjian konyol kita belasan tahun yang lalu, ku rasa itu sudah berakhir. Kau berhak mendekati seseorang siapapun itu. Kau tidak seharusnya dilarang. Aku salah melarang mu mendekati Krystal.”

“Luhan….”

“Aku hanya ingin Krystal untuk ku. Karena aku bahagia jika di dekatnya. Sifat riang dan recehnya… Tapi ia tidak pernah bahagia berada di dekat ku. Sedikit pun.” Luhan mengerjapkan matanya. Menahan air matanya yang ingin jatuh.

“Luhan ak—”

Luhan berdehem dan lagi-lagi memotong omongan Sehun, “Sekali saja aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku ingin Krystal bahagia. Karena seseorang dapat bahagia ketika melihat orang yang ia cintai bahagia.” Luhan menghela nafasnya. “Aku harus masuk. Jam istirahatku sudah habis dari tadi. Aku duluan.” Ia segera berjalan memasuki rumah sakit. Tanpa melihat Sehun sedikit pun. Ia tidak bisa.

“Luhan tunggu!”

Luhan berhenti. Tapi badanya tidak berbalik sedikitpun. Air matanya sudah menetes.

Sehun menghela nafasnya sebelum berkata, “Beritahu tahu aku ketika kau ingin di wisuda Aku akan senang melihat dirimu lulus dengan cita-cita mu sejak kecil. Atau setidaknya aku ingin ada karangan bunga dari ku.”

Mendengar hal itu Luhan menghela nafas gusar. Kalimat yang Sehun ucapkan membuat hatinya bergetar. Laki-laki itu terlalu baik. Sungguh. Dan Luhan pernah menyalahgunakan kebaikan laki-laki itu karena ke egoisannya. Karena keegoisannya pula Luhan tidak bisa berbalik ke Sehun dengan air mata berlinang. Ia hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya.

Kau adalah dan tetap sahabatku…

.

.

.

.

.

Langit sudah menunjukan warna jingga menyala ketika Sehun sampai di taman. Taman tersebut berjarak duapuluh menit dari rumah sakit Luhan. Dia hampir saja putus asa ketika selama hampir dua jam berkeliling Seoul tidak bisa menemukan Krystal. Tiba-tiba saja, sekitar pukul empat sore Luhan meneleponnya. Mengatakan jika ia tahu dimana Krystal tapi mengajaknya untuk bertemu terlebih dahulu. Luhan mengajak bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja. Sehun sedari tadi berusaha menghalau pikiran buruknya yang mengatakan Krystal di rumah sakit. Ia ingin mencengkram kerah Luhan dan menanyakan dimana Krystal jika saja Luhan tidak berkata lirih, ‘Aku memiliki sifat egois yang sama dengan ayah ku.’

Sehabis mendengar hal itu, Sehun memutuskan untuk mendengar Luhan berbicara terlebih dahulu. Ia tahu…. Sudah saatnya mereka membicarakan perjanjian konyol ketika mereka berumur sepuluh tahun itu. Dia ingin berbicara baik-baik. Tidak menyangka dengan keputusan Luhan. Satu-satu harapannya adalah Luhan dapat mengerti dari kalimat yang ia ucapkan tadi, ketika ia ingin hadir di wisuda Luhan, menunjukan jika ia tidak membenci Luhan. Tidak sedikitpun.

Sehun mengehla nafas. Sudah waktunya ia keluar dan bertemu Krystal. Langkah Sehun terasa berat. Dia berhenti ketika menemukan Krystal menundukan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lirih.

Krystal menatapnya dengan mata yang berair dan sudah sangat merah. “Sehun…” Setelah mengatakan hal tersebut Krystal menangis lagi.

Sehun segera mendekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mendekap Krystal. “Maaf.”

“Bodoh! Bodoh!” Krysta memukul-mukul dada Sehun. “Bodoh!”

“Maaf…”

Lagi-lagi Krystal menangis. Sehun semakin mempererat pelukannya. “Maaf….” Kata Sehun lagi.

Krystal mendorong Sehun perlahan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus air matanya, “Jangan pergi…”

“Aku….”

Sehun menatap Krystal ragu. Itu bukan suatu hal yang ia harapkan.  Jangan pergi?  Seberapa besar Krystal menyukai Sehun, bukan, mencintai Sehun?
“Kau tidak ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya?”

Krystal sangat mengerti pertanyaan Sehun. Ia dengan cepat menggeleng. “Aku takut.”

Sehun dengan pelan mengenggam kedua Krystal. Membuat Krystal terpaksa melihatnya kemudian mengunci tatapan Krystal.

“Luhan tiba-tiba datang kepada ku. Itu saat ulang tahun keluarga Song. Ketika kakimu patah kau ingat? Kau melihatku berbicara dengan Luhan saat itu. Saat itulah aku dan dirinya membuat perjanjian konyol itu. Kita masih terlalu muda saat itu. Saat itu juga semua hal berubah dengan cepat. Orangtua Luhan bercerai. Luhan yang tiba-tiba pergi dan meninggalkan kita. Aku bahkan masih ingat tangisan mu ketika Luhan pergi.”

“Itu karena dia sahabatku!” Pekik Krystal kesal.

Tidak ingin menjawab, Sehun kembali melanjutkan ceritanya, “…. Puncaknya adalah ketika kita dijodohkan. Aku sempat menolak perjodohan ini mentah-mentah dibelakang. Tapi kedua orantuaku tidak peduli. Yang aku ingat saat itu adalah aku mempunyai janji pada Luhan dan tangisan mu ketika Luhan pergi. Aku sangat optimis kau menyukai Luhan. Tapi tidak setelah kau mengatakan kau juga menyukai ku. Bahkan saat itu aku masih mengingat janji ku kepada Luhan. Aku dengan bodohnya lebih mementingkan janji itu.” Sehun menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafasnya dengan berat.

“Aku pikir dengan aku berpacaran kau akan menyerah.” Lanjutnya lagi. “Kurasa aku terlalu bodoh hingga hanya mengingat perjanjianku dengan Luhan dan semua yang ku katakan hingga menyebabkan dirimu melakukan… Kau tahu, loncat dari gedung sekolah…” Air mata Sehun mulai turun. “Saat kejadian itu dan kau koma, aku merasa bersalah tetapi masih mengingat perjanjian itu. Tidak sampai kau membaca buku diary mu dan entah mengapa aku merasa sangat-sangat bodoh…

“Kemudian rasa bersalah yang sangat besar muncul dan aku merasa tidak pantas bersama mu. Aku tidak bisa melihat mu lagi atas perbuatanku sehingga, lagi-lagi, aku menyakitimu dengan menghentikan perjodohan kita. Saat kita bertemu lagi dengan Luhan dan ambisi Luhan, aku tahu aku sudah cukup bodoh selama ini. Tapi menghentikan semua ini rasanya juga sudah sangat terlambat. Aku senang ketika kau berpacaran dengan Luhan karena… Itu rasanya memudahkan ku untuk melepaskan mu.

“Anehnya aku malah tidak nyaman melihat mu dan Luhan bersama. Aku mulai berpikir lagi, jika aku tidak melihat kalian pasti semuanya akan lebih mudah. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengambil sekolah di luar negeri.”

Krystal kali ini memeluk Sehun. Ia berbisik, “Jangan pergi kumohon…”

“Setelah apa yang kulakukan?”

“Semua itu bukan salah mu Sehun…. Kau masih bodoh saat itu. Luhan masih bodoh. Aku juga masih bodoh. Itu salah kita. Tidak semuanya salah mu. Kau pernah berkata jika aku juga tidak peka dalam kondisi mu yang masih syok akibat perjodohan bodoh kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu.” Lanjut Krystal masih berbisik. Air matanya kembali turun.

Mendengar Krystal yang sudah mulai menangis, Sehun melepaskan pelukan mereka dan memegang wajah Krystal, “Berapa banyak kau menangis karena diriku?”

“Berapa kali aku membuat mu stress Oh Sehun? Ini semua bukan salah mu. Jangan pergi…”

Sehun menggelengkan kepalanya. Itu membuat tangisan Krystal langsung membesar. “Kita butuh waktu…” Ujar Sehun lirih. Ia mencoba memberikan senyumannya.

“Aku mencintai mu Oh Sehun.”

“Aku juga mencintai mu Krysal Jung.”

Satu baris kalimat yang selalu Krystal tunggu bertahun-tahun lamanya. Satu kalimat yang terus ia harapkan. Krystal mengeluarkan senyumnya. Melupakan seketika rasa sakit yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya ketika Sehun dengan lembut menyatukan bibir mereka.

.

.

.

.

.

Sehun akhirnya pergi. Ia melanjutkan sekolahnya ke Jepang. Laki-laki itu pergi tepat dua hari setelah semuanya terungkap. Tidak ada Luhan yang mengantarnya. Krystal berharap Luhan juga tidak ada. Ia masih membenci Luhan. Walau ia sendiri berkata itu karena kebodohan masa kecil mereka. Sehun juga meyakinkannya seperti itu.

Hubungan ia dan Sehun sebelum pergi bisa dibilang baik-baik saja. Mereka tidak dalam hubungan berpacaran. Tidak. Krystal merasakan mereka seperti sahabat lagi. Meskipun tidak ada sahabat yang berciuman dan Sehun dengan bodohnya mencium Krystal di depan kedua orangtua mereka dan membuat Krystal menanggung malu setelah itu. Tunggu, apakah itu pertanda untuk kedua orangtua mereka?

“Woy!”

Krystal tersentak ketika melihat Kang Seulgi menaruh beberapa buku tebal yang pastinya buku sastra tingkat tinggi.

“Sedang apa?” Tanya Seulgi duduk dan memakai kacamatanya.

Krystal terkekeh, “Entahlah…”

Seulgi menggelengkan kepalanya dan membuka salah satu buku, “Galau? Aku tidak melihat Luhan beberapa hari ini. Bertengkar?”

“Kami sudah tidak ada hubungan lagi.”

Mendengar jawaban Krystal, Seulgi menghentikan kegiatan membacanya, “Okay.” Dan ia lanjut membaca bukunya.

Kali ini Krystal yang menggelengkan kepalanya, “Apa yang kau pikirkan Kang Seulgi?”

“Kau terlihat tidak seperti seseorang yang habis putus. Hahahahaha… Atau perasaan ku saja. Bagaimana dengan tuan brengsek Oh Sehun?”

“Jangan panggil dia brengsek. Hubungan kami sudah baik-baik saja.”

Seulgi kali ini menatap Krystal dengan tatapan terkejut. “Jadi…”

“Aku jamin itu tidak seperti yang kau pikirkan.” Seru Krystal yang sebenarnya tidak ingin mendengarkan teori menakjubkan Kang Seulgi. Ketika hp-nya berdering, Krysal tersenyum senang karena ia mempunyai cara untuk menghindari Kang Seulgi, “Aku harus mengangkat ini.”

“Dan kemudian bilang aku harus pergi karena ada urusan. Klasik.” Seulgi kemudian mendengus, “Sialan Professor Yang! Jika karena bukan salah sangka aku tidak akan bekerja rodi seperti ini selama dua minggu. Tidur saja tidak bisa apalagi berbicara dengan Soojung!” Sambil bersungut-sungut, ia kembali membaca buku.

“Seulgi, ingin ke mall? Aku ingin menonton…” Krystal sudah berbalik dan menatap Seulgi penuh harap.

“Kau tahu jika bukan karena salah sangka yang berhubungan dengan Im Jaebum aku tidak akan tetap disini dan membaca buku sialan ini? Aku memang pecinta sastra tapi tidak dengan harus membaca buku sastra selama dua minggu berturut-turut. Aku butuh hal-hal lain seperti tidur atau pergi ke mall atau apapun yang tidak berhubungan dengan buku dan laptop.” Setelah mengeluarkan unek-uneknya Seulgi mulai tersenyum, “Ayo.”

Ia mengambil tasnya dan merasa sangat malas harus mengembalikan buku-bukunya. “Biarkan saja…. Aku malas mengembalikannya.”

Krystal terkekeh melihat kelakuan temannya. “Terserah dirimu saja.” Jawabnya dengna lirih karena mereka di perpustakaan.

Seulgi mengandeng tangan Krystal dan menatap Krystal dengan penasaran, “Jadi katakan kepadaku Krystal Jung, apakah hubungan mu dengan Sehun hanya sebatas sahabat atau kau ingin lebih?”

Krystal mendengus. Lupakan teori menakjubkan Kang Seulgi jika temannya bisa menyimpulkan sendiri. Krystal dulu sempat bertanya-tanya kenapa temannya dapat menyimpulkan segala hal dengan luar biasa. Dan jawaban Seulgi sangat mudah, ‘Aku hanya menebak.’ Karena itulah Krystal menoleh dan tersenyum kepada Seulgi. Membiarkan temannya menebak.

.END.

Calm down guys…  There’s an epilogue, yang pasting di bayangan aku udah ada 3 epilog.  Dimana di 3 epilog terdapat sudut pandang tiga tokoh utama, Krystal, Sehun, dan Luhan.

First epilogue goes to Luhan….

And, i wanna say thank you to you guys…  All of you who already read this ff…  Thankyou so much!  See you soon…

Flipped (Chapter 21)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Meluruskan Kesalah Pahaman

 

Krystal terbangun pada pagi hari dengan rasa pusing menyerang kepalanya. Matanya juga bengkak. Ketika pulang, yaitu pada pukul sebelas malam, yang Krystal lakukan adalah menuju tempat tidurnya dan menangis sepuasnya hingga terlelap. Krystal menatap dirinya di cermin dan menggerutu pelan. Kemarin hari yang buruk! Tetapi jantungnya berdetak lebih kencang mengingat apa yang terjadi pada hari kemarin juga. Hal gila yang ia lakukan kepada Sehun. Krystal memejamkan matanya dan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Setelah lebih dari sepuluh menit melihat dirinya melalui kamera hp di atas tempat tidur.

Ia menuju kamar mandi. Berpikir air segar dapat menyegarkan pikirannya. Krystal terbiasa mandi dengan air hangat. Entah itu musim semi, musim panas, musim gugur, ataupun musim dingin. Ia selalu menggunakan air hangat. Untuk kali ini saja Krystal ingin mencoba menggunakan air dingin. Mungkin sebuah perubahan dapat merubah sesuatu dari dirinya, terutama masalah hatinya.

Cukup lama Krystal berada di kamar mandi dengan terdiam di shower menikmati air dingin lebih dari setengah jam, ia keluar dari dan segera mengenakan pakaian rumah. Perasaannya mungkin kacau. Tetapi pikirinnya masih jernih. Ia mengingat dengan baik jika hari ini tidak ada jadwal kuliah. Selesai berpakaian ia kembali ke kasur dan melihat handphone-nya.

Mencari kesibukan. Melihat materi kuliahnya hingga chat dari Luhan masuk. Krystal tersenyum tipis membaca chat dari Luhan. Dia segera membalas. Berharap setelah ini Luhan akan meneleponnya. Ketika hp-nya berdering, tangan Krystal berasa agar. Bukan Luhan yang meneleponnya, melainkan Sehun. Dengan tangan bergetar, Krystal mengangkatnya.

“Apa aku menganggu?”

Suara berat itu selalu berhasil membuat ia kesulitan bernafas. Krystal menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Tidak. Ada apa menelepon ku?” Itu bukanlah suara ramah. Ataupun suara antusias. Nada suara Krystal penuh dengan ke kakuan yang pasti membuat Sehun berpikir jika Krystal tidak ingin berbicara dengannya.

“Soal kemarin…”

Mata Krystal terpejam. Nafasnya semakin tidak beraturan. “Oh…”

“Aku minta maaf.”

Jantung Krystal langsung berhenti berdetak. Perkataan berikutnya semakin membuat jantungnya berdetak lebih lambat.

“Tentang ciuman kemarin, aku merasa bersalah telah membalasnya.”

Air mata Krystal turun. Ia tahu yang Sehun katakan benar. Ia juga berpikir jika Sehun terbayang-bayang oleh rasa bersalah tersebut. Tapi sayangnya Krystal sama sekali tidak. Itulah yang membuat dirinya sedih. Ia merasa ia sama sekali tidak mempunyai harapan apa-apa terhadap Sehun.

“Krysta, kau masih disana?”

.

.

.

.

Lagu Too Good at Goodbyes Sam Smith mengalun di sudut café. Café yang terletak tak jauh dari kampus orang yang Krystal tunggu. Mengingat orang tersebut mempunyai jadwal kuliah. Kalau tidak salah laki-laki tersebut sudah mau di wiusda. Tapi entah mengapa Sehun berkata jika ia masih harus ke kampus.

Krystal yang sibuk menatap hp-nya, mencoba menetralisir gejolak hatinya. Kue yang ia pesan tadi sama sekali tidak mengunggah seleranya. Dia mendapat pesan dari Seulgi. Seulgi berkata jika keputusan Krystal bertemu dengan Sehun adalah keputusan yang tidak masuk akal. Setidaknya Seulgi belum tahu kejadian Krystal mencium Sehun. Jika tahu dia sudah di cap gila oleh Seulgi.

Luhan juga mengirimkannya pesan. Berkata untuk makan siang bersama. Laki-laki itu tahu jika Krystal menemui Sehun. Krystal yang mengatakannya ketika Luhan meneleponnya tak lama setelah Sehun meneleponnya. Krystal hanya berkata jika ia ingin bertemu dengan Sehun karena ingin menyelasaikan kesalah pahaman. Alasan yang sama kenapa Sehun ingin mengajak Krystal bertemu.

“Hei.” Sapa orang yang ditunggunya membuat Krystal mendongak. Sehun tersenyum tipis, mencoba untuk ramah, pikir Krystal akibat kakunya senyuman Sehun.

Krystal menjawab dengan senyuman. Dengan canggung, Sehun menarik kursi di depan Krystal dan duduk disana.

Sehun berdehem. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Krystal masih menatap Sehun dengan tangannya yang mulai dingin mencengkram hp.

“Soal kemarin…” Akhirnya, setelah keheningan mencekam Sehun membuka suaranya.

“Ada yang ingin ku katakan.” Sela Krystal menatap lurus ke arah Sehun. Ia sudah memikirkan hal ini sejak Sehun meneleponnya untuk meluruskan kesalah pahaman mereka. Rencana-rencana telah ia susun. Semua ia yang memutuskan. Memberi tahu Seulgi hanyalah sebuah cara untuk menetralisir detak jantung Krystal. Kali ini dia yang memutuskan semuanya dengan hati-hati.

“Baiklah. Kau duluan saja yang berbicara.” Ujar Sehun pendek.

“Ku rasa kau benar. Perasaanku mungkin hanyalah sebuah fatamorgana. Tidak sedalam yang ku kira. Aku mempunyai Luhan sekarang, jadi semuanya telah berubah. Kemarin…” Krystal berhenti sejenak. Menarik nafas sebelum kembali berkata, “Aku hanya pensaran, kurasa. Tapi yang pasti itu adalah kesalahan. Dan aku minta maaf telah membuat dirimu merasa bersalah.”

Sehun terpekur untuk beberapa saaat. Krystal memandang Sehun dengan tatapan ragu. Sorot mata Sehun berubah. Sehun mengerjap beberapa kali sebelum ia kembali menatap mata Krystal. Tatapannya aneh membuat Krystal seakan sulit bernafas.

“Kurasa itu salahku.” Kata Sehun pada akhirnya. Melihat Krystal akan memprotes, Sehun berucap, “Dengarkan aku dulu.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk.

“Aku seharusnya menjelaskan masalah kita ketika dirimu terbangun dari koma. Aku hanya merasa sejak aku memilih diam dan bersikap kepadamu layaknya seorang sahabat, hubungan kita semakin rumit. Tidak ada yang membenarkan perbuatan aku kepadamu ketika masa-masa SMA.”

“Lupakan hal tersebut. Aku tidak ingin mengingatnya.” Potong Krystal dengan nada yang tegas dan dingin.

“Aku bahkan tidak pernah meminta maaf kepadamu tentang perbuatan ku kepadamu. Jadi, aku minta maaf untuk hal itu. Kemudian pada akhirnya, kita seperti kucing dan tikus. Ada sesuatu yang membuat kita tidak ingin saling bertemu. Aku hanya ingin meluruskan hubungan kita, tidak harus sampai bersahabat seperti dulu. Setidaknya tidak ada lagi yang kita pendam.”

Mereka sama-sama terdiam. Memikirkan dengan baik apa yang harus dikatakan.

“Kau berkata seperti akan pergi.” Kata Krystal pada akhirnya. “Ini terlalu tiba-tiba dan rasanya aneh.”

Sehun lagi-lagi terpekur. Tapi kali ini ekspresi wajahnya terlihat lesu.

“Kau benar-benar akan pergi?” Krystal bertanya dengan nada khawatir sekarang.

“Aku mendapat beasiswa S2 di Jepang.” Kata Sehun pada akhirnya. “Kau benar ini terlalu tiba-tiba dan aneh. Sebenarnya, aku hanya berpikir akan lebih aneh jika tiba-tiba aku pergi tanpa bilang apa-apa.”

Krystal menundukan wajahnya. “Ah…”

“Krys…”

“Selamat…” Menampilkan senyum lebarnya. Sayang, matanya juga tidak ikut tersenyum.

Sehun lagi-lagi terdiam. “Terimakasih…” Kata Sehun pada akhirnya.

Krystal mengigit bibirnya, terlihat memikirkan sesuatu. “Jadi…. Apakah setelah ini kita akan seperti orang yang tidak mengenal?”

“Aku tidak tahu..” Jawab Sehun seadanya. “Kurasa semuanya menjadi sangat rumit.”

Krystal mengangkat tangan kanannya. Menelengkupkan semau jari-jarinya kecuali jari kelingkingnya, “Sahabat lagi?”

Sehun menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. “Kau yakin? Setelah apa yang ku lakukan?”

“Bukankah kita sudah meluruskannya?”

Sehun lagi-lagi terdiam. Ia memejamkan matanya sebelum membalas tautan kelingking Krystal, “Sahabat….” Ucapnya ragu.

Pinky promise!”

Sehun hanya bisa menghela nafas melihat Krystal tersenyum lebar. Tapi ia ikut tersenyum. “Kau tidak pernah berubah Krystal Jung.”

“Kapan kau akan berangkat? Aku ingin mengantarmu. Boleh tidak?” Lanjut Krystal dengan nada yang berbeda. Nadanya ringan dan ia terlihat lebih ceria.

“Tiga hari lagi aku akan berangkat.” Sehun tersenyum kecil.

“Baiklah.” Krystal mengangguk.

Dia akan mengatar Sehun pergi ke Jepang. Dia akan melepaskan Sehun. Sahabat? Itu sudah cukup baginya. Krystal jadi bertanya-tanya. Apakah mereka memang ditakdirkan sebagai sahabat?

.

.

.

.

.

Akhirnya hari keberangkatan Sehun tiba. Krystal tengah duduk anggun menunggu Oemma Sehun yang sedang membuatkan minuman. Luhan tidak ikut mengantar karena bentrok dengan jadwal co-ass nya.

“Ini sirupnya Krystal..” Oemma Sehun datang membawakan sirup leci yang membuat Krystal tersenyum lebar.

“Terimakasih bibi!” Ia segera meminumnya. “Jadi, Sehun belum siap?”

“Oh, anak itu baru dari kampusnya dengan badan penuh dengan krim. Jok mobil sampai kotor karena ia terlalu malas membersihkan diri. Ia sedang mandi di kamarnya.”  Oemma Sehun menceritakan dengan semangat. “Pesawat akan berangkat dua jam lagi dan dia masih dirumah.  Awas saja ia memindahkan jam terbangnya karena akan terlambat.”

Krystal tertawa kecil. “Aku tidak tahu ia mandi dengan sangat lama.”

Oemma Krystal terdiam sejenak, “Iya ya… Aneh. Oemma akan mengecek Sehun terlebih dahulu.”  Oemma Sehun bangkit tetapi ia kemudian menghentikan langkahnya, “Kau ingin menonton tv atau apa? Pasti membosankan menunggu Sehun.”

“Tidak apa-apa bibi. Aku disini saja.”
Oemma Sehun mendengus mendengar jawaban Krystal, “Kenapa malu-malu? Ayo sini menonton tv saja! Tidak ada penolakan!”

Krystal yang tidak enak hati akhirnya tersenyum dan mengikuti ibu Sehun. Ia tersadar jika cat rumah Sehun telah berubah.  Ahhh..  Sudah lama sejak terakhir kali ia datang ke rumah Sehun.

“Sayang…” Suara berat yang merupakan suara Appa Sehun membuat Krystal tersenyum.

“Paman!!!” Sapa Krystal dan ia melambaikan tangannya.

“Krystal!”  Appa Sehun tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

“Krystal akan mengantar Sehun ke bandara.” Jelas Oemma Sehun. “Bersama Luhan sebenarnya. Tapi tadi Krystal mengatakan jika Luhan ada jadwal co-ass.”

“Wah… Sudah lama sekali tidak melihat Luhan.” Komentar Appa Sehun. “Apakah wajahnya berubah?”

“Dia sangat awet muda paman.” Jawab Krystal sambil tersenyum.

“Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya.”

Mendengar jawaban dari Appa Sehun, Krystal tertawa kecil.

“Ada apa tadi memanggil?” Tanya Oemma Sehun.

“Melihat kaca mata coklat ku?”

Oemma Sehun kembali mendengus. “Di atas tv kamar.”

“Tidak ada!”

“Di atas tv kamar!” Oemma Sehun masih kekeh.

Appa Sehun yang kali ini menghela nafasnya, “Tidak ada, sayang…

“Baiklah… Akan dibantu mencarikannya.”  Oemma Krystal kemudian berteriak, “Bibi Ahn!” Tapi langsung saja ia menepuk jidadnya, “Bibi Ahn sudah pulang tadi.” Ia kemudian menoleh, “Krystal…”

Krystal tersenyum menunggu perkataan Oemma Sehun. Jangan bilang jika harus ia yang datang ke kamar Sehun.

“Bisakah kau datang ke kamar Sehun?” Astaga!

“Iya, bibi?” Krystal tidak salah dengar bukan.

“Tolong bibi ya… Atau Krystal ingin membantu paman mencari kaca mata?”

“Akan ku beri tahu bibi.” Putus Krystal pada akhirnya.

Oemma Sehun tersenyum dan segera menghilang ke lantai atas. Krystal menghela nafasnya dan mulai menaiku tangga.

Ia memegang jantungnya yang berdegup kencang. Tenang…. Tangan mengetuk pintu kamar Sehun. “Sehun…” Tidak ada jawaban. Atau jangan-jangan Sehun masih di kamar mandi? Haruskah ia masuk? Tidak ingin lancang sebenarnya. Ia kembali mengetuk.

“Krystal masuk saja. Sepertinya ia masih di kamar mandi.” Suara Appa Sehun menyentakan Krystal.  Appa baru saja keluar dari kamar dan turun ke bawah.

Dengan ragu-ragu, Krystal memasuki kamar Sehun. “Sehun…” Benar saja. Sehun masih mandi karena ia mendengar suara air. “Sehun…” Teriak Krystal lebih kencang. Ia sudah masuk ke kamar Sehun.

“Bentar Oemma! Aku sedang mencuci rambut ku!” Teriak Sehun dari kamar mandi.

Krystal tertawa kecil mendengar jawaban Sehun. Apakah teriakan Krystal seperti Oemma-nya? Ia menatap sekeliling kamar Sehun. Terlalu rapih untuk ukuran cowok. Mungkin saja ini karena Sehun ingin pergi ke Jepang. Mata Krystal tidak sengaja menangkap sebuah buku besar terletak di atas meja Sehun. Ia tidak tahu apakah lancang, Krystal mendekat ke arah meja Sehun. Memperhatikan jika di buku ini terdapat beberapa foto dan sebuah kertas. Tanpa bisa ia cegah, Krystal membaca isi kertas tersebut.

Rabu, 29 Oktober 2014

Ada orang yang pernah bilang, kebahagiaan itu sederhana, asal melihat orang yang dicintainya bahagia, dia akan bahagia.

Ah… itu merupakan potongan diary Krystal. Tapi mengapa bisa ada di Sehun? Dia tidak melihat diary-nya sama sekali setelah Sehun mengembalikannya. Krystal meletakan kertas itu. Ingin menanyakan kepada Sehun nantinya. Saat meletakan kertasnya, mata Krystal menangkap jika di buku itu juga terdapat foto-foto yang berserakan. Ia tidak terlalu memperhatikan tadi. Tapi setelah ia memperhatikannya, semua itu adalah foto Krystal bersama Sehun dulu…

Tangan Krystal mengambil foto-foto tersebut sebelum ia memutuskan untuk membaca buku yang sengaja Sehun biarkan terbuka. Krystal membacanya sebaris dan ia langsung tercekat. Tangannya bergetar hingga foto yang ia pegang jatuh. Ia dengan cepat membuka halaman di belakangnya. Membacanya dengan cepat. Kemudian kembali membuka halaman belakang. Kembali membacanya dengan cepat. Ia membuka halaman buku tersebut dengan asal hingga sampai di halaman yang Sehun lipat, membacanya sejenak, hingga tak tersadar air matanya telah menetes.

.

.

.

.

.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan perasaan aneh. Entah mengapa. Ia melemparkan handuknya sembarangan dan segera memakai bajunya. Tak sampai lima menit, ia sudah siap dan memutuskan untuk keluar.
“Sehun!”  Oemma nya telah di depan pintu dengan wajah panik. “Apakah dirimu melihat Krystal?”

“Krystal?” Sehun mengeretukan alisnya.

“Krystal datang. Apakah ia ada di kamar mu?”

Jangan-jangan.. Sial! Ia lupa sesuatu!

“Sehun!”  Oemma-nya kembali memanggil.

“Krystal tidak ada di bawah?” Tanya Sehun pada akhirnya.

“Berarti dia tidak ada di kamarmu?”  Oemma Sehun benar-benar panik sekarang.

“Tenanglah Oemma. Aku akan mengecek hp ku terlebih dahulu. Mungkin tadi dia ada urusan mendadak yang membuatnya langsung pergi.”
“Baiklah. Kabari Oemma segera.  Oemma harus mengurusi kopermu terlebih dahulu.”

Sehun kembali masuk kamar. Ia mengambil handphone-nya. Tapi ia tidak langsung menelepon Krystal. Ia berjalan ke arah meja belajarnya. Menyadari jika foto-foto yang tadi terletak rapih di atas bukunya terjatuh, Sehun segera mengambilnya dan memejamkan matanya. Bodoh! Rutuknya dalam hati. Ia meletakan foto tersebut di samping bukunya dan melihat buku tersebut. Melihat halaman yang terakhir Krystal baca. Sehun segera mencengkram hp-nya. Tapi itu tak lama. Tangannya dengan cepat menelepon seseorang.

“Luhan! Kau melihat Krystal?! Atau kau dengar kabar darinya?! Kumohon cari dia sekarang! Aku takut ia melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri lagi…”

Sehun langsung keluar dari kamarnya.

“Sehun ada apa? Dimana Krystal?”  Oemma Sehun melihat anaknya aneh karena Sehun berlari ke arah pintu rumah.

Sehun menghentikan langkahnya, menatap Oemma nya, “Tolong tunda keberangkatan Sehun terlebih dahulu. Krystal dalam bahaya.”

“Apa?!”  Oemma Krystal berteriak panik. Tapi sebelum ia bisa mengatakan hal lain, Sehun telah menghilang dari pandangannya. Kemudian ia mendengar suara mobil.

.

.

.

.

.

Luhan terdiam sejenak setelah panggilan Sehun terputus. Ia masih mencoba untuk focus dalam menyetir mobilnya. Suara Sehun yang panik membuatnya bingung. Dia bingung apa yang terjadi dengan Krystal. Krystal sebenarnya telah meneleponnya. Jauh sebelum Sehun meneleponnnya. Suara gadis itu berbeda. Ia meminta Luhan untuk menemuinya di taman tak jauh dari rumah sakit Luhan. Ada yang ingin ia bicarakan. Penting katanya. Luhan berpikir Krystal hanya ingin berbicara biasa. Tapi tidak setelah gadis itu mengatakan jangan beritahu Sehun jika ia menanyakan dimana dirinya.

Memantapkan diri, Luhan membuka seatbelt-nya dan turun dari mobil. Dari lapangan parkir pun, Luhan dapat melihat Krystal yang sedang duduk menatap lalu lintas. Luhan mempercepat langkahnya hingga ia sampai tepat di depan Krystal. Agak jauh dari Krystal tapi Krystal pasti melihatnya. Ia ingin mengeluarkan senyumannya. Tapi entah mengapa, melihat ekspresi dingin Krystal, bibirnya tidak bisa terangkat membentuk sebuah lengkungan.

“Berhenti!” Seru Krystal tiba-tiba. “Jangan mendekat kumohon…” Suaranya tidak dingin. Tetapi sarat akan kesedihan.

“Krystal..” Luhan semakin bertambah bingung. “Apa yang terjadi?”

“Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu.” Krystal kembali berkata. Tidak punya niat sedikitpun menjawab pertanyaan Luhan. “Apakah… Apakah…” Suara Krystal agak bergetar. Ia memejamkan matanya dan berkata lirih, “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Aku…” Luhan tercekat. Tapi ia maju kedepan.

“Berhenti Luhan! Jangan mendekat!” Krystal berdiri dari kursinya dan mundur kebelakang. Menjauh dari Luhan. “Kenapa kau melarangnya? Apakah itu karena kau juga menyukai ku?”

“Krystal aku bisa jelaskan—”

“Aku tidak butuh penjelasan mu Luhan!” Potong Krystal. Sekarang ia benar-benar menangis. “Apakah kau melarang Sehun untuk menyukai ku?”

“Jawab Luhan!” Krystal berteriak. “Jawab! Apakah kau tidak tahu aku menyukai nya?”

Tangisan Krystal membesar. Ia terjatuh. Menutupi mukanya dengan tangisan yang semakin membesar.

“Sehun menyukai mu dari dulu. Tidakkah kau sadar? Dia selalu berada di samping mu. Bahkan ketika kalian beda kelas. Dia selalu datang ke kelasmu mengajak mu ke kantin. Menunggu mu sampai dirimu di jemput. Selalu mendengar ocehan mu tanpa sekalipun memotong atau berkata ia bosan mendengar dirimu bercerita. Apakah kau tahu banyak gadis yang menyatakan perasaannya tapi ia menolaknya. Karena ia berkata jika ia menyukai mu. Itulah tatapan iri dari para gadis setiap mereka melihatmu.”

.TBC.

Next chapter will be the end…  See you soon guys

 

State of Grace (Chapter 28)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Matahari terbenam…” Seru Krystal senang. Dia tersenyum lebar membuat Sehun ikut tersenyum.

Sehun kemudian mendesah, “Aku merasa sangat bahagia kali ini. Bersama mu, akhirnya. Setelah beberapa hari yang berat. Bersama hyung, di pernikahannya. Setelah bertahun-tahun aku bertanya dimana dia, apakah aku bisa bertemu dengannya, dan apakah aku bisa menghandiri acara sepenting ini.” Suara Sehun agak bergetar. Ia mengerjapkan matanya, bulir air mata jatuh.

Krystal yang melihat itu mengeratkan pelukannya. Mereka berdua berasal dari keluarga tidak sempurna. Mereka berdua hidup dengan harus melihat itu. Mereka berdua mendapat goresan luka dari keegoisan dua orangtua mereka.

“Sehun….” Ucap Krystal lirih.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Terbesit dibenak ku, apakah aku akan menjadi ayah yang baik? Dengan ayahku yang pemarah dan selalu suka memerintah tanpa mendengarkan ibuku. Tentang ayahku yang hanya pergi setiap saat dengan alasan kerja, mengatakan urusan pekerjaannya lebih penting daripada keluarganya. Atau kebaikan dia hanya terlihat baik ketika bersama orang lain.” Sebelum Krystal ingin membantah Sehun kembali berkata, “Tapi aku ingat, ada dirimu disampingku. Ada dirimu yang akan mengingatkan ku jika aku salah. Maka dari itu…”

Sehun berhenti sebentar dan entah mengapa hal itu membuat jantung Krystal berdetak lebih kencang. Perasaan gugup tiba-tiba menyerangnya.

“Maukah kau terus berada di sampingku? Menemaniku agar aku bisa menjadi ayah yang baik karena aku tahu kau akan menjadi ibu yang baik.” Tangan Sehun terarah menuju kantong jasnya yang sekarang Krystal kenakan. Mengambil sebuah kotak berwarna biru tua. Nafas Krystal langsung tercekat. Jangan-jangan….

“Maukah kau hidup bersama ku selamanya? Menemaniku hingga akhir hayat ku?” Sehun membuka kotak itu. Memperlihatkan sebuah cincin berbentuk sangat indah… Bertahtahkan beberapa permata dengan permata utamanya bewarna rose gold.

“Sehun…” Krystal masih menahan nafasnya.

“Aku tahu mungkin ini berasa sangat cepat bagi mu. Aku tahu dengan keadaan seperti ini banyak keraguan pada mu. Tapi satu yang aku yakini, cukup dengan mu berada disamping itu sudah cukup bagiku.”

Air mata Krystal turun. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. “Aku….”

“Tidak usah terburu-buru. Aku ingin dirimu memikirkannya secara matang-matang.” Sehun berucap dengan tenang. Ia pun menyematkan cincin kepada Krystal, “Tapi cincin ini milik mu.”

“Kalian yang disana!” Teriakan Seojoon membuat Krystal dan Sehun menoleh. Krystal cepat-cepat menghapus air matanya.

“Aku mencari kalian kemana-mana! Sohee khawatir karena mobil kalian ada tetapi kalian tidak terlihat!” Seru Seojoon yang mendekat ke arah mereka. “Ayo pulang! Atau kalian masih mau disini?”

“Kami akan pulang.” Kata Sehun. Ia berdiri dan membantu Krystal bangkit. Ia menoleh ke arah Krystal dan tersenyum lembut kemudian mengandeng tangan Krystal yang sudah tersematkan cincin.

Melihat senyuman Sehun, Krystal ikut tersenyum, “Ayo… Aku sedikit kedinginan sebenarnya.”

.

.

.

.

.

Drrt~ Drrrt~ Drrrrt~

Sehun mengerang ketika hp dari nakas berbunyi dengan keras. Menganggu tidurnya. Tapi ia tidak perduli, ia bahkan mengeratkan pelukannya ke Krystal yang asyik tertidur pulas.

Drrt~ Drrrt~ Drrrt~

Sehun berdecak. Dengan malas, ia meraih hp masih dengan mata terpejam. “Dimana lagi…” Gerutunya sebal.

“Hallo!” Seru Sehun sedikit kesal.

“Soojung?”

Sehun langsung membuka matanya. Segera saja melihat handphone yang ia pegang dan berdecak ketika ia memegang handphone Krystal.

“Soojung… Ini Soojung bukan?” Suara perempuan yang meneleponnya kembali terdengar.

“Krystal… Ada yang menelepon mu…” Bisik Sehun membangunkan Krystal.

Krystal yang merasa masih lelah hanya bergumam tidak jelas. “Aku ingin tidur…”

“Krystal…”

Krystal tetap tidak bergeming. Mau tidak mau Sehun menempelkan handphone ke telinga Krystal.

“Jung Soojung, hallo!!!”

Oemma!” Soojung yang mendengar suara ibunya langsung bangun. Ia memegang handphone dengan raut bingung dan menatap ke Sehun. Yang di tatap hanya mengangkatkan bahunya.

Benar dirimu bukan…”

“Iya, tadi aku masih sangat mengantuk.”

“Oh,” Suara perempuan sedikit bingung, tetapi ia kemudian berdehem, Oemma dan Appa sedang ada di Busan. Kami baru saja sampai. Sebelumnya kami ingin bertemu dengan dirimu dan Amber di Seoul, tapi kata Amber kau sedang di Busan bersama kekasih mu…”

“Kakaknya sedang menikah. Ada apa Oemma?”

“Oh begitu… Yang tadi mengangkat telepon mu itu kekasih mu bukan? Siapa namanya? Oh Sehun kalau tidak salah? Eihhhh, kalian tidur bersama? Anak Oemma Sudah besar rupanya. Coba saja Appa yang tadi menelepon, dia pasti syok berat.”

Krystal merona mendengar rentetan perkataan ibunya, “Bukan begitu….”

“Tidak apa-apa. Kau sudah dewasa dan sekarang berapa umurmu Krystal Jung? Oemma dan Appa akan selalu mendukungmu.” Kemudian ibu Krystal berkata lagi, “Kita kembali lagi kemasalah awal. Apakah Oemma bisa bertemu dengan hari ini ketika makan siang? Ini sangat penting.”
Mendengar nada mendesak ibunya Krystal akhirnya berkata, “Akan ku usahakan.”

“Baiklah. Jangan lupa bawa kekasih mu nanti ya… Oemma ingin melihatnya. Sulli berkata jika kekasih mu itu sangat rupawan.”

Mendengar nada senang ibunya Krystal mendengus, “Ingat sama suami Oemma…”

Ibu Krystal tertawa, “Ughhh.. Jangan diingkatkan bisa? Baiklah, kita akan bertemu pada jam makan siang. Tempatnya belum tahu. Appa mu masih berdebat tentang tempatnya.”

“Baiklah Oemma….” Kemudian sambungan teleponnya terputus dan Krystal segera menaruhnya di nakas sebelahnya.

“Siapa?” Sehun sedari tadi tidak tidur. Ia menatap Krystal dengan siku sebagai penopangnya.
“Oh, Oemma ku…”

Melihat raut wajah Sehun yang bingung Krystal menambahkan, “Oemma angkat ku.”

“Oh….” Raut wajah Sehun menjadi antusias. “Kau masih sering mengobrol bersama Oemma-mu?”

“Sebulan sekali kami bertukar sapa. Dia sedang pulang ke Busan dan mengajak kita untuk bertemu ketika makan siang.”
“Tentu. Aku sangat ingin bertemu dengan orangtua angkat mu.”

Melihat wajah Sehun yang sangat semangat Krystal terkekeh, “Jangan semangat dulu. Kau belum bertemu dengan Appa ku.”

“Aku pasti bisa menghadapi Appa mu. Dengan pesonaku…”

Krystal tertawa dibuatnya, “Ah sudah jam berapa sekarang?” Kata Krystal setelah ia selesai tertawa. Krystal pun kembali mengambil handphone-nya dan berkata, “Ah, sudah jam enam rupanya. Mengapa aku masih sangat lelah?”

“Apa perlu aku ingatkan apa yang kita lakukan kemarin malam?” Goda Sehun sambil ‘tersenyum’.

Tangan Krystal dengan cepat memukul bahu Sehun dan ia mendengus. “Aku ingin mandi. Badanku terasa sangat lengket.”

Sehun menahan tangan Krystal dan langsung menarik Krystal ke pelukannya, “Jangan… Disinilah terlebih dahulu.” Ujarnya pelan.

Krystal hanya mendengus tetapi mulai mengambil posisi yang enak di dada bidang Sehun.

“Orangtua angkat mu baik kepada mu?”

“Euhmmm…” Gumam Krystal. “Mereka sangat baik kepadaku dan Amber. Awalnya mereka hanya ingin mengangkatku sebagai anak mereka, tetapi karena aku menangis dan bilang jika aku ingin Amber ikut mereka akhirnya mengangkat Amber juga. Mereka tidak bisa mempunyai anak karena rahim Oemma diangkat. Maka dari itu mereka sangat mencintai anak-anak. Mereka juga membesarkan kami seperti anak mereka sendiri semampu mereka.”

Mendengar nada Krystal yang bahagia entah mengapa membuat Sehun ikut bahagia.

Kata-kata Krystal kembali meluncur, “Oemma dan Appa hanya pegawai kantoran biasa yang gajinya pas-pasan. Tapi masalah aku dan Amber tidak menempuh dunia kuliah itu karena keinginan kami sendiri. Rasanya tidak tega untuk membebani mereka lagi. Mereka pasti akan bilang tidak apa-apa. Tapi kami tahu mereka sangat berusaha keras untuk itu. Maka dari itu, ketika tamat SMA kami memutuskan untuk merantau ke Seoul.”

Sehun terdiam sejenak sebelum berkata, “Mereka sangat menyangi dirimu dan Amber.”

Krystal tersenyum, “Ya…” Krystal tiba-tiba berkata, “Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Tanyakan saja…”

“Kalau kau punya anak, mau namanya siapa?”

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Apa itu artinya kau menerima lamaranku?”

Krystal balas menatap dan berkata, “Berpikir saja belum. Kau tahu kemarin aku tidak sempat berpikir.”

Sehun terkekeh mendengar hal itu. “Jika anaknya perempuan aku mau namanya Jinri, sesuai dengan nama adik kecilku. Jika nama anaknya laki-lai aku ingin namanya Hunsik. Itu nama kakek dari Mommy. Harabeoji yang meminta kepada ku agar namanya di pakai. Untuk Seojoon, harabeoji meminta nama halmeoni, Nayeon sebagai nama salah satu anak hyung.”

“Bagaimana dengan dirimu?”

“Aku? Sooyoung jika perempuan. Seungyeon juga bagus sih… Kalau laki-laki aku masih bingung. Kemungkinan besar aku ingin namanya Kyuhyun, seperti nama Appa.”

“Kurasa kita harus membuat anak yang banyak agar nama-nama itu bisa kita sematkan.”

Sebelum Krystal membalas terdengar ketukan dari luar, “Krystal… Sehun… Sudah waktunya sarapan….”

Suara Sohee membuat Sehun terkejut, “Cepat sekali pengantin baru terbangun.”

Krystal tertawa.

“Iya Oennie!” Seru Krystal kemudian. Selanjutnya ia menatap Sehun, “Kurasa sudah waktunya aku mandi.”

.

.

.

.

.

Krystal asyik menyisiri rambutnya saat Sehun mendapatkan sebuah telepon dari ibunya.

“Aku…” Gumam Sehun pelan. Sedikit menjauh dari Krystal, “Aku sedang pergi bersama Kai dan Seulgi. Ada apa Mom?” Sambil menunggu jawaban Tifanny, Sehun memasukan tangan kanannya ke saku celana, “Eh, kenapa bertanya seperti itu?” Ia menghela nafas, “Iya, Krystal juga ikut. Itu juga karena aku yang memaksanya.” Sehun terdiam sebentar dan tiba-tiba nada suaranya naik, “Sebenarnya ada apa mom?” Mendengar ibunya kembali berbicara, Sehun tersenyum kecut, “Oh, begitu. Dad tidak ada menghubungi ku. Aku bahkan tidak tahu Dad juga berada di Busan. Nanti siang ingin mengajak makan? Aku tidak bisa. Ada makan siang penting yang harus aku hadiri.” Sehun kembali menghela nafas, “Baiklah, nanti aku akan hubungi Dad. Aku akan pulang hari ini. Tapi kemungkinan sampainya besok. Baiklah.”

Setelah sambungan terputus, Sehun segara berbalik. Krystal sedang menatapnya dengan senyuman.

Mom menelepon menanyakan apakah aku tahu jika Dad ada di sini.” Ujar Sehun dengan suara beratnya.

“Aku tadi mendengar tentang acara makan siang.”

“Sepertinya Dad akan mengajak ku makan siang.”

“Oh, kau akan ikut?”

Sehun menggeleng mantap, “Tidak. Aku sudah ada janji dengan kedua orangtua mu bukan?” Kemudian ia berjalan mendekati Krystal dan mengenggam kedua telapak tangan Krystal, “Aku akan menghubungi Dad sendiri. Kau tenang saja.”

Krystal kemudian mengangguk. “Aku sudah siap.” Katanya kemudian.
“Baiklah. Kita akan permisi ke Seojoon hyun dan Sohee noona.”

“Kau yakin kita langsung membawa barang-barang kita saja?”

“Ya. Mereka akan meninggalkan vila ini pukul 2 siang. Bisa jadi acara makan kita lebih dari 2 siang. Lagipula aku terlalu malas untuk kembali ke sini.” Sehun kemudian mengangkat barang bawaannya dan Krystal.

“Ingin ku bantu?” Tawar Krystal.
Sehun menggeleng, “Ini tidak berat.”

Krystal lagi-lagi hanya bisa diam. “Baiklah…” Ia kembali berkata, “Kita jadi membelikan hadiah untuk kedua orangtuaku?

Sehun mengangguk mantap, “Iya. Sekaligus jalan-jalan berduaan bersama mu di Busan.” Sehun kemudian tersenyum ke Krystal. Krystal memutar bola matanya melihat senyuman Sehun.
“Apa aku bisa menolaknya?”

“Tidak!”

“Okay. Kurasa kita harus segera permisi ke pasangan pengantin baru.” Seru Krystal dan mereka keluar dari kamar.

.TBC.

 

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

State of Grace (Chapter 27)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

“Krys…”

Krystal belum bisa menjawab. Air matanya terus turun dan semakin deras. Manik matanya menatap Sehun dengan tatapan panik.

“Sayang….” Kata Sehun. Lagi. Ia mengenggam tangan Krystal yang dingin. Mencoba menyalurkan ketenangan. Menatap mata Krystal.

“Tetap disini….” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Krystal.

Sehun tidak mengerti apapun. Tetapi ia mengangguk dan menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Aku akan selalu disini… Disebelah mu….”

.

.

.

.

.

Sehun terus memeluk Krystal sampai Krystal kembali tertidur pulas. Saat Krystal tertidur pulas, Sehun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saja. Mereka sudah setengah perjalanan ke busan. Waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi. Itu artinya, mereka kira-kira akan sampai Busan pada pukul 5 pagi, untungnya mereka sampai disana tepat pukul 5 pagi.

Seojoon menyewa sebuah villa untuk keluarga Sohee. Semuanya sedang tertidur pulas ketika mereka sampai. Hanya Seojoon dan Sohee yang menyambut Sehun. Itu juga mereka terbangun karena Sohee yang sedang mengidam.

“Krystal kelihatannya sangat lelah. Ku rasa kau harus menggendongnya Sehun-ah.” Begitulah yang kira-kira Sohee noona katakan. Sebenarnya, Sehun juga punya niatan untuk mengendong Krystal. Dengan sukarela ia menggendong Krystal ala bridal style ke kamar yang telah dipersiapkan.

Setelah membawa barang-barang ke atas, Sohee noona kembali berkata, “Kamar mu bukan di sini. Tapi di sebelah.” Kentara sekali ada nada ancaman di situ. Memangnya Sehun mau ngapain sih?

Walau sudah di ancam Sehun tetap nakal. Dia menidurkan dirinya di samping Krystal, pelan-pelan menutup matanya sambil memeluk kekasihnya.

.

.

.

.

.

Ketika bangun, Krystal merasa jika kepalanya sangat berat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menemukan wajah Sehun yang sedang tertidur dengan damai. Tangan Sehun yang melingkar memeluk tubuhnya juga mulai terasa. Krystal menyunggingkan senyumnya. Pelan-pelan ia menyentuh pipi Sehun.

“Pagi..”

Krystal terasa terjungkal dari tempat tidur sangking terkejutnya. Sehun tidak dapat untuk tidak tersenyum mendengar bunyi nafas Krystal yang begitu tercekat.

“Mencuri kesempatan ya?” Matanya tiba-tiba terbuka dan mendapati Krystal masih dengan wajah syoknya.

Krystal hanya mendengus. Rona merah sudah terdapat di wajahnya.

Lagi-lagi, Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

“Apaan sih?” Gerutu Krystal dan mendorong Sehun pelan. Ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah tertekuk.

“Jangan begitu…” Sehun dengan sigap kembali menarik Krystal ke dalam pelukannya. “Biarkan seperti ini untuk berapa saat.” Lanjutnya pelan.

Krystal lagi-lagi pasrah. Habisnya ia juga menyukai berada di pelukan Sehun.

Tok! Tok! Tok!

“Krystal….”

Sehun mengerang mendengar suara Sohee noona.

“Krystal…. Ayo bangun…. Sudah jam 07.30…”

Gantian, Krystal lah yang tertawa melihat raut wajah Sehun. Lagi-lagi ia mendorong Sehun dan bangun. Dengan santai berjalan menuju pintu,”Iya, oennie!”

Cklek~
“Krystal sayang…”   Sohee langsung memeluk tubuh Krystal, “Aku sangat senang kau bisa datang. Bersemangatlah! Kau harus fitting baju dan menemaniku seharian ini.”

“Apa-apaan…” Suara protes Sehun membuat Krystal dan Sohee menoleh.

Melihat Sehun yang berada di tempat tidur membuat Sohee melotot, “Yak, Oh Sehun! Sudah kubilang kamar mu disebelah!”

“Tapi noona tidak menyuruhku untuk tidur di kamar ku bukan?”
Sohee noona kembali melotot ke arah Sehun, “Benar-benar! Cepat sekarang keluar dan pergi ke kamar mu! Kau juga harus bersiap-siap karena akan menemani Seojoon!”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi!” Potong Sohee tegas. “Cepat!”

Sehun merengut. Aduh… Padahal Sehun berharap hari ini dia akan bersama terus dengan Krystal. Kenapa malah terpisahkan oleh dua calon pengantin ini?

.

.

.

.

.

“Fitting baju jam sembilan dan sehabis itu Krystal akan membantu noona mengurusi beberapa hal. Seperti bunga dan tata letak ruangan. Kau bisa bukan?”

“Tidak!”

Jawaban spontan Sehun membuat Krystal dan Sohee melotot. Mereka sedikit kesal dengan sifat blakblakannya Sehun.

“Tentu eonnie. Aku senang bisa membantu.” Kata Krystal pada akhirnya.

“Tapi—“

“Oh, senangnya…” Sohee noona memotong omongan Sehun. “Terimakasih Krystal…”

Sehun kembali menghela nafasnya. “Noona, kau membuat mood ku hancur.”

“Aku hanya meminjam kekasih mu hari ini saja. Besok-besok ia akan terus di sebelah mu.” Bela Sohee noona.

Sehun ingin melontarkan pembelaannya. Sayang, seseorang memanggil Sohee noona yang membuat ia dengan enaknya melenggang pergi meninggalkan Sehun dan Krystal.

“Sifat asal-asalannya sangat sama seperti hyung. Aku bingung bagaimana mereka menghadapi anak-anak mereka nantinya.” Gerutu Sehun kemudian meminum kopinya.

“Hush, jangan berbicara seperti itu!” Gumam Krystal. “Sohee noona tadi sudah bilang kepadaku dengan yang cara baik-baik kok. Entah mengapa ketika bertemu denganmu berbicaranya menjadi seperti itu.”

Sehun memberengut mendengar penjelasan Krystal. Krystal pun tertawa lepas melihat hal tersebut. Tertawa yang sangat lepas. Sehun melirik Krystal sekilas. Jika gadis itu bisa tertawa selepas itu sekarang, apa yang membuat ia menangis sangat ketakutan kemarin malam?

.

.

.

.

.

Rasa penasaran Sehun belum terjawab juga.. Dua hari dari kedatangan mereka ke Busan dan Sehun hampir tidak mempunyai waktu bersama Krystal. Bukannya ia seorang yang lagi kasmaran yang tidak ingin dipisahkan, hanya saja rasanya aneh karena ia ingin tahu mengenai kejadian malam mereka datang ke Busan.

Krystal dan Sehun menemani calon pengantin secara terpisah. Sohee mengurus ruangan sedangkan Seojoon kerjanya pergian ke tempat catering atau apapun itu. Barulah malam hari mereka bertemu, itupun ketika ingin tidur.   Malam pertama mereka di Busan, Krystal terlihat sangat lelah. Gadis itu benar-benar menemani Sohee mengurusi tata letak.

Sehun yang saat itu ingin bertanya, mengurungkan niatnya dan pada akhirnya hanya melihat Krystal yang mulai terlelap di kasurnya. Saat ingin keluar menuju kamarnya, baru saja ia membuka pintu, Krystal berteriak dan rupanya ia sedang mengalami mimpi buruk. Mata gadis itu terbelak ketakutan yang membuat Sehun entah mengapa sakit dan hanya bisa memeluknya hingga Krystal kembali tertidur. Sehun pun akhirnya kembali lagi tertidur di kamar Krystal.

Begitupula keesokan harinya, Krystal yang sangat lelah kembali dilanda mimpi buruk dan gadis itu sesenggukan akibat mimpinya. Mulutnya yang gatal terdiam karena ia tahu, Krystal tidak akan bisa menceritakannya sekarang. Dan dia berharap gadis itu ingin menceritaknnya nanti.

“Sehun!”

Sehun tersentak kaget ketika Kai memukul kepalanya. Ia menoleh menatap Kai tajam. Begitupula dengan Kai.

“Apa yang kau pikirkan bodoh?! Acara pernikahannya sudah mau di mulai!” Seru Kai tertahan.

Sehun menarik nafasnya dan berjalan dengan pelan menuju tempat pernikahan kakaknya. Ia tidak boleh mengecewakan kedua pengantin yang menunjuknya sebagai their best man.

.

.

.

.

.

Sorak tepuk tangan men-sahkan ikatan Sohee dan Seojoon. Semuanya bersorak senang dan tersenyum lebar. Panasnya mentari terkalahkan dengan semangat para hadirin.

Seojoon dan Sohee menggelar pernikahan mereka di salah satu pantai di Busan. Nuansa putih dan hiasan bunga yang banyak, pernikahan mereka adalah salah satu pernikahan terindah, menurut Sehun. Dan itu bukan hanya Seojoon sebagai kakaknya. Sehun tidak dapat menahan senyumannya. Ia mengerjapkan matanya ketika air matanya mendesak untuk turun. Tidak pernah terpikirkan di benaknya dapat melihat hyung-nya kembali. Atau dapat hadir di pernikahan hyung-nya.

Sohee dan Seojoon kemudian berbalik, melambaikan tangannya kepada para tamu. Tanpa aba-aba, Sohee melemparkan bunganya.

“Wuhuuu~” Sorai para tamu bertepuk tangan ketika bunga sampai di tangan Seulgi.

Seulgi tampak syok kemudian menunduk, menyembunyikan rona di pipinya. Krystal yang berada di samping Seulgi ikut bertepuk tangan juga tersenyum lebar.

Perhatian Sehun sekarang tertuju ke Krystal. Gadis itu selalu cantik dimanapun dan kapanpun. Tapi entah mengapa, rasanya sangat berbeda ketika Krystal, yang kala itu menggunakan gaun bewarna putih pemberian Sohee, tersenyum lebar sambil berbisik-bisik bersama Seulgi.

Acara pernikahan berlanjut. Sehun dengan setia, yang tentunya di dampingi oleh Krystal, menemani Seojoon menyapa keluarga Sohee yang jumlahnya lumayan. Sehun juga bertemu dengan orangtua Sohee yang terbilang sangat santai dan lebih tepatnya tidak mengungkit-ungkit masalah keluarga Sehun. Mereka juga sangat ramah. Jangan lupakan keponakan Sohee yang berjumlah 4 orang masing-masing berumur 3 tahun. Sedari tadi sibuk menyapa Sohee dan Seojoon. Juga ikut bercanda bersama Krystal.

Langit mulai senja saat semua tamu pada pulang. Menyisakan pengantin yang sibuk mengurusi tempat pernikahan mereka kemudian Sehun dan Krystal. Sehun menarik tangan Krystal perlahan menjauhi tempat pernikahan. Menyusuri pantai Busan yang indah dan masih terjaga. Melihat deburan ombak yang tenang. Angin sisa-sisa musim dingin masih terasa dan semakin terasa dengan redupnya sinar mentari.

“Apa kakimu sakit?” Tanya Sehun ke arah Krystal.

Krystal melihat ke arah kakinya yang terbalut high heels putih, “Sedikit.”

Sehun berhenti berjalan dan sedikit membungkukkan badanya. Pelan-pelan ia melepas high heels Krystal.
“Sehun!” Teriak Krystal terkejut karena Sehun tiba-tiba mengendongnya.

“Lihatlah… Kakimu kembali membiru.”

Krystal tidak sempat membalas. Lagi-lagi Sehun berlari menuju bibir pantai. Membuat Krystal tertawa lepas. Ia mengalungkan lengannya ke leher Sehun.

“Kyaaa…” Sehun menjatuhkan Krystal ke pasir lagi dan membuat Krystal kali ini terkena ombak.

Krystal yang kesal mendorong kaki Sehun dan ia juga ikut terjatuh. Mereka akhirnya bermain air hingga Krystal memutuskan untuk menjauh karena kedinginan.

“Menggelikan…” Gumam Krystal kesal.

Sehun hanya tertawa, “Tapi kau senang.” Ia kemudian mengalungkan jasnya ke bahu Krystal. “Sebentar lagi matahari akan terbenam. Kau ingin pulang?”

Krystal menoleh ke arah Sehun, “Bisakah kita melihat matahari terbenam terlebih dahulu? Sudah lama aku tidak melihatnya.”

Sehun mengiyakan. Akhirnya mereka terduduk di pantai. Tepat di depan mereka, matahari siap-siap terbenam.

“Aku jarang sekali ke pantai.” Krystal kembali berbicara. “Aku membenci pantai. Intinya, aku membenci hal-hal yang membuatku bahagia bersama ibu ku.” Ia menghela nafasnya. Sedangkan Sehun diam mendengarkan.

“Merayakan ulang tahun, pergi ke pantai, bernyanyi bersama-sama,” Omongan Krystal terhenti saat air matanya turun. Sehun dengan pelan menarik Krystal ke dalam pelukannya. Krystal mulai lagi berbicara, “Terkadang aku suka bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi ketika aku bertemu dengan ibu ku lagi? Apakah aku akan marah dan tetap membencinya? Apakah aku langsung membalikan badan ku dan berjalan seoalah-olah aku sudah melupakannya? Bertahun-tahun aku memupuk rasa benci ku kepada ibu ku. Tapi… Tapi tidak ada satupun yang benar. Aku tercekat nyaris ketakutan ketika melihatnya.”

“Krys…” Sehun pun merasa aneh dengan akhir kalimat Krystal. Ia menatap wajah Krystal yang sedari tadi menempel di dada bidangnya.

Krystal menatap mata Sehun lamat-lamat sebelum ia berkata, “Aku bertemu dengannya. Ketika aku menangis dan mengatakan kepada mu agar jangan meninggalkan ku. Waktu itu semua kenanganku dengannya mengalir begitu saja. Dan aku merasa sudah menemukan jawaban dari pertanyaan ku. Pertanyaan ketika aku bertemu dengannya. Aku tidak akan siap bertemu dengannya. Sampai kapapun. Sampai aku bisa memaafkannya. Dan sayang, aku belum memaafkannya.”

“Aku akan berada di sebelah mu dan tidak akan pernah melepaskan mu.” Ucap Sehun sungguh-sungguh.

Air mata Krystal kembali meleleh. Krystal kembali berbicara. Menggumamkan sebuah kalimat yang tak diduga-duga, “Apakah aku akan menjadi ibu yang baik?”

“Tentu saja Krystal. Tentu saja.” Jawab Sehun cepat dan yakin. “Kau akan menjadi ibu yang baik. Aku yakin itu. Jangan pernah meragukan dirimu hanya karena masa lalumu. Itu sudah berlalu. Lihatlah dirimu yang sekarang.”

Krystal masih terdiam dan meneteskan air matanya.

Dengan lembut, Sehun menghapus air mata Krystal, “Semua akan baik-baik saja.”

Krystal kembali bersandar di dada bidang Sehun. Matanya terpejam menikmati dinginnya angin pantai. Sejenak hanya terdengar deburan ombak.

“Anak laki-laki atau anak perempuan?”

Sehun menoleh ke Krystal, “Apa?”

“Maunya anak laki-laki atau anak perempuan?”

Sebuah senyum tipis tersungging dibibir Sehun, “Bagiku, yang terpenting anak tersebut dilahirkan dari seseorang ibu yang aku cintai dan ibu tersebut sehat. Itu yang terpenting.”

Dalam sunyinya deburan ombak, Sehun kembali mengecup bibir Krystal.

Yah… Gak jadi ngeliat matahari terbenam dong…

.TBC.

Tenang-tenang…  Untuk beberapa chapter ke depan gak ada konflik berat..  Tapi gak tau nanti.  Target nyelesain ini adalah bulan desember/januari tapi kira-kira masih ada 10 chapter lebih (jika tidak ada perubahan konflik) Chapter selanjutnya akan di publish secepatnya *kaburrrrr