In The Snow (Chapter 3/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 3

When the temperature goes to 20 up degree, i felt the snow replaced by the flower who blooms.

.

.

.

Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah apartment.

Aaah~

Teriakan kencang di susul ledakan besar dari apartment yang baru saja ia keluari membuat ia terdiam sejenak. Kibum menatap apartment tersebut dengan kosong. Segera berjalan menjauhi. Menabrak beberapa orang yang mendekat ke apartment yang terbakar itu. Beberapa menghubungi pemadam kebaran. Beberapa hanya melihat apartment itu sambil berbicara kepada orang disebelahnya apa yang sebenarnya terjadi.

Kibum melangkahkan kakinya dengan cepat menuju apartment-nya. Begitu masuk, ia menemukan ketiga temannya menatapnya penuh harap.

“Bagaimana?” Tanya Jonghyun.

Kibum menggeleng, “Mereka tidak ada.”

“Mereka? Minho dan targetnya?” Kali ini Taemin menatap Kibum khawatir.

“Ku rasa terjadi sesuatu di sana. Aku menemukan darah di lantai. Kaca yang pecah yang kurasa dari tembakan. Tetapi tidak ada sama sekali peluru.” Ia mengeluarkan hp-nya, “Aku memotretnya. Juga mengambil sample darahnya. Ku rasa itu darah dari 2 orang. “ Ia memberikan hp-nya. Tangan Kibum kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Ini kedua sample darahnya.”

“Jonghyun tolong periksa sample-nya…” Jinki memberikan sample ke Jonghyun yang segera Jonghyun ambil. “Periksa kedua DNA darah kepada Minho. Baru kemudian periksa di database kita.” Jinki menatap Kibum, “Berikan aku ponselmu…”

Kibum menurut. Ia memberikan ke Jinki. Sekarang mereka ia, Kibum, dan Taemin melihat foto-foto yang diambil Kibum.

“Dari melihat fotonya ku rasa memang ada dua orang yang terluka. Satu masih bisa bergerak…” Taemin melihat fotonya dengan seksama. “Tetesan darahnya…”

“Itu mengarah ke lemari, ia mengambil handuk kalau tidak salah.” Kibum yang bersuara.

“Langsung ke lemari?” Kali ini Jinki yang bersuara.

“Mengapa?”

“Kenapa dia tahu jika handuk berada di lemari?”

“Okay, tunggu sebentar…” Kibum mengangkat salah satu tanganya. “Jangan bilang jika yang berjalan adalah Choi Jinri?”

“Minho tidak mungkin tahu dimana letak handuknya…”

“Tapi Minho tidur dengan Choi Jinri. Bisa jadi…” Taemin kembali melihat foto-foto yang Kibum ambil. Kibum dan Jingki menghela nafas lega mendengar perkataan Taemin.

“Hasilnya keluar!” Teriakan Jonghyun membuat mereka bertiga berlari ke sumber suara. “Sample A adalah darah Minho!”

“Sial!” Kibum menghela nafas kasar, “Sample A untuk genangan darah yang paling banyak. Yang tidak berjalan.”

“Bagaimana dengan Sample B?” Jinki menatap Jonghyun.

Jonghyun menatap komputernya, “Tidak ada hasilnya. Aku sudah memeriksa di data kita.”

Hyung…” Taemin mengusap mukanya kasar.

“Coba periksa di data perusahaan. Aku berpikir, bagaimana yang membantu Jinri selama ini bukan keluarga mafia tapi salah satu dari kita?”

“It’s worth to try….” Jari-jari Jonghyun dengan cepat menari di keyboard. Mengoperasikan program data base.

Ting!
“Kita mendapatkannya!” Teriak Jonghyun senang. “Dan ini menarik….”

Kibum melihat komputer dan berkata, “Aku setuju. Ini menarik….”

“Apa?”

“Tidak cocok 100% tapi cocok 55%. Hubungan saudara perempuan… Salah satu dari anggota kita. Namanya Lee Sungkyung. Ia bekerja sebagai dokter di perusahaan.”

“Alibi yang sempurna!” Taemin menggaruk kepala yang tidak gatal, “Coba pikirkan ini… Sungkyung menjadi dokter. Dokter di perusahaan mempunyai kelonggaran. Tugasnya hanya mengobati kita yang terluka. Tapi ia juga boleh cuti jika ia mau. Sungkyung bekerja di perusahaan kita itu artinya ia tahu yang terjadi di perusahaan kita!”

Jinki berbicara, “Dia tahu kapan nama adik perempuannya keluar… Ia tahu kapan adik perempuannya akan dibunuh. Dan ketika ingin di bunuh, Sungkyung mengambil cuti dan dialah yang menghentikannya sendiri.”

“Walau dia dokter tapi ia pasti dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran terlebih dahulu. Setidaknya dia bisa menembak bukan?” Kibum mengeluarkan pendapatnya.
“Cari file tentang Sungkyung dan kirim file nya ke hp kami!” Perintah Jinki dan Jonghyun segera melakukannya.

“Di mulai menjadi anggota sejak umur 20 tahun. Merupakan mahasiswi kedokteran ketika masuk ke organisasi dan menjalankan pelatihan selama tiga tahun tetapi tetap memilih jadi dokter. Mendapat nilai tertinggi di menembak dan ahli dalam menembak. Latar belakang berasal dari panti asuhan di kota Mokpo dan diangkat saat umur lima tahun. Kedua orangtua angkat meninggal sejak ia berumur 16 tahun. Meninggalkan ia dan dana tunjangan yang cukup besar untuk membiyai kuliahnya.”

“Aku menemukan sesuatu lagi!” Jonghyun kembali mengirimkan data yang ia dapat ke handphone teman-temannya.

“Ya ini menakjubkan…” Taemin kembali berkata, “Tempat cuti dan tanggal cuti tepat ketika Choi Jinri ingin di bunuh.”

Jinki kembali menatap Jonghyun, “Dimana Lee Sungkyung sekarang?”
Jonghyun segera mencari dan ia tersenyum melihat hasilnya, “Lee Sungkyung sekarang di kota ini. Dia tinggal di apartment sama dengan Jinri dan juga ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Jinri. Satu lagi, sebentar lagi shift kerjanya selesai.”

“Mari kita temui dia….”

.

.

.

.

.

“Hai nyonya Lee Sungkyung…” Kibum membuka tutup kepala Sungkyung.

Sungkyung masih meringis ketika sinar yang begitu terang masuk ke matanya. Ia memejamkan matanya. Kembali membuka ketika tersadar tangannya juga diikat.

“Maafkan kami yang harus memukul kepala Anda. Anda melawan cukup sengit tadi.” Taemin menatap Sungkyung dingin.

“Siapa kalian?” Tanya Sungkyung mencoba untuk tenang.

“Dia pintar berpura-pura bukan? Kau tidak tahu siapa kami?” Jinki menghela nafasnya kasar. Menatap Sungkyung tajam.

“Jangan lupakan ia juga sama seperti kita…” Jonghyun menatap Sungkyung sinis, “Kami satu perusahaan dengan Anda.” Lanjutnya masih sinis.

“Satu perusahaan…. Kalian dokter?”

Keempat orang di depan Sungkyung langsung tertawa keras. “Dia begitu hebat bukan?” Jinki mengeluarkan pistolnya. “Hentikan basa-basi ini. Katakan dimana Choi Minho sebelum kesabaran ku habis…”

“Bagaimana jika kesabaran mu habis? Kau akan menembak ku? Atau menyiksa ku terlebih dahulu?”

Mereka terdiam mendengar omongan Sungkyung. Sungkyung menatap mereka berempat dengan tenang. Terlalu tenang sebenarnya.

“Kau ingin bermain…” Kali ini Taemin bersuara. “Baiklah…” Ia mengeluarkan file Sungkyung, “Kau lihat logo ini… Kau bekerja disini. Sama seperti kita.”

Sungkyung menghembuskan nafasnya kasar, “Baiklah. Aku bekerja untuk ALC sama seperti kalian. Jadi apa sekarang?”

Taemin melemparkan file ke lantai, “Jawab pertanyaan teman ku. Dimana Choi Minho!”

“Aku tidak tahu dimana Choi Minho.”

“Mungkin kita harus memperjelas suatu.” Jinki kembali berbicara. Ia menurunkan pistolnya, “Kau pikir kita tidak tahu siapa kau sebenarnya… Tapi kita tahu! Kau adalah saudara perempuan Choi Jinri yang bekerja di perusahaan ini. Dari mana kami tahu? Kami mencocokan darah Jinri dengan DNA mu. Itu yang mengatakan jika kau saudara perempuannya.

Kau lah yang menghentikan setiap orang yang membunuhnya selama ini. Kami yakin, kau yang membuat teman kami sekarang menghilang. Kau pasti membunuhnya kemarin siang dan membawa mayatnya entah kemana saat ia coba membunuh saudara perempuan mu!”

Sungkyung menatap mereka berempat dengan tatapan tidak percaya, “Kalian membuatku khawatir sekarang! Apakah kalian baik-baik saja?”

Jinki mengarahkan senjatanya ke Sungkyung. Menatap Sungkyung datar. “Katakan yang penting atau kau akan menyesal. Teman ku menghilang dari kemarin siang. Itu petunjuk selanjutnya.”

“Baiklah… Baiklah….” Sungkyung menghela nfasnya, “Aku bekerja sebagai dokter di ALC dan tugasku mengobati pegawai ALC yang terluka. Tapi samaranku selalu sama menjadi dokter di gawat darurat. Sekarang katakan kepada ku, bagaimana aku bisa membunuh teman mu jika kemarin siang ada operasi gawat darurat dan aku baru pulang jam tujuh malam?”

Jinki, Kibum, Jonghyun, dan Taemin saling menatap.

“Aku tidak berbohong. Kau bisa mengeceknya sendiri.”

Jonghyun langsung mundur untuk mengeceknya.

“Ku harap kau tidak berbohong.” Ujar Kibum dingin.

Mereka terdiam hingga cukup lama. Sungkyung tiba-tiba berbicara, “Setelah ini usai aku akan melaporkan hal ini kepada atasan kalian.”
Jinki baru saja ingin menjawab tetapi Jonghyun sudah datang. Mendatangi mereka semua yang berada di ruang tamu. “Alibinya terbukti…”

Sungkyung kali ini tersenyum, “Kalau dipikir-pikir sekarang…. Aku bisa menjawab bagaiman aku bisa bersaudara perempuan dengan Choi Jinri. Ini hanya kemungkinan. Mungkin ayahnya Jinri mempunyai hubungan gelap dengan banyak wanita dan salah satu itu adalah perempuan yang melahirkan ku. Kemudian ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan perempuan itu menganggapku sebagai kesialan yang luar biasa dan membuangku di pantai asuhan. Bagaimana?”

Mereka tidak menjawab omongan Sungkyung. Kibum maju dan melepaskan ikatan tangan Sungkyung. Memotong tali dengan pisau lipatnya.

Sungkyung meringis akibat nyeri bekas ikatan. “Barang-barang ku sekarang!”

Taemin mengambil barang-barangnya. Memberikan jaket Sungkyung dan Sungkyung segera memakainya. Kemudian tasnya.

“Selamat tinggal.” Seru Sungkyung dingin. Sungkyung segera berbalik. Ingin mencari jalan keluarnya sendiri. Baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Jinki yang membuat ia meringis.

“Kami hanya mencoba menyalamtkan teman kami. Tolong pertimbangkan lagi tentang Anda yang ingin melaporkan kami…”

Sungkyung mendekat ke arah Jinki, ia menatap Jinki tajam, “Kau seharusnya mempertimbangkan segala hal termasuk alibi ku sebelum menyertku ke sini!” Sungkyung segera menghentakan tangannya kasar. Berbalik dan menghilang dari apartment.

Mereka terdiam memandang kepergian Sungkyung. Apa sekarang mereka harus menyerah?

.

.

.

.

.

Tidak ada yang berubah sama sekali. Setidaknya selama beberapa jam terakhir. Walau dokter sudah mengatakan ia akan selamat, tapi dirinya masih merasa tidak yakin. Ia menghela nafas. Merasa pengap berada di ruang bawah tanah, tempat persembunyiannya. Untuk beberapa saat disana, beberapa waktu lalu, ia sangat yakin orang yang sedang tidur ini akan pergi meninggalkannya. “Bangunlah….” Ujarnya lirih.

Trek~

Pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi masuk. Ia tersenyum sedih melihat orang yang ia sayangi menatap nanar seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. “Jinri…” Katanya lirih kepada gadis yang terus menerus menatap laki-laki yang bernama Choi Minho. “Istirahtlah… Kau juga lelah bukan? Jika terjadi apa-apa aku akan merasa sangat bersalah.”

Jinri menggeleng, “Aku tidak bisa Chanyeol! Aku tidak bisa!”

Chanyeol menghela nafasnya. Ia tidak menyangka hasilnya bisa seperti ini. Sungkyung dua hari yang lalu meneleponnya. Mengatakan jika ia butuh bantuan Chanyeol untuk mengurusi orang yang menargetkan Jinri. Ini untuk pertama kalinya bagi Chanyeol. Setahu Chanyeol Sungkyung selalu melakukan hal ini sendiri. Chanyeol akhirnya setuju karena Jinri. Sedikit tidak menyangka ia menembak Jinri yang untungnya terkena di bahu. Chanyeol ingin menembak laki-laki itu tepat di jantung yang meleset ke lehernya. Intinya sama saja buruk, lelaki itu akan meninggal dengan cepat.

Setelah itu Chanyeol segera ke kamar Jinri dan menemukan Jinri sedang menyelamatkan laki-laki itu. Ia melihat untuk pertama kalinya Jinri menangis. Untuk pertama kalinya Jinri mengatakan ia mencintai laki-laki itu. Chanyeol pun luluh. Dia akhirnya menyelamatkan laki-laki itu juga. Demi Jinri, sahabatnya yang pernah membantu Chanyeol dimasa-masa sulit.

“Aku tidak pernah menyalahkan mu Chanyeol…” Jinri berkata lirih. “Kalian semua melakukan ini demi kebaikan ku.”

Chanyeol mendekat dan menggenggam tangan Jinri, “Terimakasih…. Tapi bisakah kau lakukan hal itu untuk ku? Beristirahat?” Chanyeol tersenyum kecil, “Aku ada ide! Bagaimana aku menyediakan kasur disini tapi kau harus tetap di kasur tersebut huh?”

Jinri mengangguk, “Terimakasih…”

“Tidak usah berterimakasih kepadaku…” Chanyeol berbalik. Tapi baru beberapa langkah Jinri kembali memanggilnya. Menanyakan kabar Oennie-nya, “Oennie mu tadi menelepon ku. Ia baik-baik saja. Tapi teman-teman Choi Minho tadi mendatanginya. Untungnya ia punya alibi di rumah sakit.” Setelah itu, Chanyeol meninggalkan ruangan untuk mengambil kasur untuk Jinri.

.

.

.

.

.

Jinri berteriak senang ketika Minho dengan perlahan membuka matanya. Ia baru saja membuka jendela. Membiarkan angin musim semi masuk. Tiga bulan sudah berlalu. Mereka, ia dan Minho tidak lagi berada di bassmen bangunan di Jerman. Tetapi sekarang sudah kembali ke Jindo. Teman-teman Jinri, Sehun, Kai, dan Chanyeol melindunginya saat ini. Memberikan mereka sebuah rumah kecil.

Keadaan juga masih terkontrol untuk saat ini. Terakhir Sungkyung menginformasikan bahwa nama Jinri tidak muncul lagi di perusahaannya. Sungkyung mengatakan jika ada rapat untuk menghilangkan nama Jinri dari target untuk selamanya. Ini dikarenakan Jinri selalu bisa kabur dan Jinri berhasil menghilangkan Choi Minho, yang notabane-nya agen terbaik mereka.

“Minho… Minho kau sadar…” Suara Jinri begitu senang. Airmata menetes tanpa ia sadari.

Perlahan, karena tenaganya yang belum pulih, Minho mengangkat tangannya dan menghapus air mata Jinri. Bibirnya terbuka. Hal itu membuat Jinri mendekatkan wajahnya. “Kau… Cantik dengan rambut pendek mu.”

Jinri tertawa riang. Ia memang memotong rambutnya sangat pendek bermodel bob yang ia cat bewarna strawberry blonde. Untuk menutupi jejaknya.

“Bibirku tidak pedas Choi Jinri…”

Jinri kembali tertawa riang dan dengan cepat mencium bibir Minho.

Ketika Jinri dan Minho sedang berciuman, Chanyeol dan Sungkyung yang baru masuk terperanjat melihat mereka.

“Aku bersumpah dia baru saja sadar.” Bisik Chanyeol ke Sungkyung.

Sungkyung diam menatap Jinri dan Minho datar.

Ehm… Ehm….” Kata Sungkyung ketika Jinri dan Minho melepas tautan bibir mereka.

Jinri menoleh ke Oennie-nya, “Oh, Oennie…

Minho menoleh dengan perlahan, “Oennie?”

Sungkyung belum menjawab. Tetapi Chanyeol berjalan mendekati mereka. Menuju jendela kemudian menutupnya. Tak lupa juga gorden.

“Ada apa ini?” Minho menatap Chanyeol dan Sungkyung was-was. Ia butuh beberapa saat untuk mengenali Park Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa. Ini Oennie-ku…” Jinri tersenyum ke arah Minho. Mengenalkan Minho ke Sungkyung yang masih berdiri tak bergeming. Melihat respon Oennie-nya yang masih tidak mempercayai Minho, Jinri memutuskan untuk mengenalkan Minho ke Chanyeol, “Ini sahabatku, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangkat tangan kanannya, “Aku laki-laki yang menembakan peluru ke leher mu.”

Jinri menatap panik kedua orang yang belum menyambut Minho dengan baik.

“Aku mengenal mu Park Chanyeol.” Minho berkata lirih. Masih belum mempunyai tenaga.

“Jinri, kurasa… Kurasa Choi Minho membutuhkan minuman. Bagaimana kau mengambilkannya?” Sungkyung berkata tanpa melihat Jinri. Tatapannya lurus ke Minho.

“Oh….” Jinri ragu meninggalkan Minho kepada Oennie-nya. Bukan karena ia tidak percaya kepada Oennie-nya. Tapi dia takut bagaimana respon Minho nantinya.

“Tidak apa-apa…” Ujar Minho kepada Jinri. Minho dapat menangkap keraguan Jinri. Dia akhirnya berkata seperti itu. Pemikiran dasarnya? Jika orang-orang dekat Jinri ingin ia mati, ia pasti sudah mati dari lama.

Jinri kemudian tersenyum ke Minho, “Baiklah. Aku juga akan membawa makanan. Kau pasti lapar bukan?”

Ketika Jinri melangkah keluar. Chanyeol yang merasa di tatap tajam oleh Sungkyung mengerti ia juga harus keluar. Dengan tenang ia merangkul Jinri dan berkata, “Krystal mengirimkan mu cupcake. Dia berkata jika Olivia senang membuat cupcake akhir-akhir ini.”

“Benarkah?” Setelah itu percakapan mereka tidak terdengar lagi. Mereka sudah keluar dari kamar.

Sungkyung sedikit tersenyum ketika melihat Minho yang mendelik tajam ke Chanyeol dan Jinri. Ia benar-benar mencintai adik ku…
“Choi Minho…” Suara Sungkyung memanggil Minho. “Apakah kau benar-benar mencintai adik ku?”

Minho mengangguk mantap. “Ya.” Katanya untuk tambah meyakinkan Sungkyung.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Minho berpikir sejenak, “Aku akan keluar dari dunia ku agar bisa bersamanya. Aku ingin bersamanya…. Meski itu berarti aku kehilangan dunia ku.”

Mata Sungkyung membesar mendengar jawaban lugas Minho. Ia menganggukan kepalanya, “Kau tidak perlu keluar dari dunia mu. Perusahaan sudah menganggap mu mati. Kau tinggal membuat identitas baru saja.”

“Maksudmu?”

“Aku bekerja di perusahaan mu Minho. Aku menjaga Jinri adik ku dari ALC langsung. Aku memantau namamu dan Jinri. Untukmu, kau sudah aman.”

“Jadi selama ini percobaan pembunuhan Jinri gagal karena dirimu?”

“Ya!”

“Dan kau tidak pernah tertangkap sekalipun?”
Sungkyung menghembuskan nafasnya, “Sekali. Oleh teman mu. Mereka memeriksa darah Jinri dan menemukan kecocokan DNA dengan ku. Mereka menyeretku dan menanyakan dirimu kepada ku.”

“Kau memberi tahu mereka?”

Sungkyung menggeleng, “Tentu tidak. Pertama, itu karena aku sudah berjanji dengan Jinri untuk merahasiakan mu. Kedua, aku berpikir jika mereka mengetahuinya itu bahaya bagi mereka.”

“Apa yang terjadi pada mereka?”

“Aku melaporkan mereka. Mereka mendapat hukuman tapi mereka tetap menjadi agent. Mereka sekarang berpencar.”

“Berpencar? Apakah kau mencari mereka dimana?”

“Apakah aku pembantu mu?”

Minho terdiam mendengar jawaban dingin Sungkyung.

Sungkyung sendiri merasa perkataannya terlalu kasar. Ia menghela nafasnya, “Buat adik ku bahagia. Okay?”

Minho menganggukan kepalanya mantap, “Kau bisa memegang kata-kataku.”

.

.

.

.

.

~ 4 years later ~

Jinki merasa tubuhnya sangat lelah. Ia memasuki apartment yang telah ia tempati selama 4 tahun ini dengan mengusap-ngusap tenguknya. Begitu memasuki, ia merasa sedikit aneh karena ada paket yang tergeletak di meja ruang tamunya. Jinki mengeluarkan pistolnya dan mulai mengecek setiap sudut apartment-nya.

Aneh. Tidak ada seorang pun. Ia menghampiri paket yang merupakan amplop besar. Duduk di bangku sambil memperhatikan amplop tersebut. Terdapat tulisan di amplop tersebut, Untuk Charles Cho. Tangan Jinki bergetar. Tidak mungkin.

Ia segera menyobek amplop tersebut dan mendapati sebuah handphone layar sentuh. Jinki menghidupkan handphone-nya.Tidak ada apa-apa di handphone-nya. Hanya satu aplikasi dan itu merupakan video call. Jinki membuka aplikasi video call dan mendapati hanya ada satu nomor. Jinki menekan nomor tersebut.

“Anyeong hyung….”

Jinki tidak menyangka siapa yang ia lihat sekarang, “Minho…” Suara tercekat. “Itukah dirimu?”

Minho menganggukan kepalanya, “Ini aku.

“Kau selamat! Astaga! Bagaimana bisa?”

Isteri ku yang menyelamatkan ku…”

“Isteri mu?”

Choi Jinri hyung…”
Jinki terkekeh kecil.
Aku tidak bercanda hyung…”

“Aku tahu kau tidak bercanda. Aku hanya tidak menyangka. Hidup ini penuh misteri bukan?” Jinki kembali berbicara, “Jadi Minho, bagaimana bisa kau menyeludupkan amplop ini ke dalam apartment ku?”

Itu dulu apartment ku juga. Aku masih mempunyai kuncinya. Tapi aku meminta bantuan Sungkyung untuk menaruhnya di apartment mu.”

“Sungkyung… Lee Sungkyung?”

Minho mengangguk mantap, “Dia benar-benar saudara perempuan Jinri. Dan semua pemikiran mu terhadapnya benar.

“Jadi dia berbohong ketika menceritakan kemungkinan ia dapat bersaudara dengan Jinri?”

Minho terkekeh kecil dan mengangguk, “Dia berasal dari orangtua yang sama dengan Jinri.” Minho kemudian berkata, “Hyung ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Apakah kau tidak pernah pergi dari kota ini karena menunggu ku pulang? Aku meminta bantuan Sungkyung untuk mengkabari ku tentang kalian.

“Aku tahu setelah aku menghilang kalian tidak lagi menjadi satu tim. Aku tahu kau sudah diminta pindah beberapa kali tapi selalu menolaknya.Apakah karena diriku? Kau menunggu diriku? Apakah karena kau merasa bersalah kepada ku akibat memaksaku menutaskan kasus Jinri dengan segera?

Jinki menatap Minho lembut, “Aku tidak bisa menerima jika aku meninggalkan kota ini.”

Kau melakukan yang bisa kau lakukan. Kata-kata mu waktu itu adalah hal yang benar. Hanya saja hal-hal terjadi tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup ini penuh misteri bukan? Jangan terlalu keras kepada dirimu.

Jinki tersenyum, “Setelah menikah kau jadi sangat bijak kau tahu itu?”

“Bisakah hyung keluar dari balkon? Kau bisa melihat ku duduk di café depan apartment yang aku sendiri tidak tahu kapan ini berdiri. Banyak yang berubah dari kota ini dan aku sekarang menganggap kota ini sebenarnya indah.”

Jinki melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia tersenyum lebar ketika benar-benar melihat Minho. “Minho!”

Minho tersenyum dan melambaikan tangannya. Jinri juga berada di situ dan ikut menoleh ke arah Jinki. Sambil menggendong bayi, ia tersenyum ke Jinki. Ditengah-tengah Minho dan Jinri terdapat batita yang asyik memakan buburnya.

Hyung… Aku sudah bahagia dengan dunia ku. Bahagialah sekarang….”

.THE END.

A/N:

  • Cerita ini dibuat sebelum tanggal 18/12. Ketika tanggal itu saya sedikit ragu untuk memakai Kim Jonghyun sebagai cast. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya akan aneh melihat dalam satu tim hanya terdiri dari 4 orang sehingga saya tidak menghilangkan cast Kim Jonghyun. Maaf jika ada yang tersinggung dengan ada cast Kim Jonghyun di cerita ini……
  • Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

Advertisements

In The Snow (Chapter 2/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 2

When the temperature goes up, the snow is gone but i hope you’re not gone.

.

.

.

Apa yang Minho pikirkan pertama kali ketika melihat tulisan Choi Jinri? Dia merasa tidak bernafas. Tercekat. Seluruh udara seketika menghilang dan dia terpaku sejenak. Minho melirik foto targetnya dan informasi targetnya. Baru tiga baris, Minho langsung menutupnya. Ia tidak sanggup. Itu benar-benar Choi Jinri.

Choi Jinri si gadis aneh. Choi Jinri gadis yang tak takut keluar ketika mabuk. Choi Jinri yang mencium bibirnya. Choi Jinri yang menghabiskan waktu bersamanya kemarin malam. Minho meletakan file ke atas meja. Dia terdiam. Red tag, huh?

Red tag dimana ia bisa kabur sebanyak lima kali dan semua yang ingin membunuhnyalah yang mati. Red tag…

Tapi Jinri tidak seperti itu. Dia gadis yang ceroboh. Dia gadis yang aneh. Dia tidak terlihat seperti Minho yang kejam tak berperasaan. Dia gadis yang mempunyai mata polos dengan matanyalah Minho tertarik kepadanya. Dia… Dia berhasil membuat Choi Minho jatuh cinta kepadanya.

Minho menggigit bibirnya. Menatap papan tulisnya yang kosong. Sial!

.

.

.

.

.

Mentari mulai bisa dirasakan. Sinarnya tidak terlalu terang. Suhu dingin juga masih mendominasi. Tetapi sinarnya membuat tumpukan salju mulai meleleh. Burung berkicau sudah mulai terdengar. Minho menyesap kopi hitamnya perlahan. Kembali terdiam.

Sudah hampir empat minggu ia pergi menjauh untuk sementara. Dia tidak bisa menerima yang terjadi saat ini. Hal menakjubkan adalah tidak ada teman satu timnya yang mengetahui hal ini. Hal dimana ia pergi menjauh. Teman-temannya berpikir dia sedang asyik mengintai. Padahal ia sedang menghabiskan waktu di tempat yang jauhnya dua jam dari kota suram itu.

“Ingin menambah kopi lagi?”

Minho tertegun mendengar suara laki-laki di belakangnya.

“Minho…” Jinki kemudian duduk di depan Minho. Tersenyum lembut dan mulai menyesap kopi.

Hyung…” Minho masih bingung kenapa Jinki bisa ada disini. “Kau disini karena kasus baru?” Tanyanya berusaha santai.

Jinki tersenyum, “Aku kesini karena dirimu.”

Minho tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Sedang asyik mengintai.” Bohongnya. Tidak ada yang perlu mengetahui masalah ini. Tidak ada. Dia pasti tidak akan selamat jika ada yang mengetahui masalah ini.

“Benarkah?” Jinki menurunkan senyumannya. “Jadi dimana targetmu?”

Minho kali ini tidak bisa menjawabnya. Ia menyeruput kopi yang tidak hangat lagi.

“Aku datang kesini karena bos menanyakan kepadaku tentang dirimu. Dia ingin kabar kasus terbaru dari mu.”

Minho menghela nafasnya, “Hanya itu?”

“Choi Minho!” Suara Jinki mulai berubah menjadi serius. “Target mu… Aku membaca file nya dan sedikit mengikutinya.”

Kali ini Minho menatap Jinki, “Mengikutinya?”

“Dia tidak tinggal terlalu jauh dari mini market apartment kita. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit di kota kita.   Dia tidak terlihat bahaya. Tapi aku mulai berpikir kenapa hal itu membuat mu…. Menjauh… Kemudian aku menyelidiki dari mini market dan berhasil mendapatkana informasi dari José. Kau tahu José bukan? Si Penjaga mini market? Dia mengatakan jika target mu dan dirimu mengobrol jauh sebelum dia menjadi target mu. Sebuah pemikiran masuk. Apakah dia yang bersama mu ketika malam tahun baru?”

Minho memejamkan matanya mendengar penjelasan Jinki yang sangat cerdik. Jinki mendesis, “Sial Minho! Jangan katakan aku benar!” Nada suaranya semakin serius.

“Itu benar!”

Jinki menghela nafasnya, “Sial! Aku terkadang benci dengan pemikiranku!”
“Aku butuh menjauh sedikit. Ini gila hyung! Aku bukan hanya tidur dengannya! Aku mengobrol dengannya beberapa kali dan dia—“

“Aku tahu!” Potong Jinki. “Kau memang bisa dikatakan brengsek karena tidur dengan setiap wanita dari kota yang kita singgahi. Tapi aku tahu kau menganggap wanita yang kau tiduri tidak bahaya. Kau berhati-hati dengan itu. Tapi target kita sudah berhasil kabur sebanyak lima kali!”
Minho mengusap mukanya kasar, “Maksudmu ia sengaja mendekati ku karena tahu aku yang akan membunuhnya?”

“Bukan! Bukan itu maksud ku! Target ke kita terpilih secara acak. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuhnya adalah ketika file nya dikeluarkan. Dia tidak mungkin tahu siapa yang akan membunuhnya. Intinya adalah, dia sudah melakukan ini sejak lama dan dia terbiasa menyamar sebagai orang biasa. Dimatamu mungkin dia aneh atau ceroboh atau bodoh. Tapi itu tidak menunjukan dia tidak tahu dia akan dibunuh. Dia pasti tahu. Entah bagaimana caranya.”

Minho menggeram kesal.

“Minho…” Jinki kali ini memanggil Minho lembut, “Kau sudah membaca file sampai tuntas?”

Minho menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Bacalah kumohon… Bacalah sampai tuntas. Kau harus menghadapi ini.”

Hyung aku—“

“Yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri adalah dirimu.” Jinki kembali memotong. “Aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa dan kau tahu itu!” Jinki menyeruput kopinya yang sudah dingin, “Aku akan berbohong kepada bos untuk kali ini. Mengatakan jika kau sedang menyamar dan aku sudah mengirimkan pesan untuk mu agar menghubunginya. Paling lambat besok kau akan menghubungi bos. Itu artinya kau harus kembali ke apartment paling lambat besok. Ku harap ketika kau kembali kau juga sudah siap untuk membunuh gadis itu. Jika tidak… Aku akan lepas tangan dari masalah ini.”

Minho terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Aku balik. Berpikirlah dengan jernih Minho!” Ia bangkit dari kursi dan menepuk pundak Minho pelan.
Tak lama setelah kepergian Jinki, Minho memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan keluar dari restaurant di hotelnya dan menuju lantai tiga. Masuk kekamar 329. Mengambil file yang terletak di tasnya.

Minho memejamkan mata sejenak sebelum mulai membacanya.

Choi Jinri. Jenis Kelamin: Perempuan. Umur: 24 tahun. DOB: Busan, 29 Maret. Lulusan ilmu keperawatan Universitas Sungkyunkwan 2 tahun lalu. Lahir di Busan dan menghabiskan waktu disana sampai berumur 3 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota kecil bernama Jindo dan bekerja sama dengan keluarga mafia lainnya, Keluarga Oh, Keluarga Kim, Keluarga Park, dan Keluarga Tuan. Ia tinggal disana hingga berumur 15 tahun, yaitu saat Choi Enterprise, perusahaan keluarganya bangkrut akibat Skema Ponzi. Ayahnya, Choi Jinsil meninggal di penjara karena dibunuh. Ibunya, Shim Haemin bunuh diri. Keempat anaknya termasuk Jinri melarikan diri. Dua telah berhasil dibunuh sisa dua lagi yang kabur, dimana satu anak sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Jinri selama ini berhasil kabur entah bagaimana caranya. Semua orang yang menyelidikinya hilang. Semua orang yang bertugas membunuhnya malah berakhir dibunuh. Kemungkinan terbesar sampai sekarang ia berhasil selamat sampai saat ini karena dibantu oleh keluarga mafia lain.

Minho menghela nafasnya ketika selesai membaca halaman pertama dari file Jinri. Perkataan Jinki berputar di benaknya, Jinri sudah lama berada hidup dengan menyamar.

Minho membuka halaman kedua.

Nama lainnya: Koo Hyunah, Cho JungAh, Yoo Hain, Bae Yunmi. Dia berhasil lulus dari Universitas Sungkyunkwan dengan nama Park Anna dan 2 tahun belakangan ini dia memakai nama lahirnya kembali, Choi Jinri. Dia merupakan sahabat dari Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol. Juga sempat mempunyai hubungan dengan Nam Joo Hyuk untuk waktu yang lama. Dari umurnya 14 tahun hinggal 20 tahun.

Setelah itu, tidak ada lagi tulisan. Tetapi semuanya foto-foto. Foto-foto ketika Jinri kecil. Bersama teman-temannya, Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol.

Minho tahu mereka. Trio Bangsat. Nama yang disematkan kepada mereka bertiga. Mereka bertiga merupakan pemimpin dari keluarga mafia yang paling merugikan pemerintahan Korea Selatan, tapi tidak bisa ditangkap. Juga ada foto-foto Jinri dengan Nam Joohyuk. Lagi-lagi Minho mengenal Nam Joohyuk. Dia merupakan salah satu anggota keluarga mafia. Well, hidup gadis ini ternyata dikelilingi oleh mafia. Gadis ini terbiasa dengan lingkungan suram.

Minho menutup file nya dan menaruh file dalam tasnya. Baiklah, ia akan mengakhiri ini.

.

.

.

.

.

Minho menunggu Jinri di depan apartment-nya. Di ayunan depan apartment, lebih tepatnya. Setelah membaca file-nya Minho langsung pulang. Memberi tahu bosnya dia akan menyerang Jinri malam ini setelah gadis itu pulang kerja. Minho menatap ke arah depan. Bersiap-siap untuk menembak dengan pistol yang sudah di kasih peredam.

Kriett~

Minho memainkan ayunannya. Mengisi kekosongan dengan suara nyaring besi.

Kriett~

Kriett~

Kemudian Minho dapat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam setengah delapan. Jinri pernah bilang jika ia biasa pulang jam tujuh malam bukan? Minho siap-siap berdiri. Mengambil pistolnya ketika ia melihat perempuan berambut hitam panjang yang tak lain adalah Jinri.

“Minho!” Gerakan Minho terhenti. Ia meletakan pistol dengan pelan.

Sial! Jinri melihatnya dan sekarang ia sedang tersenyum ke arah Minho.

“Minho!” Jinri berjalan mendekati Minho dengan tersenyum lebar.

Jangan! Jangan! Jinri harus berbalik sekarang atau tidak Minho tidak akan bisa menembak gadis itu. Jinri harus tidak melihatnya. Minho hanya bisa terdiam ketika Jinri sampai di depannya. Jinri tersenyum sangat lebar di depannya. Mata polosnya berkilat senang.
“Aku tidak melihat mu untuk waktu yang sangat lama!” Seru Jinri senang. Minho dapat merasakan jika Jinri benar-benar senang melihatnya.

Minho terdiam. Sekarang perasan rindu mulai membanjirinya. Merendam rencana yang sudah ia susun tadi. Minho berpikir keras. Bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya sekarang?

“Aku… Aku merindukan mu…” Lagi-lagi, Minho dapat melihat rona merah menjalar di pipi Jinri. “Kenapa diam saja?”

Minho menarik Jinri kedalam pelukannya. Dengan pikiran buntunya sekarang, ia akan mengeluarkan pistolnya sekarang kemudian akan menggunakannya untuk menembak Jinri. Dengan itu ia dapat menyelesaikan tugas nya dengan cepat. Juga ia tidak harus melihat wajah Jinri.
“Minho!” Lagi-lagi gerakan Minho ingin mengambil pisto terhenti. Jinri melepaskan pelukannya. Memegang wajah Minho dengan kedua tangannya, “Kenapa diam saja? Kau membuatku khawatir?”

Minho bernafas dengan sangat berat sekarang. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Jinri. Mengeratkan pelukannya. “Bolehkah?” Tanyanya sambil melihat bibir Jinri.

Jinri langsung menjawab dengan mencium bibir Minho. Minho membalasnya tak kalah cepat.

“Kau kenapa?” Tanya Jinri ketika tautan bibir mereka terlepas. Nafas Jinri terengah-engah.

Minho mengelus wajah Jinri perlahan, “Aku merindukan mu…” Ia mulai mencium Jinri kembali. Melupakan tujuan awalnya.

.

.

.

.

.

Jinri bangun dan mendapati Minho tidak ada. Ini kedua kalinya Minho menghilang tanpa membangunkannya sedikitpun. Apa ia terlalu lelah hingga Minho berpikir untuk tak membangunaknnya? Jinri ingin ketika ia bangun Minho berada di sampingnya.

Ketika bangun dan melihat apartment seksama, Jinri mendapati Sungkyung duduk di meja dapurnya, yang tak jauh dari tempat tidurnya. Menatap Jinri datang.

“Oennie…”

Sungkyung bangun dan mendekati Jinri.

Plak!

Jinri terperanjat ketika kakak perempuan menampar dirinya, “Oennie…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Choi Jinri!” Sunkyung berteriak di depan muka Jinri, “Apa yang kau lakukan dengna Choi Minho?!”
Oennie dengarkan… Hubungan aku—“

“Tidak kau yang dengarkan!” Sungkyung memotong omongan Jinri. Mukanya merah menahan emosi, “Choi Minho adalah orang yang akan membunuh mu dan kau menidurinya sekarang!”

Oennie pasti bercanda bukan?!”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!” Sungkyun menghela nafasnya kasar, “Aku tidak bercanda! Dia kemarin malam berada di luar apartment mu untuk membunuh mu! Aku sudah bersiap-siap untuk membunuhnya! Jika saja kau tidak mendatanginya kemudian memeluknya sehabis itu berciuman dengannya dan sekarang kau berada di tempat tidur tanpa pakaian!”

Air mata Jinri sudah menetes. Hatinya sakit. “Oennie…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinri. “Dia… Dia tidak seperti itu…”

“Apa yang kau tahu tentang dia Choi Jinri? Hidupnya sebagai pembunuh bayaran seperti ini. Kata apapun yang ia ucapkan adalah kebohongan karena ia hidup di kebohongan!”

“Oennie…”

“Katakan kepadaku… Apa yang kau ketahui tentang dia?”

Jinri terdiam. Tidak ada… Yang dia ingat adalah Minho pernah mengatakan kepadanya jika ia sedang mengekspansi perusahaan jasanya. Yang sekarang terdengar sangat rancu kalau bisa dibilang. Kemudian kedua orangtuanya yang entah mengapa Jinri tidak mempercayainya sekarang.

Jinri memejamkan matanya, “Tidak ada…”

“Bagus.” Sungkyung tersenyum sinis. “Kau pergi sekarang Choi Jinri! Pergi dari kota ini! Dia pasti akan mengejarmu! Serahkan saja ia kepada ku!” Sungkyung berbalik dan berjalan ke arah lemari. Membukanya dan mulai mengeluarkan baju-baju Jinri.

“Kau harus selamat. Hanya kau satu-satunya yang selamat dari keluarga kita!”

Air mata Jinri tidak bisa berhenti menetes. Ia menundukan kepalanya, menatap bulir-bulir terjatuh dan membasahi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Kedua tanganya yang terletak di dadanya meremas selimut dengan kencang. Dia tidak akan berbohong, rasanya sakit… Sakit yang tak pernah ia rasakan. Sakit yang berbeda ketika ia tahu keluarganya satu-satu meninggalkannya.

“Aku tidak ingin…”

Sungkyung menghentikan gerakannya yang mengeluarkan pakaian Jinri ketika mendengar suara lirih. Ia menatap Jinri dengan tatapan tajam.

Jinri menatap Sungkyung, bibirnya bergetar ketika ia mengatakan, “Aku tidak ingin tanpa dirimu… Ayo selesaikan ini bersama-sama!”

.

.

.

.

.

Setelah misi Minho gagal, yang itu merupakan pertama kalinya bagi seorang Choi Minho. Tanpa jeda sedikitpun, ia berencana menyelesaikan misi yang tertunda kemarin hari ini. Minho memasuki mini market untuk membeli 4 sandwich. Rencananya dia akan membawa sandwich ke apartment Jinri. Berbasa-basi sejenak, mengatakan ingin makan siang bersama. Ketika Jinri membuka pintu apartment-nya dan Bam! Semuanya selesai. Misi tercapai!

Ngomong-ngomong, Minho mengetahui Jinri ada di apartment-nya karena ia tidak sengaja membaca jadwal agenda Jinri, yang gadis itu pampangkan di dinding apartment-nya, mengatakan jika hari Jum’at ia libur.

“Porsi makan teman-teman mu berkurang sekarang?”

Minho tersenyum mendengar perkataan José. Dia rasa laki-laki itu sebenarnya ramah, hanya pelanggan saja yang tidak ramah kepadanya. “Ini bukan untuk teman-teman ku. Aku punya rencana lain.”

José mengangungk-anggukan kepalanya seakan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Penjaga mini market pun menyebutkan harga 4 sandwich dan segera saja Minho membayarnya.

Setelah itu, Minho melangkahkan kakinya menuju apartment Jinri. Ia melangkah dengan pasti. Berharap yang terbaik.

Tok! Tok! Tok!

Minho dengan segala kepercayaan diri yang tersisa mengetuk pintu apartment Jinri.

Tok! Tok! Tok!

“Jinri….”

Tok! Tok! Tok!

Ketika ia mengetuk untuk ketiga kalinya, Minho mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa Jinri keluar? Tangannya terulur ke gagang pintu. Membukanya perlahan dan…. Pintu apartment nya tidak di kunci?

Minho mulai memikirkan scenario terburuk. Jinri sudah mengetahui bahwa Minho mengincarnya. Sekarang dia sedang menunggu di dalam dengan memanfaatkan kepanikan Minho karena Jinri tidak membukakan pintu denganya.

Brak!
Minho mendobrak pintu apartment Jinri dan mengacungkan pistolnya. Ia menelan ludahnya ketika melihat Jinri duduk di depan meja rias. Tak jauh dari apartment tidurnya. Memandangi dirinya di depan cermin. Sama sekali tidak bergeming mendengar suara keras tadi. Apartment gadis itu juga agak gelap karena Jinri menutup gordennya.

Perlahan, Minho menurunkan pistolnya. Memperhatikan Jinri seksama. Gadis itu… Rambutnya yang hitam panjang ia biarkan tergerai. Ia memakai kemeja putih dilengkapi oleh celana panjang putih.

“Bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak suka pintu yang terbuka.”

Suara dingin Jinri membuat Minho terdiam sesaat. Tetapi ia tetap menutup pintu untuk Jinri.

Jinri sekarang menatap Minho. Tatapan gadis itu dingin. Minho bersumpah ia lebih baik melihat senyuman misteriusnya daripada tatapan dinginnya.

“Kau ingin mendengar sebuah cerita dari ku?” Jinri bertanya tanpa benar-benar menatap Minho. Tatapan gadis itu menarawang ke suatu tempat yang sangat gelap, “Aku membenci pekerjaan mu. Pekerjaan mu merebut semua orang yang ku cintai.” Ia menghela nafasnya, “Ayahku adalah orang terhebat di dunia. Dia mungkin di jalan yang salah, tetapi ia menyayangi keluarganya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walau itu tidak sejalan dengannya. Sayang, ia terlibat dengan skema ponzi dan entah kenapa, dia!” Suara Jinri sedikit menjadi lebih tinggi, “Dia… Dia yang tidak bersalah dibunuh oleh pelaku yang sebenarnya… Tunggu, pelaku yang sebenarnya menyewa seseorang untuk membunuhnya lebih tepatnya. Ketika ia pergi, ibuku yang tidak sanggup akhirnya memilih ikut dengannya. Kalian… Kalian membunuh kedua orangtuaku!

“Kalian juga membunuh oppa ku! Oppa ku yang sampai sekarang mayatnya tidak tahu dimana! Dan kalian juga membunuh dongsaeng ku… Dia tidak bersalah… Dia saat itu hanya kelas dua SD…” Air mata Jinri menetes. Ia menghapusnya kasar, “Bagian terhebatnya adalah, karena kalian mengejarku, aku tidak pernah mengenang mereka! Memberikan perpisahan yang layak untuk orang-orang yang meninggalkan ku!”

“Kau masih punya saudara satu lagi. Dan identitas dia masih menjadi misteri hingga saat ini…” Ujar Minho berusaha untuk tenang.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Semuanya kosong! Aku sering menanyakan kenapa aku bisa hidup sampai sekarang? Kenapa tidak ada yang bisa membunuh ku?”

“Cerita sedih mu tidak akan menghentikan ku untuk membunuh mu.” Minho mulai mengacungkan pistol yang tadi sempat ia turunkan.

“Kau tahu sudah berapa lama aku kabur seperti ini? Aku kabur sejak umur 16 tahun. Sudah delapan tahun hidupku menggantung seperti ini.” Jinri mendekat ke arah Minho. Hal itu membuat Minho berekasi. Ia benar-benar mengarahkan pistolnya ke Sulli. Tapi ia tidak menembaknya. Minho berjalan mundur, menjauhi Jinri Kakinya melangkah cepat hingga mereka terpisahkan oleh tempat tidur Jinri.

“Akhiri penderitaan ku kumohon… Tembak aku sekarang… Aku lelah…” Jinri berkata lirh. Sangat lirih. Ia mendekat ke arah Minho yang terdiam. Berhenti ketika jarak mereka sudah tak terlalu jauh, tapi juga tak terlalu dekat.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengakhiri hidup mu?” Suara Minho sekarang mulai bergetar. Dia juga sudah mulai ragu untuk menuntaskan misi ini.

“Impian ku sedari kecil adalah meninggal dikelilingi oleh orang yang kucintai. Mereka sudah pergi sekarang. Tapi… Tapi aku mencintai mu… Kurasa itu yang terbaik.”

“Choi Jinri…” Tangan Minho sekarang sudah bergetar, “Apa kau menantang ku sekarang? Kau pikir aku tidak akan menembakan pistol ini ke arahmu?”

“Aku tahu kau akan menembakannya. Kau yang terbaik dalam eksekusi. Aku tahu…. Aku tidak pernah ragu kepada mu…”

“Akan kulakukan!” Minho membuka gorden apartment Jinri. Membiarkan cahaya masuk agar ia dapat melihat Jinri lebih jelas. Ia mundur dua langkah dan menyiapkan pistolnya.

“Ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi bisakah kau memelukku setelah kau menembak ku?” Jinri mulai tersenyum. Senyum itu bukan senyum misterius. Senyum itu merupakan senyum bahagia. “Terimakasih….” Jinri memejamkan matanya.

Tangan Minho mulai bergetar hebat. Ia menelan ludahnya. Sekarang ia ragu. Benar-benar ragu. “Aku tidak bisa!” Minho menurunkan pistolnya. “Aku juga mencintai mu…”

Jinri membuka matanya. Ia menatap Minho tidak percaya. Ia maju selangkah, ingin menggapai Minho. Tetapi terganggu oleh suara nyaring dari kaca jendela kamarnya yang pecah.

“Ah!” Minho terkejut bukan main ketika Jinri dengan sigap memeluknya. Membiarkan dirinya terkena peluru entah dari mana. Jinri mengerang kesakitan dan ia terjatuh. Minho menahan tubuh Jinri.

“Jinri…” Minho menekan luka Jinri yang berada di bahunya.

“Kabur… Lari sekarang Choi Minho…”

“Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan mu! Tunggu!” Minho mengendong tubuh ringkih Jinri. Ingin membawanya segera ke rumah sakit. Melupakan semua misi bodohnya. Dia tidak akan menyelesaikan misi bodohnya ini.

Tapi Minho tidak melihat, sebuah peluru mengarah kepadanya.

Akh!

“Minho…”

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

In The Snow (Chapter 1/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 1

When the temperature goes to minus degree, the snow fall so does you

.

.

.

Minho merapatkan jaketnya. Mulutnya berasa kebas karena terlalu banyak mengumpat. Sial!

Lagi-lagi, ia mengumpat. Minho menghela nafasnya. Membuat udara putih keluar. Dia kembali berjalan melintasi bangunan yang rata-rata sudah mau tutup. Jika ia tadi tidak bertaruh dengan Kibum, Minho tidak akan keluar di suhu minus derajat ini. Sayang, ia tadi terlalu bosan hingga bodohnya memilih untuk bermain dan akhirnya kalah. Minho harus pergi ke mini market terdekat dari asrama mereka dan membeli sandwich.

Teman-teman mengidam-ngidamkan sandwich yang berisi Coronation Chicken di musim dingin yang mencengkam ini. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah mereka. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Suara bel berdenting membawa susasana hangat yang membuat Minho menghela nafas lega. Penjaga toko menatap Minho datar sebentar dan kemudian lanjut menonton tv dimana para artis menyanyi. Tidak ada ramah sama sekali.

Minho sama sekali belum terbiasa dengan ketidak ramahan masyarakat Jerman. Padahal sudah tiga bulan ia disini. Tetapi tetap saja rasa jengkel kerap menghampirinya ketika melihat sikap mereka yang seperti itu.

Ia segera menuju tempat sandwich berada. Mengambil 10 sandwich beku dan menyerahkannya ke kasir untuk dihangatkannya.

Penjaga mini market melihat sandwich malas, “Kau mengadakan pesta anak muda?”

Minho tahu itu sindiran untuknya. Siapa yang membeli sandwich beku sebanyak ini?

“Untuk cadangan makanan di rumah.” Jawabnya malas.

“Cadangan yang banyak.”

“Kau tidak tahu betapa banyak porsi makan teman-teman ku.”

“Sekarang terlihat berapa besarnya dari sandwich yang kau beli. Tunggulah terlebih dahulu… microwave kecilku hanya bisa menghangatkan tiga sandwich.”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memilih duduk di bangku yang disediakan mini market. Bangku beserta meja untuk orang yang memilih makan di mini market ini. Minho mengamati jalanan yang sepi. Mencekam. Tidak ada harapan sama sekali. Hanya dia berharap dia akan pulang secepatnya. Ditarik ke tempat yang lebih hangat. Atau setidaknya lebih ramai.

Ting!

Suara bel, yang bukan dari microwave, tetapi dari pintu mini market berhasil menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Hai, José!”

Lady, kau datang lagi…”

Okay, ini menarik. Apakah penjaga mini market yang tidak pernah berbicara itu baru saja membuka mulutnya dan mengeluarkan suara? Minho sedikit menoleh dan mendapati José-yang ternyata namanya- sedang berbincang dengan gadis berambut hitam. Hitam? Ini lebih menarik. Kota kecil ini rata-rata memiliki penduduk dengan rambut cokelat tua.

“Ku harap kau masih ada sandwich dan beberapa kerpik kentang.” Suara gadis itu halus dan entah mengapa Minho bisa menangkap gadis itu sedang tersenyum.

“Tentu. Ada hotdog mana tahu kau bosan.”

“Sempurna…” Gadis itu segera berbalik. Disitulah Minho dapat melihat rupa gadis itu yang ternyata berasa dari Asia, sama sepertinya. Gadis itu langsung saja menuju wilayah makanan ringan.

Merasa ia terlalu banyak memperhatikan orang, yang merupakan kebiasaan yang dianggap buruk disini, Minho memilih memandang jalanan lagi.

“Yang benar saja, Lady…” Suara José kembali terdengar. “Kau membeli 4 sandwich? Apakah kau ingin mengadakan pesta? Jangan lupa keripik kentang dan soda yang juga kau beli!”

Gadis itu tertawa riang, “Teman ku memang datang kesini.”

“Kau ingin sandwich-nya di hangatkan bukan? Kau harus menunggu agak lama. Kau lihat lelaki yang sedang duduk itu? Dia membeli 10 sandwich dan aku baru menghangatkan tiga.”

“Aku akan menunggu nya.”

“Tunggulah…”

Minho dapat mendengar langkah gadis itu mendekat. Dia merasa jika gadis itu duduk tepat di sebelahnya. Menatap jalan yang suram. Kemudian ia menoleh melihat Minho yang mau tidak mau membuat Minho ikut menoleh juga.

“Asia?” Tanya gadis itu sedikit terkejut. “Ku pikir hanya aku saja yang tinggal disini.” Lanjutnya dengan bahasa Jerman kelewat lancar.

Minho sedikit tersenyum, “Aku juga berpikir seperti itu. Selain teman-teman serumahku yang juga berasal dari Asia.”

“Setidaknya kau tidak tinggal sendiri…” Nada suara menggantung di udara. Ia menghela nafasnya, “Senang bertemu dengan mu. Aku Jinri.”

“Apakah kau selalu seperti ini jika bertemu dengan orang? Maksudku kau sangat akrab dengan José tadi.” Minho tidak bersikap kasar. Tidak. Ia hanya bersikap sewajarnya. Kota ini aneh dan lebih bagus jangan terlalu baik dengan orang.

Jinri menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman yang Minho tidak tahu apa artinya itu, “Kau pasti menganggap ku aneh bukan? Aku rasa aku memang sedikit gila ketika terdampar disini tanpa mempunyai teman.”

“Bukan itu maksudku…” Sekarang ia merasa bersalah. Minho melihat Jinri sudah menatap kembali jalan. Terdiam. Ia menghela nafas dan juga memilih menatap jalan. “Aku Choi Minho.” Kata Minho akhirnya dengan bahasa korea, “Kau dari Korea bukan?”

“Aku tidak menyangka menemukan seseorang yang berasal dari negara ku di kota kecil ini.” Jinri melebarkan senyumannya. “Choi Jinri.”

“Kita mempunyai nama marga yang sama. Kebetulan yang luar biasa.”

“Ya. Kebetulan yang luar biasa.” Lagi-lagi, suara Jinri menggantung di udara. Ia masih menatap jalan.

“Aku tidak bermaksud bersikap kasar tadi.”

“Aku tahu.” Jawab Jinri pendek. “Aku memang aneh.”

“Bukan itu—“

“Aku mengerti…” Jinri kembali menatap Minho dan tersenyum. “Aku memang aneh.”

Minho menjadi bingung ingin bicara apa. Beruntungnya, kalau bisa dibilang, ia diselamatkan oleh José yang memanggil dirinya mengatakan sandwich sudah hangat.

“Aku duluan…” Ujar Minho pendek dan segera ke kasir. José memasukan sandwich Minho ke kantung belanja dan mengatakan harganya. Minho membayar dalam diam.

“Gadis itu gadis yang baik. Selama menjadi penjaga disini tidak ada yang menyapaku sehangat dia.” José tiba-tiba berbicara kepada Minho, yang dimana itu baru pertama kalinya, diluar konteks beli-membeli, dan dia memberikan kembalian kepada Minho.

“Terimakasih…” Minho sedikit tersenyum ke José. Berbalik dan melambaikan tangannya ke Jinri. Kemudian keluar. Tidak berniat membalas ucapan José. Tidak berniat mengingat siapa Jinri itu.

.

.

.

.

.

Ini kali kedua Minho menuju minimarket. Kali ini ia tidak membeli makanan untuk temannya. Tetapi untuk dirinya sendiri. Setelah teman-temannya menghabiskan satu porsi pizza berukuran besar tanpa menyimpan satupun untuknya. Sama seperti sebelumnya, ia mengutuk kesal teman-temannya. Bingung kenapa bisa ia bertahun-tahun satu tim dengan mereka. Bingung kenapa pekerjaannya lebih berat daripada mereka.

Kau yang terhebat Minho…

Ya. Itu kata atasannya tapi entah mengapa ia malah terdampar disini. Bahkan ketua tim tidak dijabat oleh dia tetapi oleh Jinki. Memasuki minimarket tanpa menyapa dan kemudian langsung mencebik ketika melihat sandwich habis. Satu-satunya pilihan Minho adalah hotdog yang harganya lebih mahal. Tapi daripada lapar, akhirnya ia memilih hotdog. Begitu selesai membayar, Minho segera memakannya.

Rasanya lebih lezat. Entah karena perutnya yang lapar. Atau karena hangatnya hotdog ketika melewati kerongkongannya dan tetap terasa hangat di perutnya. Menyenangkan. Ia Sibuk mengunyah sambil berjalan. Minho asyik memakan hotdog-nya.

Kriett—

Suara besi berkarat terasa begitu keras hingga Minho mengalihkan pandangannya. Menemukan gadis berambut hitam, si Jinri, kalau tidak salah. Menaiki ayunan dengan baju tebalnya sambil menunduk. Apakah gadis itu tidak takut? Ini sudah jam sepuluh malam dan dia masih bermain ayunan tidak jelas. Anehnya, bukannya berjalan tidak peduli, Minho mendekati Jinri. Ia memasukan hotdog ke kantung jaketnya.

“Hai, gadis aneh….” Sapa Minho ketika memasuki taman dipenuhi salju. Tengah-tengahnya terdapat ayunan yang diduduki Jinri.

Jinri dengan pelan menoleh. Mendapati Minho tak jauh darinya sambil tersenyum, Jinri mengeluarkan senyumannya. Minho dapat menyadari jika muka gadis itu memerah akibat alkohol.

“Hai laki-laki kasar…”

Minho tertawa mendengar panggilan Jinri untuknya. “Gadis aneh… Apa yang kau lakukan disini? Kau mabuk?”

Jinri menganggukan kepalanya polos dan mengangkat sekaleng bir, “Aku bosan…”

Minho menghela nafas, ia memilih duduk di ayunan sebelah Jinri, “Apa yang membuat mu datang ke sini? Ke kota membosankan ini?”

Jinri terlihat memejamkan matanya, “Apa ya?”

Astaga… Gadis aneh ini memang mabuk dan dengan tenangnya ia keluar. Dia benar-benar tidak takut? Minho ingin menanyakan bagaimana Jinri bisa sampai disini, sayangnya Jinri berbicara lagi.
“Aku dikirim ke sini…”

Minho menatap Jinri dengan serius, kali ini. “Dikirim ke sini?”

Jinri mengangguk polos, “Iya. Membosankan sekali. Walaupun cuman enam bulan.” Jinri kemudian memiringkan kepalanya, melihat raut wajah Minho dan tersenyum cerah, “Sebelum kau berpikir macam-macam, aku perawat rumah sakit di kota ini. Dikirim dari pusat untuk mengabdi.”

Minho tertawa canggung. Bodoh! Gadis ini terlalu aneh kalau bisa dibilang. “Kau membuatku berpikir macam-macam. Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Ia mendekat ke Jinri dan berbisik kecil di depan mukanya, “Kau seorang mata-mata.”

Kali ini Jinri yang tertawa riang, bukang canggung. “Bagaimana dengan mu? Apakah kau mata-mata?”

Minho tersenyum, “Aku bukan mata-mata. Aku bersama teman ku sedang mengekspansi perusahaan jasa kami.” Jasa untuk membunuh lebih tepatnya. Lanjut Minho dalam hati.

“Tempat aneh untuk mengekspansi perusahaan.”

“Ini adalah kota ibu ku. Ayahku berasal dari Korea Selatan dan ibuku berasal dari sini.” Bohong. Minho berbohong. Kedua orantuanya sudah mati atau entahlah…. Dia berasal dari panti asuhan.

Wajah Jinri tiba-tiba semakin mendekat, “Itu menjelaskan satu hal. Kau rupawan.”

Minho tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Baru saja ia ingin berkata, Jinri tiba-tiba menciumnya. Menggerakan bibirnya dengan pelan diatas bibir Minho. Hebatnya, Minho membalas ciuman Jinri.

Ketika pautan mereka terlepas, Jinri terkekeh. Masih di depan wajah Minho ia berkata, “Bibir mu… Pedas.”

Minho lagi-lagi butuh beberapa detik untuk mengetahui maksud Jinri sebenarnya. Dia habis memakan hotdog, apa yang bisa diharapkan?

Jinri tiba-tiba berdiri, menunjuk gedung di depan taman, “Kau lihat? Itu flat ku… Aku harus pulang…” Jinri berjalan dengan sempoyongan. Menuju flat yang tadi ia tunjuk.

Minho ikut berdiri. Mengamati gadis aneh dari jauh, untuk mengetahui apakah ia benar-benar ke apartment-nya.

Kemudian Jinri kembali berhenti. Berbalik menatap Minho dengan seyuman misteriusnya, “Lain kali gunakanlah saus tomat. Itu manis kau tahu…”

Jinri kembali berjalan tanpa berniat menoleh. Terlihat tidak berniat mengingat kejadian ini.

Minho mematung. Kembali mengingat bibir Jinri tadi. Manis dan ia bisa merasakan sari-sari alkohol dari bibir Jinri. Memabukan. Bibirnya, bukan alkoholnya.

.

.

.

.

.

“Target berhasil dijatuhkan. Aku segera menuju apartment. Apa? Baiklah aku akan membeli pizza.” Minho segera mematikan handphone-nya dan masuk ke dalam mobil. Tiga hari ini dia sedang tidak ingin kembali ke apartment-nya kalau bisa. Menyusuri kota sepi yang membosankan itu, hanya mengingatkannya kepada kejadian dimana Jinri yang menciumnya. Begitu membakar diri Minho. Jika saja ia hanya orang normal bukan pembunuh bayaran, Minho pasti akan mendatangi tempat kerja Jinri dan mengajaknya untuk kencan.

Setelah melewati perjalanan dua jam plus 45 menit utuk membeli pizza, Minho sampai di apartment-nya dimana teman-temannya tengah duduk menonton tv.

“Kau sudah datang… Cepatlah mandi dan sehabis itu baru makan.” Kata Kibum yang kemudian kembali menonton tv.

Tidak ingin pizza habis kembali, Minho menuju kamarnya dengan pizza. Tak lupa mengunci pintu.

Sepuluh menit kemudian, Minho baru ikut bergabung dengan pizza diikuti kemarahan Kibum akibat pertunya yang sudah keroncongan. Mereka semua makan sambil menonton tv yang menampilkan pesta tahun baru. Menghitung beberapa jam lagi tahun berganti.

Sejujurnya, Minho merasa bodoh karena mengikuti acara itu hingga menit-menit terakhir jam 12, yang artinya sebentar lagi tahun baru.

“Aku mendengar suara banyak orang dari luar.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Ia meminum kembali bir-nya.

“Biasa… Orang-orang di kota ini mengadakan pesta tahun baru.” Kibum menjawab pendek. Meminum bir-nya juga.

Kedua temannya, Jinki dan si maknae Taemin sudah tepar karena alkohol juga. Pikiran Minho langsung berterbangan kemana-mana dengan satu tujuan, Jinri. Apakah gadis itu juga ikut pesta? Apakah gadis itu juga bersenang-senang?
“Hey, Minho, kau mau bir lagi tidak?”

Minho bangkit. Sama sekali tidak mengubris pertanyaan Kibum.

“Kau ingin kemana?” Lagi-lagi Kibum bertanya.
“Aku bosan.” Jawab Minho pada akhirnya dan memakai jaket tebalnya.

“Jangan pergi terlalu jauh.” Ucap Kibum lagi.

Minho mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga kemudian keluar dari apartment. Orang-orang banyak berjalan menuju pusat kota. Minho berjalan menjauhinya. Ia menuju taman. Taman tepat di depan apartment Jinri.

Dia bodoh bukan? Dia ingin bertemu Jinri dan Jinri pasti sedang berpesta di tengah kota. Tetapi ia malah menjauhi kota menuju kota mati, bisa dibilang begitu. Toko-toko tutup dan hanya lampu jalan menerangi. Minho hanya berharap dia dapat melihat Jinri baik-baik saja ketika pulang. Itu saja dia sudah lega.

Ia memilih duduk di ayunan. Memainkan ayunan berkarat itu. Meringis ketika mendengar bunyi besi berkarat terdengar jelas.

Kriett—

Kriett—

Kriett—

Duar~

Minho menghentikan ayunannya dan melihat ke langit. Cerah, dipenuhi oleh kembang api bewarna-warni. Ia tersenyum melihatnya. Terus melihatnya hingga kembang api berhenti. Itu artinya pesta tahun baru dimulai. Banyak alkohol pasti disana. Kota ini menyukai alkohol.

Minho menghela nafasnya. Mengeluarkan udara putih dari mulutnya. Memilih memainkan ayunan tua itu lagi. Menunduk menatap sepatu cokelatnya.

“Minho…” Minho terkejut ketika menemukan Jinri sedang berjongkok, dimana ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Jangan bilang kau mabuk disini.” Lanjutnya dengan nada suara geli.

Minho mengangkat kepalanya. Menatap Jinri lama. Dia… Dia merindukan gadis ini.

“Hey…” Jinri mengibaskan tangannya. “Apakah kau masih sadar?”

“Aku tidak mabuk disini.” Minho kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ikut pesta jinri?”

Jinri mengkerucutkan bibirnya. “Sayangnya tidak…” Terdapat nada kesal disana. “Karena aku orang baru, mereka menukarkan jadwal ku seenaknya. Padahal aku sudah dapat pulang dari jam tujuh tadi… Bagaimana dirimu? Kau tidak ikut berpesta?”

“Aku merasa ini adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api. Diantara gedung-gedung ini, cahayanya juga minim, ini tempat yang pas.” Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran yang kadang merangkap mata-mata membuat Minho pintar beralasan. Ia menyunggingkan sebuah senyum untuk meyakinkan Jinri.

Jinri menatap langit. Ia berbalik badan membelakangi Minho. “Uhm… Aku tidak melihat kembang api sama sekali. Tapi kurasa kau benar.” Ia berbalik dan tersenyum ke Minho

Minho membalas senyuman Jinri, “Kau bilang kau tidak melihat kembang api…”

Mata Jinri berkilat senang entah mengapa. “Aku hampir lupa!” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungku kembang api. Kembang api berbeda yang dimana terdapat tangkai besi untuk memegang. “Aku mendapatkan ini dari pasien ku tadi. Kau ingin ikut menyalakannya?”

Minho tanpa ragu menjawab iya. Mereka menghabiskan seluruh kembang api sambil tertawa. Bercerita. Dimana hampir semua cerita Minho bohong. Ia tidak punya cerita bahagia. Hidupnya penuh dengan darah… Sejujurnya.

Ketika jam berdentang satu kali, pukul satu malam, Minho mengantarkan Jinri ke apartment-nya. Apartment yang terletak tepat di depan ayunan, hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa saja duduk dan melihat Jinri dari ayunan jika ia mau.

“Terimakasih…” Ucap Jinri sedikit kikuk.

“Kau menjadi kikuk sekarang? Pertemuan terakhir kita kau bahkan langsung meninggalkan ku.”

Jinri menatap Minho sejenak. Berusaha mengingat, “Ketika—“ Matanya membesar. “Di ayunan itu bukan?”

Kali ini Minho menatap Jinri dengan melotot, “Kau bahkan tidak ingat kejadian itu?”

Jinri terdiam sebentar, “Aku ingat. Tapi tidak semuanya. Hanya sedikit kurasa…”

“Sedikit?” Minho masih melotot.

Jinri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendekat ke Minho, “Bibirmu… Apa masih pedas?”

Sekarang, Minho lah yang terdiam, “Apa?”

“Kau tahu…” Jinri tersenyum. Senyum yang bagi Minho misterius. Senyum yang tidak dapat diartikan bahagia. Senyum yang sekarang seakaan menggodanya.

Minho berdehem. Menghilangkan kegugupannya akibat kalimat frontal Jinri, “Aku makan pizza dengan saus tomat sekarang. Kupastikan rasanya manis.”

“Kau mengikuti kata ku bukan?” Minho menelan ludahnya gugup. Suara Jinri begitu halus dan serak seakan memanggilnya. Senyuman gadis itu membakar Minho. “Bolehkah?” Jinri melihat bibir Minho sekilas.

Astaga! Gadis ini sedang menatap Minho polos tetapi itulah yang membuat Minho nyaris gila. Minho segera menarik Jinri kedalam pelukannya. Mencium Jinri. Tidak memberikan gadis itu sedikitpun kesempatan. Sepertinya, ia akan lepas kendali.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang Minho dapati ketika ia memasuki apartment-nya adalah Kibum, Jonghyun, Jinki, dan Taemin sedang membaca file kasus baru. Sepertinya mereka semua mendapat kasus baru. Ia pulang ke apartment pukul 11 siang.

“Selamat siang Minho.” Jinki yang pertama menyadari kehadirannya. “Aku mungkin mabuk hingga tidak sadarkan diri kemarin malam, tapi Jonghyun atau Kibum mengingatkan dirimu untuk tidak pergi jauh bukan?”

“Kibum mengingatkan ku. Dan aku tidak pergi jauh.” Minho melangkah mendekati teman-temannya.

“Sabun. Kau habis mandi. Dan itu sabun perempuan.” Taemin berkata dengan mata yang tetap fokus membaca.

“Oh!” Ketiga temannya-–Jonghyun, Kibum, dan Jinki–menatap Minho serempak.

“Kau menggunakan wajah rupawan mu untuk meniduri gadis dari setiap kota yang kita singgahi.” Cibir Jonghyun.

Minho mengangkat bahunya, “Bukan salah ku memiliki wajah seperti ini.”

Jinki berdecak kesal. Segera ia melemparkan sebuah file kepada Minho, “Kau mendapat misi baru juga. Batas akhir mu ketika memasuki musim semi, bulan April.”

Minho menatap Jinki heran, “Itu cukup lama.”

Red tag Minho.”

Minho mengerti. Setiap kasus mereka diberi tag berdasarkan targetnya. Jika targetnya orang bodoh yang tidak tahu ia akan dibunuh, kalaupun tahu ia hanya bisa bersembunyi, itu green tag. Target termudah. Kalau targetnya tahu ia akan dibunuh dan menyewa semaca body guard, itu blue tag. Tidak terlalu mudah karena ia harus menyusun rencana terlebih dahulu. Jika targetnya bukan hanya tahu dan menyewa body guard, dia juga berhasil kabur itu diberi red tag. Target tersusah dan biasanya harus mengintai terlebih dahulu agar target benar-benar mati kali ini.

“Ku dengar wanita itu sudah kabur sebanyak 5 kali. Lima orang yang bertugas membunuhnya malah mati.” Kibum kali ini bersuara. “Kau harus menggunakan kesempatan dengan baik atau kau juga akan mati.”

Minho memutuskan untuk berbasa-basi sejenak sebelum ke kamarnya. Mempelajari targetnya. Ia tidak bisa mempelajari targetnya disuasana ramai. Minho menghapus papan tulisnya berkas kasusnya kemarin. Membuka file-nya. Dan menemukan nama….   Choi Jinri?!

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

 

Sight Seeing and Silence (Chapter 1)

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Main Cast: Mark Tuan | Son Seunghwan | Oh Sehun | Park Chanyeol

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Jika teman-temannya membicarakan rahasia gelap, pasti mereka akan mengatakan jika mereka pernah mencuri. Atau berbohong kepada orangtua mereka. Atau melewati batas dalam berpacaran. Atau hal-hal lainnya yang dianggap memang dilakukan oleh anak-anak.

Mark sendiri tidak begitu. Dia tidak pernah berbohong kepada orangtuanya. Dia tidak melewati batas dalam berpacaran. Tidak pernah melanggar hal-hal lain yang dilanggar oleh teman-temannya. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi ia tidak bisa melakukan hal tersebut.

Mau tahu rahasia gelap dari Mark Tuan?

Rahasia yang membuat bulu kuduk merinding bahkan tidak ingin untuk mengetahuinya, jika orang tersebut bisa mengulang waktu.

Mark seperti remaja cowok pada umumnya. Rambut yang ia biarkan panjang bahkan ia cat menjadi warna menjadi warna platinum. Dengan satu anting di telinga kanan. Baju seragam barunya yang tidak terlihat karena ia mengenakan sweater hitam.

Tok…Tok..Tok…

Ketukan menyadarkan Mark dari lamunanya yang melihat laut yang tenang. Mark segera berjalan menuju pintu.

“Kau sudah sangat rapih. Ayo!” Seru Sehun. Lelaki yang baru ia kenali dua hari ini. Tapi sekarang Mark sudah berada di rumahnya bahkan tinggal disini untuk sementara waktu.

Mark tidak menjawab. Sehun sendiri tidak merasa tersinggung atas perilaku Mark. Mereka baru saja bertemu dan itu merupakan hal wajar. Pikir Sehun.

Selama perjalanan mereka menuju sekolah barunya mereka juga hanya diam. Mark menikmati pemandangan Jindo yang masih asri. Di Los Angeles tidak ada pemandangan seperti ini. Pemandangan rerumputan yang luas dan awan biru yang menenangkan. Damai….

“Hey!”

Panggilan Sehun membuat Mark menoleh. Sehun hanya bosan. Dia butuh teman mengobrol. Perjalan sekolah membutuhkan waktu dua jam dan sudah satu jam ini mereka saling diam

“Mungkin kita bisa mengobrol. Kau tahu… Mendekatkan diri.” Sehun mengutarakan apa yang ia pikirkan sedari tadi. Laki-laki disampingnya membuat benteng seakan Sehun musuh. Yah, mengingat keadaan mereka Sehun tidak bisa menyalahkannya.

“Aku tidak punya keinginan untuk mendekatkan diri kepada mu.”

Jawaban singkat Mark membuat Sehun tertawa. Benar bukan apa yang ia pikirkan? “Biar ku tebak alasan mu. Kau curiga kepada ku bukan?”

Mark menatap Sehun tajam. Menilai laki-laki ini sebelum menjawab, “Baguslah kalau kau sudah tahu.”

“Boleh tahu alasannya?”

“Ku kira kau sudah tahu alasannya. Tidak kah kau berpikir sikap mu tidak biasa?”

Sehun menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia menatap supirnya sekilas kemudian menatap Mark, “Aku tidak inign membunuh mu atau mengambil perusahan mu. Aku hanya ingin kita berteman okay? Kalau kau ingin tahu alasannya karena aku butuh koneksi.”

“Baguslah kau jujur. Dan pada akhirnya tidak ada yang tahu sampai dimana pertemanan kita.”

“Kau tidak mengerti!” Sehun terdengar sedikit putus asa.   Ia menarik nafas dan berkata, “Tapi aku tidak akan memaksamu untuk berteman dengan ku. Aku hanya ingin jujur kepadamu.”

“Menurut mu aku akan langsung menaruh percaya kepada mu hanya kau berkata jujur kepada ku?”

Astaga… Laki-laki di depannya benar-benar seorang analitikal. Sehun melirik Mark sekilas sebelum mulai memandangi jalan lagi, “Terserah dirimu saja. Pada akhirnya kau akan tahu siapa aku sebenarnya.”

Mark memilih diam dan menatap jalan kembali. Sisa perjalanan dihabiskan dalam diam. Dari padang rumput yang asli, mereka melewati sebuah hutan yang masih terjaga. Hanya mobil mereka yang melewati jalan tersebut.

“Kau yakin ini jalan menuju sekolah?” Desis Mark karena tidak yakin.

“Aku tidak akan membunuh mu.” Suara Sehun terdengar santai. Ia tersenyum ke Mark.

Entah mengapa, Mark merasa yakin jika Sehun katakan benar. Ia tersenyum dan berkata, “Kau yakin di tas mu tidak ada senjata?”

Sehun menggelengkan kepalanya mendengar candaan Mark.

Setelah dua jam perjalanan, insting dirinya benar. Sehun tidak berbohong. Mereka benar-benar sampai disekolah mereka.

“Selamat datang disekolah baru mu. Sebenarnya sekolah ini mudah ditemui. Tidak terlalu misterius hanya karena aku dan dirimu bersekolah disini. Tapi karena rumah ku yang jauh… Jadi kita harus menempuh dua jam perjalanan.”

“Ku rasa kita menempuh perjalanan dari ujung pantai ke ujung pantai lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya dan mereka keluar dari mobil.

“Kau ingin langsung ku antarkan ke ruangan kelas atau ingin jalan sendiri?”

“Kurasa aku akan disini sebentar saja.” Mata Mark menelisik sekolah barunya. Beberapa murid terlihat membawa buku di tangannya. Tas mereka yang kecil membuat buku tersebut tidak muat. Rata-rata rambut perempuan disini digerai. Sedangkan laki-lakinya tidak ada yang cepak.

Deg!

Mark sedikit terpana melihat seorang perempuan berambut coklat dengan poni menutupi dahinya. Perempuan itu terlihat tersenyum seakan sangat bahagia bisa sampai di sekolah. Ia tidak membawa buku ditangannya dan tasnya lebih besar daripada murid-murid yang lain. Perempuan yang sedang ia tatap berhenti dan menengok ke arah kiri dan kanan kemudian terlihat tersenyum lebih lebar.

Mata Mark menangkap seorang laki-laki berambut cepak tengah menyingir ke arah perempuan itu. Mark mengenal laki-laki itu. Park Chanyeol kalau tidak salah namanya. Chanyeol berkata sesuatu dan membuat perempuan itu terlihat kesal. Mereka terus mengobrol hingga tiba-tiba perempuan tersebut memukul-mukul lengan Chanyeol yang membuat Chanyeol tertawa lebar.

Mereka berjalan memasuki gedung sekolah dengan Chanyeol yang masih menghadap perempuan itu dan berbicara kepadanya. Tapi yang Chanyeol dapatkan hanyalah pukulan di tangannya.

“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Mark tersentak ketika Sehun memanggil mereka. Ia bahkan melupakan Sehun sejenak akibat melihat perempuan itu.

Chanyeol menyapa Sehun dan mendekat. Perempuan yang masih misterius itu terdiam sebentar sebelum berjalan ke arah Sehun dan menyapa Sehun dengan senyuman yang sangat lebar dan mata yang berkilat senang. Jangan-jangan….

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Mark tersenyum menatap Chanyeol, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan perempuan yang dari tadi ia tatap.

Mark menatap Seunghwan. Seunghwan hanya diam menatap Mark sehingga Mark berkata, “Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

 

.

.

.

.

.

Deburan ombak telah menjadi teman Seunghwan selama hidupnya. Rumahnya tepat berada di depan pantai. Sebuah rumah kecil bewarna putih kecuali di bagian kamar Seunghwan yang bewarna kuning. Satu kamar mandi, dapur kecil, satu ruang tv yang kadang juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Sebuah rumah sederhana yang dibelikan oleh seseorang yang berharga untuknya.

Dengan mengingatnya saja, Seunghwan dibuat tersenyum sendiri. Ia segera menggelengkan kepalanya agar tetap fokus pada sarapannya. Setelah sarapannya selesai, Seunghwan segera mencuci piringnya dan berangkat ke sekolah. Hanya dia sendiri tinggal sendiri. Hidupnya sebatang kara. Dengan ibunya yang meninggal sejak empat tahun yang lalu. Seunghwan sebenarnya punya satu kakak cowok, tetapi dia tidak ingin mengingatnya. Dia memang sudah tidak punya keluarga lagi, tapi dia masih punya orang-orang yang perduli padanya. Teman-temannya. Maka dari itu, Seunghwan sangat menyukai sekolah.

Ketika liburan ia menjadi sangat bosan. Seunghwan tinggal di kota kecil bernama Jindo. Kota yang terletak di paling selatan dari Korea Selatan. Sebenarnya Jindo lebih tepat disebut desa jika dibandingkan dengan Mokpo, kota terdekat dan terbesar dari Jindo. Jarang ada bangunan tinggi. Mobil hanya sedikit yang lewat. Hamparan laut yang luas dan masih banyak rumput hijau. Pantai yang selama ini dia lihat adalah satu-satunya hiburan baginya. Jangan harapkan dia bisa keluar Jindo. Makan di salah satu Café di Jindo bernama Aera’s Signature Ice Cream saja sudah harus membuat Seunghwan menabung selama dua bulan. Apalagi ke Mokpo dimana dia harus naik bis?

“Seunghwan!”

Seunghwan segera saja menoleh dan ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Rambut laki-laki tersebut cepak. Satu-satunya laki-laki yang rambutnya cepak disekolahnya. Mamakai kemeja putih tanpa rompi dan menampilkan cengiran khas yang membuat mukanya bodoh.

“Woy! Kemarin kenapa gak bisa dihubungi?”

Seunghwan berdecak, “Mau lihat jawaban fisika bukan?”
Lelaki di depannya hanya tertawa kecil, “Tahu tuh! Kemarin habis kencan sama Yejin dan baru ingat ada tugas. Belum ngerjain nih…”

“Park Chanyeol!” Langsung saja Seunghwan memukul lengan Chanyeol, “Kalau kamu belum mengerjakan pr fisika aku akan dimarahi sama guru Song!” Seru Seunghwan sebal.

“Aku mau mengerjakannya semalam. Tapi kamu gak jawab!” Chanyeol berusaha membela diri, “Maka dari itu lihat dong…”

“Enak saja! Aku akan ajarin kamu tapi kamu gak boleh menyontek.”

“Kenapa harus Son Seunghwan yang menjadi partner fisika? Kim Jongdae bisa dicontek.” Ucap Chanyeol dengan suara hopeless yang didramatiskan.

Seunghwan hanya mencibir, “Aku sudah mengerjakannya capek-capek. Enak saja melihat!”

“Nanti aku bilangi sama Sehun kamu gak mau bantu aku….”

Seunghwan segera menoleh ke Chanyeol dan kembali memukul-mukul lengannya, “Apaan sih! Gak usah bawa-bawa nama Sehun deh!”
Chanyeol tertawa riang. Sehun selalu menjadi senjata rahasia agar Seunghwan bertekuk lutut. Gadis itu sangat-sangat mencintai Sehun. Yah, itu karena Sehun selalu berada di samping Seunghwan selama masa-masa kritisnya. Tetapi gadis itu cukup cerdas karena ia mengetahui Sehun tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada dirinya. Seunghwan menempatkan posisinya sebagai sahabat dengan berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia suka. Tapi tetap saja kelihatan. Mata gadis itu membesar ketika melihat Sehun –menjadi antusias-. Seunghwan juga lebih jaim di depan Sehun.

Chanyeol masih berusaha membujuk Seunghwan untuk memberikan pr fisika. Sayang, sama seperti tampangnya yang tolol, Seunghwan malah semakin ganas memukul lengan Chanyeol dan membuat Chanyeol meringis kesakitan.
“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Kegiatan Chanyeol dan Seunghwan terhenti. Chanyeol langsung menoleh ke sumber suara dan balik menyapa. Sedangkan Seunghwan terdiam dengan pipi bersemu merah. Sialan Chanyeol! Sehun jadi ngeliatkan.. Desisnya dalam hati.

Seunghwan kemudian menoleh dan melambaikan tangannya, “Sehun!”

“Hai, Seunghwan!” Sapa Sehun seperti biasanya.

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Kali ini, Wendy melihat ke samping kiri, seseorang laki-laki berdiri di samping Sehun. Laki-laki itu tersenyum, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan Seunghwan ke Mark.

Seunghwan yang sedari tadi menatap Mark hanya terdiam ketika Mark menyapanya.
“Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

Seunghwan ternganga sebentar. Baru pertama kali dalam hidupnya, Seunghwan terdiam bingung ingin mengatakan apa karena jantungnya yang berdebar lebih kencang.

.TBC.

 

New story nih… I know.. I know… State of Grace belum tamat. Flipped bagian epilog belum keluar. Terus aku juga lagi ngerjain projek Sestal terbaru… Dan jangan lupa Runaway yang belum pernah ku sentuh sejak 6 bulan yang lalu…

Tapi ini mini-chapter kok… 10 chapter kalau lebih pun cuman 2… See you soon guys…

 

 

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Flipped (Chapter 20)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Salah Paham


Suara bel diikuti oleh suara perintah membuat semua kegiatan di ruangan tersebut berhenti.

“Taruh saja kertasnya di meja dan silahkan keluar.” Begitulah suara wanita paruh baya–Profesor Yuri- terdengar lagi.

Sehun keluar dari ruangan. Ia menghela nafasnya. Ini merupakan keputusan yang berat. Sampai sekarang ini juga, ia masih ragu akan keputusannya.

“Sehun…” Suara perempuan yang akhir-akhir ini sering menemaninya membuat Sehun tersenyum lembut –menyapa- ke Irene.

“Hai Irene…” Sapanya pada Irene yang sudah menunggu di depan ruagan.

Irene menatap ke Sehun ragu sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar?”
Sehun tersenyum kecil. Mengetahui apa maksud Irene, “Ya.” Jawab Sehun pendek.

“Kenapa?”

“Kenapa gak?”

Irene menghela nafasnya, “Kamu udah bicara sama orangtua kamu?”

“Mereka udah setuju, Irene…”
Jawaban singkat dan padat Sehun membuat Irene kembali menghela nafasnya, “Tapi udah yakin?”

Sebelum Sehun menjawab, Irene kembali berkata, “Sudah bicarain sama teman yang lain?”

“Aku udah bicarain sama Chanheol, Junmyeon, dan Xiumin.”

Melihat Irene sekarang tertunduk, Sehun menhela nafasnya, “Kita udah bicarain hal ini bukan?”

“Iya, tapi..”
“Dan kamu udah janji sama aku.”

“Tapi..”

“Tapi apa?”

Irene kini mendongak, matanya sudah berair, “Tapi aku pikir kamu gak akan ngelakuin hal ini.”

“Aku ngelakuin hal ini bukan karena kamu.”

Jawaban Sehun sukses membuat air mata Irene jatuh.

“Irene….”
“Ya, aku tahu! Aku bukan siapa-siapa bagi kamu! Kamu bahkan gak mau nerima persaan aku.”

“Irene…”
“Karena kamu bilang kamu lebih milih perasaan Junmyeon –teman kamu- yang minta ke kamu jangan pacarin mantan pacarnya.”
“Aku gak pernah ngomong kayak gitu.”

“Iya, gak! Tapi aku tahu maksud kamu Sehun…”

Setelah itu Irene berbalik dan meninggalkan Sehun. Sehun lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

Ada orang yang berkata jika hidup ini bagaikan roda yang berputar. Terkadang kau merasa di atas. Terkadang kau juga merasakan di bawah. Membaca buku-buku kuliahnya yang sedang membahas majas membuat Krystal kembali menghela nafasnya. Kenapa semua majas disini berhubungan dengan penyesalan cinta? Pikirannya semakin kalut.

Ia menutup bukunya dan memejamkan matanya. Sekarang, ia sedang berada di perpustakaan. Tidak ada tugas sama sekali. Dia sedang ini menghabiskan waktunya di perpustakaan, sekaligus menghindari Luhan. Entahlah…. Dia tidak sanggup bertemu dengan Luhan semenjak ia bertemu dengan Sehun. Perasaan cemburunya kepada Sehun menjadi perasaan bersalah ketika melihat Luhan tersenyum.

Drrrt~

Krystal terkesiap ketika handphone-nya berdering. Segera saja ia tersadar dari lamunanya dan mengangkat telepon.

“Hai…” 

Krystal tercekat mendengar suara yang meneleponnya, “Oh, Hai Luhan…” Sapanya berusaha ceria.

Aku tadi mencoba ke kelasmu. Tapi sepertinya dirimu sudah pulang.”

Duh… Krystal jadi merasa bersalahkan.

“Sudah lama kita tidak pulang bersama. Aku rindu padamu…. Kau sedang sibuk-sibuknya ya?”

“Tidak juga.” Krystal berhenti sejenak. Ragu ingin berkata apa. “Uhmmm, Luhan…”

“Iya?”

“Nanti malam co-ass gak?”

“Ada apa?” Tanya Luhan dan Krystal bisa menangkap nada kegembiraan di situ.

“Mau makan malam bersama?”

“Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Chanyeol.”

“Oh, kalau begitu tidak usah.”

“Tunggu dulu… Chanyeol akan merayakan ulang tahunnya dan mengundangku.”

“Oh, baiklah…” Krystal masih ragu, “Jadi…”

“Kau ingin menemaniku Krystal Jung? Sebenarnya tadi aku datang ke kelasmu untuk mengajak mu? Kalau kau tidak ingin kita bisa makan malam bersama.”

“Tentu aku ingin menemani mu. Dimana?”
“Aku akan menjemput mu dirumah mu…..”

Setelah itu teleponnya terputus. Kenapa ia dan Luhan menjadi seperti ini? Pikiran Krystal berkelabat mengenai pertemuan nanti malam. Pesta ulang tahun Chanyeol ya? Apakah Sehun ada disana?

.

.

.

.

.

Krystal dan Luhan sampai di tempat acara sedikit terlambat. Ketika mereka memasuki ruangan pesta, yang tak lain adalah apartment Chanyeol, banyak wajah asing yang mereka lihat.

“Krystal!!!” Spa seseorang yang membuat Krystal terpana beberapa saat.

“Sulli!” Seru Krystal dan langsung memeluk Sulli. “Sudah lama tidak bertemu dengan mu.:

“Aku tahu!” Pekik Sulli senang. “Bagaimana kabarmu?” Lanjutnya ketika melepas pelukan.

“Baik… Sangat baik…”

“Jadi, kau temannya Chanyeol?”
Krystal tertawa kecil, “Bisa dibilang begitu… Sebenarnya Luhanlah yang merupakan temannya Chanyeol.”

“Luhan?” Sulli langsung menoleh ke Luhan, seakan baru tersadar Luhan disamping Krystal. “Luhan! Astaga!! Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!”

Luhan tertawa melihat antusiasme Sulli, “Senang melihatmu juga Sullli ”
“Bagaiman dengan dirimu? Kau juga temannya Chanyeol?” Tanya Krystal membuat Sulli kembali menoleh kepadanya.

Sulli tiba-tiba tersenyum lebar dan mengangkat tangan kannya, “Tunangan..”
Krystal terdiam sesaat, “Ya, ampun… Bagaimana bisa?”
Melihat kedua perempuan itu akan asyik mengobrol, Luhan menyentuh siku Krystal, menghentikan Krystal yang asyik mengobrol dan menoleh ke Luhan, “Aku ke Chanyeol dulu.” Kata Luhan sambl tersenyum.

“Baiklah…” Jawab Krystal pendek dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Luhan berjalan melintasi ruang depan menju pintu kamarnya yang entah mengapa sekarang banyak balon, “Chanyeol!”

“Hai, Luhan!” Chanyeol melambaikan tangannya. Ia tersenyum seperti anak 18 tahun daripada umrunya sekarang.

“‘Selamat ulang tahun dan selamat juga untuk pertunaganmu!”

“Terimakasih! Kau datang sendiri kesini?”

“Tidak. Krystal ikut tapi sedang mengobrol dengan Sulli..”

“Aku tahu jika mereka teman SD!”
“Yah.. Dan banyak yang akan mereka bicarakan.”
Chanyeol tertawa kecil mendengar hal itu.

“Bagaiman dengan Sehun? Apakah ia kan datang? Tanya Luhan tiba-tiba.

Chanyeol terdiam sebentar, “Dia ada sedikit masalah di kampus. Tapi dia bialng dia kan datang.”  Ekspres Chanyeol yang sedikit kaku membuat Luhan bertanya-tanya tentang Sehun. Tapi sepertinya tidak baik menyakan hal ini. “Oh, baiklah..” Respon Luhan pada akhirnya.

“Chanyeol!” Suara orang lain membuat mereka berdua menoleh.

“Jongdae!!” Chnayeol kembali tersenyum, “Aku terkesan kau datang kesini. Oh, perkenalkan ini Luhan. Orang yang sekarang menempati kamarmu!”

Luhan akhirnya sibuk mengobrol dengan orang-orang yang dikenalkan Chanyeol. Begitupula dengan Krystal yang asyik bercerita ke Sulli, terutama bagaimana dia bisa berpacaran dengan Luhan. Oh, tentu Krystal tidak menceritakan bahwa ia masih menyukai Sehun. Rasanya memalukan.

“Hai Sulli…” Suara berat yang lagi Krystal coba hindari terdengar. Sontak saja, Krystal dan Sulli berbalik.

“Sehun… Kau terlambat!” Seru Sulli pura-pura kesal.

“Aaah… Ada sedikit masalah dikampus.”

“Alasan.. Sebentar lagikan mau diwisuda! Gak ada tugas-tugas lagi!” Sulli masih bersikeras.

“Ayolah… Jangan sering marah-marah. Kasihan nanti suami mu!”

Dengan sigap, Sulli memukul lengan Sehun dan mereka berdua tertawa.

“Sehun lihatlah.. Krystal ada disini…” Sulli merangkul Krystal. Tetapi, sebelum Sehun menanggapi, Sulli memekik, “Oh! Kau juga tidak datang sendiri! Kenapa tidak memperkenalkannya kepadaku?!”

Krystal yang sedari tadi diam menunduk menoleh ke arah seseorang yang disamping Sehun, “Irene…” Katanya otomatis.

Selama beberapa detik, Krystal menahan nafasnya. Jadi Irene kesini bersama Sehun? Apakah hubungan mereka sudah sangat serius?

Menyadari tatapan Irene yang bingung, Krystal kemudian tersenyum, “Aku mendengar namamu dari Sehun.”

Irene bergumam kecil dan menundukan kepalanya. Terlihat semburat merah di wajahnya.

“Aku Krystal Jung…” Krystal mengulurkan tangannya.

Dengan malu-malu Irene membals uluran tangan Krystal, “Irene Bae.”

Melihat sikap Irene yang entah mengapa sedang berbunga-bunga membuat Krystal sediki merengut. Irene tersentak karena cengkraman tangan Krystal mengeras.

“Senang sekali bisa bertemu dengan mu langsung…” Oh katakanlah Krystal munafik karena memang benar, bukan? Ia sama sekali tidak senang.

“Aku juga.” Sahut Irene sambil tersenyum lebar.

“Kalau gitu Irene harus mengobrol dengan kita, bukan?” Sulli terlihat sangat antusias. “Oh, aku Sulli!”

“Oh…” Irene melirik ke Sehun.

“Aku akan menyampaikan salam mu ke Chanyeol.” Sahut Sehun santai. Ia sedikit tersenyum ke Irene.

“Kau temannya Chanyeol juga? Baiklah kita harus mengobrol. Dan tenang saja! Chanyeol tidak akan marah jika kita mengborol karena aku adalah tuangannya.”
“Mengobrol lah dengan Sulli. Akan kusampaikan.” Sehun kembali tersenyum dan berjalan menghilang dari pandangan mereka.

“Jadi…” Seru Sulli masih antusias.

.

.

.

.

.

Pesta berlangsung sangat lama. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Tidak ada tanda-tanda orang mau pulang. Malah masih ada yang datang. Krystal tersenyum kemudian menyesap minumannya, fruit punch. Tanpa alkohol tentunya. Keadaan pasti sudah chaoss jika alkohol terlibat.

Irene dan Sulli sedang tertawa mengenai sesuatu yang tidak Krystal dengar. Dia benar-benar setengah hati ikut duduk disini sejak Irene ada. Apalagi melihat raut wajah Irena yang sangat bahagia. Entahlah… Lagipula kenapa dia harus cemburu? Tanpa benar-benar Krystal sadari, ia menghembuskan nafasnya.
“Ada apa sayang?” Tanya Sulli khawatir. Melihat temannya menjadi pendiam seperti ini sebenarnya sudah membuat Sulli bingung sedari tadi. Tapi ia mengenyahkannya. Krystal memang pendiam jika bertemu dengan orang baru.

“Bisakah aku bertemu dengan Luhan sebentar? Ada yang harus aku tanyakan kepadanya.” Lagi-lagi ia berbohong. Krystal harus menyingkir sejenak memperbaiki mood-nya sebelum ia membuat semua orang bingung.
“Oh, tentu. Aku tetap setia pada bangku ini.”

Krystal tertawa kecil. Begitupula dengan Irene.

Setelah Krystal menghilang, Irene berkata kepada Sulli, “Aku ingin bertemu dengan Sehun juga kalau boleh.”

.

.

.

.

.

Krystal berjalan menuju ke dapur. Tidak ada hal khusus sebenarnya. Ia hanya perlu berada di sekitar orang asing. Menatap orang asing tidak suka sebagai penyalur mood-nya yang sedang buruk. Krystal asyik menyesap minuman lain, sejenis soda.

“Kau seperti orang yang sedang kesal.”

Suara Luhan yang berasal dari belakang membuat Krystal menoleh dan tersenyum kecil, “Sama sekali tidak. Aku hanya menyukai ini.”

“Ingin kuambilkan lagi?”

Krystal mengangguk kecil dan Luhan terlihat menghilang di antara tamu. Kemudian matanya menyapu kerumunan.

“Sehun!”

Ia merengut ketika dirinya melihat Irene memanggil Sehun. Dan ia semakin merengut karena ia merasa dia tidak pantas menunjukan emosi seperti tadi.

“Ini dia!”

Sontak, Krystal mengambil soda dari tangan Luhan dan meminumnya. “Kau memang yang terbaik!”

“Aku tahu!” Luhan kembali berkata, “Sepertinya kau sangat asyik berbicara dengan Sulli.”

“Kau juga Luhan! Kau menghilang beberapa jam!”

“Krystal Jung juga melakukan hal yang sama!”

“Oh, jadi ini semua salahku?”

Mengobrol dengan Luhan sejenak berhasil mengalihkan pikiran dan perasaan Krystal. Pikirannya sekarang lebih tenang. Perasaannya juga lebih ringan. Krystal tertawa karena senang untuk pertama kalinya semenjak Sehun datang.

“Krystal!” Dari jauh tampak Sulli memanggilnya. Raut wajahnya menyiratkan kegusaran tetapi ia tetap tersenyum.

“Oh, sepertinya ada yang penting. Aku harus kembali ke Sulli!” Krystal kembali menyeruput sodanya. Sedangkan Luhan membiarkan Krystal pergi. Lain kali ia akan membuat pembalasan agar Krystal selalu berada di sampingnya.

“Ada apa Sulli?”

Sulli mengigit bibirnya, “Dengar… Euhm….” Ia terlihat sangat ragu.

“Katakan saja pada ku, Sulli.”

“Sehun tadi datang kepadaku dengan raut wajah yang sedikit menakutkan.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin berbicara dengan aku dan dirimu. Jadi..”

“Sulli…”

Sulli memegang tangan Krystal, “Aku tahu kau bingung dan aku juga begitu. Tapi kita harus bertemu dengan Sehun segera.”

“Aku harus pulang.” Elak Krystal.

“Sepuluh menit saja. Walau aku yakin ini tidak akan lama.”

Krystal menghela nafasnya dan mengangguk. “Dimana dia sekarang?”

“Dikamarnya dulu. Katanya kita membutuhkan sedikit privasi.”

Alis Krystal berkerut. Tapi ia mengikuti Sulli yang menuntun mereka ketempat Sehun.
“Sulli sayang!”

“Chanyeol!”

“Kemarilah sebentar!”

Sulli menatap Krystal. Ia begitu ragu meninggalkan Krystal.

“Pergilah. Nanti setelah urusanmu dengan Chanyeol selesai kau bisa menyusul.” Krystal tersenyum tipis. Melihat Sulli yang ragu, Krystal kali ini memegang dan meremas tangannya, “Tidak ada hal buruk yang terjadi. Percayalah.”

Sulli seperti tidak punya pilihan lain. Ia memutuskan untuk mengangguk dan pergi bersama Chanyeol.

Krystal memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. Dan..

Trek~
Pintu kamar terbuka. Sehun tengah duduk di tempat tidurnya. Menunggu Krystal dan Sulli.

Melihat Krystal datang, Sehun bangkit, “Dimana Sulli?”

“Chanyeol memanggilnya sebentar. ” Krystal masuk dan menutup pintu kamar. “Kata Sulli kau ingin berbicara padaku dan dia.”

“Iya. Aku ingin berbicara mengenai Irene.”

Krystal terdiam. Tidak tahu ingin berbicara apa.

Sehun kembali berbicara, “Apa yang kalian bicarakan dengan Irene?”

“Maksudmu?”

“Dengar… Hubungan ku dengan Irene tidak seperti yang terlihat.”

Krystal terdiam. Selain tidak tahu ingin berakata apa, ia juga tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku tidak mempunyai hubungan khusus dengannya dan kedatangan kami tadi tidak menunjukan apa-apa.”

“Kenapa kau mengatakan ini kepada Sulli dan aku? Kami hanya mengobrol biasa.”

“Iya, tapi respon kalian. Kau berkata pernah mendengar namanya dari ku—”

“—Dan itu benar…” Potong Krystal.
“Tapi..” Sehun kembali memotong, “Respon Sulli juga memperparah keadaan.”

“Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.” Ayolah… Krystal benar-benar bingung dengan keadaan. Dan ia yakin bukan hanya dirinya. “Bisakah kau memberi tahu apa yang terjadi?”

Sehun memejamkan matanya sebelum berkata, “Irene adalah mantan pacar teman ku. Teman akrab ku. Dan ia meminta ku jangan mendekatinya. Kurasa kau sudah mengerti bukan?”

“Apakah kau menyukainya?” Krystal menatap Sehun dalam. Ini benar-benar di luar dugaannya. Tapi masih ada yang menganjal di hatinya.
“Itu tidak penting.”

“Kenapa kau selalu seperti ini?” Suara Krystal tiba-tiba naik. Ia maju dan mencengkram bahu Sehun, “Bersikaplah seperti laki-laki.”

Sehun kaget, tidak menyangka Krystal akan melakukan hal ini.

“Jika kau memang menyukainya, berbicaralah kepada mantan pacarnya. Jangan seperti ini.”

“Krystal….” Sehun memgang kedua tangannya. “Lepaskan!”
“Kau menyukainya?”

Sehun memejamkan matanya. “Ayo kita keluar.”

“Kau menyukainya Oh Sehun?”

“Krystal!”

“Apakah kau menyukai diriku?” Kata-kata itu kembali keluar dari mulut Krystal. Suaranya agak bergetar. “Aku sekarang penasaran. Apa yang membuat dirimu menolak ku?”

“Kau hanyalah sahabatku.”

Cengkraman di bahu Sehun menguat, “Sayang, kau tidak memperlakukanku sebagai sahabat, Oh Sehun. Kau menjauhi ku seakan aku virus.”

“Itu tidak benar.”

“Ingatan ku sudah kembali.”

Sehun sekarang menatap mata Krystal, “Tidak ada gunanya, Krystal. Semuanya telah terlambat.” Dengan kasar, Sehun melepaskan cengkraman Krystal.

“Sehun…” Krystal menghalangi Sehun untuk keluar dari pintu. “Katakan…”

“Kau sudah bersama Luhan. Itu tidak penting.”

“Aku… masih… menyukaimu…” Hancurlah pertahan Krystal yang beberapa bulan ini ia buat. Air matanya menetes, “Ya, jadi itu penting.”

Helaan nafas terdengar, “Perasaanmu kepadaku hanyalah sebuah klise. Atau bahkan hanyalah sebuah rasa penasaran. Sekarang ku tanya kepadamu, apa yang akan kau lakukan jika aku memberi tahu mu? Kurasa tidak ada. Kau pasti akan menganggap hal yang sepele karena sejujurnya perasaan mu tidaklah sedalam yang kau kira. Kau pasti—”

Omongan Sehun terputus dan ia membulatkan matanya. Kedua tangannya bergetar. Krystal Jung sedang menciumnya. Dengan pelan, ia mengangkat tangannya dan mengarahkan ke bahu Krystal, ingin melepaskan ciuman mereka. Tapi dengan pelan juga, bibir Krystal bergerak membuat Sehun menahan nafasnya dan tangannya terhenti tepat di bahu Krystal. Ia meremas bahu Krystal. Ketika bibir Krystal kembali bergerak, Sehun mendorong Krystal hingga kepintu dan ia mulai memejamkan matanya. Nafas mereka memburu ketika mereka melepaskan tautan bibir mereka.

“Hentikan!” Teriak Sehun menatap Krystal dengan tatapan menyalak. “Hentikan, Krystal Jung!” Lanjutnya penuh penekanan.

Krystal menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Sesaat tadi dia benar-benar tidak berpikir. Semuanya mengalir seperti air. Benarkah ini terjadi? Dia belum gila bukan?

“Kurasa… Kau yang tidak tahu pasti Oh Sehun.” Ujar Krystal dengna suaranya yang tiba-tiba serak.

“Kau tidak akan mengkhianati Luhan, Krys….” Seru Sehun masih penuh penekanan dan… Misterius?

“Oh!” Krystal tersentak hebat ketika ada yang membuka pintu kamar. Dia melupakan jika pintu kamar terkunci.
Sehun sedikit menjauh dari Krystal. Begitupula Krystal yang menjauh dari pintu.

“Hallo! Apakah aku terlambat?” Sulli datang dengan santainya. Ia kemudian menurunkan senyumannya melihat Sehun dan Krystal yang berada di dekat pintu. “Atau kalian sudah ingin selesai?”

“Aku harus pulang.” Sahut Sehun dingin. Membuat Sulli menyingkir dari pintu. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia pergi meninggalkan Krystal dan Sulli.

“Ternyata sudah selesai.” Sulli masih belum mengerti situasi berusaha mengeluarkan candaannya.

“Aku juga. Ini sudah malam bukan?”

Sulli menatap bingung Krystal, sepertinya banyak yang terjadi di dalam sana bukan?

.TBC.

I know bagian ‘Sulli menatap bingung Krystal’ bukanlah ending yang bagus tapi saya kehabisan ide. Lagipula ini udah 2400 kata… Panjang ya?  Aneh? Membuka krtik dan saran dengan tangan terbuka guys..

And… How about the kiss part? I give you a surprised didn’t i?  Another surprise will be you found in the next chapter… 2 chapter lagi dan Flipped akan selesai, i guess…

Flipped (Chapter 18)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kesempatan

“Krystal…”

Krystal menoleh tak kala ibunya memanggil dirinya dengan lembut.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ibunya masih dengan nada lembut.

Krystal cepat-cepat mengangguk, “Tentu. Aku baik-baik saja.” Ia tersenyum. Hanya ada hal yang terganjal di benak ku.. Lanjutnya dalam hati. “Oemma tidak jadi ke tempat Imo?”

Oemma Krystal memandang anaknya ragu, “Bagaimana episode Criminal Minds nya?” Tanyanya karena Krystal sedari tadi asyik menonton tv di kamar rumah sakitnya.

“Oh, Reid tetap yang paling ganteng…” Jawab Krystal memuji salah satu tokoh di film tersebut, Dokter Spencer Reid.

“Kau tahu jika Spencer Reid tidak ada di situ. Ia pergi mengunjungi Oemma nya…”

“Oh?” Krystal mengerjap bingung sebelum ia menjawab, “Oemma tahu jika tidak ada yang paling ganteng kecuali Reid bukan?”

Oemma Krystal menghela nafasnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, “Oemma akan pergi ke rumah Imo besok saja.”

“Aku tidak apa-apa….” Kata Krystal dengan nada sungguh-sungguh. “Oemma tidak perlu ragu untuk meninggalkan ku…”

Cklek~

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Luhan!” Sapa Krystal dengan ceria. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Luhan membalas lambaian tangan Krystal dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang bunga. Kemudian matanya menatap Oemma Krystal, “Ah, Anyeonghaseyo bibi…”

Ibu Krystal ikut tersenyum, “Hai Luhan…. Kau sangat rapih hari ini… Habis dari kampus?”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpakaian rapih ini hanya untuk bertemu Krystal sebenarnya. Juga, ia masih dalam penyembuhan tipes.

“Kau sudah pergi ke kampus? Bukannya kau masih dalam masa penyembuhan? Bagaimana jika kau sakit lagi?” Krystal menatap Luhan dengan mata menyipit.

“Aku baru saja dari dokter ku. Sebelum kesini aku membelikan bunga angrek untuk Krystal.” Elak Luhan.

“Angrek?” Tangan Oemma Krystal terulur ke angrek Luhan. Angrek yang Luhan bawa bewarna ungu, “Sangat indah bukan?”

“Dalam filosofi China angrek artinya ‘Semoga cepat sembuh.’” Seru Luhan sambil tersenyum. Ia berdehem, menghilangkan kegugupannya.

“Sangat indah…” Komentar Oemma Krystal. Ia pun masih asyik memandangi anggrek pemberian Luhan yang sekarang ia taruh di meja dekat kaca.

Hening sejenak, jujur Luhan bukan orang yang bisa memulai percakapan dengan orang baru dan di ruangan ini adalah ibunya Krystal.

“Luhan,” Seru Oemma Krystal tiba-tiba, “Bisakah kamu menjaga Krystal sebentar? Bibi ingin pergi sebentar saja. Sekitar satu jam.”

“Tentu.” Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Sebuah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Dengan ini dia dapat leluasa berbicara dengan Krystal. Termasuk mengutarakan perasaanya.

Oemma Krystal kembali tersenyum lebar. Ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah Krystal, “Oemma pergi dulu ya… Tidak akan lama. Oemma janji.” Ibunya kemudian mengecup kedua pipi Krystal. Tak lupa mengucapkan terimakasih ke Luhan sebelum pergi dari kamar.

Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Akhirnya…. Aku bosan disini! Aku juga tidak mengerti kenapa aku disini. Ku rasa aku baik-baik saja!” Cerocosnya kemudian ia mengerjapkan matanya. Pipinya merona, “Hey, duduklah… Aku lupa menyuruh mu duduk. Kau masih berdiri tepat di tempat dirimu masuk.”

Luhan terkekeh melihat raut wajah Krystal. Ia menurut dan duduk di sofa yang letaknya tepat di ranjang Krystal.

“Bagaimana denganmu? Bukannya kau seharusnya lebih membutuhkan istirahat daripada ku?” Lanjut Krystal lagi.

Gadis itu tidak terlihat sakit sama sekali jika dilihat dari rupanya yang tidak pucat dan suaranya yang riang. “Tubuhku sudah lumayan sekarang. Tubuhmu lebih membutuhkan istirahat sepertinya. Kau mengalami shock kau tahu itu?”

Tatapan Krystal tiba-tiba meredup. “Ah, jadi kau tahu itu…” Itu menunjukan tentang kasus hilang ingatannya akibat kejadian ia meloncat dari sekolahnya.

“Aku…” Suara Luhan berubah panik.

“Tidak apa-apa.” Potong Krystal. Ia kemudian tersenyum walau menurut Luhan ia tetap terlihat sedih, “Itu terlalu memalukan bagiku sampai aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mu. Aku selalu terlihat ceria ketika dulu dan aku ingin kau melihatku dengan cara itu.”

“Mungkin tidak seperti itu. Ketika aku datang aku tidak memikirkan adanya perubahan. Aku masuk dan bertindak seperti biasanya. Seperti dulu. Dan kau sebagai sahabatku tidak ingin menyakitiku sehingga seperti itu—“

“Tidak Luhan.” Potong Krystal lagi. “Aku membenci bagian dari masa itu. Makanya aku tidak ingin memberi tahu hal itu kepada siapa-siapa. Kau adalah orang dari masa yang paling membahagiakan dari ku dan aku tidak ingin menghancurkan masa-masa itu. Sejujurnya, Sehun bukan bagian dari itu. Aku dan Sehun terlibat sesuatu sehingga kami memutuskan komunikasi. Kedatanganmu membuat kami kembali bersatu dan sejujurnya aku senang akan hal itu. Karena kalian sahabat ku…”

Luhan tergugu sejenak mendengar penjelasan Krystal. Nafasnya memberat. Kata-kata Krystal hampir sama seperti kata-kata Sehun. Dia jadi semakin tambah salah. Segitu dia tidak peka terhadap sahabatnya?

“Luhan….” Suara lembut Krystal kembali menyadarkan Luhan. Ia mengeluarkan senyumannya lagi. Tapi kali ini terlihat tulus, “Jangan terlalu dipikirkan kata-kata ku. Kau adalah sahabat yang baik.”

“Kalau aku melebihi sahabat boleh tidak?” Tanya Luhan tiba-tiba. “Maksudku menjadi pacar mu?”

Kali ini Krystal yang terdiam. Jadi benar selama ini Luhan menyukainya? Dia melihatnya dengan jelas dan semua orang melihatnya dengan jelas. Entah mengapa hatinya tidak ingin Luhan mengatakannya. Dan dia tidak tahu alasannya.

Luhan kembali berbicara, “Aku menyukai mu dari dulu. Jika ingin jujur, aku menyukai mu sejak SD. Ketika Sehun mengenalkan dirimu padaku aku biasa saja. Tiba-tiba perasaanku kepada muncul saja. Tanpa alasan yang jelas. Aku telah jatuh cinta kepada mu. Dilain sisi aku juga tidak ingin menghancurkan persahabatan kita sehingga aku berjanji akan memberitahu mu ketika perasaan ku tidak berubah ketika dewasa. Dan perasaan ku tidak berubah ketika dewasa.” Luhan berhenti sejenak, “Maukah kau menjadi pacar ku?”

Luhan menyukainya sedari dulu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu? Apakah dia terlalu buta karena Sehun sehingga dia tidak melihat Luhan? Kalau dipikir-pikir, alasan Luhan tidak mengungkapkan perasaannya dulu juga sama seperti dia tidak mengungkapkannya kepada Sehun. Dia hanya ingin dia yakin sebelum ia memberi tahu Sehun tentang hal itu.

Setidaknya ia yakin pada satu hal sekarang. Sehun tidak menyukainya dan kemungkinan ia bersama dengan Sehun juga kecil. Laki-laki itu akan terus menolaknya dengan alasan yang tidak akan Krystal ketahui sampai entah kapan. Sejujurnya, kenapa dia harus menunggu yang tidak pasti sedangkan yang pasti ada? Sudah seharusnya bukan ia menutup segala hal yang berhubungan dengan Sehun? Apalagi dengan ia mengingat semuanya, itu sudah sangat jelas.

Krystal menatap Luhan, “Ya, aku mau.”

.

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapati benda yang di lempar dari Sehun. “Bunga?!”   Tanyanya dengan alis berkerut.

“Kau sakit bukan?” Kata Sehun acuh tak acuh kemudian segera merebahkan dirinya ke kasur Chanyeol.

“Cih, Apa-apaan itu?!” Chanyeol dengan asal melemparkan bunga pemberian Sehun ke lantai. Ia juga merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tak lama kemudian matanya menatap Sehun tajam, “Apa maksudmu dengan aku sakit?”

“Sakit hati…” Balas Sehun sambil menerawang ke atas.

Chanyeol berdecak, “Bisakah kau tidak membahas hal itu?!” Ia kemudian menghela nafasnya.

“Jangan menjadi pengecut. Minta maaflah karena dirimu masih ada kesempatan.” Kata Sehun lagi dengan masih dengan tidak melihat Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Bagaimana bisa aku meminta maaf kalau ia tidak mengangkat teleponku? Atau kabur setiap kali aku ingin bertemu dengannya?” Chanyeol mengerang frustasi, “Itu sebenarnya hanya masalah kecil Oh Sehun. Aku tidak mengangkat teleponnya dua kali karena saat itu sedang di ruangan Professor Jung. Bagaimana bisa aku mengalihkan fokusku dari dosen galak itu?! Bisa-bisa skripsi ku tidak diterima olehnya dan harus mengulang lagi tahun depan. Seperti yang Junmyeon alami. Tapi dia berteriak marah-marah dan itu membuatku bingung. Tidak biasanya dia seperti itu. Ini pertama kalinya dia seperti itu.”

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Seperti dia sedang mengalami hal yang buruk. Habis dimarahi oleh dokternya. Atau tersinggung oleh kalimat mu.”

Chanyeol terkesiap. “Tersinggung…..” Ia terlihat berpikir. “Aku hanya mengatakan jika waktu itu aku sedang menghadap Professor Jung. Tiba-tiba ia marah-marah. Sudah kubilang, itu bukan sangat dirinya.”

“Dan ini bukan sangat dirimu Park Chanyeol. Kau sangat pesimis. Ini baru dua hari kau mencoba meminta maaf dengan Sulli dan kau sudah menyerah sekarang? Ayolah…. Kau bisa lebih baik daripada itu.”
“Aku memberikan ia waktu agar ia agak tenangan. Baru aku muncul lagi. Lagipula kesempatan esok atau lusa pasti ada.”

Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap gumpalan awan yang dihiasi keemasan matahari dari jendela kamar Chanyeol. “Tidak ada yang tahu mengenai kesempatan. Tidak ada jaminan kau yang mengenalnya sejak dulu bisa bersamanya. Karena kesempatan bukan di tentukan oleh itu. Bukan di tentukan oleh waktu dan tempat. Tapi kesempatan ada karena adanya sebuah usaha. Seseorang yang lebih cerdas bisa memiliki kesempatan lebih besar daripada yang mempunyai segalanya tapi tidak tahu menggunakannya. Itulah kesempatan.”

Chanyeol menatap Sehun dalam. Suara Sehun yang tidak ada main-mainnya, tegas membuat ia menyeringit. Apa yang terjadi dengan temannya?

“Hey, kau juga punya masalah? Kau bisa bercerita padaku kau tahu itu?”

Sehun kemudian berdiri. “Bukan masalah besar sebenarnya. Lupakanlah. Masalahnya sebentar lagi akan selesai.”

“Apa ini tentang Krystal? Kau kehilangan kesempatan dari Luhan?”

Sehun seperti tidak mendengarkan pertanyaan Chanyeol. Ia hanya diam dan memakai jaketnya. Bersiap-siap untuk pulang.

Sebelum membuka pintu Sehun pun berkata, “Pada akhirnya, bukan aku yang tidak ingin menjilat ludahku sendiri. Tapi memang sudah terlambat bahkan harus menjilat ludahku sendiri.”

Pintu berdebum dan Chanyeol kembali sendiri ke kamarnya. Tatapannya masih tetap berada di tempat Sehun sebelumnya. “Ck! Apaan sih… Aku tidak mengerti!”

Dengan malas ia bangun dan mengambil bunga pemberian Sehun. ‘Oh, ada kartu ucapan rupanya.’ Chanyeol segera membaca kartu itu dengan cepat dan secepat itu pula dia menggeram, “Sialan! Aku tahu dia tidak pernah niat datang kepadaku untuk mendengarkan curhatan ku!”

Ia kembali melempar bunga pemberian Sehun ke lantai.

“Untuk Krystal, ku harap kau cepat sembuh. -Oh Sehun-“

.TBC.

Haiiii….

Sebelumnya aku minta maaf karena lama banget updated-nya.  Ada beberapa hal yang buat aku lama updated yang salah satunya adalah karena aku baru naik ke kelas 12 dan rasanya 😫  Baru permulaan tapi udah ingin nangis.  Jadi karena aku udah mulai bimbel 5 hari dalam seminggu (😅)  pulang sekolah sekitar jam 4 dan lanjut bimbel, intinya sampe rumah jam 8, buat ngelanjutin cerita rasanya malas dan ngantuk.  Dua minggu ini aku berkutat di depan laptop yang unjung-unjungnya cuman nulis berapa baris.

Kemarin dapat feel lagi buat nulis…  doain aja ya dapat terus feel nya…

Have a nice day~ 😇☺️😊

Oh, ya,  State of Grace chapter 27 kalau gak besok lusa….😉

Flipped (Chapter 15)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Janggal

Tok! Tok! Tok!

Bocah busuk! Hey! Buka pintunya!” Chanyeol terlihat kesal menatap pintu kamar Sehun. Merasa kesal karena tidak diberi tanggapan, ia kembali mengetuk pintunya.

Cklek~

“Chanyeol-ah, ada apa?” Suara serak Luhan mengangetkan Chanyeol.

Luhan masih sakit. Sudah tiga hari ini dia tergeletak di kamarnya. Kemarin ia sudah pergi ke dokter dengan Krystal. Dia terkena penyakit tipes dan wajib berisitirahat selama dua pekan full.

Chanyeol tersenyum malu karena telah membangunkan Luhan, “Tidak apa-apa. Seperti biasa, hari ini Sehun yang bertugas membeli makanan. Tapi dia tidak bangun-bangun.”

“Mungkin dia sakit. Kemarin ketika aku baru pulang dari rumah sakit Sehun terlihat sangat lemas.”

Chanyeol akhirnya menghela nafasnya, “Mungkin saja. Baiklah aku akan membelikan makanan. Kau seperti biasa bukan?”

Luhan mendengus, “Aku hanya memakan bubur selama dua pekan tidak selamanya.”

Chanyeol terkekeh kecil, “Sampai dua pekan kedepan seperti biasa bukan?”

Luhan menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

Sehun tidak tertidur. Ia memang di tempat tidur, tetapi dia hanya tidur-tiduran di atas tempat tidurnya. Sehun mendengar ketukan pintu, ia mendengar obrolan Chanyeol dan Luhan, intinya ia mendengar semuanya. Tetapi dia malas membuka pintu. Setelah kejadian empat hari lalu, dia selalu focus terhadap satu hal.

“Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!”

Sehun mendesis tajam. Sial! Dia tidak bisa menghilangkan nada suara Krystal dari pikirannya ketika mengatakan hal itu. Tajam dan begitu menusuk. Ekspresinya yang berapi-api juga selalu terpatri di benak Sehun.

Apakah ia tidak mengerti dirinya sendiri?

Sehun bertanya-tanya mulai dari saat itu. Apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Entahlah.

Dia tinggal di sini karena malu kepada orangtuanya. Tetapi ia merindukan orangtuanya. Jauh dilubuk hatinya, ia ingin berbaikan dengan orangtuanya. Dia menjadi seperti dirinya sekarang juga karena kebodohannya sendiri.

Jadi, apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Sehun memejamkan matanya.

Tidak!

Dia tidak mengerti dirinya sendiri. Krystal benar. Dia hanyalah orang bodoh dan egois. Sehun kembali menghela nafasnya. Sepertinya dia harus melakukan hal penting agar bisa mengerti dirinya sendiri. Atau ia akan terpuruk kedalam kegelapan semakin dalam.

.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Krystal meringis ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia meringis karena hari ini hari minggu. Jam juga masih menunjukan pukul 7 pagi dan seseorang sudah menganggu tidurnya.

Ck!

Krystal mendecakan lidahnya, “Tunggu!” Teriaknya dan segera bangkit.

Trek~
“Oemma?!”
Mata Krystal terbelak melihat orang di depannya.

Oemma tersenyum lembut ke Krystal, “Hai, Princess…”

Oemma?!” Kata Krystal lagi masih tidak percaya.

Nyonya Jung masih tersenyum lembut, “Bagaimana tidurmu? Bangunlah dan cepatlah siap-siap. Oemma sudah membuatkan mu sarapan. Oemma tunggu di ruang makan ya?” Tanpa menunggu jawaban Krystal, Nyonya Jung berbalik.

Krystal terdiam beberapa saat, Apa yang sedang terjadi?

.

.

.

.

.

“Krystal Jung!”

Krystal tersentak ketika Luhan memanggil namanya. Ia mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya. Menoleh dan tersenyum, “Maaf aku melamun.”

Luhan menghela nafasnya, “Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada yang ingin kau ceritakan?”

Krystal menarik nafasnya. Cerita? Tentu ada. Dia sedang pusing dengan kehidupannya belakangan ini. Semuanya sempurna tetapi membingungkan. Entah mengapa orangtuanya menjadi baik kepadanya lagi. Secara tiba-tiba tanpa menjelaskan alasan yang jelas. Itulah yang membuat diri Krystal gusar.

“Krys…”

Suara rendah Luhan membuat Krystal kembali tersentak. Ia kembali mengerjap kemudian menggeleng lemah, “Kurasa semuanya baik-baik saja.” Kemudian ia tersenyum kecil. “Kemana Sehun? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini?” Tanya Krystal kemudian berusaha untuk mengalihkan topic.

“Oh?!” Luhan menatap Krystal seakan baru ingat akan sesuatu. “Sehun?!”
Krystal menganggukan kepalanya.

“Sehun pindah! Astaga bagaimana aku lupa memberi tahu dirimu!” Luhan tiba-tiba heboh. “Dia kembali lagi ke rumahnya. Sudah lima hari ini.”

“Apa?!” Tanya Krystal terkejut. Sehun kembali lagi kerumahnya? Bagaimana bisa? Bukannya hubungan Sehun dan orangtuanya juga tidak baik? Jangan-jangan…
“Krys…”

Krystal menoleh ketika Luhan memanggil namanya, “Iya?”

“Apa kau yakin kau tidak apa-apa?” Luhan menatap Krystal lembut. Nada suaranya tidak ada paksaan sama sekali.

Krystal lagi-lagi menggeleng lemah, “Tenang saja. Bukan apa-apa.” Kemudian ia kembali berkata, “Ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tidak keberatan bukan?”

Luhan mengerjap bingung sebelum mengulas senyum, “Tentu tidak. Terimakasih telah menemani orang sakit di tengah dirimu yang sedang sibuk-sibuknya kuliah. Jangan lupa meneleponku ketika sampai rumah, Okay?”

.

.

.

.

.

Krystal meletakan tasnya sembarangan ketika ia sampai rumah. Segera saja, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Drrrt~

Hufh!

Krystal menghela nafas bersamaan hp-nya bergetar. Dengan malas, ia mencoba untuk bangkit dan mengambil handphone-nya.

“Kau sudah sampai di rumah?”

Krystal mengulas sebuah senyum ketika mendengar suara Luhan, “Baru saja.”

“Syukurlah kau baik-baik saja.”

“Aku hanya pulang ke rumah. Tidak akan terjadi hal yang mengerikan Xi Luhan…”

Terdengar kekehan dari Luhan. Ia geli ketika Krystal memanggil dirinya “Xi Luhan”. Panggilannya dulu berarti rusa kecil karena larinya yang sangat cepat, “Tidak ada yang tahu bukan? Lagipula, tidak apa-apa jika aku mengkhawatirkan mu bukan?”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. “Ak—“

“Ku tutup dulu! Selamat malam Krystal Jung!” Luhan segera memotong omongan Krystal dan memutuskan telepon secara sepihak.

Krystal kembali mengerjap bingung. Keheningan mendadak menyelimuti dirinya. Aneh. Akhir-akhir ini Luhan juga aneh. Dia seperti orang yang ragu. Terkadang mengeluarkan gombalan yang sangat manis untuk Krystal, tetapi langsung mundur ketika selesai mengatakan hal itu.

Krystal memandang hp-nya. Menyipit selanjutnya menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia juga aneh kali ini. Apa-apaan?! Ia terpikir untuk menelepon Sehun demi menanyakan hal ini. Hal apakah Sehun berhubungan dengan membaiknya hubungan orangtuanya dengan Krystal. Karena, kalau dipikir-pikir, kembalinya Sehun kerumah hampir sama dengan berbaiknya hubungan orangtuanya dengan dia, selama empat hari.

Ah, masa bodoh!

Pikir Krystal dan mulai memencet nomor Sehun. Masa bodoh dengan semua keanehan yang menyeliputinya. Sekali Krystal sudah memikirkannya, jarang dia bisa mundur dari pemikiran itu.

“Anyeonghaseyo?”
Krystal langsung berdehem ketika mendengar suara Sehun, “Eh… Ini aku…” Katanya ragu-ragu.

Terdengar suara kekehan dari seberang, “Aku tahu ini dirimu Krystal Jung.”

Krystal menghembuskan nafasnya, “Maaf menganggu.” Kata Krystal pendek. Dia terdiam sejenak, masih bingung ingin berbicara apa.

“Ada apa?” Tanya Sehun karena Krystal terdiam selama 15 detik penuh.

“Ah…. Kau baik-baik saja?”

Sedetik setelah berkata itu Krystal langsung merutuki dirinya. Ya ampun…. Kenapa dia tidak bisa mengatakan secara langsung? Malah sekarang ia berputar-putar.

“Aku?” Terdengar nada suara bingung. “Tentu. Aku baik-baik saja.”

Krystal memaksakan tawa hambar, “Aku tidak melihat mu 5 hari ini di apartment. Luhan berkata jika kau kembali ke rumah mu. Maka dari itu aku menanyakan hal ini.”

“Oh…” Sehun hanya mengunggam. “Aku memang kembali ke rumah ku. Maaf tidak memberi tahu mu tentang hal itu.”

“Ah, tidak apa-apa. Lagipula, kenapa aku harus tahu?”

Sehun tertawa, “Kau benar.”

Entah mengapa, jawaban Sehun yang sangat jujur membuat Krystal mendengus, “Oh ya, aku boleh bertanya sesuatu kepada mu?” Tanya Krystal dengan suara yang kembali serius.

“Euhm, tentu.” Jawab Sehun cepat dengan nada santai.

“Kenapa…” Krystal terlihat ragu. “Jika boleh tahu, kenapa kau kembali ke rumah mu?”

“Itu…” Terdengar helaan nafas, “Akan ku kasih tahu. Tapi ini rahasia.”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. Jantung langsung berdetak lebih keras.

Appa sakit.” Jawab Sehun pendek dengan nada yang sangat serius. Appa terkena gejala stroke. Lumayan parah. Oemma memberi tahu hal ini dan berharap jika aku dan Appa kembali berbaikan.”

“Ketika Oemma mu datang ke apartment itu ya?” Pikiran Krystal kembali ke hari itu. Sekitar dua minggu yang lalu. Ketika ia mendengar suara lembut Yura. Ketika ia membentak Sehun.

Ya.” Jawab Sehun pendek.

Krystal menghela nafasnya, “Aku minta maaf.”

“Huh?” Nada suara Sehun berubah menjadi bingung. “Maaf ? Kenapa?”

“Karena membentak mu pada waktu itu. Juga karena memancing kemarahan mu. Kau benar, seharusnya aku tidak ikut campur dalam masalah itu.”

Terdengar helaan nafas dari Sehun. Tapi entah mengapa, Krystal senang mendengarnya, “Aku juga minta maaf karena tidak dapat menahan emosi ku.” Berhenti sejenak, “Dan kau tidak perlu minta maaf. Aku senang kau ikut campur karena aku tersadar karena itu. Jadi terimakasih.”

Deg!

Deg!

Deg!

Krystal merasa detakan jantungnya tidak terbendung lagi, “Aku senang jika aku membantu.” Katanya menjadi gugup. Krystal berdehem, “Ngomong-ngomong, ada hal lain yang ingin aku bicarakan.”

“Tentu tentang apa?”

Nada suara Sehun yang begitu santai membuat Krystal rilex, “Jangan mentertawakan aku.”
“Aku tidak akan mengetawai mu…” Tapi Krystal sendiri mendengar Sehun terkekeh.

“Ini tentang orangtua kita. Jadi, kau berbaikan dengan orangtua mu? Kau menceritakan sesuatu kepada orangtua mu?”

“Kenapa?” Sehun bertanya dengan nada yang berubah. Menjadi sedikit gugup.

“Karena entah mengapa orangtua ku menjadi lebih baik pada ku. Bukan! Hubungan ku menjadi kembali seperti semula dan aku bertanya-tanya akan hal itu.”

“Ah yang itu…”

Respon Sehun yang pendek membuat Krystal bertambah penasaran, Jadi….”

Aku mengatakan yang sejujurnya kepada orangtuaku. Mengenai masalah itu. Bahwa aku yang memang tidak ingin dan kau hanya mengikuti ku. Entahlah. Kurasa Oemma ku telah berbicara kepada Oemma mu…” Jelas Sehun pada akhirnya.

“Kau mengatakan yang sejujurnya?”

Sehun hanya mengunggam.

Krystal tersenyum, “Kau mengatakan yang sejujurnya?”

“Ck! Iya. Iya.”

Krystal terkekeh kecil mendengar suara sebal Sehun, “Terimakasih…” Ucap Krystal tulus. Dia bersyukur karena dia tidak harus berbohong kepada orangtuanya lagi.

Bagai pembuka jalan dari semua kedinginan mereka, Krystal dan Sehun akhirnya berbicara panjang pada malam itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu. Semua jurang kecanggungan tertimbun dan sepertinya keadaan kembali seperti semula.

“Jadi bagaimana keadaan Luhan? Aku belum sempat menghubunginya sejak pindah.”

“Oh? Dia baik-baik saja. Sudah seperti biasa walaupun masih harus beristirahat. Malah akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya yang datang ke apartment.”

“Dia itu cerdas atau bodoh? Jelas-jelas disuruh beristirahat….”

Krystal tertawa kecil, “Itu yang ku katakan padanya. Tapi ia bersikeras jika sakit bukan penghalang dalam mendapatkan nilai sempurna.”

Sehun berdehem, “Sekarang boleh aku bertanya?”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu boleh.”

“Kau dan Luhan… Bagaimana?”

Mengerti arah bicara Sehun, Krystal menerawang langit-langit kamarnya, “Kenapa kau ingin tahu?”

“Kenapa kau tidak ingin aku tahu?”

“Karena…” Krystal terdiam. Menggigit bibirnya. Karena tidak terjadi apa-apa! “Itu rahasia. Aku tidak membicarakan masalah hati ke cowok. Aku membicarakannya ke cewek!”

“Aku mengerti. Tapi jika boleh aku berkata—“

Tidak! Aku tidak ingin mendengarnya! Krystal tahu apa yang akan Sehun katakan dan dia sangat berharap Sehun tidak mengatakannya. “Sehun—“

“Kau cocok dengan Luhan. Luhan sangat perhatian kepada mu. Aku yakin, dia akan melakukan apa saja untuk untuk mu dan segalanya agar bisa bersama mu.”

Suara Sehun membuat dada Krystal nyeri. Bukan suara menjengkelkan seperti yang lalu. Seperti perkataan yang berasal dari hatinya.

“Krys?” Sehun memanggil Krystal karena tidak ada tanggapan. “Kau tertidur?”

“Uhm!” Krystal menghela nafasnya, “Sudah larut malam.”
“Kau benar. Jangan lupa reuni SMA lusa!”

Krystal tersentak. Dia melupakan segalanya ketika Sehun membahas Luhan. Mereka baru saja membicarakan tentang reuni SMA 20 angkatan. “Oh tentu.   Kau akan datang bukan?”

“Ya. Aku akan datang.”

Setelah Sehun berkata seperti itu, Krystal memutuskan teleponnya. Dengan lusuh, ia meletakan handphone-nya. Krystal mendesah. Sebaiknya ia harus tidur.

.

.

.

.

.

.TBC.

Hullaaaa i’m back!!!  Waktu itu saya sendiri yang bilang mau hiatus sampai Julli awal tapi udah post di Juni awal…  Hehehe maafkan…  Saya baru updated Flipped Chapter 15 nih..  Gimana ceritanya?  Wkwkwk, ribet atau bolak-balik? Bagaimanapun sebentar lagi Flipped udah mau habis juga sama seperti State of Grace…  Mentok-mentok sampai 25 chapter..  Dan saya lagi ngembangin beberapa cerita baru salah satunya Wind of Change…  Castnya sama, masih Sestal.

Atau ada yang mau cast lain?  Komen aja dibawah ya….

Warm Regards

Allamanda Zahra

State of Grace (Chapter 21)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Lantunan piano menggema di penjuru Café. Mengiringi para penikmat makanan. Krystal memejamkan matanya. Menikmati setiap nada yang ia bentuk.

Prok~ Prok~ Prok~

Tepuk tangan menggema ketika ia menyudahi alunan nadanya. Krystal membuka matanya. Tersenyum kecil ketika mengetahui Jonghyun, sahabatnya datang kepadanya.

“Alunan musik yang bagus Jung!” Kata Jonghyun tersenyum lebar. “Tapi nada lagu terdengar seperti orang yang depresi!”

Krystal tertawa pendek, berharap suara tawanya tidak sumbang. “Benarkah? Padahal aku kira nadanya sangat bahagia…” Lanjutnya lebih kepada dirinya sendiri.

Krystal sudah menghabiskan waktu yang lama di Café milik Jonghyun dkk, Jonghyun, Minho, Taemin, Jinki dan Key. Sahabat-sahabatnya yang merupakan teman akrab Changmin, tunangan Victoria. Dari Changminlah Krystal mengenal mereka.

Setelah kejadian tadi sore, kejadian yang tidak ingin di ingatnya, Krystal menelepon Sulli. Mengajak Sulli untuk pergi bersamanya, menghabiskan waktu bersamanya secara diam-diam, tanpa satupun orang di F(x) mengetahuinya apalagi Amber. Krystal yakin Amber pasti langsung menghajar Sehun ketika mengetahui apa yang terjadi.

Mereka memutuskan pergi ke acara pembukaan Café Jonghyun. Bukan pilihan yang cerdas. Tetapi mereka tahu jika tidak ada satupun orang F(x) yang datang ke sana, mengingat semuanya sudah mengkonfirmasi tidak bisa datang. Ditambah makanan disana gratis, jadi mereka tidak perlu mengeluarkan uang.

Ketika sampai disana, Krystal berharap jika mood-nya akan membaik. Nyatanya tidak. Walaupun ia telah dikelilingi oleh orang-orang yang riang gembira. Untung saja Jonghyun datang, menawarkannya memainkan musik karena temannya telat. Krystal dengan senang hati mengiyakan. Berharap dengan musik mood nya juga akan membaik.

Tapi lihatlah? Mood nya tetap jelek dan sekarang ia menyeret orang-orang untuk bersedih juga.

“Kau tidak ingin cerita?” Tanya Jonghyun membuyarkan lamunan Krystal.

Krystal mengibaskan tangannya, “Bukan hal yang penting.”

“Aku rasa tidak begitu. Kau terlihat murung dari pertama kali datang. Selama disini juga kau terlihat melamun.”

“Bukan masalah penting. Okay?” Krystal menatap Jonghyun dengan tatapan santai. Ia hanya ingin bersenang-senang sekarang. Tanpa harus mengingat kejadian tadi sore.

Jonghyun menghela nafasnya, “Terserah… “ Jonghyun kemudian berbicara lagi, “Temanku datang sebentar lagi.   Dia sampai kira-kira lima menit lagi. Maukah kau memainakan lagu lagi?”

“Tentu. Dengan senang hati….”

Jonghyun pergi dari pandangan Krystal. Krystal memposisikan dirinya kembali bermain piano. Memejamkan matanya. Mulai membayangkan hal-hal indah, hal-hal yang berhubungan dengan melukis.

Tangannya mulai bergerak kembali. Menekan tuts-tuts piano dengan anggun. Mengeluarkan nada sesuai kehendak hatinya. Jari-jari Krystal bergerak membentuk nada minor ketika ia mengingat Tifanny. Ia membuka matanya, tahu jika nadanya akan berubah menjadi sedih. Tangannya bergerak kembali ke mayor dengan terpaksa. Tetapi sarat akan kesedihan. Krystal memejamkan kembali matanya. Membayangkan…. Membayangkan Sehun. Sedikit demi sedikit alunan nada kembali bahagia. Ia terus bermain dan bermain.

Prok~ Prok~ Prok~

Lagi-lagi, tepuk tangan meriah menyambutnya ketika Krystal kembali membuka matanya. Krystal tersenyum, bangkit dari kursi dan membungkukan badannya.

“Krystal Jung!”

Krystal menoleh dan menemukan dirinya terkejut untuk berapa saat, “Chanyeol?”
“Kau kenal Park Chanyeol?” Jonghyun tiba-tiba telah berada di sampingnya. “Ia adalah teman yang kuceritakan kepada mu!” Lanjutnya tanpa menunggu jawaban Krystal. Jonghyun menghadap Chanyeol, “Chanyeol, ini Krystal Jung. Teman akrabku. Dia sangat piawai bermain piano dan melukis.”

Krystal membungkukan badannya. Begitupula Chanyeol.

“Aku mengenal Krystal.” Kata Chanyeol ke Jonghyun. “Dia pernah datang melihat pertunjukan ku. Aku mengetahui jika ia pandai melukis tetapi tidak tahu jika ia pandai bermain piano.”

“Dia sebenarnya pandai. Bukan! Bahkan bisa dikatakan jenius. Kau lihat tadi permainannya?”

Chanyeol menganggukan kepalanya, “Tadi benar-benar mengagumkan.”

“Ku rasa aku akan kembali ke bangku ku.” Krystal mengundurkan diri dari hadapan Chanyeol dan Jonghyun.

“Tunggu!”

Perkataan Chanyeol menghentikan jalan Krystal.

“Bagaimana jika Krystal mengiringi permaianan gitarku? Ide yang bagus bukan?”

Krystal terkejut mendengar ide Chanyeol.

Jonghyun terlihat setuju, “Bagaimana Krys, kau mau?”

Krystal cepat-cepat menggeleng, “Tidak sekarang. Aku akan beristirahat dulu.” Katanya kemudian kembali ke tempat duduknya. Tempat duduknya sebelah Sulli.

Jonghyun tersenyum pendek, “Aku akan membujuknya.”

Chanyeol mengangguk, “Tenang saja teman. Okay, kurasa aku akan bersiap-siap!”

.

.

.

.

.

Sulli mendengus melihat Krystal, “Apa mood-mu belum kembali?”

Krystal menoleh, ia juga mendengus, “Entahlah. Aku benar-benar merasa sedih….”

“Ku rasa satu-satunya alasan adalah bertemu dengan Sehun.” Sulli kemudian mengambil handphone Krystal, “Bagaimana jika aku meneleponnya?”

Krystal segera meraih handphone-nya, “Jangan melakukan hal-hal aneh. Acaranya pasti belum selesai.”

“Tapi kau tidak pantas diperlakukan seperti ini….” Seru Sulli dengan nada geram. “Biarkan aku membantumu untuk sekali saja… Sekali saja setelah kejadian dengan-“

“Selamat malam semuanya….”

Suara Chanyeol berhasil memutuskan omongan Sulli, Ia segera menoleh kepanggung, “Siapa dia?” Tanya Sulli.

“Chanyeol…” Gumam Krystal tanpa sadar. Tatapannya menerawang langit-langit café.

“Oh, kau mengenalnya?”

Krystal menoleh, “Iya.” Jawabnya pendek.

Sulli menatap Krystal tajam, menuntu agar Krystal mengatakan lebih.

“Baiklah…” Kata Krystal dengan malas. “Dia temannya Jonghyun….” Kemudian dilanjutkan dengan nada kecil, “dan Sehun.”

“Sehun, Oh Sehun pacarmu?”

“Siapa Oh Sehun?”

Krystal dan Sulli tersentak. Mereka menemukan Jonghyun sudah berada di depan mereka.

“Pacar?” Tanya Jonghyun lagi.

Krystal mendesah. Ia akhirnya mengangguk.

“Kenapa kau tidak datang dengan pacarmu? Kau bertengkar dengannya?”

“Sehun punya acara. Sebenarnya Krystal ingin mengikuti acara tersebut tetapi aku memaksa Krystal untuk menemaniku ke sini. Jadinya Sehun tidak bisa ikut!” Jelas Sulli dengan senyuman manisnya. Berharap kebohongan kecilnya dipercayai Jonghyun.

Sebagai teman masa kecil Krystal ia tahu mengenai satu hal, Krystal tidak suka menceritakan masalahnya ke orang-orang. Maka dari itu, daripada mood Krystal bertambah hancur karena masalahnya diketahui orang, Sullipun berusaha menutupinya.

“Tapi Sehun akan datang juga kok… Mungkin sebentar lagi….” Lanjut Sulli mencoba meyakinkan.

Apa-apaan? Pekik Krystal dalam hati. Ia menatap Sulli dengan alis mengkerut. Kenapa Sulli bercerita hal-hal aneh bahkan berkata Sehun akan datang? Krystal kemudian menoleh ke Jonghyun, “Dia berjanji akan datang. Tapi aku sendiri tidak memaksanya…” Kata Krystal pada akhirnya ikut berbohong. Rasanya tidak adil menjatuhkan akting apik Sulli dimana akting tersebut juga untuk melindunginya.

Jonghyun hanya bisa menghela nafasnya. “Oh begitu…” Katanya pendek dengan nada tidak percaya. Ia merasa jika dua orang di depannya berbohong. Tetapi mungkin hanya perasaanya saja. “Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua. Aku akan ikut Chanyeol menyanyi. Dan Krystal, aku benar-benar ingin dirimu bermain piano di atas panggung.”

Jonghyun menghilang di atas panggung. Detik-detik berikutnya Krystal mendapati ia menikimati nyanyian Jonghyun. Suara khas Jonghyun ditambah alunan gitar Chanyeol, sempurna! Suasana menjadi riuh. Sulli pun dari tempat duduknya berteriak-teriak seperti seorang fan girl.

“Astaga Krystal! Kau lihat?” Mata Sulli berkilat-kilat menghadap ke Krystal, “Dia sangat menakjubkan bukan?!”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu. Jonghyun memang menakjubkan.”

“Bukan Jonghyun!” Dengus Sulli. “Chanyeol! Chanyeol menakjubkan bukan?”

Krystal menatap Sulli berkerut. Entahlah…. Sedari tadi dia hanya mendengar Jonghyun bernyanyi.

“Hey!” Teriak Sulli mencoba menyadarkan Krystal dari lamunan. “Kau melihat Chanyeol tadi tidak? Ketika dia memainkan gitarnya?! Astaga hatiku….”

Krystal tidak dapat menahan senyum gelinya melihat kelakuan temannya ini.

“Mereka sedang beristirahat!” Pekik Sulli.

Krystal melihat ke panggung dan menemukan Chanyeol dan Jonghyun sedang minum.

“Ayo temani aku ke panggung! Aku ingin mengobrol dengan Chanyeol!”

Sebelum Krystal memberi jawaban, ia sudah di tarik oleh Sulli mendekati panggung.

“Haii….” Sapa Sulli dengan senyum manisnya. Mau tidak mau, Krystal juga ikut tersenyum.

“Oh, Chanyeol, perkenalkan ini Sulli, adik kecilku!” Jonghyun memperkenalkan Chanyeol dengan Sulli.

Chanyeol dan Sulli sama-sama membungkukan badannya, “Salam kenal. Aku Park Chanyeol.” Balas Chanyeol sambil tersenyum. “Adik?” Tanyanya lagi.

Sulli terkekeh, “Karena aku adalah yang paling kecil diantara mereka. Ada Krystal yang seumuran aku, tapi entah mengapa orang-orang salah mengartikan umurnya.”

Krystal menatap Sulli tajam. Jonghyun, Chanyeol, dan Sulli tertawa kecil.

“Oh, jadi kau berteman dengan Krystal?” Tanya Chanyeol lagi.

Sulli menganggukan kepalanya, “Krystal adalah sahabatku sedari kecil. Kau mengenal Krystal bukan?”

“Iya, Krystal pernah datang ke pertunjukan ku. Maukah kau datang ke pertunjukan ku?”

Sulli dan Krystal sama-sama terkejut mendengar permintaan Chanyeol yang sangat blak-blakan.

“Tentu. Dengan senang hati.” Jawab Sulli pada akhirnya.

Well, Krystal…” Kata Jonghyun memecah keheningan, “Kau ingin bermain piano? Kurasa kita akan menyanyikan lagu jazz dan itu butuh bantuan mu…”

Sulli menatap Krystal bersemangat. Hal tersebut akhirnya membuat Krystal menyetujui permintaan Jonghyun.

Krystal kembali meposisikan diri untuk bermain piano. Begitu alunan gitar terdengar, ia mengikuti alunan gitar Chanyeol. Berimprovasi dengan nada pianonya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke café, Krystal mengulaskan sebuah senyuman. Rasanya semuanya sempurna ketika ia mendetingkan tuts-tuts piano.

Prok~ Prok~ Prok~

“Hebat! Hebat!” Seru Sulli yang terdengar hingga ke atas panggung. Krystal kembali tersenyum.

Chanyeol juga ikut tersenyum. “Test….” Kata Chanyeol berbicara di depan mic. “Terimakasih semuanya… Tadi adalah lagu Cry Me a River oleh Diana Washington. Sebuah lagu jazz yang pastinya tidak akan sempurna jika Krystal Jung tidak memainkan pianonya.”

Suara tepuk tangan terdengar riuh.

“Pada malam ini juga, aku ingin mengucapkan selamat menikmati Soft Opening Café Italiana by Lee Jinki. Dan kita doakan agar apa yang diharapkan para pendiri tercapai. Juga kuucapkan selamat datang pada seseorang yang baru saja datang…”

Krystal mengkerutkan keningnya. Siapa yang datang pada pukul sepuluh malam? Sangat telat.

“Ku ucapkan selamat datang bagi Oh Sehun!”

Sehun?! Segera saja Krystal berdiri dari tempat duduknya. Matanya menyapu penjuru Café. Sehun… Ya, benar ada Sehun! Sehun berada di Café ini dan sedang menatapnya. Krystal merasa jika lututnya melemas. Ia mencengkram piano.

.

.

.

.

.

Sehun mengucapkan terimakasih ketika penjaga pintu membukakan pintu Café. Sesaat setelah memasuki Café, Sehun menemukan jika aroma pasta tercium dengan lezat. Perutnya berbunyi. Rasa lapar kembali menyerangnya. Tetapi dia tidak akan makan sekarang. Tidak, sebelum ia bertemu Krystal.

Matanya menyapu seluruh penjuru Café. Kemana Krystal? Katanya dalam hati. Ia tidak dapat menemukan Krystal. Ia berjalan menjauhi pintu masuk. Semakin memasuki Café.

Deg!

Jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia berhasil menemukan Krystal. Di dekat panggung bersama Sulli. Mereka sedang berbicara dengan Chanyeol dan seseorang yang Sehun tidak kenali. Sehun baru saja ingin berjalan ke arah mereka kalau saja Krystal tidak ke atas panggung. Alis Sehun berkerut, ia melihat Krystal duduk di depan piano. Alunan gitar mulai terdengar, jari-jemari Krystal juga mulai bergerak. Mengiringi permainan gitar Chanyeol. Ia menatap Krystal terkejut. Krystal bisa bermain piano?

Sehun mendesah. Masih banyak yang belum ia ketahui dari Krystal. Tatapannya tidak dapat berpindah sedikit pun, terpaku oleh Krystal. Semuanya terasa sempurna. Kemudian bibir tipis Krystal membentuk senyuman. Sehun merasa jantung mencelos. Dia seharusnya bahagia karena Krystal akhirnya tersenyum, pertanda Krystal tidak lagi bersedih, Tetapi dia menginginkan Krystal tersenyum karena dirinya. Hanya dirinya.

Prok~ Prok~ Prok~

Suara tepuk tangan bergema riuh. Lagu selesai. Sehun tetap terpaku oleh Krystal. Ia merasa tidak bisa bergerak. Apakah Krystal menjauhinya ketika ia mendekat? Krystal sendiri terlihat santai. Ia melipat kedua tangannya. Mendengar perkataan Chanyeol. Kemudian kening Krystal mengkerut, ia terlihat berpikir.

“Ku ucapkan selamat datang bagi Oh Sehun!”

Sehun menahan nafasnya. Apa? Apa ia tidak salah dengar? Krystal terlihat langsung berdiri dari kursinya. Menatap ke segala penjuru Café.

Deg!

Rasanya…. Rasanya jantung Sehun tidak dapat berdetak ketika mata Krystal menatapnya. Tatapan itu sangat terkejut hingga membuat Sehun menahan nafasnya.

.

.

.

.

.

“Hey Krys, ada apa?” Jonghyun terlihat khawatir karena Krystal tiba-tiba pucat.

“Apa?” Tanya Krystal linglung. Tersadar membuat Jonghyun khawatir, Krystal mencoba tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku permisi sebentar.” Ia pun langsung turun dari panggung tanpa menunggu jawaban dari Jonghyun.

Sehun yang melihat itu memutuskan untuk bergerak. Dia tidak akan membiarkan Krystal lari lagi, karena sepertinya gadis itu ingin menghindarinya. Ia ingin mengakhiri penderitaan ini sekarang. Sekarang juga tanpa menunggu hari esok.

Ia berjalan semakin cepat ke arah Krystal. Krystal sendiri berjalan mejauhi panggung, menjauhi kerumunan orang. Langkah Sehun semakin cepat hingga ia dapat melihat Krystal dengan jelas. Tangannya ingin meraih tangan Krystal.

“Hentikan!”

Kening Sehun mengkerut menatap Laki-laki di depannya. Laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Parahnya, ia berdiri di tengah-tengah Sehun dan Krystal dan…. Dan memegang tangan Krystal. Apa-apaan!

“Siapa dirimu?” Tanya orang tersebut tajam.

Sehun juga menatap tajam. Seharusnya ia yang bertanya seperti itu.

“Hey, ada apa?” Sekarang laki-laki lain mendekati mereka. Ah, Sehun mengenali laki-laki tersebut, maksudnya laki-laki itu adalah orang yang tadi berbicara dengan Krystal. “Krys, apakah ia menyakiti mu?” Lanjut laki-laki tersebut.

Krystal melepaskan tangannya dari laki-laki yang pertama dan Sehun merasakan kelegaan yang luar biasa. Bibir tipisnya membentuk senyum kecil, “Tidak apa-apa…” Ucapnya lirih.

“Kenapa kalian semua berkumpul disini?”

Lagi-lagi Sehun menoleh ke arah suara ke tiga. Sulli datang ke arah mereka dengan kening berkerut. Ketika melihat Sehun, matanya terbelak kaget.

“Sehun?! Astaga kau datang?!”

Sehun terkejut mendengar suara Sulli yang sangat besar. Sulli terdengar sangat bergembira.

“Oh, kau Sehun?”

Kemudian Sehun kembali menoleh ke laki-laki kedua, karena bingung dengan yang terjadi, ia hanya mengangguk.

“Siapa dia?” Tanya laki-laki pertama dengan nada tajam.

“Tenanglah Minho-yah… Dia adalah pacar Krystal…” Laki-laki yang kedua terlihat menjelaskan dengan nada santai. Ia kemudian menoleh, “Aku tidak percaya dirimu datang. Aku sudah menunggu-nunggu dirimu.”

Sehun hanya terdiam tidak mengerti maksud orang di depannya.

“Kenalkan, namaku Kim Jonghyun dan teman ku adalah Choi Minho.” Lanjut Jonghyun, laki-laki kedua, kepada Sehun.

Mereka bertiga, Sehun-Minho-Jonghyun, membungkukan badannya.

“Maafkan aku telah berpikir buruk-buruk kepada mu.” Untuk pertama kalinya, Choi Minho berkata dengan suara lembut. “Seseorang yang dekat dengan Krystal juga menjadi orang terdekat kami. Selamat menikmat Soft Opening dari Café kami. Aku permisi terlebih dahulu… “

Setelah Minho mengundurkan diri, Jonghyun juga mengundurkan dirinya.

“Aku masih menunggu mu untuk bermain piano lagi.” Ucap Jonghyun sebelum dia benar-benar menghilang.

Sulli lah yang terakhir pergi. Ia menatap Krystal dengan senyuman lebar.

Untuk pertama kalinya setelah kejadian sore, Sehun mengenggam tangan Krystal. Krystal membiarkannya.

“Bagaimana dengan pesta mu?” Tanya Krystal lirih. Ia sekarang menatap Sehun.

Sehun merasa sangat lega ketika Krystal menatapnya. Senyumannya seketika mengembang, “Bosan.” Akunya. “Tidak ada dirimu.”

Krystal tersenyum pendek, “Benarkah? Meskipun ibu mu ada di situ?”

Sehun mengkerutkan keningnya, “Apa yang ibuku katakan Krystal? Maksudku, kau harus jujur kepadaku. Benar-benar jujur.”

Krystal tetap menatap Sehun, “Kalau aku jujur, apa yang akan dirimu lakukan kepada ibumu?”

“Apakah ibuku berkata sesuatu yang sangat buruk?”

Krystal menggeleng. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kesedihannya.

“Kurasa aku benar.” Sahut Sehun tajam.

Krystal mengeratkan genggaman tangannya, “Dengar… Seperti yang aku bilang, aku tidak ingin kau bertengkar dengan ibumu hanya karena diriku. Itu tidak etis juga tidak membuat opini ibumu berubah terhadapku. Tentang tadi sore kita biarkan saja, Okay? Aku baik-baik saja, sungguh!” Melihat tatapan Sehun yang menjadi tajam Krystal menghela nafasnya, “Tentu aku bersedih tapi sekarang aku baik-baik saja. Lagipula karena kejadian itu aku sadar akan satu hal…”

Kalimat Krystal menggantung, Sehun menemukan dirinya bertanya-tanya apa yang Krystal ingin ucapkan.

“Aku tersadar jika aku mencintaimu karena kepribadian mu. Bukan karena kekayaan mu ataupun kepintaran mu ataupun jenis pekerjaan mu.”

Sehun menatap Krystal untuk beberapa saat. Krystal juga menatapnya dengan tatapan tersenyum.

Sebuah suara tepuk tangan mengembalikan kesadaran Sehun. Sehun dan Krystal sama-sama melihat ke depan. Belum bisa mencerna, tetapi Krystal tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya. Berjalan menjauhi Sehun menuju atas panggung. Kembali duduk di depan piano.

Sehun kemudian menyungingkan sebuah senyum. Menatap Krystal yang sedang memulai bermain piano. Aku juga mencintai mu karena kepribadian mu. Katanya dalam hati.

.TBC.

Flipped (Chapter 14)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Blam~


Sehun kembali menutup pintunya ketika Krystal sudah masuk.

“Luhan ada di kamarnya. Dia sakit.” Kata Sehun di dapur. Sepertinya ia sedang masak sesuatu. Aroma makanan yang lezat tercium memenuhi apartment.

Krystal menyusul Sehun ke dapur, “Aku sudah tahu.”

“Tentu.” Jawab Sehun pendek tapi masih sibuk berkutat dengan buburnya.

Krystal sedikit berjinjit, ingin melihat dengan jelas apa yang Sehun buat. “Membuat bubur?”

“Seperti yang kau lihat.” Lagi-lagi Sehun masih berkutat dengan buburnya.

“Aku membawakan Luhan bubur.” Krystal kemudian mengeluarkan bekal yang ia simpan di dalam tasnya.

Mata Sehun langsung menyipit, “Aku tidak mau bubur itu dihidangkan ke Luhan.”
“Kenapa?!” Krystal membalas dengan mata menyipit.
“Kau lihat? Aku sudah membuat bubur. Jadi aku tidak ingin Luhan memakan bubur mu!”

“Kau bisa memberinya nanti!”
“Tentu tidak bisa! Aku lelah membuat bubur ini. Memangnya kau membuat buburmu sendiri?! Tidak kan!”

Kata-kata terakhir Sehun membuat Krystal tiba-tiba sedih. Kata-kata yang secara tidak langsung menghinanya. Dia memang tidak membuat bubur ini sendiri. Dia meminta bantuan Bibi Kwon. Tapi apa salahnya?

Sehun yang merasa Krystal diam akhirnya kembali menoleh ke Krystal, “Hey…” Ia memanggil Krystal pendek. Merasa bersalah setelah melihat Krystal yang menunduk. Mungkin karena perkataannya menyakitkan perasaan Krystal. “Hey… Aku….” Terdengar ragu. “Aku minta maaf karena perkataanku tadi. Okay?”

Krystal hanya tersenyum pendek. Sehun tahu Krystal masih bersedih.

“Baiklah…” Gumam Sehun pasrah. “Kasih buburmu ke Luhan. Aku bisa menyimpan buburku untuk makan malam. Dan kujamin setelah merasakan buburku, Luhan lebih memilih buburku daripada buburmu.”

`
Senyum Krystal kembali merekah. “Dimana letak piring? Kurasa lebih baik jika menyajikannya di piring daripada di tempat bekalku.”
Sehun menunjuk salah satu rak yang berada tepat di atas kirinya.

Krystal langsung menuju ke rak bewarna putih yang terbuat dari kayu tersebut. Tangannya membuka raknya dan mengambil satu piring. “Tapi kenapa dirimu berpikir jika Luhan akan memilih buburmu daripada buburku?” Tanya Krystal ketika ia menuangkan buburnya di piring.

“Dia pasti akan memilih buburmu. Diakan menyukaimu.”

Perkataan Sehun menghentikan gerakan Krystal. Krystal menatap Sehun. Tidak dengan tatapan tajam, tetapi dengan tatapan menyipit.

Sehun membalas tatapan Krystal, “Kau pasti buta jika tidak melihat hal tersebut.” Ia kemudian kembali berceloteh, “Dia sering bercerita tentang mu. Tentang apa saja kepadaku. Bahkan tentang dirimu yang menabrak dinding.”

Krystal melotot ke arah Sehun yang terkekeh kecil. Tapi sepertinya Sehun masih tidak menyadari tatapan Krystal.

“Dia juga sangat senang ketika menerima telepon mu. Astaga, bukan hanya saat menerima teleponmu. Saat kau datang. Saat kau bicara.”
“Dan kau baik-baik saja?” Tanya Krystal tiba-tiba. Tetapi sedetik kemudian ia menyadari kebodohannya.

Pabo! Tentu saja dia baik-baik saja dan tidak merasa terganggu jika kedua sahabatnya menjadi sepasang kekasih! Orang di samping kananya bahkan dengan tidak punya hati memutuskan perjodohan! Apalagi merasakan hal sekecil itu.

“Aku tidak sakit.” Jawab Sehun dengan nada bingung.
Krystal berdehem, “Lupakan saja kataku yang tadi.” Ia kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

“Lagipula….” Sehun kembali bercerita. Entah apa maksudnya tapi itu membuat Kyrstal diam-diam mendengus, “Kalian terlihat cocok. Luhan bahagia. Kau bahagia.”

“Jadi, menurutmu aku harus menerimanya jika ia mengatakan perasaanya?” Mulut Krystal menjadi gatal jika tidak menanyakan hal itu. Tanpa ia sadari juga, kata-kata itu sudah terlanjur keluar.

“Tentu! Memangnya apa lagi yang harus kau lakukan jika ditembak oleh orang yang kau suka?”

Krystal sekarang menatap Sehun tajam, “Kau seperti menjodohkanku dengan Luhan.”

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Memangnya salah? Lagipula itu hal yang bagus jika kalian berpacaran.”

Tok…. Tok… Tok…

Suara ketukan pintu seperti penyelamat bagi Krystal dari suasana di dapur yang akan panas sepanas bubur yang Sehun buat.

“Mungkin Chanyeol. Dia tadi keluar.” Sehun bergerak menuju pintu.
“Biar aku saja!” Kata Krystal bergerak lebih cepat dari Sehun. Tolong urus buburnya.” Lanjut Krystal sebelum ia berbalik menuju pintu.

Dalam hati, Krystal merasa harus memeluk Chanyeol karena telah menyelamatkannya dari situasi aneh bersama Sehun. Lagipula, apa yang dipikirkan oleh Sehun? Krystal menghela nafasnya… Jangan dengarkan orang yang seenak jidat memutuskan perjodohan karena egonya… Katanya dalam hati.

Iya benar! Kenapa harus termakan omongan Oh Sehun? Kalau Luhan benar menyukainya, itu akan terbukti suatu saat tanpa harus diceritakan seperti itu. Dan, tunggu… Apa maksud Sehun menceritakan hal ini? Apakah ia menceritakan hal ini karena ia pikir Krystal tidak melihat gerak-gerik Luhan? Benar-benar… Orang itu pikir ia adalah orang bodoh ya? Tanpa ia sadari, Krystal membuka pintu apartment dengan tenaga yang lebih besar dari seharusnya.

“Bibi?!”

“Sojonggie?!”

Krystal dan Oemma Sehun saling bertatap selama beberapa detik. Ya ampun… Apa yang harus ia katakan kepada Oemma Sehun?

“Eh, siapa yang datang?” Sehun dengan santainya berjalan dari dapur. “Oemma?!” Katanya ketika melihat ibunya.
“Kalian….” Oemma Sehun terlihat ragu. “Bagaimana bisa kalian bertemu kembali?”

“Ceritanya panjang.” Jawab Sehun pendek. “Masuklah terlebih dahulu… Di luar dingin!” Katanya sambil menarik tangan ibunya kemudian menutup pintu.

Krystal segera membungkukan badanya, “Anyeong bibi!” Kataknya kikuk.

“Ah, Anyeong Krystal-ssi…” Oemma Sehun tersenyum ramah ke Krystal.
“Luhan tinggal di apartment yang sama denganku. Krystal disini karena Luhan sakit.” Jelas Sehun cepat. “Krystal, kurasa kau bisa memberikan bubur untuk Luhan. Aku akan menemani Oemma-ku.”

Krystal segera mengangguk dan mengambil buburnya. Sebelum ia memasuki kamar Luhan, Krystal kembali berbicara, “Bibi, Anyeong!”

Oemma ingin teh? Akan kubuatkan teh.” Sehun segera berjalan ke dapur tetapi terhenti, “Eh… Maaf ruang tamunya berantakan. Oemma bisa duduk di bangku dapur.”

.

.

.

.

.

Koo Yura menatap lekat-lekat anak semata wayangnya. Sehun sudah berubah. Katanya dalam hati. Ia lebih mandiri. Tentu saja! Tinggal dua tahun sendiri tanpa kedua orangtua. Matanya meperhatikan apartment-nya.   Rasa sakit menjalar ketika melihat apartment anaknya yang kurang layak. Atapnya terlihat bocor. Cat dinding memudar. Seharusnya ia dapat melihatnya ketika tadi jalan di tangga. Benar-benar bencana mengerikan.

“Tehnya…” Suara lembut Sehun menyadarkan Yura.

Yura tersenyum dan menyeruput tehnya.

“Jadi….” Sehun membuka percakapan. “Ada apa Oemma datang?”

Yura kembali menatap anaknya. Senyumannya memudar. “Ah… Kesini?” Tanyanya tergagap. “Oemma hanya ingin.”

Sehun menganggukan kepalanya ragu. Yura kemudian meletakan cangkir tehnya.

Appa-mu… Appa-mu sakit. Gejala strok awal.” Sahut Yura tiba-tiba. “Dia ingin memperbaiki semuanya” Lanjut Yura tanpa melihat Sehun. “Dia tidak mengataknnya tapi Oemma tahu ia ingin. Jadi… Disinilah Oemma… Mencoba mengajakmu kembali pulang.”
Sehun terdiam cukup lama.

“Kau tidak harus pulang sekarang. Tapi pikirkanlah….” Lanjut Yura.

“Bibi?!” Suara yang sangat familiar bagi Yura membuat Yura menatap orang yang memanggilnya.
“Luhan?!” Sahut Yura dengan senyuman lebar. “Sejak kapan dirimu pulang? Dan dirimu tidak terlihat menua!”’
Luhan yang pucat pasi terkekeh kecil. “Dua bulan ini bi! Dan bibi juga tidak terlihat tua!” Balas Luhan dengan suara menggebu-gebu senang. Tidak terpancarkan ia sakit jika mendengar suaranya.

Yura tertawa, “Dirimu bisa saja! Tapi….” Yura melihat wajah Luhan dengan seksama, “Kamu terlihat pucat nak!”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Aku sedang flu berat dan sedikit demam. Tapi ku rasa itu bukan penghalang buat menyapa bibi bukan?”

Yura membulatkan matanya, “Tentu saja tidak! Kau masih seperti dulu tidak berubah! Masih sopan dan ramah.” Puji Yura sambil tersenyum lebar. “Bibi merasa sangat terkesan. Tetapi sebaiknya dirimu kembali saja ke kamar untuk beristirahat.”

Luhan menganggukan kepalanya. Bagaimanapun juga kepalanya masih sangat pusing. Dia berjalan dengan gontai ketika keluar dari kamarnya. Terpaksa mengatakan baik-baik saja kepada Krystal karena takut harga dirinya jatuh akibat dianggap lemah. Setidaknya menurut Luhan itu menunjukan dia lemah. Luhan akhirnya membungkukan badannya sekali lagi sebelum menghilang dari pintu.

Yura kembali menghadap Sehun, “Oemma senang kau masih dikelilingi oleh teman-teman yang hebat.”
Sehun hanya diam tidak tahu harus membalas apa.
“Masalah dua tahun yang lalu…. Masalah dirimu dengan Krystal…”
Oemma…” Potong Sehun dengan suara rendah, “kumohon jangan disini….” Sehn merasakan nafasnya tercekat entah bagaimana. Dia membenci perkara itu. Dia hanya ingin kejadian itu diketahui oleh enam orang, dirinya, Krystal, dan kedua orangtua mereka. Tidak ada lagi yang boleh mengetahui hal ini. Apalagi Luhan!

Yura seperti tidak mendengar Sehun. Ia kembali berbicara, “Masalah itu membuat kami syok hingga tidak dapat mempercayai mu lagi. Tapi keadaan bisa menjadi buruk sekarang, dengan keadaan Appa-mu. Appa-mu adalah orang keras kepala jadi ia pasti tidak akan memintamu pulang. Maka dari itu Oemma meminta tolong agar dirimu mengalah sedikit.” Yura menatap Sehun lurus-lurus. “Bisakah kau datang ke rumah, meminta maaf kepada Appa-mu. Oemma yakin sehabis itu akan kembali menjadi sangat mudah….”

Sehun lagi-lagi tidak dapat berbicara. Perasaan yang lama ia tahan kembali terbuka. Ia mengalihkan pandangannya ke tembok. Menatap tembok apartment yang kusam.

Yura tersenyum sedih. “Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Oemma berharap jawabanmu ada ketika kau menginjakan kakimu kembali ke rumah.” Ia kemudian berdiri, “Oemma rasa Oemma harus pulang.”

Sehun menganggukan kepalanya. Ia ingin mengantar Oemma-nya,

“Tidak usah di antar.” Tolak Oemma dengan suara pelan.

Sehun menghentikan langkahnya dan hanya diam ketika Oemma keluar.

Anyeong bibi! Bibi ingin pulang?” Sapa Krystal dari pintu kamar Luhan. Sepertinya ia baru saja keluar.

Yura mengerjap kaget, “Oh, Anyeonghaseyo Krystal. Iya, bibi pulang duluan ya?”

Tanpa menunggu jawaban dari Krystal, Yura sudah menghilang dari balik pintu.

Sehun menghela nafas. Wajahnya tiba-tiba menjadi murung. Ia berjalan ke arah Krystal.

“Ingin mengambil sesuatu di dapur?” Tanyanya ketika sampai di depan Krystal, “Ambil saja sesukamu. Aku ingin ke kamar.” Sehun kembali melangkahkan kakinya ke kamarnya.
“Apakah dirimu akan pulang?” Tanya Krystal tepat sebelum Sehun memasuki kamarnya. Ia tidak berbalik menatap Sehun.

Sehun menoleh ke arah Krystal, “Kau mendengar pembicaraanku dengan ibuku?” Kentara dengan jelas nada tidak suka.

Krystal menghela nafasnya kemudian berbalik menghadap Sehun, “Aku tidak sengaja mendengarnya. Aku ingin menuju dapur tadi.”

“Itu bukan urusanmu!” Kata Sehun masih dengan nada tidak suka. Dengan cepat, ia berbalik memunggungi Krystal.

“Tapi Appa-mu sakit. Kau harus memikirkan Appa-mu!”

Sehun kembali menatap Krystal dengan kesal, “Aku tidak butuh simpatimu!”
“Jangan pura-pura baik menanyakan bagaimana kabarku.”

Krystal mengerjap beberapa kali ketika bayangan itu terlintas di benaknya. Ia menelan ludahnya. Tidak, dia tidak boleh mendapat ingatannya disini. Di tengah yang sedang Luhan sakit. Di tengah emosi Sehun yang tidak stabil. Dia tidak ingin menambah keributan karena ia tahu, jika ingatannya kembali maka sakit kepala yang hebat akan menyertainya. Ia menggelengkan kepalanya. Sehun menatap Krystal aneh.

Krystal berdehem, “Terserah padamu. Aku sebenarnya ingin mengambil minum sebelum pulang.”

“Pulang saja sana!” Usir Sehun dengan nada tajam.

Krystal mendecakan lidahnya, “Baiklah. Aku tidak ingin berlama-lama di dekatmu sebenarnya. Tapi, jangan lupa mengambilkan Luhan minum, okay? Juga men-check nya sekali-kali.”

“Apa kau berusaha mengajarkan hal-hal bodoh kepadaku?” Lagi-lagi, dengan nada tajam.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Sepertinya karena kau tidak mempunyai simpati.”
“Tidak butuh simpati bukan berarti aku tidak punya simpati!”
Kali ini, Krystal menatap Sehun dengan mata yang menyalak marah, “Kau egois. Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!” Setelah mengetakan kalimat dengan nada yang cukup tinggi dalam percakapan biasa, tetapi tidak sampai teriak-teriak karena hal itu dapat menganggu Luhan. Krystal segera berbalik dan membuka pintu apartment dengan kasar.

.TBC.

 

 

 

Flipped (Chapter 13)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Pertanyaan Membingungkan pt.1

Jadi apakah Krystal menyukainya? Ayolah…. Itu adalah pertanyaan yang mudah. Iya atau tidak. Seharusnya iya, karena sifatnya sangat perhatian dan romantis. Tetapi dia ragu. Ada bagian di hatinya yang terasa hampa bahkan dia-si romantis- tidak dapat menjangkaunya.

***

Suara tawa dari ujung sana membuat Luhan kembali tertawa kencang. “Aku tidak bermaksud seperti itu! Astaga, bisakah kau tidak tertawa terus menerus? Perutku sudah sangat sakit.” Luhan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah dinding-dinding tua flat yang telah dia tempati satu bulan ini. Dia tersenyum singkat kepada dua teman satu flat nya yang menatapnya dengan kilatan penasaran.

“Aku mengerti…” Luhan kembali berbicara via telepon. “Baiklah… Baiklah… Aku tidak akan menjemputmu lagi di depan kelas mu. Dan tidak makan lagi di kafetaria fakultas mu… Oh? Baiklah. Anyeong Krystal Jung!”

“Ehm…” Chanyeol berdehem dan menatap ke arah Luhan, “Krystal Jung?” Tanyanya dengan nada menggoda.

Luhan terkekeh kecil, “Kenapa?”

“Kenapa?” Tanya Chanyeol lagi dengan nada menggoda.

“Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepada Krystal?”

“Wow! Wow! Wow!” Chanyeol langsung menatap Sehun,

Luhan menampilkan ekspresi terkejutnya, “Maksudmu?” Tanya Luhan seperti orang bodoh.

“Hey, kau sangat blakblakan Oh Sehun!” Protes Chanyeol kesal.

Luhan yang masih menampilkan ekspresi terkejut menghela nafas, “Tidak sekarang. Aku baru saja bertemu dengannya. Masih butuh pendekatan.”
“Kau mengenalnya sejak SD. Butuh pendekatan apa lagi?” Sehun menatap Luhan dengan tatapan datarnya.

Luhan terlihat berpikir, “Entahlah. Aku hanya takut di tolaknya.”

“Kurasa tidak ada laki-laki yang mendekatinya kecuali dirimu.”
Plak!

Chanyeol dengan cepat memukul kepala Sehun. Membuat laki-laki itu meringis dan menatap Chanyeol sebal.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “Hey, aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”
“Sudahlah…” Luhan menengahi Chanyeol dan Sehun. “Aku akan memikirkan usul Sehun, okay? Tapi aku harus kembali lagi ke kamar. Tugasku menumpuk!” Lanjut Luhan dan mengambil teh hangat yang tadi ia buat selagi menelepon Krystal.

Blam~

Setelah Luhan menghilang dari ruangan, Chanyeol menatap Sehun, “Kenapa kau berkata seperti itu ke Luhan? Ku kira kau menyukai Krystal?”

Sehun yang memusatkan perhatiannya untuk membaca buku menatap Chanyeol, “Di mimpi mu!”

“Apanya di mimpi ku?!” Seru Chanyeol sedikit tersinggung. “Kau memang dingin tetapi tatapanmu setiap kali Krystal ke sini menyiratkan perhatian yang sangat besar. Kau pasti menyukainya! Aku saja yang telah menjadi temanmu sejak awal kuliah tidak pernah di tatap seperti itu.”

Sehun mendesah keras. Ia menutup bukunya dan kembali menatap Chanyeol. Tangan kananya memeluk Chanyeol. Menarik Chanyeol agar semakin dekat ke Sehun, Tiba-tiba, wajah mereka menjadi sangat dekat. “Kau cemburu? Aku bisa menatap mu dengan tatapan yang penuh perhatian mulai dari sekarang.”

“Apa-apaan?!”

.

.

.

.

.

“Jadi…” Seulgi sudah bergelayut manja di siku Krystal, “Bisakah kau menjelaskan apa maksud Luhan tadi?”
“Maksud Luhan apa?” Tanya Krystal pura-pura tidak peduli walau ia tidak dapat menyembunyika senyumannya.
“Astaga Krystal Jung! Jangan pura-pura bodoh!” Seulgi menatap Krystal tidak sabaran.

Krystal menatap sahabatnya. Kemudian ia mendesah, “Dia hanya ingin menjemputku tidak kurang dan tidak lebih.”

“Aku tidak yakin akan hal itu…” Seulgi kemudian mendekat ke arah Krystal, “Kurasa ia menyukai mu.”
Krystal kembali mendengus. Baiklah… Baiklah… Dia tahu Luhan menyukainya. Maksudnya, itu semua terlihat dari perlakuan Luhan kepadanya. Seseorang pastilah buta jika tidak mengetahui hal itu. Dia diam saja bukan karena ia bodoh tidak mengetahuinya atau tidak memperdulikan perasaan Luhan. Ia hanya memberi Luhan waktu untuk menyatakan perasaannya sendiri. Krystal adalah teman Luhan sejak SD. Dia tahu, laki-laki itu pasti tidak menyukainya kalau ia memberi tahu perasaannya kepada Luhan duluan.

“Kau menyukainya?” Tanya Seulgi tiba-tiba ketika mereka sudah duduk di kelas dan menunggu Professor Choi datang.
“Tentu.” Jawab Krystal lugas.

Seulgi terlihat memutar bola matanya, “Aku tahu kau menyukainya sebagai teman. Yang kumaksud kau menyukainya sehingga ingin menjadikan dia kekasihnya? Kau tahu… Jatuh cinta kepadanya?”
“Tentu.” Jawab Krystal tetapi kali ini nadanya terdengar agak ragu. “Maksudku siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya melihat semua perilakunya? Dia sangat romantis.”
“Jadi kau ingin menjadi kekasihnya karena perilakunya yang sangat romantis?”
“Apa maksudmu?!” Tanya Krystal sedikit frustasi. Ia tidak marah kepada Seulgi, sungguh. Tetapi perkataan Seulgi membuat perasaan Krystal mulai terombang-ambing.

“Maksudku apakah kau jatuh cinta kepadanya? Ayolah, Jung itu adalah pertanyaan yang sangat mudah. Iya atau tidak?”

“Aku sudah menjawabnya tadi.”

“Tapi kau terlihat ragu.”

“Aku tidak mengerti maksud mu!” Seru Krystal dengan nada yang sedikit tinggi. Okay, dia mulai merasa sedikit kesal terhadap Seulgi.

“Baiklah, aku bukannya merendahkan dirimu. Tapi selama tiga tahun aku menjadi sahabatmu kau tidak pernah dekat dengan cowok. Tunggu, itu bukan karena dirimu tidak populer. Dirimu sendirilah yang menolak cowok-cowok yang datang kepadamu. Luhan hanyalah satu-satunya yang berhasil mendekatimu.

“Tapi Jung, setiap dirimu menceritakan Luhan dirimu pasti selalu berkata ‘Dia memang selalu baik kepadaku seperti dulu..’ atau ‘Dia persis yang ku ingat seperti dulu…’ atau kalimat semacam itu. Apa itu menyiratkan kau menyukainya-maksudku jatuh cinta- kepadanya? Astaga Krystal Jung, tidak! Jadi sekarang aku akan menegaskannya kepadamu, apakah kau jatuh cinta kepadanya?”

Krystal terlihat berpikir, “Apakah aku benar-benar berkata seperti itu ketika aku menceritakan Luhan?”

Seulgi menatap Krystal lekat-lekat, kemudian menganggukan kepalanya.

Krystal memejamkan matanya. Astaga…. Dia tidak bermaksud seperti itu. Luhan adalah seseorang yang sangat special untuknya. Dia tidak bermaksud membandingkan Luhan yang sekarang dengan yang dulu.

“Aku tidak bermaksud yang buruk ketika mengatakan hal tersebut. Kau tahu aku hanya…”

“Iya aku tahu.” Sela Seulgi. “Kau hanya memuji Luhan. Tapi kurasa kau terjebak dengan masa lalu mu. Kau bisa mengatakan kepadaku, ‘Dia laki-laki terhebat yang pernah ku temui.’ dan semacamnya.”
Krystal memijit pelipisnya. Ia memang terjebak dengan masa lalunya sendiri. Bagaimana seorang bisa melanjutkan hidup jika ia melupakan sebagian dari masa lalunya? Bisa saja dia melakukan dua kali kesalahan karena kesalahan pertama dia lupakan. “Pertanyaanmu lebih susah daripada soal ujian.”

Seulgi tersenyum, “Maaf memusingkanmu. Aku hanya khawatir kau akan tersandung masalah karena hal-hal kecil seperti ini.”

Krystal membalas senyuman Seulgi, “Aku tahu.”

Kemudian, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Krystal kembali mencermati pertanyaan Seulgi. Apakah dia menyukai Luhan? Dia seharusnya menyukai Luhan. Tetapi ada bagian di dalam hatinya yang hampa bahkan Luhan tidak dapat menggapainya. Tanpa Krystal sadari, dia menyipitkan matanya. Dia sudah menyelesaikan masalahanya dengan Oh Sehun. Itu sudah sangat jelas dari kata-katanya ketika ia menangis di taman dan membentak Oh Sehun, mengatakan agar laki-laki itu menjauh darinya. Itu sudah sangat jelas. Tapi kenapa dia masih ragu dengan perasaannya terhadap Luhan?

Hufh….

Krystal hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

Hujan sangat deras di luar sana. Udara yang tadi menghangat karena musim semi datang kembali menjadi dingin. Seseorang akan sangat malas untuk keluar pada jam tujuh pagi di hari minggu yang mendung ini. Menikamati kehangatan selimut dan keempukan bantal pasti lebih menyenangkan. Krystal sudah pasti melakukan hal tersebut. Jika saja ia tidak sengaja menerima telepon Luhan. Dan lelaki itu sedang sakit.!

Luhan berkata jika ia hanya kelelahan. Tapi hati kecil Krystal tersadar, Luhan kelelahan karena dirinya! Dengan jadwal kuliahnya yang padat dan masih gigih untuk menjemput Krystal membuat Luhan lelah. Krystal teringat jika kemarin malam, ketika Luhan menjemputnya laki-laki itu sudah menunjukan tanda-tanda flu. Tetapi ia masih ingin mengantarkan Krystal pulang ditambah menemani perempuan itu makan malam. Jadi, apakah perasaannya tidak memberontak begitu mengetahui Luhan sakit?

Tok… Tok… Tok…

Krystal dengan santai mengetuk pintu apartment Luhan. Dia sudah sangat sering mengunjungi apartment ini. Setiap minggu bisa dua kali. Ini karena dia dan Luhan sering pergi keluar jika tidak ada jadwal kuliah. Berakhir di apartment ini untuk makan malam atau ia kesini untuk menjemput Luhan. Krystal seperti penghuni tidak tetap apartment ini.

Cklek~

Pintu apartment terbuka. Krystal sedikit terkesiap melihat wajah orang yang membuka pintu.

“Oh, masuklah.” Jawab Sehun datar.

.TBC.

+Holla semuanya, I’m back 👋👋👋 dengan membawakan Flipped!  Khusus untuk ultah Sehun , eh D+2 ultah Sehun (wkwkwkwk) Flipped di update 2 chapter 😬…..  Stay tune untuk ff terbaru dan ngomong-ngomong ttg State of Grace, mungkin nanti🙈  Lagi stuck di chapter 20…  Bye bye See you soon