Runaway (Chapter 4)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Minho masih diam tidak bergeming sedikitpun ketika Sulli menghilang dari pandangannya.

Perkataan Sulli…. Yah, Minho tahu Sulli tidak bermaksud lebih terutama menyakiti perasaan Minho. Tapi, Minho tetap merasakan sakit hati karena kalimat itu mengatakan kepadanya jika Taemin bukan sepenuhnya tanggung jawab Minho. Tapi ia bisa apa? Bukankah dia yang mengatakan jika ia ingin mengejarkan mimpinya apapun yang terjadi?
Minho hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Sulli.

.

.

.

.

.

“Jadi gitu Appa!” Taemin memakan suapan terakhirnya.

Jongin menganggukan kepalanya, Ia juga memasukan suapan terakhirnya. “Jadi Jung Seongsangnim keluar dan yang menggantinkannya adalah Min Seongsangnim?”

Taemin kembali mengangguk, “Benar! Taemin sangat suka kepada Min Seongsangnim… Sangat-sangat suka! Min Seongsangnim baik. Tadi—“

“Taemin…” Sulli menyela omongan Taemin. “Bukankah dirimu harus mengerjakan PR? Tadi guru-guru mengirimkan pesan kepad Oemma agar Taemin mengerjakan semua PR.”

Taemin langsung cemberut, “Mengesalkan!”

“Jangan berbicara kasar Kim Taemin!” Jongin mengingatkan Taemin dengan nada tajam. “Kerjakan PR mu dulu ya? Nanti, sebelum mau tidur kita lanjutkan lagi ceritanya ya?” Kemudian nada bicara Jongin menjadi sangat lembut.

Taemin tetap cemberut. Tetapi, ia menganggukan kepalanya. Taemin segera turun dari kursi meja makan dan berlari menuju kamarnya.

“Kerjakan yang mudah dulu ya! Oemma akan menyusul sebentar lagi!” Teriak Sulli ketika kepada Taemin. Taemin harus diancam atau tidak dia akan main-main.

Sulli bangkit dari kursinya, membereskan piring-piring keluarga kecilnya. Saat mencuci piring, Jongin tiba-tiba memeluknya.

“Bagaimana harimu?” Katanya mengantarkan kehangatan kepada Sulli.

Sulli tersenyum kecil, “Lumayan~”

“Lumayan? Jawaban macam itu?”

Sulli tertawa lepas, ia segera membalikan badannya, “Tidak ada yang special.”

Jongin mengerutkan alisnya, “Tereserah!” Jawabnya cuek. Tangannya mengelus pipi Sulli perlahan. Kemudian ia mendekatkan dirinya ke Sulli.

Cup!

Jongin mencium ujung bibir Sulli. Ujungnya, bukan tepat di bibir Sulli. Pada detik-detik terakhir, Sulli menghindarinya.
“Aku harus cepat mencuci piring agar bisa melihat Taemin…” Katanya sudah berbalik dan kembali mencuci piring.

Jongin tersenyum datar, “Baiklah…”

.

.

.

.

.

Tak! Tak! Tak!

Sulli mengetuk-ngetukan pulpennya. Tatapannya menerawang ke depan. Mejanya, yang dimana berserakan desain-desain model terbaru tidak ia sentuh sama sekali. Sejak datang ke sini, Sulli benar-benar hanya duduk.
“Krystal…” Panggilnya tanpa melihat Krystal.
Krystal yang sibuk melihat desain menoleh, “Apa?”

“Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?”

Krystal mengerutkan keningnya, “Pertanyaan mu sangat aneh. ‘Bagaimana caranya berbicara dengan orang yang tidak ingin kau ajak berbicara?’”

Sulli menghela nafasnya. Ia meletakan pulpennya dan duduk dengan tegak. “Aku tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengan orang tersebut. Tetapi aku harus berbicara dengannya.”

Krystal tambah mengerutkan keningnya, “Kau sangat aneh Choi Sulli. Jelas-jelas jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu. Kau saja enggan… Ya, bagaimana mau berbicara dengan orang tesebut?”

Mendengar penjelasan Krystal, Sulli kembali menghela nafas, “Kau benar. Aku memang tidak ingin berbicara dengannya.” Ia tersenyum tipis kemudian, “Baiklah. Masalah itu akan kupikirkan nanti. Sekarang, kita focus kepada desain musim gugur kita. Bagaimana?”

“Baiklah.” Krystal kemudian mulai menjelaskan berbagai macam desain kepada Sulli.

.

.

.

.

Sulli menyelesaikan pekerjaan desainnya pada pukul 1 siang. Sudah menjadi aturannya sendiri jika jam 1 ia akan pulang untuk menjemput Taemin dan sehabis itu menghabiskan waktu bersama Taemin. Sulli membereskan meja kerjanya juga menempelkan beberapa notes di mejanya. Pengingat pekerjaan yang belum selesai. Matanya tidak sengaja melihat salah satu note-nya, “Tembus fashion week tahun depan!!!” Penyemangat dirinya agar lebih sukses sejak ia membuka butiknya, tiga tahun yang lalu dan terus menjadi mimpinya sampai sekarang.

“Aku pulang duluan ya….” Pamit Sulli kepada Krystal. Krystal yang masih sibuk menyusun jadwalnya besok menganggukan kepalanya.
“Jangan lupa jika besok kau akan bertemu dengan Vogue Magazine!” Kata Krystal tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentu!” Jawab Sulli pendek dan segera pergi menjemput Taemin.

.

.

.

.

.

Minho meregangkan tubuhnya. Ternyata menjadi seorang guru lebih susah daripada menjadi curator gallery. Tangannya kaku akibat harus mengisi laporan. Belum lagi otaknya harus mendidih karena harus membuat silabus ngajar. Ditambah bahunya yang pegal karena harus menunduk, melihat semua lukisan untuk dinilai. Satu lagi yang paling penting, Minho harus memeras otak dalam memberi nilai karena ia merasa lukisan anak-anak disini tidak sesuai dengan standar Choi Minho. Ia menghela nafasnya.

“Kau terlihat sangat lelah Choi Seongsangnim!”

Minho menoleh dan terkekeh kecil, “Masih banyak yang harus ku nilai….” Respon Minho pendek.

Kekehan kecil terdengar, “Aku pernah merasakan hal itu seperti mu. Pada saat awal-awal mengajar matematika. Kau harus mengerti betapa frustasinya diriku melihat anak-anak yang tidak mengerti di ajar berkali-kali. Padahal ketika TK aku sudah bisa menyelesaikan perkalian!”

Minho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang di depannya adalah Cho Kyuhyun. Senior dalam mengajar. Walaupun begitu, Kyuhyun adalah orang yang baik. Ia tidak membedakan Minho sejak pertama mengajar. Ramah tetapi juga professional. Sedikit aneh karena ia mempunyai latar belakang lulusan Havard di bidang matematika tetapi memilih menjadi guru TK. Tentu saja ia jenius.

“Cho!”

Panggilan dari Shi Seongsangnim membuat Minho dan Kyuhyun menoleh.

“Hari ini jadi kumpul? Di rumah mu?”

Shi Seongsangnim atau bernama lengkap Shim Changmin juga senior bahkan lebih senior dari Kyuhyun. Mengajar sejak umur 18 tahun dan sekarang umurnya 29 tahun. Guru menyanyi di TK ini dan mempunyai vocal yang luar biasa. Sangat-sangat luar biasa. Dia dan Kyuhyun adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Ini dikarenakan mereka mempunyai umur yang sama dan bekerja disini ketika sama-sama masih muda.

“Tentu! Oemma ku yang akan memasak makan malam.” Kyuhyun kemudian menoleh ke Minho, “Kau ingin ikut Choi Seongsangnim?”

Minho tidak menyangka di ajak terdiam beberapa saat. “Tidak apa-apa?”

Changmin mengangguk mantap, “Tentu saja tidak apa-apa. Eiih…. Jangan pikir kami hanya berkumpul berdua saja. Lee Seongsangnim juga sering berkumpul dengan kita kok… Ini adalah perkumpulan guru-guru cowok disini.”

Minho akhirnya menganggukan kepalanya, “Boleh juga.”

“Eh, Junmyeon akan pulang bukan?” Tiba-tiba Yoo Seongsangnim menghampiri mereka.

Kyuhyun mengangguk, “Iya. Dia bilang jika bulan madunya dengan Joohyun sudah selesai.”
“Junmyeon?” Tanya Minho bingung.
“Oh, kau belum pernah bertemu dengan Junmyeon ya? Dia guru etika disini dan baru saja menikah.” Yoo Seongsangnim menjelaskan.

Kyuhyun tiba-tiba mendekat, “Junmyeon juga ikut dalam perkumpulan ku. Junmyeon, aku, Changmin, Jonghyun, dan sekarang dirimu.” Bisiknya kepada Minho.

Minho sendiri hanya mangut-mangut karena ini pertama kalinya ia tahu.

Kriiingggg~
Bel pulang berbunyi. Bel yang bukan hanya ditunggu oleh siswa tetapi juga ditunggu oleh guru. Pada bel ini pembelajaran berakhir dan siswa boleh bermain hingga pukul 2 siang. Sedangkan guru untuk jam makan siang, sebelum rapat wajib pada pukul 2 siang.

Minho meletakan kertas terakhir yang harus ia nilai. Ia kemudian berdiri, “Ada yang ingin ikut makan?”

Beberapa guru disana, bukan hanya Cho, Shim, dan Yoo Seongsangnim mengangguk. Mereka berbondong-bondong keluar. Mereka semua akan makan di tempat biasa, tempat makan yang tak jauh dari TK karena sekolah hanya menyediakan makanan khas anak-anak.

“Min Seongsangnim?”

Suara lembut itu seketika menghentikan Minho dari kegiatannya yang sibuk berbicara. Juga menghentikan gerombola guru-guru.

Mata Yoo Seongsangnim membesar, “Oh, Taemin Oemma?”

Minho langsung merasa tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli sampai tepat waktu. Ia sudah bertemu Taemin dan Taemin meminta waktu agar bisa bermain pada teman-temannya. Sulli mengiyakan selama 30 menit dari waktu satu jam yang Taemin minta. Saat baru saja selesai berbicara dengan Taemin, matanya tidak sengaja menangkap segerombolan guru yang ingin makan siang. Suara mereka terdengar jelas olehnya. Termasuk suara Minho yang asik bercengkraman.

“Jika kau ingin berbicara dengan orang harus ada niat ingin berbicara dengan orang itu.”

Entah mengapa perkataan Krystal kembali muncul di benak Sulli. Apakah Sulli punya niat berbicara dengan Minho? Tentu saja! Dia ingin berbicara untuk meluruskan beberapa hal kepada Minho. Sulli hanya ragu karena ia bingung bagaimana caranya ia berbicara kepada Minho. Sulli hanya ragu apakah perasaannya akan menyeruak keluar, tidak terbendung, ketika ia melihat mata Minho. Dia harus berpikir jangka panjang karena sekarang dia adalah soerang istri dan ibu. Sulli tidak boleh gegabah.

Mendengar suara Minho saja membuat jantung Sulli berdetak tidak karuan. Astagaaa… Apa yang harus ia lakukan?

Sulli memejamkan matanya. Sekarang atau tidak pernah. Karena ia yakin, jika ia tidak akan bisa mengumpulkan nyali untuk berbicara dengan Minho.

Min Seongsangnim….” Panggil Sulli berusaha agar terdengar biasa saja.

Minho berhenti berbicara. Tetapi ia tidak menoleh. Malah Yoo Seongsangnim, salah satu guru killer-menurut Taemin- yang menoleh. Yoo Seongsangnim tersenyum lebar dan menanyakan kabar Sulli.
Sulli tersenyum tipis, sedikit berbasa-basi sejenak, “Saya ingin berbicara kepada Min Seongsangnim…” Kata Sulli di akhir kalimat.

Yoo Seongsangnim tertawa, “Min Seongsangnim ya?”

Tersadar jika ia salah memanggil nama Minho Sulli hanya tersenyum malu. Menahan mulutnya agar tidak mengoreksi menjadi Choi Seongsangnim. Semua guru-guru pasti bingung karena Sulli, setahu mereka, tidak pernah berkenalan secara formal dengan Minho.

“Kami akan makan siang.” Ucap Cho Seongsangnim dari belakang. “Jadi mungkin sebaiknya Anda harus berbicara lain waktu. Sehabis ini kami ada rapat. Sebaiknya juga Anda memberi tahu sebelumnya agar Choi Seongsangnim bisa mengatur jadwalnya.”
Gawat! Cho Seongsangnim adalah guru yang ditakuti oleh Sulli. Menurut Sulli ia adalah seorang professional yang tidak ragu mengatakan hal yang benar. Termasuk di situasi ini. Seharusnya Sulli memberi tahu sebelumnya. Tapi dia tidak berpikir panjang karena nyatanya ia memang tidak mau berbicara dengan Minho. Ini benar-benar ide yang muncul secara tiba-tiba.
“Tidak apa-apa….”

Deg!

Detak jantung Sulli langsung menggila ketika mendengar suara itu. Sulli mengepalkan tangannya. Tahan dirimu… Tahan dirimu bodoh! Rutuknya dalam hati.

Guru-guru menoleh ke Minho.

Minho membalas tatapan guru-guru, tersenyum meyakinkan, “Pasti ada masalah penting yang tidak dapat di undur hingga Oemma Taemin tidak sempat memberi tahu saya sebelumnya.”

Sulli terdiam mendengar perkataan Minho.

“Saya titip makan siang saya.” Lanjut Minho.

Guru-guru terlihat tidak bisa membantah dan akhirnya mengundurkan diri dari hadapan Minho dan Sulli.
Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.TBC.

Holla… i’m back…  Maaf ya untuk Runaway agak lama update-nya.  Saya mengalami writer block khusus untuk Runaway…

Gimana pendapat mengenai Chapter ini?  Chapter selanjutnya Julli mungkin? 🌝✌️  Karena saya mau ngambil hiatus dulu ya dari tanggal 20 Mei sampai awal Julli atau akhir Juni, jadi kayaknya pertengahan   🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Runaway (Chapter 3)

seasonal-florist1

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Sulli langsung tersenyum excited . Akhirnya rasa penasaran terjawab.

Dengan pelan, orang yang dipanggil Min Seongsangnim berdiri.

“Minho?!” Gumam Sulli tanpa sadar.

.

.

.

.

.

Hati Minho tidak bisa berhenti berdebar ketika ia memasuki sebuah TK yang sekarang menjadi tempat ia bekerja selama beberapa bulan kedepan. Ia mengutuk dirinya. Ia sudah terbiasa berbicara di depan orang-orang penting di dunia melukis. Minho biasa saja. Tapi kali ini, ketika ia mengenalkan dirinya untuk pertama kalinya di depan anak kecil berumur tak lebih tujuh tahun beberapa hari yang lalu, Minho sangat gugup dan kikuk. Ia memaksakan sebuah senyuman kepada murid-muridnya. Berharap sambutannya cukup hangat.

Min Seongsangnim!

Minho segera menoleh ke asal suara dengan senyuman lebarnya. Terlihat Taemin berjalan mendekati dirinya. Taemin baru saja datang.

“Taemin hari ini datang sangat pagi.” Kata Minho ketika Taemin sampai di depannya.

Taemin terkekeh kecil, “Taemin tidak ingin terlambat di pelajaran pertama. Pelajaran memasak. Pernah sekali Taemin terlambat, Taemin gak dikasih makan. Menyebalkan!” Taemin bercerita khas anak umur lima tahun. Hal itu membuat Minho gemas dan mencubit pipinya.

“Min Seongsangnim sendiri kenapa datangnya pagi-pagi?”

Satu hal yang Minho sadari dengan Taemin adalah dia sangat susah di atur. Bermain semaunya. Suka mencoret-coret apa saja. Makannya banyak hingga mengambil jatah orang lain. Hingga menyebut nama guru juga terserah dirinya. Contohnya saja dengan Minho. Jika murid-murid memanggil Minho dengan Choi Seongsangnim, Taemin memanggil Minho dengan Min Seongsangnim. Hal itu juga kepada hampir semua guru termasuk kepala sekolah yang dipanggilnya ‘Seongsangnim berkaca mata!’ Rasanya Minho ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar Taemin berkata seperti itu, tapi ia tahan karena ia berada tepat di depan kepala sekolah. Kepala sekolah terlihat sudah sangat pasrah dengan panggilan Taemin.

“Minho seongsangnim harus menyiapkan peralatan untuk pelajaran pertama.” Jawab Minho. Taemin menganggukan kepalanya.

Sejujurnya, Minho sangat senang berada di dekat Taemin. Dia sangat senang mengetahui segalanya tentang Taemin.

“Taemin tidak ke kelas?”

Taemin terlihat berpikir, “Kelas masih sunyi. Taemin takut. Taemin benci kesunyian.”
“Seperti Oemma Taemin?”

“Bagaimana Min Seongsangnim tahu Oemma tidak suka kesunyian?”

Minho berdehem menghilangkan kegugupannya, “Bagaimana jika Taemin mengikuti Min Seongsangnim menyiapkan peralatan? Nanti ketika sudah ramai baru Taemin ke kelas?”

Taemin menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

 

“Min Seongsangnim sudah siap untuk pelajaran pertama?”

Minho menoleh ketika ia menaruh lima warna cat akrilik di meja paling depan, satu-satunya meja yang belum ia taruh. “Iya. Taemin belum mau balik ke kelas?”

Taemin menggeleng, “Nanti saja… Pasti masih sepi…” Katanya dengan suara lusuh.

“Taemin tidak ingin bermain?” Tanya Minho lagi.

Taemin kembali menggeleng, “Tidak ada teman-teman, tidak asik.”

Minho menghela nafasnya, “Jadi Taemin mau apa?”
“Di sini..”

Minho hanya bisa menganggukan kepalanya, “Baiklah. Tapi jangan membuat berantakan okay?”

Taemin menanggukan kepalanya, “Min Seongsangnim ada kerjaan lagi?”

Minho menggelengkan kepalanya, “Kenapa?”

“Min Seongsangnim ingin menceritakan sesuatu? Taemin mengantuk. Kalau Taemin mendengarkan cerita seseorang ketik mengantuk, rasa kantuknya hilang. Min Seongsangnim ingin bercerita?”

Minho terlihat berpikir sejenak, “Tentang apa?”

“Apa saja.”

“Kalau Min Seongsangnim bertanya kepada Taemin tidak apa-apa?”

“Boleh. Tentang apa?”

“Kenapa nama Taemin itu Taemin?”

Taemin mengkertukan keningnya, “Kenapa? Kata Oemma nama Taemin itu penggabungan dua kata. Tae dan Min. Tae adalah nama yang diberi dari Appa. Itu berasal dari nama nenek, Tae-Yeon. Kalo Min itu dari Oemma. Tapi Taemin gak tahu kenpaa Oemma memberi kata itu. Oemma hanya bilang jika itu kata yang sangat special nantinya bagi Taemin.”
Minho tertegun mendengar perkataan Taemin. Kata yang sangat special? Min…. Minho?

“Min Seongsangnim!”

Teriakan Taemin menyadarkan Minho dari lamunanya,

“Kalau Min Seongnim, kenapa Taemin memanggil Min Seongsangnim bukan Choi Seongsangnim?”

Taemin tersenyum, “Karena cuman Taemin yang manggilnya seperti itu. Jadi setiap kali Taemin memanggil Min Seongsangnim, Min Seongsangnim akan tahu yang memanggil itu adalah Taemin!”

.

.

.

.

.

Minho menggumamkan terimakasih ketika Yoo Seongsangnim, salah satu guru di TK memberikan secangkir kopi kepada Minho.

“Hari yang berat?” Suara lembutnya menelisik telinga Minho.

“Lumayan.” Kata Minho dan mulai menyesap kopi.

“Jangan lupa mengisi form penilaian.”

Minho menganggukan kepalanya. “Mengajar di kelas mana lagi?”
Yoo Seongsangnim melihat jadwal mengajarnya, “Kelas Taemin.”

“Taemin?”

“Uhm!” Kata Yoo Seongsangnim dengan antusias. “Kau pasti mengenal Taemin bukan? Ku dengar kau akrab dengan Taemin. Bagaimana bisa? Aku saja tidak bisa mengatur dirinya.”

Minho menggelengkan kepalanya, “Entahlah. Kurasa dia anak yang baik dan imut.”

“Dia memang imut.” Kemudian terdengar helaan nafas, “Tetapi kalau nakalnya mulai… Ngomong-ngomong, tadi pagi aku melihat dirimu dengan Taemin.”

“Oh, dia datang terlalu pagi dan takut ke kelasnya karena masih terlalu sunyi, akhirnya ia ke kelasku.”
“Ke kelasmu?”

“Iya. Melihat diriku bersiap-siap untuk pelajaran pertama.”
“Dan dia hanya melihat? Tidak berbuat apa-apa?”

Minho mengangguk.

Terdengar helaan nafas, “Dia memang selalu baik kepada guru melukis. Jiwanya memang seni melukis sih…Tapi aku berharap jika ia juga sedikit rajin menulis. Dia sama sekali tidak takut ketika aku memarahinya karena tidak mau menulis. Padahal, sebelumnya-“

“Kau tidak ke kelas?” Minho memotong ucapan Yoo Seongsangnim. “Sebentar lagi bel berbunyi.”

“Ya, ampun. Kurasa aku harus cepat-cepat ke kelas. Terimakasih sudah mengingatkanku!”

.

.

.

.

.

“Taemin, ini sudah waktunya pulang. Ayo pulang! Bukannya hari ini Oemma pulang? Taemin tidak ingin melihat Oemma?” Song Seongsangim berusaha membujuk Taemin.

“Taemin ingin maiinnn!!!!!” Teriak Taemin kesal.

“Kok gitu sih?” Tanya Song Seongsangnim dengan nada sedikit tinggi, “Kalau Taemin gak pulang sekarang Song Seongsangnim kasih tugas menghitung. Dua puluh nomor di halaman 15!”
“Gak peduli! Taemin gak peduli! Tadi guru-guru yang lain sudah ngasih tugas. Membaca halaman 16 sebanyak dua lembar, nulis di halaman 17, menghafalkan 5 lagu, bahasa Inggris halaman 18. Sekarang, berhitung halaman 15.”

Terdengar helaan nafas dari guru-guru yang tak jauh dari Taemin dan Song Seongsangnim.

“Ku rasa jika diberi semua tugas mata pelajaran juga ia tidak ingin beranjak.” Keluh Yoo Seongsangnim.

“Choi Seongsangnim, kau ingin mencoba membujuk Taemin?” Tanya Shim Seongsangnim.

Minho tidak berkata apa-apa, tetapi ia sudah melangkah mendekati Taemin. Song Seongsangnim yang menyadari keberadaan Minho menghela nafasnya, “Syukurlah kau datang…” Ia segera berbalik dan menjauh dari Taemin.

“Taemin tidak ingin pulang?” Suara lembut Choi Minho membuat Taemin menatapnya.
“Tidak!” Seru Taemin galak. “Taemin mau pulang jika Oemma menjemput Taemin di sini!!!”
Minho menghela nafasnya. Memutar otaknya agar dapat memberi alasan yang bagus, “Tapikan orangtua menunggunya di depan tidak boleh menunggu ke dalam. Oemma Taemin pasti menunggu Taemin di luar.”

“Taemin tetap tidak peduli! Taemin mau di jemput di sini sama Oemma…” Taemin tetap galak, tetapi di akhir kalimat air matanya menetes.

“Taemin kenapa?” Minho khawatir. Ia mendekatkan dirinya ke Taemin, berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Taemin.

“Taemin mau main sama Oemma. Kalau Taemin pulang sekarang, Oemma pasti langsung bawa Taemin pulang. Taemin gak mau.”

Hati Minho mencelos mendengar jawaban Taemin, “Oemma orang yang baik bukan?” Tanya Minho dengan suara rendah.

Taemin segera mengangguk, “Oemma baik sekali. Cantik. Senyumnya juga menawan. Oemma selalu melindungi Taemin kalau Appa marah.”

Oemma selalu mendengarkan perkataan Taemin?”

“Iya. Selalu.”

“Jadi, kalau Taemin bilang Taemin ingin main dengan Oemma, Oemma yang baik, cantik, punya senyum menawan, dan selalu mendengar perkataan Taemin akan menolak ketika Taemin berkata seperti itu?”

Taemin terlihat berpikir, “Benar juga ya…” Sebuah senyuman kemudian timbul, “Baiklah. Taemin akan pulang!” Taemin kemudian berlari menuju kelasnya.

Para guru-guru menghela nafasnya.
“Kerja yang bagus Minho Seongsangnim!

Entah mengapa, perasaan hangat mengalir ketika salah satu rekan kerjanya-Shim Changmin yang juga mengajar disitu berkata seperti itu kepadanya. Minho merasa bangga ketika orang memanggilnya Minho Seongsangnim. Sangat bangga.

Minho hanya menganggukan kepalanya. Beberapa guru-guru sudah banyak yang bubar. Bersiap-siap untuk pulang. Minho juga begitu. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang guru. Merapihkan barang-barangnya.

“Min Seongsangnim!!!

Semua orang disitu tersentak hebat ketika Taemin memasuki ruang guru, tak terkecuali Minho.

“Ada apa Taemin?”

Taemin tidak menjawab. Tangan kecilnya menarik badan Minho. Dengan kebingungan, Minho mengikuti langkah Taemin.

“Ada apa Taemin?” Tanya Minho sekali lagi ketika mereka sudah keluar dari ruang guru.

“Taemin ingin Min Seongsangnim bertemu Oemma!”
“Apa?!” Minho tidak dapat menutupi keterkejutannya.
“Ayo!! Sekarang!!!” Sepertinya Taemin tidak dapat mendengar perkataan Taemin karena ia sekarang berlari menuju pintu keluar. Beberapa detik kemudian Taemin menghilang dari pandangan Minho.

Minho menggeluarkan nafasnya yang sedari tadi ia tahan. Taemin ingin ia bertemu dengan…. Sepertinya Minho terlalu cepat lega. Taemin kembali datang dengan berlari-lari kecil.

“Min Seongsangnim!!!”

“Ayo!!!”

Dua kalimat itu membuat keringat dingin Minho keluar, “Seongsangnim tidak bisa….” Jawab Minho apa adanya.

Ia memang tidak bisa. Tidak. Dia belum siap bertemu dengan Sulli. Dia belum siap melihat reaksi Sulli. Dia belum siap jika Sulli berpikir ia menjadi guru disini karena Taemin. Tidak. Dia belum siap.

“Tapi Taemin gak mau tahu!”

Minho berjongkok di hadapan Taemin, “Besok saja ya? Jangan sekarang. Minho Seongsangnim harus pulang sekarang.”

Nah, jawaban bodoh apa yang telah Minho berikan? Jawaban bodoh yang anak kecil bisa memberi jawaban yang lebih bagus dari pada hal itu. Tentu saja, Taemin menolaknya mentah-mentah. Bersikeras jika Minho harus bertemu dengan Oemma-nya.

“Taemin…” Suara lembut Sulli memecah keheningan lorong.

Minho lagi-lagi tersentak. Detak jantungnya menjadi tidak teratur.

Taemin segera berbalik dengan senyum lebarnya, “Oemma ayo berkenalan dengan Min Seongsangnim!”

Minho memejamkan matanya. Baiklah, ia tidak bisa mundur. Dengan pelan dan ragu, Minho berdiri. Menatap Sulli dan langsung melihat Sulli terkesiap keras. Min-ho…. Dua kata yang dapat Minho tangkap dari gerakan bibir Sulli. Perempuan itu juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Anyeonghaseyo, Choi Minho imnida… Saya adalah salah satu guru Taemin…” Minho segera membungkukan badannya dan untuk kedua kalinya menatap mata Sulli.

Perempuan di depannya tidak lagi terkejut, tetapi masih tidak bersuara.

Minho menyunggingkan senyumnya. Menutupi kegugupannya. Ayolah… Sulli harus mulai bersuara sebelum ia terlihat seperti orang yang bodoh.

“Ah…” Akhirnya Sulli membuka mulutnya. “Senang bertemu dengan Anda.” Kata Sulli pendek dengan nada yang sama sekali tidak ramah. Sedikit ketus di dalamnya. “Terimakasih telah menjaga Taemin ketika saya pergi. Saya sangat menghargai hal itu.” Sulli kembali melanjutkan perkataannya dengan sorot mata menahan kegugupan. “Dia merasa sangat senang dan saya juga senang ada orang yang menjaganya.” Lanjutnya sebelum berbalik menghadap Taemin. Mengajak Taemin pulang.

.TBC.