Updated!

Dazzling Year, 2018✨

Year!.png

Tahun 2017 kemarin saya pernah mem-post “Hallo 2017”. Hal ini berisi tentang lebih ke hal-hal yang menurut saya perlu saya perbaiki dan tentunya harapan diri saya kedepannya mengani blog ini.

Ada empat poin yang saya tulis “Hallo 2017”. Poin pertama dan kedua saya meminta maaf mengenai jarangnya saya updated di tahun 2016 (Thanks to the hectic schedule of my school) dan tidak adanya tambahan cerita baru. Tahun 2016 cuman ada 2 cerita yaitu State of Grace dan Flipped.   Poin ketiga ucapan terimakasih saya dan poin terakhir yaitu keempat harapan saya kedepannya mengenai blog ini. Saya ingin blog ini bukan hanya menulis tentang ff tapi artikel juga (Yang sampai sekarang belum tercapai tapi saya punya rencana mengenai hal ini).

Di awal tahun ini juga, saya akan menulis kembali 3 poin sebagai pembuka 2018.

  • Pertama: TERIMAKASIH untuk 2.916 visitors dan 8.307 views. Saya tidak menyangka dengan hal itu dan semoga di tahun ini kita masih bersama hingga akhir yang tak berujung ini 😁
  • Kedua: Saya ingin menyampaikan jika saya di semester terakhir SMA a.k.a di kelas 12 yang pastinya ada US, USBN, UN, bahkan SBMPTN (🤒). Karena hal itu saya mau ngingetin dari awal bahwa kemungkinan besar saya akan jarang updated Tapi aku usahain untuk setiap ff satu bulan ter-published satu chapter.
  • Ketiga: Untuk Runaway lagi tahap penulisan (belum selesai dari 7 bulan yang lalu) tapi saya akan menyelesaikan ff Maaf tidak melanjutkan ff ini dalam waktu yang cutup lama 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

I think that’s all for me…  See you in the next post.  #Kemungkinan besok aku post Unwanted Reverie  part 2 dan minggu depan Flipped epilog 😊

Advertisements

Holla Holla 👋🏻😉

IMG_8817

I’M ON HIATUS 👇🏻

18/12 adalah hari yang paling mengejutkan bagi saya pribadi…  Life is totally mistery…  Shinee adalah group yang membawa saya lewat Ring Ding Dong.  Bias saya awalnya Minho dan alasannya simple, dia ganteng… Tapi akhirnya semua member jadi bias saya..  Intinya, Shinee punya tempat tersendiri di hati saya dan sampai sekarang saya masih bersedih.  Juga itu diperparah karena saya lagi buat Ff Minsul yang ada cast Shinee nya…  I’m so sorry but i nedd time to alone.. ( Tp entar comeback untuk post ff Minsul *ff baru btw*)

I’LL BE BACK SOON 💙

🥀🥀🥀

Hii guys 👋🏻👋🏻 It’s been a long time since i post another things beside my fiction.
Ini adalah scheduled untuk bulan November 2017-May 2018. Jadwal tentang ff On Going, Cancelled, dan Up Coming.
Langsung aja…
On Going Story
🍃State of Grace: Storyline udah dibuat dan kira-kira end ketika chapter 40-45, TARGET SELESAI: May 2018
🍃 Flipped: Kira-kira tinggal dua chapter lagi tapi belum ditambah epilog *jika memungkinkan*, TARGET SELESAI: November 2017
🍃Runaway: Storyline udah selesai walau perubahan cerita kayaknya ada. FF ini udah saya anggurin selama 5 bulan terhitung dari chapter terakhir yang di post. Lagi tahap penulisan chapter selanjutnya. TARGET SELESAI: February 2018

CANCELLED STORY
🍃The Wind of Change: Saya udah mencoba nulis part keduanya berulang kali tapi gak ada yang sreg. Saya juga udah mencoba nulis storyline tetapi tetap saya rasa idenya kurang bagus. Sebelumnya udah pernah di ON HOLD tapi kali ini saya putuskan untuk di CANCELLED and the first chapter already deleted.

Up Coming Story
🍃Title: Sightseeing and Silenced. Cast: Mark Tuan x Wendy Son. Chapter pertama lagi tahap penulisan dan kemungkinan mini chaptered (5-8 chapter). Kemungkinan dirilis MID-NOVEMBER 2017
🍃Another fanfiction with cast Oh Sehun x Krystal Jung. Belum ada judul fix-nya 😬. Kemungkinan chapter pertama DESEMBER 2017

Jadi… saya buat post ini sebagai semangat juga kali ya (?) karena saya lagi stress-stress nya kelas 12 dan merasa blog ini jarang saya buka kayak dulu… Apalagi semenjak punya wattpad hehehe… Tapi saya gak akan tinggalkan blog ini kok… Tenang.
Berhubung saya tengah meliburkan diri, saya berpikir untuk membuat semacam scheduled gitu sampai bulan Julli 2018 atau kira-kira selama sisa saya kelas 12. Gak akan ada yang tahu saya bisa nulis fiksi ketika saya lulus kelas 12 tapi berdoa saja bisa karena saya senang banget bisa berkontribusi di blog ini ☺
Kalau gak ada hambatan Flipped Chapter 21 saya update rabu depan (08/11). See you soon 👋🏻👋🏻👋🏻

 

Unwanted Reverie (Chapter 2)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #2: Unwise Advised

“Jadi bagaimana Krystal, apakah kau ingin menggoda Oh Sehun?” Joohyun kembali berkata setelah Krystal menatapnya tanpa berkedip hampir tiga menit. Dia mengigit bibirnya.

“Oennie gila bukan? Aku adalah sahabat mu. Oh Sehun adalah tunagan mu. Apa yang ada dipikiran Oennie?” Krystal berangsur-angsur mundur. “Oennie… Astaga! Kau membuatku takut!”

Joohyun menghela nafasnya, “Kumohon Krystal…. Pikirkanlah!”

.

.

.

.

.

Krystal tidak tahu perasaannya sejak ia pulang dari butik Joohyun. Hal yang dijanjikan Joohyun hampir berhasil membuatnya ingin menyetujui. Tapi apakah hal itu benar?

Sebelum Krystal pulang, Joohyun masih menatapnya sambil berharap. Joohyun juga berkata alasan ia memilih Krystal karena ia mempercayai Krystal sebagai sahabatnya. Sahabat yang selalu berada disampingnya. Hal itu bukan membuat Krystal tenang. Malah semakin membuat ia resah, bagaimana jika ia kelewat batas?   Bagaimana jika ia mengkhianati Joohyun pada akhirnya? Semuanya pasti dapat terjadi.

Lagipula, apakah Krystal semurah itu? Menggoda tunangan-lebih tepatnya calon tunangan- terdengar murahan bagi Krystal. Tentu Joohyun tidak bermaksud seperti itu. Gadis itu hanya terluka dan itu satu-satunya hal yang ia pikirkan. Krystal satu-satunya orang yang ia pikir cocok untuk melakukannya.

Helaan nafas terdengar dari bibir Krystal. Ia memijit pelipisnya yang sedari tadi pusing karena berbagai masalah. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak bisa tidur. Padahal jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Dia lelah tapi pikirannya tetap berkelana. Krystal berjalan menuju jendela kamarnya. Membukanya. Membiarkan bunyi mobil yang masih ramai dari kota New York masuk ke apartment-nya.

Banyak orang tidak ingin tinggal di apartment yang berada tepat di tengah kota New York. Selain karena macet, apartment disitu sangat bising. Kota yang tak pernah tidur ini terlihat dari jalananannya yang tidak pernah sepi. Tapi itulah yang membuat Krystal tinggal di apartment-nya. Ia menyukai suara bising dari mobil yang terkadang di warnai oleh suara klakson. Itu mengisi kekosongan di apartment-nya. Mengisi kekosongan dirinya juga.

Ia tidak pernah mempunyai teman. Krystal menghabiskan masa hidupnya di apartment orangtuanya. Ia tidak bersekolah seperti anak pada umumnya. Ia homeschooling. Dia hanya bersekolah tiga bulan lamanya. Sebelum teman-temannya membulli dirinya dan orangtuanya memutuskan untuk mensekolahkannya dirumah.

Sepupunya adalah temannya. Minho dan Junmyeon. Tapi sekarang mereka tidak dekat lagi. Setelah Junmyeon putus dari Joohyun dan ia lebih memihak Joohyun. Setelah Junmeyon menikah dengan Park Chorong, perempuan yang ia pilih melebihi Joohyun. Minho masih bersikap baik terhadapnya. Apalagi Choi Sulli, istrinya. Tapi entahlah… Krystal menjauhi Minho. Karena dimana ada Minho disitu juga ada Junmyeon. Jika Junmyeon ada, maka ia dan Krystal pasti akan bertengkar.

Krystal menatap jalanan yang tak pernah sepi itu. Di tengah hingar bingar ini ia masih merasakan sepi.

.

.

.

.

.

Tidak mempunyai teman bukan berarti Krystal tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak berbicara. Ibunya selalu berada disampingnya. Ibunya lebih dari sekedar ibu baginya. Ia adalah saudaar perempuan Krystal dan juga sahabatnya. Ibunya menjadi tempat Krystal ketika ia bingung.

Kebetulan yang menakjubkan adalah hari ini, sehari setelah Joohyun dan Krystal berbicara, Krystal dari minggu lalu sudah mempunyai janji dengan ibunya. Ibunya baru saja pulang dari dinas kerjanya dan baru hari ini, setelah dua minggu, ia dapat bertemu dengan ibunya.

Krystal asyik menunggu di restaurant italia dekat kantor ibunya. Ketika hampir 15 menit menunggu, ibunya datang. Dengan pakaian formal kantor dan rambut yang digulung ke atas. Wanita yang menginjak akhir 40 ini terlihat tersenyum ke Krystal. “Apakah sudah menunggu lama?” Tanya ibunya dan mulai melihat menu.

Krystal juga ikut melihat menu, “Tidak juga. Aku pikir Oemma akan lebih lama lagi.”

“Rapatnya selesai lebih cepat.” Ujar Jessica pendek. “Ah… Oemma melihat macaroni disini jadi teringat Mac and Cheese di Chichago. Itu sangat lezat.”

Oemma tidak membawakannya untuk ku.” Kata Krystal dengan nada yang pura-pura kesal.

Jessica tertawa, “Oemma pernah membawakan mu makanan tapi kau dan Appa tidak pernah memakannya. Lagipula Oemma dibayarin makan disana.”

Krystal kemudian berdehem, “Kita pesan Lasagna saja bagaimana? Aku bosan dengan spaghetti.”

“Oemma ikut saja dengan mu.”

Krystal dan Jessica memesan Lasagna dengan minuman mereka. Krystal terdiam sejenak. Haruskah ia mengatakannya? Meminta saran Oemma-nya?

“Bagaimana kuliah mu? Apakah rancanganmu diterima oleh Professor Clark?”

Krystal menatap Oemma-nya sejenak, “Tidak. Dia menolaknya. Tapi aku sudah mendapatkan inspirasi baru.”

Jessica menganggukan kepalanya, “Dan bagaimana rencana mu ketika selesai kuliah? Kau sudah mempertimbangkan saran Appa dan Oemma kan?”

Saran Appa dan Oemma membuat Krystal tambah frustasi. Kedua orangtuanya sudah mengetahui jika Krystal langsung ingin membuat brand pakaian. Tapi mereka khawatir. Mereka khawatir karena Krystal harus meminjam uang dari bank. Menurut mereka itu terlalu beresiko. Mereka juga tidak dapat membantu Krystal. Hidup di New York hampir 20 tahun, gaji mereka masih dikatakan terlalu pas-pasan. Mereka ingin Krystal bekerja dulu di boutique seseorang baru membuat brand sendiri.

“Krystal!” Jessica memanggil Krystal yang terdiam. Ia tersenyum sedih, “Kau tidak setuju bukan?”

Krystal berdehem, “Aku mendapat kesempatan lain. Bukan meminjam uang dari bank. Joohyun menawariku bekerja sama untuk pakaian musim panasnya. Itu dapat membuat namaku terkenal dikalangan investor.”

“Itu hal yang bagus sayang!” Jessica bersorak senang. Ia mengenggam kedua tangan Krystal, “Apa kau menerimanya?”

“Belum. Aku masih memikirkan syaratnya.”

Jessica menghela nafasnya dan memijit pelipisnya, “Syarat…. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi katakan kepada Oemma. Apa syaratnya? Apa syaratnya kau harus membagi pendapatan mu atau kau membangun brand dibawah perusahaan miliknya atau apa?”

Krystal menggelengkan kepalanya, “Bukan syarat seperti itu.”

“Bagus! Apa lagi yang kau tunggu Krystal Jung? Atau ia memberikan syarat yang melanggar hukum?”

“Astaga Oemma tentu tidak! Oemma berkata seakan Joohyun orang jahat.”

Jessica kembali mengenggam tangan Krystal, “Kalau begitu apalagi yang harus kau tunggu? Dengar, Oemma tidak tahu persis apa syaratnya tapi menurut Oemma kalau syaratnya tidak merugikan mu, tidak membuat mu melanggar hukum, Joohyun juga mempercayaimu, dan satu lagi Joohyun senang jika kau melakukannya kenapa tidak? Oemma tidak akan bohong kepada mu Krystal, ini adalah kesempatan terbaik mu.”

“Permisi!” Suara dari pelayan wanita mengejutkan mereka berdua. “Pesanan kalian…”

Hmm.. Lasagna datang pada waktu yang tepat.” Ujar Jessica dan mulai memotong Lasagna-nya.

.

.

.

.

.

Berbicara dengan ibunya tidak membuat Krystal sedikitpun tenang. Akhirnya, ketika jam menunjukan pukul 12 malam, ia memutuskan keluar dari apartment-nya menuju bar di sekitar apartment-nya. Dengan pakian tidur tipisnya dilapisi oleh jaket tebal dan panjang. Yang Krystal inginkan saat ini adalah minum-minum.

“Lady… Aku sudah lama tidak melihatmu datang disini.” Seru bartender bar ke Krystal.

Krystal tersenyum kecil, “Hai Micheal! Aku tidak melihat Nick!”

“Oh Nick keluar dari 2 minggu yang lalu. Kekasihnya tidak setuju dia bekerja disini.”

“Sayang sekali… Aku pesan seperti biasa.” Krystal duduk dan melihat layar tv menampilkan tv series berjudul entah apa. Dia sudah lama tidak melihat tv. “Bar sangat sepi malam ini.”

“Ini jam 12 malam Lady… Tentu sudah sepi. Aku mau tutup jika saja kau tidak datang.” Michael kemudian memberikan minumannya. Krystal tersenyum dan meneguk dengan sekali.

“Hai Micheal!” Seseorang datang dan terlihat menjabat tangannya dengan Micheal. “Ku kira bar mu sudah tutup.”

“Hai Kai! Sebenarnya aku sudah ingin tutup jika saja Krystal tidak datang.”

Krystal yang mendengar namanya disebut menoleh ke arah teman Micheal.

“Ini teman ku Kai, Krystal. Dia juga berasal dari Asia seperti mu. Tepatnya dari Korea Selatan.”

Krystal terpaksa mengeluarkan senyumannya. Kalau ingin berdebat, dia akan berkata jika dia benar-benar orang Amerika asli karena lahir dan dibesarkan disini. Keluarganya sudah tiga generasi berada di Amerika. “Aku pesan lagi.”

“Aku seperti biasa.” Ujar Kai dan duduk disamping Krystal.

Mereka terdiam. Krystal benar-benar ingin sendiri kali ini. Ketika minuman datang, ia kembali meneguknya dengan sekali teguk.

“Hari yang buruk?” Tanya Kai menatap Krystal. “Atau masalah yang berat?”

“Masalah yang berat.” Sahut Krystal enteng. Ia mengangkat tangannya untuk memesan lagi.

Kai meneguk minumannya.

“Hari yang buruk atau masalah yang berat?” Tanya Krystal melihat Kai yang juga meminum alkoholnya dengan cepat.

Kai tersenyum, “Dua-duanya.”

“Ku kira aku saja yang menderita.” Kata Krystal kemudian menyesap minumannya.

Kai tertawa, “Tidak bisakah kau memberi simpati kepadaku?”
Krystal menatap Kai. Menyadari jika laki-laki itu memiliki wajah rupawan dengan mata bulat sempurna, hidung yang mancung, dan bibir yang tebal. Ia berdehem, “Aku tidak dapat memberikan simpati karena aku sendiri kekurangan akan hal itu. Mungkin kau bisa memberikan simpati kepadaku?”

Kai menyesap minumannya, “Apakah kau pernah berpikir jika semua hal tidak ada yang sesuai dengan ekspektasi mu? Hari ini aku menyadarinya. Kau mengenalku?”

“Apa kau model yang tidak terlalu terkenal?”

Kai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban lugas Krystal, “Kau bukan yang pertama yang mengatakan pekerjaan ku model. Tapi kau yang pertama yang mengatakan jika aku model yang tidak terlalu terkenal.” Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Aku penari terkenal.”

“Itu bukan duniaku.” Seru Krystal dan lagi-lagi meneguk alkoholnya. Satu-satunya penari yang ia kenal Oh Sehun. Oh, Krystal jadi bertambah muram mengingat hal tersebut.

“Intinya, aku membuat koreagrafer dan berharap koreagrafer ku di pilih untuk acara pembukaan. Tapi tidak malah koreagrafer teman ku. Kemudian teman ku dipilih sebagai center, itu biasanya posisi ku. Dan teman ku, orang yang sama dengan koreagrafernya dipilih dan sebagai center, diberikan durasi solo performance terlama. Kau tahu kenapa begitu? Itu karena dia mempunyai wajah yang tampan.”

“Kau tampan.”

Kai tersenyum mendengar perkataan Krystal, “Dia lebih tampan. Kata murid-murid perempuan yang lain wajahnya membuat mu tidak bisa bernafas.” Ia kembali berkata, “Jadi bagaimana dengan mu?”

Krystal akhirnya bercerita, “Aku mempunyai masalah besar. Teman ku, tiba-tiba berkata kepadaku jika ia akan membantuku. Tapi dengan sebuah syarat. Dan aku pusing dengan syarat itu. Sebelum kau berkata jika syaratnya merugikan diriku atau melanggar hukum maka aku akan menjawab tidak. Syaratnya sedikit gila tapi tidak melanggar hukum.”

“Apa syaratnya?”

Krystal menyesap minumannya dengan muram, “Dia ingin aku menggoda calon tunagannya. Bisakah kau pikirkan itu?! Hidupku memang susah tapi aku tidak semurahan itu!”

“Jauhi saja teman mu. Ku rasa dia meremehkan mu.”

“Aku tidak bisa. Dia mempunyai masa lalu yang buruk tentang tunangan dan pernikahan. Itu yang bisa ia pikirkan dan hanya aku yang ia percaya. Masalah utamanya adalah aku butuh hal yang ia janjikan.”

“Hey, kau ma dengar saran ku?”

Krystal kembali menatap Kai, “Saran dari seseorang yang mabuk?”

Kai mendekatkan wajahnya ke Krystal, “Jika kau menerima saran dari seseorang yang tidak mabuk kau pasti tidak akan mabuk-mabukan.”

Krystal menghela nafas mendegar kalimat Kai yang mengindikasi dia sudah mabuk. Tapi ia tetap diam mendengarkannya.

“Menurutku, kau setuju saja dengan syaratnya. Tapi kau tidak menggoda calon tunangannya. Kau mungkin dekat dengan calon tunagannya tapi tidak sampai menggodanya. Ketika ia bertanya apakah calon tunagannya tergoda olehmu kau tinggal menjawab tidak. Dia pasti percaya padamu. Dan dia pasti tidak akan bertanya kepada calon tunagannya.”

Krystal melihat alkoholnya sejenak sebelum kembali meminumnya. “Kau tahu, kurasa kau teman yang enak diajak ngobrol.” Krystal mengeluarkan uangnya dan memanggil Micheal, “Ambil saja kembaliannya.”

Kai yang melihat Krystal akan pergi juga ikut membayar. “Kenapa kau berhenti minum? Kita bisa mengobrol lagi.”

“Aku ingin tidur.” Jawab Krystal pendek.

“Biar ku antar. Kau mabuk.”

Krystal tertawa dan ia mengibaskan tangannya, “Kau juga mabuk. Lagipula tempat tinggal ku dekat.” Ia berbalik keluar dari bar.

Kai mengikuti Krystal. “Hey, aku rasa aku bisa menemanimu berjalan.” Krystal masih berjalan tanpa menoleh dan Kai mengikuti Krystal. Ia dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Krystal, kemudian mencekal tangan Krystal, “Atau kita bisa bersenang-senang sedikit? Kau tahu… Aku sedang kesepian. Kau juga.”

Krystal mendekat ke arah Kai dan berbisik, “You’re not lonely. You can ask your fiancée or your wife to company you.” Ia kemudian menatap Kai dengan tatapan tajam, “Lain kali simpan terlebih dahulu cincin mu sebelum menggoda seseorang. Looser!” Ia segera berjalan menjauhi Kai.

Kai menatap punggung Krystal yang semakin menjauh kemudian tersenyum. Dia menyukai gadis itu.

.TBC.

Haiiii… Aku updated agak cepat kali ini. Tapi gak tahu kedepannya soalnya aku udah masuk sekolah lagi. Agak liar bukan? Ya, soalnya mereka hidup di Amerika alias New York jadi aku buat latar kehidupan Krystal agak liar.

Well, Kim Jongin atau Kai sudah muncul menjadi playboy kelas kakap. Sedangkan Oh Sehun belum. Kayaknya sih Sehun muncul di chapter depan.

Okay, See you soon~

Unwanted Reverie (Chapter 1)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

***

Unwanted #1 : Making A Brand

Kertas-ketas sudah bertebaran dimana-mana. Banyak dari kertas sudah tak berbentuk lagi akibat dari emosi sang gadis yang asyik mencoret-coret sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali meremas kertas, lagi, dan melemparnya sembarangan. Krystal merengut. Ini benar-benar sial! Ide-idenya yang tadi pagi sudah keluar hilang entah kemana. Belum lagi mood nya yang benar-benar buruk.

Sudah dua jam ini gadis yang berambut blonde ini berkutat menyelasaikan satu model pakaian. Satu model saja. Tadinya Krystal sudah memiliki banyak ide bahkan sudah menghubungi pembimbingnya. Mahasiswi semester terakhir yang sedang membuat karya sebagai pembuktian dia siap bekerja merasa yakin dengan karyanya. Yah gitu deh akhirnya… Pembimbing Krystal benar-benar marah dan menolak ide Krystal. Mengatakan jika diri Krystal tidak pernah berkembang. Hanya gambar gadis ini saja yang bagus.

Pembimbingnya mengancam jika dalam tiga minggu Krystal tidak menyelesaikan model pakaiannya ia harus menunggu tahun depan. Belum lagi ia bertemu dengan teman kampusnya yang mengejek dirinya. Mengatakan jika sedari awal Krystal keluar saja dari jurusan mode dan banting setir menjadi seorang pelukis. Jika ia tahu waktunya banyak, Krystal pasti akan membalas omongan gadis sialan itu.

Krystal memijit pelipisnya. Ia meletakan buku sketsanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Keluar dari kamarnya untuk memasak makan siangnya sendiri. Krystal mengeluarkan dua bungkus ramyun instan dan mulai memasaknya.

Ting!

Krystal yang sedang asyik melamun tersentak hebat mendengar bunyi yang tak lain dari handphone-nya. Gadis itu menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengingat dimana handphone-nya.

Ting!

Bunyi pesan masuk terdengar lagi. Krystal mengecilkan kompornya dan mulai mencari handphone-nya. Pasti ada yang penting. Kalau bukan pekerjaannya sebagai seorang kolomnis disebuah majalah fashion pasti mengenai kedua orangtuanya. Atau dari seseoarang yang dari tadi memang ia tunggu kabarnya.

Gadis itu tersenyum senang ketika menemukan handphone-nya yang tergeletak di ruang tv yang kadang merangkap menjadi ruang tamu. Krystal melihat isi pesan. Beberapa detik kemudian senyuman Krystal langsung merekah. Ia bahkan tersenyum lebar sampai matanya terlihat mengecil. Mood-nya mulai kembali. Dia yakin dia akan menemukan inspirasinya sebentar lagi.

.

.

.

.

.

Jalanan Manhattan yang benar-benar ramai kali ini benar-benar menguji kesabaran Krystal. Setelah terjebak macet hampir sepanjang jalan ia akhirnya memarkirkan mobilnya di depan butik terkenal dengan susah payah. Itupun seetelah berkeliling-keliling tiga kali. Ia keluar dari mobilnya dengan merapikan rambutnya yang sedari tadi ia acak-acak karena kesal. Memasuki butik bernama Red Velvet by Bae Joohyun dan sedikit menyeringit melihat banyaknya pengunjung. Itu pasti karena butik ini sedang memberikan diskon besar-besaran.

“Krystal!”

Krystal menoleh dan melambaikan tangannya kepada Suzy, sekertaris dari Joohyun. Suzy menghampiri Krystal dengan senyuman manisnya.

“Ini gila!” Seru Krystal melihat keadaan sekitar.

Suzy tertawa, “Kau tahu… Kami mengadakan diskon besar-besaran hingga 85%. Ayo kita ke lantai tiga. Disana lebih nyaman.”

Krystal mengikuti Suzy yang membawa dirinya memasuki sebuah lift yang dilapisi kaca, sehingga Krystal masih melihat banyaknya orang ketika ia naik.

“Joohyun Oennie masih ada rapat dengan klien. Ia menyuruh mu bersantai di lantai tiga terlebih dahulu.”

Lift pun mulai naik, Butik ini terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua adalah butiknya. Sedangkan lantai tiga adalah ruang kerja para designer. Lantai pertama bisa dijangkau oleh semua orang. Rata-rata orang yang menggesekan kartu kreditnya tanpa berpikir panjang berbelanja dilantai dua, lantai yang diperuntukan untuk pengunjung VIP. Dengan memasuki lift sudah benar-benar berkah bagi Krystal. Dari lift-nya Krystal dapat melihat jika lantai keduanya juga penuh.

Krystal mengeluarkan komentarnya, “Aku tidak tahu orang kaya butuh diskon untuk berbelanja.”

Suzy tersenyum kecil, “Bagi anak kaya yang uangnya masih terbatas mereka membutuhkan diskon. Kau lihat muka mereka semua? Aku lebih memilih melayani orang-orang di lantai bawah daripada melayani mereka. Sombong sekali!”

Bunyi Ting! terdengar dan mereka akhirnya keluar dari lift. Di lantai tiga ini juga sangat ramai.

“Wow! Sepertinya butik ini sangat sibuk sekali!”

“Ini sudah memasuki musim dingin. Kami mengadakan diskon besar-besaran agar baju musim gugur dan panas kami habis. Belum lagi minggu depan kami akan mengeluarkan line musim dingin.” Jelas Suzy. “Joohyun Oennie menyuruhku untuk mengajakmu melihat-lihat line musim dingin. Dia mengatakan kau membutuhkan inspirasi untuk tugas akhir.”

“Dia mengizinkannya?” Tanya Krystal tidak percaya. Melihat line musim dingin pertama kali? Apa?

Suzy tertawa melihat ekspresi terkejut Krystal. “Hei… Kau sangat jelek dengan ekspresi terkejutmu itu.”

Krystal menutup mulutnya yang tadi sempat terbuka. Ia berdehem tapi matanya tetap sangat berbinar.

“Kurasa kau sudah tidak sabar bukan? Ayo ikuti aku….” Suzy membawanya ke tempat yang belum pernah Krystal masuki ketika ia mengunjungi Joohyun. Ia sudah beberapa kali ini mengunjungi Joohyun. Kebanyakan berhubungan dengan tugas kuliahnya. Tapi ia tidak pernah berpikiran ia akan masuk ke ruangan dimana baju-baju indah belum pernah dilihat banyak orang akan ia lihat.

Ketika Suzy ingin membuka ruangan itu dengan kartu ID nya ia bertanya, “Kau baik-baik saja?” Suzy melihat Krystal dengan sorot mata geli. Krysal sangt gugup hingga terdapat bulir-bulir keringat di dahinya. “Yang akan kita temui baju Krystal Jung bukan bos baru mu.”
“Aku hanya terlalu excited Suzy…”

Suzy tersenyum dan menempekan kartu ID. Pintu terbuka. Ruangan itu penuh dengan baju baru yang membuat mata Krystal membesar. Ia mendekat ke salah satu rak baju dan mengambil sebuah gaun bewarna pelangi.

“Sehabis Red Summer dan Autum in Red, kami berpikir jika musim dingin harus memberikan kesan lembut. Nama katalog musim dingin kami adalah Perfect Velvet.   Gaun yang dirimu pegang saat ini adalah gaun untuk makan malam bersama keluarga. Bagaimana menurutmu Krystal?”

“Genius! Merah terlalu membosankan untuk pakaian natal! Begitu juga putih! Atau hitam! Pelangi?!” Krystal terkekeh. “Bae Joohyun memang yang terbaik. Tidak heran baru-baru ini dia berhasil membuka tokonya di Paris.”

Suzy menggelengkan kepalanya melihat Krystal yang masih kagum. “Seperti yang kau lihat sekarang ini. Pakaian kami terdiri dari banyak gliter. Ini karena kami ingin pemakainya bersinar dengan memakainya. Desember merupakan musim libur yang sangat penting. Baju-baju terdiri dari warna lembut tapi juga ada warna yang mencerminkan Desember seperti hijau, gold dan silver. Pakaian bewarna merah tetap ada, tetapi tidak sebanyak pakaian bewarna lembut.

Krystal tidak menjawab karena matanya masih sibuk melihat pakaian-pakaian indah yang ada di ruangan ini. “Menakjubkan bukan?”

Suzy kembali menggelengkan kepalanya..

.

.

.

.

.

Krystal menghabiskan waktu satu setengah jam di ruangan itu dan sekarang inspirasi benar-benar memenuhi kepalanya. Mood-nya juga jauh lebih baik. Melihat rancangan Joohyun membuat ia juga sadar akan satu hal. Pembimbingnya benar., design-nya tadi sangat payah. Suzy sedari tadi terus menemaninya dan memberikan semua jawaban dari pertanyaan Krystal. Seperti untuk apa pakaian tersebut, apa bahannya, bagaimana cara menjahitnya.

Sekarang Krystal masih menunggu Joohyun yang rapatnya belum selesai juga. Suzy berkata jika rapat ini adalah penentuan kontrak dengan para investor. Para investor berdebat mengenai catatan penjualan Joohyun tahun lalu yang memang buruk dibandingkan tahun ini.

Sekarang, Krystal sedang di ruangan kerja Joohyun menikmati jus nanas yang dibawakan oleh pegawai, masih ditemani Suzy. Sejujurnya Krystal akan memilih wine jika ia punya supir yang akan mengantar ia pulang.

“Joohyun Oennie baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Ia sudah selesai rapat dan ia akan segera ke sini.”

“Suruh dia untuk tenang saja. Aku yakin otaknya masih panas sehabis berdebat denga para investor.” Krystal kembali meminum jusnya. “Tapi itu artinya kau akan semakin lama dengan ku. Kau sangat bersabar tadi di ruangan itu bersama dengan ku. Jadi terimakasih.”

Suzy mengeluarkan senyumannya, “Tidak usah berterimakasih. Sejujurnya akulah yang harus berterima kasih. Aku tidak tahan harus mendengar perdebatan para investor.”

Krystal dan Suzy sama-sama tertawa.

Brak!
Suara pintu terbuka mengejutkan mereka berdua. Tapi Krystal semakin terkejut menemukan siapa yang datang.

“Joohyun Oennie!” Serunya masih terkaget dengan penampilan Joohyun. “Aku tidak melihat mu selama sebulan dan sekarang rambutnya bewarna pirang?”

Joohyun berlari kecil dan memeluk Krystal. Sedikit susah karena barang yang ia bawa. “Dan kau juga berubah. Rambut mu juga pirang dengan sama dengan ku. Terakhir kali kita betemu rambut mu bewarna merah Jung Soojung.”

Krystal menggaruk kepalanya, “Aku selalu mengganti warna rambut ku jika butuh inspirasi.”

“Jadi apakah kau mendapatkan inspirasi?” Krystal baru saja ingin menjawab tetapi Joohyun kembali berbicara, “Oh, tunggu! Cerita ini pasti sangat panjang dan aku sangat kelaparan dari tadi. Sebaiknya kita mengobrol sambil makan. Aku sempat membelikan makanan untuk dirimu dan Suzy. Kita bisa makan sambil mengobrol.”

“Aku akan sangat senang mendapatkan makanannya. Tapi aku harus menyusun jadwal mu untuk lusa. Jika boleh aku akan memakan sendiri nanti.”

Joohyun menepuk jidadnya pelan, pertanda ia lupa. “Jadwal ku lusa ya… Baiklah ini makanan mu. Terimakasih sudah bersama Soojung sejak tadi.”

Suzy menerima makanan dari Joohyun dengan senang hati. Setelah berpamitan dengan Krystal ia keluar dari ruangan Joohyun.

Joohyun membuka makanannya dan Krystal kemudian kembali bertanya, “Sudah dapat inspirasi?”

“Tentu. Aku mendapat ide gila jika aku akan membuat gaun saja.” Krystal mulai memasukan potongan daging ke mulutnya. “Guru Clark tadi memarahi ku dan mengatakan jika aku tidak berkembang. Membandingkan dengan rancangan Oennie kurasa ia benar.”

“Jangan bersedih… Guru Clark adalah orang yang keras. Ketika aku di semester akhir juga ia mengatan jika rancanganku cocok dipakai di film alien.”

Krystal tersedak mendengar perkataan Joohyun. Ia berusaha untuk tidak tertawa.

Joohyun tertawa geli, “Tertawalah. Jika mengingat perkataannya aku juga menganggap itu lucu. Awalnya memang menjengkelkan. Aku membuat rancangan ku dengan tidak tidur dengan benar selama tiga hari. Ia menolak rancangan ku tak sampai sepuluh menit. Tapi sekarang aku menganggap ia ada benarnya.”
“Oh astaga… Dia jenius tapi entah mengapa lebih memilih jadi guru.”

“Itu adalah passion ia sebenarnya. Nah, sekarang apa yang rencana mu setelah kau lulus?”

“Aku belum tahu hal yang pasti, Oennie. Entahlah… Aku berharap rancangan ku dapat menarik beberapa perusahaan besar sehingga mereka akan memperkejakan ku diperusahaan mereka. Setelah bekerja bertahun-tahun bekerja mungkin aku akan membuat brand ku sendiri. Seperti impian ku. Atau aku akan mendaftar di majalah yang bergerak di bidang fashion dan bekerja disana bertahun-tahun untuk dekat dengan orang-orang penting di bidang fashion sebelum membuat brand ku sendiri.”

Krystal menghela nafas panjang. Rencana yang sebenarnya adalah membuat brand-nya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Joohyun ketika ia lulus. Tapi itu rencana yang paling tidak mungkin. Ia menatap makanannya dengan tidak berselera, “Atau langsung saja membuat brand ku sendiri seperti yang Oennie lakukan. Dengan kerja keras aku yakin suatu hari brand ku akan terkenal.”

Ya, Krystal harus bekerja sangat keras. Mungkin dengan meminjam uang dari bank? Dan percayalah, ia rasa ia butuh waktu lebih dari lima tahun untuk membuktikan apakah ia sukses atau tidak. Tidak seperti Joohyun dimana brand-nya langsung terkenal dan ia punya toko di pusat Manhattan yang harganya sangat mahal. Krystal perlu latar keluarga chaebol seperti Joohyun agar para investor tidak ragu memberi uang mereka. Sayangnya, satu-satunya yang dapat ia banggakan adalah ia mengenal Joohyun.

“Oennie…” Krystal memanggil Joohyun ketika menyadari Joohyun sedari tadi termenung.

“Oh, maaf.” Joohyun tersenyum malu kepada Krystal. “Ada yang suatu hal yang terus kupikirkan akhir-akhir ini.”

“Ku rasa aku menganggu mu bukan? Kau pasti lelah habis bertemu dengan para investor mu.”

Joohyun semakin tidak enak hati, “Bukan seperti itu Krystal. Kau tidak mungkin menganggu mu. Malah aku sengaja memanggilmu untuk meminta bantuan mu.”

Bantuan?

“Bantuan apa Oennie?

Joohyun meletakan makan siangnya. Ia menautkan kedua jarinya. “Aku ragu mengatakannya. Aku sangat gugup.”

“Oennie kau membuat ku takut…”

Joohyun menarik nafasnya. “Baiklah…” Ia menghembuskan nafasnya perlahan, “Sehun melamar ku….”

“Sehun?” Krystal sangat terkejut hingga ia meletakan makanannya dan bangkit dari kursinya, “Oh Sehun pacar mu selama satu setengah tahun itu? Dia melamar mu?”

“Dia melamar ku ketika anniversary kedua kami Krystal, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi aku belum menerimanya.” Joohyun menginggit bibirnya, “Aku takut…”

“Oh, Oennie…” Krystal mendekat ke Joohyun, “Aku tahu kau pernah gagal menikah dengan sepupu ku Kim Junmyeon. Tapi kau sendiri yang bilang jika Sehun berbeda dari Junmyeon. Dan juga, kau terlihat bahagia dengannya.”

“Krystal…. Aku tetap takut.” Joohyun terlihat seperti akan menangis. Krystal segara memeluknya. “Tapi yang paling membuatku takut adalah meminta bantuan kepada ku…”

“Oennie ingin meminta bantuan apa kepadaku? Oennie ingin aku datang kepadanya dan mengatakan Oennie belum siap?” Krystal melepas pelukannya dan memegang tangan Joohyun. “Katakan saja Oennie…”

“Aku… Aku ingin kau menguji kesetiaannya…”

“Kesetiaan?” Alis Krystal berkerut. Menguji kesetiaan? Bagaimana caranya? Oh, jangan-jangan, “Oennie ingin aku menggodanya agar tahu ia setia atau tidak?”

Joohyun menatap Krystal ragu tetapi ia menganggukan kepalanya, “Aku tahu ide ini terdengar sangat gila. Tapi aku hanya mempercayai mu.” Joohyun melanjutkan, “Aku akan pergi ke Eropa selama satu bulan ini untuk mengunjungi beberapa investor. Ketika aku pergi kau bisa tinggal di apartment ku dan Sehun. Kau juga dapat mengakses lemari ku.”

Mengakses lemari Joohyun? Itu hal yang bagus. Lemari Joohyun yang berisi brand-brand bermerek pasti akan membuat otaknya penuh akan ide.

“Dan juga aku akan membantu mewujudkan impian mu. Kau berkata kau ingin membuat sebuah brand bukan? Percayakan kepada ku. Aku akan mewujudkannya.”

Jadi Jooohyun tadi mendegar perkataannya? Kemudian ia akan membantu Krystal mewujudkan impiannya? Tunggu…

“Oennie…”

“Terakhir dan ini yang terpenting. Aku mempercayai mu karena kau tidak akan mengkhianati mu. Bagaimana?”

Mewujudkan impiannya. Kata-kata itu berhasil berputar di otak Krystal.

.TBC.

 

 

 

Unwanted Reverie (Prologue)

unwantedreverie

Poster By : NJXAEM@ POSTERCHANNEL

Author: Ally

Cast: f(x)’s Krystal Jung | EXO’s Oh Sehun | RV’s Bae Irene |

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

 

 

6a010f023c45bf4fe77409aa89be7311

 

“Selama hal itu tidak menyakiti seseorang aku akan melakukannya. Joohyun tidak akan tersakiti. Dia lebih tersakiti jika ia tidak mengetahui yang sebenarnya. Sehun, laki-laki itu akhirnya akan sadar kesalahannya dan berusaha memperbaiki nya. Dia tidak akan tersakiti olehku. Diriku? Seharusnya aku menghitung kemungkinan ini. Kenyataannya, akulah yang paling tersakiti dari hal ini. Janji, kebohongan, dan cinta yang seharusnya tidak tumbuh.”

––Krystsal Jung––

da1d92323ef979db8d43fc006f744d67--red-velvet-irene-irene-red-velvet-airport

“Perasaan ragu itu terus menghantui ku. Aku membutuhkan pembuktian, bukan didasari oleh perkataan tapi didasari oleh aksi. Hal ini memang gila, tapi walaupun pada akhirnya buruk sangka ku terbukti, aku yang akan meninggalkannya. Bukan ia yang akan meninggalkan ku, seperti dulu.”

––Bae Joohyun­­––

600247-monsieur-oh-sehun

“Aku tidak pernah merasa salah di hidupku. Pertemuan dengan mu merupakan kesalahan bagiku. Tapi, setelah kupikir-pikir, pertemuan dengan mu merupakan suatu yang benar Kau menyadarkanku bahwa yang kulakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.”

––Oh Sehun––

.

 .

.

Di hidup Krystal, ia selalu mengimpikan banyak hal. Dia ingin menjadi designer terkenal. Mempunyai brand pakaian terkenal. Namanya menjadi sejarah di dunia fashion. Terdengar sangat mudah di ucapkan ketika ia menuliskan mimpi itu. Umurnya sepuluh tahun waktu itu. Sekarang, diumurnya yang menginjak 24 tahun, Krystal baru mengetahui betapa susah mimpinya tercapai.

Mimpi pertamanya, dia ingin menjadi designer. Itu sudah hampir tercapai. Mengingat dirinya sebentar lagi akan tamat kuliah dan mendapat gelar tersebut. Tapi dua mimpi lainnya seakan susah untuk di raih. Ada dua kemungkinan yang sudah ia susun jauh-jauh agar impian keduanya tercapai. Pertama, dia akan terus bekerja di majalah fashion agar dapat mengenal orang-orang penting di bidang fashion baru membuat brand-nya. Jika sudah membuat brand tinggal menunggu waktu hingga namanya tercatat di sejarah dunia fashion. Yang kedua dia akan meminjam uang dari bank untuk membuat brand-nya sendiri. Cara ini lebih cepat daripada harus bekerja di majalah fashion. Tapi cara dengan cara ini, Krystal harus bersusah payah terlebih dahulu sebelum brand-nya benar-benar dikenal.

Itu adalah dua kemungkinan mengingat ia hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Bukan anak seorang kaya tujuh turunan. Bahkan, selama tigapuluh tahun pernikahan orangtuanya, orangtuanya tetap tinggal di apartment.

Sebenarnya, ada satu kemungkinan yang tidak pernah Krystal pikirkan sebelumnya. Kemungkinan itu datang dari Bae Joohyun, teman dekatnya yang umurnya 3 tahun lebih tua daripada Krystal dan bekerja sebagai designer terkenal.

Line

Bae Joohyun adalah seorang designer terkenal yang berhasil mencapai semua impian pada umurnya 25 tahun. Sekarang di umurnya 27 tahun, Bae Joohyun menghadapi masalah yang pelik, baginya. Ia dilamar oleh kekasihnya Oh Sehun. Lamaran itu membuat ia ketakutan dan masa lalu berhasil menghatuinya. Untungnya, selama tiga bulan dia berhasil menghindari Sehun karena sibuk dengan pekerjaannya.

Pada akhirnya, ia mengambil keputusan yang diluar akal. Dengan mempercayai Krystal, teman dekatnya. Joohyun dan Krystal bertemu ketika Joohyun berpacaran dengan Junmyeon, yang tak lain adalah sepupu Krystal. Junmyeon pada akhirnya meninggalkan Joohyun ketika ia lebih memilih berpacaran dengan salah satu rekan kerjanya. Berkata ia tidak bisa menyayangi Joohyun yang saat itu sedang di puncak karirnya. Hubungan dia dan Junmyeon hancur tak berbekas. Hanya saja menghantui Joohyun tentang pengkhianatan Junmyeon.

Lain halnya dengan hubungannya dan Krystal yang semakin kuat. Krystal gadis yang menyenangkan. Krystal gadis yang perduli. Walaupun tampang gadis itu sedingin es, ia sangat peka terhadap lingkungannya sekitar. Krystal adalah gadis yang selalu menepati janjinya dan jarang berbohong. Ia juga membantu Joohyun melewati masa terpuruknya dicampakan Junmyeon. Joohyun masih mengingat dengan jelas, Krystal marah-marah ke Junmyeon setelah ia mencampakan Joohyun.

Joohyun membalas kebaikan Krystal dengan memberikan gadis itu akses ketika gadis itu membutuhkan inspirasi. Ketika Krystal bingung tentang apa yang harus ia lakukan ketika ia lulus kuliah, Joohyun memberikan solusi dengan sebuah syarat yang tentunya didasari karena ia mempercayai Krystal.

Dia akan menggaet Krystal untuk rancangannya pada musim panas. Dengan itu, Krystal akan dapat dikenal oleh orang-orang fashion dengan cepat. Para investor juga mengenalnya dan kemudian tidak ragu berinvestasi untuk membuka brand pakaian Krystal. Syaratnya adalah Krystal menggoda kekasihnya, Oh Sehun.

Line

Oh Sehun. Kekasih Joohyun yang sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Ia mencintai Joohyun, sangat. Dia adalah seorang dancer dan telah menari sejak kecil. Hidup untuk menari adalah motonya. Dulu dia adalah dancer yang berkeliling dunia menunjukan kebolehannya. Tapi setelah ia bertemu dengan Joohyun, disebuah pesta sponsornya, setelah ia jatuh cinta dengan Joohyun, Sehun memutuskan untuk menetap di New York agar lebih dekat dengan Joohyun. Memutuskan sebagai guru menari, tentunya di sekolah menari terkenal. Beberapa kali juga mencoba menjadi koreografer.

Bukan hanya kemampuan menarinya yang membuat orang tercengang. Atau wajah rupawannya yang membuat orang sulit bernafas. Sikap Sehun berhasil membuat Krystal ketar-ketir sedari awal. Sehun sendiri menganggap Krystal aneh dan tidak habis pikir bagaimana bisa Joohyun mempunyai teman seperti Krystal.

Keanehan itu berubah menjadi kejengkelan luar biasa. Apalagi Krystal tinggal di apartment-nya dan Joohyun. Joohyun berkata kepada Sehun jika Krystal membutuhkan inspirasi untuk pakaiannya, yang itu sangat benar. Tapi Joohyun tidak bilang ke Sehun bahwa itu juga caranya agar Krystal dapat menggoda Oh Sehun. Apa Krystal menggodanya? Yang jelas, pada akhirnya Sehun tidak tergoda oleh Krystal Jung. Tetapi ia telah jatuh cinta kepada gadis itu.

Line 2.png

 Aku deg-degan sekaleeeh mau publish cerita ini. Terakhir aku buat cerita baru cast utama Sestal tahun 2015, yaitu Flipped. Lama banget sumpah… Tapi gak kerasa aja udah dua tahun yang lalu… Tahun ini aku buat dua cerita tentang Sestal, satu ff judulnya The Wind of Change tapi cerita ini aku canceled sangking buntunya ide aku. Ternyata membuat cerita cinta segi empat tidaklah mudah….

So, aku buat cerita ini… Bagaimana menurut kalian?

 

In The Snow (Chapter 3/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 3

When the temperature goes to 20 up degree, i felt the snow replaced by the flower who blooms.

.

.

.

Seorang laki-laki dengan tergesa-gesa keluar dari sebuah apartment.

Aaah~

Teriakan kencang di susul ledakan besar dari apartment yang baru saja ia keluari membuat ia terdiam sejenak. Kibum menatap apartment tersebut dengan kosong. Segera berjalan menjauhi. Menabrak beberapa orang yang mendekat ke apartment yang terbakar itu. Beberapa menghubungi pemadam kebaran. Beberapa hanya melihat apartment itu sambil berbicara kepada orang disebelahnya apa yang sebenarnya terjadi.

Kibum melangkahkan kakinya dengan cepat menuju apartment-nya. Begitu masuk, ia menemukan ketiga temannya menatapnya penuh harap.

“Bagaimana?” Tanya Jonghyun.

Kibum menggeleng, “Mereka tidak ada.”

“Mereka? Minho dan targetnya?” Kali ini Taemin menatap Kibum khawatir.

“Ku rasa terjadi sesuatu di sana. Aku menemukan darah di lantai. Kaca yang pecah yang kurasa dari tembakan. Tetapi tidak ada sama sekali peluru.” Ia mengeluarkan hp-nya, “Aku memotretnya. Juga mengambil sample darahnya. Ku rasa itu darah dari 2 orang. “ Ia memberikan hp-nya. Tangan Kibum kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Ini kedua sample darahnya.”

“Jonghyun tolong periksa sample-nya…” Jinki memberikan sample ke Jonghyun yang segera Jonghyun ambil. “Periksa kedua DNA darah kepada Minho. Baru kemudian periksa di database kita.” Jinki menatap Kibum, “Berikan aku ponselmu…”

Kibum menurut. Ia memberikan ke Jinki. Sekarang mereka ia, Kibum, dan Taemin melihat foto-foto yang diambil Kibum.

“Dari melihat fotonya ku rasa memang ada dua orang yang terluka. Satu masih bisa bergerak…” Taemin melihat fotonya dengan seksama. “Tetesan darahnya…”

“Itu mengarah ke lemari, ia mengambil handuk kalau tidak salah.” Kibum yang bersuara.

“Langsung ke lemari?” Kali ini Jinki yang bersuara.

“Mengapa?”

“Kenapa dia tahu jika handuk berada di lemari?”

“Okay, tunggu sebentar…” Kibum mengangkat salah satu tanganya. “Jangan bilang jika yang berjalan adalah Choi Jinri?”

“Minho tidak mungkin tahu dimana letak handuknya…”

“Tapi Minho tidur dengan Choi Jinri. Bisa jadi…” Taemin kembali melihat foto-foto yang Kibum ambil. Kibum dan Jingki menghela nafas lega mendengar perkataan Taemin.

“Hasilnya keluar!” Teriakan Jonghyun membuat mereka bertiga berlari ke sumber suara. “Sample A adalah darah Minho!”

“Sial!” Kibum menghela nafas kasar, “Sample A untuk genangan darah yang paling banyak. Yang tidak berjalan.”

“Bagaimana dengan Sample B?” Jinki menatap Jonghyun.

Jonghyun menatap komputernya, “Tidak ada hasilnya. Aku sudah memeriksa di data kita.”

Hyung…” Taemin mengusap mukanya kasar.

“Coba periksa di data perusahaan. Aku berpikir, bagaimana yang membantu Jinri selama ini bukan keluarga mafia tapi salah satu dari kita?”

“It’s worth to try….” Jari-jari Jonghyun dengan cepat menari di keyboard. Mengoperasikan program data base.

Ting!
“Kita mendapatkannya!” Teriak Jonghyun senang. “Dan ini menarik….”

Kibum melihat komputer dan berkata, “Aku setuju. Ini menarik….”

“Apa?”

“Tidak cocok 100% tapi cocok 55%. Hubungan saudara perempuan… Salah satu dari anggota kita. Namanya Lee Sungkyung. Ia bekerja sebagai dokter di perusahaan.”

“Alibi yang sempurna!” Taemin menggaruk kepala yang tidak gatal, “Coba pikirkan ini… Sungkyung menjadi dokter. Dokter di perusahaan mempunyai kelonggaran. Tugasnya hanya mengobati kita yang terluka. Tapi ia juga boleh cuti jika ia mau. Sungkyung bekerja di perusahaan kita itu artinya ia tahu yang terjadi di perusahaan kita!”

Jinki berbicara, “Dia tahu kapan nama adik perempuannya keluar… Ia tahu kapan adik perempuannya akan dibunuh. Dan ketika ingin di bunuh, Sungkyung mengambil cuti dan dialah yang menghentikannya sendiri.”

“Walau dia dokter tapi ia pasti dilatih untuk menjadi pembunuh bayaran terlebih dahulu. Setidaknya dia bisa menembak bukan?” Kibum mengeluarkan pendapatnya.
“Cari file tentang Sungkyung dan kirim file nya ke hp kami!” Perintah Jinki dan Jonghyun segera melakukannya.

“Di mulai menjadi anggota sejak umur 20 tahun. Merupakan mahasiswi kedokteran ketika masuk ke organisasi dan menjalankan pelatihan selama tiga tahun tetapi tetap memilih jadi dokter. Mendapat nilai tertinggi di menembak dan ahli dalam menembak. Latar belakang berasal dari panti asuhan di kota Mokpo dan diangkat saat umur lima tahun. Kedua orangtua angkat meninggal sejak ia berumur 16 tahun. Meninggalkan ia dan dana tunjangan yang cukup besar untuk membiyai kuliahnya.”

“Aku menemukan sesuatu lagi!” Jonghyun kembali mengirimkan data yang ia dapat ke handphone teman-temannya.

“Ya ini menakjubkan…” Taemin kembali berkata, “Tempat cuti dan tanggal cuti tepat ketika Choi Jinri ingin di bunuh.”

Jinki kembali menatap Jonghyun, “Dimana Lee Sungkyung sekarang?”
Jonghyun segera mencari dan ia tersenyum melihat hasilnya, “Lee Sungkyung sekarang di kota ini. Dia tinggal di apartment sama dengan Jinri dan juga ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Jinri. Satu lagi, sebentar lagi shift kerjanya selesai.”

“Mari kita temui dia….”

.

.

.

.

.

“Hai nyonya Lee Sungkyung…” Kibum membuka tutup kepala Sungkyung.

Sungkyung masih meringis ketika sinar yang begitu terang masuk ke matanya. Ia memejamkan matanya. Kembali membuka ketika tersadar tangannya juga diikat.

“Maafkan kami yang harus memukul kepala Anda. Anda melawan cukup sengit tadi.” Taemin menatap Sungkyung dingin.

“Siapa kalian?” Tanya Sungkyung mencoba untuk tenang.

“Dia pintar berpura-pura bukan? Kau tidak tahu siapa kami?” Jinki menghela nafasnya kasar. Menatap Sungkyung tajam.

“Jangan lupakan ia juga sama seperti kita…” Jonghyun menatap Sungkyung sinis, “Kami satu perusahaan dengan Anda.” Lanjutnya masih sinis.

“Satu perusahaan…. Kalian dokter?”

Keempat orang di depan Sungkyung langsung tertawa keras. “Dia begitu hebat bukan?” Jinki mengeluarkan pistolnya. “Hentikan basa-basi ini. Katakan dimana Choi Minho sebelum kesabaran ku habis…”

“Bagaimana jika kesabaran mu habis? Kau akan menembak ku? Atau menyiksa ku terlebih dahulu?”

Mereka terdiam mendengar omongan Sungkyung. Sungkyung menatap mereka berempat dengan tenang. Terlalu tenang sebenarnya.

“Kau ingin bermain…” Kali ini Taemin bersuara. “Baiklah…” Ia mengeluarkan file Sungkyung, “Kau lihat logo ini… Kau bekerja disini. Sama seperti kita.”

Sungkyung menghembuskan nafasnya kasar, “Baiklah. Aku bekerja untuk ALC sama seperti kalian. Jadi apa sekarang?”

Taemin melemparkan file ke lantai, “Jawab pertanyaan teman ku. Dimana Choi Minho!”

“Aku tidak tahu dimana Choi Minho.”

“Mungkin kita harus memperjelas suatu.” Jinki kembali berbicara. Ia menurunkan pistolnya, “Kau pikir kita tidak tahu siapa kau sebenarnya… Tapi kita tahu! Kau adalah saudara perempuan Choi Jinri yang bekerja di perusahaan ini. Dari mana kami tahu? Kami mencocokan darah Jinri dengan DNA mu. Itu yang mengatakan jika kau saudara perempuannya.

Kau lah yang menghentikan setiap orang yang membunuhnya selama ini. Kami yakin, kau yang membuat teman kami sekarang menghilang. Kau pasti membunuhnya kemarin siang dan membawa mayatnya entah kemana saat ia coba membunuh saudara perempuan mu!”

Sungkyung menatap mereka berempat dengan tatapan tidak percaya, “Kalian membuatku khawatir sekarang! Apakah kalian baik-baik saja?”

Jinki mengarahkan senjatanya ke Sungkyung. Menatap Sungkyung datar. “Katakan yang penting atau kau akan menyesal. Teman ku menghilang dari kemarin siang. Itu petunjuk selanjutnya.”

“Baiklah… Baiklah….” Sungkyung menghela nfasnya, “Aku bekerja sebagai dokter di ALC dan tugasku mengobati pegawai ALC yang terluka. Tapi samaranku selalu sama menjadi dokter di gawat darurat. Sekarang katakan kepada ku, bagaimana aku bisa membunuh teman mu jika kemarin siang ada operasi gawat darurat dan aku baru pulang jam tujuh malam?”

Jinki, Kibum, Jonghyun, dan Taemin saling menatap.

“Aku tidak berbohong. Kau bisa mengeceknya sendiri.”

Jonghyun langsung mundur untuk mengeceknya.

“Ku harap kau tidak berbohong.” Ujar Kibum dingin.

Mereka terdiam hingga cukup lama. Sungkyung tiba-tiba berbicara, “Setelah ini usai aku akan melaporkan hal ini kepada atasan kalian.”
Jinki baru saja ingin menjawab tetapi Jonghyun sudah datang. Mendatangi mereka semua yang berada di ruang tamu. “Alibinya terbukti…”

Sungkyung kali ini tersenyum, “Kalau dipikir-pikir sekarang…. Aku bisa menjawab bagaiman aku bisa bersaudara perempuan dengan Choi Jinri. Ini hanya kemungkinan. Mungkin ayahnya Jinri mempunyai hubungan gelap dengan banyak wanita dan salah satu itu adalah perempuan yang melahirkan ku. Kemudian ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan perempuan itu menganggapku sebagai kesialan yang luar biasa dan membuangku di pantai asuhan. Bagaimana?”

Mereka tidak menjawab omongan Sungkyung. Kibum maju dan melepaskan ikatan tangan Sungkyung. Memotong tali dengan pisau lipatnya.

Sungkyung meringis akibat nyeri bekas ikatan. “Barang-barang ku sekarang!”

Taemin mengambil barang-barangnya. Memberikan jaket Sungkyung dan Sungkyung segera memakainya. Kemudian tasnya.

“Selamat tinggal.” Seru Sungkyung dingin. Sungkyung segera berbalik. Ingin mencari jalan keluarnya sendiri. Baru beberapa langkah, tangannya dicekal oleh Jinki yang membuat ia meringis.

“Kami hanya mencoba menyalamtkan teman kami. Tolong pertimbangkan lagi tentang Anda yang ingin melaporkan kami…”

Sungkyung mendekat ke arah Jinki, ia menatap Jinki tajam, “Kau seharusnya mempertimbangkan segala hal termasuk alibi ku sebelum menyertku ke sini!” Sungkyung segera menghentakan tangannya kasar. Berbalik dan menghilang dari apartment.

Mereka terdiam memandang kepergian Sungkyung. Apa sekarang mereka harus menyerah?

.

.

.

.

.

Tidak ada yang berubah sama sekali. Setidaknya selama beberapa jam terakhir. Walau dokter sudah mengatakan ia akan selamat, tapi dirinya masih merasa tidak yakin. Ia menghela nafas. Merasa pengap berada di ruang bawah tanah, tempat persembunyiannya. Untuk beberapa saat disana, beberapa waktu lalu, ia sangat yakin orang yang sedang tidur ini akan pergi meninggalkannya. “Bangunlah….” Ujarnya lirih.

Trek~

Pintu kamar terbuka. Seorang laki-laki berperawakan tinggi masuk. Ia tersenyum sedih melihat orang yang ia sayangi menatap nanar seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. “Jinri…” Katanya lirih kepada gadis yang terus menerus menatap laki-laki yang bernama Choi Minho. “Istirahtlah… Kau juga lelah bukan? Jika terjadi apa-apa aku akan merasa sangat bersalah.”

Jinri menggeleng, “Aku tidak bisa Chanyeol! Aku tidak bisa!”

Chanyeol menghela nafasnya. Ia tidak menyangka hasilnya bisa seperti ini. Sungkyung dua hari yang lalu meneleponnya. Mengatakan jika ia butuh bantuan Chanyeol untuk mengurusi orang yang menargetkan Jinri. Ini untuk pertama kalinya bagi Chanyeol. Setahu Chanyeol Sungkyung selalu melakukan hal ini sendiri. Chanyeol akhirnya setuju karena Jinri. Sedikit tidak menyangka ia menembak Jinri yang untungnya terkena di bahu. Chanyeol ingin menembak laki-laki itu tepat di jantung yang meleset ke lehernya. Intinya sama saja buruk, lelaki itu akan meninggal dengan cepat.

Setelah itu Chanyeol segera ke kamar Jinri dan menemukan Jinri sedang menyelamatkan laki-laki itu. Ia melihat untuk pertama kalinya Jinri menangis. Untuk pertama kalinya Jinri mengatakan ia mencintai laki-laki itu. Chanyeol pun luluh. Dia akhirnya menyelamatkan laki-laki itu juga. Demi Jinri, sahabatnya yang pernah membantu Chanyeol dimasa-masa sulit.

“Aku tidak pernah menyalahkan mu Chanyeol…” Jinri berkata lirih. “Kalian semua melakukan ini demi kebaikan ku.”

Chanyeol mendekat dan menggenggam tangan Jinri, “Terimakasih…. Tapi bisakah kau lakukan hal itu untuk ku? Beristirahat?” Chanyeol tersenyum kecil, “Aku ada ide! Bagaimana aku menyediakan kasur disini tapi kau harus tetap di kasur tersebut huh?”

Jinri mengangguk, “Terimakasih…”

“Tidak usah berterimakasih kepadaku…” Chanyeol berbalik. Tapi baru beberapa langkah Jinri kembali memanggilnya. Menanyakan kabar Oennie-nya, “Oennie mu tadi menelepon ku. Ia baik-baik saja. Tapi teman-teman Choi Minho tadi mendatanginya. Untungnya ia punya alibi di rumah sakit.” Setelah itu, Chanyeol meninggalkan ruangan untuk mengambil kasur untuk Jinri.

.

.

.

.

.

Jinri berteriak senang ketika Minho dengan perlahan membuka matanya. Ia baru saja membuka jendela. Membiarkan angin musim semi masuk. Tiga bulan sudah berlalu. Mereka, ia dan Minho tidak lagi berada di bassmen bangunan di Jerman. Tetapi sekarang sudah kembali ke Jindo. Teman-teman Jinri, Sehun, Kai, dan Chanyeol melindunginya saat ini. Memberikan mereka sebuah rumah kecil.

Keadaan juga masih terkontrol untuk saat ini. Terakhir Sungkyung menginformasikan bahwa nama Jinri tidak muncul lagi di perusahaannya. Sungkyung mengatakan jika ada rapat untuk menghilangkan nama Jinri dari target untuk selamanya. Ini dikarenakan Jinri selalu bisa kabur dan Jinri berhasil menghilangkan Choi Minho, yang notabane-nya agen terbaik mereka.

“Minho… Minho kau sadar…” Suara Jinri begitu senang. Airmata menetes tanpa ia sadari.

Perlahan, karena tenaganya yang belum pulih, Minho mengangkat tangannya dan menghapus air mata Jinri. Bibirnya terbuka. Hal itu membuat Jinri mendekatkan wajahnya. “Kau… Cantik dengan rambut pendek mu.”

Jinri tertawa riang. Ia memang memotong rambutnya sangat pendek bermodel bob yang ia cat bewarna strawberry blonde. Untuk menutupi jejaknya.

“Bibirku tidak pedas Choi Jinri…”

Jinri kembali tertawa riang dan dengan cepat mencium bibir Minho.

Ketika Jinri dan Minho sedang berciuman, Chanyeol dan Sungkyung yang baru masuk terperanjat melihat mereka.

“Aku bersumpah dia baru saja sadar.” Bisik Chanyeol ke Sungkyung.

Sungkyung diam menatap Jinri dan Minho datar.

Ehm… Ehm….” Kata Sungkyung ketika Jinri dan Minho melepas tautan bibir mereka.

Jinri menoleh ke Oennie-nya, “Oh, Oennie…

Minho menoleh dengan perlahan, “Oennie?”

Sungkyung belum menjawab. Tetapi Chanyeol berjalan mendekati mereka. Menuju jendela kemudian menutupnya. Tak lupa juga gorden.

“Ada apa ini?” Minho menatap Chanyeol dan Sungkyung was-was. Ia butuh beberapa saat untuk mengenali Park Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa. Ini Oennie-ku…” Jinri tersenyum ke arah Minho. Mengenalkan Minho ke Sungkyung yang masih berdiri tak bergeming. Melihat respon Oennie-nya yang masih tidak mempercayai Minho, Jinri memutuskan untuk mengenalkan Minho ke Chanyeol, “Ini sahabatku, Park Chanyeol.”

Chanyeol mengangkat tangan kanannya, “Aku laki-laki yang menembakan peluru ke leher mu.”

Jinri menatap panik kedua orang yang belum menyambut Minho dengan baik.

“Aku mengenal mu Park Chanyeol.” Minho berkata lirih. Masih belum mempunyai tenaga.

“Jinri, kurasa… Kurasa Choi Minho membutuhkan minuman. Bagaimana kau mengambilkannya?” Sungkyung berkata tanpa melihat Jinri. Tatapannya lurus ke Minho.

“Oh….” Jinri ragu meninggalkan Minho kepada Oennie-nya. Bukan karena ia tidak percaya kepada Oennie-nya. Tapi dia takut bagaimana respon Minho nantinya.

“Tidak apa-apa…” Ujar Minho kepada Jinri. Minho dapat menangkap keraguan Jinri. Dia akhirnya berkata seperti itu. Pemikiran dasarnya? Jika orang-orang dekat Jinri ingin ia mati, ia pasti sudah mati dari lama.

Jinri kemudian tersenyum ke Minho, “Baiklah. Aku juga akan membawa makanan. Kau pasti lapar bukan?”

Ketika Jinri melangkah keluar. Chanyeol yang merasa di tatap tajam oleh Sungkyung mengerti ia juga harus keluar. Dengan tenang ia merangkul Jinri dan berkata, “Krystal mengirimkan mu cupcake. Dia berkata jika Olivia senang membuat cupcake akhir-akhir ini.”

“Benarkah?” Setelah itu percakapan mereka tidak terdengar lagi. Mereka sudah keluar dari kamar.

Sungkyung sedikit tersenyum ketika melihat Minho yang mendelik tajam ke Chanyeol dan Jinri. Ia benar-benar mencintai adik ku…
“Choi Minho…” Suara Sungkyung memanggil Minho. “Apakah kau benar-benar mencintai adik ku?”

Minho mengangguk mantap. “Ya.” Katanya untuk tambah meyakinkan Sungkyung.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Minho berpikir sejenak, “Aku akan keluar dari dunia ku agar bisa bersamanya. Aku ingin bersamanya…. Meski itu berarti aku kehilangan dunia ku.”

Mata Sungkyung membesar mendengar jawaban lugas Minho. Ia menganggukan kepalanya, “Kau tidak perlu keluar dari dunia mu. Perusahaan sudah menganggap mu mati. Kau tinggal membuat identitas baru saja.”

“Maksudmu?”

“Aku bekerja di perusahaan mu Minho. Aku menjaga Jinri adik ku dari ALC langsung. Aku memantau namamu dan Jinri. Untukmu, kau sudah aman.”

“Jadi selama ini percobaan pembunuhan Jinri gagal karena dirimu?”

“Ya!”

“Dan kau tidak pernah tertangkap sekalipun?”
Sungkyung menghembuskan nafasnya, “Sekali. Oleh teman mu. Mereka memeriksa darah Jinri dan menemukan kecocokan DNA dengan ku. Mereka menyeretku dan menanyakan dirimu kepada ku.”

“Kau memberi tahu mereka?”

Sungkyung menggeleng, “Tentu tidak. Pertama, itu karena aku sudah berjanji dengan Jinri untuk merahasiakan mu. Kedua, aku berpikir jika mereka mengetahuinya itu bahaya bagi mereka.”

“Apa yang terjadi pada mereka?”

“Aku melaporkan mereka. Mereka mendapat hukuman tapi mereka tetap menjadi agent. Mereka sekarang berpencar.”

“Berpencar? Apakah kau mencari mereka dimana?”

“Apakah aku pembantu mu?”

Minho terdiam mendengar jawaban dingin Sungkyung.

Sungkyung sendiri merasa perkataannya terlalu kasar. Ia menghela nafasnya, “Buat adik ku bahagia. Okay?”

Minho menganggukan kepalanya mantap, “Kau bisa memegang kata-kataku.”

.

.

.

.

.

~ 4 years later ~

Jinki merasa tubuhnya sangat lelah. Ia memasuki apartment yang telah ia tempati selama 4 tahun ini dengan mengusap-ngusap tenguknya. Begitu memasuki, ia merasa sedikit aneh karena ada paket yang tergeletak di meja ruang tamunya. Jinki mengeluarkan pistolnya dan mulai mengecek setiap sudut apartment-nya.

Aneh. Tidak ada seorang pun. Ia menghampiri paket yang merupakan amplop besar. Duduk di bangku sambil memperhatikan amplop tersebut. Terdapat tulisan di amplop tersebut, Untuk Charles Cho. Tangan Jinki bergetar. Tidak mungkin.

Ia segera menyobek amplop tersebut dan mendapati sebuah handphone layar sentuh. Jinki menghidupkan handphone-nya.Tidak ada apa-apa di handphone-nya. Hanya satu aplikasi dan itu merupakan video call. Jinki membuka aplikasi video call dan mendapati hanya ada satu nomor. Jinki menekan nomor tersebut.

“Anyeong hyung….”

Jinki tidak menyangka siapa yang ia lihat sekarang, “Minho…” Suara tercekat. “Itukah dirimu?”

Minho menganggukan kepalanya, “Ini aku.

“Kau selamat! Astaga! Bagaimana bisa?”

Isteri ku yang menyelamatkan ku…”

“Isteri mu?”

Choi Jinri hyung…”
Jinki terkekeh kecil.
Aku tidak bercanda hyung…”

“Aku tahu kau tidak bercanda. Aku hanya tidak menyangka. Hidup ini penuh misteri bukan?” Jinki kembali berbicara, “Jadi Minho, bagaimana bisa kau menyeludupkan amplop ini ke dalam apartment ku?”

Itu dulu apartment ku juga. Aku masih mempunyai kuncinya. Tapi aku meminta bantuan Sungkyung untuk menaruhnya di apartment mu.”

“Sungkyung… Lee Sungkyung?”

Minho mengangguk mantap, “Dia benar-benar saudara perempuan Jinri. Dan semua pemikiran mu terhadapnya benar.

“Jadi dia berbohong ketika menceritakan kemungkinan ia dapat bersaudara dengan Jinri?”

Minho terkekeh kecil dan mengangguk, “Dia berasal dari orangtua yang sama dengan Jinri.” Minho kemudian berkata, “Hyung ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Apakah kau tidak pernah pergi dari kota ini karena menunggu ku pulang? Aku meminta bantuan Sungkyung untuk mengkabari ku tentang kalian.

“Aku tahu setelah aku menghilang kalian tidak lagi menjadi satu tim. Aku tahu kau sudah diminta pindah beberapa kali tapi selalu menolaknya.Apakah karena diriku? Kau menunggu diriku? Apakah karena kau merasa bersalah kepada ku akibat memaksaku menutaskan kasus Jinri dengan segera?

Jinki menatap Minho lembut, “Aku tidak bisa menerima jika aku meninggalkan kota ini.”

Kau melakukan yang bisa kau lakukan. Kata-kata mu waktu itu adalah hal yang benar. Hanya saja hal-hal terjadi tidak sesuai dengan perkiraan. Hidup ini penuh misteri bukan? Jangan terlalu keras kepada dirimu.

Jinki tersenyum, “Setelah menikah kau jadi sangat bijak kau tahu itu?”

“Bisakah hyung keluar dari balkon? Kau bisa melihat ku duduk di café depan apartment yang aku sendiri tidak tahu kapan ini berdiri. Banyak yang berubah dari kota ini dan aku sekarang menganggap kota ini sebenarnya indah.”

Jinki melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia tersenyum lebar ketika benar-benar melihat Minho. “Minho!”

Minho tersenyum dan melambaikan tangannya. Jinri juga berada di situ dan ikut menoleh ke arah Jinki. Sambil menggendong bayi, ia tersenyum ke Jinki. Ditengah-tengah Minho dan Jinri terdapat batita yang asyik memakan buburnya.

Hyung… Aku sudah bahagia dengan dunia ku. Bahagialah sekarang….”

.THE END.

A/N:

  • Cerita ini dibuat sebelum tanggal 18/12. Ketika tanggal itu saya sedikit ragu untuk memakai Kim Jonghyun sebagai cast. Tapi setelah saya pikir-pikir, rasanya akan aneh melihat dalam satu tim hanya terdiri dari 4 orang sehingga saya tidak menghilangkan cast Kim Jonghyun. Maaf jika ada yang tersinggung dengan ada cast Kim Jonghyun di cerita ini……
  • Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

State of Grace (Chapter 29)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun dan Krystal sampai di tempat makan siang pukul satu siang. Sehun tidak dapat melupakan bagaimana senyuman hangat Seohyun-ibu Krystal- ketika menyapanya dan menerima dari hadiahnya. Begitupula dengan tingkah laku ayah Krystal –Kyuhyun- yang seakan ingin membunuh Sehun karena berani dekat-dekat dengan anaknya. Kyuhyun bahkan tidak mengeluarkan kalimat dengan SPOK yang lengkap sedari tadi. Kyuhyun hanya mengunggam tidak jelas yang membuat Seohyun mendelik tajam. Krystal tersenyum, tetapi matanya menunjukan kekhawatiran yang akhirnya membuat Sehun harus berakting santai. Kalau dia ketakutan, Krystal pasti juga bertambah khawatir.

Kyuhyun menatap Sehun tajam. Entah mengapa, posisi duduk mereka membuat Sehun bertambah kikuk. Seohyun dan Kyuhyun duduk berhadapan dengan Sehun dan Krystal. Dimana Seohyun dan Krystal saling menghadap. Sehun harus menghadap Kyuhyun.

“Ku harap kau tidak pernah mencampakan anak perempuan ku.”

Omongan Kyuhyun yang sangat tiba-tiba membuat semua orang yang berada di meja makan terbatuk dengan keras. Seohyun sudah menatap Kyuhyun dengan tatapan buas. Krystal menundukan pandangannya dan merutuk dalam hati. Sehun buru-buru minum.

Kyuhyun kembali berkata, “Aku hanya mengatakannya sekali jadi gunakan kesempatan itu baik-baik. Aku akan mendatangimu jika kau macam-macam.”

Sehun mengangguk kaku. Krystal disampingnya tiba-tiba tertawa geli begitupula dengan Seohyun.

“Itu artinya ia menyetujui mu dengan Krystal.” Seru Seohyun dengan nada geli di dalamnya. Kyuhyun menatapnya tajam tapi Seohyun hanya menatap Kyuhyun geli.

“Jadi, ceritakan tentang pertemuan pertama kalian. Dimana kalian bertemu?” Seohyun kembali berkata. Tapi kali ini suasana tiba-tiba terasa berbeda. Tidak sekaku tadi.

Krystal mulai menceritakan dan kali ini Sehun juga lebih leluasa berbicara. Mereka juga tertawa bersama-sama. Saat makanan sudah mulai habis, Kyuhyun kembali berbicara.

“Karena dirimu sudah memilih mug yang indah untuk istri ku, maukah kau menemaniku untuk memilih mug di restaurant ini? Mug ini untuk bos ku.”

Sehun tentu tidak dapat menolaknya. Ia akhirnya mengangguk dan pergi bersama Kyuhyun ke sudut lain restaurant. Restaurant tempat mereka makan siang ini juga menjual pernak-pernik khas Busan. Sepertinya Kyuhyun belum selesai mengetesnya.

“Jadi…” Mata Kyuhyun menyapu barisan mug, “Aku sebenarnya masih ragu. Mug apa yang cocok?”

Sehun mulai memandangi mug-mug, “Bagaimana kebiasaan bos Anda?” Sehun berhenti dan menggaruk tenguknya. Ini terlalu kaku. “Maksud say—“

“Panggil saja Kyuhyun-ssi. Kau seperti menjelaskan sesuatu kepada klien.” Potong Kyuhyun.

“Bagaiana kebiasaan bos Anda, Kyuhyun-ssi? Atau warna kesukaannya? Atau bisa juga dengan minuman kesukaannya seperti kopi dan teh.”

Kyuhyun tertawa mendengar penjalasan Sehun, “Kau terlalu logis dan Krystal terlalu imajinatif.” Ia menunjuk sebuah mug bermotif tomat. Cukup aneh menurut Sehun. “Ini mug yang cocok untuk bos ku.” Setelah itu Kyuhyun menghela nafasnya keras-keras, “Dengar… Aku adalah orang yang tidak pandai berbasa-basi. Aku dan isteriku bagaikan langit dan bumi sebenarnya. Isteriku sangat ramah sedangkan aku berbicara saat diperlukan saja. Krystal adalah orang yang imajinatif. Sangat imajinatif. Jika orang imajinatif akan menuangkan ke dalam tulisan atau lagu, Krystal menuangkannya kedalam lukisannya. Ia sangat imajinatif sampai terkadang hal-hal yang ia lakukan sangat tidak masuk akal. Ketika pacarnya mencampakannya, ketika itu juga ia memutuskan ke Seoul, itu adalah pertama kalinya ia melakukan hal-hal gila dihadapan ku. Aku tahu ia terluka. Tolong jaga dia. Dia memang terlihat tegar dari luar tapi ia gadis yang sangat rapuh. Aku harap kau bisa menjangkau bagian rapuhnya.”

Sehun terdiam mendengarkan perkataan Kyuhyun. “Aku…”

“Dia percaya padamu. Aku bisa melihatnya.”

Tepat setelah Kyuhyun berkata seperti itu, hp Sehun berbunyi. Sehun mengeluarkannya dan menahan nafasnya sebentar.

“Sepertinya kau harus menjawab teleponnya. Aku akan membayar mug ini.”  Kyuhyun mengambil mug yang tadi ia tunjuk dan pergi ke kasir. Sehun kembali melihat hp-nya yang belum berhenti bergetar. Dengan gusar, ia mengangkatnya.

“Jadi katakan kepada ayah mu Sehun. Kau menolak makan siang dengan ayah mu sedangkan dirimu menghabiskan waktu memilih mug dengan Cho Kyuhyun.”

Mendengar perkataan ayahnya, sontak saja Sehun memperhatikan sekitar. “Apa?”

Dad sedang di kamar mandi. Aku tidak sengaja berpapasan dengan mu. Bahkan kau tidak sadar ketika Dad melewati mu. Jangan bilang Cho Kyuhyun adalah klien-mu Oh Sehun.”

Sehun mendesis kesal, “Dari mana Dad tahu Cho Kyuhyun? Ngomong-ngomong dia bukan klien ku.”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, “Ya, aku tahu. Jadi Cho Kyuhyun benar-benar ayah angkat Krystal ya? Ini pasti menarik.”

“Jangan macam-macam kepada Krystal!”

“Ada yang harus kita bicarakan Oh Sehun! Sekarang juga ke kamar mandi! Atau aku akan muncul di depan Cho Kyuhyun langsung. Percayalah, hubungan mu dan Kyuhyun pasti akan menjadi sangat buruk!”

Sehun langsung memutuskan sambungan telepon. Sehun menghela nafasnya dan sedikit memijit pelipisnya. Akhirnya, Sehun permisi sebentar ke toilet kepada Cho Kyuhyun. Semoga saja Kyuhyun tidak mencium hal-hal aneh.

“Ada apa?” Tanya Sehun langsung kepada Siwon yang sedang asyik bercermin.

“Kau baru saja melewati kesempatan emas mu kau tahu? Makan siang ini dengan kolega ku. Jika kau ikut kupastikan kau akan langsung ditunjuk ke perusahaan besar. Bukan firma biasa tempat mu bekerja.”

Sehun menatap Siwon datar. Untuknya? Sehun tidak yakin akan hal itu. Ini pasti berkaitan juga dengan image Ayahnya yang terkenal dengan sayang keluarga. “Aku tidak membutuhkan namamu untuk bekerja. Aku akan berusaha sendiri.” Ujar Sehun datar.

Siwon menatap Sehun tajam, “Namaku terlalu terkenal Sehun. Itu bukan hanya bisa memberi mu akses pekerjaan tapi juga dipecat.” Siwon sekarang menghadap ke Sehun, “Klien ku mengundang keluarga kita untuk makan malam. Tentu aku tidak bisa menolaknya bukan? Jadi kosongkan waktu mu sabtu depan dan jangan coba-coba untuk kabur.”

“Atau?”

“Ibu mu pasti senang mengetahui kedua orantua Krystal bukan?”
Siwon kali ini tersenyum dan Sehun menahan amarahnya.

Siwon menepuk pundak anaknya, “Kau tahu, aku sangat membenci Kyuhyun karena ia berhasil membuat kepalaku pusing dan juga membuat klien ku selalu marah-marah kepada ku. Tapi dia ada untungnya juga rupanya.” Setelah itu Siwon langsung pergi.

Sehun menghela nafasnya. Ia membuka keran wastafel dan mencuci mukanya.

.

.

.

.

.

Balik lagi ke Seohyun dan Krystal. Seohyun menatap Kyuhyun dan Sehun pergi sebelum melihat Krystal, “Kau tahu Appa mu sangat bisa diandalkan?”

Krystal menatap Seohyun bingung.

Appa dan Oemma langsung kesini karena ada hal penting yang harus kita bicarakan. “ Seohyun menarik nafasnya dan entah mengapa Krystal langsung khawatir. “Oemma mu, Oemma kandung mu menelepon Appa dan Oemma. Ia mengatakan ingin bertemu dengan mu.”

Krystal menatap Seohyun panik. “Apakah…”

Seohyun mengenggam tangan Krystal, “Tentu saja kami tidak mengizinkannya. Kami tahu ini sangat berat bagi mu. Kami menyerahkan keputusan kepada mu. Apapun keputusan mu kami akan mendukungnya.”
“Bagaimana bisa? Apakah ia menceritakan kenapa ia meninggalkan ku?”

Seohyun menatap ragu. Ia mengangguk. “Dia menceritakan semuanya. Appa mu marah-marah kepadanya dan benar-benar menyalahkannya. Tapi ia juga benar-benar berusaha untuk berhubungan dengannmu. Mendengar alasannya… Aku… Sedikit mengerti maksudnya.”

Krystal menundukan kepalanya dan tiba-tiba ia tersenyum, “Apapun itu dia tidak seharusnya membuang ku. Aku tidak ingin bertemu dengannya.”

Seohyun menganggukan kepalanya, “Jika ia menelepon lagi kami tidak akan menganggkatnya.”

“Jadi…” Kyuhyun balik dengan membawa satu kantung belanja. Ia kembali duduk di sebelah Seohyun dan mengeluarkan mug pilihannya, “Aku bagus dalam memilih bukan?”

Setelah tidak mengeluarkan tatapan mautnya, Soehyun menatap tajam Kyuhyun, “Tomat? Apakah kau yakin akan memberikannya kepada bos mu?”

“Dia tidak akan marah. Appa mu ini sangat jenius Krystal Jung. Dia pasti akan bersabar melihat segala tindakan ku. Apalagi setelah aku menyelamatkan perusahaannya.”

Krystal hanya menggelengkan kepalanya. Seohyun hanya menghela nafas. Sabar…..

“Jadi dimana Sehun?”

Kyuhyun mentap istrinya, “Oh, anak itu? Dia tadi permisi ke kamar mandi. Dia lama sekali… Kurasa ia terlalu gugup hingga sakit perut.”

Seohyun dan Krystal tertawa mendengarnya. “Sehun terlihat tenang tadi. Tidak mungkin…” Elak Seohyun sambil tertawa. “Oh itu Sehun!” Seru Seohyun dan tersenyum hangat ke Sehun.

Sehun membalas senyuman Seohyun. Ia kemudian menatap Krystal sebentar sebelum melihat kedua orang di depannya. Krystal terdiam sebentar. Entahlah… Tapi ada yang aneh dengan Sehun.

.

.

.

.

.

Sehun dan Krystal pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di Busan sehari lagi. Mereka menghabiskan waktu terlalu lama dengan Kyuhyun dan Seohyun. Acara makan siang baru selesai pada pukul lima sore. Sehun mengatakan jika mereka pulang ke Seoul sekarang akan sampai di sana larut sekali, sekitar pukul 10 malam. Dia tidak mau itu. Sehun beralasan jika sampai di Seoul ia tidak punya alasan untuk tidak bekerja. Tetapi jika masih di Busan, ia memilikinya.

Itu adalah alasan yang Sehun berikan kepada Krystal. Alasan Sehun sendiri adalah ia ingin menghabiskan waktu bersama Krystal lebih lama. Hehehe….

“Jadi kamarnya dua tempat tidur bukan?” Tanya Krystal sambil mengeluarkan koper mereka dari mobil.

“Tidak.”

Jawaban pendek Sehun membuat Krystal menatap Sehun, “Heh, mesum, kita baru melakukannya semalam!”

Sehun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Kau yang mesum! Aku tidak ada maksud apa-apa malam ini. Aku terlalu lelah. Sebenarnya, aku tidak memilih yang ada dua tempat tidurnya karena pemandangannya jelek.”

“Alasan! Kau sendiri yang berkata kau terlalu lelah. Untuk apa melihat pemandangan?”

Krystal meringis ketika Sehun menekan hidungnya. “Sudah jangan cerewet. Ayo kita masuk hotelnya.” Sehun membawa kopernya dan tidak lupa mengandeng tangan Krystal.

Krystal sedikit meneguk ludahnya ketika ia memasuki hotel dimana mereka akan menginap. “Kau yakin kita akan menginap disini?” Tanyanya karena hotel yang mereka masuki terlihat sangat mahal.

Sehun menatap Krystal, ia tersenyum lembut, “Aku tahu apa yang kau takutkan…”

“Bagus kalau begitu!”

“Aku membawa uang kok!”

Sekarang gantian Sehun yang meringis akibat dicubit pinggangnya oleh Krystal. “Aku rasa ini terlalu berlebihan untuk ku.” Krystal berkata dengan suara pelan.

“Nama mu Krystal. Krystal adalah benda yang mahal. Ini tidak berlebihan untuk mu…”

Krystal menghela nafasnya, “Selain banyak alasan kau juga banyak menggombal!”

“Permisi…” Krystal dan Sehun sontak saja menoleh ke sumber suara. “Ada yang bisa saya bantu?”

Krystal dan Sehun terdiam sejenak sebelum mereka mengerti jika sedari tadi mereka sibuk berdebat hingga salah satu pegawai hotel datang.

“Oh, kami ingin menginap di sini.” Seru Sehun kepada pegawai itu.

Pegawai hotel tersenyum, “Baiklah, apakah Anda sudah memesan kamar?”

Sehun menggelengkan kepalanya, “Belum. Bisakah Anda memberikan kamar dengan pemandangan terbaik?”

Pegawai hotel menganggukan kepalanya. “Tunggu sebentar.”

Sehun tersenyum kepada Krystal dan menarik tangan Krystal mengikuti pegawai hotel.

“Untuk beberapa hari?” Tanya pegawai hotel dengan mata fokus ke komputer.

“Untuk satu malam saja.” Jawab Sehun. Krystal terdiam memperhatikan design hotel.

Tak berapa lama kemudian pegawai memberikan kunci kamarnya, “Ini kuncinya. Di lantai 12 kamar 124.”

“Terimakasih.” Ujar Sehun. “Hey!” Panggil Sehun kepada Krystal yang masih asyik memperhatikan design.
“Oh, sudah selesai?”

Ketika perjalanan mereka menuju kamar diisi oleh perdebatan. Lagi-lagi, Krystal dan Sehun berdebat tentang kegiatan mereka nanti pagi. Sehun ingin mengajak Krystal makan di sebuah café dekat pantai. Krystal ingin makan saja di hotel karena mereka telah diberi voucher.

“Ayolah… Kapan lagi kita kesana?”

“Tapi voucher-nya Sehun!” Krystal menatap Sehun dengan tatapan sedikit kesal.

“Bagaimana jika kita makan pagi di hotel kemudian makan pagi lagi di café tersebut?”

Krystal baru saja memprotes ketika suara yang begitu familiar terdengar padanya. Suara yang bertahun-tahun berusaha ia lupakan. Krystal mencengkram tangan Sehun.

“Tidak… Tidak… Bukan itu maksud ku….” Suara lembut itu tetap sama.

Krystal sedikit terkesiap melihat orang di depannya.

Ia menelan ludahnya. Rambut wanita di depannya lebih panjang daripada yang terakhir kali ia lihat. Ia memakai coat bewarna cokelat muda. Hampir sama seperti yang Krystal gunakan. Wanita yang sibuk menelepon melirik Krystal sebentar dan ikut terdiam.
“Nanti akan kutelepon lagi.” Kata wanita itu dan segera mematikan teleponnya.

Sehun memandang Krystal bingung. Ia ragu untuk bertindak. Ia melihat wanita di depannya dengan tatapan bingung dan menyadari sesuatu. Perempuan di depannya mirip dengan Krystal.

“Soojung…” Lirih wanita di depannya. “Soojung, kau masih ingat Oemma?”

Oemma? Jangan-jangan….

.TBC.

Hey…. Aku balik lagi…. Aku tahu aku punya janji ke kalian yang lagi-lagi gak aku tepati. Aku minta maaf untuk itu. Awalnya aku mau double update tanggal 18 tapi gak jadi karena ada kabar duka….. Malam itu aku langsung blank terus deg-degan, gak nyangka sama apa yang terjadi. Aku tahu itu pas mau maghrib, beritanya baru aja keluar. Tahunya dari ig. Awalnya sih aku mau buka ig untuk ngeliat ig Sunan Kalijaga (setelah group teman-teman aku rame Taqy-Alma cerai), nyesel banget sih ngebuka ig saat itu… Tapi kalau dipikir-pikir pastinya aku juga akhirnya tahu. Dan aku akan lebih nyesel kalau tahunya belakangan. Langsung merinding karena aku lagi ngejer deadline ff Minsul yang ada member Shinee termasuk dia. Aku ngebayangi mereka sebagai tim yang solid di ff itu. Aku juga bahagia sih soalnyakan Shinee mau comeback berlima untuk tour Jepang.

Shinee itu punya dampak besar dihidup aku… Karena merekalah aku masuk ke dunia k-pop. Bias aku di Shinee itu Minho karena ia ganteng (sederhana banget alasannya) dan senyumannya menawan. Tapi aku jatuh cinta sama lagu Shinee karena suara serak Jonghyun yang menurut aku gak tergantikan dan buat aku dengerin lagu Shinee sepanjang hari. Kalau Shinee gak ngeyakinin aku saat itu, aku gak akan dengerin SNSD’s Gee, Super Junior’s Super Girl, f(x)’s Electric Shock (I’m so SM biased since the beginning TBH…).

Aku ngerasa bersalah gak tahu gimana penderitaan dia. Tahun 2017 aku gak terlalu ngikutin kpop. Fokus ke kelas 12 dan teman-teman aku juga gak ada yang kpopers bangetlah… Mereka pada lagu barat semua. Tahunya lagu kpop tahun 2011 aja…. Aku berpikir, kalau aku ngikutin dia, benar-benar ngikutin dia, aku tahu ada yang salah sama dia dan aku gak akan se-syok ini.

He IS a very talented musician, tapi dia ngerasa gak memenuhi ekspektasi dia. Dan itu membuat aku mengingat gimana aku mau mulai nerbitin tulisan aku secara online… Ada yang baca gak ya? Ada yang suka gak ya? Pada awal-awal aku masuk wattpad juga begitu… Dan aku memang belum merasa puas sama tulisan aku… Tapi karena dia, aku jadi mengubah persepsi aku. Mungkin yang aku ekspektasikan gak pernah terwujud karena itulah diriku, manusia yang penuh kekurangan. Yang bisa aku lakukan adalah menghargai apa yang aku punya, apa yang sudah menjadi diri ku. Aku berkata dalam hati, ketika ia sekarang udah gak ada, dia masih ngebuat aku ngerasa lebih baik. Hal itu yang membuat aku melepaskannya.,,

Dia orang yang benar-benar baik dan semua orang terpukul dengan kepergiannya. Uri Yerim yang pasti sangat terpukul karena kehilangan orang yang ada disampingnya dari H-1 ia debut. Uri Taeyeon yang kehilangan orang yang benar-benar mengerti dia Uri Soojung yang kehilangan sosok oppa, orang yang berhasil menyentuh bagian rapuhnya. Uri member Shinee yang kehilangan sahabat bahkan saudara seperjuangan dari masa nol hingga sekarang dan pastinya mereka gak ada yang nyangka. TBH, siapa yang nyangka sih?

You doing well Kim Jonghyun…

Oh, dan maaf kalau aku curhat panjang banget 🙂 Hehehe… Makasih loh yang udah baca ini…

In The Snow (Chapter 2/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 2

When the temperature goes up, the snow is gone but i hope you’re not gone.

.

.

.

Apa yang Minho pikirkan pertama kali ketika melihat tulisan Choi Jinri? Dia merasa tidak bernafas. Tercekat. Seluruh udara seketika menghilang dan dia terpaku sejenak. Minho melirik foto targetnya dan informasi targetnya. Baru tiga baris, Minho langsung menutupnya. Ia tidak sanggup. Itu benar-benar Choi Jinri.

Choi Jinri si gadis aneh. Choi Jinri gadis yang tak takut keluar ketika mabuk. Choi Jinri yang mencium bibirnya. Choi Jinri yang menghabiskan waktu bersamanya kemarin malam. Minho meletakan file ke atas meja. Dia terdiam. Red tag, huh?

Red tag dimana ia bisa kabur sebanyak lima kali dan semua yang ingin membunuhnyalah yang mati. Red tag…

Tapi Jinri tidak seperti itu. Dia gadis yang ceroboh. Dia gadis yang aneh. Dia tidak terlihat seperti Minho yang kejam tak berperasaan. Dia gadis yang mempunyai mata polos dengan matanyalah Minho tertarik kepadanya. Dia… Dia berhasil membuat Choi Minho jatuh cinta kepadanya.

Minho menggigit bibirnya. Menatap papan tulisnya yang kosong. Sial!

.

.

.

.

.

Mentari mulai bisa dirasakan. Sinarnya tidak terlalu terang. Suhu dingin juga masih mendominasi. Tetapi sinarnya membuat tumpukan salju mulai meleleh. Burung berkicau sudah mulai terdengar. Minho menyesap kopi hitamnya perlahan. Kembali terdiam.

Sudah hampir empat minggu ia pergi menjauh untuk sementara. Dia tidak bisa menerima yang terjadi saat ini. Hal menakjubkan adalah tidak ada teman satu timnya yang mengetahui hal ini. Hal dimana ia pergi menjauh. Teman-temannya berpikir dia sedang asyik mengintai. Padahal ia sedang menghabiskan waktu di tempat yang jauhnya dua jam dari kota suram itu.

“Ingin menambah kopi lagi?”

Minho tertegun mendengar suara laki-laki di belakangnya.

“Minho…” Jinki kemudian duduk di depan Minho. Tersenyum lembut dan mulai menyesap kopi.

Hyung…” Minho masih bingung kenapa Jinki bisa ada disini. “Kau disini karena kasus baru?” Tanyanya berusaha santai.

Jinki tersenyum, “Aku kesini karena dirimu.”

Minho tertawa kecil, “Aku baik-baik saja. Sedang asyik mengintai.” Bohongnya. Tidak ada yang perlu mengetahui masalah ini. Tidak ada. Dia pasti tidak akan selamat jika ada yang mengetahui masalah ini.

“Benarkah?” Jinki menurunkan senyumannya. “Jadi dimana targetmu?”

Minho kali ini tidak bisa menjawabnya. Ia menyeruput kopi yang tidak hangat lagi.

“Aku datang kesini karena bos menanyakan kepadaku tentang dirimu. Dia ingin kabar kasus terbaru dari mu.”

Minho menghela nafasnya, “Hanya itu?”

“Choi Minho!” Suara Jinki mulai berubah menjadi serius. “Target mu… Aku membaca file nya dan sedikit mengikutinya.”

Kali ini Minho menatap Jinki, “Mengikutinya?”

“Dia tidak tinggal terlalu jauh dari mini market apartment kita. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit di kota kita.   Dia tidak terlihat bahaya. Tapi aku mulai berpikir kenapa hal itu membuat mu…. Menjauh… Kemudian aku menyelidiki dari mini market dan berhasil mendapatkana informasi dari José. Kau tahu José bukan? Si Penjaga mini market? Dia mengatakan jika target mu dan dirimu mengobrol jauh sebelum dia menjadi target mu. Sebuah pemikiran masuk. Apakah dia yang bersama mu ketika malam tahun baru?”

Minho memejamkan matanya mendengar penjelasan Jinki yang sangat cerdik. Jinki mendesis, “Sial Minho! Jangan katakan aku benar!” Nada suaranya semakin serius.

“Itu benar!”

Jinki menghela nafasnya, “Sial! Aku terkadang benci dengan pemikiranku!”
“Aku butuh menjauh sedikit. Ini gila hyung! Aku bukan hanya tidur dengannya! Aku mengobrol dengannya beberapa kali dan dia—“

“Aku tahu!” Potong Jinki. “Kau memang bisa dikatakan brengsek karena tidur dengan setiap wanita dari kota yang kita singgahi. Tapi aku tahu kau menganggap wanita yang kau tiduri tidak bahaya. Kau berhati-hati dengan itu. Tapi target kita sudah berhasil kabur sebanyak lima kali!”
Minho mengusap mukanya kasar, “Maksudmu ia sengaja mendekati ku karena tahu aku yang akan membunuhnya?”

“Bukan! Bukan itu maksud ku! Target ke kita terpilih secara acak. Satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuhnya adalah ketika file nya dikeluarkan. Dia tidak mungkin tahu siapa yang akan membunuhnya. Intinya adalah, dia sudah melakukan ini sejak lama dan dia terbiasa menyamar sebagai orang biasa. Dimatamu mungkin dia aneh atau ceroboh atau bodoh. Tapi itu tidak menunjukan dia tidak tahu dia akan dibunuh. Dia pasti tahu. Entah bagaimana caranya.”

Minho menggeram kesal.

“Minho…” Jinki kali ini memanggil Minho lembut, “Kau sudah membaca file sampai tuntas?”

Minho menggeleng, “Aku tidak bisa.”

“Bacalah kumohon… Bacalah sampai tuntas. Kau harus menghadapi ini.”

Hyung aku—“

“Yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri adalah dirimu.” Jinki kembali memotong. “Aku tidak bisa. Tidak ada yang bisa dan kau tahu itu!” Jinki menyeruput kopinya yang sudah dingin, “Aku akan berbohong kepada bos untuk kali ini. Mengatakan jika kau sedang menyamar dan aku sudah mengirimkan pesan untuk mu agar menghubunginya. Paling lambat besok kau akan menghubungi bos. Itu artinya kau harus kembali ke apartment paling lambat besok. Ku harap ketika kau kembali kau juga sudah siap untuk membunuh gadis itu. Jika tidak… Aku akan lepas tangan dari masalah ini.”

Minho terdiam mendengar penjelasan Jinki.

“Aku balik. Berpikirlah dengan jernih Minho!” Ia bangkit dari kursi dan menepuk pundak Minho pelan.
Tak lama setelah kepergian Jinki, Minho memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Berjalan keluar dari restaurant di hotelnya dan menuju lantai tiga. Masuk kekamar 329. Mengambil file yang terletak di tasnya.

Minho memejamkan mata sejenak sebelum mulai membacanya.

Choi Jinri. Jenis Kelamin: Perempuan. Umur: 24 tahun. DOB: Busan, 29 Maret. Lulusan ilmu keperawatan Universitas Sungkyunkwan 2 tahun lalu. Lahir di Busan dan menghabiskan waktu disana sampai berumur 3 tahun, ia dan keluarganya pindah ke kota kecil bernama Jindo dan bekerja sama dengan keluarga mafia lainnya, Keluarga Oh, Keluarga Kim, Keluarga Park, dan Keluarga Tuan. Ia tinggal disana hingga berumur 15 tahun, yaitu saat Choi Enterprise, perusahaan keluarganya bangkrut akibat Skema Ponzi. Ayahnya, Choi Jinsil meninggal di penjara karena dibunuh. Ibunya, Shim Haemin bunuh diri. Keempat anaknya termasuk Jinri melarikan diri. Dua telah berhasil dibunuh sisa dua lagi yang kabur, dimana satu anak sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Jinri selama ini berhasil kabur entah bagaimana caranya. Semua orang yang menyelidikinya hilang. Semua orang yang bertugas membunuhnya malah berakhir dibunuh. Kemungkinan terbesar sampai sekarang ia berhasil selamat sampai saat ini karena dibantu oleh keluarga mafia lain.

Minho menghela nafasnya ketika selesai membaca halaman pertama dari file Jinri. Perkataan Jinki berputar di benaknya, Jinri sudah lama berada hidup dengan menyamar.

Minho membuka halaman kedua.

Nama lainnya: Koo Hyunah, Cho JungAh, Yoo Hain, Bae Yunmi. Dia berhasil lulus dari Universitas Sungkyunkwan dengan nama Park Anna dan 2 tahun belakangan ini dia memakai nama lahirnya kembali, Choi Jinri. Dia merupakan sahabat dari Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol. Juga sempat mempunyai hubungan dengan Nam Joo Hyuk untuk waktu yang lama. Dari umurnya 14 tahun hinggal 20 tahun.

Setelah itu, tidak ada lagi tulisan. Tetapi semuanya foto-foto. Foto-foto ketika Jinri kecil. Bersama teman-temannya, Oh Sehun, Kim Jongin, dan Park Chanyeol.

Minho tahu mereka. Trio Bangsat. Nama yang disematkan kepada mereka bertiga. Mereka bertiga merupakan pemimpin dari keluarga mafia yang paling merugikan pemerintahan Korea Selatan, tapi tidak bisa ditangkap. Juga ada foto-foto Jinri dengan Nam Joohyuk. Lagi-lagi Minho mengenal Nam Joohyuk. Dia merupakan salah satu anggota keluarga mafia. Well, hidup gadis ini ternyata dikelilingi oleh mafia. Gadis ini terbiasa dengan lingkungan suram.

Minho menutup file nya dan menaruh file dalam tasnya. Baiklah, ia akan mengakhiri ini.

.

.

.

.

.

Minho menunggu Jinri di depan apartment-nya. Di ayunan depan apartment, lebih tepatnya. Setelah membaca file-nya Minho langsung pulang. Memberi tahu bosnya dia akan menyerang Jinri malam ini setelah gadis itu pulang kerja. Minho menatap ke arah depan. Bersiap-siap untuk menembak dengan pistol yang sudah di kasih peredam.

Kriett~

Minho memainkan ayunannya. Mengisi kekosongan dengan suara nyaring besi.

Kriett~

Kriett~

Kemudian Minho dapat mendengar langkah kaki mendekat. Ia melirik jam tangannya sekilas, jam setengah delapan. Jinri pernah bilang jika ia biasa pulang jam tujuh malam bukan? Minho siap-siap berdiri. Mengambil pistolnya ketika ia melihat perempuan berambut hitam panjang yang tak lain adalah Jinri.

“Minho!” Gerakan Minho terhenti. Ia meletakan pistol dengan pelan.

Sial! Jinri melihatnya dan sekarang ia sedang tersenyum ke arah Minho.

“Minho!” Jinri berjalan mendekati Minho dengan tersenyum lebar.

Jangan! Jangan! Jinri harus berbalik sekarang atau tidak Minho tidak akan bisa menembak gadis itu. Jinri harus tidak melihatnya. Minho hanya bisa terdiam ketika Jinri sampai di depannya. Jinri tersenyum sangat lebar di depannya. Mata polosnya berkilat senang.
“Aku tidak melihat mu untuk waktu yang sangat lama!” Seru Jinri senang. Minho dapat merasakan jika Jinri benar-benar senang melihatnya.

Minho terdiam. Sekarang perasan rindu mulai membanjirinya. Merendam rencana yang sudah ia susun tadi. Minho berpikir keras. Bagaimana ia bisa menyelesaikan tugasnya sekarang?

“Aku… Aku merindukan mu…” Lagi-lagi, Minho dapat melihat rona merah menjalar di pipi Jinri. “Kenapa diam saja?”

Minho menarik Jinri kedalam pelukannya. Dengan pikiran buntunya sekarang, ia akan mengeluarkan pistolnya sekarang kemudian akan menggunakannya untuk menembak Jinri. Dengan itu ia dapat menyelesaikan tugas nya dengan cepat. Juga ia tidak harus melihat wajah Jinri.
“Minho!” Lagi-lagi gerakan Minho ingin mengambil pisto terhenti. Jinri melepaskan pelukannya. Memegang wajah Minho dengan kedua tangannya, “Kenapa diam saja? Kau membuatku khawatir?”

Minho bernafas dengan sangat berat sekarang. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang Jinri. Mengeratkan pelukannya. “Bolehkah?” Tanyanya sambil melihat bibir Jinri.

Jinri langsung menjawab dengan mencium bibir Minho. Minho membalasnya tak kalah cepat.

“Kau kenapa?” Tanya Jinri ketika tautan bibir mereka terlepas. Nafas Jinri terengah-engah.

Minho mengelus wajah Jinri perlahan, “Aku merindukan mu…” Ia mulai mencium Jinri kembali. Melupakan tujuan awalnya.

.

.

.

.

.

Jinri bangun dan mendapati Minho tidak ada. Ini kedua kalinya Minho menghilang tanpa membangunkannya sedikitpun. Apa ia terlalu lelah hingga Minho berpikir untuk tak membangunaknnya? Jinri ingin ketika ia bangun Minho berada di sampingnya.

Ketika bangun dan melihat apartment seksama, Jinri mendapati Sungkyung duduk di meja dapurnya, yang tak jauh dari tempat tidurnya. Menatap Jinri datang.

“Oennie…”

Sungkyung bangun dan mendekati Jinri.

Plak!

Jinri terperanjat ketika kakak perempuan menampar dirinya, “Oennie…”

“Kau tidak tahu apa yang kau lakukan Choi Jinri!” Sunkyung berteriak di depan muka Jinri, “Apa yang kau lakukan dengna Choi Minho?!”
Oennie dengarkan… Hubungan aku—“

“Tidak kau yang dengarkan!” Sungkyung memotong omongan Jinri. Mukanya merah menahan emosi, “Choi Minho adalah orang yang akan membunuh mu dan kau menidurinya sekarang!”

Oennie pasti bercanda bukan?!”
“Apa aku terlihat sedang bercanda?!” Sungkyun menghela nafasnya kasar, “Aku tidak bercanda! Dia kemarin malam berada di luar apartment mu untuk membunuh mu! Aku sudah bersiap-siap untuk membunuhnya! Jika saja kau tidak mendatanginya kemudian memeluknya sehabis itu berciuman dengannya dan sekarang kau berada di tempat tidur tanpa pakaian!”

Air mata Jinri sudah menetes. Hatinya sakit. “Oennie…” Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Jinri. “Dia… Dia tidak seperti itu…”

“Apa yang kau tahu tentang dia Choi Jinri? Hidupnya sebagai pembunuh bayaran seperti ini. Kata apapun yang ia ucapkan adalah kebohongan karena ia hidup di kebohongan!”

“Oennie…”

“Katakan kepadaku… Apa yang kau ketahui tentang dia?”

Jinri terdiam. Tidak ada… Yang dia ingat adalah Minho pernah mengatakan kepadanya jika ia sedang mengekspansi perusahaan jasanya. Yang sekarang terdengar sangat rancu kalau bisa dibilang. Kemudian kedua orangtuanya yang entah mengapa Jinri tidak mempercayainya sekarang.

Jinri memejamkan matanya, “Tidak ada…”

“Bagus.” Sungkyung tersenyum sinis. “Kau pergi sekarang Choi Jinri! Pergi dari kota ini! Dia pasti akan mengejarmu! Serahkan saja ia kepada ku!” Sungkyung berbalik dan berjalan ke arah lemari. Membukanya dan mulai mengeluarkan baju-baju Jinri.

“Kau harus selamat. Hanya kau satu-satunya yang selamat dari keluarga kita!”

Air mata Jinri tidak bisa berhenti menetes. Ia menundukan kepalanya, menatap bulir-bulir terjatuh dan membasahi selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Kedua tanganya yang terletak di dadanya meremas selimut dengan kencang. Dia tidak akan berbohong, rasanya sakit… Sakit yang tak pernah ia rasakan. Sakit yang berbeda ketika ia tahu keluarganya satu-satu meninggalkannya.

“Aku tidak ingin…”

Sungkyung menghentikan gerakannya yang mengeluarkan pakaian Jinri ketika mendengar suara lirih. Ia menatap Jinri dengan tatapan tajam.

Jinri menatap Sungkyung, bibirnya bergetar ketika ia mengatakan, “Aku tidak ingin tanpa dirimu… Ayo selesaikan ini bersama-sama!”

.

.

.

.

.

Setelah misi Minho gagal, yang itu merupakan pertama kalinya bagi seorang Choi Minho. Tanpa jeda sedikitpun, ia berencana menyelesaikan misi yang tertunda kemarin hari ini. Minho memasuki mini market untuk membeli 4 sandwich. Rencananya dia akan membawa sandwich ke apartment Jinri. Berbasa-basi sejenak, mengatakan ingin makan siang bersama. Ketika Jinri membuka pintu apartment-nya dan Bam! Semuanya selesai. Misi tercapai!

Ngomong-ngomong, Minho mengetahui Jinri ada di apartment-nya karena ia tidak sengaja membaca jadwal agenda Jinri, yang gadis itu pampangkan di dinding apartment-nya, mengatakan jika hari Jum’at ia libur.

“Porsi makan teman-teman mu berkurang sekarang?”

Minho tersenyum mendengar perkataan José. Dia rasa laki-laki itu sebenarnya ramah, hanya pelanggan saja yang tidak ramah kepadanya. “Ini bukan untuk teman-teman ku. Aku punya rencana lain.”

José mengangungk-anggukan kepalanya seakan dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Penjaga mini market pun menyebutkan harga 4 sandwich dan segera saja Minho membayarnya.

Setelah itu, Minho melangkahkan kakinya menuju apartment Jinri. Ia melangkah dengan pasti. Berharap yang terbaik.

Tok! Tok! Tok!

Minho dengan segala kepercayaan diri yang tersisa mengetuk pintu apartment Jinri.

Tok! Tok! Tok!

“Jinri….”

Tok! Tok! Tok!

Ketika ia mengetuk untuk ketiga kalinya, Minho mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Apa Jinri keluar? Tangannya terulur ke gagang pintu. Membukanya perlahan dan…. Pintu apartment nya tidak di kunci?

Minho mulai memikirkan scenario terburuk. Jinri sudah mengetahui bahwa Minho mengincarnya. Sekarang dia sedang menunggu di dalam dengan memanfaatkan kepanikan Minho karena Jinri tidak membukakan pintu denganya.

Brak!
Minho mendobrak pintu apartment Jinri dan mengacungkan pistolnya. Ia menelan ludahnya ketika melihat Jinri duduk di depan meja rias. Tak jauh dari apartment tidurnya. Memandangi dirinya di depan cermin. Sama sekali tidak bergeming mendengar suara keras tadi. Apartment gadis itu juga agak gelap karena Jinri menutup gordennya.

Perlahan, Minho menurunkan pistolnya. Memperhatikan Jinri seksama. Gadis itu… Rambutnya yang hitam panjang ia biarkan tergerai. Ia memakai kemeja putih dilengkapi oleh celana panjang putih.

“Bisakah kau tutup pintunya? Aku tidak suka pintu yang terbuka.”

Suara dingin Jinri membuat Minho terdiam sesaat. Tetapi ia tetap menutup pintu untuk Jinri.

Jinri sekarang menatap Minho. Tatapan gadis itu dingin. Minho bersumpah ia lebih baik melihat senyuman misteriusnya daripada tatapan dinginnya.

“Kau ingin mendengar sebuah cerita dari ku?” Jinri bertanya tanpa benar-benar menatap Minho. Tatapan gadis itu menarawang ke suatu tempat yang sangat gelap, “Aku membenci pekerjaan mu. Pekerjaan mu merebut semua orang yang ku cintai.” Ia menghela nafasnya, “Ayahku adalah orang terhebat di dunia. Dia mungkin di jalan yang salah, tetapi ia menyayangi keluarganya. Dia hanya ingin anaknya bahagia walau itu tidak sejalan dengannya. Sayang, ia terlibat dengan skema ponzi dan entah kenapa, dia!” Suara Jinri sedikit menjadi lebih tinggi, “Dia… Dia yang tidak bersalah dibunuh oleh pelaku yang sebenarnya… Tunggu, pelaku yang sebenarnya menyewa seseorang untuk membunuhnya lebih tepatnya. Ketika ia pergi, ibuku yang tidak sanggup akhirnya memilih ikut dengannya. Kalian… Kalian membunuh kedua orangtuaku!

“Kalian juga membunuh oppa ku! Oppa ku yang sampai sekarang mayatnya tidak tahu dimana! Dan kalian juga membunuh dongsaeng ku… Dia tidak bersalah… Dia saat itu hanya kelas dua SD…” Air mata Jinri menetes. Ia menghapusnya kasar, “Bagian terhebatnya adalah, karena kalian mengejarku, aku tidak pernah mengenang mereka! Memberikan perpisahan yang layak untuk orang-orang yang meninggalkan ku!”

“Kau masih punya saudara satu lagi. Dan identitas dia masih menjadi misteri hingga saat ini…” Ujar Minho berusaha untuk tenang.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Semuanya kosong! Aku sering menanyakan kenapa aku bisa hidup sampai sekarang? Kenapa tidak ada yang bisa membunuh ku?”

“Cerita sedih mu tidak akan menghentikan ku untuk membunuh mu.” Minho mulai mengacungkan pistol yang tadi sempat ia turunkan.

“Kau tahu sudah berapa lama aku kabur seperti ini? Aku kabur sejak umur 16 tahun. Sudah delapan tahun hidupku menggantung seperti ini.” Jinri mendekat ke arah Minho. Hal itu membuat Minho berekasi. Ia benar-benar mengarahkan pistolnya ke Sulli. Tapi ia tidak menembaknya. Minho berjalan mundur, menjauhi Jinri Kakinya melangkah cepat hingga mereka terpisahkan oleh tempat tidur Jinri.

“Akhiri penderitaan ku kumohon… Tembak aku sekarang… Aku lelah…” Jinri berkata lirh. Sangat lirih. Ia mendekat ke arah Minho yang terdiam. Berhenti ketika jarak mereka sudah tak terlalu jauh, tapi juga tak terlalu dekat.

“Kenapa aku? Kenapa harus aku yang mengakhiri hidup mu?” Suara Minho sekarang mulai bergetar. Dia juga sudah mulai ragu untuk menuntaskan misi ini.

“Impian ku sedari kecil adalah meninggal dikelilingi oleh orang yang kucintai. Mereka sudah pergi sekarang. Tapi… Tapi aku mencintai mu… Kurasa itu yang terbaik.”

“Choi Jinri…” Tangan Minho sekarang sudah bergetar, “Apa kau menantang ku sekarang? Kau pikir aku tidak akan menembakan pistol ini ke arahmu?”

“Aku tahu kau akan menembakannya. Kau yang terbaik dalam eksekusi. Aku tahu…. Aku tidak pernah ragu kepada mu…”

“Akan kulakukan!” Minho membuka gorden apartment Jinri. Membiarkan cahaya masuk agar ia dapat melihat Jinri lebih jelas. Ia mundur dua langkah dan menyiapkan pistolnya.

“Ini mungkin terdengar berlebihan. Tapi bisakah kau memelukku setelah kau menembak ku?” Jinri mulai tersenyum. Senyum itu bukan senyum misterius. Senyum itu merupakan senyum bahagia. “Terimakasih….” Jinri memejamkan matanya.

Tangan Minho mulai bergetar hebat. Ia menelan ludahnya. Sekarang ia ragu. Benar-benar ragu. “Aku tidak bisa!” Minho menurunkan pistolnya. “Aku juga mencintai mu…”

Jinri membuka matanya. Ia menatap Minho tidak percaya. Ia maju selangkah, ingin menggapai Minho. Tetapi terganggu oleh suara nyaring dari kaca jendela kamarnya yang pecah.

“Ah!” Minho terkejut bukan main ketika Jinri dengan sigap memeluknya. Membiarkan dirinya terkena peluru entah dari mana. Jinri mengerang kesakitan dan ia terjatuh. Minho menahan tubuh Jinri.

“Jinri…” Minho menekan luka Jinri yang berada di bahunya.

“Kabur… Lari sekarang Choi Minho…”

“Tidak! Tidak! Aku akan menyelamatkan mu! Tunggu!” Minho mengendong tubuh ringkih Jinri. Ingin membawanya segera ke rumah sakit. Melupakan semua misi bodohnya. Dia tidak akan menyelesaikan misi bodohnya ini.

Tapi Minho tidak melihat, sebuah peluru mengarah kepadanya.

Akh!

“Minho…”

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

In The Snow (Chapter 1/3)

inthesnow

Main Cast: Choi Minho, Choi Sulli, Lee Sungkyung, All Shinee’s member

Rating: T (Teen)

Length: Threeshoot

Author: Ally

Poster By: NJXAEM @ POSTER CHANNEL

Chapter 1

When the temperature goes to minus degree, the snow fall so does you

.

.

.

Minho merapatkan jaketnya. Mulutnya berasa kebas karena terlalu banyak mengumpat. Sial!

Lagi-lagi, ia mengumpat. Minho menghela nafasnya. Membuat udara putih keluar. Dia kembali berjalan melintasi bangunan yang rata-rata sudah mau tutup. Jika ia tadi tidak bertaruh dengan Kibum, Minho tidak akan keluar di suhu minus derajat ini. Sayang, ia tadi terlalu bosan hingga bodohnya memilih untuk bermain dan akhirnya kalah. Minho harus pergi ke mini market terdekat dari asrama mereka dan membeli sandwich.

Teman-teman mengidam-ngidamkan sandwich yang berisi Coronation Chicken di musim dingin yang mencengkam ini. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang ke rumah mereka. Mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka. Pekerjaan yang tidak mengenal hari libur.

Suara bel berdenting membawa susasana hangat yang membuat Minho menghela nafas lega. Penjaga toko menatap Minho datar sebentar dan kemudian lanjut menonton tv dimana para artis menyanyi. Tidak ada ramah sama sekali.

Minho sama sekali belum terbiasa dengan ketidak ramahan masyarakat Jerman. Padahal sudah tiga bulan ia disini. Tetapi tetap saja rasa jengkel kerap menghampirinya ketika melihat sikap mereka yang seperti itu.

Ia segera menuju tempat sandwich berada. Mengambil 10 sandwich beku dan menyerahkannya ke kasir untuk dihangatkannya.

Penjaga mini market melihat sandwich malas, “Kau mengadakan pesta anak muda?”

Minho tahu itu sindiran untuknya. Siapa yang membeli sandwich beku sebanyak ini?

“Untuk cadangan makanan di rumah.” Jawabnya malas.

“Cadangan yang banyak.”

“Kau tidak tahu betapa banyak porsi makan teman-teman ku.”

“Sekarang terlihat berapa besarnya dari sandwich yang kau beli. Tunggulah terlebih dahulu… microwave kecilku hanya bisa menghangatkan tiga sandwich.”

Minho hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia memilih duduk di bangku yang disediakan mini market. Bangku beserta meja untuk orang yang memilih makan di mini market ini. Minho mengamati jalanan yang sepi. Mencekam. Tidak ada harapan sama sekali. Hanya dia berharap dia akan pulang secepatnya. Ditarik ke tempat yang lebih hangat. Atau setidaknya lebih ramai.

Ting!

Suara bel, yang bukan dari microwave, tetapi dari pintu mini market berhasil menyadarkan Minho dari lamunannya.

“Hai, José!”

Lady, kau datang lagi…”

Okay, ini menarik. Apakah penjaga mini market yang tidak pernah berbicara itu baru saja membuka mulutnya dan mengeluarkan suara? Minho sedikit menoleh dan mendapati José-yang ternyata namanya- sedang berbincang dengan gadis berambut hitam. Hitam? Ini lebih menarik. Kota kecil ini rata-rata memiliki penduduk dengan rambut cokelat tua.

“Ku harap kau masih ada sandwich dan beberapa kerpik kentang.” Suara gadis itu halus dan entah mengapa Minho bisa menangkap gadis itu sedang tersenyum.

“Tentu. Ada hotdog mana tahu kau bosan.”

“Sempurna…” Gadis itu segera berbalik. Disitulah Minho dapat melihat rupa gadis itu yang ternyata berasa dari Asia, sama sepertinya. Gadis itu langsung saja menuju wilayah makanan ringan.

Merasa ia terlalu banyak memperhatikan orang, yang merupakan kebiasaan yang dianggap buruk disini, Minho memilih memandang jalanan lagi.

“Yang benar saja, Lady…” Suara José kembali terdengar. “Kau membeli 4 sandwich? Apakah kau ingin mengadakan pesta? Jangan lupa keripik kentang dan soda yang juga kau beli!”

Gadis itu tertawa riang, “Teman ku memang datang kesini.”

“Kau ingin sandwich-nya di hangatkan bukan? Kau harus menunggu agak lama. Kau lihat lelaki yang sedang duduk itu? Dia membeli 10 sandwich dan aku baru menghangatkan tiga.”

“Aku akan menunggu nya.”

“Tunggulah…”

Minho dapat mendengar langkah gadis itu mendekat. Dia merasa jika gadis itu duduk tepat di sebelahnya. Menatap jalan yang suram. Kemudian ia menoleh melihat Minho yang mau tidak mau membuat Minho ikut menoleh juga.

“Asia?” Tanya gadis itu sedikit terkejut. “Ku pikir hanya aku saja yang tinggal disini.” Lanjutnya dengan bahasa Jerman kelewat lancar.

Minho sedikit tersenyum, “Aku juga berpikir seperti itu. Selain teman-teman serumahku yang juga berasal dari Asia.”

“Setidaknya kau tidak tinggal sendiri…” Nada suara menggantung di udara. Ia menghela nafasnya, “Senang bertemu dengan mu. Aku Jinri.”

“Apakah kau selalu seperti ini jika bertemu dengan orang? Maksudku kau sangat akrab dengan José tadi.” Minho tidak bersikap kasar. Tidak. Ia hanya bersikap sewajarnya. Kota ini aneh dan lebih bagus jangan terlalu baik dengan orang.

Jinri menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman yang Minho tidak tahu apa artinya itu, “Kau pasti menganggap ku aneh bukan? Aku rasa aku memang sedikit gila ketika terdampar disini tanpa mempunyai teman.”

“Bukan itu maksudku…” Sekarang ia merasa bersalah. Minho melihat Jinri sudah menatap kembali jalan. Terdiam. Ia menghela nafas dan juga memilih menatap jalan. “Aku Choi Minho.” Kata Minho akhirnya dengan bahasa korea, “Kau dari Korea bukan?”

“Aku tidak menyangka menemukan seseorang yang berasal dari negara ku di kota kecil ini.” Jinri melebarkan senyumannya. “Choi Jinri.”

“Kita mempunyai nama marga yang sama. Kebetulan yang luar biasa.”

“Ya. Kebetulan yang luar biasa.” Lagi-lagi, suara Jinri menggantung di udara. Ia masih menatap jalan.

“Aku tidak bermaksud bersikap kasar tadi.”

“Aku tahu.” Jawab Jinri pendek. “Aku memang aneh.”

“Bukan itu—“

“Aku mengerti…” Jinri kembali menatap Minho dan tersenyum. “Aku memang aneh.”

Minho menjadi bingung ingin bicara apa. Beruntungnya, kalau bisa dibilang, ia diselamatkan oleh José yang memanggil dirinya mengatakan sandwich sudah hangat.

“Aku duluan…” Ujar Minho pendek dan segera ke kasir. José memasukan sandwich Minho ke kantung belanja dan mengatakan harganya. Minho membayar dalam diam.

“Gadis itu gadis yang baik. Selama menjadi penjaga disini tidak ada yang menyapaku sehangat dia.” José tiba-tiba berbicara kepada Minho, yang dimana itu baru pertama kalinya, diluar konteks beli-membeli, dan dia memberikan kembalian kepada Minho.

“Terimakasih…” Minho sedikit tersenyum ke José. Berbalik dan melambaikan tangannya ke Jinri. Kemudian keluar. Tidak berniat membalas ucapan José. Tidak berniat mengingat siapa Jinri itu.

.

.

.

.

.

Ini kali kedua Minho menuju minimarket. Kali ini ia tidak membeli makanan untuk temannya. Tetapi untuk dirinya sendiri. Setelah teman-temannya menghabiskan satu porsi pizza berukuran besar tanpa menyimpan satupun untuknya. Sama seperti sebelumnya, ia mengutuk kesal teman-temannya. Bingung kenapa bisa ia bertahun-tahun satu tim dengan mereka. Bingung kenapa pekerjaannya lebih berat daripada mereka.

Kau yang terhebat Minho…

Ya. Itu kata atasannya tapi entah mengapa ia malah terdampar disini. Bahkan ketua tim tidak dijabat oleh dia tetapi oleh Jinki. Memasuki minimarket tanpa menyapa dan kemudian langsung mencebik ketika melihat sandwich habis. Satu-satunya pilihan Minho adalah hotdog yang harganya lebih mahal. Tapi daripada lapar, akhirnya ia memilih hotdog. Begitu selesai membayar, Minho segera memakannya.

Rasanya lebih lezat. Entah karena perutnya yang lapar. Atau karena hangatnya hotdog ketika melewati kerongkongannya dan tetap terasa hangat di perutnya. Menyenangkan. Ia Sibuk mengunyah sambil berjalan. Minho asyik memakan hotdog-nya.

Kriett—

Suara besi berkarat terasa begitu keras hingga Minho mengalihkan pandangannya. Menemukan gadis berambut hitam, si Jinri, kalau tidak salah. Menaiki ayunan dengan baju tebalnya sambil menunduk. Apakah gadis itu tidak takut? Ini sudah jam sepuluh malam dan dia masih bermain ayunan tidak jelas. Anehnya, bukannya berjalan tidak peduli, Minho mendekati Jinri. Ia memasukan hotdog ke kantung jaketnya.

“Hai, gadis aneh….” Sapa Minho ketika memasuki taman dipenuhi salju. Tengah-tengahnya terdapat ayunan yang diduduki Jinri.

Jinri dengan pelan menoleh. Mendapati Minho tak jauh darinya sambil tersenyum, Jinri mengeluarkan senyumannya. Minho dapat menyadari jika muka gadis itu memerah akibat alkohol.

“Hai laki-laki kasar…”

Minho tertawa mendengar panggilan Jinri untuknya. “Gadis aneh… Apa yang kau lakukan disini? Kau mabuk?”

Jinri menganggukan kepalanya polos dan mengangkat sekaleng bir, “Aku bosan…”

Minho menghela nafas, ia memilih duduk di ayunan sebelah Jinri, “Apa yang membuat mu datang ke sini? Ke kota membosankan ini?”

Jinri terlihat memejamkan matanya, “Apa ya?”

Astaga… Gadis aneh ini memang mabuk dan dengan tenangnya ia keluar. Dia benar-benar tidak takut? Minho ingin menanyakan bagaimana Jinri bisa sampai disini, sayangnya Jinri berbicara lagi.
“Aku dikirim ke sini…”

Minho menatap Jinri dengan serius, kali ini. “Dikirim ke sini?”

Jinri mengangguk polos, “Iya. Membosankan sekali. Walaupun cuman enam bulan.” Jinri kemudian memiringkan kepalanya, melihat raut wajah Minho dan tersenyum cerah, “Sebelum kau berpikir macam-macam, aku perawat rumah sakit di kota ini. Dikirim dari pusat untuk mengabdi.”

Minho tertawa canggung. Bodoh! Gadis ini terlalu aneh kalau bisa dibilang. “Kau membuatku berpikir macam-macam. Kau tahu apa yang ku pikirkan?” Ia mendekat ke Jinri dan berbisik kecil di depan mukanya, “Kau seorang mata-mata.”

Kali ini Jinri yang tertawa riang, bukang canggung. “Bagaimana dengan mu? Apakah kau mata-mata?”

Minho tersenyum, “Aku bukan mata-mata. Aku bersama teman ku sedang mengekspansi perusahaan jasa kami.” Jasa untuk membunuh lebih tepatnya. Lanjut Minho dalam hati.

“Tempat aneh untuk mengekspansi perusahaan.”

“Ini adalah kota ibu ku. Ayahku berasal dari Korea Selatan dan ibuku berasal dari sini.” Bohong. Minho berbohong. Kedua orantuanya sudah mati atau entahlah…. Dia berasal dari panti asuhan.

Wajah Jinri tiba-tiba semakin mendekat, “Itu menjelaskan satu hal. Kau rupawan.”

Minho tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Baru saja ia ingin berkata, Jinri tiba-tiba menciumnya. Menggerakan bibirnya dengan pelan diatas bibir Minho. Hebatnya, Minho membalas ciuman Jinri.

Ketika pautan mereka terlepas, Jinri terkekeh. Masih di depan wajah Minho ia berkata, “Bibir mu… Pedas.”

Minho lagi-lagi butuh beberapa detik untuk mengetahui maksud Jinri sebenarnya. Dia habis memakan hotdog, apa yang bisa diharapkan?

Jinri tiba-tiba berdiri, menunjuk gedung di depan taman, “Kau lihat? Itu flat ku… Aku harus pulang…” Jinri berjalan dengan sempoyongan. Menuju flat yang tadi ia tunjuk.

Minho ikut berdiri. Mengamati gadis aneh dari jauh, untuk mengetahui apakah ia benar-benar ke apartment-nya.

Kemudian Jinri kembali berhenti. Berbalik menatap Minho dengan seyuman misteriusnya, “Lain kali gunakanlah saus tomat. Itu manis kau tahu…”

Jinri kembali berjalan tanpa berniat menoleh. Terlihat tidak berniat mengingat kejadian ini.

Minho mematung. Kembali mengingat bibir Jinri tadi. Manis dan ia bisa merasakan sari-sari alkohol dari bibir Jinri. Memabukan. Bibirnya, bukan alkoholnya.

.

.

.

.

.

“Target berhasil dijatuhkan. Aku segera menuju apartment. Apa? Baiklah aku akan membeli pizza.” Minho segera mematikan handphone-nya dan masuk ke dalam mobil. Tiga hari ini dia sedang tidak ingin kembali ke apartment-nya kalau bisa. Menyusuri kota sepi yang membosankan itu, hanya mengingatkannya kepada kejadian dimana Jinri yang menciumnya. Begitu membakar diri Minho. Jika saja ia hanya orang normal bukan pembunuh bayaran, Minho pasti akan mendatangi tempat kerja Jinri dan mengajaknya untuk kencan.

Setelah melewati perjalanan dua jam plus 45 menit utuk membeli pizza, Minho sampai di apartment-nya dimana teman-temannya tengah duduk menonton tv.

“Kau sudah datang… Cepatlah mandi dan sehabis itu baru makan.” Kata Kibum yang kemudian kembali menonton tv.

Tidak ingin pizza habis kembali, Minho menuju kamarnya dengan pizza. Tak lupa mengunci pintu.

Sepuluh menit kemudian, Minho baru ikut bergabung dengan pizza diikuti kemarahan Kibum akibat pertunya yang sudah keroncongan. Mereka semua makan sambil menonton tv yang menampilkan pesta tahun baru. Menghitung beberapa jam lagi tahun berganti.

Sejujurnya, Minho merasa bodoh karena mengikuti acara itu hingga menit-menit terakhir jam 12, yang artinya sebentar lagi tahun baru.

“Aku mendengar suara banyak orang dari luar.” Kata Jonghyun tiba-tiba. Ia meminum kembali bir-nya.

“Biasa… Orang-orang di kota ini mengadakan pesta tahun baru.” Kibum menjawab pendek. Meminum bir-nya juga.

Kedua temannya, Jinki dan si maknae Taemin sudah tepar karena alkohol juga. Pikiran Minho langsung berterbangan kemana-mana dengan satu tujuan, Jinri. Apakah gadis itu juga ikut pesta? Apakah gadis itu juga bersenang-senang?
“Hey, Minho, kau mau bir lagi tidak?”

Minho bangkit. Sama sekali tidak mengubris pertanyaan Kibum.

“Kau ingin kemana?” Lagi-lagi Kibum bertanya.
“Aku bosan.” Jawab Minho pada akhirnya dan memakai jaket tebalnya.

“Jangan pergi terlalu jauh.” Ucap Kibum lagi.

Minho mengangguk dan keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga kemudian keluar dari apartment. Orang-orang banyak berjalan menuju pusat kota. Minho berjalan menjauhinya. Ia menuju taman. Taman tepat di depan apartment Jinri.

Dia bodoh bukan? Dia ingin bertemu Jinri dan Jinri pasti sedang berpesta di tengah kota. Tetapi ia malah menjauhi kota menuju kota mati, bisa dibilang begitu. Toko-toko tutup dan hanya lampu jalan menerangi. Minho hanya berharap dia dapat melihat Jinri baik-baik saja ketika pulang. Itu saja dia sudah lega.

Ia memilih duduk di ayunan. Memainkan ayunan berkarat itu. Meringis ketika mendengar bunyi besi berkarat terdengar jelas.

Kriett—

Kriett—

Kriett—

Duar~

Minho menghentikan ayunannya dan melihat ke langit. Cerah, dipenuhi oleh kembang api bewarna-warni. Ia tersenyum melihatnya. Terus melihatnya hingga kembang api berhenti. Itu artinya pesta tahun baru dimulai. Banyak alkohol pasti disana. Kota ini menyukai alkohol.

Minho menghela nafasnya. Mengeluarkan udara putih dari mulutnya. Memilih memainkan ayunan tua itu lagi. Menunduk menatap sepatu cokelatnya.

“Minho…” Minho terkejut ketika menemukan Jinri sedang berjongkok, dimana ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Jangan bilang kau mabuk disini.” Lanjutnya dengan nada suara geli.

Minho mengangkat kepalanya. Menatap Jinri lama. Dia… Dia merindukan gadis ini.

“Hey…” Jinri mengibaskan tangannya. “Apakah kau masih sadar?”

“Aku tidak mabuk disini.” Minho kemudian tersenyum lembut. “Kau tidak ikut pesta jinri?”

Jinri mengkerucutkan bibirnya. “Sayangnya tidak…” Terdapat nada kesal disana. “Karena aku orang baru, mereka menukarkan jadwal ku seenaknya. Padahal aku sudah dapat pulang dari jam tujuh tadi… Bagaimana dirimu? Kau tidak ikut berpesta?”

“Aku merasa ini adalah tempat yang pas untuk melihat kembang api. Diantara gedung-gedung ini, cahayanya juga minim, ini tempat yang pas.” Pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran yang kadang merangkap mata-mata membuat Minho pintar beralasan. Ia menyunggingkan sebuah senyum untuk meyakinkan Jinri.

Jinri menatap langit. Ia berbalik badan membelakangi Minho. “Uhm… Aku tidak melihat kembang api sama sekali. Tapi kurasa kau benar.” Ia berbalik dan tersenyum ke Minho

Minho membalas senyuman Jinri, “Kau bilang kau tidak melihat kembang api…”

Mata Jinri berkilat senang entah mengapa. “Aku hampir lupa!” Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan bungku kembang api. Kembang api berbeda yang dimana terdapat tangkai besi untuk memegang. “Aku mendapatkan ini dari pasien ku tadi. Kau ingin ikut menyalakannya?”

Minho tanpa ragu menjawab iya. Mereka menghabiskan seluruh kembang api sambil tertawa. Bercerita. Dimana hampir semua cerita Minho bohong. Ia tidak punya cerita bahagia. Hidupnya penuh dengan darah… Sejujurnya.

Ketika jam berdentang satu kali, pukul satu malam, Minho mengantarkan Jinri ke apartment-nya. Apartment yang terletak tepat di depan ayunan, hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa saja duduk dan melihat Jinri dari ayunan jika ia mau.

“Terimakasih…” Ucap Jinri sedikit kikuk.

“Kau menjadi kikuk sekarang? Pertemuan terakhir kita kau bahkan langsung meninggalkan ku.”

Jinri menatap Minho sejenak. Berusaha mengingat, “Ketika—“ Matanya membesar. “Di ayunan itu bukan?”

Kali ini Minho menatap Jinri dengan melotot, “Kau bahkan tidak ingat kejadian itu?”

Jinri terdiam sebentar, “Aku ingat. Tapi tidak semuanya. Hanya sedikit kurasa…”

“Sedikit?” Minho masih melotot.

Jinri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mendekat ke Minho, “Bibirmu… Apa masih pedas?”

Sekarang, Minho lah yang terdiam, “Apa?”

“Kau tahu…” Jinri tersenyum. Senyum yang bagi Minho misterius. Senyum yang tidak dapat diartikan bahagia. Senyum yang sekarang seakaan menggodanya.

Minho berdehem. Menghilangkan kegugupannya akibat kalimat frontal Jinri, “Aku makan pizza dengan saus tomat sekarang. Kupastikan rasanya manis.”

“Kau mengikuti kata ku bukan?” Minho menelan ludahnya gugup. Suara Jinri begitu halus dan serak seakan memanggilnya. Senyuman gadis itu membakar Minho. “Bolehkah?” Jinri melihat bibir Minho sekilas.

Astaga! Gadis ini sedang menatap Minho polos tetapi itulah yang membuat Minho nyaris gila. Minho segera menarik Jinri kedalam pelukannya. Mencium Jinri. Tidak memberikan gadis itu sedikitpun kesempatan. Sepertinya, ia akan lepas kendali.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang Minho dapati ketika ia memasuki apartment-nya adalah Kibum, Jonghyun, Jinki, dan Taemin sedang membaca file kasus baru. Sepertinya mereka semua mendapat kasus baru. Ia pulang ke apartment pukul 11 siang.

“Selamat siang Minho.” Jinki yang pertama menyadari kehadirannya. “Aku mungkin mabuk hingga tidak sadarkan diri kemarin malam, tapi Jonghyun atau Kibum mengingatkan dirimu untuk tidak pergi jauh bukan?”

“Kibum mengingatkan ku. Dan aku tidak pergi jauh.” Minho melangkah mendekati teman-temannya.

“Sabun. Kau habis mandi. Dan itu sabun perempuan.” Taemin berkata dengan mata yang tetap fokus membaca.

“Oh!” Ketiga temannya-–Jonghyun, Kibum, dan Jinki–menatap Minho serempak.

“Kau menggunakan wajah rupawan mu untuk meniduri gadis dari setiap kota yang kita singgahi.” Cibir Jonghyun.

Minho mengangkat bahunya, “Bukan salah ku memiliki wajah seperti ini.”

Jinki berdecak kesal. Segera ia melemparkan sebuah file kepada Minho, “Kau mendapat misi baru juga. Batas akhir mu ketika memasuki musim semi, bulan April.”

Minho menatap Jinki heran, “Itu cukup lama.”

Red tag Minho.”

Minho mengerti. Setiap kasus mereka diberi tag berdasarkan targetnya. Jika targetnya orang bodoh yang tidak tahu ia akan dibunuh, kalaupun tahu ia hanya bisa bersembunyi, itu green tag. Target termudah. Kalau targetnya tahu ia akan dibunuh dan menyewa semaca body guard, itu blue tag. Tidak terlalu mudah karena ia harus menyusun rencana terlebih dahulu. Jika targetnya bukan hanya tahu dan menyewa body guard, dia juga berhasil kabur itu diberi red tag. Target tersusah dan biasanya harus mengintai terlebih dahulu agar target benar-benar mati kali ini.

“Ku dengar wanita itu sudah kabur sebanyak 5 kali. Lima orang yang bertugas membunuhnya malah mati.” Kibum kali ini bersuara. “Kau harus menggunakan kesempatan dengan baik atau kau juga akan mati.”

Minho memutuskan untuk berbasa-basi sejenak sebelum ke kamarnya. Mempelajari targetnya. Ia tidak bisa mempelajari targetnya disuasana ramai. Minho menghapus papan tulisnya berkas kasusnya kemarin. Membuka file-nya. Dan menemukan nama….   Choi Jinri?!

.TBC.

A/N: Pernah di post di wattpad dalam rangka memperingati ulang tahun Choi Minho di akun author Acil Choi.

 

 

 

Sight Seeing and Silence (Chapter 1)

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Main Cast: Mark Tuan | Son Seunghwan | Oh Sehun | Park Chanyeol

Rating: T (Teen)

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Jika teman-temannya membicarakan rahasia gelap, pasti mereka akan mengatakan jika mereka pernah mencuri. Atau berbohong kepada orangtua mereka. Atau melewati batas dalam berpacaran. Atau hal-hal lainnya yang dianggap memang dilakukan oleh anak-anak.

Mark sendiri tidak begitu. Dia tidak pernah berbohong kepada orangtuanya. Dia tidak melewati batas dalam berpacaran. Tidak pernah melanggar hal-hal lain yang dilanggar oleh teman-temannya. Bukan karena dia tidak ingin, tetapi ia tidak bisa melakukan hal tersebut.

Mau tahu rahasia gelap dari Mark Tuan?

Rahasia yang membuat bulu kuduk merinding bahkan tidak ingin untuk mengetahuinya, jika orang tersebut bisa mengulang waktu.

Mark seperti remaja cowok pada umumnya. Rambut yang ia biarkan panjang bahkan ia cat menjadi warna menjadi warna platinum. Dengan satu anting di telinga kanan. Baju seragam barunya yang tidak terlihat karena ia mengenakan sweater hitam.

Tok…Tok..Tok…

Ketukan menyadarkan Mark dari lamunanya yang melihat laut yang tenang. Mark segera berjalan menuju pintu.

“Kau sudah sangat rapih. Ayo!” Seru Sehun. Lelaki yang baru ia kenali dua hari ini. Tapi sekarang Mark sudah berada di rumahnya bahkan tinggal disini untuk sementara waktu.

Mark tidak menjawab. Sehun sendiri tidak merasa tersinggung atas perilaku Mark. Mereka baru saja bertemu dan itu merupakan hal wajar. Pikir Sehun.

Selama perjalanan mereka menuju sekolah barunya mereka juga hanya diam. Mark menikmati pemandangan Jindo yang masih asri. Di Los Angeles tidak ada pemandangan seperti ini. Pemandangan rerumputan yang luas dan awan biru yang menenangkan. Damai….

“Hey!”

Panggilan Sehun membuat Mark menoleh. Sehun hanya bosan. Dia butuh teman mengobrol. Perjalan sekolah membutuhkan waktu dua jam dan sudah satu jam ini mereka saling diam

“Mungkin kita bisa mengobrol. Kau tahu… Mendekatkan diri.” Sehun mengutarakan apa yang ia pikirkan sedari tadi. Laki-laki disampingnya membuat benteng seakan Sehun musuh. Yah, mengingat keadaan mereka Sehun tidak bisa menyalahkannya.

“Aku tidak punya keinginan untuk mendekatkan diri kepada mu.”

Jawaban singkat Mark membuat Sehun tertawa. Benar bukan apa yang ia pikirkan? “Biar ku tebak alasan mu. Kau curiga kepada ku bukan?”

Mark menatap Sehun tajam. Menilai laki-laki ini sebelum menjawab, “Baguslah kalau kau sudah tahu.”

“Boleh tahu alasannya?”

“Ku kira kau sudah tahu alasannya. Tidak kah kau berpikir sikap mu tidak biasa?”

Sehun menghembuskan nafasnya dengan keras. Ia menatap supirnya sekilas kemudian menatap Mark, “Aku tidak inign membunuh mu atau mengambil perusahan mu. Aku hanya ingin kita berteman okay? Kalau kau ingin tahu alasannya karena aku butuh koneksi.”

“Baguslah kau jujur. Dan pada akhirnya tidak ada yang tahu sampai dimana pertemanan kita.”

“Kau tidak mengerti!” Sehun terdengar sedikit putus asa.   Ia menarik nafas dan berkata, “Tapi aku tidak akan memaksamu untuk berteman dengan ku. Aku hanya ingin jujur kepadamu.”

“Menurut mu aku akan langsung menaruh percaya kepada mu hanya kau berkata jujur kepada ku?”

Astaga… Laki-laki di depannya benar-benar seorang analitikal. Sehun melirik Mark sekilas sebelum mulai memandangi jalan lagi, “Terserah dirimu saja. Pada akhirnya kau akan tahu siapa aku sebenarnya.”

Mark memilih diam dan menatap jalan kembali. Sisa perjalanan dihabiskan dalam diam. Dari padang rumput yang asli, mereka melewati sebuah hutan yang masih terjaga. Hanya mobil mereka yang melewati jalan tersebut.

“Kau yakin ini jalan menuju sekolah?” Desis Mark karena tidak yakin.

“Aku tidak akan membunuh mu.” Suara Sehun terdengar santai. Ia tersenyum ke Mark.

Entah mengapa, Mark merasa yakin jika Sehun katakan benar. Ia tersenyum dan berkata, “Kau yakin di tas mu tidak ada senjata?”

Sehun menggelengkan kepalanya mendengar candaan Mark.

Setelah dua jam perjalanan, insting dirinya benar. Sehun tidak berbohong. Mereka benar-benar sampai disekolah mereka.

“Selamat datang disekolah baru mu. Sebenarnya sekolah ini mudah ditemui. Tidak terlalu misterius hanya karena aku dan dirimu bersekolah disini. Tapi karena rumah ku yang jauh… Jadi kita harus menempuh dua jam perjalanan.”

“Ku rasa kita menempuh perjalanan dari ujung pantai ke ujung pantai lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya dan mereka keluar dari mobil.

“Kau ingin langsung ku antarkan ke ruangan kelas atau ingin jalan sendiri?”

“Kurasa aku akan disini sebentar saja.” Mata Mark menelisik sekolah barunya. Beberapa murid terlihat membawa buku di tangannya. Tas mereka yang kecil membuat buku tersebut tidak muat. Rata-rata rambut perempuan disini digerai. Sedangkan laki-lakinya tidak ada yang cepak.

Deg!

Mark sedikit terpana melihat seorang perempuan berambut coklat dengan poni menutupi dahinya. Perempuan itu terlihat tersenyum seakan sangat bahagia bisa sampai di sekolah. Ia tidak membawa buku ditangannya dan tasnya lebih besar daripada murid-murid yang lain. Perempuan yang sedang ia tatap berhenti dan menengok ke arah kiri dan kanan kemudian terlihat tersenyum lebih lebar.

Mata Mark menangkap seorang laki-laki berambut cepak tengah menyingir ke arah perempuan itu. Mark mengenal laki-laki itu. Park Chanyeol kalau tidak salah namanya. Chanyeol berkata sesuatu dan membuat perempuan itu terlihat kesal. Mereka terus mengobrol hingga tiba-tiba perempuan tersebut memukul-mukul lengan Chanyeol yang membuat Chanyeol tertawa lebar.

Mereka berjalan memasuki gedung sekolah dengan Chanyeol yang masih menghadap perempuan itu dan berbicara kepadanya. Tapi yang Chanyeol dapatkan hanyalah pukulan di tangannya.

“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Mark tersentak ketika Sehun memanggil mereka. Ia bahkan melupakan Sehun sejenak akibat melihat perempuan itu.

Chanyeol menyapa Sehun dan mendekat. Perempuan yang masih misterius itu terdiam sebentar sebelum berjalan ke arah Sehun dan menyapa Sehun dengan senyuman yang sangat lebar dan mata yang berkilat senang. Jangan-jangan….

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Mark tersenyum menatap Chanyeol, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan perempuan yang dari tadi ia tatap.

Mark menatap Seunghwan. Seunghwan hanya diam menatap Mark sehingga Mark berkata, “Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

 

.

.

.

.

.

Deburan ombak telah menjadi teman Seunghwan selama hidupnya. Rumahnya tepat berada di depan pantai. Sebuah rumah kecil bewarna putih kecuali di bagian kamar Seunghwan yang bewarna kuning. Satu kamar mandi, dapur kecil, satu ruang tv yang kadang juga digunakan sebagai tempat menerima tamu. Sebuah rumah sederhana yang dibelikan oleh seseorang yang berharga untuknya.

Dengan mengingatnya saja, Seunghwan dibuat tersenyum sendiri. Ia segera menggelengkan kepalanya agar tetap fokus pada sarapannya. Setelah sarapannya selesai, Seunghwan segera mencuci piringnya dan berangkat ke sekolah. Hanya dia sendiri tinggal sendiri. Hidupnya sebatang kara. Dengan ibunya yang meninggal sejak empat tahun yang lalu. Seunghwan sebenarnya punya satu kakak cowok, tetapi dia tidak ingin mengingatnya. Dia memang sudah tidak punya keluarga lagi, tapi dia masih punya orang-orang yang perduli padanya. Teman-temannya. Maka dari itu, Seunghwan sangat menyukai sekolah.

Ketika liburan ia menjadi sangat bosan. Seunghwan tinggal di kota kecil bernama Jindo. Kota yang terletak di paling selatan dari Korea Selatan. Sebenarnya Jindo lebih tepat disebut desa jika dibandingkan dengan Mokpo, kota terdekat dan terbesar dari Jindo. Jarang ada bangunan tinggi. Mobil hanya sedikit yang lewat. Hamparan laut yang luas dan masih banyak rumput hijau. Pantai yang selama ini dia lihat adalah satu-satunya hiburan baginya. Jangan harapkan dia bisa keluar Jindo. Makan di salah satu Café di Jindo bernama Aera’s Signature Ice Cream saja sudah harus membuat Seunghwan menabung selama dua bulan. Apalagi ke Mokpo dimana dia harus naik bis?

“Seunghwan!”

Seunghwan segera saja menoleh dan ia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Rambut laki-laki tersebut cepak. Satu-satunya laki-laki yang rambutnya cepak disekolahnya. Mamakai kemeja putih tanpa rompi dan menampilkan cengiran khas yang membuat mukanya bodoh.

“Woy! Kemarin kenapa gak bisa dihubungi?”

Seunghwan berdecak, “Mau lihat jawaban fisika bukan?”
Lelaki di depannya hanya tertawa kecil, “Tahu tuh! Kemarin habis kencan sama Yejin dan baru ingat ada tugas. Belum ngerjain nih…”

“Park Chanyeol!” Langsung saja Seunghwan memukul lengan Chanyeol, “Kalau kamu belum mengerjakan pr fisika aku akan dimarahi sama guru Song!” Seru Seunghwan sebal.

“Aku mau mengerjakannya semalam. Tapi kamu gak jawab!” Chanyeol berusaha membela diri, “Maka dari itu lihat dong…”

“Enak saja! Aku akan ajarin kamu tapi kamu gak boleh menyontek.”

“Kenapa harus Son Seunghwan yang menjadi partner fisika? Kim Jongdae bisa dicontek.” Ucap Chanyeol dengan suara hopeless yang didramatiskan.

Seunghwan hanya mencibir, “Aku sudah mengerjakannya capek-capek. Enak saja melihat!”

“Nanti aku bilangi sama Sehun kamu gak mau bantu aku….”

Seunghwan segera menoleh ke Chanyeol dan kembali memukul-mukul lengannya, “Apaan sih! Gak usah bawa-bawa nama Sehun deh!”
Chanyeol tertawa riang. Sehun selalu menjadi senjata rahasia agar Seunghwan bertekuk lutut. Gadis itu sangat-sangat mencintai Sehun. Yah, itu karena Sehun selalu berada di samping Seunghwan selama masa-masa kritisnya. Tetapi gadis itu cukup cerdas karena ia mengetahui Sehun tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada dirinya. Seunghwan menempatkan posisinya sebagai sahabat dengan berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia suka. Tapi tetap saja kelihatan. Mata gadis itu membesar ketika melihat Sehun –menjadi antusias-. Seunghwan juga lebih jaim di depan Sehun.

Chanyeol masih berusaha membujuk Seunghwan untuk memberikan pr fisika. Sayang, sama seperti tampangnya yang tolol, Seunghwan malah semakin ganas memukul lengan Chanyeol dan membuat Chanyeol meringis kesakitan.
“Yang sedang bermesra-mesraan!”

Kegiatan Chanyeol dan Seunghwan terhenti. Chanyeol langsung menoleh ke sumber suara dan balik menyapa. Sedangkan Seunghwan terdiam dengan pipi bersemu merah. Sialan Chanyeol! Sehun jadi ngeliatkan.. Desisnya dalam hati.

Seunghwan kemudian menoleh dan melambaikan tangannya, “Sehun!”

“Hai, Seunghwan!” Sapa Sehun seperti biasanya.

“Mark bukan?” Suara Chanyeol terdengar lagi.

Kali ini, Wendy melihat ke samping kiri, seseorang laki-laki berdiri di samping Sehun. Laki-laki itu tersenyum, “Iya. Park Chanyeol bukan?”

“Oh, ya. Ini temanku Son Seunghwan.” Sehun memperkenalkan Seunghwan ke Mark.

Seunghwan yang sedari tadi menatap Mark hanya terdiam ketika Mark menyapanya.
“Aku Mark. Murid pindahan di sekolah ini.”

Seunghwan ternganga sebentar. Baru pertama kali dalam hidupnya, Seunghwan terdiam bingung ingin mengatakan apa karena jantungnya yang berdebar lebih kencang.

.TBC.

 

New story nih… I know.. I know… State of Grace belum tamat. Flipped bagian epilog belum keluar. Terus aku juga lagi ngerjain projek Sestal terbaru… Dan jangan lupa Runaway yang belum pernah ku sentuh sejak 6 bulan yang lalu…

Tapi ini mini-chapter kok… 10 chapter kalau lebih pun cuman 2… See you soon guys…

 

 

tumblr_nydma3mEJU1rbxeb8o1_500.jpg

Flipped (Chapter 22) (END)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kebenaran

 

Luhan merasa ayahnya adalah orang yang paling egois di dunia. Keegoisan ayahnya membuat Luhan harus berpisah dari ibunya. Sampai sekarangpun ia tidak dapat bertemu dengan ibunya karena keputusan ayahnya. Sekali ayahnya memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Banyak keputusan ayahnya hanya berorientasi kepada dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Luhan tahu jika ayahnya sangat mencintai Luhan. Ayahnya ingin Luhan tetap bersamanya makanya ia menjauhkan Luhan dari ibunya yang jelas-jelas juga ingin bersama Luhan. Karena pengaruh ayahnya yang lumayan kuat, akhirnya Luhan bisa bersama ayahnya. Memori yang Luhan ingat terakhir kali bersama ibunya adalah ketika ibunya menyuruh ia menjadi anak baik sambil menangis. Luhan sampai sekarang menyesal ia hanya bisa terdiam melihat ibunya. Sekali saja ia ingin memeluk ibunya kalau bisa.

Apakah Luhan membenci ayahnya? Sayang, ia tidak bisa. Luhan tidak bisa membenci ayahnya walaupun ayahnya memisahkan ia dengan ibunya. Luhan benci terhadap dirinya yang tidak bisa membenci ayahnya. Cita-citanya ketika ayahnya membawanya pergi menjauhi Korea yang juga untuk menjauhi ibunya adalah lepas dari cengkraman ayahnya. Luhan menyusun mimpinya. Itulah yang membuat ia selama bertahun-tahun fokus belajar demi menggapai cita-citanya. Teman-temannya di Amerika menganggap dia sangat dingin dan anti sosial karena ketidak pedulian. Yang hanya ia pedulikan adalah belajar. Kurangnya interaksi sesama teman membuat nama Krystal selalu di hatinya meski mereka lama tidak bertemu. Dia menganggap suatu hari dia dapat kembali bertemu Krystal dan mungkin dapat menjalin hubungan lebih dari pertemanan. Setidaknya musuh terberat –dalam mendekati Krystal- juga sahabat terdekatnya sudah berjanji tidak akan mendekati Krystal.

Ketika menemukan Krystal menangis di taman. Menanyakan janjinya dengan Sehun untuk tidak mendekati Krystal, Luhan tersadar akan satu hal. Buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Ia memiliki keegoisan yang sama dengan ayahnya. Semua yang ia lakukan juga penuh dengan keegoisan. Tentang bagaimana cita-citanya lepas dari cengkraman ayahnya. Tentang Krystal. Tentang Sehun. Apakah dia tidak pernah berpikir untuk melihat keadaan sekitarnya sekali saja? Apakah dia tidak pernah berpikir jika orang tersebut tersenyum bukan berarti orang tersebut baik-baik saja?

Akhirnya, disini Luhan. Terdiam dan menyandarkan tubuhnya ke mobilnya. Disampingnya ada Sehun yang sama-sama terdiam.

“Dia masih di taman. Aku bahkan tidak berhasil memdekatinya.” Luhan berkata lirih. Menundukan pandangannya. “Ku rasa kau yang harus kesana dan membujuknya.”

“Luhan…”
“Kau adalah orang yang baik. Aku tahu itu dan aku sangat mempercayai mu. Tentang perjanjian konyol kita belasan tahun yang lalu, ku rasa itu sudah berakhir. Kau berhak mendekati seseorang siapapun itu. Kau tidak seharusnya dilarang. Aku salah melarang mu mendekati Krystal.”

“Luhan….”

“Aku hanya ingin Krystal untuk ku. Karena aku bahagia jika di dekatnya. Sifat riang dan recehnya… Tapi ia tidak pernah bahagia berada di dekat ku. Sedikit pun.” Luhan mengerjapkan matanya. Menahan air matanya yang ingin jatuh.

“Luhan ak—”

Luhan berdehem dan lagi-lagi memotong omongan Sehun, “Sekali saja aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku ingin Krystal bahagia. Karena seseorang dapat bahagia ketika melihat orang yang ia cintai bahagia.” Luhan menghela nafasnya. “Aku harus masuk. Jam istirahatku sudah habis dari tadi. Aku duluan.” Ia segera berjalan memasuki rumah sakit. Tanpa melihat Sehun sedikit pun. Ia tidak bisa.

“Luhan tunggu!”

Luhan berhenti. Tapi badanya tidak berbalik sedikitpun. Air matanya sudah menetes.

Sehun menghela nafasnya sebelum berkata, “Beritahu tahu aku ketika kau ingin di wisuda Aku akan senang melihat dirimu lulus dengan cita-cita mu sejak kecil. Atau setidaknya aku ingin ada karangan bunga dari ku.”

Mendengar hal itu Luhan menghela nafas gusar. Kalimat yang Sehun ucapkan membuat hatinya bergetar. Laki-laki itu terlalu baik. Sungguh. Dan Luhan pernah menyalahgunakan kebaikan laki-laki itu karena ke egoisannya. Karena keegoisannya pula Luhan tidak bisa berbalik ke Sehun dengan air mata berlinang. Ia hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan jalannya.

Kau adalah dan tetap sahabatku…

.

.

.

.

.

Langit sudah menunjukan warna jingga menyala ketika Sehun sampai di taman. Taman tersebut berjarak duapuluh menit dari rumah sakit Luhan. Dia hampir saja putus asa ketika selama hampir dua jam berkeliling Seoul tidak bisa menemukan Krystal. Tiba-tiba saja, sekitar pukul empat sore Luhan meneleponnya. Mengatakan jika ia tahu dimana Krystal tapi mengajaknya untuk bertemu terlebih dahulu. Luhan mengajak bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja. Sehun sedari tadi berusaha menghalau pikiran buruknya yang mengatakan Krystal di rumah sakit. Ia ingin mencengkram kerah Luhan dan menanyakan dimana Krystal jika saja Luhan tidak berkata lirih, ‘Aku memiliki sifat egois yang sama dengan ayah ku.’

Sehabis mendengar hal itu, Sehun memutuskan untuk mendengar Luhan berbicara terlebih dahulu. Ia tahu…. Sudah saatnya mereka membicarakan perjanjian konyol ketika mereka berumur sepuluh tahun itu. Dia ingin berbicara baik-baik. Tidak menyangka dengan keputusan Luhan. Satu-satu harapannya adalah Luhan dapat mengerti dari kalimat yang ia ucapkan tadi, ketika ia ingin hadir di wisuda Luhan, menunjukan jika ia tidak membenci Luhan. Tidak sedikitpun.

Sehun mengehla nafas. Sudah waktunya ia keluar dan bertemu Krystal. Langkah Sehun terasa berat. Dia berhenti ketika menemukan Krystal menundukan kepalanya.

“Krys…” Kata Sehun lirih.

Krystal menatapnya dengan mata yang berair dan sudah sangat merah. “Sehun…” Setelah mengatakan hal tersebut Krystal menangis lagi.

Sehun segera mendekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia mendekap Krystal. “Maaf.”

“Bodoh! Bodoh!” Krysta memukul-mukul dada Sehun. “Bodoh!”

“Maaf…”

Lagi-lagi Krystal menangis. Sehun semakin mempererat pelukannya. “Maaf….” Kata Sehun lagi.

Krystal mendorong Sehun perlahan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menghapus air matanya, “Jangan pergi…”

“Aku….”

Sehun menatap Krystal ragu. Itu bukan suatu hal yang ia harapkan.  Jangan pergi?  Seberapa besar Krystal menyukai Sehun, bukan, mencintai Sehun?
“Kau tidak ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya?”

Krystal sangat mengerti pertanyaan Sehun. Ia dengan cepat menggeleng. “Aku takut.”

Sehun dengan pelan mengenggam kedua Krystal. Membuat Krystal terpaksa melihatnya kemudian mengunci tatapan Krystal.

“Luhan tiba-tiba datang kepada ku. Itu saat ulang tahun keluarga Song. Ketika kakimu patah kau ingat? Kau melihatku berbicara dengan Luhan saat itu. Saat itulah aku dan dirinya membuat perjanjian konyol itu. Kita masih terlalu muda saat itu. Saat itu juga semua hal berubah dengan cepat. Orangtua Luhan bercerai. Luhan yang tiba-tiba pergi dan meninggalkan kita. Aku bahkan masih ingat tangisan mu ketika Luhan pergi.”

“Itu karena dia sahabatku!” Pekik Krystal kesal.

Tidak ingin menjawab, Sehun kembali melanjutkan ceritanya, “…. Puncaknya adalah ketika kita dijodohkan. Aku sempat menolak perjodohan ini mentah-mentah dibelakang. Tapi kedua orantuaku tidak peduli. Yang aku ingat saat itu adalah aku mempunyai janji pada Luhan dan tangisan mu ketika Luhan pergi. Aku sangat optimis kau menyukai Luhan. Tapi tidak setelah kau mengatakan kau juga menyukai ku. Bahkan saat itu aku masih mengingat janji ku kepada Luhan. Aku dengan bodohnya lebih mementingkan janji itu.” Sehun menghentikan ceritanya sejenak. Menarik nafasnya dengan berat.

“Aku pikir dengan aku berpacaran kau akan menyerah.” Lanjutnya lagi. “Kurasa aku terlalu bodoh hingga hanya mengingat perjanjianku dengan Luhan dan semua yang ku katakan hingga menyebabkan dirimu melakukan… Kau tahu, loncat dari gedung sekolah…” Air mata Sehun mulai turun. “Saat kejadian itu dan kau koma, aku merasa bersalah tetapi masih mengingat perjanjian itu. Tidak sampai kau membaca buku diary mu dan entah mengapa aku merasa sangat-sangat bodoh…

“Kemudian rasa bersalah yang sangat besar muncul dan aku merasa tidak pantas bersama mu. Aku tidak bisa melihat mu lagi atas perbuatanku sehingga, lagi-lagi, aku menyakitimu dengan menghentikan perjodohan kita. Saat kita bertemu lagi dengan Luhan dan ambisi Luhan, aku tahu aku sudah cukup bodoh selama ini. Tapi menghentikan semua ini rasanya juga sudah sangat terlambat. Aku senang ketika kau berpacaran dengan Luhan karena… Itu rasanya memudahkan ku untuk melepaskan mu.

“Anehnya aku malah tidak nyaman melihat mu dan Luhan bersama. Aku mulai berpikir lagi, jika aku tidak melihat kalian pasti semuanya akan lebih mudah. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengambil sekolah di luar negeri.”

Krystal kali ini memeluk Sehun. Ia berbisik, “Jangan pergi kumohon…”

“Setelah apa yang kulakukan?”

“Semua itu bukan salah mu Sehun…. Kau masih bodoh saat itu. Luhan masih bodoh. Aku juga masih bodoh. Itu salah kita. Tidak semuanya salah mu. Kau pernah berkata jika aku juga tidak peka dalam kondisi mu yang masih syok akibat perjodohan bodoh kita. Jangan terlalu menyalahkan dirimu.” Lanjut Krystal masih berbisik. Air matanya kembali turun.

Mendengar Krystal yang sudah mulai menangis, Sehun melepaskan pelukan mereka dan memegang wajah Krystal, “Berapa banyak kau menangis karena diriku?”

“Berapa kali aku membuat mu stress Oh Sehun? Ini semua bukan salah mu. Jangan pergi…”

Sehun menggelengkan kepalanya. Itu membuat tangisan Krystal langsung membesar. “Kita butuh waktu…” Ujar Sehun lirih. Ia mencoba memberikan senyumannya.

“Aku mencintai mu Oh Sehun.”

“Aku juga mencintai mu Krysal Jung.”

Satu baris kalimat yang selalu Krystal tunggu bertahun-tahun lamanya. Satu kalimat yang terus ia harapkan. Krystal mengeluarkan senyumnya. Melupakan seketika rasa sakit yang ia rasakan. Ia memejamkan matanya ketika Sehun dengan lembut menyatukan bibir mereka.

.

.

.

.

.

Sehun akhirnya pergi. Ia melanjutkan sekolahnya ke Jepang. Laki-laki itu pergi tepat dua hari setelah semuanya terungkap. Tidak ada Luhan yang mengantarnya. Krystal berharap Luhan juga tidak ada. Ia masih membenci Luhan. Walau ia sendiri berkata itu karena kebodohan masa kecil mereka. Sehun juga meyakinkannya seperti itu.

Hubungan ia dan Sehun sebelum pergi bisa dibilang baik-baik saja. Mereka tidak dalam hubungan berpacaran. Tidak. Krystal merasakan mereka seperti sahabat lagi. Meskipun tidak ada sahabat yang berciuman dan Sehun dengan bodohnya mencium Krystal di depan kedua orangtua mereka dan membuat Krystal menanggung malu setelah itu. Tunggu, apakah itu pertanda untuk kedua orangtua mereka?

“Woy!”

Krystal tersentak ketika melihat Kang Seulgi menaruh beberapa buku tebal yang pastinya buku sastra tingkat tinggi.

“Sedang apa?” Tanya Seulgi duduk dan memakai kacamatanya.

Krystal terkekeh, “Entahlah…”

Seulgi menggelengkan kepalanya dan membuka salah satu buku, “Galau? Aku tidak melihat Luhan beberapa hari ini. Bertengkar?”

“Kami sudah tidak ada hubungan lagi.”

Mendengar jawaban Krystal, Seulgi menghentikan kegiatan membacanya, “Okay.” Dan ia lanjut membaca bukunya.

Kali ini Krystal yang menggelengkan kepalanya, “Apa yang kau pikirkan Kang Seulgi?”

“Kau terlihat tidak seperti seseorang yang habis putus. Hahahahaha… Atau perasaan ku saja. Bagaimana dengan tuan brengsek Oh Sehun?”

“Jangan panggil dia brengsek. Hubungan kami sudah baik-baik saja.”

Seulgi kali ini menatap Krystal dengan tatapan terkejut. “Jadi…”

“Aku jamin itu tidak seperti yang kau pikirkan.” Seru Krystal yang sebenarnya tidak ingin mendengarkan teori menakjubkan Kang Seulgi. Ketika hp-nya berdering, Krysal tersenyum senang karena ia mempunyai cara untuk menghindari Kang Seulgi, “Aku harus mengangkat ini.”

“Dan kemudian bilang aku harus pergi karena ada urusan. Klasik.” Seulgi kemudian mendengus, “Sialan Professor Yang! Jika karena bukan salah sangka aku tidak akan bekerja rodi seperti ini selama dua minggu. Tidur saja tidak bisa apalagi berbicara dengan Soojung!” Sambil bersungut-sungut, ia kembali membaca buku.

“Seulgi, ingin ke mall? Aku ingin menonton…” Krystal sudah berbalik dan menatap Seulgi penuh harap.

“Kau tahu jika bukan karena salah sangka yang berhubungan dengan Im Jaebum aku tidak akan tetap disini dan membaca buku sialan ini? Aku memang pecinta sastra tapi tidak dengan harus membaca buku sastra selama dua minggu berturut-turut. Aku butuh hal-hal lain seperti tidur atau pergi ke mall atau apapun yang tidak berhubungan dengan buku dan laptop.” Setelah mengeluarkan unek-uneknya Seulgi mulai tersenyum, “Ayo.”

Ia mengambil tasnya dan merasa sangat malas harus mengembalikan buku-bukunya. “Biarkan saja…. Aku malas mengembalikannya.”

Krystal terkekeh melihat kelakuan temannya. “Terserah dirimu saja.” Jawabnya dengna lirih karena mereka di perpustakaan.

Seulgi mengandeng tangan Krystal dan menatap Krystal dengan penasaran, “Jadi katakan kepadaku Krystal Jung, apakah hubungan mu dengan Sehun hanya sebatas sahabat atau kau ingin lebih?”

Krystal mendengus. Lupakan teori menakjubkan Kang Seulgi jika temannya bisa menyimpulkan sendiri. Krystal dulu sempat bertanya-tanya kenapa temannya dapat menyimpulkan segala hal dengan luar biasa. Dan jawaban Seulgi sangat mudah, ‘Aku hanya menebak.’ Karena itulah Krystal menoleh dan tersenyum kepada Seulgi. Membiarkan temannya menebak.

.END.

Calm down guys…  There’s an epilogue, yang pasting di bayangan aku udah ada 3 epilog.  Dimana di 3 epilog terdapat sudut pandang tiga tokoh utama, Krystal, Sehun, dan Luhan.

First epilogue goes to Luhan….

And, i wanna say thank you to you guys…  All of you who already read this ff…  Thankyou so much!  See you soon…