Updated!

State of Grace (Chapter 25)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Suara sepatu Krystal sangat memperhatikan. Begitu pula dengan kakinya yang sudah membiru.

Brak!

Krystal akhirnya terjatuh ketika hak dari sepatu yang ia gunakan patah.

“Astaga, Krys!” Sehun yang mengejar Krystal langsung berjongkok. “Luruskan kaki mu…” Tanga Sehun terulur menyentuh kaki Krystal.

“Jangan!” Teriak Krystal parau. Menghentikan uluran tangan Sehun. “Jangan….” Katanya lagi.

Sehun terdetak melihatnya. “Krys…” Ia segera mendekat ke Krystal dimana Krystal mencoba untuk menjauh. “Ku mohon…” Katanya dan segera menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Tangisan Krystal meledak. Ia menangis di dalam pelukan Sehun. Tersedu-sedu disana.

Tes!

Air mata Sehun juga ikut turun. Sial! Dia baru saja, baru saja berjanji kepada gadis itu agar gadis itu tak tersakit. Sekarang gadis itu menangis akibat tersakiti.

“Kalian!” Seojoon menyusul mereka. Nafasnya terengah-engah. Melihat keadaan Sehun dan Krystal ia menghela nafas. Tanganya terulur ke kaki Krystal. Ia meluruskan kaki Krystal dan melepaskan sepatu Krystal.

Krysal memandang Sehun, tangisannya tidak sekeras tadi.

“Ayo kita pulang!” Ajak Sehun.

“Biar aku yang mengantarnya…” Kata Seojoon tiba-tiba. “Oemma dan Appa panik mencari mu. Ku sarankan kau tetap tinggal demi kenyamanan pesta. Serahkan Krystal kepada ku.”

“Aku tidak perduli hyung… Krystal pulang bersama ku!”

“Aku akan pulang bersama Seojoon oppa…” Krystal meringis tak kala ia bangkit. Ketika berdiri ia tidak terlalu seimbang. Seojoon dan Sehun segera memeganginya.
“Tapi Krys…” Sehun menatap Krystal dengan tatapan memohon.

Krystal menggeleng lemah, “Ku mohon… Kembalilah ke pesta…”

Sehun hanya bisa menghela nafas. Ia menatap Seojoon, “Aku percaya kepada mu hyung…”

Seojoon mengangguk sebagai jawaban.

Sehun kembali menghela nafas dan segera menjauh dari Krystal dan Seojoon.

.

.

.

.

.

Seojoon melirik Krystal yang masih diam memandang jendela. Tatapan gadis itu kosong. Tetapi Seojoon yakin, pikiran gadis itu pasti tidak kosong.

Seojoon berdehem, “Sudah sampai.” Katanya ketika Krystal menoleh.

Krystal mengerjap beberapa kali, “Oh?” Tatapannya segera menyapu sekeliling. Sedikit terkesiap ketika Seojoon benar.

Seojoon menghela nafasnya, “Kau tahu jika aku peduli padamu, Krys…”

“Aku tahu oppa…” Ujar Krystal parau. “Terimakasih telah mengantarkan ku pulang.” Krystal ingin keluar, tetapi Seojoon sama sekali belum membuka pintu mobil.

“Dengarkan aku terlebih dahulu…” Ucapan Seojoon membuat Krystal kembali menoleh ke Seojoon, “Aku tahu kau tidak suka membicarakan masalah mu ke sembarangan orang. Hanya orang-orang terdekat dan pastinya aku bukan merupakan orang itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita sana-sini. Hanya katakan apa yang kau pikirkan. Kau terlihat tertekan Krys. Dan aku tahu, ada satu hal yang terus berputar di otak mu dari tadi.”

Krystal memejamkan matanya, “Entahlah…”

“Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari mobil ini!” Ancam Seojoon.

Krystal akhirnya mendengus, “Kurasa…. Bisakah oppa menyampaikan ke Sehun agar menjauhi aku untuk beberapa hari ini? Maksudku—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon. “Aku mengerti maksud mu. Kau ingin waktu untuk berpikir dengan jernih bukan? Tentang masalah ini. Tentang ibu ku. Kau tahu jika Sehun mengejarmu malam ini, memohon minta maaf, kau akan luluh dan memaafkannya. Dan kau tidak ingin itu terjadi sehingga kau ingin waktu untuk meyakinkan perasaan mu bukan?”

“Aku yakin dengan perasaan ku!” Ucap Krystal masih parau. Air matanya mulai menggenang di matanya. Satu kerjapan akan membuat butiran-butiran jernih turun, “Hanya saja—“

“Aku mengerti.” Potong Seojoon lagi. “Sekarang masuklah ke dalam apartment-mu dan berpikir dengan waktu sebanyak yang kau inginkan. Akan ku sampaikan ke Sehun agar menjaga jarak dengan mu.”

“Terimakasih oppa…”

.

.

.

.

.

Hyung!” Teriak Sehun frustasi ketika Seojoon dengan santai keluar dari lift apartment membawa kopi di tangan kananya.

“Wow adik kecilku! Jangan bilang sedari tadi kau menunggu ku dengan mondar-mandir di depan lift?” Tanyanya santai.

Sehun menggaruk kepalanya frustasi, “Mana Krystal?”

“Oh…” Respon Seojoon santai. “Mana apartment mu?”

Sehun semakin bingung. Mau tidak mau dia mengikuti langkah Seojoon yang sok tahu tentang kamarnya.

“Sebelah kanan hyung!” Ucapnya dan menarik tangan Seojoon tepat di depan pintu apartment nya. “Sekarang mana Krystal?”

“Di dalam.”

“Hah?” Sehun tidak percaya tetapi cepat-cepat membuka pintu apartment nya dan masuk. Bodoh! Mana mungkin Krystal bisa disini?

Cklek~
Sehun berbalik ketika mendengar Seojoon mengunci pintu apartment nya, “Bercanda……” Ucapnya datar.

Sehun melongo sesaat. Rasa frustasi dan kesalnya hilang melihat tingkah laku kakaknya. “Maksud hyung…”

“Tentu saja Krystal di apartment nya. Kau cepat ganti baju sana dan siap-siap tidur.”

“Hyung…” Sehun mengerang frustasi, “Aku harus menemuinya segera. Apa maksud hyung menjauhkan ku dengan dia? Itu tidak masuk akal hyung. Sekarang cepat minggir dari pintu—“

“Jangan berlagak seperti anak kecil berumur lima tahun yang kehilangan mainannya.” Lagi-lagi Sehun terdiam melihat Seojoon. Seojoon melipat tangannya tepat di depan dadanya, “Dengar adik kecil ku, Krystal sangat tertekan akibat kejadian tadi dan kurasa ia mempertanyakan perasaannya.”

Sehun menatap Seojoon datar, “Jangan bercanda hyung.”

“Apa kau melihatku bercanda?” Seojoon kembali berkata, “Maka dari itu kusarankan kau mengikuti perkataan ku. Menjauhlah dari dia untuk beberapa saat. Tunjukan kepadanya kau menghargainya juga karena dia memintaku untuk mengatakan kepada mu agar kau menjauhinya.”

“Hyung… Jangan bercanda bisa?” Suara Sehun sangat melas sekarang.

Seojoon menggeleng mantap, “Tidak. Aku tidak bercanda. Kasihlah ia waktu. Aku percaya dia masih mencintai mu. Tapi perasaan ragu menyerangnya. Kalau kau mengikuti permintaan dia itu malah membuatnya lebih memikirkan mu kau tahu?”

Sehun sekarang menatap Seojoon tidak mengerti.

Seojoon menghela nafas, “Krystal masih mencintai mu. Dan aku tahu, kalau kau memohon kepadanya malam ini dia pasti akan memaafkan mu. Tapi itu memunculkan perasaan ragu di hatinya karena ia masih terbayang-bayang oleh Mommy.

Jika kau mengikuti permintaanya, aku memprediksi jika ia pasti menghitung hal itu dan itu mengalihkan perasaan ragu dari Mommy ke dirimu. Ia ragu karena dirimu begitu memperhatikannya. Makanya aku menyetujui permintaannya. Aku tidak seceroboh itu kau tahu? Hanya karena ia tertekan dan memohon kepadaku maka aku akan menurutinya? Aku juga mempertimbangkan dirimu…”

Sehun menghela nafasnya. Jujur, dia tidak tahu harus senang atau sedih. Menurutnya tetap saja hubungan dia dan Krystal tetap di ambang batas.

“Sekarang kau berganti baju dan tidur! Aku yakin sekali tubuh mu membutuhkan hal tersebut!”

.

.

.

.

.

Sehun tahu Seojoon menyuruhnya untuk menjauhkan diri dari Krystal. Tapi ia tidak bisa menahannya. Kalau ia menjauhkan diri butuh berapa lama Krystal kembali padanya? Ia tidak bisa berlama-lama. Apalagi pernikahan Seojoon empat hari lagi. Dipikirannya, ia dan Krystal akan hadir di pernikahan Seojoon dan dia tidak bisa menerima jika Krystal tidak hadir.

“Ingat pernikahan ku! Awas kalau tidak hadir! Sohee pasti akan marah besar kepada mu. Kami sudah bersusah-susah membuat pesta kecil. Mencari baju, makanan yang lezat, tempat indah, bunga-bunga cantik karena dirimu. Jadi kau harus hadir!”

Begitulah yang dikatakan Seojoon kemarin malam. Sebelum hyung nya pulang karena ditunggu oleh Sohee di kamar hotel. Menggelikan!

Sehun menyeruput kopinya dan menghela nafas. Kenapa ia lebih menyukai rasa greentea Krystal? Ia segera menghabiskan kopinya. Jam masih menunjukan pukul enam pagi dan dia masuk kerja jam sembilan. Kenapa ia buru-buru? Karena ia ingin ke suatu tempat sebelum ke kantornya.

Tigapuluh menit kemudian Sehun sudah sampai di depan apartment Krystal. Ia berdiam diri di dalam mobil. Haruskah? Kemudian ia menghela nafas dan mengambil handphone-nya. Langsung tersambung ke kotak suara.

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Kata Sehun mencoba untuk biasa saja.

.

.

.

.

.

Krystal bangun dengan mata bengkak. Ia melihat ke kaca, Astaga! Apa yang harus ia lakukan agar bengkaknya hilang? Tidak mungkin ia muncul di f(x) dengan mata sebengkak ini! Krystal segera mencuci muka. Memanaskan air untuk membuat teh. Kemudian membakar roti. Sambil menunggu, ia memilih pakaian yang akan ia gunakan hari ini.

Ting~

Suara nyaring dari pemanggang roti membuat ia segera mengangkat rotinya. Tak berapa lama kemudian suara nyaring dari kompornya. Ia segera mamatikan kompornya dan menuangkan air ke greentea nya. Sambil menunggu makanannya dingin ia memutskan untuk bersiap-siap. Mengganti bajunya dan memubuhkan make up di wajahnya. Terutama dibagian matanya.

Drrrt~
Krystal tersentak hebat ketika mendengar handphone nya berbunyi. Ia segera mencari handphone nya ditumpukan bantal tempat tidurnya.

Sehun.

Tangan Krystal terasa lemas seketika. Ia hanya melihati ponselnya hingga berhenti bergetar. Dan merasakan kelegaan luar biasa ketika handphone nya berhenti bergetar. Krystal segera meninggalkan handphone nya. Dia harus segera makan dan mengejar kereta bukan? Dia tidak ingin berdesak-desakan di rush hour.

Limabelas menit kemudian ia benar-benar siap. Krystal kembali melihat handphone nya. Merasa ragu ketika melihat ada pesan suara, dari Sehun tentunya. Ia menghela nafas kemudian membukanya,

“Hai… Apakah kau masih tidur?” Suara Sehun terdengar ringan seperti biasa. Krystal menahan nafasnya. “Aku tahu kau memintaku untuk menjauh Krys…. Aku minta maaf. Aku berjanji pada mu tetapi aku melanggarnya. Aku…” Terdengar hening sejenak, “Kau tidak harus membalas telepon ku atau sms ku atau apapun yang berhubungan dengan ku. Lakukanlah apa yang membuat mu nyaman. Kau tahu dimana aku akan selalu berada bukan?” Sambungan teleponnya terputus.

Krystal memejamkan matanya ketika bulir-bulir air matanya mendesak keluar.

.

.

.

.

.

“Aku… Tidak… Ingin… Pergi…”

Kai memijit pelipisnya melihat kelakuan temannya yang asyik meringkuk di tempat tidur. “Hey bodoh! Apa kau ingin merengek di depan seorang wanita?”

Yup! Ada Seulgi disini yang juga sibuk menghela nafasnya. Astaga, sejak kapan sepupu ‘tersayangnya’ ini jadi sangat baperan? Okay, Seulgi tahu jika Sehun menangis ketika putus dengan Wendy. Menurut Seulgi itu adalah hal yang wajar karena….   Sehun ketika itu diselingkuhi oleh Wendy. Tetapi uring-uringan di tempat tidur merengek karena Krystal adalah hal yang sedikit…. Bukan! Sangat memalukan!

“Ayolah Sehun…” Seulgi akhirnya membuka suaranya. “Kau tidak memikirkan perasaan Seojoon oppa dan Sohee oennie? Mereka mengadakan pesta ini karena dirimu ingat? Jangan mengecewakan mereka…”

Sehun akhirnya bangun dengan wajah sebal. “Tidaklah kalian mengerti? Aku galau karena Krystal!”

“Huahahaaahahaaa!!!” Kai memegang perutnya yang nyeri akibat tertawa. “Haaahaahaaaa!!!” Lanjutnya tidak mengindahkan tatapan horror Sehun dan Seulgi.

“Dengar Sehun…” Seulgi berbicara kembali. “Bisakah kau memikirkan perasaan Oppa dan Oennie sedikit saja? Jika begini caranya kau pasti yang akan disalahkan bukan Krystal. Karena kau yang tidak ingin datang.”

“Aku akan datang besok pagi!”

Seulgi menggeleng, “Tidak! Harus hari ini! Pernikahan mereka memang dua hari lagi tapi Sohee oennie meminta kita datang pada hari ini. Kau seharusnya bersyukur boleh pergi dari Seoul malam hari bukannya siang seperti yang direncanakan. Dan juga, apa maksudmu besok? Kau ingin berangkat pagi jam berapa? Dari Seoul ke Busan butuh waktu 4-5 jam! Mau jam berapa berangkatnya? Jam enam?! Asalkan acara fitting baju jam 9 pagi!”

Sehun berdecak sebal, “Kenapa mereka mengadakannya di Busan sih? Tidak bisa di Seoul–Arghhhh, yak! Kang Seulgi!” Sehun tidak bisa menyelesaikan omongannya karena Seulgi tiba-tiba menarik kuping Sehun.

“Jangan seperti bocah berumur lima tahun yang merengek karena tidak mendapatkan yang ia inginkan!” Seru Seulgi dengan nada dingin. Itu membuat Kai terkejut dan diam-diam meneguk ludahnya sendiri. Wow! Tipikal calon ibu yang tegas! Pikir Kai.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau harus pergi malam ini juga! Paling lama jam sepuluh malam! Aku akan membawa Seojoon oppa atau Sohee oennie pokoknya! Aku akan buat mereka marah-marah kepada mu!” Lanjut Seulgi mengeluarkan death glare nya.

Sehun meringis, “Yak Kang Seulgi…”

Seulgi melepaskan tangannya, “Aku pergi dulu ya!!!” Katanya kemudian tersenyum. “Ayo Kai! Kita tinggalkan dia!”

Kai menatap Seulgi bingung tetapi akhirnya menurut karena Seulgi menatapnya tajam. “Euhm…. Aku pergi dulu!” Ucap Kai ke Sehun.

Sehun menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon Krystal? Gadis itu pasti tidak mengangkatnya. Apalagi Krystal benar-benar mendiami Sehun dua hari ini. Sehun akhirnya menghempaskan dirinya lagi ke kasur. Menyebalkan!

.

.

.

.

.

Krystal menatap handphone-nya. Tidak ada telepon. Tidak ada sms. Hari ini benar-benar tidak ada apapun dari Oh Sehun. Ia menghela nafas. Sekarang ia harus bagaimana? Dia berjauhan dari Sehun karena ia pikir ia dapat berpikir rasional. Memutuskan hal yang tepat. Tetapi itu sama sekali tidak berdampak apapun terhadap hidupnya. Krystal masih ragu antara bayang-bayang Tifanny dan Sehun sendiri.

Krystal mengigit bibirnya, Kenapa ia mengharapkan Sehun menghubunginya? Krystal mendengus. Ini sangat irrasional.

“Hey Krys!” Amber tiba-tiba telah berada di sampingnya.

“Oh, Hai!” Balas Krystal kemudian tersenyum.

“Kau tidak ingin pulang? Jam kerjamu sudah habis bukan? Atau hari ini kau akan tampil di Café Onew Oppa?”

Krystal menggeleng, “Tidak aku akan langsung pulang.”

“Ada apa dengan mu?”

“Heh?” Krystal menatap Amber bingung.

“Kau selalu melihat handphone mu dua hari ini. Sesuatu terjadi?” Ucap Amber menjawab kebingungan Krystal.

“Oh…” Krystal kemudian terkekeh kecil, “Tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya…” Putus Krystal. Amber terlihat diam saja. Tahu jika sahabatnya tidak ingin diganggu.

Krystal sampai dirumah satu jam kemudian. Setelah memutuskan mandi ia pun langsung menuju ke jendela kamarnya. Gila, tapi Sehun selalu menunggu di bawah hingga pukul sepuluh malam. Katanya, ia ingin melihat wajah Krystal dan berharap Krystal ingin menyisikan sedikit waktunya untuk melihat ke bawah melalui jendela kamarnya. Awalnya Krystal tidak menghiraukannya dan memutuskan untuk tidur. Iseng-iseng mengintip, Sehun berada disitu dengan posisi kepala mendongak. Tersenyum ke Krystal dan melambaikan tangan. Yang membuat Krystal terkejut setengah mati dan langsung menutup kembali gordennya.

Jujur, pada saat itu ia ingin turun ke bawah dan menanyakan kenapa Sehun melakukan hal bodoh? Di luar selama berjam-jam. Bagaiana jika ia sakit? Tapi Krystal tidak bisa karena keraguannya.

Itu terjadi selama dua hari ini. Bukan itu saja. Sehun meneleponnya pagi hari. Mengingatkan dia untuk makan siang. Benar-benar… Krystal merasa Sehun tidak akan melepaskannya dengan mudah. Itu membuatnya bertambah pusing.

Ting tong~

Krystal mengerjapkan matanya ketika mendengar bel pintu. Siapa yang datang malam-malam begini? Sehun? Krystal kembali melihat ke arah jendela kamarnya. Tidak ada mobil Sehun. Kemudian ia melihat dari jendela ruang tamunya, tetap ia tidak melihat mobil Sehun.

“Krystal-ssi…”

“Oh Seulgi-yah?” Ujar Krystal ketika mendengar suara dari pintu. Seulgi? Kenapa dia ke sini? Sudahlah ia harus berpikiran positif. Seulgi pasti datang kesini sendiri bukan? Ia segera berjalan menuju pintu.

Cklek~

“Krystal!” Pekik Seulgi dan segera memeluknya.

Krystal terlonjak kaget. Tetapi dia membalas pelukan Seulgi. Setelah beberapa detik memeluk Seugli Krystal baru tersadar. Bahwa Seulgi kesini tidak sendiri.

.TBC.

Yang manis-manis ada di chapter depan.  See you there….

Flipped (Chapter 18)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kesempatan

“Krystal…”

Krystal menoleh tak kala ibunya memanggil dirinya dengan lembut.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya ibunya masih dengan nada lembut.

Krystal cepat-cepat mengangguk, “Tentu. Aku baik-baik saja.” Ia tersenyum. Hanya ada hal yang terganjal di benak ku.. Lanjutnya dalam hati. “Oemma tidak jadi ke tempat Imo?”

Oemma Krystal memandang anaknya ragu, “Bagaimana episode Criminal Minds nya?” Tanyanya karena Krystal sedari tadi asyik menonton tv di kamar rumah sakitnya.

“Oh, Reid tetap yang paling ganteng…” Jawab Krystal memuji salah satu tokoh di film tersebut, Dokter Spencer Reid.

“Kau tahu jika Spencer Reid tidak ada di situ. Ia pergi mengunjungi Oemma nya…”

“Oh?” Krystal mengerjap bingung sebelum ia menjawab, “Oemma tahu jika tidak ada yang paling ganteng kecuali Reid bukan?”

Oemma Krystal menghela nafasnya. Ia mengeluarkan handphone-nya, “Oemma akan pergi ke rumah Imo besok saja.”

“Aku tidak apa-apa….” Kata Krystal dengan nada sungguh-sungguh. “Oemma tidak perlu ragu untuk meninggalkan ku…”

Cklek~

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

“Luhan!” Sapa Krystal dengan ceria. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Luhan membalas lambaian tangan Krystal dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang bunga. Kemudian matanya menatap Oemma Krystal, “Ah, Anyeonghaseyo bibi…”

Ibu Krystal ikut tersenyum, “Hai Luhan…. Kau sangat rapih hari ini… Habis dari kampus?”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpakaian rapih ini hanya untuk bertemu Krystal sebenarnya. Juga, ia masih dalam penyembuhan tipes.

“Kau sudah pergi ke kampus? Bukannya kau masih dalam masa penyembuhan? Bagaimana jika kau sakit lagi?” Krystal menatap Luhan dengan mata menyipit.

“Aku baru saja dari dokter ku. Sebelum kesini aku membelikan bunga angrek untuk Krystal.” Elak Luhan.

“Angrek?” Tangan Oemma Krystal terulur ke angrek Luhan. Angrek yang Luhan bawa bewarna ungu, “Sangat indah bukan?”

“Dalam filosofi China angrek artinya ‘Semoga cepat sembuh.’” Seru Luhan sambil tersenyum. Ia berdehem, menghilangkan kegugupannya.

“Sangat indah…” Komentar Oemma Krystal. Ia pun masih asyik memandangi anggrek pemberian Luhan yang sekarang ia taruh di meja dekat kaca.

Hening sejenak, jujur Luhan bukan orang yang bisa memulai percakapan dengan orang baru dan di ruangan ini adalah ibunya Krystal.

“Luhan,” Seru Oemma Krystal tiba-tiba, “Bisakah kamu menjaga Krystal sebentar? Bibi ingin pergi sebentar saja. Sekitar satu jam.”

“Tentu.” Jawab Luhan tanpa berpikir dua kali. Sebuah kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan. Dengan ini dia dapat leluasa berbicara dengan Krystal. Termasuk mengutarakan perasaanya.

Oemma Krystal kembali tersenyum lebar. Ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah Krystal, “Oemma pergi dulu ya… Tidak akan lama. Oemma janji.” Ibunya kemudian mengecup kedua pipi Krystal. Tak lupa mengucapkan terimakasih ke Luhan sebelum pergi dari kamar.

Terdengar helaan nafas dari Krystal, “Akhirnya…. Aku bosan disini! Aku juga tidak mengerti kenapa aku disini. Ku rasa aku baik-baik saja!” Cerocosnya kemudian ia mengerjapkan matanya. Pipinya merona, “Hey, duduklah… Aku lupa menyuruh mu duduk. Kau masih berdiri tepat di tempat dirimu masuk.”

Luhan terkekeh melihat raut wajah Krystal. Ia menurut dan duduk di sofa yang letaknya tepat di ranjang Krystal.

“Bagaimana denganmu? Bukannya kau seharusnya lebih membutuhkan istirahat daripada ku?” Lanjut Krystal lagi.

Gadis itu tidak terlihat sakit sama sekali jika dilihat dari rupanya yang tidak pucat dan suaranya yang riang. “Tubuhku sudah lumayan sekarang. Tubuhmu lebih membutuhkan istirahat sepertinya. Kau mengalami shock kau tahu itu?”

Tatapan Krystal tiba-tiba meredup. “Ah, jadi kau tahu itu…” Itu menunjukan tentang kasus hilang ingatannya akibat kejadian ia meloncat dari sekolahnya.

“Aku…” Suara Luhan berubah panik.

“Tidak apa-apa.” Potong Krystal. Ia kemudian tersenyum walau menurut Luhan ia tetap terlihat sedih, “Itu terlalu memalukan bagiku sampai aku bingung bagaimana mengatakannya kepada mu. Aku selalu terlihat ceria ketika dulu dan aku ingin kau melihatku dengan cara itu.”

“Mungkin tidak seperti itu. Ketika aku datang aku tidak memikirkan adanya perubahan. Aku masuk dan bertindak seperti biasanya. Seperti dulu. Dan kau sebagai sahabatku tidak ingin menyakitiku sehingga seperti itu—“

“Tidak Luhan.” Potong Krystal lagi. “Aku membenci bagian dari masa itu. Makanya aku tidak ingin memberi tahu hal itu kepada siapa-siapa. Kau adalah orang dari masa yang paling membahagiakan dari ku dan aku tidak ingin menghancurkan masa-masa itu. Sejujurnya, Sehun bukan bagian dari itu. Aku dan Sehun terlibat sesuatu sehingga kami memutuskan komunikasi. Kedatanganmu membuat kami kembali bersatu dan sejujurnya aku senang akan hal itu. Karena kalian sahabat ku…”

Luhan tergugu sejenak mendengar penjelasan Krystal. Nafasnya memberat. Kata-kata Krystal hampir sama seperti kata-kata Sehun. Dia jadi semakin tambah salah. Segitu dia tidak peka terhadap sahabatnya?

“Luhan….” Suara lembut Krystal kembali menyadarkan Luhan. Ia mengeluarkan senyumannya lagi. Tapi kali ini terlihat tulus, “Jangan terlalu dipikirkan kata-kata ku. Kau adalah sahabat yang baik.”

“Kalau aku melebihi sahabat boleh tidak?” Tanya Luhan tiba-tiba. “Maksudku menjadi pacar mu?”

Kali ini Krystal yang terdiam. Jadi benar selama ini Luhan menyukainya? Dia melihatnya dengan jelas dan semua orang melihatnya dengan jelas. Entah mengapa hatinya tidak ingin Luhan mengatakannya. Dan dia tidak tahu alasannya.

Luhan kembali berbicara, “Aku menyukai mu dari dulu. Jika ingin jujur, aku menyukai mu sejak SD. Ketika Sehun mengenalkan dirimu padaku aku biasa saja. Tiba-tiba perasaanku kepada muncul saja. Tanpa alasan yang jelas. Aku telah jatuh cinta kepada mu. Dilain sisi aku juga tidak ingin menghancurkan persahabatan kita sehingga aku berjanji akan memberitahu mu ketika perasaan ku tidak berubah ketika dewasa. Dan perasaan ku tidak berubah ketika dewasa.” Luhan berhenti sejenak, “Maukah kau menjadi pacar ku?”

Luhan menyukainya sedari dulu? Kenapa dia tidak menyadarinya sedari dulu? Apakah dia terlalu buta karena Sehun sehingga dia tidak melihat Luhan? Kalau dipikir-pikir, alasan Luhan tidak mengungkapkan perasaannya dulu juga sama seperti dia tidak mengungkapkannya kepada Sehun. Dia hanya ingin dia yakin sebelum ia memberi tahu Sehun tentang hal itu.

Setidaknya ia yakin pada satu hal sekarang. Sehun tidak menyukainya dan kemungkinan ia bersama dengan Sehun juga kecil. Laki-laki itu akan terus menolaknya dengan alasan yang tidak akan Krystal ketahui sampai entah kapan. Sejujurnya, kenapa dia harus menunggu yang tidak pasti sedangkan yang pasti ada? Sudah seharusnya bukan ia menutup segala hal yang berhubungan dengan Sehun? Apalagi dengan ia mengingat semuanya, itu sudah sangat jelas.

Krystal menatap Luhan, “Ya, aku mau.”

.

.

.

.

.

Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapati benda yang di lempar dari Sehun. “Bunga?!”   Tanyanya dengan alis berkerut.

“Kau sakit bukan?” Kata Sehun acuh tak acuh kemudian segera merebahkan dirinya ke kasur Chanyeol.

“Cih, Apa-apaan itu?!” Chanyeol dengan asal melemparkan bunga pemberian Sehun ke lantai. Ia juga merebahkan dirinya lagi ke kasur. Tak lama kemudian matanya menatap Sehun tajam, “Apa maksudmu dengan aku sakit?”

“Sakit hati…” Balas Sehun sambil menerawang ke atas.

Chanyeol berdecak, “Bisakah kau tidak membahas hal itu?!” Ia kemudian menghela nafasnya.

“Jangan menjadi pengecut. Minta maaflah karena dirimu masih ada kesempatan.” Kata Sehun lagi dengan masih dengan tidak melihat Chanyeol.

Chanyeol mendengus, “Bagaimana bisa aku meminta maaf kalau ia tidak mengangkat teleponku? Atau kabur setiap kali aku ingin bertemu dengannya?” Chanyeol mengerang frustasi, “Itu sebenarnya hanya masalah kecil Oh Sehun. Aku tidak mengangkat teleponnya dua kali karena saat itu sedang di ruangan Professor Jung. Bagaimana bisa aku mengalihkan fokusku dari dosen galak itu?! Bisa-bisa skripsi ku tidak diterima olehnya dan harus mengulang lagi tahun depan. Seperti yang Junmyeon alami. Tapi dia berteriak marah-marah dan itu membuatku bingung. Tidak biasanya dia seperti itu. Ini pertama kalinya dia seperti itu.”

“Mungkin ada suatu hal yang membuatnya seperti itu. Seperti dia sedang mengalami hal yang buruk. Habis dimarahi oleh dokternya. Atau tersinggung oleh kalimat mu.”

Chanyeol terkesiap. “Tersinggung…..” Ia terlihat berpikir. “Aku hanya mengatakan jika waktu itu aku sedang menghadap Professor Jung. Tiba-tiba ia marah-marah. Sudah kubilang, itu bukan sangat dirinya.”

“Dan ini bukan sangat dirimu Park Chanyeol. Kau sangat pesimis. Ini baru dua hari kau mencoba meminta maaf dengan Sulli dan kau sudah menyerah sekarang? Ayolah…. Kau bisa lebih baik daripada itu.”
“Aku memberikan ia waktu agar ia agak tenangan. Baru aku muncul lagi. Lagipula kesempatan esok atau lusa pasti ada.”

Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap gumpalan awan yang dihiasi keemasan matahari dari jendela kamar Chanyeol. “Tidak ada yang tahu mengenai kesempatan. Tidak ada jaminan kau yang mengenalnya sejak dulu bisa bersamanya. Karena kesempatan bukan di tentukan oleh itu. Bukan di tentukan oleh waktu dan tempat. Tapi kesempatan ada karena adanya sebuah usaha. Seseorang yang lebih cerdas bisa memiliki kesempatan lebih besar daripada yang mempunyai segalanya tapi tidak tahu menggunakannya. Itulah kesempatan.”

Chanyeol menatap Sehun dalam. Suara Sehun yang tidak ada main-mainnya, tegas membuat ia menyeringit. Apa yang terjadi dengan temannya?

“Hey, kau juga punya masalah? Kau bisa bercerita padaku kau tahu itu?”

Sehun kemudian berdiri. “Bukan masalah besar sebenarnya. Lupakanlah. Masalahnya sebentar lagi akan selesai.”

“Apa ini tentang Krystal? Kau kehilangan kesempatan dari Luhan?”

Sehun seperti tidak mendengarkan pertanyaan Chanyeol. Ia hanya diam dan memakai jaketnya. Bersiap-siap untuk pulang.

Sebelum membuka pintu Sehun pun berkata, “Pada akhirnya, bukan aku yang tidak ingin menjilat ludahku sendiri. Tapi memang sudah terlambat bahkan harus menjilat ludahku sendiri.”

Pintu berdebum dan Chanyeol kembali sendiri ke kamarnya. Tatapannya masih tetap berada di tempat Sehun sebelumnya. “Ck! Apaan sih… Aku tidak mengerti!”

Dengan malas ia bangun dan mengambil bunga pemberian Sehun. ‘Oh, ada kartu ucapan rupanya.’ Chanyeol segera membaca kartu itu dengan cepat dan secepat itu pula dia menggeram, “Sialan! Aku tahu dia tidak pernah niat datang kepadaku untuk mendengarkan curhatan ku!”

Ia kembali melempar bunga pemberian Sehun ke lantai.

“Untuk Krystal, ku harap kau cepat sembuh. -Oh Sehun-“

.TBC.

Haiiii….

Sebelumnya aku minta maaf karena lama banget updated-nya.  Ada beberapa hal yang buat aku lama updated yang salah satunya adalah karena aku baru naik ke kelas 12 dan rasanya 😫  Baru permulaan tapi udah ingin nangis.  Jadi karena aku udah mulai bimbel 5 hari dalam seminggu (😅)  pulang sekolah sekitar jam 4 dan lanjut bimbel, intinya sampe rumah jam 8, buat ngelanjutin cerita rasanya malas dan ngantuk.  Dua minggu ini aku berkutat di depan laptop yang unjung-unjungnya cuman nulis berapa baris.

Kemarin dapat feel lagi buat nulis…  doain aja ya dapat terus feel nya…

Have a nice day~ 😇☺️😊

Oh, ya,  State of Grace chapter 27 kalau gak besok lusa….😉

Flipped (Chapter 17)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Di luar Akal

Hanya satu dipikiran Luhan sekarang. Krystal. Krystal. Krystal. Gadis itu benar-benar membuatnya khawatir. Tadi pagi ia baik-baik saja. Entah mengapa, kemudian dia tidak sadarkan diri. Begitulah informasi yang Luhan dapat dari Sehun.

Luhan awalnya menelepon Sehun untuk menanyakan kabar Krystal. Tapi malah digemparkan karena hal itu.

“UKS! UKS! Aku ingin ke UKS!” Kata Luhan ke perempuan di depannya.

“Oh, UKS?” Tanya perempuan di depannya bingung.

Luhan mengerang. Apa perempuan tadi tidak dengar? Ia akhirnya mengangguk.
“Di gedung itu lantai tiga…” Tunjuk perempuan tersebut ke sebuah gedung di samping kanan Luhan.

“Terimakasih!” Luhanpun segera berlari menuju gedung itu.   Bergerak cepat ke lantai tiga.

Dan….

Kosong…

Hanya ada satu perempuan yang tidak Luhan kenal. Dia terlihat panik sekali.

“Maaf….” Ucap Luhan memecah keheningan.

Perempuan tersebut yang tadi menatap jendela terlonjak kaget. Segera menoleh.

“Aku mencari Krystal Jung…” Kata Luhan lagi.

“Aku juga!!!” Teriak perempuan itu panik. “Tadi dia di sini. Sekarang menghilang! Benar-benar menghilang!”

“Apa?”

“Astaga! Aku harus mencari dia sebelum melakukan hal-hal aneh!”

“Apa maksudmu?”
“Kau tidak tahu? Krystal punya riwayat bunuh diri!” Seru perempuan itu histeris. “Astaga bagaimana jika sekarang dia ada di atap?! Aku harus ke atap sekarang juga!” Lanjutnya lagi.

Tangan Luhan menahan perempuan tersebut keluar, “Biar aku saja! Kau umumkan pencarian Krystal!”

Perempuan tersebut akhirnya mengangguk. Mereka berpisah. Perempuan itu ke bawah. Luhan ke atas, menuju atap.

Pikirannya sekarang terbebani satu hal lagi. Krystal punya riwayat bunuh diri? Tapi gadis itu terlihat baik-baik saja. Bahagia tanpa ada masalah apa-apa.

“Hosh… Hosh… Hosh…” Nafas Luhan tercekat ketika ia sampai di lantai atas. Masih lelah tetapi ia memaksakan diri berjalan lagi. Tangannya terulur ke pintu. Dia akan membuka pintu itu.

Deg!

Gerakan tangan Luhan terhenti. Pintu itu memiliki kaca kecil. Luhan dapat melihat dengan jelas jika Krystal dan Sehun berpelukan. Cengkraman tangannya mengencang. Krystal sesenggukan di pelukan Sehun. Sehun memeluk Krystal dengan mata terpejam.

Tidak tahu salah atau benar, Luhan benar-benar merasa cemburu akan hal itu. Ia menahan nafasnya. Ia harus menahan diri agar tidak membuka pintu dan menunjukan kecemburannya. Luhan tetap di pintu menunggu kadar kecemburuannya turun. Dia melihat Krystal dan Sehun. Entah berapa lama. Sampai isakan Krystal mengecil.

Sehun menunduk, berbicara sesuatu ke Krystal. Krystal sejenak menatap Sehun sebelum mengangguk. Dan mereka akhirnya berbalik, berjalan menuju pintu.

Luhan memutuskan untuk keluar.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan menutup pintu. Memaksakan muka ceria, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nadanya yang paling ia buat santai.

“Kau berhasil masuk rupanya…” Komentar Sehun.

Luhan menyunggingkan senyumnya, “Kau meragukan ku bukan?”

“Aku ingin pulang!” Seru Krystal tiba-tiba.

“Kau harus ke dokter terlebih dahulu… Memeriksa keadaan mu.” Balas Sehun membuat Luhan semakin tertegun.

Jadi Sehun mengetahuinya? Kenapa ia tidak bilang apa-apa? Dia merasa seperti yang paling bodoh di sini.

Luhan akhirnya membuka suaranya, “Biar aku temani dirimu ke dokter.”

“Bukannya kau harus istirahat?” Tanya Sehun tiba-tiba.

Luhan mendengus. Kenapa juga harus di ingatkan pada hal itu?

“Aku bisa menemaninya. Sakit ku tidak akan parah.” Kata Luhan masih bersikeras. “Kau akan ku temani ke dokter.” Lanjut Luhan ke Krystal.

“Ayo!”

Luhan diam sesaat mendengar jawaban Krystal.

“Kau bilang kau ingin menemani ku ke dokter bukan?” Krystal menoleh ke Luhan yang diam saja.
Luhan cepat-cepat mengangguk, “Baiklah tapi ada orang yang mencari mu tadi! Kurasa—“

“Biar aku saja yang mengurusnya. Kau pergi menemani Krystal.” Potong Sehun.

Luhan mengangguk. Ia dan Krystal akhirnya menjauh dari Sehun.

.

.

.

.

.

Cklek~

Pintu ruangan terbuka. Dokter Kim masuk dengan senyuman khasnya. Terlihat sangat gembira.

“Keadaan alat vital mu baik-baik saja.” Jelas Dokter Kim sambil melihat-lihat kertas yang dipegangnya. “Kau bilang kau pingsan tadi?”

Krystal mengangguk, “Ya. Ketika aku mengingat semuanya.”

“Itu hal lumrah. Tubuh anda mengalami shock sehingga Anda pingsan. Berapa lama Anda pingsan?”

“Entahlah. Satu jam mungkin?”

“Mengesankan!”

“Mengesankan?!”

Dokter Kim tersenyum ke Krystal, “Biasanya orang-orang akan pingsan selama berhari-hari. Itu mengesankan Krystal Jung. Apalagi alat vital mu baik-baik saja…”

Krystal menghela nafasnya, “Jadi aku boleh pulang?”

Dokter Kim menggeleng, “Tidak!”

“Tidak?!”

“Aku ingin melihat keadaan mu sampai tiga hari kedepan. Aku tidak ingin kau jatuh pingsan lagi secara tiba-tiba.”

“Aku tidak mau!”

“Krystal… Kau harus mengerti… Tubuhmu pasti masih bingung sekarang. Kau mengingat hal yang tidak ingin kau ingat. Apa kau lupa apa perkataan mu? Kau mengalami Repressed Memory. Amnesia karena tubuh mu tidak ingin mengingat hal itu dan sekarang kau mengingatnya! Kau tidak baik-baik saja! Hanya tiga hari dan sehabis itu kau boleh pulang!”

Krystal menghela nafasnya, lagi, “Baiklah…”

“Bagus!” Seru Dokter Kim. “Orangtua mu sudah menunggu di luar. Sebaiknya kau menjenguk mereka dulu!”

Krystal tersentak. Orangtuanya? Rasanya ia tidak ada menelepon orangtuanya tadi.

“Mereka?” Tanyanya memastikan.

Dokter Kim menoleh, “Iya. Mereka terlihat begitu khawatir tetapi juga senang.” Kemudian keluar dari ruangan.

Krystal menoleh ke arah pintu. Ia akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dokter Kim.
“Krystal kau membuat kami khawatir!” Cecar ibunya dan langsung memeluk Krystal.

“Oemma…” Krystal membalas pelukan ibunya.

Ibu Krystal melepaskan pelukannya, “Kau kenapa tidak menghubungi kami tadi?! Untung saja Sehun menelepon kami!”

Sehun?!

.

.

.

.

.

Suasana hati Luhan sama sekali tidak membaik. Dia masih dipenuhi dengan perasaan cemburu. Apalagi ketika orangtua Krystal datang karena Sehun menelepon mereka. Bodoh juga karena ia tidak mengingat hal itu, menelepon orangtua Krystal. Tapi ia benar-benar sedang cemburu ke Sehun.

“Aku tidak ingin mengkhawatirkan kalian!” Kata Krystal menjawab pertanyaan ibunya. “Lagipula keadaanku tidak apa-apa.”

“Luhan terimakasih telah mengantarkan Krystal!”

Luhan terkejut setengah mati mendengar ayah Krystal berbicara.

“Tidak apa-apa Samchon. Aku dengan senang hati melakukannya.”

“Kau benar-benar teman yang baik!”

Luhan tersenyum menanggapi perkataan ayahnya Krystal.

“Ku dengar dari Krystal kau sedang sakit. Sebaiknya kau pulang Luhan!” Kata ayah Krystal lagi.

Luhan mengangguk tak ingin membantah. Pastinya dengan ada orangtua Krystal keadaan Krystal baik-baik saja. Jadi, Luhan dapat mengurus hal lain. Termasuk menanyakan tentang hal-hal yang ia tidak ketahui mengenai Krystal ke Sehun.

.

.

.

.

.

Suara dentingan pintu menyebabkan Luhan menoleh. Ia mengangkat tangannya sebagai tanda agar Sehun datang kepadanya.

“Aku terlambat?” Tanya Sehun ketika duduk.

“Aku yang terlalu cepat.” Jawab Luhan pendek. “Ngomong-ngomong, kau tidak ingin memesan terlebih dahulu?”

Sehun menggeleng, “Aku tahu kenapa kau memanggil diriku disini. Jujur, aku sangat lelah. Jadi aku tidak ingin berlama-lama disini.”

“Kenapa?” Tanya Luhan menatap Sehun.
Sehun menghela nafasnya, “Kenapa aku tidak memberi tahu mu tentang Krystal?”

Luhan mengangguk, “Kau harus tahu aku seperti orang bodoh tadi!”

“Kau harus tahu banyak yang terjadi ketika dirimu pergi.” Sehun mengangkat tangannya ketika Luhan ingin berbicara, “Tunggu. Jangan bantah aku dulu. Banyak hal terjadi. Termasuk kepada Krystal dan aku.”

“Tapi Krystal mencoba untuk bunuh diri sebanyak dua kali. Kau seharusnya memberi tahu kepada ku!”
“Kenapa aku harus memberi tahu kepada mu?” Sehun mendesah. “Kau ingin aku jujur?”

Luhan terdiam.

“Baiklah. Aku dan Krystal tidak pernah berhubungan selama dua tahun. Kami berhubungan kembali sejak kau datang. Gadis itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah. Jadi, apakah aku harus mengatakan kepada mu? Di saat aku dan dia harus bertingkah baik-baik saja di hadapan mu?”

Sehun kembali berbicara, “Lagipula jika aku mengatakan sebenarnya kepadamu, tentang hal ini, kau akan percaya kepadaku?

“Kau seharusnya tetap memberi tahu ku!” Luhan tetap bersikeras.

“Apa yang terjadi pada mu?!” Sehun berteriak frustasi.

“Yang terjadi pada ku?!” Balas Luhan sambil berteriak. Beberapa pelanggan melihat ke arah mereka. “Aku frustasi Sehun. Aku sendiri yang tidak tahu apa-apa tadi! Kau tahu! Sedangkan aku hanya diam mengikuti alur!”

Terdengar dengusan, “Kau cemburu dengan ku?” Tanya Sehun tajam. Wajahnya memerah menahan amarah. Terdengar gertakan giginya. “Bagaimana bisa?”

Luhan seketika memandang Sehun bingung.

“Bagaimana bisa kau cemburu pada ku? Apa belum cukup?”

“Belum cukup?”

“Iya!! Belum cukup!!” Teriak Sehun kepada Luhan. “Apa belum cukup? Kau pernah tidak menghargai ku Luhan? Sebaiknya mulai sekarang kau harus. Kau bisa saja sekarang berjalan di belakang ku dan Krystal sedangkan aku disampingnya. Tapi lihat!! Kau berada di sampingnya dan aku berada di belakangnya!”

Setelah itu, Sehun segera meninggalkan Luhan yang terdiam cukup lama. Luhan memandang kepergian Sehun. Astaga! Apa yang baru ia lakukan kepada sahabatnya Oh Sehun?!

.

.

.

.

.

Sehun mengerang frustasi. Matanya yang ia coba ia pejamkan tidak bisa terpejam secara sempurna. Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengambil hp, dan melihat jam. Astaga…. Masih jam satu! Ini semua karena ia tertidur sangat cepat. Jam lima sore. Mungkin karena rasa lelah akibat hari ini. Salah, hari kemarin! Intinya, ia tertidur begitu ia menghempaskan tubuhnya di kasur, tentunya setelah berganti pakaian.

Dahinya berkerut ketika ia juga menemukan missed call dari Luhan. Luhan ternyata mencoba menghubunginya dari pukul enam sore sampai… Lima menit yang lalu?!

Ting!

Sehun tersentak ketika handphone-nya berdenting.

From: Luhan

            Sudah tidur?!

Untuk kedua kalinya, handphone berdenting.

            From: Luhan

            Jika belum aku telepon lagi..

Dan benar, Luhan kembali meneleponnya.

“Belum tidur?” Kata Luhan ketika Sehun mengangkatnya.

Sudah. Sudah bangun malah. Kau bukan yang belum tidur?” Sehun kembali merentangkan tubuhnya di kasur.

Belum…” Jawab Luhan jujur. “Aku memikirkan kata-kata mu…”

Sehun menghela nafas. “Kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh.”

“Aku juga maksud ku…” Luhan terdiam sejenak, “Aku menganggap mu sahabat bukan bahkan melebihi itu. Aku sangat mempercayai mu. Aku hanya cemburu. Kelewat cemburu. Juga tidak berpikir jernih.”

“Aku tahu.”

“Maka dari itu aku ingin meminta maaf…”

“Kau tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi kau terlihat sangat tersinggung ketika aku bilang aku cemburu kepada mu. Ketika kau mengutarakan alasan mu kau benar Sehun.”

“Luhan…” Sehun berusaha menghentikan omongan Luhan. Ia memejamkan matanya, “Aku juga minta maaf.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Karena jujur, kau tidak pernah melakukan kesalahan.”

Sehun menarik sudut bibirnya. Tidak pernah melakukan kesalahan? Justru ia rasa ia tidak pernah melakukan hal yang benar.

Hening beberapa saat.

“Aku juga ingin memberi tahu mu sesuatu….” Kata Luhan tiba-tiba. “Karena kau sahabat ku,” Katanya lagi, “Aku ingin memberi tahu jika aku akan menyatakan perasaan ku pada Krystal secepatnya. Mungkin lusa? Atau besok?”

Sehun tiba-tiba mencengkram handphone-nya, “Kau yakin?”

“Aku yakin!”

Terdiam beberapa saat, Sehun berdehem, “Wow, aku senang mendengarnya…” Ujarnya dengan datar. “Aku mendoakan yang terbaik kau tahu?”

.TBC.

A/N:

Cerita apa ini….  🙈  Saya akhir-akhir ini sedikit bermasalah sama ide cerita di semua ff… Saya akan bersemedi sebentar untuk menemukan ide ☺️😇

State of Grace (Chapter 24)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sorak tepuk tangan menghiasi lantai dansa. Krystal mengundurkan diri dari hadapan Sehun. Ia kembali ke teman-temannya.

“Kyaaa….” Teman-teman Krystal berteriak menyambut Krystal.

Krystal meringis. Tentu dia sudah tahu apa maksud teman-temannya.

“Kau masih hidup bukan? Masih bernafas?” Hyeri menghampirinya.

Krystal mendengus, “Apa maksud kalian?”

“Kalau tidak salah tadi dirimu yang sama sekali tidak semangat berdansa!” Eunji melipat kedua tangannya, “Tapi kau mendapatkan Oh Sehun…”

“Itu hanya kebetulan!” Dalam hati Krystal meringis. Kebetulan apa? Ia yakin Sehun memang sudah menargetkannya dari awal. “Jangan berlebihan teman-teman…”

Choa mengerang, “Ugh! Kami tidak bisa Krystal!”

“Aku memotret mu! Kau mau melihatnya?!”   Chanmi mengeluarkan handphone-nya.

Krystal terperanjat. Ini… Dia mengambil handphone Chanmi. Teman-temannya juga ingin melihatnya.

“Kalian terlihat seperti sepasang kekasih!” Komen Eunji.

“Ya ampun… Ini sangat romantis!”

“Cara dia menatap mu Krystal! Dia adalah laki-laki yang hangat!”

“Beruntung sekali yang menjadi kekasihnya!”

Krystal terdiam melihat potretan Chanmi. Bagaimana bisa seperti ini? Maksud Krystal, ia hanya menatap Sehun sekali. Itupun dengan tatapan yang ia usahakan seperti biasa. Tetapi di foto ini sangat kentara.

Chanmi mengambil handphone-nya, “Aku akan mengirimkannya kepada dirimu, Krys.”

Krystal hanya terdiam.

“Permisi semuanya…”

Tiba-tiba hening ketika suara Tifanny terdengar. Tifanny kembali di atas panggung.

“Ku harap kalian menikmati pesta pembukaan ku…” Lanjut Tifanny sambil tersenyum. “Sebelum kita melanjutkan pesta ini, izinkan saya untuk mengucapkan terimakasih terlebih dahulu… Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat yang telah mendukung saya, yang selalu memberikans saya saran. Terimakasih kepada Kim Taeyoen, Kim Hyoyeon, Im Yoonah, Kwon Miran, dan Min Hyorin.”

Orang-orang yang disebutkan oleh Tifanny mengangkat gelas mereka. Hadirin yang lain bertepuk tangan.

“Juga, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga saya. Suami Saya Oh Siwon dan anak saya Oh Sehun!”

Para hadirin kembali bertepuk tangan. Kali ini sangat keras. Tidak disangka-sangka, Siwon dan Sehun maju ke panggung. Mereka membungkukan badan mereka, menyapa para hadirin yang lain.

“Terimakasih kepada semuanya yang telah hadir disini…” Kata Sehun tanpa disangka-sangka.

Krystal terperangah untuk beberapa saat. Apalagi ketika melihat Sehun tersenyum.

“Aku baru ingat!” Tifanny kembali berbicara. “Sehun disini bersama kekasihnya!”

Krystal menahan nafasnya. Kekasihnya? Dia? Ia tertawa dalam hati. Tifanny mengakuinya atau….
“Biar kupanggilkan dia untuk datang ke panggung.”
Sehun terlihat bingung. Ia berbicara sesuatu ke Tifanny yang juga ditimpali oleh Siwon. Tifanny terlihat tidak peduli.

“Kemana dia ya?” Kata Tifanny lagi. Mata menyapu kerumunan, “Ah, itu dia!”

Jantung Krystal serasa meledak ketika mendengar lanjutan kalimat Tifanny.

.

.

.

.

.

“Krys, kau baik-baik saja?” Tanya Eunji yang melihat Krystal tiba-tiba pucat.

Krystal menoleh. Ia menghirup nafas, setelah beberapa detik tidak. “Baik…” Katanya serak. “Aku baik-baik saja…” Lanjutnya masih sama.

“Kau terlihat tidak.” Kata Eunji masih memperhatikan Krystal.

Krystal menggeleng lemah. “Tenang saja..” Ia kembali menatap ke panggung. Menahan getaran di tangannya seiring dengan Wendy berjalan mendekat.   Senyuman Wendy sangat indah apalagi gaunnya. Krystal mengigit bibirnya. Gaunnya pasti mahal tidak seperti gaun miliknya.

Tifanny kembali berbicara. Tapi kali ini Krystal tidak mendengarkan. Ia bahkan sudah mengalihkan tatapannya dari panggung. Menahan diri tidak menatap Sehun dan berusaha masuk ke pembicaraan teman-temannya.

Chanmi heboh, “Jadi itu kekasihnya?”

“Dia anak Kwon Miran kalau tidak salah…” Eunji kemudian kembali menoleh ke Wendy, “Tapi tidak mempunyai bakat melukis sama sekali…”

“Jangan-jangan mereka bertemu karena latar belakang orangtua mereka?” Tanya Minah.

“Ah, so sweet…” Seru Hyeri.

“Berarti Krys, tadi dirimu sudah termasuk sangat beruntung!” Pekik Seolhyun melihat Krystal.

“Tapi mengapa Sehun mau mengajak Krystal berdansa jika ia sudah punya kekasih?”

Ucapan Chanmi membuat semua menoleh ke Krystal. Krystal terdiam beberapa saat. Kenapa? Karena itu hak-hak Sehun. Dia bahkan tidak tahu jika Wendy disitu. Kalau boleh jujur, dia juga berhak berdansa dengan Sehun. Dia kekasihnya! Kekasih sebenarnya yang tidak diakui oleh ibunya! Krystal mengerjap. Berusaha menghalau air matanya yang ingin terjatuh. “Aku… Tidak… Tahu…” Jawab Krystal pada akhirnya.

“Itu benar. Mana dia tahu. Yang tahu alasan sebenarnya adalah Sehun bukan?” Tanggap Eunji. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan alasannya. Menurutku itu hak-hak Sehun juga. Itu tidak jadi masalah jika Wendy tidak keberatan. Buktinya Krystal baik-baik saja, berarti Wendy tidak keberatan bukan?” Lanjutnya memberikan beberapa alasan.

Tepat setelah itu, alunan musik kembali terdengar. Membuat semuanya menoleh ke atas panggung. Ketika itu Sehun menatap Krystal. Krystal segera mengalihkan pandangannya dari tatapan Sehun. Ia melihat Tifanny dan Siwon mulai berdansa. Suasana jadi sangat canggung sekali di panggung. Dengan Sehun dan Wendy di situ.

“Berdansa! Berdansa! Berdansa!” Teriak orang-orang melihat Sehun dan Wendy.
“Ayo berdansa!!! Apalagi yang mereka tunggu?!” Teriak Chanmi greget melihat mereka.

Sehun terlihat enggan. Ia menggelengkan kepalanya. Masih berusaha tersenyum. Cepat-cepat turun dari panggung. Menjauhi Wendy.

“Ayo berdansalah dengan Wendy!” Seru Tifanny tiba-tiba menghentikan Sehun.

“Ayo!!!!” Krystal menoleh ke teman-temannya, teman-temannya pada menunggu. Krystal menggigit bibirnya. Ini tidak baik. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke panggung.

Wendy mendekat ke Sehun dan menarik Sehun agar berdansa dengannya. Krystal tidak dapat melihat ekspresi Sehun. Semua orang bersorak gembira melihatnya, kecuali Krystal tentunya.

Setelah itu, beberapa teman-temannya ikut lagi berdansa. Krystal terdiam. Ia menghela nafas. Ia hanya ingin pulang sekarang. Diam-diam ia pergi dari ruangan dansa. Berjalan gontai menuju mejanya yang sangat sepi. Semua orang menikmati dansa kecuali dia.

Krystal kemudian duduk. Pandangannya mengabur. Ia menutupi mukanya.

Tes!

Tes!

Air matanya mulai berjatuhan. Sial! Rasanya sakit sekali melihat Wendy bisa berdekatan dengan Sehun. Sedangkan dirinya harus menahan diri agar bisa berdekatan dengan Sehun.

“Ini…” Krystal mendongak mendengar suara seseorang.

Seojoon tersenyum lembut. Memberi sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya.

.

.

.

.

.

Seojoon sudah bilang ke Sehun. Tifanny pasti akan menyerang Krystal disana. Tidak secara langsung. Tapi melalui Sehun.   Ucapannya terbukti benar.

Dari bangkunya, Seojoon menoleh ke arah Krystal di ujung sana. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja––dari jangkauan tempat duduknya––.
“Apa yang Tifanny lakukan?” Ucap Donghae khawatir melihat ia mengumumkan Wendy sebagai kekasih Sehun. Laki-laki disampingnya terlihat sangat marah.

“Aku tidak tahu paman.” Jawab Seojoon jujur. “Tapi jika seperti ini berarti ada yang harus ku urus.” Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Krystal, tidak terlalu dekat tetapi dapat melihat ekspresi wajah Krystal.

Gadis itu berusaha menahan semuanya. Ia tetap disitu. Saat Sehun turun dari panggung, ia tetap disitu. Sampai Wendy dan Sehun mengajaknya berdansa. Krystal terdiam cukup lama. Tiba-tiba ia berbalik.

Seojoon mengikuti Krystal. Gadis itu duduk di bangkunya. Menelungkupkan tangannya di wajahnya. Bahunya mulai bergetar. Seojoon menghela nafas. Ia berjalan mendekati Krystal. Mengeluarkan sapu tangannya.

“Ini…” Katanya menyodorkan sapu tangannya ke Krystal.

Krystal menatapnya. Hal itu membuat Seojoon tersenyum, memberikan sapu tangannya ke Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…”

Krystal cepat-cepat menghapus air matanya, “Oppa?!”

Seojoon duduk di samping Krystal, “Tidak apa-apa jika kau ingin menangis…” Katanya lagi.

Krystal menghela nafasnya, “Menangis di depan orang bukanlah kesukaan ku.” Katanya jujur. Ia menatap Seojoon, “Aku orang yang suka tenggelam dalam kesedihanku. Kemudian merasa baikan ketika aku selesai menangis.”
Seojoon menganggukan kepalanya, “Seseorang memang butuh menangis Krys. Kau tahu, menurut Psychology, seseorang wanita menangis jika ada yang salah dan merasa benar ketika ia selesai menangis. Kau tidak perlu malu akan hal itu.”

“Entahlah…”

Ia tersenyum. Setidaknya Krystal tidak terlalu rapuh seperti tadi, “Jadi, ingin berdansa dengan ku?”

Krystal menatap Seojoon bingung.

“Aku tadi memprediksi hal ini ke Sehun. Jika Tifanny akan menyiksamu melalui Sehun. Dan ia melakukan hal itu dengan mengenalkan Wendy. Aku memprediksi jika kau tidak kembali lagi ke sana, Sehun akan segera kesini untuk mencari mu. Aku juga memprediksi dia lagi melihat segela arah mencari mu. Jadi…”

Krystal menundukan kepalanya, “Baiklah…” Ia dan Seojoon bangkit. Menuju kembali ke tempat berdansa dan mulai berdansa.

Sepanjang ia berdansa, ia berusaha untuk tidak melihat Sehun dan Wendy. Rasanya terlalu menyakitkan.

“Apa kau tahu jika Sehun sadari tadi menatap mu?”

Krystal menoleh ke Seojoon dengan tatapan bingung. Ragu-ragu, melihat ke Sehun dan… Seojoon benar. Sehun sedang melihat ke arahnya. Cepat-cepat Krystal mengalihkan pandangannya.

Seojoon kembali berbicara, “Kau lihat tangan Sehun? Dia menyalurkan segala emosinya dalam cengraman tangannya. Aku bingung kenapa Wendy tidak meringis sama sekali…”

Krystal melihat tangan Sehun yang sangat terkepal.

“Aku juga bingung kenapa ia sangat berani menatap Sehun. Sehun sama sekali tidak ingin menatapnya!”
Krystal menunduk. Dia diam-diam tersenyum, “Oppa tidak harus menghina Wendy agar membuatku tersenyum….”

“Setidaknya aku tahu apa yang akan membuat mu tersenyum.”
Krystal mendongak melihat Seojoon, “Oppa!” Dia tersenyum.

Seojoon ikut tersenyum, “Apalagi ya agar kau tertawa? Bagaimana jika kita berdoa agar leher Wendy sakit sehabis ini? Atau ada tulangnya yang salah akibat ia terus mendongak?!”
Jahat memang. Tapi Krystal tertawa mendengarnya.

“Hak sepatunya patah? Gaunnya terinjak?”
Lagu selesai. Seojoon melepaskan tangan Krystal. “Kau tersenyum lebar lagi…”

Krystal menggelengkan kepalanya.

“Sehabis ini kau duduk bersama ku okay? Untuk jaga-jaga. Entah apa yang akan ibuku buat sehabis ini.” Tanpa persetujuan atau apa, Seojoon menarik tangan Krystal.

.

.

.

.

.

Wendy bersumpah, ia membenci Krystal Jung. Sangat membencinya. Lihatlah sekarang! Karena gadis itu Sehun tidak menatapnya sama sekali! Lehernya pegal karena terus mendongak menatap Sehun dan Sehun sama sekali tidak membalasnya! Wendy bersumpah jika sekarang Sehun sedang menatap Krystal Jung.

Bagaimana Wendy tahu? Karena ketika Krystal Jung mulai berdansa dengan laki-laki yang tidak ia kenal, cengkraman tangan Sehun mengencang. Oh, itulah kenapa ia mencari-cari siapa yang Sehun tatap. Karena cengkraman tangan Sehun sangat kencang hingga tangannya dipastikan memerah.

“Sehun!” Wendy mencoba memanggil Sehun.

Tidak ada respon.

“Sehun!”

Masih sama, tidak ada respon.

“Aw!”

Wendy yang kesal akhirnya menginjak kaki Sehun. Membuat pemilik kaki tersebut meringis.

“Apa?!” Tanya Sehun tajam.

Prok! Prok! Prok!
Lagu dansa selesai. Sehun dengan cepat melepaskan tangan Wendy. Ia dengan cepat berjalan melewati Wendy.
“Tunggu!” Wendy terpakasa mengekor dari belakang. Sedikit tergesa-gesa karena jalan Sehun yang sangat cepat.

Hyung!” Sehun memanggil seseorang. Orang tersebut sedang duduk dan akhirnya berdiri.

“Sehun siapa dia?” Tanya Wendy dan melingkarkan tangannya di tangan Sehun.
Sehun menatap Wendy risih.

“Oh Seojoon.” Ucap Seojoon tiba-tiba. Melihat gelagat Sehun, sepertinya adiknya akan menyemburkan semua emosinya kepada Wendy. “Nama ku Oh Seojoon.” Katanya sekali lagi.

Wendy menunduk, “Aku Wendy Son…”

“Aku tahu.” Ujar Seojon santai.

“Dari mana Anda tahu?” Wendy bingung. “Apa kita pernah bertemu.”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Di sini.”

Wendy menghela nafasnya. Astaga…. Cukup Sehun yang membuat kesabarannya habis. Lelaki ini tidak usah membuat kesabarannya habis.

Seojoon terkekeh, “Tentu saja tidak pernah. Jika pernah Anda pasti tidak menanyakan siapa saya.”

Nah, ucapan Seojoon malah semakin membuat kesabaran Wendy menipis. Mata Wendy kemudian teralihkan dengan perempuan yang duduk bersama Seojoon. Krystal Jung rupanya.

Wendy tersenyum, “Oh, Krystal? Kenapa kau disini? Bukannya kau seharusnya bersama teman-teman mu?”

“Diamlah dan pergi dari sini!” Sehun menatap Wendy tajam.

Wendy semakin kesal. “Kau menghabiskan waktu dengan lelaki lain? Ku kira kau sudah punya kekasih. Tidak kusangka jika—“

Argh!”

Wendy meringis tak kala Sehun menamparnya.

“Sehun…” Ucap Wendy tidak percaya.

Seojoon menghela nafasnya. “Sehun… Ingat apa yang ku katakan tadi…”

Sehun mengertakan giginya, “Ini terakhir kalinya ku katakan. Pergi dari sini sekarang!”

Tatapan Wendy menyalak, “Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Apa yang salah?!”

Sehun mengerang, “Kau…”

“Sehun…”   Krystal bangun dan menyentuh pundak Sehun. Membuat Sehun menghentikan langkahnya yang sedikit lagi siap menghajar Wendy.

Wendy terpana. Lagi-lagi tatapan Sehun ke Krystal. Kekesalnnya semakin menjadi-jadi.

Byur!

Refleks, Wendy menyiramkan sampanye terdekat yang bisa ia jangkau ke Krystal. Semuanya tersentak hebat.

“Ada apa ini?” Tepat sebelum situasi semakin runyam, Tifanny datang. Menembus kerumunan yang lain. Matanya menatap tajam Krystal ketika melihatnya.

Seojoon menghela nafasnya. Sepertinya suasana malah akan semakin tambah runyam.

“Pergi dari sini!” Seru Tifanny ke Krystal. “Kau membuat keributan disini jadi cepat pergi dari sini!”

“Tapi Wendy lah yang membuat keributan! Krystal sedari tadi hanya diam!” Seru Sehun kepada Tifanny. Ia kemudian menarik tangan Krystal. Membuat Krystal berada di sampingnya, “Krystal akan tetap disini. Bersama ku!”

“Wendy tidak akan membuat keributan jika tidak ada dia!” Tifanny masih tidak ingin mundur. Dia menunjuk ke arah Krystal, “Aku bos mu bukan? Turuti perintah ku!”

Mommy bukan bos Krystal lagi. Dia sudah mommy pecat bukan? Jadi sekarang hak-hak dia ingin berada disini atau tidak!”

Tifanny menatap Krystal semakin tajam, “Wanita jalang! Lihat yang kau buat? Kau membuat anak ku berpihak kepada mu!” Ia kemudian mengerang. “Aku membenci mu!”

Semuanya terkejut mendengar perkataan Tifanny, bahkan Wendy sekalipun. Tak disangka-sangka juga, air mata Krystal turun.

Krystal segera menghapusnya, “Aku pulang duluan. Permisi…” Ia membungkukan badannya dan segera pergi dari situ.

.

.

.

.

.

“Krys, ada apa?” Eunji panik melihat Krystal berlari dari ruangan dansa. Tanganya mencekal tangan Krystal.

Krystal menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku harus pulang!” Ia kemudian melepaskan cekalan tangan Krystal.

“Hei—“ Eunji ingin mengejar Krystal jika saja ia tidak melihat pemandangan yang sangat unik. Oh Sehun juga ikut mengejar Krystal.

“Hey, bukan kah itu Krystal?” Seru Choa melihat Krystal keluar. “Kenapa dia? Pulang?”

Eunji mengangkat kedua bahunya, “Entahlah. Dia seperti sangat tertekan.”

“Akhir-akhir ini ku lihat dia juga sangat tidak bersemangat.” Choa kemudian menghela nafasnya, “Ku harap dia tidak keluar. Aku menyukainya.”
Eunji menganggukan kepalanya, “Dia orang yang asyik.” Kemudian matanya menyapu arah lain, “Kemana teman-teman kita yang lain? Apakah mereka sudah selesai muntahnya?”

“Ku rasa kita harus menyusul mereka ke toilet.” Terdengar gerutuan dari Choa, “Mereka ini! Tidak bisa mabuk malah mabuk!”

.TBC.

A/N:

Disetiap kepahitan kan ujung-ujungnya akan hilang…..  Mungkin beberapa chapter akan ada pahitnya tapi juga akan ada manisnya..  We’ll see…  

Flipped (Chapter 16)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Kenangan dan Ingatan Masa Lalu

Dia tidak pernah merasakan seputus asa ini. Semuanya.

Dia pikir dia bisa mengatasi semuanya. Tetapi seharusnya ia tahu. Ia bahkan tidak bisa mengatasi hal yang terjadi sekarang. Apalagi hal-hal yang berkaitan dengan masa lalunya yang terbungkus rapi.

Ingatan mu adalah pertahanan dirimu. Jika itu hancur maka kau juga akan hancur! Disinilah dia sekarang. Kembali lagi ke titik awal kehancurannya. Ia, benar-benar akan hancur.

“Krystal tunggu!”

Selamat tinggal dunia!

***

Krystal sampai di tempat reunian sedikit terlambat. Dia men-silent hp-nya karena Sooyoung, sahabatnya, tadi meneleponnya di jalan. Tepat pukul 12 siang, waktu acara reunian dimulai. Karena kesal, Krystal langsung menolak telepon Sooyoung dan segera men-silent handphone-nya.

“Krystal Jung!” Seru seseorang yang sangat Krystal kenal.

“Aku datang. Kau puas?!” Seru Krystal ketika Sooyoung tepat berada di depannya.

Sooyoung terbelak kaget, “Ya ampun…. Kau baru datang sudah sangat sewot! Ini banyak kakak kelas. Jaga sikap mu… Bagaimana jika—“

Krystal memutar bola matanya. Malas mendengar rentetan omongan Sooyoung, “Aku mengerti. Tapi dirimu tidak perlu seperti tadi pagi. Mengesalkan!” Potong Krystal seenak jidat.

Sooyoung memberengut, “Kau kan pemalas. Aku hanya memastikan!”

“Apa kau bilang?” Delik Krystal marah.

“Selamat menikmati acara Krystal Jung!” Sooyoung kembali ceria dan kabur dari Krystal. Sebelum sahabatnya mencakar wajahnya yang cantik.

“Dia sahabtku atau bukan sih?” Keluh Krystal melihat kepergian Sooyoung.

“Krys….” Seseorang lagi-lagi memanggil Krystal.

Krystal menoleh ke belakang dan tersenyum lembut, “Sehun?!” Katanya sepertinya tidak menyangka dapat melihat Sehun disini.

“Ku lihat kau terlambat datang.” Sehun berjalan mendekati Krystal. Ia kemudian tersenyum kecil.

Krystal terkekeh, “Aku sedikit malas datang sebenarnya.”

“Tapi kau datang.” Kata Sehun santai.

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Aku berjanji datang untuk mu. Tapi Sooyoung, sahabatku, mencecar jika aku harus datang dan itu sedikit membuatku kesal.”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.

Kenapa masih canggung? Keluh Krystal dalam hati. Karena mereka baik-baik saja jika teleponan.

Tepat pada saat itu, segerombolan orang datang berjalan melewati mereka. Dari arahnya, mereka baru saja dari aula sekolah dan sepertinya akan menuju taman. Tapi mereka sedikit berhenti melihat Krystal dan Sehun berbicara.

Krystal tiba-tiba merasa hawa aneh. Ada apa sebenarnya? Jangan-jangan mereka teman-teman seangkatannya dan Sehun. Sekarang mereka sedang melihat Sehun dan Krystal berbicara karena pasti merasa aneh. Apalagi dengan latar belakang Krystal di bully.

Sehun sepertinya menyadari tatapan mereka, karena ia berkata, “Kurasa aku akan ke teman-teman ku. Sebaiknya kau juga ke teman-teman mu.”

Krystal menganggukan kepalanya. “Sampai jumpa lagi.”

Sehun menganggukan kepalanya juga, “Sampai jumpa lagi juga….”

.

.

.

.

.

Sehun tertawa lebar melihat Kai dan Kyungsoo berdebat. Sahabat tetapi selalu bertengkar.

“Baiklah, lanjutkan pertengkaran kalian. Aku ingin mengambil minuman lagi.” Seru Sehun dan bangkit dari tempat duduknya.

Ia berjalan melinatasi taman sekolah. Banyak yang menyapanya. Rata-rata adik kelas perempuan. Sehun membalasnya pendek, sekedar ramah-tamah saja.

“Sehun…”

Sehun menghentikan kegiatannya yang sedang ingin meminum soda. Sedetik lagi saja, soda ini pasti sudah mengalir ke tenggorokannya. Ia segera berbalik, “Suzy?” Tanyanya tidak percaya.

Suzy menganggukan kepalanya, “Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

Sehun sebenarnya merasakan suasana canggung, “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu? Ku dengar kau sekarang menjadi model.”

Suzy tertawa kecil, “Ya begitula. Aku memang menjadi model sekarang. Dan kau masuk ke teknik mesin?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Berusaha menggapai cita-cita ku. Bagaimana dengan dirimu? Bukannya impian mu sekarang tercapai? Kau menjadi model?”

“Seperti yang kau lihat.” Ujar Suzy membanggakan dirinya. Sedetik kemudian Suzy tertawa kecil.

Sehun ikut terkekeh melihatnya.

AAAAAHHH~

Sehun dan Suzy langsung menoleh ke asal suara teriakan.

“Seseorang tolong teman ku!” Teriak wanita berambut pendek. Temannya sedang terduduk dan menunduk dan terlihat tidak berdaya. Ia terus memegangi kepalanya yang sangat sakit.

“Krystal?!” Seru Sehun tanpa sadar. Astaga! Itu memang Krystal Jung! Langsung saja Sehun berlari ke arah Krystal. “Krystal!” Seru Sehun mensejajarkan dirinya dengan Krystal. “Krystal Jung!” Panggil Sehun panik karena Krystal terus menunduk dan merintih kesakitan.

Krystal merintih berusaha mengangkat kepalanya, “Argh!” Rintih Krystal ketika melihat cahaya yang sangat terang.

“Krystal!” Teriak Sehun panik karena tiba-tiba Krystal jatuh ke belakang.

.

.

.

.

.

“Kau sudah sadar? Astaga! Kau membuat panik seluruh sekolah kau tahu?” Sooyoung berjingkat-jingkat kegirangan dan memeluk Krystal.

Krystal hanya menatap Sooyoung datar.

“Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Sehun sunbaenim. Tadi aku berjanji kepadanya agar segera memberi tahunya jika kau sudah sadar. Tungg sebentar dan jangan kemana-kemana.” Kata Sooyoung panjang lebar dan tanpa jeda nafas. Ia segera berlari keluar dari UKS.

Krystal memandang sekeliling UKS dengan tatapan datar. Hanya ada dirinya disini, sendiri.

Tes!

Tes!

Air matanya tiba-tiba turun. Bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Krystal cepat-cepat turun dari ranjang.   Ia segera keluar dari UKS.

Ia lelah dengan semuanya. Kenapa dia harus hidup? Kenapa dia harus selamat dan tidak mati saja waktu itu? Kenapa dia tidak melupakan segala hal dalam hidupnya ketika tersadar? Kenapa dia hanya melupakan hal menyakitkan dan mengingat hal yang membahagiakan?   Kenapa yang dulu tidak sama seperti sekarang? Kenapa dia tidak mengerti semuanya? Kenapa?

Hushh…

Hembusan angin menerpa rambut panjang Krystal. Ia melihat ke bawah. Disinilah dia sekarang. Kembali lagi ke titik awal kehancurannya.

.

.

.

.

.

Sehun sebenarnya tidak ingin meninggalkan Krystal. Tapi karena Luhan tadi meneleponnya dan rasanya ia harus berteriak-teriak agar Luhan mengerti, Sehun akhirnya meninggalkan ruangan UKS.

“Sunbae! Sunbae!”

Siapa lagi yang berteriak-teriak? Umpat Sehun dalam hati.

“Oh Sehun sunbaenim!”

Sehun langsung menoleh dan mendapati teman Krystal mengatur nafasnya, “Krystal… Krystal…” Ia masih berusaha mengatur nafasnya, “Krystal sudah sadar!” Serunya dengan nada gembira yang membuat Sehun terlonjak kaget karena sangking melengking suaranya.

“Oh, baiklah. Terimakasih telah memberi tahuku…”

Sooyoung mengangguk mantap. “Aku permisi dulu sunbaenim…”

Sehun membalas sapa Sooyoung.

Drrt.. Drrt…

Sehun melihat sejenak dan menganggkat dengan malas, “Apa?”

“Aku akan kesana. Apapun yang terjadi!” Seru Luhan tidak sabaran. “Aku ingin melihat Krystal baik-baik saja atau tidak. Bagaimanapun aku ini calon dokter…”

Sehun menerawang ke atas, ke arah langit yang sejuk. Tertutupi awan tetapi tidak juga mendung. Sangat pas untuk kegiatan outdoor. “Kalau kau bisa masuk kesini silahkan saja. Sudah kubilang aku akan memastikan Krystal baik-baik saja atau tidak. Kenapa kau tidak percaya kepadaku?”

“Bukannya tidak percaya. Tapi aku—“

Sehun kembali menghela nafas.

Deg!

Itu… Kalau tidak salah…. Tangan Sehun mencengkram handphone dengan erat. Oh, jangan lagi…

“Terserah dirimu saja!” Seru Sehun panik dan segera mematikan telepon. Ia segera berlari.

“Krys!” Serunya ketika sampai di UKS. Krystal tidak ada di situ. Gadis itu menghilang. Berarti…. Berarti yang tadi ia lihat di atap gedung adalah….

Sehun segera berlari menuju atap gedung.

“Krystal Jung!” Seru Sehun ketika melihat Krystal Jung semakin dekat ke ujung. Hanya beberapa langkah lagi, Krystal pasti akan jatuh.

Krystal sendiri sama sekali tidak menoleh dan semakin mendekat.

.

.

.

.

.

Hugh~

Krystal membuka matanya.   Ia masih di atap. Ia tidak jatuh.

“Krystal Jung! Apa yang ingin kau lakukan?!” Geram Sehun dengan suara sangat marah.

Krystal menoleh,

Plak!

Tangannya dengan cepat menampar Sehun. “Kenapa? Kenapa kau tidak membiarkan aku tidak mati saja? Kenapa? Hanya satu langkah lagi dan semua penderitaan ku akan hilang. Kenapa?”

“Krys…” Gumam Sehun tidak percaya melihat tingkah laku Krystal. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?” Tanyanya dengan nada tertahan. Berusaha agar semuanya terkontrol.

Tes!

Tes!
Air mata Krystal mengalir dengan deras, “Aku tidak mengerti semua ini! Kenapa aku bisa selamat?! Kenapa kita bisa kembali lagi bersatu?! Kenapa?!”

“Krys…” Hanya itu respon yang bisa Sehun katakan akibat kebingungannya.

“Ku kira, dengan semua hal yang ku lakukan aku akan mati! Memotong urat nadiku sebelum loncat. Tapi kenapa? Kenapa aku harus selamat? Kenapa ketika aku selamat aku masih harus mengingat mu, walaupun tidak semuanya? Kenapa ketika selamat juga kau masih dingin kepadaku, walau tidak seperti dulu lagi?” Lanjut Krystla dengan cepat di tengah tangisannya.

“Kau…” Sehun terdiam beberapa saat. “Kau sudah ingat semuanya?”

Krystal tidak menjawab. Tetapi ia kembali berkata, “Aku tidak tahu harus sedih atau tidak. Apa aku harus senang karena kita jadi dekat lagi?   Atau aku harus sedih, karena dirimu tetap menghentikan perjodohan? Aku merasa begitu bingung dan tidak berdaya. Aku bahkan 2 kali mencoba bunuh diri karena dirimu. Karena rasa frustasi akibat dirimu. Kenapa?” Krystal berhenti sejenak. Mengatur nafasnya, “Kenapa aku masih mencintai mu? Ketika ingatanku hanya muncul sebagian. Ketika ingatanku kembali. Aku masih sangat mencintai mu….”

Sehun berusaha mengulurkan tangannya ke Krystal, “Krys, aku…”

Tak!

Krystal dengan cepat menangkis uluran tangan Sehun. “Sebenarnya aku bodoh atau apa? Lihatlah dirimu! Kau memutuskan perjodohan. Kau menjodohkan ku dengan Luhan. Kau sama sekali tidak mencintai ku! Sedikitpun!”

Sehun berusaha mengulurkan tangannya lagi. Krystal dengan cepat menghindar. Tetapi Sehun bergerak lebih cepat sehingga ia dapat menggapai tangan Krystal. Secepat kilat, Sehun menarik Krystal ke dalam pelukannya.

“Kenapa?” Tanya Krystal lagi putus asa. Tangisannya semakin membesar.

Sehun terdiam. Memejamkan matanya. Ia hanya diam memeluk Krystal sampai tangisan Krystal mengecil.

“Kita kembali ke bawah.” Putus Sehun ketika Krystal sudah agak tenang.

Krystal menatap Sehun sejenak. Melihat Sehun yang hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun ketika ia menangis membuat Krystal menghela nafasnya. Sudah pasti Sehun memang tidak ada perasaan sedikitpun padanya kan? Akhirnya ia mengangguk.

“Luhan?” Ucap Sehun ketika menemukan Luhan tiba-tiba berada di situ.

Luhan terlihat baru menutup pintu. Kelihatannya ia baru sampai, “Hey, aku mencari kalian dari tadi! Kalian tidak tahu berapa banyak tangga yang ku naiki agar sampai disini?” Kata Luhan dengan nada santai. Sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

 

 

.TBC.

State of Grace (Chapter 23)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Sehun bangun mencium aroma pancake yang lezat. Hmmm…. Dia akan terbiasa dengan hal ini. “Pagi…” Katanya kepada Krystal dengan suara serak khas bangun tidur.

Krystal yang sibuk memasak menoleh, “Pagi…” Balasnya kepada Sehun yang tertidur di sofa apartment Krystal.

Entah mengapa Sehun ingin tidur di apartment Krystal kemarin malam. Mungkin karena mereka pada akhirnya mengobrol hingga tengah malam? Maka dari itu Sehun memutuskan untuk menginap sekalian.
“Kita belum selesai berbicara kemarin Krystal Jung…” Kata Sehun berjalan ke dapur. Ia duduk di kursi meja makan dan meminum teh Krystal. Ugh! Greentea… Lain kali dia tidak akan meminumnya lagi.

Krystal masih sibuk memasak. Ketika pancake terakhir matang baru ia berkata,“Aku tahu… Tapi bukannya kau harus siap-siap pergi kerja?”

Sehun menyipitkan matanya, “Jangan menghindar dari pembicaraan ini… Aku bisa pergi dari sini pukul delapan dan sebelum pukul itu kita bisa berbicara. Ditambah kita bisa berbicara sambil makan!”

“Baiklah-baiklah…” Krystal kemudian menaruh pancake hangat beserta sirup maple. “Apa yang ingin kau ketahui tentang Jinyoung?” Tanya Krystal dan meletakan tiga pancake ke piring Sehun.

Setelah menghabiskan waktu bersama Krystal kemarin malam, suasana hati Sehun awalnya buruk lama-kelamaan menjadi baik membuat ia mengingat beberapa hal. Termasuk tentang Jinyoung. Ia sebenarnya sudah bertanya dari kemarin malam. Tapi Krystal berhasil mengelak dan mengatakan ia akan bercerita besok.

“Semuanya.” Ujar Sehun. Ia mulai memasukan pancake ke dalam mulutnya.

Krystal terlihat enggan, “Dan kau akan menceritakan semuanya tentang Mark?”

Sehun kali ini menghentikan kunyahan pancake-nya. Ragu sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah… Jadi…”

Krystal terdiam melihat kepulan pancake-nya, “Jadi… Jinyoung adalah mantan pacarku.” Kata Krystal dengan sangat enggan. “Itu sudah lama. Ketika awal SMA. Kami juga sudah putus lama.”

“Kau sangat enggan membicarakannya…”
“Itu karena…” Krystal mendesah, “Aku membencinya!”
Sehun melebarkan matanya. Masih terdiam karena menunggu kata-kata dari Krystal.

“Dia memutuskan ku demi orang lain. Maksudku dia jatuh cinta dengan wanita lain. Sepele memang kenapa aku sangat membencinya—“

“Kau hanyalah manusia bukan?” Potong Sehun meniru ucapan Krystal kemarin malam. “Lagiupla itu bukan alasan sepele.”

Krystal mengangkat kedua bahunya, “Aku sangat membencinya waktu itu sampai tidak ingin melihatnya lagi. Karena itulah aku pergi meninggalkan Busan ke Seoul. Meninggalkan orangtua ku. Kurasa aku terlalu berlebihan waktu itu.”

“Aku senang kau pergi ke Seoul…” Gumam Sehun sambil tersenyum.

Krystal menatap Sehun bingung.

“Kita jadi bisa bertemu karenanya. Coba bayangkan jika dirimu tetap di Busan?”

“Kau sedang menggombal bukan?” Dengus Krystal.

“Apa salahnya?” Sehun kemudian mengedipkan matanya.

Krystal tertawa, “Okay, sekarang giliran mu…” Kata Krystal setelah tawanya reda.

Sehun menghela nafasnya. Tangan kanan menopang dagunya. Sejenak, ia berhenti makan, “Mark adalah mantan pacar Wendy.”

“Aku tahu!” Seru Krystal sebal, “Aku ingin tahu tentang perkataannya di restaurant!”

Sehun kembali menghela nafas, “Aku dan Wendy putus karena dia. Wendy berpacaran dengan dia ketika ia masih berpacaran dengan ku. Jadi aku dan dia tidak berteman dengan baik dari awal. Walau hanya bertemu sekali, tapi kami memang…. bisa dikatakan saling membenci dari awal. Aku hanya melihatnya sekilas tetapi tidak pernah melupakan tampangnya. Kemarin adalah pertama kalinya kami berbicara.”

“Maaf… Aku memaksakan mu menceritakan hal yang tidak kau suka.”

Sehun melihat Krystal dan mendengus, “Aku juga.” Ia kemudian kembali makan, “Sepertinya kita harus membicarakan hal lain bukan? Bagaimana dengan kegiatan mu? Apa yang ingin kau lakukan hari ini?”

Krystla mengetuk-ngetukan jarinya, “Uhmmm…. Mencari pekerjaan baru mungkin?”

“Kau tidak perlu mencari pekerjaan baru Krystal…”

“Kenapa?”
“Biar aku saja yang membiayai mu…”

Krystal menatap Sehun intens, “Aku tidak suka dengan ide itu. Lagipula tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku telah bekerja sejak umur 15 tahun Sehun-ah…

“Aku pacar mu…”

“Terus?”

“Dengarkan perkataan ku. Tinggalah dirumah dan jangan capek-capek bekerja!”

“Aku mendengar perkataan mu. Tapi aku tidak ingin menurutinya!”
Sehun menghela nafas, “Baiklah kau boleh bekerja. Tapi ada syarat!”

“Syarat?”

“Bekerjalah dengan Victoria noona atau gak di Café Jonghyun. Di luar itu kau tidak boleh bekerja!”
Krystal mendengus, “Kenapa kau mengatur-ngatur jadinya?”

“Hey… Menurutlah kepada calon suami mu!”

“Apa?!”

Sehun tertawa melihat semburat merah di pipi Krystal.

.

.

.

.

.

Krystal menahan nafasnya. Melihat dirinya sekali lagi di cermin.

“Ayo! Pestanya sudah mau mulai!” Eunji menepuk pundaknya.

Krystal mengangguk. Bersiaplah Krystal Jung! Kau akan menghadapi hari paling mencekam dalam sejarah kehidupan mu. Ia akhirnya keluar dari toilet.

Ruangan pesta pembukaan gallery benar-benar ramai. Banyak orang yang ia kenal. Beberapa di antar mereka sangat terkenal di bidang seni di Korea. Termasuk gurunya, Kim Hyoyeon, orang yang merekomendasikan ia bekerja bersama Tifanny juga hadir.

“Krystal sayang!” Sapa Hyoyeon ceria. Ia terlihat sangat menawan malam ini. Long-sleeved dress bewarna putih dan perhiasan senada. “Kau sangat-sangat cantik menggunakan White dress mu!” Hyoyeon memeluknya.

Krystal membalas pelukan Hyoyeon, “Hyoyeon Seongsangnim… Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda disini!”
“Bagaimana bekerja dengan Tifanny? Dia menakjubkan bukan? Kau juga menakjubkan! Lukisan mu Krystal! Astaga!!!”
Krystal tersenyum mendengar perkataan Hyoyeon. “Tifanny Sangjangnim memang menakjubkan.” Jawab Krystal jujur. Bagaimanapun juga, Tifanny sebenarnya orang yang sangat baik.

“Baiklah. Kita akan mengobrol lagi. Aku harus menyapa teman-teman ku.” Tunjuk Hyoyeon kepada segerombolan wanita yang lagi-lagi menggunakan dress putih. Termasuk disana ada Tifanny.

Krystal berjalan ke arah teman-temannya.

“Kau terlihat sangat gugup malam ini!” Kata Hyeri melihat gelagat Krystal.

Choa menoleh,“Tenanglah sedikit. Apakah kau gugup karena lukisan mu?”

“Kau menawan kau tahu itu?” Sambung Minah.

“Teman-teman…” Potong Krystal kepada teman-temannya. “Aku tidak apa-apa.” Katanya mencoba menenangkan teman-temannya. Ia tidak gugup karena lukisannya. Ia gugup karena harus satu ruangan dengan Tifanny.

Seolhyun tiba-tiba berseru, “Itu Sehun bukan? Anaknya Tifanny Sangjangnim?”

Semuanya menoleh. Itu Sehun! Sehun sudah datang rupanya. Tentu saja Krystal dan Sehun datang terpisah. Krystal memaksa agar mereka datang terpisah.

Tanpa ia sadari, Krystal menahan nafasnya. Astaga! Sehun sangat sempurna malam ini. Ia terlihat membalas sapaan wanita yang sangat cantik dan Krystal mengenalnya, Im Yoonah. Gurunya selain Hyoyeon.

“Itu Im Yoonah!” Ucap Eunji membuat Krystal menoleh kepadanya. “Dia seorang pelukis juga. Walaupun tidak terlalu terkenal.” Lanjutnya kepada yang lain.

“Yoonah Seonsangnim orang yang baik.” Krystal menanggapi omongan Eunji.

“Oh, kau muridnya?” Tanya Hyeri.

Krystal menganggukan kepalanya. “Ah!” Krystal terkesiap ketika handphone-nya berbunyi. Ia segera menjauh dari teman-temannya sebelum melihat siapa yang menelepon.

“Kau tahu betapa besar ke inginanku untuk mengenggam tangan mu?”

Krystal menahan nafasnya, Sehun…” Ucapnya lirih.

Sehun terkekeh, “Iya. Ini aku. Kau terlihat menawan malam ini.”

“Kau juga…”

“Aku tahu. Aku sengaja memilihnya agar kau terkesan. Bagaimana? Apakah kau terkesan?”

Krystal memutar bola matanya, “Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini kau sering mengombal.”

“Kau tahu kenapa?”

“Apa aku harus tahu?”

“Itu karena dirimu…”

Lagi-lagi Krystal memutar bola matanya, “Pembohong!” Ia terkekeh.

“Wow! Aku tidak menyangka kalian berpacaran melalui telepon! Tidak ada yang bisa memisahkan dua insan yang sedang tergila-gila akibat cinta!”

Krystal langsung terkejut mendengar suara yang ia tidak kenal. “Sehun?”

“Ini aku! Seojoon!” Terdengar sedikit rusuh, “Hyung!” Teriak Sehun kepada Seojoon. Seojoon dengan mudahnya menjawab, “Tunggu aku ingin berbicara dengan adik ipar ku!” Terdengar lagi suara rusuh.

“Jadi Krystal,” Suara Seojoon kembali terdengar. Tidak ada lagi suara rusuh, “Kau pasti terkejut bukan kenapa aku kesini? Aku kesini diundang Sehun. Untuk jaga-jaga. Aku akan mengontrol Sehun dan membuatmu selamat dari ibu ku. Oh, Sehun menuju ku. Bye!”

Krystal terdiam beberapa saat. Membuatmu selamat dari ibu ku? Hufh… Ia segera kembali ke teman-temannya.

“Muka mu kembali tegang!” Komen Minah ketika Krystal kembali duduk.

Krystal ingin menjawab. Tetapi suara Tifanny terdengar. Oh, acara telah dimulai rupanya. Tifanny sudah berdiri di depan panggung sambil tersenyum.
“Selamat malam semuanya…” Sambut Tifanny diiringi tepuk tangan yang meriah.

.

.

.

.

.

Hyeri menguap untuk kesekian kalinya. “Kalian harus tahu jika aku tidur jam sembilan. Sekarang aku baru selesai makan malam…”

“Kau harus bertahan hingga pukul 12. Ku dengar sehabis ini ada hiburan dan terakhir foto-foto. Malam ini masih panjang!” Kata Choa. Ia menyesap anggurnya.

Pelayan-pelayan mengambil piring-piring kosong. Krystal menyesap anggurnya.

“Aku tidak butuh hiburan ataupun foto-foto.” Keluh Hyeri. “Aku butuh kasur, bantal, dan selimut!”
“Kalian-kalian…” Seolhyun berbisik. Membuat semua orang mendekat ke arahnya, “Apa kalian tidak melihat anak Tifanny Sangjangnim dari tadi?”

Semua memutar bola matanya. Termasuk Krystal.

“Kau terlihat sangat menyukainya…” Kata Minah.

Seolhyun tertawa, “Tentu. Kalian tidak?”

“Setidaknya kami bisa menahan agar tidak melihatnya sedari tadi.” Seru Eunji. “Ada apa?”
“Dia tidak menyesap anggur sedikit pun.”

Semuanya menghela nafas.

“Ini tidak seperti yang kupikirkan.” Ucap Chanmi. “Ku pikir ‘Dia tidak akrab dengan ibunya’ atau ‘Dia tidak menikmati pesta ini!’

“Maksudku adalah jika ia tidak meminum alkohol berarti dia pulang sendiri!”

Eunji mengangkat tangannya, “Cukup! Itu sama sekali tidak menarik. Dan kami tidak peduli.”

“Kenapa tidak pulang bersama ibunya? Atau dia ingin pulang bersama kekasihnya sehingga tidak meminum alkohol? Ayolah dari banyak orang disini pasti ada kekasihnya! Tidak mungkin dia sendirian tanpa kekasih!” Timpal Seolhyun masih tidak ingin mundur.

Untuk bebarapa saat terjadi perdebatan antara Seolhyun dan tujuh orang lainnya. Krystal hanya diam. Memang sudah menjadi kebiasaan dia jarang berkomentar.

“Atau ingin berpesta di tempat yang lain?”

Semuanya langsung menoleh ke Krystal.

“Apa?” Tanya Krystal bingung. “Aku hanya menyampaikan apa yang ku pikirkan.”
“Oh, menahan diri supaya tidak mabuk agar bisa mabuk ke tempat yang lain. Atau dia punya masalah terhadap alkohol sehingga menghindarinya?” Seolhyun kembali berbicara.

Semuanya ingin menyemburkan pendapatnya. Tertahan ketika mendengar alunan music. Dentingan piano mengalun lembut.

“Elsie…” Krystal tersenyum.

“Apa?”

Ia menoleh ke Eunji, “Ini lagu Elsie. Biasanya dipakai untuk berdansa.”

“Dansa?!” Mata Minah melebar. “Ingin mencoba keberuntungan?”

Semuanya terdiam menatap Minah.

Minah melanjutkan, “Kau tahu… Kita berdiri menuju lantai dansa dan…. Mana tahu kita diajak berdansa oleh orang!”

“Maksud mu ahjussi-ahjussi?! Tidak ada anak muda disini!” Seru Choa.

“Tidak ada salahnya!” Hyeri akhirnya berdiri. “Daripada aku tertidur disini akibat alunan piano.”

Satu-satu dari mereka akhirnya berdiri. Termasuk Krystal setelah dipaksa oleh Eunji.

“Memangnya siapa yang ingin mengajak aku berdansa?” Tanya Krystal ketika Eunji menariknya.

“Entahlah. Berharaplah yang tinggi-tinggi. Aku berharap Sehun.”

Krystal memutar bola matanya, “Kau tahu jika kau sudah punya kekasih bukan?”

Eunji terkekeh, “Aku tetaplah manusia yang tidak dapat menolak sebuah pesona.”

Ketika mereka sampai di tempat dansa, ruangan itu sangat penuh. Beberapa teman-temannya juga sudah berdansa. Sepertinya ada anak muda disini. Bukan hanya ahjussi.
“Kau lihat? Ada lelaki lain selain ahjussi! Berharaplah Krystal!” Pekik Eunji senang.

“Kau ingin berdansa dengan ku?” Tawar seseorang kepada Eunji yang disambut hangat oleh Eunji.

Eunji akhirnya meninggalkannya. Krystal terdiam melihat teman-temannya berdansa. Siapa yang akan mengajaknya berdansa? Sehun? Ditengah-tengah situasi seperti ini? Krystal tidak berani berharap. Orang lain? Well, dia pasti akan menolaknya. Pertama, Sehun akan cemburu. Kedua, Tifanny akan menganggapnya remeh.

“Ingin berdansa dengan ku?”

Krystal menoleh ke sumber suara. “Aku?” Tanyanya meyakinkan.

“Ya.”

Dan…. Hening….

.

.

.

.

.

Sehun segera menarik tangan Krystal. “Tidak ada penolakan!” Katanya dan mereka mulai berdansa.

“Sehun…” Krystal menahan nafasnya. Dia sama sekali tidak menatap Sehun. “Jangan menatap ku…” Kata Krystal lagi.

“Kenapa?”

“Karena orang-orang akan berpikiran aneh melihat tatapan mu.”

“Aku tahu… Aku sengaja. Ini adalah sebuah pernyataan!” Sehun kemudian terkekeh, “Kau tahu betapa berkeringatnya tangan mu?”

Krystal mendongak, “Tentu aku tahu!” Ia mengerutu.

“Aku berjanji kau tidak akan tersakiti Krys. Tidak akan untuk kedua kalinya.”

Krystal tidak berkomentar apa-apa. Tatapannya kembali lurus ke depan.

“Kau percaya kepada ku?”

Krystal kembali mendongak, “Aku percaya kepada mu…”

Tepat setelah itu alunan music berhenti.

.TBC.

I’m back…  Flipped entar ya di published nya lagi stuck di detik-detik terakhir.  Tapi aka usahain di post secepatnya… 😉😀

Runaway (Chapter 5)

Runaway Poster Fix

Cast: Choi Sulli, Choi Minho, Kim Jongin

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

****

Sulli dan Minho melihat kepergian guru-guru. Saat gerombolan guru telah hilang dari pandangan mereka, mereka menoleh. Menatap satu sama lain.

“Sudah lama tidak berjumpa, Sulli…”

Suara berat itu membuat Sulli tidak bisa bernafas.

.

.

.

.

.

Sulli berdehem berusaha menghilangkan kegugupannya. Ia memaksakan sebuah senyum, “Sudah lama juga tidak berjumpa denganmu, Choi Minho-ssi….” Balas Sulli berusaha menelan kepahitan ketika menyebut nama Minho.

Minho tersenyum sebagai tanggapan. “Ku rasa kita tidak bisa berbicara di sini. Ayo ikut aku.”

Sulli menyetujui perkataan Minho dan segera mengikutinya.

Minho membawa Sulli ke ruang melukis. Membukakan pintu untuk Sulli. Menghidupkan penerangan. Terakhri, tak lupa mengunci pintu ruangan.

“Ruang kerja mu?” Tanya Sulli memperhatikan ruangan kerja Minho yang penuh dengan lukisan anak-anak.

“Iya. Jadi…” Minho terdiam sejenak, menimang-nimang sesuatu, “apa pekerjaan mu?”

Sulli kemudian menoleh, “Aku..” Katanya bingung. Ia menarik nafasnya, “Fashion designer….”
Minho tersenyum lebar, “Kau mendapatkan impian mu bukan?”
Sulli terkekeh kecil, “Aku sedang mengejarnya sekarang. Small steps… Membuka sebuah butik dan berharap akhirnya bisa dikenal ke manca negara.” Ia menghela nafasnya, “Bagaimana denganmu? Kurasa ini sangat tidak sesuai dengan impian mu. Dikelilingi lukisan yang tidak sesuai dengan standar Choi Minho…”

Minho menahan nafasnya ketika Sulli mengatakan ‘Standar Choi Minho’. Ia lupa jika itu adalah kata yang sering ia ucapkan ketika mereka masih berpacaran. “Keadaan bisa berubah.” Tanggap Minho pada akhirnya. “Jadi, bagaimana kabarmu?”

Sulli mengerjapkan matanya, “Aku?” Katanya dengan nada bertanya. Ia mengalihkan tatapannya dari Minho sebelum akhirnya melihatnya lagi, “Baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.”

“Aku senang kau baik-baik saja…”

Jantung Sulli langsung berdebar keras ketika mendengar suara berat Minho. Ia menggelengkan kepalanya, “Ada yang harus kubicarakan denganmu…” Kata Sulli dengan nada sedikit ketus. Berusaha menghilangkan kegugupannya.

“Aku juga.” Balas Minho dengan tangan yang ia masukan ke kedua kantong celananya. Sama seperti Sulli, Minho berusaha menahan rasa gugupnya.

“Ini tentang…” Sulli menahan nafasnya. Ia bingung harus mulai darimana. “Sebenarnya aku hanya ingin bertanya kabar mu. Rasanya aneh kita bertemu kemarin seperti tidak saling mengenal.” Kata Sulli pada akhirnya. Ia tidak bisa! Sungguh, ia tidak bisa memberi tahu Minho bahwa ia adalah ayahnya Taemin.

Minho menghela nafasnya, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan mu secepat itu. Dikondisi seperti itu pula….”

“Maksudmu?” Sulli menatap Minho bingung. Secepat itu? Memangnya Minho sudah menunggu-nunggu kedatangan Sulli? Dan apa yang dimaksud dengan ‘Kondisi seperti itu’?

Minho menggigit bibir tebalnya, “Sebenarnya….” Ia terlihat ragu, “Aku tahu tentang Taemin…” Kata Minho pada akhirnya. “Ku rasa kau ingin berbicara padaku karena hal ini bukan?”

Tenguk Sulli langsung dingin akibat keringatnya. Ya Tuhan…. Kenapa? Kenapa Minho bisa tahu?

Feeling seorang Appa…” Jawab Minho. Sepertinya Sulli secara tidak sadar mengutarakan apa yang ia pikirkan.

“Minho…” Sulli menemukan suaranya.

“Aku minta maaf kepada mu karena tidak ada di saat kau paling membutuhkan ku. Aku akui, aku egois. Aku terlalu malu kepada mu ketika melakukan hal itu. Bukan menyesal. Aku malu karena telah menyakiti mu. Kata-kata itu di luar kehendak hati terdalam ku. Itu muncul di tengah keputus asaan ku ketika aku bangun—“
“Berhenti….” Sulli menundukan pandangannya. Air matanya mulai menetes. Hatinya masih sakit mengingat kejadian empat tahun yang lalu. Dia tidak akan bisa menghadapi hal itu.

“Sull…” Tangan Minho berusaha menggapai Sulli.

Tak!

Sulli menepisnya. “Kau egois…” Kata Sulli susah payah. Menahan isak tangisnya. “Kau tidak tahu betapa susahnya aku ketika itu!”

“Aku tahu…” Minho mendekat ke arah Sulli. “Aku tahu… Maka dari itu sekarang, aku akan memperbaikinya….”

“Memperbaikinya?” Sulli tertawa sinis. “Sudah terlambat Choi Minho ssi!” Terdengar helaan nafas, “Kami sudah sempurna sekarang. Aku, Taemin, dan Kai.”

“Maksudmu aku tidak boleh ada di kehidupan Taemin begitu?” Suara Minho seketika tinggi. Apa maksud Sulli? Dia berhak akan Taemin. Dia tetaplah Appa Taemin apapun yang terjadi.

“Jangan menganggu kehidupan Taemin…”

“Maksud mu adalah kehidupan mu?” Balas Minho cepat. Masih dengan amarah.

“Aku jamin, Taemin sudah bahagia dengan Jongin di sampingnya. Tanpa diri mu!”

Sekarang Minho lah yang tertawa sinis, “Terserah kau ingin berkata apa! Ingatlah, aku tidak akan melepaskan Taemin semudah aku melepaskan mu!”

Minho segera berbalik. Keluar dari kelas. Meninggalkan Sulli yang diam tertegun.

.

.

.

.

.

Minho masih diam tak bergeming di depan kanvasnya.

“Apa yang terjadi dengan mu nak?” Suara Oemma nya menginterupsi lamunan Minho.

Minho menoleh ke arah pintu kamarnya. Oemma nya yang kurang lebih berusia 60 tahunan itu tetap terlihat muda. Dengan santainya, Oemma melintasi kamar Minho yang besar. Dimana di kamar itu banyak lukisan indah Minho. Jangan lupa, jendela besar tempat favorit Minho. Disitulah Minho kebanyakan melukis. Menghadap jendala besar. Menatap awan-awan yang indah.

“Sesuatu..” Jawab Minho pada akhirnya. “Ada apa Oemma?”

Oemma terkekeh kecil, “Hanya ingin memastikan mu. Kau terlihat sangat lesu ketika pulang.”

Minho akhirnya tersenyum, “Tidak ada apa-apa Oemma. Hanya sedikit lelah dengan pekerjaan ku. Oemma tahu akhir-akhir ini gallery begitu sibuk. Ku rasa itu ada hubungannya dengan keinginan ku yang ingin keluar jadi Tuan Kwon juga ingin mengadakan exhabisi lagi….” Jelas Minho diakhiri dengan tawa canggung.

Tidak ada di keluarganya yang tahu ia telah keluar dari pekerjaannya bersama Tuan Kwon. Keluarganya yang merupakan keluarga kedokteran adalah keluarga yang kaku. Sangat menjaga kehormatannya. Minho sendirilah yang bertindak sesuka hatinya. Minho yakin, Appa nya sangat marah ketika mengetahui Minho telah keluar dari sana ditambah menjadi seorang guru yang gajinya sangat kecil. Daripada bertengkar lebih baik berbohong.

Oemma Minho menghela nafasnya, “Oemma tahu kau telah keluar dari pekerjaan mu.”

“Ah, Oemma tahu dari mana?” Tanya Minho berusaha untuk mengelak.

“Firast seorang Oemma. Dulu ketika kau bekerja bersama Tuan Kwon kau berangkat sesuka hati mu. Jarang sekali mengikuti sarapan. Pakaian juga sesuka hati mu. Kerjaan mu itu hanya melukis. Sekarang? Kau berangkat sangat pagi pulang sangat sore. Pakaian rapih dan jarang melukis. Kau lebih sibuk dengan buku. Nah, sejak kapan Choi Minho suka buku?” Kata Oemma panjang lebar. “Katakanlah apa yang mengkhawatirkan mu? Apakah pendapat Appa mu?”
Minho mencibir, “Aku tidak peduli dengan pendapat Appa… Hanya masalah lain…” Minho tersenyum. Sedetik kemudian dia menggerang melihat ekspresi Oemma nya yang menatap Minho datar. Masih berusaha mengorek informasi. “Tidak ada apa-apa sungguh!”

Oemma Minho menghela nafasnya, “Baiklah… Baiklah… Oemma menyerah sekarang.”

.

.

.

.

.

“Jongin!” Gumam Krystal tidak percaya melihat siapa yang datang.

Kai mengeluarkan senyuman manisnya, “Kau masih bertahan rupanya…”

Krystal memutar bola matanya, “Aku tidak mengerti maksud mu. Ada apa?”

“Eh, kau galak sekali dengan suami atasan mu? Kau tidak takut kena marah?” Kai berkata dengan suara mengejek. Ah, dia suka membuat Krystal jengkel.

Krystal memutar bola matanya, lagi, “Ah benarkah kau suami atasan ku? Ku pikir kau office boy yang baru!”

Kai mendecih, “Terserah! Aku ingin bertemu dengan istriku!”

“Jangan ganggu Sulli! Dia sedang sibuk!” Teriak Krystal berusaha menghentikan Jongin yang berjalan ke ruangan Sulli.

Tentu, Jongin tidak mengubrisnya. Ia segera memasuki ruang kerja Sulli.

.

.

.

.

.

Jongin membuka ruang kerja Sulli disertai dengan senyuman hangat. Berharap Sulli menyambutnya dengan hangat juga. Keheningan yang menyambutnya. Sulli sedang memunggunginya. Menghadap ke arah komputer kerjanya.

“Sull~” Panggil Jongin pada akhirnya.

Sulli tersentak hebat. Ia segera berbalik, “Jongin~” Ujarnya tidak percaya. “Apa yang kau lakukan disini?”

Jongin tersenyum melihat Sulli yang tidak percaya dengan kehadirannya, “Kenapa? Kau terlihat sangat gembira…”
“Aku tidak menyangka kau datang kesini…” Sulli membereskan tumpukan-tumpukan kertasnya.

Jongin meletakan kantung plastik di atas meja Sulli, “Aku membawakan mu makan siang.   Sekalian ingin berbicara dengan mu.”

Sulli tersenyum, “Kau tidak usah repot-repot…”

“Aku melihat kemarin kau terlihat sangat lelah. Tadi pagi juga. Kurasa beban mu terlalu banyak. Makanya—“

“Aku tahu maksud mu…” Sela Sulli, “Tapi pekerjaan mu pasti masih banyak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku…”

“Aku akan melakukan apapun untuk mu Sull~ Kau tahu itu…”

Sulli menunduk. Menghindari tatapan Jongin. “Baiklah, karena kau sudah disini. Juga, apakah kau tidak lapar?” Tangannya mengeluarkan sandwich yang dibeli Jongin di supermarket.

Jongin terkekeh, “Tentu.” Ia menerima sandwich dari Sulli.

“Aku akan pergi selama beberapa hari….” Kata Jongin memecah keheningan di antarnya dan Sulli. “Sebenarnya itu alasan ku kemari. Aku ingin, sebelum aku pergi dirimu tidak apa-apa.”
“Berapa lama?”
“Sebulan? Tiga bulan?” Jongin memasukan sandwich terakhirnya. “Entahlah. Tapi tidak sampai bertahun-tahun.” Jongin mengedipkan matanya.

Sulli terkekeh, “Aku tahu kau ingin bercanda Kim Jongin…”

Jongin iku terkekeh, “Setidaknya kau sudah tertawa.” Kemudian nada suara Jongin kembali serius, “Ada masalah di perusahaan Appa. Aku harus mengurusnya.”

Sulli tidak ingin mengomentari rencana kepergian Jongin. Jika sudah seperti ini, Jongin tidak bisa ditahan. “Aku akan menunggu mu…”

Jongin tertawa kencang, “Apa maksud mu? Kau tentu akan menunggu ku Kim Sulli…”

Sulli membereskan makan siang mereka, “Apa? Tidak ada yang salah dengan omongan ku bukan?” Ia membawa kantung plastik ke tong sampah. Sedikit jauh dari meja kerjanya.

Hug~
Jongin tiba-tiba memeluknya, “Kau tahu aku akan merindukan mu…”

Sulli menoleh ke arah Jongin, “Aku tahu….” Ia mengedipkan matanya.

Jongin mendekatkan wajahnya. Ingin mencium Sulli.

Krek~

Krystal dengan polosnya masuk, “Kurasa aku harus mengetuk pintu dulu bukan?” Katanya melihat posisi Sulli dan Jongin.
Gosh!

Sulli cepat-cepat mendorong Jongin agar melepaskan pelukannya. Jongin mencebik, Pengganggu!

.

.

.

.

.

.

Suasana hati Sulli membaik setelah Jongin membawakannya makan siang. Entah itu karena sandwich nya yang lezat. Atau gurauan Jongin yang biasanya receh tapi kali ini tidak. Sulli bersenandung ria menunggu Taemin datang kepadanya.

Kemana Taemin?

Pikirnya dan melihat jam tangannya. Sudah tigapuluh menit yang berlalu. TK juga sudah mulai sepi. Apakah Taemin menghabiskan waktu bersama Minho?

Sulli berusaha menepis pikiran buruk itu. Ia tidak ingin suasana hatinya hancur. Kemarin suasana hatinya hancur bukan hanya karena Minho menolak mentah-mentah omongan Sulli. Tetapi karena perkataan terakhirnya. Ia tidak akan melepaskan Taemin semudah ia melepaskan Sulli. Itu membuat harga dirinya jatuh. Seakan ia tidak berharga dibandingkan Taemin.

Tapi, kalau dipikir-pikir, maksud Minho bisa juga ia menyesal melepaskan Sulli dulu. Makanya ia akan bertahan di Taemin. Sulli menghela nafasnya. Ia harus cepat-cepat menyingkirkan Minho sebelum suasana hatinya hancur.

Oemma!”

Sulli tersenyum melihat Taemin berjalan ke arahnya. Ketika melihat Taemin membawa sesuatu, senyumannya memudar. “Apa itu Taemin?”

Taemin mengerjap. Entah mengapa, mendengar suara Oemma nya, ia merasa takut.

“Taemin….” Panggil Sulli lagi karena Taemin hanya diam.

“Bukan apa-apa.” Kata Taemin pada akhirnya.

“Taemin….” Nada suara Sulli mulai naik. Astaga, apa yang dipegang Taemin? Itu terlihat seperti bungkusan kanvas. Apakah itu hadiah dari Minho? Tidak tahu dari mana Sulli mempunyai firasat seperti itu.

“Taemin mau pulang Oemma! Pokoknya Taemin mau pulang!”

Tanpa menunggu jawaban dari Sulli, Taemin membuka pintu belakang untuk meletakan benda yang ia pegang. Kemudian duduk di bangku depan.

Sulli menghela nafasnya. Ia mengikuti Taemin.

.

.

.

.

.

Oemma…” Panggil Taemin takut-takut karena dari tadi Sulli hanya diam.

Oemma….” Panggil Taemin lagi.
Sulli mengangkat rem tangannya. Mematikan mobilnya.

“Taemin minta maaf….” Kata Taemin pada akhirnya.

Hati Sulli luluh mendengar Taemin minta maaf. Ia akhirnya melihat Taemin, “Oemma hanya ingin tahu apa benda itu.”

“Tapi Oemma jangan marah ya…”

“Apa itu Taemin…”

Taemin menatap Sulli, “Itu… Lukisan dari Min Seongsangnim sebagai hadiah ulang tahun Taemin….”

Mata Sulli langsung melotot. Hadiah ulang tahun? Min Seonsangnim?

Oemma…” Ujar Taemin takut karena melihat ekspresi Sulli.

.TBC.

State of Grace (Chapter 22)

State of Grace

Main Cast: EXO’s Oh Sehun | f(x)’s Krystal Jung | Red Velvet’s Wendy Son

Rating: T (Teen)

Genre: Romance, Family, Hurt/Comfort

Length: Chaptered

Author: Ally

***

Love is Ruthless Escaped 

(Cinta Adalah Pelarian yang Berbahaya)

Unless You Play It Good and Right

(Kecuali Kamu Memainkannya dengan Baik dan Benar)

State of Grace –Taylor Swift-

Rasanya semuanya berubah dengan cepat.

Rasanya Krystal baru kemarin menerima amarah Tifanny karena Sehun.

Rasanya baru kemarin Krystal melihat Sehun begitu gigih mengejarnya ke restaurant Jonghyun.

Rasanya Krystal tidak akan pernah siap untuk hal ini.

“Sehun…” Panggil Krystal takut karena Sehun menutup matanya. “Kau menakutiku kau tahu…” Lanjutnya.

“Tunggu!” Teriak Sehun entah dari mana.

Tap!

Tap!

Tap!

Suara kaki Sehun mendekat. “Ikutlah dengan ku…” Kata Sehun terdengar dari samping kanan.

“Bagaimana aku bisa mengikuti mu kalau melihat saja tidak bisa?” Gerutu Krystal.

Sehun terkekeh kecil dan menarik tangan Krystal. Membawanya pelan-pelan.

“Stop! Stop disini…” Kata Sehun tiba-tiba. Krystal bingung tetapi ia hanya diam.

Krystal kemudian merasa tutupan matanya melonggar. Ah, Sehun melepaskan tutupan matanya rupanya.

“Jangan melihat dulu… Jangan… Pejamkan matamu….”

Krystal mendengus. Walaupun begitu, ia tetap menutup matanya.

“Sekarang bukalah…” Bisik Sehun tepat di telinga Krystal.

Krystal perlahan membuka matanya dan….

“Sehun!” Ucap Krystal nyaris tidak percaya apa yang ia lihat. “Ini….” Katanya terputus tidak bisa melanjutkannya.

Tada! Hadiah bagimu…” Sahut Sehun gembira. “Aku tahu kau akhir-akhir ini pasti tertekan. Karena kejadian kemarin. Karena kejadian tadi pagi.” Lanjut Sehun sambil tersenyum lebar.

Krystal mendekatkan dirinya ke arah piano putih di tengah-tengah ruangan keluarga Sehun. Sehun bahkan mengubah ruangannya gar piano putih ini bisa berada di sini. Hanya untuknya.

“Aku tahu kau menyukai musik. Aku juga dapat melihat kau bahagia ketika memainkannya. Walau aku baru-baru ini menyadarinya kemarin.” Sehun terkekeh mengingat hal itu, “jadi aku ingin kau melakukan sesuatu yang membuat mu bahagia. Bukan hanya dengan melukis. Apalagi setelah ibuku memecat dirimu. Aku tahu itu sangat berat.”

Dada Krystal tiba-tiba terasa nyeri mengingat ia baru saja dipecat. Krystal tahu, tadi pagi, ketika mendapat telfon dari Sekertaris Ahn, itu adalah sebuah panggilan untuk pemecatannya. Ia benar rupanya. Ketika sampai, tanpa basa-basi Tifanny langsung memecatnya. Melemparkan dua amplop. Satu amplop surat pemecatan dan gaji terakhir. Satu lagi surat undangan. Krystal di undang untuk acara opening gallery. Sepertinya Tifanny tidak ingin orang-orang berprasangka buruk. Jika Krystal dipecat sebelum Grand opening, ada rumor kenapa hal itu terjadi. Tetapi jika setelah Grand opening, orang akan menganggap hal itu biasa –Krystal tidak cocok disitu- dan tidak akan mempersalahkannya.

“Krys…”

Suara Sehun membuat Krystal menoleh, “Kau tidak perlu melakukan hal ini kau tahu?” Katanya kepada Sehun.

“Aku harus melakukannya. Kau adalah sumber kebahagiaanku.”

Entah mengapa jantung Krystal berdetak lebih cepat. Sehun menyeringai melihat Krystal yang gugup. Tangannya tiba-tiba melingkar di pinggang Krystal dan dengan cepat, menarik Krystal menjadi sangat dekat dengannya dan membuat Krystal menghadap ke Sehun.

“Sekarang hukuman mu!” Seru Sehun dan segera mencium bibir Krystal, sebelum gadis itu dapat berpikir lebih jauh.

.

.

.

.

.

Sinar matahari yang terik masuk melalui tirai-tirai tipis kamar Sehun. Sehun menyeringit, merasakan panas menerpa wajahnya. Siapa yang membuka tirai kamarnya? Jam berapa sekarang?

Sehun mengambil hp nya dan mengecek jam. Jam delapan. Siapa yang membuka tirai kamar secepat ini? Sehun bangun. Ketika udara menerpa bagian atas tubuhnya, dia mengingat apa yang terjadi semalam.

“Krys?!” Serunya ragu. Takut Krystal sudah pulang. Ia cepat-cepat keluar kamar setelah sebelumnya menggunakan pakaian.

Ketika keluar, terdengar alunan piano mengalun lembut.

“Krys…” Panggil Sehun lagi. Langkah Sehun mengarah ke ruang pribadinya. Dimana ada tv dan piano untuk Krystal.

Ketika sampai disana, ia melihat Krystal memunggungingya. Asyik memainkan piano menggunakan sweater marun miliknya yang sangat kebesaran baginya. Apalagi untuk Krystal.

“Hai…” Sapa Sehun sekali lagi. Ia menyentuh lembut pundak Krystal. Krystal terkejut.

“Oh, maaf aku tidak mendengar mu datang. Aku sudah membuatkan mu sarapan.” Kata Krystal lembut.

Sehun tersenyum. Tetapi senyum dengan artian lain, “Sweater nya bagus.”

Pipi Krystal langsung memerah, “Ah…. Maaf aku tidak minta izin sebelumnya.”

Sehun mengangkat kedua bahunya, ia berbalik, melangkahkan kakinya menuju dapur, “Tidak apa-apa. Pakaian ku sekarang sudah menjadi milikmu. Semuanya. Asalkan jangan memakai pakaian dalam ku saja.” Sehun berbalik menghadap Krystal dan menyeringai.

Pipi Krystal semakin memerah dan pasti sudah seperti kepiting rebus.

“Ngomong-ngomong, kenapa harus memakai sweater? Apakah kau kedinginan jika memakai kaus ku?” Tanya Sehun tanpa menghadap karena sekarang ia sedang mengambil roti bakar yang Krystal buat.

“Kau tahu kenapa!” Pekik Krystal geram karena sangat malu. “Apa hanya aku yang mengingat hal itu?” Lanjutnya dengan sebal.

Alis Sehun terangkat. Astaga! Sepertinya ia melupakan detail-detail kecil. Termasuk ketika ia merobek pakaian dalam Krystal bagian atas. Sehun menghadap Krystal, “Maaf.” katanya sungguh-sungguh.

Krystal menghela nafasnya. Ini benar-benar memalukan. Kenapa ia tidak pulang saja ketika bangun? Sepertinya keputusannya untuk tinggal berakibat buruk.

“Hey…” Panggil Sehun karena Krystal terdiam. “Apa aku menyakiti mu?” Sehun mengenggam tangan Krystal.

Krystal menunduk sejenak. Perlahan ia menggeleng. “Tidak.” Sebelum Sehun senyum karena senang, Krystal kembali berkata, “Tapi berhentilah membahas kejadian tadi malam!”

Sehun mengangguk mantap, “Baiklah!”

.

.

.

.

.

Alunan music mengalun dengan lembut. Dentingan dari bunyi alat-alat makan terdengar dengan jelas. Juga percakapan orang-orang yang duduk di sekitar Krystal. Yang sedang menyeruput minuman mereka sambil mengobrol. Lagi-lagi, Krystal merasa sesuatu terjadi dengan sangat cepat. Kemarin dia baru saja dipecat. Kemarin dia baru saja diberi hadiah oleh Sehun. Sekarang, dia sedang menikmati makan malam bersama Sehun dan Seojoon.

Krystal bodoh bukan? Kenapa ia malah terjerat lebih dalam di kehidupan Sehun? Bertemu dengan kakaknya dan istri kakaknya kelak.

“Apakah kau baik-baik saja?” Suara lembut Sohee sukses membuat Krystal tersadar.

Krystal mengerjap sebelum akhirnya mengangguk, “Aku tidak apa-apa.” Jawabnya berusaha agar terdengar ceria.

Sohee tertawa lembut. Parasnya yang cantik ditambah dengan pakaiannya yang menawan, ia terlihat sempurna malam ini. Belum lagi ketajaman Sohee menangkap cerita, ia dan Seojoon sama-sama seorang Psikiater.

“Aku mengerti apa yang kau khawatirkan.” Lanjut Sohee. Nadanya mengalun dengan santai, tanpa ada tuduhan sedikitpun. “Tapi aku tahu sesuatu setelah bertemu Seojoon. Aku tahu seberapa besar cinta seorang pria kepada wanita dari cara memandangnya. Aku tahu, setelah melihat Sehun memandang mu, tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian…”

Krystal tertawa kecil, “Oennie terlalu berlebihan.”

“Tidak… Tidak….” Kata Sohee dengan cepat, “Satu-satunya yang akan memisahkan kalian adalah diri kalian sendiri. Satu dari kalian memutuskan untuk berpisah.”

Krystal terdiam mendengarnya. Ia tiba-tiba menjadi gugup. Dengan cepat, ia meneguk Wine-nya.
“Yang perlu kau lakukan adalah mengenggam tangannya apapun yang terjadi.” Lanjut Sohee kemudian mengenggam tangan Krystal. Menatap Krystal dengan sungguh-sungguh.

Bagai semilir angin di musim kemarau, Krystal merasakan kententraman yang luar biasa. “Terimakasih Oennie…” Kata Krystal pada akhirnya. Memecah keheningan.

Sohee mengangguk mantap dan melepaskan genggaman tangannya. “Ngomong-ngomong…” Gumam Sohee sambil melihat sekeliling restaurant, “Kemana pasangan kita? Aku yakin kita sudah hampir satu jam ditinggal di sini.”

Krystal juga baru tersadar, “Entahlah… Kurasa aku akan menelepon Sehun.”

Sohee cepat-cepat menggeleng, “Kurasa tidak. Bagaimana jika kau tunggu disini sebentar dan aku akan mencari mereka. Tubuhku juga sudah terlalu pegal duduk di bangku bar ini.”

Krystal mengangguk setuju. Berbeda dengan Sohee, ia terlalu malas untuk bergerak. Sudah nyaman rasanya duduk disini dan menikmati sebuah wine.

Sohee keluar dari bar restaurant. Tadi, setelah berdansa, Seojoon tiba-tiba menarik Sehun. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Meninggalkan Sohee dan Krystal di bar restaurant. Waktu rasanya tidak terasa karena ia dan Krystal hanya diam saja. Bukan karena Sohee tidak punya ide bicara, hanya saja ia ingin memerhatikan Krystal Jung lebih dalam sesuai dengan perintah Seojoon.

Segera saja Sohee melambaikan tangannya ketika melihat Seojoon dan Sehun yang baru masuk. Ia merasa lega. Sangking senangnya, ia hampir berteriak ‘Kalian’. Tertahan karena ini di restaurant.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Kata Seojoon dan langsung melingkarkan jemarinya ke jemari Sohee.

Sohee menghela nafas, “Aku sudah menunggu lama kau tahu? Krystal sendirian disana. Kurasa ia lelah.” Jawab Sohee sambil tersenyum.

Mereka bertiga akhirnya kembali lagi ke bar. Ketika sampai di bar, mereka menemukan Krystal tidak lagi sendirian. Ia terlihat berbicara dengan seorang laki-laki. Harus Sohee akui, sepertinya mereka telah kenal sebelumnya, terlihat dari bahasa tubuh mereka yang sama-sama nyaman. Walaupun ekspresi Krystal seperti menahan sesuatu. Terpaksa harus tersenyum. Krystal juga mengetukan kakinya, pertanda ia ingin mengakhiri obrolan mereka. Sudah kenal tetapi ingin dihindari? Mantan pacar?

.

.

.

.

.

Krystal meneguk Wine untuk terakhir kali. Masih menyunggingkan senyuman paksa.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi disini…” Suara bass dari laki-laki di depannya kembali terdengar.

Krystal mengangguk untuk kelima kalinya dalam satu menit ini. Ayolah, Jinyoung harus berhenti mengatakan hal itu sebelum ia menyemburkan wine-nya ke muka Jinyoung.

“Aku senang melihat kau bahagia.” Kata Jinyoung lagi karena Krystal sedari tadi hanya tersenyum.

Krystal tersenyum tetapi menahan untuk tidak mendengus. Cih, dia kelihatan baik sekali pada Krystal. Rasa kesalnya muncul bersamaan dengan fakta Jinyoung memutuskannya karena cewek lain.

“Jadi bagaimana dengan dirimu dengna Jisoo?” Tanya Krystal to the point.

“Ah…” Jinyoung menggaruk kepalanya tidak gatal, “Kami sudah lama putus.” Kemdian ia tertawa canggung. “Bagaimana dengan mu? Masih sendiri?”

Baiklah, kali ini Krystal mendengus. “Untuk apa aku kesini sendiri tanpa pasangan?” Katanya tajam tetapi masih tersenyum, “Bagaimana dengan mu sekarang? Kau sudah punya pengganti Jinsoo?” Tanya Krystal balik karena melihat Jinyoung sendiri.

“Tidak ada. Aku ingin fokus ke karir musik ku dulu.” Ia mengangkat gitarnya yang ia pegang. “Teman ku hari ini ulang tahun dan mengajak aku juga beberapa teman yang lain makan. Jadi aku kesini.”

Krystal menganggukan kepalanya, “Kurasa kau harus segera kembali ke teman-teman mu. Aku permisi dulu!”

Grab!

Krystal mendelik tajam ketika Jinyoung memegang tangannya. “Ada apa?” Tanya Krystal dengan nada tajam plus tanpa senyuman.

“Ah.. Aku…” Jinyoung terlihat berpikir.
“Maaf, dia bersama ku…” Entah darimana, Sehun melepaskan tangan Jinyoung dari tangan Krystal. Kemudian mengenggam tangan Krystal. “Maaf membuatmu menunggu lama.” Katanya kepada Krystal.

Krystal tidak dapat menahan senyumannya, “Syukurlah kau datang.”

“Oh, kau sudah bersama pasangan?” Tanya Jinyoung lagi padahal tadi Krystal sudah bilang. Dia tidak menyangka Krystal tidak berbohong ketika mengatakan dirinya bersama pasangan.

“Seperti yang kau lihat sendiri.” Kata Sehun dengan nada dingin.

“Kami permisi dulu.” Putus Krystal sebelum Jinyoung berbicara lagi. Sehun menyetujuinya dan menarik tangan Krystal dari hadapan Jinyoung.

“Oh Sehun?!”

Gerakan Sehun berhenti ketika mendengar suara laki-laki dari belakang Krystal dan Sehun. Krystal tidak mengenal suara itu, tetapi sepertinya Sehun mengenal suara itu karena cengkraman Sehun tiba-tiba mengencang.

“Aku benar! Itu dirimu…” Kata laki-laki tersebut lagi.

.

.

.

.

.

Sehun segara menarik Krystal sejajar dengan dirinya. Berbalik dan menyembunyikan tubuh Krystal di belakang bahunya yang lebar.

“Mark Tuan….” Kata Sehun dengan nada dingin. “Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan dirimu di Korea…”

“Aku pindah ke sini.” Ujar Mark santai. “Makan malam dengan kekasih baru mu?” Tambah Mark yang membuat Krystal terkejut.

“Apa urusanmu?” Balas Sehun dingin.

“Tidak ada. Hanya penasaran. Apalagi setelah melihat kau mencampakan Wendy.”

Sehun menggertakan giginya, “Aku malas berurusan dengan mu. Maka dari itu akan ku katakan sekarang! Aku berpacaran dengan Krystal jauh sebelum Wendy datang. Dan darimana aku mencampakan Wendy? Pakai otak mu karena dirimulah dalang dibalik putusnya aku dan dia!”
Mark tertawa mengejek, “Kau masih dendam dengan masalah itu bukan? Kenapa kau tidak memperkenalkan aku dan kekasih baru mu itu?   Kau takut aku akan merebutnya seperti aku merebut Wendy?”
“Bajingan!”

Sehun baru saja akan memukul Mark jika Seojoon tiba-tiba menahan tangan Sehun.

“Kita pulang sekarang!” Kata Seojoon cepat. Menjauhkan Sehun dari Mark dan menyeretnya keluar dari restaurant.

“Wow! Aku tidak menyangka kau bisa membuat orang kesal!” Seru Jinyoung ke Mark.

Mark hanya menghela nafasnya, “Ayo kita kembali ke teman-teman kita!” Katanya mengajak Jinyoung.

.

.

.

.

.

Krystal lagi-lagi tidak tahu apa yang akan terjadi. Semaunya menjadi tambah runyam. Sehun diam setelah dikeluarkan oleh Seojoon. Ia juga mendiami Krystal, sama sekali tidak membuka pembicaraan selama mereka di dalam mobil. Sehun hanya diam ketika mengantar Krystal pulang ke apartment-nya.

Krystal berdehem. Mengetahui ia telah sampai di apartment-nya. “Terimakasih…” Kata Krystal pada akhirnya.

“Tunggu…” Sehun menahan tangan Krystal. Tatapannya masih ke depan. Kemudian ia menghela nafas, “Maafkan aku…”

“Kau tidak salah apa-apa Oh Sehun….” Krystal kemudian tersenyum.

Sehun menatap Krystal, “Aku salah. Aku lagi-lagi tidak bisa mengontrol emosi ku…”

“Sehun…” Krystal mengenggam tangan Sehun. “Tidak apa-apa.”

“Aku bisa membuat keributan jika tidak dihentikan. Bagaimana jika aku membuat keributan?” Sehun balik mengenggam tangan Krystal, “Aku merasa bersalah padamu. Seharusnya aku bisa bersikap gentle. Tapi apa?”

“Hey, kau hanya manusia biasa bukan? Makhluk ceroboh yang suka membuat salah. Tidak ada yang namanya kesempurnaan datang dari dirinya sendiri. Ada orang lain yang akan membuat dirimu sempurna…”

Sudut-sudut bibir Sehun tertarik ke atas, “Kau adalah kesempurnaan ku…” Katanya dengan lembut dan melihat Krystal sungguh-sungguh.

Krystal juga ikut tersenyum, “Kau juga kesempurnaan ku…”

.TBC.

Ya Allah ini cerita apa?  Chapter kali ini jauh dari perkiraan saya…  Wkwkwk…  Kalian tau ff terbaru aku gak, yang “The Wind of Change”?  Chapter duanya aku sambung kalau “Flipped” atau gak “State of Grace” tamat ya…  Maaf banget…  Soalnya ff-ff yang lain keteteran terutama ff Minsul aku “Runaway”.  

Terimakasih untuk pengertiannya 🙏🏻🙏🏻☺️

Warm Regards

 

Allamanda Zahra

Flipped (Chapter 15)

flipped

If I would have known that you wanted me, the way I wanted you
Then maybe we wouldn’t be two worlds apart
But right here in each other’s arms 

And we almost, we almost knew what love was
But almost is never enough

Almost is Never Enough -Ariana Grande-

Janggal

Tok! Tok! Tok!

Bocah busuk! Hey! Buka pintunya!” Chanyeol terlihat kesal menatap pintu kamar Sehun. Merasa kesal karena tidak diberi tanggapan, ia kembali mengetuk pintunya.

Cklek~

“Chanyeol-ah, ada apa?” Suara serak Luhan mengangetkan Chanyeol.

Luhan masih sakit. Sudah tiga hari ini dia tergeletak di kamarnya. Kemarin ia sudah pergi ke dokter dengan Krystal. Dia terkena penyakit tipes dan wajib berisitirahat selama dua pekan full.

Chanyeol tersenyum malu karena telah membangunkan Luhan, “Tidak apa-apa. Seperti biasa, hari ini Sehun yang bertugas membeli makanan. Tapi dia tidak bangun-bangun.”

“Mungkin dia sakit. Kemarin ketika aku baru pulang dari rumah sakit Sehun terlihat sangat lemas.”

Chanyeol akhirnya menghela nafasnya, “Mungkin saja. Baiklah aku akan membelikan makanan. Kau seperti biasa bukan?”

Luhan mendengus, “Aku hanya memakan bubur selama dua pekan tidak selamanya.”

Chanyeol terkekeh kecil, “Sampai dua pekan kedepan seperti biasa bukan?”

Luhan menganggukan kepalanya.

.

.

.

.

Sehun tidak tertidur. Ia memang di tempat tidur, tetapi dia hanya tidur-tiduran di atas tempat tidurnya. Sehun mendengar ketukan pintu, ia mendengar obrolan Chanyeol dan Luhan, intinya ia mendengar semuanya. Tetapi dia malas membuka pintu. Setelah kejadian empat hari lalu, dia selalu focus terhadap satu hal.

“Aku tidak yakin kau mengerti perasaanmu karena mengerti perasaan orang saja tidak!”

Sehun mendesis tajam. Sial! Dia tidak bisa menghilangkan nada suara Krystal dari pikirannya ketika mengatakan hal itu. Tajam dan begitu menusuk. Ekspresinya yang berapi-api juga selalu terpatri di benak Sehun.

Apakah ia tidak mengerti dirinya sendiri?

Sehun bertanya-tanya mulai dari saat itu. Apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Entahlah.

Dia tinggal di sini karena malu kepada orangtuanya. Tetapi ia merindukan orangtuanya. Jauh dilubuk hatinya, ia ingin berbaikan dengan orangtuanya. Dia menjadi seperti dirinya sekarang juga karena kebodohannya sendiri.

Jadi, apakah dia mengerti dirinya sendiri?

Sehun memejamkan matanya.

Tidak!

Dia tidak mengerti dirinya sendiri. Krystal benar. Dia hanyalah orang bodoh dan egois. Sehun kembali menghela nafasnya. Sepertinya dia harus melakukan hal penting agar bisa mengerti dirinya sendiri. Atau ia akan terpuruk kedalam kegelapan semakin dalam.

.

.

.

.

.

Tok! Tok! Tok!

Krystal meringis ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia meringis karena hari ini hari minggu. Jam juga masih menunjukan pukul 7 pagi dan seseorang sudah menganggu tidurnya.

Ck!

Krystal mendecakan lidahnya, “Tunggu!” Teriaknya dan segera bangkit.

Trek~
“Oemma?!”
Mata Krystal terbelak melihat orang di depannya.

Oemma tersenyum lembut ke Krystal, “Hai, Princess…”

Oemma?!” Kata Krystal lagi masih tidak percaya.

Nyonya Jung masih tersenyum lembut, “Bagaimana tidurmu? Bangunlah dan cepatlah siap-siap. Oemma sudah membuatkan mu sarapan. Oemma tunggu di ruang makan ya?” Tanpa menunggu jawaban Krystal, Nyonya Jung berbalik.

Krystal terdiam beberapa saat, Apa yang sedang terjadi?

.

.

.

.

.

“Krystal Jung!”

Krystal tersentak ketika Luhan memanggil namanya. Ia mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya. Menoleh dan tersenyum, “Maaf aku melamun.”

Luhan menghela nafasnya, “Akhir-akhir ini kau sering melamun. Ada yang ingin kau ceritakan?”

Krystal menarik nafasnya. Cerita? Tentu ada. Dia sedang pusing dengan kehidupannya belakangan ini. Semuanya sempurna tetapi membingungkan. Entah mengapa orangtuanya menjadi baik kepadanya lagi. Secara tiba-tiba tanpa menjelaskan alasan yang jelas. Itulah yang membuat diri Krystal gusar.

“Krys…”

Suara rendah Luhan membuat Krystal kembali tersentak. Ia kembali mengerjap kemudian menggeleng lemah, “Kurasa semuanya baik-baik saja.” Kemudian ia tersenyum kecil. “Kemana Sehun? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini?” Tanya Krystal kemudian berusaha untuk mengalihkan topic.

“Oh?!” Luhan menatap Krystal seakan baru ingat akan sesuatu. “Sehun?!”
Krystal menganggukan kepalanya.

“Sehun pindah! Astaga bagaimana aku lupa memberi tahu dirimu!” Luhan tiba-tiba heboh. “Dia kembali lagi ke rumahnya. Sudah lima hari ini.”

“Apa?!” Tanya Krystal terkejut. Sehun kembali lagi kerumahnya? Bagaimana bisa? Bukannya hubungan Sehun dan orangtuanya juga tidak baik? Jangan-jangan…
“Krys…”

Krystal menoleh ketika Luhan memanggil namanya, “Iya?”

“Apa kau yakin kau tidak apa-apa?” Luhan menatap Krystal lembut. Nada suaranya tidak ada paksaan sama sekali.

Krystal lagi-lagi menggeleng lemah, “Tenang saja. Bukan apa-apa.” Kemudian ia kembali berkata, “Ku rasa aku harus pulang sekarang. Kau tidak keberatan bukan?”

Luhan mengerjap bingung sebelum mengulas senyum, “Tentu tidak. Terimakasih telah menemani orang sakit di tengah dirimu yang sedang sibuk-sibuknya kuliah. Jangan lupa meneleponku ketika sampai rumah, Okay?”

.

.

.

.

.

Krystal meletakan tasnya sembarangan ketika ia sampai rumah. Segera saja, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Drrrt~

Hufh!

Krystal menghela nafas bersamaan hp-nya bergetar. Dengan malas, ia mencoba untuk bangkit dan mengambil handphone-nya.

“Kau sudah sampai di rumah?”

Krystal mengulas sebuah senyum ketika mendengar suara Luhan, “Baru saja.”

“Syukurlah kau baik-baik saja.”

“Aku hanya pulang ke rumah. Tidak akan terjadi hal yang mengerikan Xi Luhan…”

Terdengar kekehan dari Luhan. Ia geli ketika Krystal memanggil dirinya “Xi Luhan”. Panggilannya dulu berarti rusa kecil karena larinya yang sangat cepat, “Tidak ada yang tahu bukan? Lagipula, tidak apa-apa jika aku mengkhawatirkan mu bukan?”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. “Ak—“

“Ku tutup dulu! Selamat malam Krystal Jung!” Luhan segera memotong omongan Krystal dan memutuskan telepon secara sepihak.

Krystal kembali mengerjap bingung. Keheningan mendadak menyelimuti dirinya. Aneh. Akhir-akhir ini Luhan juga aneh. Dia seperti orang yang ragu. Terkadang mengeluarkan gombalan yang sangat manis untuk Krystal, tetapi langsung mundur ketika selesai mengatakan hal itu.

Krystal memandang hp-nya. Menyipit selanjutnya menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia juga aneh kali ini. Apa-apaan?! Ia terpikir untuk menelepon Sehun demi menanyakan hal ini. Hal apakah Sehun berhubungan dengan membaiknya hubungan orangtuanya dengan Krystal. Karena, kalau dipikir-pikir, kembalinya Sehun kerumah hampir sama dengan berbaiknya hubungan orangtuanya dengan dia, selama empat hari.

Ah, masa bodoh!

Pikir Krystal dan mulai memencet nomor Sehun. Masa bodoh dengan semua keanehan yang menyeliputinya. Sekali Krystal sudah memikirkannya, jarang dia bisa mundur dari pemikiran itu.

“Anyeonghaseyo?”
Krystal langsung berdehem ketika mendengar suara Sehun, “Eh… Ini aku…” Katanya ragu-ragu.

Terdengar suara kekehan dari seberang, “Aku tahu ini dirimu Krystal Jung.”

Krystal menghembuskan nafasnya, “Maaf menganggu.” Kata Krystal pendek. Dia terdiam sejenak, masih bingung ingin berbicara apa.

“Ada apa?” Tanya Sehun karena Krystal terdiam selama 15 detik penuh.

“Ah…. Kau baik-baik saja?”

Sedetik setelah berkata itu Krystal langsung merutuki dirinya. Ya ampun…. Kenapa dia tidak bisa mengatakan secara langsung? Malah sekarang ia berputar-putar.

“Aku?” Terdengar nada suara bingung. “Tentu. Aku baik-baik saja.”

Krystal memaksakan tawa hambar, “Aku tidak melihat mu 5 hari ini di apartment. Luhan berkata jika kau kembali ke rumah mu. Maka dari itu aku menanyakan hal ini.”

“Oh…” Sehun hanya mengunggam. “Aku memang kembali ke rumah ku. Maaf tidak memberi tahu mu tentang hal itu.”

“Ah, tidak apa-apa. Lagipula, kenapa aku harus tahu?”

Sehun tertawa, “Kau benar.”

Entah mengapa, jawaban Sehun yang sangat jujur membuat Krystal mendengus, “Oh ya, aku boleh bertanya sesuatu kepada mu?” Tanya Krystal dengan suara yang kembali serius.

“Euhm, tentu.” Jawab Sehun cepat dengan nada santai.

“Kenapa…” Krystal terlihat ragu. “Jika boleh tahu, kenapa kau kembali ke rumah mu?”

“Itu…” Terdengar helaan nafas, “Akan ku kasih tahu. Tapi ini rahasia.”
“Eh?” Krystal mengerjap bingung. Jantung langsung berdetak lebih keras.

Appa sakit.” Jawab Sehun pendek dengan nada yang sangat serius. Appa terkena gejala stroke. Lumayan parah. Oemma memberi tahu hal ini dan berharap jika aku dan Appa kembali berbaikan.”

“Ketika Oemma mu datang ke apartment itu ya?” Pikiran Krystal kembali ke hari itu. Sekitar dua minggu yang lalu. Ketika ia mendengar suara lembut Yura. Ketika ia membentak Sehun.

Ya.” Jawab Sehun pendek.

Krystal menghela nafasnya, “Aku minta maaf.”

“Huh?” Nada suara Sehun berubah menjadi bingung. “Maaf ? Kenapa?”

“Karena membentak mu pada waktu itu. Juga karena memancing kemarahan mu. Kau benar, seharusnya aku tidak ikut campur dalam masalah itu.”

Terdengar helaan nafas dari Sehun. Tapi entah mengapa, Krystal senang mendengarnya, “Aku juga minta maaf karena tidak dapat menahan emosi ku.” Berhenti sejenak, “Dan kau tidak perlu minta maaf. Aku senang kau ikut campur karena aku tersadar karena itu. Jadi terimakasih.”

Deg!

Deg!

Deg!

Krystal merasa detakan jantungnya tidak terbendung lagi, “Aku senang jika aku membantu.” Katanya menjadi gugup. Krystal berdehem, “Ngomong-ngomong, ada hal lain yang ingin aku bicarakan.”

“Tentu tentang apa?”

Nada suara Sehun yang begitu santai membuat Krystal rilex, “Jangan mentertawakan aku.”
“Aku tidak akan mengetawai mu…” Tapi Krystal sendiri mendengar Sehun terkekeh.

“Ini tentang orangtua kita. Jadi, kau berbaikan dengan orangtua mu? Kau menceritakan sesuatu kepada orangtua mu?”

“Kenapa?” Sehun bertanya dengan nada yang berubah. Menjadi sedikit gugup.

“Karena entah mengapa orangtua ku menjadi lebih baik pada ku. Bukan! Hubungan ku menjadi kembali seperti semula dan aku bertanya-tanya akan hal itu.”

“Ah yang itu…”

Respon Sehun yang pendek membuat Krystal bertambah penasaran, Jadi….”

Aku mengatakan yang sejujurnya kepada orangtuaku. Mengenai masalah itu. Bahwa aku yang memang tidak ingin dan kau hanya mengikuti ku. Entahlah. Kurasa Oemma ku telah berbicara kepada Oemma mu…” Jelas Sehun pada akhirnya.

“Kau mengatakan yang sejujurnya?”

Sehun hanya mengunggam.

Krystal tersenyum, “Kau mengatakan yang sejujurnya?”

“Ck! Iya. Iya.”

Krystal terkekeh kecil mendengar suara sebal Sehun, “Terimakasih…” Ucap Krystal tulus. Dia bersyukur karena dia tidak harus berbohong kepada orangtuanya lagi.

Bagai pembuka jalan dari semua kedinginan mereka, Krystal dan Sehun akhirnya berbicara panjang pada malam itu. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu. Semua jurang kecanggungan tertimbun dan sepertinya keadaan kembali seperti semula.

“Jadi bagaimana keadaan Luhan? Aku belum sempat menghubunginya sejak pindah.”

“Oh? Dia baik-baik saja. Sudah seperti biasa walaupun masih harus beristirahat. Malah akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya yang datang ke apartment.”

“Dia itu cerdas atau bodoh? Jelas-jelas disuruh beristirahat….”

Krystal tertawa kecil, “Itu yang ku katakan padanya. Tapi ia bersikeras jika sakit bukan penghalang dalam mendapatkan nilai sempurna.”

Sehun berdehem, “Sekarang boleh aku bertanya?”

Krystal menganggukan kepalanya, “Tentu boleh.”

“Kau dan Luhan… Bagaimana?”

Mengerti arah bicara Sehun, Krystal menerawang langit-langit kamarnya, “Kenapa kau ingin tahu?”

“Kenapa kau tidak ingin aku tahu?”

“Karena…” Krystal terdiam. Menggigit bibirnya. Karena tidak terjadi apa-apa! “Itu rahasia. Aku tidak membicarakan masalah hati ke cowok. Aku membicarakannya ke cewek!”

“Aku mengerti. Tapi jika boleh aku berkata—“

Tidak! Aku tidak ingin mendengarnya! Krystal tahu apa yang akan Sehun katakan dan dia sangat berharap Sehun tidak mengatakannya. “Sehun—“

“Kau cocok dengan Luhan. Luhan sangat perhatian kepada mu. Aku yakin, dia akan melakukan apa saja untuk untuk mu dan segalanya agar bisa bersama mu.”

Suara Sehun membuat dada Krystal nyeri. Bukan suara menjengkelkan seperti yang lalu. Seperti perkataan yang berasal dari hatinya.

“Krys?” Sehun memanggil Krystal karena tidak ada tanggapan. “Kau tertidur?”

“Uhm!” Krystal menghela nafasnya, “Sudah larut malam.”
“Kau benar. Jangan lupa reuni SMA lusa!”

Krystal tersentak. Dia melupakan segalanya ketika Sehun membahas Luhan. Mereka baru saja membicarakan tentang reuni SMA 20 angkatan. “Oh tentu.   Kau akan datang bukan?”

“Ya. Aku akan datang.”

Setelah Sehun berkata seperti itu, Krystal memutuskan teleponnya. Dengan lusuh, ia meletakan handphone-nya. Krystal mendesah. Sebaiknya ia harus tidur.

.

.

.

.

.

.TBC.

Hullaaaa i’m back!!!  Waktu itu saya sendiri yang bilang mau hiatus sampai Julli awal tapi udah post di Juni awal…  Hehehe maafkan…  Saya baru updated Flipped Chapter 15 nih..  Gimana ceritanya?  Wkwkwk, ribet atau bolak-balik? Bagaimanapun sebentar lagi Flipped udah mau habis juga sama seperti State of Grace…  Mentok-mentok sampai 25 chapter..  Dan saya lagi ngembangin beberapa cerita baru salah satunya Wind of Change…  Castnya sama, masih Sestal.

Atau ada yang mau cast lain?  Komen aja dibawah ya….

Warm Regards

Allamanda Zahra